Merdi Sihombing Angkat Muara Bungo Jambi

Biasanya layar di depan peserta perskon menceritakan fashion, video fashion show atau gambar model yang sedang aksi. Tidak malam ini. Gambar-gambar rumah adat Indonesia yang tampak berkali-kali. “Ini adalah proyek saya yang ketiga, saya angkat kain tenun songket dari kabupaten Muara Bungo Jambi,” tiba-tiba Merdi angkat suara. “Pada 2002-2003, saya mengerjakan proyek pertama, saya angkat baduy dalam, saya riset langsung ke sana. Proyek yang kedua datang dana banyak sekali dari Austria. Hasilnya, karya saya menenun kain dengan Kristal itu ada di salah satu museum Austria sampai sekarang.”

Riset Merdi untuk karyanya yang ketiga ini dimulai dari desa Tanah Periuk, mengambil motif-motif pada rumah kapal yang umurnya sudah berabad-abad. Semuanya dikombinasikan dengan benang metalik berwarna perunggu/tembaga dengan menambahkan macam-amacam efek. Motif dipertegas dengan glitter sehingga efek dimensi terasa lebih nyata.

Persis di depan press room, tiga ibu-ibu yang sudah memperlihatkan kerutan umur sedang sibuk menenun. Mereka bertiga ada dalam sebuah stand berjudul “Merdi Sihombing”. “Saya bawa mereka ke mari karena tenun itu prosesnya panjang sekali. Kalau ada yang nanya harga, lalu disebutkan digitnya 6, dia bilang, ‘duh mahal banget’, makanya saya bawa langsung penenunnya, biar tahu gimana susahnya. Kebanyakan yang saya buat ini masterpiece yang prosesnya satu bulan, bahkan ada yang sampai dua bulan. Songket mahal itu karena benangnya, semakin halus semakin tinggi harganya, karena prosesnya panjang. Harus sabar supaya gak putus. Proses menenun adalah proses cipta dan kasih sayang.”

“Malaysia boleh bikin kain kita, tapi dia gak punya cerita seperti kain kita ini. Dulu kain-kain ini dipakai kain nenek moyang di pintu rumah untuk menolak bala. Ada ceritanya. Malaysia gak tau itu,” Merdi tegas seakan-akan ada orang Malaysia di depannya sedang menunduk bilang, “Iya…iya…”

Menurut Merdi, penting sekali mengangkat kain lokal Indonesia. “Kita harus budayakan, karena kalau hilang, mau cari ke mana lagi. Karena saya lihat di pedalaman banyak yang hilang karena tidak ada yang menenun lagi karena memang marketnya tidak ada.

Semakin semangat Merdi menjelaskan, “Dibutuhkan komitmen untuk datang ke pelosok, lalu dibenerin dan dibawa ke kota. Jangan sampai nanti udah diambil orang baru kita teriak-teriak. Saya memberikan pembelajaran bahwa kain kita ini luar biasa. Karena ini kekuatan kita ketika kita ke dunia internasional. Suatu saat nanti akan terbukti karya kita akan setara dengan brand-brand internasional.”

Batik karya Merdi. Dok: JFW 09/10
Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

4 thoughts on “Merdi Sihombing Angkat Muara Bungo Jambi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s