15
Sep
10

Susur Bengkulu

Kamis, 12 Agustus 2010, Aku mulai jalan menuju Bengkulu dari Bandar Lampung. Tidak lama setelah sahur, jemputan datang. Aku, Siba (rekan penulis), supir, dan seorang pendamping dari N7 ada dalam satu rombongan. Rombongan kedua adalah dari Unit Usaha Ketahun, salah satu bagian dari Distrik Bengkulu, N7. Tujuan kami adalah meliput Ketahun, sekitar 2 jam sebelah utara Bengkulu.

Perjalanan cukup panjang. Berangkat sekitar pukul 6 pagi, sampai Ketahun pukul 10 malam. Jadi total 16 jam. Berhenti di beberapa titik buat meluruskan otot. Yang paling menyenangkan adalah, kami menggunakan jalur lintas barat Sumatera yang jarang sekali dipilih orang. Hmm, sebetulnya tujuan Bengkulu memang jarang dipilih orang. Tidak sebanyak orang yang ke Palembang atau Padang. Kalau ke Padang pun, orang lebih memilih lewat Palembang (jalur timur).

Tidak tahu ya, orang jarang sekali yang lewat jalur barat. Padahal jalannya aspal mulus. Ya adalah jalan bopeng, tapi sedikit sekali. Juga, pemandangan di sini indah betul. Sebelah kanan tebing mendinding dan sebelah kiri pantai. Mayoritas pemandangan Bandar Lampung-Bengkulu adalah pantai. Ombak lumayan deras, mirip Selatan Jogja. Sepertinya, tidak jauh dari garis pantai adalah langsung palung laut. Mungkin itu alasan sedikit orang saja yang berenang di pantai.

jalan di sepanjang lintas barat

Hampir sepanjang pantai yang dilewati bukan didominasi pasir, tapi batu-batu sebesar kepalan tangan. Ada yang legam ada yang putih bersih. Banyak warga lokal yang memilihkannya dengan ukuran homogen lalu menjualnya di pinggir-pinggir pantai. Cocok sekali sebagai hiasan taman.

Karena menyusuri lembah pegunungan bukit barisan, wajar saja jalan berkelok-kelok tiada habisnya. Tidak ada yang bisa tidur dengan pulas. Sebentar goyang ke kanan, sebentar ke kiri. Mungkin karena ini lintas barat kurang peminat. Tapi buat backpacker, ini harus dicoba!

Ada satu pulau indah yang tampak di sebelah barat. Dengan kapal boat, perjalanan sekitar setengah jam. Di dalamnya terdapat cottage indah. Mayoritas peminatnya adalah surfer bule. Agak sulit dijangkau buat orang-orang yang biasa-biasa saja. Rute yang jarang diakses kendaraan dan pulau yang sangat eksklusif menjadi dua fakta yang mewajibkan merogoh kocek dalam.

Beberapa menit sebelum Maghrib kami sampai di Bengkulu. Jalan di dalam kota lebar-lebar, tapi kendaraan sepi sekali. Berkebalikan dengan kota Bandar Lampung yang kendaraannya banyak tapi jalannya sempit. Seperti di Bogor, ada tempat khusus buat pejalan kaki yang cukup lebar di pinggir-pinggir jalan. Setelah berbuka, kami lanjutkan perjalanan ke Ketahun.

Jumat dan Sabtu kami pakai untuk liputan. Beberapa kebun N7 di Bengkulu adalah bekas daerah pengembangan PTP XXIII di Jawa Timur. Setelah restrukturisasi 1996, digabung dengan yang lainnya menjadi N7. Kebunnya amburadul, tapi melesat jauh membaik dalam beberapa tahun ini.

Minggu, 15 Agustus, setelah Subuh, Aku keluar mess Distrik Bengkulu, berjalan kaki, rencananya menuju Benteng Marlborough. Setelah setengah jam berjalan, masih dikata orang jauh. Akhirnya Aku naik ojeg. Abang ojeg menawarkan ke benteng lewat jalan di pinggir pantai panjang. Cocok! Agak memutar sih, tapi kapan lagi?

Teringat salah satu pantai di Surabaya, mirip sekali tipologi pelancongnya. Pantai Panjang menjadi favorit anak-anak muda Bengkulu, tidak sedikit juga yang memboyong satu keluarga. Aku yakin seribu lebih orang berkunjung ke pantai pagi ini. Aku tanya tukang ojeg, “Ramai begini karena hari Minggu ya?” Dia jawab bukan. Hari-hari biasa memang tidak seramai ini, tapi tidak berbeda jauh lah.

Mereka menggunakan motor, sedikit saja yang menggunakan mobil. Saking ramainya, rombongan motor ini menjadi penyebab macet di beberapa titik. Pantai Panjang punya garis pantai berkilo-kilo panjangnya. Hampir di sepanjang itu dikerumuni orang.

Di ujung Pantai Panjang adalah Benteng Marlborough. Bentengnya masih tampak kokoh. Melihat benteng ini mengingatkan pada strategi perang Belanda, Benteng Stelsel. Setiap Belanda menemukan tempat jajahan baru, dia segera membangun benteng.

Benteng Marlborough. Dok: Iqbal

Tidak ada sudut benteng yang tidak ada anak mudanya. Beberapa orang naik sampai ke atap benteng, entah dari mana mereka naik. Aku yakin pemandangan pantai dari atas sana luar biasa.

Dengan ojeg yang sama, Aku kembali ke mess. Kota Bengkulu sudah makin terang. Satu keunikan khas Bengkulu lagi, di antara pembatas jalan dua arah, ditanam pohon-pohon seperti Beringin yang dibonsai. Tingginya dijaga sama rata, tidak lebih dari tiga meter. Dari pangkasan pohon, jelas terlihat ada petugas khusus yang merawat pohon-pohon ini dengan rutin.

Pohon-pohon khas jalan Bengkulu. Dok: Iqbal

Perjalanan selanjutnya, Pagar Alam. Ini kebun yang paling kutunggu karena, pertama, ini satu-satunya kebun dengan komoditas teh di N7. Kedua, letaknya tepat di lereng Gunung Dempo. Kebun ini menjadi jalur lintasan para pendaki Dempo yang tergolong gunung dengan ketinggian lebih dari 3.000 mdpl.

Iklan

2 Responses to “Susur Bengkulu”


  1. September 15, 2010 pukul 2:14 am

    Wow ! Jadi kepikiran nostalgia saat berada di bengkulu 2 tahun silam… nice posting. Terima kasih sudah sharing


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2010
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: