Ciregal

Cirebon dan Tegal memang bukan menjadi tempat tujuan utama backpacker. Namun keterbatasan dana menjadi tantangan tersendiri yang membuat trip biasa jadi lebih seru. Hanya dengan 186 ribu saja sudah cukup mengarungi 3 Keraton di Cirebon, Pantai Alam Indah dan Guci di Tegal, serta menjelajahi kehidupan dua kota tersebut selama 3 hari.

Arum Tegal. Satu varian kereta ekonomi yang baru pertama kunaiki. Beranjak dari Pasar Senen (Jakarta) pukul 15:19, menuju Tegal di akhir Desember 2009. Empat belas ribu rupiah. Aku pesan turun di Cirebon Prujakan, lebih murah seribu menjadi 13 ribu. Pecahan dua puluh ribuanku ditukar dengan sebuah tiket, sebuah kupon PMI, dan uang 6 ribu. Petugas memperkosa seribuku tanpa izin, disumbangkan ke PMI. Setelah berlalu, Aku baru sadar kupon PMI hanya senilai lima ratus. Berarti lima ratus lagi raib. Diperkosa dua kali.

Ada beberapa cara menuju Cirebon. Pertama dengan bus, setahuku ada yang dari Pulogadung. Ongkosnya sekitar 30an ribu (tergantung kelas), perjalanan selama empat jam. Kedua, menggunakan kereta Cirebon Ekspres (Eksekutif dan Bisnis) bisa sampai dengan tiga jam saja, tapi biayanya 80 ribu! Itupun baru kelas bisnis. Tentu Aku lebih memilih Arum Tegal, walau mungkin lebih tidak nyaman tapi jauh lebih murah. Itulah enaknya sering berkunjung ke website KAI dan punya banyak teman di banyak daerah, jadi bisa mendapat banyak pilihan.

Tepat empat jam Aku sampai Cirebon. Aldi, kawanku, sudah siap dengan motornya di depan stasiun. Sebelumnya memang Aku minta tolong untuk dijemput, selain karena sudah malam dan tidak hapal daerah Cirebon, juga untuk pengiritan, hihi.

Menginap di rumah Aldi juga termasuk pengiritan, apalagi makan malam dan makan pagi keesokan harinya pun disediakan oleh keluarganya. Bahkan Aku diantar dari rumahnya ke keraton yang akan kukunjungi. Merasa tidak enak, kuisikan bensin motornya, sepuluh ribu rupiah.

Ada tiga keraton di kotamadya Cirebon, yaitu Kacirebonan, Kasepuhan, dan Kanoman. Letak ketiganya saling berdekatan, hanya berselang sekitar 1 km.

Kacirebonan yang kukunjungi pertama. Sepi sekali. Aku adalah pengunjung satu-satunya. Seorang Ibu tua sedikit kata menghampiriku dan mengajak masuk ke dalam ruangan gelap berdebu dengan foto raja nyengir. Kalau tidak ada plang Keraton, tempat itu lebih mirip rumah hantu. Perabot-perabot tua sudah duduk manis di teras dan di dinding. Ibu tua tersebut bisa dibilang kuncen keraton. Dia membuka setiap ruangan yang ingin kulihat.

Banyak kursi antik terlihat, seakan rapuh menyangga dirinya sendiri. Dalam satu lemari kaca, ada kumpulan uang rupiah zaman dulu yang masih menggunakan satuan sen, baik kertas maupun logam. Salah satu ruangan memuat perabot musik. Namun yang kukenal cuma gamelan, selebihnya masih alat musik pukul tapi entah namanya. Di belakang bangunan keraton, rupanya ada aktivitas latihan alat musik tradisional. Mudi-mudi inilah yang akan meneruskan budaya musik lokal.

Mudi-mudi berlatih gamelan di belakang Kacirebonan. Dok: Iqbal

Menjelang pulang, Aku diminta mengisi buku tamu. Ibu tua tadi memberikan selembar kertas tentang sejarah Keraton Kacirebonan. Kutanya, “Untukku?” Dia mengangguk. Aku selipkan 6 ribu rupiah di buku tersebut. Sepertinya Ibu itu cukup senang menerimanya.

Tidak seperti Kacirebonan, Keraton Kasepuhan punya tarif khusus. Tiga ribu rupiah untuk manusia dan dua ribu rupiah untuk kamera. Tempatnya cukup ramai, rapi, dan luas. Wajar kalau tarif ditetapkan.

Beruntung, waktu itu Aku datang ketika keris-keris koleksi keraton sedang dibersihkan. Ada kemenyan berasap dan potongan-potongan jeruk nipis yang bertaburan di sekeliling mereka yang sedang membersihkan. Ada satu keris yang pada pangkal bawahnya ada juntaian rambut. Aku tanya, “Itu apa mas?” Dijawab, “Dulu, orang yang sudah dibunuh dengan keris ini rambutnya dipotong sebagian untuk ditempel di pangkal keris.” Kok terdengar sarkastik ya?

Keris berbulu korban. Dok: Iqbal

Rehat sejenak, Aku menuju ke tempat rekomendasi kawanku, kumpulan kios untuk “moci”. Moci adalah budaya minum teh dari Tegal. Teh yang digunakan jenis tubruk. Dimasukkan dalam poci dari tanah liat. Tahukah kawan, poci yang digunakan tidak pernah dicuci! Sambil meracik, penjual teh poci itu berkomentar “Makin berkerak hitam makin nikmat mas.” Memang betul, bagian dalam poci itu kelam stadium empat!

Gula yang digunakan adalah gula batu. Baru kali ini Aku melihat ada jenis gula ini. Bentuknya seperti bongkahan kristal sebesar telur puyuh, memenuhi gelas yang juga dari tanah liat. Gelas itu tak lebih besar dari gelas belimbing. Kalau kebiasaannya begini, hati-hati diabetes kawan.

Satu poci berharga lima ribu rupiah. Cukup menyenangkan rehat sambil moci. Aromanya, rasanya, menenangkan sekali. Orang Tegal akrab dengan teh Wasgitel: wangi, sedap, legi, kentel.

Lanjut ke Keraton Kanoman. Letaknya di tengah-tengah pasar Kanoman. Bayangkan keraton di tengah-tengah pasar! Betul, sangat tidak nyaman. Tempatnya juga kotor, kurang terawat. Koleksinya tidak terlalu banyak. Tidak ada alasan kuat untuk berlama-lama di dalamnya.

perlengkapan moci. Dok: Iqbal

Sudah sore, dalam itinerary-ku, malam ini sudah harus sampai Tegal. Segera bergegas membeli  2 kg jeruk untuk oleh-oleh Aldi dan keluarga, lalu beranjak menuju terminal Cirebon.

Pengamen di terminal Cirebon menyebalkan. Selama bus ngetem sekitar setengah jam, ada sekitar 10 pengamen. Naik turun tanpa jeda. Minta dengan memaksa. Dia colek-colek. Calo bus pun tak jelas, tarif berbeda tiap penumpang. Tadinya Aku ditembak dua puluh ribu untuk sampai Tegal. Kutawar, akhirnya sampai di angka sebelas ribu.

Perjalanan bus tidak sampai dua jam. Sebelumnya, Aku sudah janjian dengan kawanku untuk dijemput di halte depan  Mal Pacific, mal paling besar di Tegal. Aku diajak tidur di masjid. Tapi sebelum tidur, Aku mampir di warung terdekat untuk makan nasi Lengko, makanan khas Tegal. Semacam pecel, tapi unsur sayurannya lebih sedikit. Cuma ada tahu, tempe, dan tauge yang dibaluri bumbu kacang. Ditemani minuman jeruk hangat Aku cukup membayar tujuh ribu.

Sebelum matahari bersinar gagah keesokan harinya, Aku sudah keluar menuju pasar pagi untuk hunting teh tubruk tradisional. Merk-merk Poci, Tong Tji, Guji, Gopek, Pecco, 2 Tang dapat dengan mudah ditemukan. Kalau di Jakarta sulit sekali mencarinya. Sekali lagi dengan bendera pengiritan, Aku memilih jalan kaki. Walau berjarak 2 km menuju pasar ini, tak apalah. Kalau naik becak akan kena sekitar 10 ribu. Sayang. Hehe.

Menuju Pantai Alam Indah (PAI) Aku juga berjalan kaki, sekitar 2 km lagi dari pasar pagi. PAI adalah pantai yang paling bagus di Tegal. Tapi biasa-biasa saja menurutku. Cuma ada satu yang spesial, yaitu restoran di tengah pantai, di atas kapal besar. Tapi sekarang, pukul delapan pagi, belum buka.

Menuju kapal tersebut, ada jalan khusus yang terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 100 meter menuju laut. Di ujung jalan ini angin cukup kencang. Lampu-lampu antik dipajang di pinggir jalan tersebut, berderet rapi. Sepertinya indah kalau malam.

Satu tempat yang katanya jadi objek wisata andalan di Tegal: Guci. Merupakan nama satu wilayah 40 km di selatan Tegal, tetangganya gunung Slamet. Menuju ke Guci, pertama dengan bus kecil tujuan Bumiayu turun di Yomani. Busnya aneh, hanya enam belas tempat duduk. Sebagai perbandingan, Metro Mini punya lebih dari dua puluh tempat duduk. Tarifnya lima ribu rupiah dengan lama perjalanan satu jam.

Dari Yomani, lanjut dengan bus macam itu lagi, menuju Tuwel. Perjalanan setengah sampai satu jam. Jalannya menanjak, menyenangkan sekali. Jalannya sudah aspal mulus, dua jalur. Kanan kiri jalan selalu menghidangkan pepohonan dan gunung. Sesekali saja bata dan beton.

Di Tegal, jarang yang menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Tegal adalah bahasa Jawa blekok-blekok, istilahku. Banyak terdengar huruf “k” yang di-qolqolah-kan dan banyak apostrof. Setiap kalimat bagiku selalu terdengar menggantung, seperti belum habis terucap.

Di perut bus, kondektur bicara padaku setelah kuberi lima ribu, “bla bla…blekok-blekok….bla bla…PITUNGEWU MAS… blekok-blekok…” Cuma dua kata yang kutangkap, PITUNGEWU MAS. Untungnya ini terdengar seperti inti kalimatnya. Aku ingat wong pitu. Tujuh. Mungkin tujuh ribu. Kujawab, ”Limangewuooo.” Agak ragu, apa lima dalam bahasa Jawa lima juga ya? Di akhir kalimat, Aku panjangkan dengan lambaian “ooo”. Demikian yang sering kudengar dari Falakh, kawan kuliahku yang dari Tegal. Kuikuti saja.

Tuwel adalah titik terakhir sebelum menggapai Guci. Satu-satunya transportasi umum yang bisa dipakai adalah pick up. Warga Guci dan sekitarnya mengandalkan pertanian sebagai motor ekonominya. Pick up mereka gunakan untuk mengangkut hasil pertaniannya. Jangan heran kalau tiap lima menit ada pick up yang lewat sehingga dijadikan alat transportasi umum, walaupun plat hitam.

Ongkos pick up Tuwel-Guci sebesar sepuluh ribu. Tak perlu bayar tiket masuk Guci lagi. Jaraknya sekitar 6 kilo. Kacang tanah, wortel, dan kol melambai sepanjang perjalanan. Gunung Slamet mengintip lewat kabut tebal di sebelah kiri. Gunung Traju di sebelah kanan. Aku babak belur diberikan pemandangan hijau menenangkan.

Sayang tidak kutawar lebih jauh. Geram sekali mendengar informasi warga bahwa tarif pick up itu standarnya 3 ribu saja. Terakhir Aku baru tahu, masalah tawar-menawar, dengan orang Tegal, jangan tanggung-tanggung. Jangan percaya orang yang baru dikenal, coba konfirmasikan dengan orang lain.

Sampai di Guci, ramai sekali. Kebetulan memang sedang libur natal. Aku cuma merendam kaki setengah betis, rileks, layaknya diurut. Sensasi kontrakafein terpapar ke seluruh tubuh meresap sampai ke jaringan saraf. Air yang lewat tidak satu suhu. Kadang dingin, kadang hangat, tapi  tidak pernah panas.

Guci. Dok: Iqbal

Merasa tidak puas hanya merendam betis, Aku menuju bukit, hanya jalan setapak kecil yang tersedia. Menanjak sekitar 300 meter dari pemandian air panas yang jenuh manusia itu. Lebih nikmat menikmati Guci dari atas sini. Tanam-tanaman warga berderet rapi. Syahdu luar biasa.

Kembali ke Tegal. Malamnya Aku berjalan menuju alun-alun. Di manapun itu, yang namanya alun-alun selalu ramai lancar. Seluruh iklan di sekelilingnya adalah iklan teh. Bahkan ada yang namanya Taman Poci. Sebegitu cintanya masyarakat Tegal dengan teh.

Jangan pernah lewatkan moci di malam hari. Di jalan Ahmad Yani, setiap malam berjamuran lapak kaki lima. Sekitar 30% nya punya fasilitas moci. Di Tegal, teh jauh lebih favorit daripada kopi. Gula batunya betul-betul eksotis. Teh yang dimasukkan ke dalam gelas makin lama makin manis seiring larutnya gula. Mungkin mirip perjuangan hidup, pahit di awal, (semoga) manis di akhir…=)

Pengeluaran:

Arum Tegal (Senen-Prujakan)                           14.000

Bensin                                                                         10.000

Sumbangan di Kacirebonan                                  6.000

Tarif 1 orang+ 1 kamera                                          5.000

Jeruk 2 kg                                                                   20.000

Angkot (Kanoman-rumah Aldi)                           3.000

Angkot (rumah Aldi-terminal Cirebon)             2.000

Bus Cirebon-Tegal                                                  11.000

Ongkos mal Pacific-Guci PP                                 35.000

Makan 5x                                                                   35.000

Moci 4x                                                                       20.000

Becak (masjid-stasiun)                                         10.000

Arum Tegal (Tegal-Senen)                                  15.000

TOTAL                                                                        186.000

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

2 thoughts on “Ciregal”

  1. tulisan yang menggelitik untuk mengunjungi tegal. dengan satu pengetahuan baru … harus pandai bahasa blekak-blekok biar ga ketipu:)

    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s