05
Jul
09

Eksotisme Wisata Air Banjar

Sunset Pantai Takisung

Sunset Pantai Takisung

Maka dengan sedikit menyesal, kuputuskan membeli sebotol Aqua 600 ml di luar bandara. Sejak ada logo Danone di kemasannya, aku selalu memilih merk lain agar seluruh uang yang kukeluarkan tidak keluar Indonesia. Sayangnya kios kecil tadi tidak menjual air mineral lain.

Perjalananku sejak dua hari lalu cukup padat, pantas saja kalau kerongkongan ini minta dibasuh. Sesampainya di bandara Syamsudin Noor dua hari yang lalu, kupikir sudah sampai di kota Banjarmasin, ternyata baru sampai Banjar Baru. Bandara itu letaknya pada pal 25, sedangkan kota Banjarmasin ada pada pal 10 ke bawah. Orang Banjar biasa menyebut pal untuk kata ganti kilometer. Kata “pal” jauh lebih akrab buat mereka. Bahkan terminal terbesar yang ada di kota Banjarmasin dilabeli nama “Pal 6” karena letaknya di kilometer keenam dari mesjid raya Banjarmasin yang dinobatkan sebagai titik kilometer nol, eh salah, pal nol.

Menuju Pal 6, banyak taksi yang bisa dicegat di luar bandara. Taksi di Banjar bukan dari golongan Limo atau sedan lainnya seperti di Jakarta, tapi mobil colt besar yang rela diisi sampai 14 manusia. Taksi adalah sebutan masyarakat lokal untuk angkutan umum. Tarifnya, ya seperti tarif angkutan umum. Alternatif lainnya menggunakan ojeg, tarifnya minimal Rp15 ribu, tergantung skill menawar.

Adzan Magrib bergema tepat setelah aku sampai Pal 6. Segera kukabari Anas posisiku. Sambil menunggu, aku bereskan urusan lambung dulu di tempat yang direkomendasikan seorang supir taksi. Tidak lama kemudian, Anas datang. Tubuhnya tidak segempal yang aku bayangkan. Anas adalah penduduk lokal Banjar yang baru kukenal seminggu yang lalu lewat milis IndoBackpacker. Setelah intensif berkomunikasi via udara, akhirnya bisa bertemu langsung juga.

Perbincangan langsung mengalir deras. Ia bercerita tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Menarik sekali, tapi sayang waktuku tidak lama. Loksado adalah wisata alam nomor wahid di Kalimantan Selatan, di sana ada air terjun, pegunungan, dan masih banyak suku Dayak asli. Mungkin jalan-jalan berikutnya.

Setelah membayar Rp11 ribu untuk segelas air jeruk hangat, segelas teh manis, dan sepiring kuetiau, kami langsung menuju hotel rekomendasi Anas, Niagara namanya. Saya masih bingung navigasi Banjarmasin, tapi yang jelas hotel Niagara masih di dalam kota, di pinggir jalan besar (telp 0511-3356355). Aku pilih kamar non AC untuk dua orang, harganya Rp60 ribu. Kalau untuk satu orang, harganya Rp35 ribu. Kamar yang termahal seharga Rp80 ribu untuk dua orang dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam.

Kondisi kamar hotel Niagara

Kondisi kamar hotel Niagara

Melepas lelah sejenak, langsung atur strategi perjalanan. “Malam ini kita ke Kuin,” kata Anas. Beruntung, Anas punya Vega R merah, jadi hanya perlu mengisi bensin Rp10 ribu saja untuk perjalanan seharian. Sangat membuat hemat.

Kuin adalah tempat terjadinya pasar terapung setiap pagi. Ini adalah lokasi shooting RCTI untuk jeda antarprogram yang dulu sering kali diputar. Kata Anas, sejak subuh sampai sekitar jam 9 pasar terapung itu bergeliat. “Sekarang sudah jam 9 malam, jangan harap bisa melihat pasar terapung,” katanya. Di malam hari, sungai Barito masih tetap cantik. Terlihat kapal besar di tengah sungai besar itu. Kapal itu tidak bergerak. Kata Sujito, polisi patroli yang markasnya sedang bertengger di dekat pelabuhan Kuin, itu adalah kapal yang terjerat kasus penyelundupan minyak. Karena masih sengketa, maka kapal tidak boleh beranjak.

Markas polisi patroli yang saya lihat itu nyatanya bisa bergerak. Di bawah markas itu ada kumpulan drum besar yang menyangga markas. Mesin diletakkan di belakang markas. Kalau sedang banyak kasus di seberang sungai, tinggal tancap gas, maka markas pun pindah ke seberang.

