13
Des
09

Reverse Library; Pay It Forward

Bukan rahasia lagi bahwa perpustakaan pada umumnya selalu sepi, di manapun itu (selama masih di Indonesia; diwakili Jakarta dan Bogor) dan sebagus apapun itu. Sepengamatan saya pribadi, penggemar perpustakaan cuma mahasiswa yang mau menyusun karya tulisnya atau para peneliti yang hunting sumber pustaka. Bahkan waktu saya buat kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), hal pertama yang ditanyakan petugas, “KTM nya mana?”, saking seringnya mahasiswa yang berkunjung. Padahal ada juga kartu anggota PNRI untuk umum dengan modal KTP. Atau itu karena tampang saya masih imut-imut ya? =p

Padahal, tidak sedikit juga yang hobi sekali membaca. Saya kebetulan hidup di kelilingi orang-orang yang suka membaca. Mereka malas datang ke perpus, walaupun mereka bisa mendapat akses baca buku gratis dengan hanya bermodalkan ongkos jalan ke perpusnya. Beberapa yang suka membaca tapi kurang bisa membeli buku secara rutin, tetap tidak memilih untuk pergi ke perpus. Dia lebih memilih mencari temannya untuk meminjam buku yang dia inginkan.

Ganti berganti membaca buku ini baik sekali menurut saya. Satu buku bisa memberikan manfaat tidak hanya ke satu orang. Sebetulnya cita-cita itu juga yang ingin dicapai penggiat perpustakaan. Tapi sepertinya pendekatannya kurang tepat untuk menggaet salah satu golongan pecinta buku sehingga perpus tetap sepi.

Dari fakta-fakta itu, saya punya pemikiran untuk memberikan pendekatan yang menurut saya lebih efektif. Tujuannya tetap untuk membuat satu buku bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya orang. Kalau perpustakaan memberi kesan pembaca yang mencari buku, gerakan ini membalik hal tersebut, buku yang akan mencari pembacanya.

Saya tidak tahu data penelitian tentang kebiasaan orang memperlakukan buku setelah dibaca habis. Tapi dari pengamatan saya, orang hanya membaca sekali atau dua kali lalu buku akan disimpan atau dipinjamkan ke temannya. Kalau dia pinjamkan ke temannya, tentu saja lebih bagus, tapi karena kecilnya lingkungan, maka tidak akan banyak orang yang akan meminjamnya, kecuali buku itu sangat popular.

Nah, bagaimana kalau buku itu bukan dipinjamkan, tapi diberikan? Dengan syarat, orang yang diberikan ini berniat membaca buku itu dan mau memberikannya ke orang lain lagi dengan syarat yang sama. Begitu seterusnya. Semakin kredibel orang yang mendapat buku itu semakin panjang daftar orang yang akan membaca buku itu.

Pemberiannya bisa kepada teman kuliah, teman kantor, keluarga, atau lingkungan tempat dia bersosialisasi, asalkan dia bisa yakinkan bahwa orang yang akan diberikan buku ini punya maksud baik dan mau memberikannya kepada orang lain yang punya maksud baik juga.

Bahkan, kalau dia tidak mendapatkan orang di sekitarnya yang kredibel untuk melanjutkan program ini, dia bisa memberikan pada orang yang lokasinya jauh (tetap orang yang dia kenal). Buku bisa dikirimkan via pos. Biayanya ya dari kantong yang mau memberikan buku itu. Ini memang bagian pahitnya. Tapi kalau dia punya niat sosial yang tinggi, sepertinya tidak akan terlalu berat kalau mengeluarkan tidak lebih dari Rp10 ribu untuk melanjutkan keterbacaan buku itu.

What do you think?

Iklan

3 Responses to “Reverse Library; Pay It Forward”


  1. Desember 14, 2009 pukul 3:04 am

    jadi lo punya buku apa aja yang kira-kira menarik buat gua?
    hehehe…

  2. Desember 14, 2009 pukul 3:06 am

    tunggu tanggal mainnya…=)

  3. Desember 14, 2009 pukul 3:11 am

    ayo dong, gua mau ngetag doloan neeh.. =P


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: