Tiga Hari Ber-Ontel: Persiapan

Semakin lama semakin kuat untuk menjadikan keinginanku nyata dalam menjajaki Jombang-Jogja dengan sepeda. Aku tidak berbagi dengan siapapun tentang niat, yang kata orang sih: “gila” atau “kurang kerjaan”, tersebut.

Beberapa kali kuamati sepeda yang wira-wiri kalau aku sedang nongkrong di pasar daerah Nganjuk. Mayoritas dari mereka pakai sepeda ontel dengan modifikasi keranjang besar di kanan kiri jok belakangnya (sepertinya diksi “jok” terlalu anggun buat ontel). Kadang membawa jagung, sayuran, buah, bahkan kambing! Bukan hal yang istimewa bagi orang sini melihat 4 kambing dibonceng dengan sepeda. Empat kambing!

Wah, kuat betul ini sepeda, pikirku. Dan memang seorang teman lokal menyarankan hal yang sama dengan niatku, membeli ontel. Tapi ontel yang macam apa? Karena ternyata ada macam-macam jenisnya dan juga merknya. Setelah tanya sana-sini, kusimpulkan sepeda onta lanang adalah yang paling tepat.

Onta di sini maksudnya unta, hanya saja mereka lebih nyaman bilang onta daripada unta, seperti Indonesia yang sering disebut Endonesia. Sedangkan lanang adalah bahasa Jawa yang artinya laki-laki. Mungkin disebut demikian karena tingginya yang diibaratkan unta dan kerangka bagian depannya yang lurus. Kalau untuk perempuan kerangkanya melengkung ke bawah. Maksudnya kerangka di sini adalah kerangka besi yang paha kita apit kalau sedang bersepeda lalu terpaksa berhenti karena ada yang memanggil (kebayang, kan?).

Kupikir, akan murah kalau aku beli onta lanang di pasar besar tradisional dan loak. Jadilah aku dan seorang ahli bengkel ke pasar… di Jombang. Seingatku, tidak sulit mencari onta lanang, malah ada yang menjual segerombol onta lanang yang masih mulus, atau biasa disebut sepeda “kelas”. Mungkin maksudnya berkelas. Kalau yang begitu harganya bisa jutaan. Aku tidak mencari bagus, tapi kuat dan murah.

Telah rampung beberapa tawar-menawar sampai di satu kios yang menjual dengan harga Rp 250.000. Sebetulnya segitu juga menurutku sudah murah untuk onta lanang yang cuma punya satu bekas las. Cuma kalau ke pasar tradisional tapi tidak menawar, rasanya gimana gitu. Beberapa menit kemudian aku menyerahkan Rp 170.000 sebagai harga ijab qobul. Ditambah beli karet rem baru, lampu pura-pura (karena tidak nyala, cuma berbentuk saja), bel antik, dan servis yang totalnya Rp 60.000.

Perjalanan pertamaku membawanya ke Lengkong dari Jombang, sekitar 20 km. Diameter geriginya yang besar dan pedalnya yang panjang membuatnya laju. Setangnya cukup tinggi dan pegangan setangnya mengarah ke pengendara, tidak seperti umumnya motor yang setangnya lurus ke kanan kiri. Dengan begitu, onta lanang terlihat santai dan tidak cepat membuat pegal. Jok-nya terbuat dari kulit warna putih. Walau sudah ada sedikit sobekan, tapi masih nyaman.

Setiap kendaraan tua biasanya punya satu kebiasaan buruk. Nah, kalau onta lanang punyaku kebiasaan buruknya adalah rem yang tidak bisa pakem walau sudah diservis dan rantai yang suka copot. Tapi itu bukan masalah besar.

Gambaran rute-rute utama telah kubuat setelah tanya sana-sini dan meliat-lihat atlas lima ribuan yang kubeli di kereta. Prediksi jarak total adalah 200 km lebih sedikit yang akan diburu dalam 2 hari.

Rencananya, aku akan membawa satu tas gunung ukuran 60L untuk sekaligus membawa barang-barangku (mayoritas baju dan buku). Di jok belakang, kuikatkan potongan kayu jati sebagai sandaran tas. Aku gunakan karet hitam yang biasa dijual di bengkel-bengkel untuk mengikat tas ke sandaran kayu tersebut. Satu tas lagi untuk barang-barang yang penting (kamera, HP, dompet, baju, dan celana ganti) diikat meliit tas gunung. Siap berangkat.

 

Siap berangkat! Dok: Iqbal

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

1 thought on “Tiga Hari Ber-Ontel: Persiapan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s