Trowulan yang Panjang

“Anda memasuki kawasan bebas dari buang air besar sembarangan.” Setelah bolak balik baca baru aku sadar itu tulisan betulan dan serius, yang ditulis di potongan-potongan papan lalu dipasang di ujung sebuah gang. Di situ tertulis, sejak tanggal 29 Desember 2009. Berarti baru sekitar setahun yang lalu.

Kejadian itu adalah satu dari sekian kejadian menarik dalam perjalanan hari ini, 18 November 2010. Tujuanku Trowulan untuk melihat berbagai peninggalan Majapahit di sana. Sebelumnya Cuma dapat cerita-cerita sekilas dari kawan tentang beberapa situs di Trowulan.

Posisi awalku di Lengkong. Jarak Lengkong-Trowulan sekitar 40 km. Aku pilih jalan kaki karena sepertinya lebih seru dan bakal banyak pembelajaran serta cerita. Komentar kurang kerjaan, siapa peduli?

Sebelumnya aku berhitung, dengan asumsi jalan normal itu kecepatannya 4 km/jam dan istirahat dipasang 2 jam. Berarti kalau jalannya non-stop dan aku mulai sejak subuh, maka sampai Trowulan pukul 5 sore. Asumsi lain, tidak hujan dan tidak ada pengurangan kecepatan jalan. Kupilih asumsi itu berdasar pengalaman jalan sebelumnya berjarak 10 km yang tertempuh 2,5 jam. Selanjutnya kuketahui asumsi yang terakhir ini berbahaya!

Rute sudah dipaskan dengan saran-saran dari penduduk lokal. Kalau rute jalan besar ya lewat Kertosono, tapi saran mereka, kalau jalan kaki ya lewat jalan yang ke arah Ploso, lalu lanjut naik perahu di  Tambangan, lanjut Jombang, Mojoagung, baru sampai Trowulan. Cerita Tambangan ini yang paling membuatku tertarik, karena aku akan menggunakan kapal mesin tempel menyeberangi sungai Brantas. Apalagi mereka bilang jalur yang lewat Tambangan itu lebih dekat dan lebih sepi ketimbang lewat Kertosono. Cocoklah.

Hanya tas gemblok yang kubawa dengan isi sepasang baju ganti, sarung, dan air minum. Sorban kupakai untuk menghalau panas, tapi baru kupakai ketika matahari betul-betul berasa. Tadinya mau pakai topi yang biasa dipakai anak-anak gunung dengan pengahalau panas di semua sisinya, tapi tidak punya dan sayang kalau beli sekali pakai hilang, biasanya begitu.

Sepatu kets biasa, baju lengan panjang, dan celana training yang dilipat hampir sampai lutut, mungkin bukan muasal orang bertanya-tanya dan memandangku begitu anehnya. Kupikir, mereka menganggapku aneh karena memakai sorban yang dibalut seperti selendang. Apalagi ditambah kacamata cokelat tak tembus pandang.

Aku jalan dengan tidak makan sebelumnya. Baru berjalan 5 km atau 1 jam lebih sedikit, aku istirahat sekaligus sarapan. Warung makan yang kusambangi tiadalah besar, hanya sebesar warteg pada umumnya. Sepiring pecel harganya Rp 3.000. Ngobrol sebentar dengan orang yang ada di warung, untuk memastikan rute sudah betul.

Sebelum beranjak, aku izin ke toilet. Ibu penjaga warung mempersilakan, sambil menunjukkan jarinya ke belakang. Aku ke belakang dan tidak melihat ada ruangan apa pun layaknya toilet, yang ada hanyalah ember tanpa air di sebuah gubuk tak beratap dan tak berpintu. Letak gubuk itu persis di belakang warung. Sekelilingnya hanya kebun yang beralirkan limbah dari tempat pencucian piring dalam warung.

Aku kembai lagi, “Bu, toiletnya yang mana?” Dia menunjuk ke gubuk itu. Oh sial. Aku masuk dan mengamati lagi, gimana memanfaatkan gubuk itu jadi toilet? Rupanya di tengah gubuk ada lubang ke bawah yang hitam dan kecil dan tidak mau aku lihat untuk kedua kalinya. Aku pilih buang air kecil di kebun sebeah gubuk itu sajalah. Untung aku sudah makan sebelumnya. Kalau belum, mungkin seketika selera itu hilang.

