20
Nov
09

Kembali ke Potensi Diri

Satu minggu penuh saya ikut meliput Jakarta Fashion Week 09/10 di Pacific Place lewat blog ini. Fashion adalah suatu hal yang sangat baru buat saya. Sesuatu yang glamor, penuh hura-hura, dan tidak terakses dengan baik. Paling tidak, itu yang tampak di TV.

Begitu pula pendapat teman-teman sekitar saya tentang fashion. Ada yang menambahkan, fashion Indonesia tidak kuat, hanya berkiblat ke Milan dan Paris. Ada juga yang berkomentar, kain Indonesia itu tidak cuma batik, banyak yang lain yang tidak diketahui para desainer. Bermacam komentar tentang fashion.

Seminggu liputan membuat pola pikir saya berubah. Walaupun, dunia fashion ya tetap dunia fashion yang tidak pernah lekang dengan kesan kekinian dan glamor. Tapi di balik itu, beberapa desainer top Indonesia konsisten terus-menerus mengeksplorasi kain Indonesia, motif Indonesia, budaya Indonesia. Ada yang mengangkatnya murni, ada yang mencampurnya dengan budaya luar Indonesia. Kadang hasil karya mereka membuat saya merinding. Sebegitu hebatnya eksplorasi dan modifikasi yang mereka lakukan untuk menghasilkan karya baru. Karya yang tidak terbersit sama sekali dalam pikiran saya. Kain dan motif Indonesia diangkat dan dimodifkasi sedemikian rupa tanpa meninggalkan budaya aslinya.

Para desainer kita sudah banyak yang sadar dan berkomitmen dengan budaya Indonesia; Anne Avanti dengan cita-citanya menggabungkan batik se-Jawa Tengah, Merdi Sihombing yang rela riset ke daerah-daerah pelosok untuk mengangkat kembali kain tenun daerah; Ghea Panggabean yang lengkap dengan pencitraan etnik khas Indonesia; Bakat-bakat baru secara mencengangkan ikut andil dalam mengangkat ragam kain Indonesia pada Lomba Perancang Mode; dan sebagainya.

Sepertinya semua sepakat dengan apa yang dikatakan Iwan Tirta dalam Reader’s Digest Indonesia edisi November, Ia berpesan pada desainer muda Indonesia, “The more Indonesia you are, the more successful you will be abroad. Kalau main fashion Barat juga, walah, lebih banyak yang lebih pintar dari Anda!”

Jadi, kesimpulannya, kita harus kembali ke potensi diri kita sendiri yang memang sejak lama sudah ada. Eksplorasi budaya dan kain Indonesia adalah satu-satunya cara paling efektif menembus pasar internasional. Selamat berjuang desainer-desainer Indonesia. Katakan pada Milan dan Paris bahwa Indonesia sudah kreatif sejak dilahirkan!

Hidup fashion Indonesia! Dok: Iqbal.

Iklan

6 Responses to “Kembali ke Potensi Diri”


  1. November 25, 2009 pukul 4:34 am

    gue suka dengan ide ini ‘kembali ke potensi diri’.. kebetulan gue juga ada tugas project PSA alias iklan layanan masyarakat yang menggaet majalah Bazaar Indonesia, temanya : Cintai Produk Indonesia.
    hmm..apakah mungkin pembaca majalah Bazaar yang yaah, kita tahulah kelasnya.. itu bakal mau dan berbangga dengan produk seperti fashion dengan label dalam negeri?

  2. November 26, 2009 pukul 1:41 am

    sebegitu gak berkelaskah produk fashion Indonesia?
    gw rasa gak jelek2 amat fashion kita, gw pribadi cukup bangga, setelah ngikut ngeliput JFW kemarin gw liat banyak bgt produk fashion Indo yg bagus…

  3. 3 ambar arum
    Desember 3, 2009 pukul 3:58 pm

    intinya, just be yourself ya kalau mau sukses. gue setuju banget, bal!

    untuk fashion, walaupun gue ngga terlalu paham, tapi kalau boleh komentar, rasanya fashion indonesia udah sangat berkualitas dari segi kain dan desain. tapi kenapa kurang dikenal? karena ‘pemasaran’ nya masih kalah jauh sama Milan dan Paris yang udah jadi top of mind nya para designer.

    sedangkan untuk memasarkan fashion indonesia untuk bisa sekelas Milan atau Paris, tentulah butuh modal yang sangat besar. apalagi di indonesia fashion tidak menjadi prioritas karena kita masih punya persoalan lain yang lebih butuh perhatian seperti pendidikan atau kesehatan. menurut gue itu yang bikin fashion indonesia kurang maju.

    memang sebaiknya, kita, para warga indonesia, ikut mendukung fashion indonesia dengan menjadi ‘agen pemasaran’ fashion tanah air. mulai dengan memakai produk fashion lokal, sekaligus menghargai para senimannya (penenun dan pembatik).

    hidup fashion indonesia! gue selalu punya harapan untuk datang ke pengrajin tenun dan membeli langsung kain tenun dari mereka… dengan harga yang pantas. batik sudah banyak dikenal, kini saatnya kain tenun kita kenalkan kepada dunia!

    • Desember 3, 2009 pukul 5:05 pm

      Pemasaran? hmm.. bisa jadi itu jg satu titik kritis, tp daya beli orang Indo jg kritis loh… batik tulis atau tenun masih menjadi barang mahal bagi sebagian besar orang Indonesia… kalo udah daya beli, masalahnya udah ruwet deh, susah bikin daya beli tinggi, panjang urusannya… untungnya, orang Indonesia royal, konsumtif (untung bagi industri) jadi agak ringan sedikit…
      mbar, kain tenun udah dikenalkan, pas gw ngeliput, Merdi Sihombing bahkan bela2in bawa penenun… desainer udah lumayan bergerak untuk itu, entah masalahnya di mana…

  4. Januari 30, 2010 pukul 6:24 am

    Terkadang kita lupa, bahwa apa yang sudah kita miliki tidak kalah dengan yang orang punya.
    well, hidup batik..:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: