12
Sep
08

Sarjana yang Turun Lapang

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

Selama ini, saya pikir cerita2 di salah satu bukunya Helvi Tiana Rosa (lupa judulnya) yang mengangkat penggalan2 kisah orang baik itu tidak akan bisa saya temui langsung. Tapi ternyata salah, beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Usnadi, salah satu petani yang tinggal di daerah Cibatok, Bogor. Kami ngobrol tentang padi yang dipakai daerah itu, penduduk2nya, sampai membicarakan HKTI segala. Tidak lama kami mengobrol, datang Sekdes yang ikutan nimbrung ngobrol dengan kami. Dari sang Sekdes itu baru saya tahu bahwa ternyata Usnadi ini lulusan Sosek Unpad. Kaget betul saya waktu itu. Kok mau2nya sarjana nyawah.

Saya semakin tertarik dengan sosok satu ini. Saya ajak ngobrol lebih mendalam tentang kehidupan dia. Usnadi pernah kerja di Bank dan beberapa perusahaan sebelumnya. Tapi akhirnya dia mengambil jalan untuk kembali ke daerahnya (Cibatok). Dia betul2 bertani layaknya buruh tani pada umumnya. Dari cara bicaranya, memang tidak perlu diragukan kalau dia adalah seorang sarjana. Pengetahuan politiknya cukup mendalam. Dia tahu banyak hal. Tapi dia tetap memilih menjadi petani. Satu pernyataan yang masih membuat saya tergugah sampai sekarang: Kalau bukan saya, siapa lagi yang membimbing petani desa ini?

Saat ini, Usnadi diangkat menjadi ketua kelompok tani di desa itu. Baru tiga tahun tinggal di Cibatok, tapi hampir semua orang di desa itu mengenalnya. Semua hormat dengan Usnadi. Begitu cerita dari salah satu penduduk.

Kalau dilihat dari kemampuannya, dia bisa saja mendapatkan kesejahteraan (materi) lebih baik lagi daripada sekarang. Tapi, siapa yang akan membimbing petani di tingkat bawah? Siapa yang membahasakan pelatihan dengan bahasa petani? Siapa yang memperkenalkan bibit2 unggul pada petani? Dan siapa yang meyakinkan petani bahwa perubahan itu perlu?

Di tingkat akademisi, kegiatan turun lapang memang sudah rutin dilakukan. Tapi hanya dua bulan, tidak permanen seperti yang Usnadi lakukan. Bukan berarti saya menyalahkan akademisi. Itu memang pilihan, tidak ada yang salah ketika kita memilih mencari kemerdekaan financial.

Usnadi memang sosok yang sangat pantas untuk saya kagumi. Cara berpikirnya berbeda dengan kebanyakan orang, Radikal!


4 Responses to “Sarjana yang Turun Lapang”


  1. 1 rae
    September 12, 2008 pukul 8:12 am

    iqbal!!!!!!!!!!!

    masukin ke bogorwatch juga!!!!!!!!!!!

  2. September 13, 2008 pukul 11:17 pm

    judulnya kalo ga salah “bukan di negeri dongeng” itu ya kak? =)

  3. September 16, 2008 pukul 2:19 am

    @rae
    wah, jangan donk re, kan lg gak berkomentar ttg bogor…

    @azka
    iya ka, bettttul, baru inget gw…
    abis baca buku itu, rasanya pengen berbuat baik mulu, (pengen doang) heheee…

  4. September 22, 2008 pukul 5:53 am

    saya salut dengan pak usnadi,
    saya ingin seperti itu, tapi tidak punya modal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2008
S S R K J S M
« Jun   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: