Muhammad Kasim Arifin; Sosok Ideal Mahasiswa

Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim
Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim

Gemetar rasanya kalau nama itu disebut-sebut kembali. Kasim Arifin. Seorang kakak angkatan yang sangat saya banggakan. Bukan dua tahun beda usia kami. Bukan pula lima tahun atau sepuluh tahun. Tapi empat puluh delapan tahun. Bahkan orangtua saya belum bertemu ketika Kasim dinyatakan lulus dari almamaternya, Institut Pertanian Bogor.

Adalah Taufik Ismail yang ketika itu, 22 Oktober 2008, datang untuk membacakan puisi penyemangat untuk kami para wisudawan. Beliau bercerita tentang kisah teman satu atapnya dulu, Kasim.

Kuliah Kerja Nyata sudah menjadi suatu kewajiban bagi mahasiswa fakultas tertentu sejak dulu, tapi saat itu namanya agak lain, Pengerahan Tenaga Mahasiswa. Serupa maknanya. Kasim ditempatkan ke sebuah desa bernama Waimital di Pulau Seram, Maluku. Tugasnya waktu itu adalah mensosialisasikan Panca Usaha Tani kepada petani daerah itu. Beberapa bulan saja kewajibannya.

Setengah tahun kemudian, teman-temannya mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Kasim. Ke mana Kasim? Seharusnya dia sudah kembali ke Bogor untuk menyelesaikan skripsinya.

Setahun berlalu, Kasim tak kunjung muncul. Orangtuanya di Langsa, Aceh sana semakin cemas dengan hal tersebut. Dua tahun berikutnya Kasim juga tak nampak batang hidungnya. Padahal teman-temannya sudah lulus bahkan sudah bekerja menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tapi Kasim tetap tak nampak. Sang Ibu semakin cemas.

Orangtua Kasim sudah berkali-kali memintanya pulang. Begitu pula dengan pihak kampus. Panggilan pertama dari sang Rektor yang bercokol kala itu dihiraukannya. Pun dengan panggilan kedua. Untuk panggilan ketiga, Rektor, waktu itu Andi Hakim Nasution, menyematkan Saleh Widodo, sahabat Karim, untuk ikut serta menyerukan panggilan pulang dari rektor tersebut langsung ke Waimital.

Untungnya Kasim mau kembali, tapi itu setelah lima belas tahun. Ya, lima belas tahun. Cukup waktu untuk membuat kulit tangan dan kaki Kasim pecah-pecah. Sebab, setiap harinya, tak kurang 20 kilometer jarak perjalanan Kasim menuju sawah. Ia betul-betul mengajarkan petani daerah itu agar hasil tanamnya meningkat. Setiap hari dua puluh kilometer selama lima belas tahun. Sanggupkah engkau bayangkan, kawan? Sebelas dua belas dengan Lintang dalam cerita Laskar Pelangi yang bersepeda menempuh 40 kilometer setiap harinya itu.

Tak bosan-bosannya ia ajarkan berbagai metode yang didapatkannya di bangku kuliah untuk bisa diterapkan petani. Supaya petani lebih sejahtera hidupnya. Tentang kesejahteraan dirinya sendiri tak menjadi soal baginya.

Kasim menolong masyarakat agar mandiri. Tidak ada imbalan secuil pun atas jasanya ini. Atas jasanya membangun sawah-sawah baru. Atas jasanya memperkenalkan sekaligus membuat irigasi. Juga atas jasanya membuka jalan-jalan desa. Semua tanpa imbalan. Lima belas tahun, kawan.

Hiruk pikuk gemuruh suara manusia menyambut kembalinya Kasim. Teman-temannya yang sudah bergelimang harta memberikannya sepatu baru yang mengkilap seperti lampu taman, pakaian yang harum, tak lupa makanan yang lezat. Semua terharu akan kejadian tersebut. Semua bangga akan Kasim, teman lamanya yang duduk sama-sama mendengarkan dosen dua puluh tahun yang lalu.

Prosedur tetaplah prosedur bagi IPB. Sedemikian besar jasa Kasim, tetap dia harus menyelesaikan skripsinya untuk mendapatkan gelar. Hal tersebut tentu sulit sekali baginya. Lima belas tahun sudah Kasim tidak ditugasi pekerjaan kampus kali ini disuruh membuat skripsi yang merupakan tugas kampus paling berat bagi mahasiswa.

Teman-temannya tak hilang akal. Maka direkamlah semua cerita Kasim selama lima belas tahun membangun Waimital. Semua ia ceritakan. Butuh 28 jam untuk merekam apa yang Kasim ceritakan. Kemudian ada orang yang mengolahnya menjadi sebuah tulisan cerdas bernama skripsi itu. Prosedur-prosedur berikutnya tetap dilaluinya. Tentu saja dengan kemudahan di sana sini karena Kasim spesial. Pada akhirnya, skripsi selesai kemudian Kasim dinyatakan lulus sebagai Insinyur Pertanian.

Hotel Salak menjadi tempat yang cocok untuk sosok hebat seperti Kasim. Ia dipersilakan beristirahat dengan tenang di tempat yang nyaman itu untuk kemudian bersiap-siap melakukan wisuda istimewa baginya keesokan harinya.

Bukan nyaman yang didapat, tapi justru Kasim tidak bisa tidur. Suara kendaraan yang mondar-mandir di depan hotel menggangu telinganya. Kasim tidak terbiasa dengan hal tersebut. Maka ia mencari meja yang ada di kamarnya. Kemudian dia tidur di atasnya. Lelap. Tertawalah teman-teman Kasim mendengar insiden meja itu.

Wisuda spesial untuk orang spesial. Tidak seperti biasanya, dandanan Kasim pagi itu rapi sekali, setelan jas yang harum lengkap dengan sepatu mengkilap seperti lampu taman yang diberikan temannya membuat Kasim tampak beda. Sangat berbeda. Rambutnya disisir rapi dengan potongan yang cerdas.

Setelah proses wisuda selesai, banyak badan yang menawarinya pekerjaan. Teman-temannya yang sudah menjadi petinggi di sini dan di sana pun ikut menawarinya pekerjaan. Namun, semua ditolaknya dengan tegas. Kasim ingin kembali ke Waimital. Membangun Waimital kembali. Lima belas tahun masih belum cukup baginya. Maka berangkatlah Kasim kembali ke Waimital. Kali ini dengan title Insinyur di depan namanya. Tapi Kasim tak terlalu ambil pusing perihal title.

Beberapa waktu kemudian, Kasim berubah pikiran. Mungkin ia berpikir bahwa lebih baik ia menggodok seribu Kasim lainnya agar perjuangannya dapat ditularkan. Akhirnya ia beralih menjadi dosen di Universitas Syah Kuala, universitas negeri termashur di Aceh.

Walaupun rupa ini tidak pernah bertatap, bahkan tidak pula dalam bentuk kata-kata. Tapi pola pikirnya sanggup membuat semangat ini bangkit lagi untuk berguna bagi orang lain. Terima kasih Muhammad Kasim Arifin.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

9 thoughts on “Muhammad Kasim Arifin; Sosok Ideal Mahasiswa”

  1. ya.ya. kasim. membuat malu saya yang belum berbuat apa-apa (tepatnya tak berani berbuat seperti dia. saya telah banyak berhitung ini itu).

    salam blogger.
    masmpep.wordpress.com

  2. saya sedang mencari buku biografi tentang kassim ini. kalau tak salah judulnya seorang lelaki dari waimital. bisakah anda menolong saya?

    salam

  3. saya bangga bekliulah yang menjadikan desa saya maju sperti saya ini. beliaulah yag merintis desa yg dulunya hutan belantara bisa menjadi pengasil pangan.. yg di perhitungkan di maluku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s