06
Jul
10

Membedah Pengembangan Sawit Indonesia

Buah kelapa sawit. Dok: kpbptpn.co.id

Awal Mei 2010, Aku mulai terlibat dalam penyuntingan sebuah buku tentang perjalanan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Penulisnya adalah M Badrun, mantan Dirjen Perkebunan tahun 80-an. Fisiknya sudah terlihat sepuh tapi dia seakan menjadi muda lagi ketika diajak berbincang tentang Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Perkebunan. Pada era Badrun memimpin, ia mengembangan PIR dengan memberikan kesempatan pada pengusaha swasta untuk ikut mengembangkan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1986 lewat proyek PIR-Trans. Ini yang kemudian menjadi cikap bakal pola-pola lain seperti KKPA. Hasilnya mungkin di luar dugaan, lahan perkebunan sawit di Indonesia berlipat puluhan kali. Investasi luar biasa sehingga menjadikan Indonesia produsen nomor satu di dunia.

Perkembangan produk minyak kelapa sawit yang begitu pesat di pasaran internasional tentu menjadi mimpi buruk bagi produsen minyak nabati lain. Produknya menjadi kalah dan tidak laku di pasaran, terutama minyak kedelai yang produsen utamanya adalah Amerika Serikat.

Perang pertama dimulai. Amerika mulai menghembuskan isu bahwa minyak kelapa sawit merusak kesehatan, terutama jantung. Segala penelitian tentang itu didukung oleh mereka lalu diekspos besar-besaran. Sempat isu itu mengganggu pasar minyak sawit, tapi kemudian Indonesia dan Malaysia patungan untuk membuat penelitian tandingan yang hasilnya menyatakan bahwa minyak kelapa sawit tidak berefek pada kesehatan jantung. Amerika kalah dan kedelainya tetap tidak laku.

Perang kedua, entah siapa dibalik isu ini, tapi lingkungan menjadi topik utama. Perkebunan kelapa sawit dicerca merusak hutan, memusnahkan Orang Utan, merusak tatanan pengairan, dan sebagainya. Kalau untuk ini, menurutku bukan perkebunan kelapa sawit-nya yang salah, tapi penegakan hukum-nya yang kurang tegas. Aturan sudah jelas dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit harus layak secara ekonomi, layak secara lingkungan, dan ramah lingkungan. Kalau ada yang tidak ramah lingkungan berarti dia tidak taat azaz, tinggal bagaimana meletakkan hukum di kepala mereka saja.

Itu yang menjadi perdebatanku dengan seorang aktivis Green Peace di Plaza Semanggi. Mereka claim, penyelewengan itu terjadi di 80% perkebunan kelapa sawit Indonesia. Pertama, Aku belum terlalu percaya dengan data itu. Penyelewengan memang ada, tapi sepertinya tidak sampai setinggi itu. Data seharusnya dibalas data, di situ kekalahanku. Kedua, selama ini orang hanya melihat dampak negatifnya terus yang itu sebetulnya tinggal diselesaikan dengan penegakan hukum yang sesuai, bukan memberangus kebijakan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dampak positifnya bahwa perkebunan sawit  membuat 600 M bergulir setiap bulannya di setiap desa PIR, itu tidak pernah diangkat. Berapa ribu orang yang tadinya makan saja sulit sekarang dengan mudah bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Berapa ribu usaha yang berputar karena daya beli pekebun yang meningkat pesat. Berapa banyak daerah terisolir yang sekarang bisa terakses dengan baik. Itu semua tidak pernah diangkat.

Aku diberi kesempatan berbincang langsung dengan peserta PIR-Trans di Riau. Dulu, hidupnya sungguh menderita. Ia hanyalah seorang anak buruh tani, strata ekonomi terendah di daerahnya. Sekarang, setelah mengikuti PIR-Trans selama 20 tahun, hampir tidak ada masalah ekonomi yang membelitnya. Dengan mudah ia bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ini karena perkebunan sawit. Cerita ini adalah prototipe dari banyak petani kelapa sawit yang mengikuti proyek PIR.

Sawit tidak akan pernah berhenti diserang beragam isu karena banyak pihak yang tidak suka sawit berkembang di Indonesia. Direktorat Tanaman Tahunan, Ditjenbun, Kementan, terutama Seksi Tanaman Kelapa Sawit tidak pernah sepi akan pekerjaan. Selalu ada saja yang menanyakan tentang isu buruk kelapa sawit. Jarang Aku lihat orang-orangnya lengkap ada di kantor. Biasanya mereka ada di lapangan, ada saja yang diklarifikasi, ada saja yang dikerjakan.

Jadi, kalau ada pikiran bahwa pengembangan kelapa sawit harus dihentikan, mari kita berdiskusi…


11 Responses to “Membedah Pengembangan Sawit Indonesia”


  1. Juli 6, 2010 pukul 10:31 am

    yup. pengalaman selama 3 bulan bekerja di perusahaan sawit. cuma bisa share bahwa semuanya tergantung pada pemilik usaha dan masyarakat sekitar.

    • Juli 9, 2010 pukul 1:59 am

      iya, tergantung pemilik usaha, buat nyeleweng mungkin mudah dan penegakan hukumnya jg masih longgar, tp kalo emang dasarnya si pengusaha baik ya baik aja, kalo mau dibenahi ya si penegak hukumnya itu

  2. Juli 9, 2010 pukul 6:47 am

    sorry to say, bal. tapi emang terlalu banyak yang dikorbankan dalam pembukaan lahan-lahan sawit satu dekade terakhir.

    lagian apa pentingnya jadi produsen nomer satu di dunia kalo indonesia tetep aja gak punya bargaining position di kancah international.

    berapa banyak tanah adat yang diambil alih wilmar group, sinarmas, asianagri ato apapun nama grupnya. udah cukup sawit ngerusak lingkungan kita.

    gue lebih setuju indonesia ngembangin perkebunan karet daripada sawit. lebih nguntungin kalo diitung pake sustainable development.

    • Juli 12, 2010 pukul 3:09 am

      jadi produsen nomor satu jelas penting krn bakal nyerap tenaga kerja, lbh bagus lg bs dpt bergaining position memang, tp dgn sekian puluh juta orang yg bs lbh sejahtera krn adanya sawit, gw rasa itu hebat bgt…

      tanah adat memang byk yg diselewengkan, nah, itu yg gw bilang aparat hukumnya yg harus dibenerin, bukan menyalahkan sawitnya… kalo kerusakan lingkungan, deal pemerintah dgn swasta itu mengharuskan swasta menerapkan sustainable development, kalo mereka ternyata gak menerapkan itu, lagi2 penegakan hukumnya yg harus bener, bukan (lagi2) nyalahin sistem yg udah dibuat dalam pembuatan perkebunan sawit… sekitar seminggu yg lalu, Kementan udah ngeluarin draft ISPO, kalo gak salah singkatannya Indonesian Sustainability Palm Oil, di sini sitem lbh diperkuat lg yg tentunya lbh ramah lingkungan, tp tetap PR ada pada penegakan hukum…

      karet memang, katanya, lbh oke untuk lingkungan, tp dia jauh lbh lambat menggerakkan perekonomian rakyat drpd sawit… karyawan sadap karet di PTPN 3 gajinya setengah dr gaji karyawan di sawit milik perusahaan yg sama… fakta lain, petani sawit rakyat sudah biasa punya bbrp mobil, sedangkan petani karet rakyat punya 1 mobil udah dianggap di atas rata2, itu dgn luasan lahan yg sama

  3. September 26, 2010 pukul 5:36 pm

    RSPO atopun ISPO gue rasa bakalan sama aja. pemerintah gak bakalan punya taji di round table dan ISPO cuma bakal jadi bulan-bulanan pemalsu hasil audit. kayak cerita usang yang udah kita semua tau, untuk buka areal sawit, selalu dipake tim survey independen. kerja tim ini rata-rata sih bener. tapi ketika hasilnya dibawa ke bagian pengukuhan kemenhut, semua data bisa berbalik 180 derajat.

    udah gitu, gue rasa kita gak bisa ngasih pemakluman dengan bilang, “yah, itu sih masalah supremasi hukumnya aja..”. sumber dari segala sumber racun supremasi hukum di wilayah persawitan kan emang karena besarnya keuntungan yang bisa didapet. bahkan hal ini juga sangat sangat sangat lo sadari. liat aja pembuka sama penutup komen lo di atas gue. yang lo kedepankan cuma dari pilar ekonomi. padahal untuk mencapai sustainable development, ada dua pilar lain lagi yang harus diperhitungkan dan diberi porsi yang seimbang dengan pilar ekonomi, yaitu sosial dan lingkungan.

    angin godaan keuntungan dari industri sawit terlalu kenceng untuk sekedar ngerobohin supremasi hukum.

