WARWICK PURSER: Pahlawan dari Tembi

“Edisi depan, kita angkat Indonesian Craft!” kata bos saya sambil memberikan sebuah buku tebal seberat hampir 1kg dengan judul Made in INDONESIA: A Tribute to the Country’s Craftspeople. Pengarangnya bernama WARWICK PURSER. Di situlah perkenalan pertama saya dengan nama Warwick Purser. Sebetulnya saya masih agak bingung juga, kok buku tentang Indonesia dibuat oleh orang asing? Kalau tentang sejarah pulau Jawa dan Sumatera tercetak di buku-buku Belanda masih wajar karena kita pernah dijajah mereka. Tapi ini tentang kerajinan tangan Indonesia. Oke, mungkin ini akan dibahas di lain waktu.

Singkat cerita, saya berangkat ke Jogja untuk mencari bahan tulisan. Di sore itu, saya meliput PT Out of Asia yang kepunyaan Purser. Namun sayangnya, beliau tidak bisa diwawancarai karena sedang tidak di tempat.

Perusahaan itu bisa dibilang sebuah distributor dan produsen terbesar untuk kerajinan tangan. Panjang ceritanya sampai menjadi sebesar ini. Singkatnya begini. Suatu waktu, Warwick pindah ke Tembi, sebuah daerah dekat Parangtritis. Sulit sekali mencari pekerjaan di daerah ini sehingga kebanyakan penduduknya pindah dan bekerja di kota. Tapi Purser tetap yakin tentang apa yang dilakukannya: membangun Tembi. Tidak berapa lama kemudian, dia berhasil mendirikan PT Out of Asia dengan mempekerjakan penduduk sekitar. Pada tahun 1993, ada 800 penduduk sekitar yang dilibatkan. Purser memiliki tujuan yaitu menciptakan lapangan pekerjaan paling tidak satu dari seluruh anggota keluarga di daerah Tembi. Perusahaan ini terus berkembang. Sampai tahun 2008, puluhan ribu pengrajin sudah terlibat di dalamnya. Ya, puluhan ribu! Dari sini saja kita sudah bisa berdecak kagum, bukan?

Tapi tidak hanya itu saja kehebatan Purser. Hal unik lain dari Purser, ia ingin rumahnya dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas. Jadi, dia membeli tanah yang cukup luas, kemudian dia bangun rumah di tengahnya. Sisa lahan yang masih sangat luas diberikan kepada petani untuk mengolahnya, tanpa dibebani uang sewa. Ia hanya ingin rumahnya dikelilingi sawah. Hasil panen silakan dimanfaatkan sepenuhnya oleh petani. Apa ada orang kaya di Indonesia yang mempunyai keinginan seperti itu? Mempunyai rumah di tengah sawah? Rumah di tengah sawah banyak, tapi itu dibangun dengan terpaksa oleh petani miskin.

Bentuk bangunan perusahaannya juga unik karena bukan berupa bangunan layaknya kantor. Purser menyewa rumah-rumah warga di Tembi untuk dijadikan kantor. Jadi, letak kantor bagian promosi di rumah ini, kantor bagian personalia di rumah yang itu, kantor bagian pengembangan produk di dekat belokan sana. Ini dilakukan Purser agar perusahaannya tidak mempunyai kesan eksklusif, dia ingin berbaur dengan masyarakat.

Yah, begitulah Purser, tokoh visioner yang layak untuk dikagumi karena idealismenya.

Iklan

Penulis: Iqbal

cinta dunia jurnalistik dan rekayasa genatika...

10 thoughts on “WARWICK PURSER: Pahlawan dari Tembi”

  1. jadi lo ga berhasil wawancara si purser kak? sayang banget donk..

    iya keren banget euy, malu donk orang indonesia kalo yang melestarikan kerajinan tangan indonesia malah orang asing.

  2. Kayaknya yang namanya pak warwick ndak sepenuhnya kueren dan heroik kya gitu dehh….kalo menurut saya sih lebay banged…
    dan sekedar ngelurusin aja akses ke kampung saya tuh mule dari tahun 80an udah ada jalan aspal bos…

  3. @azka: gak jadi, iya sayang banget..

    @anak tembi: wah, terima kasih banyak infonya, langsung dr anak tembi yang besar di tembi…cerita di atas saya ambil dari berbagai literatur, jadi bukan pendapat saya pribadi, semua ada dasarnya…kalaupun dirasa berlebihan, berarti literatur2 bahasa bule itu yg lebay..

  4. Sebelum di Yogya, kantor pusat warwick beroperasi di Bali, tepatnya di desa Penestanan, Ubud.
    Beliau memutuskan untuk pindah ke Tembi-Bantul, karena mayoritas produsen komoditi yang diperdagangkannya berlokasi di daerah tersebut. Sehingga pertimbangan untuk menetap di Tembi tentunya akan lebih menguntungkan bagi usahanya. Seluruh umat manusia di dunia ini pastilah memiliki dua sisi yang berbeda. Demikian juga Warwick, disisi yang satu ia memiliki keinginan yang mulia untuk mengangkat harkat hidup orang banyak. Namun disisi lain, dalam perjalanan pencapaian keinginan mulianya tersebut, beliau juga mengalami kendala yang tidak sedikit serta terbilang sulit, sehingga terkadang membutuhkan pengorbanan dari orang-orang sekitarnya. Namun pengorbanan itu bukanlah sia-sia belaka, sebab karakter Warwick adalah seorang yang selalu ingat budi baik orang lain. Awalnya sayapun skeptis terhadap beliau, namun pada akhirnya saya dapat mengerti segala tindakan serta langkah-langkah yang diambilnya walau bagi sebagian orang tidaklah menyenangkan. Namun ada baiknya kita memisahkan pandangan kita terhadap Warwick Purser, antara kehidupan pribadinya dengan bisnis yang dijalankannya.

  5. sedang menulis tentang warwick dan tidak sempat mengobrol lama dengan beliau karena beliau ada urusan. Ngomong-ngomong, tahun 1995 Warwick pindah ke Tembi, dan tahun 1993, 800 penduduk dilibatkan? Nggak salah tahun, mas?

  6. saya butuh info alamat lengkap di jakarta dimana mr warwick biasa tinggal?atau teman bisa bantu kontaknya? terima kasih

    salam

    Ario Fajar
    Jurnalis Majalah SWA
    081807203951

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s