02
Agu
09

Erry, Dutaku untuk Kampung Bahasa

Aku sangat sepakat dengan moto yang diusung para bloger Indonesia, bloging for society, menulis dalam dunia maya untuk keadaan sosial yang lebih baik. Isi tulisannya informatif dan terpercaya (bukan liputan 6 SCTV). Percayalah bahwa setiap diri kita punya pengalaman dan pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin kelihatannya tidak penting untuk memberikan informasi itu karena merasa semua orang di lingkungan kita paham tentang informasi itu. Tapi di ujung sana ada orang yang sangat butuh info itu.
Blog memang banyak, tapi blog (hanya salah satu contoh media saja, bisa juga dengan notes di facebook, milis, dsb) yang sepaham dengan aliran bloging for society tidak sebanyak blog yang lebih banyak narsisnya sehingga hanya bisa dinikmati orang-orang di lingkungannya saja, itupun kalau nikmat. Narsis! Aku jadi ingat legenda narcissus, anak dari dewa sungai Cephissus dan Peri Liriope yang dikutuk untuk mencintai dirinya sendiri karena kesombongannya. Kalau Narcissus ini bangun lagi dari kuburnya, mungkin dia akan senyum bangga karena namanya disebut-sebut anak-anak muda Indonesia dan rekam jejaknya diikuti banyak orang. Huh! Narsis!
Sekitar setengah tahun yang lalu (awal 2009), aku pernah membuat tulisan tentang Kampung Bahasa di Pare, Kediri yang kupajang di blog ku. Di kampung itu bertebaran ribuan siswa/i yang punya niat baik untuk belajar Bahasa Inggris. Kampung Bahasa sangat unik, sampai-sampai kalau mau beli makan di warung saja, si penjaga warung mengajak bicara dengan bahasa inggris. Dalam tulisan itu juga aku mengulas bagaimana menuju ke sana, makanannya, transportasi, biaya kursus, tempat kos yang direkomendasikan, dan beberapa tips.
Laris, banyak yang membaca, rata-rata setiap hari ada 10 orang yang membaca tulisan itu di blog ku. Banyak dari mereka yang langsung menghubungiku lewat email pribadi untuk bertanya lebih lanjut. Salah satunya Erry. Dia meminta kontak kawanku yang bisa membantunya di Pare. Kuberikan salah satu nomor kawanku. Paling tidak, bisa nitip booking kos dan program lebih awal agar tidak kehabisan.
Lama setelah itu, kami tidak bersua. Satu waktu, Erry menyapaku lewat Yahoo Messenger. Dia surprise dengan keadaan kami yang tidak saling kenal tapi bisa saling membantu. Erry juga bercerita banyak tentang keadaan di Pare. Ia membuat kafe mini bersama kawanku yang ada di sana. Andai Erry tidak mampir ke blog ku, mungkin dia tidak akan ketemu dengan kawanku di sana, dan mungkin kafe itu tidak ada.
Ketika kutanya, “Apa kamu sepakat dengan gerakan pay it forward?” Dia jawab “Tentu.” Lalu, “Apa kamu bersedia kusebarkan nomormu untuk orang-orang sepertimu dulu yang tidak mafhum apapun tentang kampung bahasa dan ingin belajar banyak di sana?” Sekali lagi dia jawab, “Tentu.” Maka sejak saat itu, di kala ada orang yang minta kontak di Kampung Bahasa, nomor Erry lah yang kukirim.
Penasaran dengan keadaan kampung bahasa dan kafe milik Erry yang katanya unik itu, pagi tadi aku mampir ke Pare. Aku ingin berkenalan dengannya. Erry lulusan Accounting Perbanas yang mau melanjutkan studi masternya di beberapa pilihan negara target. “Aku tidak akan pulang sebelum TOEFL ku 600,” katanya sambil memandang ke langit (uhuy! Bo’ong deng). Wah, hebatnya semangat anak ini. Seperti anak-anak yang belajar di Pare pada umumnya.
Pernah satu ketika dulu, di tempat kos ku, ada siswa dari kursusan Smart yang terkenal kejam metode pembelajarannya pulang dengan wajah yang semua orang tahu itu wajah letih yang sangat. Ia berlari sambil hujan-hujanan. Sampai di depan kos, dia duduk di teras. Aku jelas melihat asap dari sekujur tubuhnya. Betul-betul asap, kawan! Mirip yang keluar dari mulut orang di puncak gunung ketika bernapas.
Kembali ke Erry. Dia sudah 5 bulan di sini, program English Planet dari kursusan Kresna yang masyhur itu juga sudah dikhatamkannya. Bisnisnya berjalan cukup baik. Aku datang sendiri ke kafenya, eksklusif! Lumayan bagiku, menambah satu teman lagi. Ahh…semua ini hanya karena sebuah tulisan.
Berilah ilmumu…. Sebarkanlah, seperti dandelion menyebarkan calon dandelion-dandelion muda. Mari menulis, kawan. Bagi apa yang kau punya.

Iklan

5 Responses to “Erry, Dutaku untuk Kampung Bahasa”


  1. Agustus 2, 2009 pukul 4:13 pm

    hehe, ngakak gw baca kalimat yang ada ‘sambil memandang ke langit’ yang ditambahin ‘uhuy! boong denk’..

    aku iri aku iri aku iri.. banyak jurnal backpackingnya.. hehe, seneng denk.. jadi banyak referensi..

    kemaren gw ke pangandaran, kak.. ngejar green canyon-nya.. ternyatah (iya, pake ‘h’), seru gila yaaaa.. =D

  2. 2 YuZ
    September 22, 2009 pukul 1:48 pm

    kakak saya juga pernah beberapa bulan menuntut ilmu di kampung bahasa di pare itu,..
    sewaktu-waktu mungkin saya juga bakal berkunjung kesana mas,..hehe

  3. 3 ley
    Oktober 1, 2009 pukul 2:13 pm

    hey aq lulusan dari jogja taun ini & pgn bgt mendalami bahasa inggris.klo ga keberatan bole minta infox?

  4. 5 irvan
    Oktober 7, 2009 pukul 9:45 am

    minta info tentang kampung bahasa juga dnk…. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: