Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 2

Pagi-pagi ayahku menelepon, bertanya sedang apa di mana? Aku bilang lagi siap-siap berangkat di Ngawi. Sebelumnya memang aku cerita mau jalan-jalan dari Lengkong ke Jogja, tapi tidak bilang naik sepeda. Sebelumnya lagi memang aku cerita waktu beli ontel seharga Rp 170 ribu. Lalu, (masih di telepon) aku ditanya, “Ontel yang kemarin dibeli dijaga ya, jangan dimacam-macamin, jangan kena hujan, kalau di Jakarta itu bisa 3 juta loh. Terus, sekarang ontelnya di mana?”

Aku yang memang waktu itu pas betul sedang naik di sepeda dan ngobrol dengan penduduk lokal Ngawi mencoba menjawab santai, “Ini lagi dinaikin.” Mungkin karena bingung mau berekspresi seperti apa, ayahku malah bilang, “Naik sepeda? Ontel?? Wah… (diam sesaat). Bawa kamera kan? Foto yang banyak ya!” Alhamdulillah, lega rasanya. Kupikir disuruh langsung jual sepedanya terus pulang ke Jakarta. (Tapi beberapa minggu setelah itu, ayah sadar, lalu menyuruhku menjual ontel dan jangan berbuat gila seperti kemarin lagi).

Jam 6 pagi aku mulai jalan ke Mantingan, sekitar 31 km dari Ngawi. Kanan kiri jalan adalah hutan Jati dan Mahoni, tapi sukur jalannya tidak seekstrim kemarin waktu menuju Caruban. Aku mulai terbiasa dengan ekspresi orang waktu kujawab dari mana dan mau ke mana. “Dari Lengkong?? Ke Jogja???” Biasanya aku hanya menikmati muka bingung mereka, lalu jalan lagi sesuai petunjuk arah dari mulutnya.

Istirahat sarapan di dekat Terminal Gendingan, masih jauh dari kota Mantingan. Lalu lanjut lagi sampai kota Mantingan. Di sini aku tidak berlama-lama, hanya beberapa menit, karena langit sudah mendung, pengalaman kemarin jam 1 sudah hujan lebat. Maka kugenjot terus menuju Sragen, 17 km dari Mantingan. Di Sragen juga cuma makan dan sholat, lalu lanjut lagi.

Aku tidak berpikir lelah. Yang kupikir sepanjang jalan adalah hitungan jarak dibagi kecepatan 15 km/jam jadilah waktu tempuh. Kuhitung supaya sebelum Ashar sudah sampai Solo, lebih dari 30 km dari Sragen. Adapun variabel fisik kuasumsikan konstan sehat. Ternyata begitulah adanya, aku sehat terus. Allah bersama prasangka hambanya. Kata bule, you are what you think.

Sayangnya baru jam 2, hujan sudah lebat. Ini bukan hujan, ini hujan lebat! Ditambah lagi asumsi dari peta gratisan lebaran yang bilang jarak Sragen-Solo itu 26 km, padahal lebih dari 30 km, jadi target malam ini tidur di Solo hangus sudah. Aku tidur masih di wilayah Sragen, di masjid setelah jembatan besar yang ada gading menjuntainya di ujung.

Esoknya, 8 Desember 2010, hari ketiga, aku berharap ini hari terakhir. Agak berat karena untuk mencapai target itu, aku harus menggoes sampai 67 km (masih tanda tanya) sampai kota Jogja (hari pertama 88 km dan hari kedua 66 km). Jaraknya memang tidak seberapa, tapi yang aku takut adalah jarak prediksi itu salah karena aku mulai meragukan peta lebaran yang kemarin salah.

Betul saja, di Solo aku seperti diputar-putar di dalam kotanya. Mungkin hampir sejam (sekitar 15 km) aku menggoes di kota Solo. Bisa jadi memang kota Solo yang besar, bisa jadi arah plang di jalannya yang membuatku berputar-putar. Prediksiku yang kedua.

Solo cukup nyaman buat pesepeda karena diberi jalur khusus. Tapi banyak titik yang kulewati, jalur khusus itu dibajak tukang parkir dan pedagang kaki lima, jadi aku terpaksa ikut di jalan besar. Walau punya jalur sepeda, bersepeda di kota jauh lebih bahaya dari di jalan-jalan lintas kota yang dilewati bis besar. Bis-bis itu sepertinya punya perhitungan, jadi aku merasa aman-aman saja berdampingan dengan bis besar. Nah, kalau di kota, dalam hal ini Solo, bisa tiba-tiba ibu menyeberang mengantarkan anaknya ke sekolah, atau pedagang sayur yang memanggul sayurnya melengos tanpa perhatian betul dengan jalan, atau tukang becak yang walau bersaudara dengan sepeda tapi jahatnya minta ampun, dia bisa tiba-tiba berbelok minggir tanpa peduli fakta bahwa hampir semua ontel itu remnya busuk.

Lepas kota Solo, aku menuju Klaten yang menurut peta lebaran jaraknya 22 km tapi ternyata lebih dari 30 km! Aku mampir di Markas Kopasus “Kandang Menjangan” setelah melihat luasnya markas ini, dan tergoda untuk mampir. Aku minta izin dan lapor aku sedang apa, hendak ke mana, dan mohon izin istirahat sebentar di situ. Si aparat membolehkan, walau kelihatannya dia curiga dengan isi tas gunungku.

Komentar dari aparat kali ini tidak seperti komentar para komentator lain yang biasanya terperangah. Dia cuma bilang, “Oh, mau ke Jogja, mau keliling Indonesia ya?” Kujawab, “Mungkin.” Dia cuma mengangguk tanpa ekspresi ekstra. Tidak ada jeda bingung, mata terbelalak, tampang kebingungan, atau mulut terbuka seperti biasanya. Lalu aku disuruh membetulkan parkiran sepedaku yang memang mengahalangi (dan merusak pemandangan) pintu gerbang.

Sampai Klaten, sudah siang hari, kulihat awan mendung. Tekadku, tidak bisa tidak, hari ini harus sampai Jogja. Aku bungkus tas dengan plastik, lalu lanjut lagi. Betul, tidak lama kemudian hujan. Aku genjot terus. Tidak sadar aku sudah menggenjot sekitar 30 km tanpa henti, padahal biasanya tiap 10-20 km berhenti istirahat beberapa menit. Rasa ingin cepat sampai mungkin ikut mendorong adrenalin agar keluar lebih banyak.

Tepat adzan Ashar aku sampai di Jogja. Aku kesulitan mendeskripsikan apa yang kurasakan waktu itu. Yang bisa kudeskripsikan hanyalah sakit bercampur gatal di paha yang tiba-tiba muncul hanya satu jam setelah sampai dan baru sembuh seminggu kemudian. Beberapa bulan setelah itu, ontel kuberikan pada seorang kawan yang kemudian membawanya dari Jogja ke Cilacap dengan kereta. Semoga bermanfaat.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

2 thoughts on “Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s