Partai Hijau Belum Bergegas

Hijau. Identik dengan pohon, alam, dan uang. Kenyataannya memang alam ini sangat dekat dengan uang. Anda mengerti kan maksud saya…?

Satu ketika saya berbincang dengan seorang yang sangat senior di bidang lingkungan hidup, sebutlah namanya Pak B. Puluhan tahun dia hidup dan meneliti alam. Katanya, alam itu sangat dekat dengan politik. Statement yang paling mengejutkan adalah bahwa segala masalah, segala perang, segala pertikaian, yang ada di muka bumi ini akibat memperebutkan alam. Pihak yang bertikai memperebutkan alam ingin mengeksploitasinya demi kemakmuran golongannya. Tokoh ini menyebutkan satu demi satu contoh pertikaian besar, kemudian ia menyambungkannya dengan perebutan alam, entah itu emas, minyak, hutan, dan sebagainya. Intinya konflik yang terjadi karena perebutan alam.

Ada sebagian yang sadar dengan hal ini sedangkan sebagian besar yang lain tidak melek atau tidak mau melek. Sebagian dari yang sadar memutuskan untuk mengambil langkah konkret, membela alam. Banyak cara yang dilakukan, salah satunya bergabung dengan lembaga yang mempunyai tujuan membela alam.

Semakin banyak yang sadar kemudian semakin banyak yang berkecimpung langsung mengabdi. Selanjutnya, pemikiran bahwa perjuangan hanya dilakukan lewat lembaga saja tidaklah cukup. Perlu orang pro lingkungan yang menyisip ke dalam pengambil keputusan yang namanya pemerintah itu. Mereka berjuang dalam satu partai yang disebut sebagai Partai Hijau.

Di Jerman, pertama kalinya partai hijau muncul langsung bisa menarik hati 14% pemilih, angka yang sangat besar untuk partai baru. Menurut Pak B, partai mereka memang baru terbentuk tapi perjuangan mereka sudah lama, sudah sangat mengakar di masyarakat. Maka ketika partai hijau dengan orang-orang yang sudah mengakar ini muncul, masyarakat sudah familiar dan tidak ragu untuk mendukung partai hijau.

Bagaimana dengan di Indonesia? menurut Pak B, sudah banyak aktivis lingkungan yang menyusup ke partai, hanya saja, bukan ke satu partai. Mereka menyebar. Akibatnya, masyarakat menilainya bukan merupakan satu kekuatan yang kokoh. Atau kemungkinan kedua, para aktivis lingkungan ini belum sepenuhnya mengakar ke masyarakat.

Ada sebuah partai di Indonesia yang mengaku sebagai partai hijau. Partai ini cukup besar, sudah ada sejak pemilu 2004. Namun, menurut Pak B, mereka belum mengerti banyak tentang lingkungan hidup. Ketika ditanya, bagaimana nasib lingkungan Indonesia kemudian? Pak B menjawab, akan semakin buruk karena belum banyak yang sungguh-sungguh membela alam. Sebagian besar dari pengambil keputusan bukan tidak mau membela alam, tapi mereka tidak tahu keputusan-keputusannya ternyata berakibat buruk ke alam.

Sulit saya simpulkan, harus dimulai dari mana perubahan itu karena banyak hal yang ternyata belum masyarakat tahu tentang perlakuannya secara tidak sengaja justru merusak alam.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s