14
Jan
10

Workaholic itu Harus!

Ada yang bilang, janganlah sampai menjadi workaholic yang lupa waktu. Hmm. Aku sangat mau mendebat hal itu. Konsep yang harus diubah menurutku adalah bahwa kerja itu bukan untuk memprioritaskan uang sebagai tujuan utama. Apalagi untuk umur-umur di bawah 30 yang menurutku saatnya untuk berdarah-darah, memungut pengalaman.

Aku seorang biokimiawan, orang yang sering dibayangkan menggunakan jas lab putih panjang, menggunakan kacamata tebal, dan seumur hidup berkutat dengan tabung reaksi dan Sprague Dewley (sejenis tikus lab). Setiap dihadapkan dengan bacaan tentang ilmu hayat, reaksi kimia dalam tubuh, dan sebagainya yang menyangkut biokimia, Aku selalu bergelora. Nikmat sekali mempelajari Biokimia. Sayangnya, pekerjaan yang banyak ada untuk sarjana Biokimia selalu berkutat di kotak besar penuh piranti unik bernama laboratorium.

Walaupun pendapatan ekonomi menjadi peneliti lumayan besar, tapi menulis membuatku lebih menggelora. Konsekuensinya mungkin seperti yang banyak orang katakan, wartawan sulit sekali menembus level ekonomi atas.

Hidup dengan ekonomi sedang bukan masalah buatku, selama hatiku tenang dan tidak melakukan hal yang tidak Aku sukai. Tapi Aku tetap yakin, selama kita focus dan professional, uang lebih yang berlebih akan datang dengan sendirinya.

Maka satu setengah tahun yang lalu dimulailah petualangan hebat. Aku menulis untuk sebuah media cetak. Menulis membuatku lupa diri. Tidak kenal aturan 9 to 5. Terkadang Aku tidak sadar sudah berganti hari karena keasyikan menulis. Menulis untuk bos ku, blog ku, diary ku, atau menulis untuk kemudian Aku hapus, hanya sekedar berbagi dengan MS Word. Tiada hari tanpa menulis. Satu hari satu karya. Satu setengah tahun.

Memang, terkadang jenuh mendera, mirip konsep salting in salting out dalam ilmu biokimia. Saat itu harus aku cari aktivitas lain yang positif. Beruntung sekali Aku diberi keingintahuan yang super besar. Kalau sudah jenuh dengan MS Word, Aku lari ke buku. Kalau bosan lagi, Aku lari ke luar kota, backpacking sesukaku sesuai sakuku.

Tiga hal ini yang menjadi pekerjaanku: menulis, membaca, jalan-jalan. Aku sangat mencintai ketiganya. Aku tidak kenal jam kantor untuk ketiganya. Jadi, konsep yang kuanut, bekerja itu adalah melakukan hal yang Aku sukai dengan professional. Ada deadline di situ yang harus tetap ditepati.

lonely planet, meliput, dan teh, kolaborasi yang sangat Iqbal. Dok: Iqbal

Bukan main nikmatnya hidupku. Satu setengah tahun membuatku sudah melahap seratus lebih buku, memproduksi ratusan tulisan, dan menghinggapi puluhan sudut cantik Indonesia. Kalau saja Aku tidak masuk ke media cetak, mungkin semua itu sulit terjadi. Mungkin Aku tidak bisa berkeliling kota Medan, snorkeling di Sabang, menikmati sunset di pinggir jembatan Ampera sambil menunggu lampu Ampera dinyalakan, tidur di pinggir pantai Takisung (Kalsel), makan soto Banjar sambil memandang eksotisme sungai Musi, menikmati pasar terapung, adu cepat dengan matahari timur Bromo, menunggu sunset danau Sukoharjo, mengeksplorasi gerabah Kasongan (Jogja), dsb dsb.

Belum lagi kesempatan bertukar pikiran dengan bermacam jenis orang berlatar belakang warna-warni, mulai dari tukang jualan bunga melati di pasar Pramuka sampai menteri. Kesempatan berdebat hebat melatih kuasa kata. Kesempatan setaraf dengan orang-orang hebat walau Cuma beberapa menit. Kesempatan untuk tetap menjaga idealism. Kesempatan untuk bisa duduk di perpustakaan dari kunci dibuka sampai diusir karena sudah waktunya tutup. Kesempatan membaca buku-buku hebat dari bos Ku. Luar biasa! Semoga Allah mengekalkan anugrah ini kepadaku.

Itulah Aku, seorang yang workaholic. Aku mewajibkan diriku untuk menjadi workaholic. Bahkan sepertinya Aku sudah satu tingkat lebih ekstrem lagi, sudah menjadi pengedar. Membujuk orang lain untuk menjadi workaholic dengan terlebih dahulu memilih pekerjaan yang menomorsatukan pekerjaannya, bukan uangnya…=)

Tulisan ini punya 2 maksud:

  1. Mengajak memilih pekerjaan yg betul2 dicintainya
  2. Sedikit pamer dan curhat….=)

2 Responses to “Workaholic itu Harus!”


  1. Januari 24, 2010 pukul 11:21 pm

    Seneng banget dah ama tulisan lo yang ini, kak… =D
    Gw juga mikir bahwa kita sendiri yang harus mendefinisikan arti kata bahagia… Terus kita kan hidup untuk diri kita ya, ya hiduplah dengan kebahagiaan yang tadi udah kita definisiin itu…

    Kangen nulis… Huhu…

  2. Januari 25, 2010 pukul 12:59 am

    iya, walaupun beda definisinya sm mainstream definisi orang…=)

    ayo nulis ka, gw mau baca gua hira nih, udah lama bgt gak update


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: