Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 1

Seminggu setelah membeli dan menghitung ini itu, aku berangkat setelah subuh 6 Desember 2010. Titik mulai di Lengkong, Nganjuk. Pemberhentian yang pertama di kota Nganjuk. Motif utama berhenti untuk sarapan. Mudah mencari tempat makan murah di sini. Di tengah kota sekalipun, warung nasi masih terhitung murah. Sepiring nasi, telur, dan sayur harganya seputaran Rp 5.000.

Sepanjang Lengkong-Nganjuk (lewat jalan alternatif, bukan lewat Kertosono), mayoritas adalah sawah. Jalan ini terbilang jalan desa yang kira-kira hanya dilewati kendaraan setengah menit sekali, kecuali jam sibuk seperti masuk dan pulang sekolah/sawah. Iya, sawah. Mayoritas dari mereka petani padi.

Beberapa kali kulihat segerombol ibu-ibu yang keluar dengan memanggul kain yang dimodif jadi tas sambil berlindung dari matahari dengan caping. Biasanya mereka tidak memakai alas kaki. Kalau yang laki-laki biasanya berkendara ontel, kadang solo, kadang bergerombol. Cangkul ditaruh di pundaknya dengan mata cangkul mengait ke pundak dan gagangnya memanjang ke depan.

Beberapa anak sekolahan menggoes sepedanya menuju sekolah. Sepeda mereka biasanya berkeranjang di depan lalu tas mereka dimasukkan ke situ. Ya laki-laki ya perempuan. Sedikit saja dari mereka yang menggunakan motor. Sesekali kulihat siswi yang pakai motor tersibak jilbab belakangnya. Rambut dan ujung jilbabnya berkobar-kobar. Lumayan banyak yang kuihat begitu. Jalan yang sepi (bahkan di kota Nganjuk tidak ada macet) membuat mereka leluasa untuk ngebut.

Terkadang, aku mengebel siapa saja yang kupapas yang juga sedang naik ontel. Reaksi mereka pada umumnya sama: ada beberapa jenak untuk bingung, baru membalas bel dariku. Mungkin buat mereka tidak lazim menyapa orang yang tidak dikenal, atau tidak lazim melihat orang hijrah dengan ontel.

Beberapa kali aku hampir tabrakan dengan macam-macam, ya motor, ya mobil, ya anak kecil, ya gerobak. Butuh adaptasi untuk menyeimbangkan beban puluhan kilo yang terpusat di titik paling belakang. Kalau aku sedang menjinjing sepeda lalu setang depan terangkat sedikit, mungkin karena kena batu, maka keseluruhan sepeda lansung terjungkal ke belakang. Itu karena saking beratnya beban di belakang. Dua kali aku jatuh begitu. Sakit sih tidak terlalu, tapi malunya itu. Jadi, kalau sedang mengendara sekalipun, aku harus agak menyondongkan badan ke depan supaya risiko terjungkal minim.

Sejam aku di Nganjuk, lalu berangkat ke Caruban. Inilah yang terberat. Jarak Nganjuk-Caruban hanya 29 km, tapi jalannya naik turun dan belok-belok. Aku berhenti hampir tiap 5 km, padahal sebelumnya lebih dari 20 km tidak berhenti. Kalau berhenti, aku harus mencari pohon yang cukup kuat buat sandaran sepedaku. Lalu menyandarkan punggung tas di pohon. Celaka kalau ban bocor, karena aku di hutan, dan di hutan tidak ada tukang tambal ban.

Pemandangan menuju Caruban lumayan hening. Kanan kiri adalah hutan Jati yang rapi. Biasanya yang rapi-rapi begini milik Perhutani. Apalagi ditulis di beberapa papan, itu pohon apa, luasannya berapa. Kalau tidak Perhutani ya perusahaan besar lain.

Akhirnya aku sampai di Caruban. Sempat terpikir, apa lebih baik aku kembali saja ya? Ini baru 50 km tapi beratnya bukan main. Kalau jalan selanjutnya begini terus (naik turun belok-belok), wah, ampun lah. Keputusan masih menggantung, aku tidur sejenak di sebuah masjid.

Masjid yang letaknya agak masuk ke gang, atau setidaknya tidak di pinggir jalan besar, itu menurutku lebih aman. Sepeda kuparkir di halaman masjid, bersandar ke tembok, lalu aku masuk ke dalam masjid. Tas kecil berisi barang-barang terpenting kubawa masuk dan tali selempangnya kulilit di tanganku. Kalau-kalau ada yang mau mengambil, aku akan terbangun, pikirku. Sedangkan barang-barang yang ada di sepeda dan sepedanya kupasrahkan saja di luar. Hanya dikunci dengan kunci khas ontel yang melingkar di ban belakang yang dengan obeng dan sedikit kreatifitas saja, dalam beberapa menit bisa dibobol. Tapi, kantuk dan lelahku lebih besar daripada ketakutan barang hilang.

Hanya setengah jam tidur tapi rasanya sangat segar. Pikiran untuk kembali tidak terpikir lagi. Setelah makan siang dan sholat, aku lanjut menuju Ngawi, 34 km dari Caruban, atau sekitar 2 jam perjalanan.

Sialnya, baru setengah jam sudah hujan. Sepanjang 34 km itu hanya sedikit saja rumah yang ada di pinggir jalan. Kalau ada rumah yang kelihatannya punya tembok atau tiang untuk menyangga tas dan halamannya cukup luas, aku berteduh. Tapi sulit mencari yang begitu. Sekitar sepuluh kali aku mampir ke bengkel motor, bengkel mobil, rumah warga, atau pom bensin. Sekali aku diusir di pom bensin karena sepedaku dianggap menghalangi pengunjung mereka.

Suatu kali aku mampir ke rumah seseorang yang kemudian baru kutahu bahwa ia seorang petani. Awalnya kukira rumah itu kosong karena letaknya yang mencil dan tidak ada sandal di depan pintunya. Rumahnya joglo yang tidak terlalu besar. Lalu keluar Bapak si pemilik rumah. “Maaf Pak, numpang berteduh. Saya pikir tadi tidak ada orang karena tidak ada sandal di depan pintu.” Dia jawab, “Rumah kami berlantai tanah, jadi keluar masuk ya pakai sandal,” sambil pamer giginya yang sudah ompong, beberapa masih ada, tapi kuning atau coklat.

Ya begitulah prototipe petani pangan di desa. Rumah mereka mayoritas sederhana, kalau agak mewah pun, itu bukan karena bertani, tapi karena ada usaha sampingan atau karena diberikan oleh anaknya yang bukan petani.

Tanpa diminta, dia menemaniku ngobrol. Dia bicara tentang anaknya sambil menunjuk ke sebuah bangunan beton yang lumayan mewah, “Itu rumahnya,” katanya. Dia lebih antusias membicarakan capaian dan masa depan anaknya ketimbang bicara soal sawahnya yang dari dulu ya begitu-begitu saja, yang walaupun masih bekerja sampai umur lewat 60 tapi lantai keramik pun tak punya. Cukup miris buatku, tapi dia seperti biasa-biasa saja, tidak mengurangi umbaran senyumnya. Mungkin kesuksesan anaknya sudah menutupi lukanya, atau mungkin dia sudah terbiasa begitu.

Waktu mau berangkat lagi (karena setelah ditunggu setengah jam tetap saja hujan), aku diberi plastik besar yang bisa membungkus tas gunungku. Mungkin dia teringat nasihat orang, kalau bantu jangan setengah-setengah, maka si bapak tua membungkuskannya, merapikannya, dan mengikatkannya buatku. Terakhir kulihat adalah lambaian dan senyumannya yang ompong itu, tapi tulus.

Seluruh barang aman, jadi kupikir tancap saja, biar basah badanku. Itulah yang terjadi sampai satu jam berikutnya, sampai gigi ini mencengkram keras menahan dingin dan otot paha seakan beku. Tubuh berdemo agar aku istirahat. Aku berhenti di sebuah bengkel motor, menghangatkan badan sesaat yang ternyata malah makin dingin, lalu lanjut lagi, masih hujan-hujanan.

Pukul 5 sore tepat aku sampai Ngawi. Kota ini punya jalur sepeda khusus yang cukup lebar, jadi aku bisa lebih leluasa bergerak. Aku putuskan menginap di Ngawi, di salah satu masjid yang tidak di pinggir jalan.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

2 thoughts on “Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 1”

  1. Luar biasa membaca perjalanan dengan sepeda onta lanang. Setelah sampai di Ngawi, ditunggu ya… tulisan lanjutannya bagaimana sampai Sragen, Solo, lalu Jogja. Salam kenal dan semangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s