Tentang Air

tetesan air

Akhirnya, Kompas hari ini bertutur juga tentang air di Gunung Kidul. Tapi bukan mengangkat tema “Susahnya mendapatkan air di Gunung Kidul”, kalau itu sih, semua orang juga tahu. Tapi di Desa Bleberan, salah satu desa di Gunung Kidul, dekat air terjun Sri Gethuk, justru air berlimpah. Masyarakat daerah itu tidak perlu menadah hujan lagi. Kontras sekali dengan daerah-daerah sekelilingnya. Bagaikan oase di tengah padang pasir.

Sepantasnya Gunung Kidul adalah pusat sumber air (gunung gitu loh). Tapi sepertinya permukaan tanah di sana terlalu keras atau terlalu mahal untuk digali. Kebetulan di desa Bleberan itu aliran air dalam tanahnya mencuat ke luar. Mungkin karena itu diberi nama “bleber”, airnya sampai bleber-bleber.

Beruntung. Beruntung sekali Indonesia pada umumnya punya air tanah yang berlimpah. Tidak seperti cerita kawanku di Adelaide. Dia bilang, cuci mobil di teras depan rumah saja bisa ditangkap polisi karena buang-buang air. Itu baru di Australia, belum negara-negara yang jauh lebih kerontang lagi.

Sebaik apapun alam, tentunya butuh perawatan supaya manfaatnya bisa langgeng dipetik. Tapi sepertinya belum banyak yang sadar. Lebih banyak yang kufur nikmat. Baru berasa kalau nikmatnya sudah dicabut, mirip sifat orang Bani Isroil.

Tetanggaku yang sedang studi doktor tentang lingkungan hidup bilang, Indonesia itu negara yang paling aneh, air dihargai Rp0. Artinya perusahaan tinggal mencari aliran mata air maka dia bisa mengakses air bersih sesuka hati, gratis! Padahal, menurutnya, negara-negara lain memberikan tariff setiap penggunaan air di perusahaannya. Efeknya tentu saja buruk. Perusahaan akan menggunakan air dengan sangat leluasa. Paling-paling efeknya masyarakat sekitar akan ribut karena limbahnya mengganggu lingkungan. Kalau sudah begitu, ya tanggulangi seadanya saja, bersihkan limbahnya dan rekrut pemuda sekitar untuk jadi karyawan sebagai upaya menutup mulut masyarakat sekitar.

Dalam aturan agamaku, sawah yang pengairannya mengandalkan air hujan punya kewajiban zakat yang lebih besar daripada yang tidak mengandalkan air hujan. Secara tidak langsung aturan itu mengajari manusia untuk bersukur dengan cara memberi lebih karena dia sudah diberi lebih.

Maka mulailah bersukur, kawan. Mulai dari hal-hal kecil seperti menghabiskan minuman dalam gelasmu, sebisa mungkin menggunakan shower ketika mandi (menghemat 40% penggunaan air), dan menutup keran sampai tuntas.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

5 thoughts on “Tentang Air”

  1. hal ini juga yang menyebabkan orang Indonesia terkesan pemalas, ha ini karena Sumber daya Alam indonesia yang melimpah yang menyebabkan terlena. Kalo orang luar terus bekerja keras biar bisa bayar tagihan air, dan tagihan lainnya. kalo di Indonesia tak perlu susah2 kerja keras cari uang buat bayar air, tinggal gali tanah bikin sumur udah dapet air. Kalo gak punya duit buat makan tinggal tebang kayu untuk dijual. Masyarakat Indonesia Perlu bersyukur diberi kekayaan alam yang berlimpah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s