Sudah puas menghirup udara sungai, kami kembali ke hotel. Oiya, sebelumnya mampir di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Siapakah dia? Aku juga tak paham. Tapi dilihat dari megahnya pemakaman itu, Sultan ini pasti dulu pernah menjadi orang hebat. Sekelompak orang sedang berkumpul di dekat makam. Mereka tertawa, bersenda gurau persis di samping makam. Sepertinya tempat ini sudah dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk membahas sesuatu. Suasana mistis raib bersama gelak tawa mereka.

makam sultan tampak muka

makam sultan tampak muka

Vega R merah kembali ditancap, balik menuju Hotel Niagara. Suasana hotel sepi. Sepertinya sedikit yang menginap malam ini. Ah, sudahlah. Kami harus tidur cepat supaya besok bisa bangun cepat.

Pukul 5.30 pagi kami sudah siap berangkat. Tujuannya Pasar Terapung Lok Baintan di sungai Martapura, 30 menit dengan sepeda motor. Lok Baintan adalah pasar terapung yang paling alami. Di dunia, ada 3 buah pasar terapung. Satu di Thailand, bentukan pemerintahnya untuk menggaet wisatawan. Dua lagi di Kalimantan Selatan ini, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Kuin dekat dengan kawasan industri sehingga aura alaminya sedikit luruh.

IMG_7312

Barang dagangan di pasar terapung hampir sama persis dengan pasar darat. Hanya daging sapi yang tidak terlihat dijajakan di sini. Kebanyakan dari pedagang menjual hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Sebagian lagi menjual ikan, sembako, makanan kecil, dan pakaian. Pemandangan jukung (sejenis sampan kecil) yang dipenuhi dengan tumpukan jeruk membuatku sumringah. Indah! Indah sekali. Pemandangan yang tidak pernah kudapat di Jakarta.

Sungai sudah menjadi jalan hidup masyarakat sekitar Lok Baintan. Mereka memiliki Jukung seperti masyarakat desa di Jawa memiliki sepeda atau sepeda motor bagi masyarakat kota. Jukung menjadi alat transportasi utama.

Puncak aktivitas pasar itu sekitar pukul 8 pagi. Ada sekitar 100 jukung yang ikut andil. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa berlipat. Sungai Martapura menjadi mati kembali setelah pukul 10.

Tidak terasa, kami belum sarapan. Soto Banjar harus kunikmati pagi ini. “Beres, kita ke Soto Banjar Bang Amat,” kata Anas. Soto Banjar Bang Amat bisa dibilang yang paling dicari untuk menikmati soto banjar. Letaknya di pinggir sungai Barito. Harga soto yang biasa Rp12 ribu dan yang spesial Rp19 ribu. Banyak pejabat dan artis yang sudah mampir ke tempat ini, mereka pasti mencari pemandangan.

Soto Banjar Bang Amat

Soto Banjar Bang Amat

Pukul 9 pagi. Anas mengantarku kembali ke hotel sedangkan dia sendiri harus bekerja, maka kami berpisah. “Thanks Nas, kalau kita gak ketemu, gak akan selancar ini,” kataku. Anas berlalu. Aku berkemas kemudian melanjutkan perjalananku ke Pantai Batakan. Beberapa menit kutunggu taksi ke Batakan dari Pal 6, tapi tak ada tanda-tanda. Saran dari Anas lewat SMS, naik ke Plaihari saja dulu, baru di sana lanjut ke Batakan.

Kuturuti. Dua jam perjalanan menuju Plaihari. Banjarmasin-Plaihari berjarak 65 km. Ongkosnya Rp13 ribu. Berita buruknya, taksi menuju Batakan baru ada pukul 4 sore, padahal jarum pendek di terminal baru menunjuk ke arah angka 12. Tidak hilang akal, kulihat lagi brosur Pariwisata Kabupaten Tanah Laut (Kabupatennya kota Plaihari) yang kudapat dari pameran wisata Gebyar Nusantara. Ada alternatif Pantai Takisung. Gambar di brosur cukup meyakinkan. Pantainya bersih, pohon kelapa berjejer rapi. Keterangannya, pantai ini cocok untuk menikmati sun set.

Sepuluh detik kemudian, kuputuskan mengubah haluan ke Takisung. Pendapat tukang ojeg sekitar bahwa Batakan lebih jauh (40 km dari Plaihari) dan rawan tindak kriminal membuatku semakin kokoh menuju Takisung.

Taksi menuju Takisung juga baru ada sekitar pukul 4 sore, jadi kuputuskan untuk naik ojeg. Plaihari-Takisung berjarak 22 km, ongkos ojegnya Rp25 ribu. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Di sebelah kiri jalan tampak jelas pegunungan Meratus.

Pantai Takisung cukup ramai, ada ratusan orang yang sedang berekreasi siang itu. Ada yang duduk-duduk di tenda sewaan (Rp40 ribu untuk seharian) ada yang bermain-main air di pinggir pantai, ada yang menyewa kapal untuk berkunjung ke pulau Bejanggut. Harga sewanya Rp50 ribu, bisa dihinggapi sampai 20 orang. Pasir pantainya abu-abu. Pantainya tidak sejernih yang kubayangkan.

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Awalnya aku mau menyewa satu penginapan milik Dinas Pariwisata. Agak berat hati mengiyakannya karena biayanya Rp150 ribu per malam dengan fasilitas seadanya, hanya kasur ukuran besar dan kamar mandi dalam, tanpa AC dan tanpa TV.

Namun, menurut nelayan sekitar, penginapan itu ada penunggunya. Hiiii. Dengan cepat kubatalkan kontrak. Jadi menginap di mana malam ini? Ada penduduk sekitar yang menawarkan menginap di rumahnya. Seorang penduduk lagi menawarkan tendanya dan dirinya untuk menemaniku bermalam di pinggir pantai. Aku pilih tenda.

Tenda di sini bukan tenda dome seperti yang biasa dibawa pendaki, tapi hanya terpal berukuran 2×3 yang disanggah oleh beberapa batang kayu kuat. Jadi, sambil tiduran, pantai masih jelas terlihat di depan dan samping.

Barang kutitipkan di rumah si pemilik tenda. Aman! Aku harus yakinkan diriku bahwa bawaanku akan aman. Ternyata memang aman. Aku bahkan sempat berkenalan dengan seluruh isi rumah si pemilik tenda.

Ketika sedang menikmati pantai, tiba-tiba seorang anak memamerkan hasil tangkapan ubur-uburnya di depan wajahku. Hidup! Ubur-ubur itu masih hidup! Segera kuperintahkan memasukkannya ke dalam plastik berisi air. Tidak besar, ukurannya hanya sebesar satu ruas jempol kaki. Setelah diamat-amati, di pinggiran pantai banyak ubur-ubur kecil yang terlihat jelas. Anehnya, anak-anak itu tidak merasa gatal sedikitpun setelah memegang dan menyiksa ubur-ubur itu. Menyiksa dalam arti yang sebenarnya. Salah satu dari mereka memotong ubur-ubur itu hidup-hidup, lalu membuangnya lagi ke pantai. Ternyata benar apa yang digambarkan dalam film Jermal tentang kerasnya kehidupan laut.

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

Matahari semakin condong ke barat. Tidak salah kalau brosur Dinas Pariwisata mengatakan bahwa pantai Takisung tepat untuk menikmati sun set. Tidak ada awan sedikitpun. Aku bisa melihat matahari seakan bersentuhan dengan laut. Pantulan cahayanya seperti intan yang bertaburan di permukaan laut, kemilau.

Sunset Takisung

Sunset Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

Adzan Subuh membangunkanku. Sudah pagi. Selimut tebal dari pemilik tenda membuatku tidur lelap sekali. Setelah api unggun mini redup tadi malam, aku langsung tidur, tak terasa 7 jam sudah. Segar sekali rasanya. Untuk biaya sewa tenda dan selimut tebal serta bonus api unggun, aku dimintai Rp50 ribu.

Taksi Takisung menuju Banjar biasanya berangkat pukul 7. Hanya itulah jam keberangkatannya. Kalau ketinggalan, silakan naik ojeg yang itu berarti mahal! Taksi Takisung Banjar bertarif Rp20 ribu dengan lama perjalanan 2,5 jam.

Dari Pal 6, aku sewa ojeg menuju Kuin kembali untuk mendapatkan gambar, kemudian lanjut ke bandara untuk penerbangan pukul 2 siang. Biaya sewa ojegnya Rp45 ribu. Andai aku punya waktu, pasti bukan ojeg pilihanku.

Akhirnya, aku terduduk di ruang tunggu pesawat. Lion-ku belum nampak, padahal sudah pukul 2 lebih. Kutenggak kembali aqua 600 ml yang kubeli di luar tadi. Ah, segar….


7 Responses to “Eksotisme Wisata Air Banjar”


  1. Juli 5, 2009 pukul 3:57 am

    pasti perjalanan yang meyenangkan. boleh tuh kesana.terima kasih ya infonya

  2. Juli 5, 2009 pukul 5:35 am

    iya, sgt menyenangkan…sama2, smg bermanfaat…

  3. Juli 6, 2009 pukul 1:20 am

    wah…makasihhhhh udah men catper kan jalan2 di Kalsel ke milis IBP juga blog mu ini..

    emang bener yah, sunset nya keren bgt…wah jd pengen nih liat sunset di pantai takisung sambil nginap di tenda..

    kalo ke kalsel lg, kabar2 ya bro..

  4. Juli 6, 2009 pukul 1:25 am

    http://www.flickr.com/photos/40017316@N02/

    buka aja link diatas, foto-foto alam kalimantan yg oke buat dijelajahin.thanks

  5. Juli 6, 2009 pukul 3:17 am

    oke oke..thx nas…nice to know you…

  6. Juli 15, 2009 pukul 6:08 am

    Sangat indah sekali foto-foto.Bagaimana cara kalau hendak melancong ke Kawasan Kalsel, Kalteng dan ke Kaltim ?Pernah melawat Pontianak menerusi Balai Kerangan dari Sarawak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: