Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap
di atas Bromo yang sedang berasap

Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?

Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.

Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.

Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.

Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.

Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.

Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.

Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.

Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!

Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.

Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.

Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.

Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!

Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.

Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo
Dataran sabana menuju Bromo

Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.

Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo
Lautan pasir menuju Bromo

Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.

Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.

Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.

Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.

Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.

Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.

Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.

Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.

Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.

Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.

Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.

Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.

Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.

Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.

Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.

Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.

Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.

Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.

Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.

Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.

Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.

Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)

Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta

Kereta Jakarta – Malang 55.000

Stasiun – Arjosari 2.500

Arjosari – Gang Cak Nu 4.000

Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000

Biaya nebeng truk 25.000

Hotel 50.000

Kupluk + sarung tangan + syal 18.000

Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000

Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000

Probolinggo – Malang 14.000

Arjosari – Stasiun 2.500

Malang – Jakarta 55.000

Makan 10 x 7000 70.000

TOTAL 392.000

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

27 thoughts on “Indie Way to Bromo”

  1. boleh, dijamin gak akan menyesal kalo ke Bromo…
    Mistiknya sih ada, ada pohon yang dikeramatkan…
    ada juga upacara yg terkenal bgt di sana, namanya Kasodo, mereka melempar bermacam hasil bumi ke kawah Bromo pas upacara itu…

  2. Ehm thank’s banget seblumnya untuk info bromonya. mas februari aku ada rencana ke Bromo
    pengen nanya cuaca gimana?
    aku minta no.tlp Cak nun (Email aku ja)
    bagusnya lewat surabaya atau malang ? (aku startnya dari jakarta )

    makasih

  3. Makasih infonya.membantu sekali nih singkat tapi lengkap.aku juga februari ini ada rencana ke bromo .kira2 aman ngak mas kalo backpacking sendiri ke sana.kalo bisa minta no tlp Cak nun juga.dah lama pingin ke sono belom kesampaian juga.

    thanks
    itoxtil@yahoo.com

  4. minta nomer telpon cak nun dunk..
    katanya kalo ke bromo bagusnya bulan agustus..,, cerah katanya..,,
    ntar nomernya kirim lewat email ja yak.,,
    hehee….
    thanks b4..,,

  5. yap, sdh dikirim ke emailnya…
    kalo homestay gak ada nih kontaknya, tp di sana itu betebaran bgt, dr mulai yg 50rb dua kasur sampe yg juta2an…asal mau keliling aja nanya2…
    slamat jalan2…=)

  6. mas. tolong info..saya naek kereta besok pagi ke probolinggo mau ke malang… sampenya malem,, bisa langsung ke cemoro lawang tidak?? klo tidak bisa ada alternatif lain..terimaksaih banyak. makasih wat RAB nya

  7. dr surabaya cari aja angkutan sampe malang or Probolinggo, trus lanjutin aja dgn rute sprti di tulisan…
    nomor cak nu udah dikirim ke email mu.. semoga bermanfaat ya…=))

  8. mas,, mau no. cak Nu ya.. saya agustus ini rencana ke bromo.
    klo dari jakarta naik kreta,, yg lebih mudah sampai ke bromo lewat mana ya? malang or purbolinggo?
    klo ada info lain yg perlu dishare saya tunggu ya mas..

    trims..

  9. halo mas mau tanya2 dikit nih,, kalo dari malang ke bromo pake jasa Cak Nu itu jadinya bisa pilih ya mau sewa Jeep atau naik truk kaya mas gitu?
    kalo misalnya pake Jeep itu bolak balik Malang apa cuma antar sampai Cemoro lawangnya mas?
    mohon reply asap yah mas hehe..
    makasi mas infonya,. 🙂

    1. enggak gitu, di cak nu itu cuma ada truk, itupun bukan dikomersilin sebetulnya, cuma numpang terus kita kasih ongkos..
      kalo pake jeep, tergantung nego, bisa bolak balik, bisa nganter doang. tp lazimnya orang kalo pake jeep itu berangkat malam dari malang (sktr jam 12), sampe pananjakan jam 3, kejar sunrise, terus ke bromo, balik deh ke malang lg.
      referensi lengkap ke bromo ada di majalah backpackin edisi 11, unduh gratis di http://www.backpackinmagazine.com atau klik di sini http://www.backpackinmagazine.com/backpackin-magazine-edisi-11/

      1. oh gitu yah mas,, jadi cak nu itu sebenernya hanya bantu orang2 yg mau numpang ke bromo lewat tumpang yah,, owww,,
        untuk penginapan di bromo yg mas mention diatas, tak ada contact personnya kah?
        soalnya aku mo kesana pas long wiken, kalo ga booking dulu takutnya ga dapet penginapan.
        sebaiknya gmn yah mas? mohon sarannya mas,, makasih yah udah mau direpotin 😀
        referensinya juga, tararangkiuuu..

  10. Sore Mas, setelah browsing ke sekian tempat akhirnya saya menemukan artikel mas yang sedikit berbeda dan menarik sekali.. jujur ini bakal jadi pengalaman pertama saya untuk mendatangi bromo juga pengalaman pertama pelesir di daerah jawa.. berhubung di awal September ini saya punya waktu luang. seperti yang banyak ditanyakan orang saya ingin meminta kontak Jasa Cak nu untuk memastikan klo Cak nu masih menyediakan jasa tumpangan kesana.. dan kira2 untuk informasi tambahan selain melewati jasa Cak nu apakah masih ada lagi alternatif kendaraan perjalanan Bromo Via Malang.. terimakasih banyak atas informasinya Mas ..

  11. mas selamat malam, saya bulan oktober akan ke bromo..boleh kah saya minta info nmr cak nu? kebetulan saya backpacker juga mas makasih banyak. oh iya mas boleh mnt info penginapan kah?katanya bulan okt itu sedang high season ya?saya takutnya sudah full mas, makasih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s