07
Nov
10

Telusur Lengkong-Kertosono

Lengkong itu nama sebuah desa di Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (mudah-mudahan gak salah). Untuk mengakses Lengkong, kalau dari Jakarta, bisa naik kereta Brantas atau Gaya Baru atau banyak kereta lain yang mampir di Kertosono. Paling murah itu naik Gaya Baru, Cuma Rp 33.500. Setelah turun di Kertosono, jalan sekitar 100 meter ke jalan besar. Di situ ada len (sebutan untuk angkot) merah yang mentok di Pasar Lengkong (10 km; Rp 5 ribu) yang kalau diteruskan bisa sampai ke Ploso.

Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial di Lengkong. Suasananya seperti desa-desa pada umumnya: banyak tanaman pangan di kanan kiri jalan, banyak ternak, jalan sepi. Cuma, memang Aku sedang merindukan kedaan seperti itu. Keadaan tenang dengan waktu yang sepertinya merenggang, lambat sekali rasanya. Keadaan sederhana yang penuh dengan keramahtamahan. Dan sebagainya.

Itu bukan satu hal menarik untuk diceritakan. Yang menarik adalah, ketika pulang dari Lengkong menuju Kertosono, 4 November 2010, Aku memilih berjalan kaki. Seluruh barang kutitip ke teman yang akan kutemui di stasiun. Dia menganggap Aku aneh, tak apa. Aku tetap memilih berjalan kaki di siang bolong. Motifnya ya ingin cari pengalaman dan ingin meresapi kehidupan seputaran Lengkong-Kertosono.

Sepuluh kilometer jalan beraspal mulus kutapaki selangkah demi selangkah. Seringkali kutemui pohon kersen, atau orang lokal menyebutnya pohon keres. Kalau dikumpul-kumpul, sepanjang jalan itu, mungkin aku mengumpulkan setengah piring buah keres. Aku tidak lagi perlu mampir untuk makan siang. Lumayan pengiritan. Aneh kalau ada yang kelaparan di Lengkong.

Sepanjang jalan, Aku seperti orang aneh bagi penduduk lokal. Hampir tiap pengendara motor yang lewat selalu memandang kembali ke belakang, ingin tahu apakah dia kenal  orang aneh yang jalan di siang bolong di jalan antarkota yang sepi sekali itu. Biasanya aku tatap balik sampai mereka berhenti menatapku. Atau kalau orang tua, aku senyumi yang biasanya dibalas juga dengan senyum yang lebih sumringah dan anggukan kecil.

Sepanjang jalan aku cuma berhenti dua kali. Pertama waktu mau sholat. Ada sebuah langgar kecil di pinggir jalan yang baru pukul 1 siang sudah dikunci. Tak apalah, sholat di pelatarannya pun cukup. Tapi sayang sekali, pelataran penuh debu, harus dibersihkan dan ditiup sedikit supaya dapat tempat sujud yang bersih. Agak ironi mengingat daerah ini adalah daerah yang punya kadar religius tinggi.

Kedua, waktu ketemu dengan penjual es campur. Kalau yang ini memang niatnya mau ngobrol, selain juga mau pinjam bangku miliknya untuk menggapai tangkai kersen, dan ingin minta air minum. Ia sudah beberapa tahun bejualan di pinggir jalan itu. Tidak ada uang kemanan, tidak ada yang suka usil minta barang dagangan, semua lancar. Itu yang menyebabkannya tidak kembali ke mencari uang di Jakarta seperti dulu. “Yang jelas, di sini tidak akan kelaparan,” katanya.

Pertanyaannya yang juga pertanyaan banyak orang-orang di daerah pedalaman, “Sering ketemu artis gak di Jakarta?” Aku jawab, terkadang kalau lari pagi di Senayan atau makan di kafe, jarak dengan artis tidak lebih dari 5 meter. Dia mengeluarkan mimik iri. Berarti aku sudah dianggapnya hebat, berarti juga aku bisa minta air putih gratis, hehe. Dia malah juga menawarkan rokok, sepertinya mau mendapat cerita lebih tentang ketemu artis. Aku mau cerita bahwa artis itu tidak sehebat yang dianggap orang, mereka juga tidak selalu hidup senang, ini dan itu. Tapi waktuku tak banyak, aku mengejar kereta siang, jadi setelah mendapat minum, aku langsung pamit, hehe.

Dua setengah jam untuk menempuh 10 km itu. Tidak sesulit dan seseru yang kubayangkan. Mungkin karena terlalu banyak sawah di pinggir jalan, sedikit pemukiman, jadi sedikit orang saja yang bisa diajak ngobrol. Tapi, ya lumayanlah buat pengalaman.


0 Responses to “Telusur Lengkong-Kertosono”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2010
S S R K J S M
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: