Kenapa Bahasa Indonesia?

Satu hal yang belum kupahami. Kenapa dipilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?

Sumpah Pemuda tahun 1928 itu kan ajang kumpul-kumpul pemuda dari macam-macam daerah di Indonesia yang waktu itu belum jadi Indonesia. Ada Yong Java, Yong Selebes, Yong Sumatera, dsb (tuh, “Yong” aja bahasa apa coba? Mungkin serapan dari “Young” kali ya). Mereka datang dari daerahnya masing2 yang di daerahnya itu punya bahasa lokal sendiri. Sekarang saja, dalam satu provinsi bisa ada beberapa bahasa. Mungkin dulu lebih macam lagi.

Kalau ada kongres mahasiswa nasional sekarang2 ini, Aku cenderung melihat mereka nge-gank dengan sukunya masing2. Memang membaur, tapi mereka lebih senang bergaul dengan orang dari daerah asalnya sendiri. Kalau ada, misalkan, mahasiswa ITB bikin acara nasional. Walaupun itu katanya nasional, tapi yang mayoritas datang kan dari Bandung, Jakarta, ya Jawa Barat lah. Memang ada dari Sulawesi, Irian, tapi cuma satu dua. Jadi, mayoritas peserta adalah yang ada di regional itu.

Seperti itulah kondisi yang Aku bayangkan waktu sumpah pemuda. Mereka lebih nyaman dengan bahasanya masing-masing. Nah, karena sumpah pemuda dibuat di Pulau Jawa, Aku membayangkan banyak peserta dari Jawa di sana. Bahasa Jawa menjadi dominan, piye kabare?

Waktu si pemimpin sidang (atau apapun sebutannya) bilang, “Kita pakai bahasa apa ya, kawan?” Kenapa Bahasa Indonesia yang dipilih? Padahal ada Jawa yang dominan. Kalau ada yang mengusulkan pakai Bahasa Jawa saja, akan banyak pendukungnya, kalau voting akan menang. Apa karena mereka lagi sangat nasionalis? Tapi, kalaupun iya, apa Bahasa Indonesia itu dipakai di seluruh Indonesia sehingga bisa dibilang sebagai bahasa nasional? Setahuku cuma di Sumatera, itu juga cuma di bagian utara. Itupun utara yang mana ya? Karena Aceh, Medan, Padang, punya bahasa sendiri. Aku tahu bahasa Aceh, itu tuh beda banget dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu, paling tidak di vocabulary-nya.

Oke, mungkin mereka berpikir, jangan bahasa yang kita semua pakai di daerah, bahasa lain saja. Tapi kenapa Bahasa Melayu versi beta (Bahasa Indonesia) yang dipilih? Kenapa bukan Bahasa Inggris biar lebih global? Mungkin karena dulu, di dunia, yang eksis itu Bahasa Melayu, belum Bahasa Inggris. Tapi, apa begitu?

Memang bahasannya agak terlihat sukuisme, tapi poinnya bukan di situ, bukan mau menyudutkan salah satu suku. Mudah-mudahan tidak terlihat menyudutkan ya.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s