Sepanjang jalan banyak orang yang memperhatikanku. Aku sudah biasa melihat picingan mata atau curi-curi pandang seperti yang mereka lakukan. Tidak kupedulikan sama sekali. Terkadang malah aku balas pandangan mereka tepat di matanya, biasanya mereka yang mengalah.

Aku sampai di Tambangan masih pagi. Seperti yang diceritakan kepadaku, di sini orang menyeberang dengan kapal tempel (kapal nelayan yang ditempel mesin). Dalam satu kapal itu bisa muat sekitar 7 motor dan 20 orang. Tarifnya per motor (termasuk orangnya) Rp 2.000. Modelku sudah ketebak bahwa aku orang asing dan kuprediksi harga akan dinaikkan buatku, apalagi aku pakai bahasa Indonesia. Tapi justru malah aku digratiskan =). Wah, aku sudah suudzon.

Tiap sekitar 5 km aku istirahat beberapa menit sambil minum. Perjalanan dari Munung (nama tempat setelah menyeberang lewat Tambangan) ke Jombang adalah yang terberat. Jalannya sih sepi dan asik untuk pejalan kaki. Tapi tidak ada pohon di kanan kiri jalan, yang ada hanya sawah. Jadi panasnya itu cepat sekali bikin lemah. Jalanku melambat.

Sampai aku ketemu dengan suatu masjid megah yang juga merupakan kompleks sebuah pondok pesantren NU, kelihatannya ini awal masuk kota Jombang. Aku masuk dan ngobrol dengan seorang santri yang tinggal di dalam. Dia cerita bahwa itu adalah salah satu dari 4 pondok terbesar di Jombang. Dari dulu memang Jombang terkenal sebagai kota santri. Tebu Ireng adalah yang terbesar di Jombang.

Tidak bisa kutahan lagi, aku ingin tidur. Kucari masjid yang tidak di pinggir jalan raya, aku izin dengan yang ada di sekitar masjid itu, langsung tidur hanya dalam beberapa menit. Aku jalan lagi, lalu mampir lagi di masjid tidak jauh dari kota Jombang. Kalau yang kedua ini mampir karena lapar dan kelihatannya mau hujan.

Dua jam lebih bermukim di masjid tersebut, ternyata sudah Ashar. Wah, aku sudah kalah 2 jam dari target. Walau agak gerimis tapi aku jalan sajalah, toh ada sorban pelindung kepala dan tas. Kamera aku masukkan ke plastik lalu kutaruh di tas bagian paling bawah biar aman dari hujan.

Seingatku, tidak pernah aku baca artikel yang bilang bahwa otot itu bisa tiba-tiba keram kalau ketemu suhu yang turun. Tapi begitulah yang terjadi. Dalam 2 jam jalan itu rasanya otot mengeras mengikuti kurva logaritmik, cepat sekali.

Jam 5 sore aku sudah tidak tahan lagi. Langkah sulit kuatur. Otot kaki bisa melangkah ke depan tapi sulit dihentikan sehingga kaki sampai menghentak lurus baru bisa menapak. Sepertinya lututku mulai bermasalah. Kuputuskan bermalam sajalah di Mojoagung, sekitar 6 km sebelum Trowulan. Aku kalah dan salah berasumsi.

Ramainya alun-alun Mojoagung yang di pinggir jalan lintas itu ternyata gara-gara mala mini banyak yang bakal berkunjung ke makam Mbah Sayyid Sulaiman. Plang besar yang menunjukkan arah ke situ menandakan ini orang dulunya bukan sembarang orang. Beberapa orang bilang malam ini akan sangat ramai. Mobil akan mogok berkilo-kilo meter. Tapi sama sekali aku tidak tertarik mampir ke sana karena memang menurutku tidak betul yang begitu-begituan.

Aku pikir besoknya aku bisa jalan lanjut ke Trowulan, tapi sakitnya kaki tidak berkurang sama sekali, malah sepertinya tambah parah. Jadi, aku naik angkutan umum berbayar Rp 2.000 sampai depan kantor wisata Trowulan. Lalu lanjut jalan ke dalam sekitar 1 km menuju museum. Mungkin cerita detail Trowulan akan kulanjutkan kapan-kapan.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

3 thoughts on “Trowulan yang Panjang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s