    • September 27, 2010 pukul 5:32 am

      iya, mungkin masalah bulan2an hasil audit, masalah data yang dibolak balik, gw jg denger cerita itu, tapi karena itu buat gw masih cerita orang dan ttg perekonomian petani sawit itu gw liat langsung, jd gw lbh percaya fakta bahwa sawit mengembangkan perekonomian. orang yang tadinya makan susah, krn ngelola sawit jd bs nyekolahin anaknya sampai S1 dgn gampang.
      Kalau pilar sosling gw kurang paham penjabarannya. Tapi bayangan gw, kalau sudah kenyang, orang gak ribut, gak ngerampok, jd hubungan sosialnya aman. Mungkin ada paradigma lain, mungkin gw salah, tapi kondisi petani sawit yg makmur itu sangat kuat membuat gw berpikir sawit itu positif banget buat mereka

  4. September 27, 2010 pukul 7:25 am

    kalo ikut keliling-keliling kebon sawitnya sambil ditemenin orang yang punya kepentingan atas kebon-kebon itu ya pasti yang keliatan kayak yang lo liat. bakhus-bakhusnya doang. lha gue aja ketawa-ketawa waktu liat company profilenya perusahaan gue kerja dulu. =D

    coba sekali-sekali colek orang dari sawitwatch ato walhi. minta ikutan jalan-jalannya mereka kalo lagi ambil data ato lagi advokasi konflik soal tanah. baru deh dapet pandangan yang lebih menyeluruh dan tentunya berimbang. 😉

    ini contoh data-data yang ada dari sumber yang lumayan bisa dipercaya (jadi bukan katanya-katanya doang =P).

    http://www .detikfinance. com/read/2010/06/24/175322/1385897/4/sawit-dominasi-kasus-kerusakan-hutan

    http://permalink.gmane. org/gmane.culture.media.mediacare/69072

  5. September 27, 2010 pukul 7:26 am

    blah.. komen gue kena akismet.
    >,<

  6. Agustus 13, 2011 pukul 11:25 pm

    ya gimana dong, kl q deger pembicaraan mereka diatas, kok q jd was” gini ya???????? masalahnya q jgk punya kebun kelapa sawit disumantrahhh, masih kecil”lg. kalian ini bener gk sihhhhhhh bikin q was” aja. ya berdo’a aja dechhhhhhh biar rencanaq lancar”aja AMIN3x

    • 11 isep
      Juli 14, 2012 pukul 6:54 am

      apaun coment mereka di atas, yang pasti bukan sawit yg salah bukan pula karet yg unggul.keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
      sawit hanya bagian dari banyak cara untuk mengais rezeki dan yg pasti itu halal.yang tidak halal hanyalah cara, cara yg digunakan oleh aprat,oknum,pribadi yang busuk…jadi intinya yg salah adalah pelakunya bukan sawitnya. tolong perhatikan banyak faktor jika ingin menyalahkan/mengkritisi sesuatu karna ribuan bahkan ratusan ribu orang bergantung padanya,,coba kita sama2 berfkir dan renungkan,,apa yg terjadi jika sawit di indonesia ini di hanguskan…saya yakin sekali ribuan orang akan menjadi pengangguran dan bisa di tebak kejahatan akan semakin meningkat dan kondisi indonesiapun semakin memburuk…apakah itu yg kita inginkan.
      sebagai bagian dari negara indonesia dan makhluk sosial seharusnya kita memikirkan kepentingan orang lain sebelum mencekal itu baik atau benar…trimakasih kepada pemilik blog yang telah mengizinkan saya untuk berbagi sedikit unek2 ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: