18
Nov
09

IPMI; Dalang yang Lain

Beberapa hari yang lalu, APPMI menguasai fashion tent dengan 22 desainernya. Hari ini saatnya IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) yang unjuk kebolehan. Tidak sebanyak APPMI, kali ini IPMI hanya membawa 10 desainernya. Walau demikian, APMI tetap bisa menampilkan kejutan-kejutan untuk para fashionista. Kesepuluh desainer itu adalah Carmanita, Denny Wirawan, Era Soekamto, Kanaya Tabitha, Ghea, Hutama Adhi, Stephanus Hamy, Syahreza Muslim, Tuti Cholid, dan Valentino Napitupulu.

Kanaya Tabitha mewakili IPMI mengatakan, “Bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. Dibutuhkan usaha yang lebih keras untuk menghasilkan pencapaian berikutnya. JFW adalah pencapaian masyarakat fashion Indonesia. JFW membawa kita pada pencapaian itu. IPMI gembira menjadi bagian dari acara besar ini.” Kanaya dan Ghea malam ini akan satu panggung dalam memamerkan karya-karya mereka. Ghea juga salah satu anggota IPMI yangs angat direkomendasikan untuk desain-desain etnik. Perpaduan keduanya akan menjadi sangat menarik. Nanti malam.

Ketika perskon, ketua dan pendiri IPMI, Syamsidar Isa yang lebih akrab dipanggil Mba’ Cami, menyampaikan, “Pasar internasional itu adalah harapan kita semua, tapi ingatlah itu bukan satu hal yang mudah. Butuh kerja sama banyak pihak. Moga-moga dengan terkumpulny seluruh komunitas di industri mode dalam JFW ini, kita bisa jadi satu kesatuan yang saling melengkapi, bisa saling bertukar pikiran.”

“Sebagian besar anggota IPMI sekarang sering turun ke desa, mengangkat tekstil kerajinan Indonesia. Sekarang, banyak anggota yang sedang menyebar ke daerah-daerah seperti Palembang, Majalaya, Solo, NTT, dan sebagainya.”

Era Soekamto ikut menambahkan, “Saya sebagai yang muda banggga sekali masuk IPMI. Karena berjuang bersama-sama jadi lebih mudah. Saya setuju banget kita harus memajukan industri kreatif. Pada show malam ini, saya memajukan karya-karya ready to wear itu bukan sekedar secara langsung mau menggaet buyer. Tapi saya mau mengatakan bahwa kita mampu untuk itu. Kita harus beritahu bahwa Indonesia itu tidak selalu tradisional. Tanpa mengurangi nilai tradisional budaya Indonesia itu.”

“Kreatif industri itu 68,7% menyumbang Pendapatan negara. Ada empat belas elemen dalam kreatif industri ini. Music dan fashion jadi yang paling besar sumbangannya. Kreatif industri begitu penting. Kita dari dasarnya memang bangsa yang kreatif. Jadi ayo mari, kreatif industri itu bukan hanya menghayal menghasilkan karya, tapi juga di-manage dengan baik, bisa mendapatkan market yang siap juga. Kita ini berjuang di industri kita sendiri, di sekup yang kecil untuk sesuatu yang besar.”

Menurut Era, “Kita dengan APPMI tidak ada perbedaan yang banyak. Kalau kami recruitment tiap empat tahun sekali, kita lihat dia progressif dan eksistensinya kuat, komitmennya besar, maka bisa masuk IPMI. Begitupun di APPMI punya keinginan yg bagus dengan meng-endorse bakat-bakat daerah. Semuanya bagus, jadi tidak ada yang harus muncul cuma satu.”


2 Responses to “IPMI; Dalang yang Lain”


  1. 1 safa_butterfly
    November 19, 2009 pukul 9:39 pm

    semoga kain2 tradisional yang dimiliki Indonesia dapat berkembang dan dikenal luas secara domestik maupun internasional.. can’t wait kain tenun or songket bisa sebuming batik..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: