Dokter Alam di Simpang Mentjos

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

1 thought on “Dokter Alam di Simpang Mentjos”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s