20
Sep
10

Pagaralam Kaki Dempo

Minggu, 15 Agustus, Aku menuju Pagar Alam (salah satu Kabupaten di Sumatera Selatan) dari Bengkulu. Salah satu daerah yang kami lewati namanya Ulu Musi. Semua orang menyarankan jangan lewat daerah itu ketika matahari karam karena rawan “perampokan”. Motif sudah jelas duit. Modusnya dengan melintangkan pohon di tengah jalan.

Kalau sudah kena pohon melintang, habislah sudah. Memutar balik ke arah Bengkulu sangat sulit karena jalan yang ada terlalu kecil, sulit untuk memutar mobil. Kiri tebing kanan jurang. Tidak ada jalan lagi selain berhenti. Mereka tidak membunuh tapi melucuti seluruh harta dalam mobil. Tinggallah korban terikat di batang pohon.

Pertimbangan kami tidak berangkat tadi malam semakin tegas karena mobil yang kami pakai berplat BE (Lampung), bukan Sumsel (BG). Jadilah baru pagi ini kami berangkat. Perjalanan memakan 4 jam. Setelah 3 jam perjalanan dari Bengkulu, barulah ketemu Ulu Musi. Daerahnya memang sepi. Sesekali ada kota kecil atau pasar tradisional kecil. Selebihnya, sepi sekali. Mobil dari arah berlawanan baru ditemukan tiap 2 menit.

Tapi benar kata orang, yang sulit-sulit itu indah. Di sini hutan terjaga. Jadi sebenarnya kami jalan di tengah hutan itu. Jalannya berkelok, ya layaknya bukit barisan lah. Banyak air yang luber ke jalan. Kelihatannya dari gunung di atas karena tidak adanya tempat aliran air. Beginilah kalau hutan masih terjaga, air yang mencari kita. Berkah sekali.

Beberapa kota yang dilewati seringkali terlihat orang menjemur kopi atau kemiri. Banyak pohon kemiri terlihat di kanan kiri jalan. Ciri khasnya, batang pohonnya warna putih. Kalau kopi, jangan lewatkan kopi Sumsel! Minum kopi Sumsel teringat kopi Bali, rasanya khas dan kuat, tapi tidak menghilangkan kantuk.

Banyak juga terlihat tukang jahit di pinggir jalan kota. Sepertinya arus jalan dari dan ke Bengkulu itu masih rendah. Pasokan sandang kurang, jadi jarang sekali terlihat toko baju, yang banyak adalah tukang jahit. Ada satu lagi yang unik sepanjang jalan, yaitu organ tunggal! Beberapa kali Aku temui plang yang berjualan jasa organ tunggal. Plangnya sederhana, hanya terbuat dari kayu dengan tulisan dari cat dengan huruf yang dibuat lemah gemulai.

Siang hari kami sudah sampai, tapi karena ini hari Minggu, jadi kami belum bisa meliput. Rencananya baru besok pagi. Kami menginap di mess Unit Usaha Pagar Alam. Dari teras mess, kalau malam, melihat ke bawah adalah light view, kota Pagar Alam. Tenang, damai, cantik. Suara serangga menemani, bersahutan dengan suara katak. Mess ini masih khas bangunan Belanda. Jendela-jendela yang besar, ruangan kamar yang besar, dan tentu… ehem, menyeramkan. Tapi, kapan lagi?

perkebunan teh Pagar Alam, PTPN VII

Senin, 16 Agustus. Pagaralam itu sentra kopi. Masih banyak petani yang tidak memakai pupuk, jd otomatis kopinya organik. Rasanya tajam betul, mantap. Sahur hari ini, Aku minum dua gelas, tapi tidak bikin jantung deg-degan dan mata terjaga. Aku masih merasa ngantuk. Berbeda sekali dengan efek setelah minum coffeemix.

Sekitar jam 6 pagi, Aku sempat main ke pabrik lewat Jalan Tangga yang dekat mess. Nama jalannya betul-betul Jalan Tangga, dan sepanjang jalan ini memang cuma ada tangga. Di ujung tangga yang tidak seberapa banyaknya itu, langsung ketemu dengan pabrik teh. Aku berbincang singkat dengan Pak Alan, konsultan pabrik ini. Dia bercerita banyak tentang bagaimana terjadinya revolusi pabrik yang tadinya menggunakan bahan bakar solar menjadi cangkang sawit yang bisa menghemat biaya bahan bakar sampai 95%.

Jalan Tangga

Aku diajak keliling pabrik dan diberi tahu lajur-lajur pengolahan teh dari awal sampai ada grading (pembagian kelas teh). Yang sedang laris sekarang adalah jenis BP (broken pekoe; salah satu jenis teh keluaran pabrik), harganya bisa beberapa kali lipat dari BOP (Broken Orange Pekoe). Padahal, BP itu kualitas batang sedangkan BOP itu daun. Jelas anti oksidannya lebih tinggi BOP. Si BP ini harganya naik karena dia mudah diolah sebagai bahan baku teh tarik, dan teh tarik sekarang sedang naik pasarannya. BP bisa disarikan instannya yang itu tidak bisa dilakukan dr BOP. Ilmu baru nih.

Sorenya sekitar jam 5, Aku jalan ke perumahan sekitar. Mampir ke rumah warga, bertutur topik kopi dengan salah satu pemuda di sana. Mayoritas petani daerah ini mengusahakan kopi. Dia jual Rp 11 ribu. Kalau sudah giling dan jadi serbuk, itu Rp 30 ribu/kg.

Aku mampir di rumah seorang tua umur 70-an. Dia tinggal di rumah panggung itu dengan istrinya. Khas rumah di sini itu memang panggung, tapi lebih tinggi dari biasanya, jadi bagian bawahnya dijadikan ruangan lagi. Biasanya buat semacam ruang tamu. Semua bagian rumah terbuat dr kayu.

Karena hujan, Aku terpaksa tunda pulangnya, sampai akhirnya buka puasa di rumah Bapak tua itu. Wah, mereka sangat baik. Aku senang bisa ngobrol dengan pasangan tua ini. Kami berbuka dengan pisang goreng yang besarnya se-telapak tangan. Minum dengan kopi. Ini bukan sembarang kopi. Kopi yang disajikan kepadaku adalah dari kebun mereka sendiri. Mereka jual sebagian, sebagian lagi disimpan untuk stok di rumah, tentu setelah digiling. Mereka dan sebagian besar penduduk sini adalah pecandu kopi. Ibu tua (70-an) yang ngobrol denganku, minimal dalam sehari dua gelas. Pagi dan sore. Itu sudah biasa bagi penduduk lokal. Buatku, jarang sekali ada nenek-nenek suka minum kopi, dua kali sehari pula.

Berfoto dengan orang tua lokal. Dok: Iqbal

Setelah hujan reda, Aku pulang ke mess. Sempat Aku berfoto dengan Bapak tua. Ibu tua tidak mau difoto karena takut. Takut apa? Entahlah. Mereka berdua dengan hangat melepasku pulang sampai ke depan pintu dengan tangan melambai. Senang sekali menerima keramahan mereka.


0 Responses to “Pagaralam Kaki Dempo”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2010
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: