30
Jun
08

Hak Asasi Hewan

kalau mengikuti regulasi yang berlaku, ilmu pengetahuan dan kehewanan tidak akan berbenturan

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dunia medis selalu bergulir seperti bola salju. Semakin lama, pengetahuan manusia tentang medis semakin tinggi. Namun, itu tidak membuat manusia semakin kenyang, tetapi keinginan-keinginan memperdalam wawasan medis justru semakin tinggi. Sedikitpun tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, banyak aktivis di luar sana yang ternyata mengecam aktivitas ilmuwan tersebut. Mereka mengecam kebiadapan ilmuwan yang suka menggunakan hewan coba dalam proyek penelitiannya.

Sang ilmuwan beralasan ini untuk ilmu pengetahuan. Kalau tidak dilakukan pengujian dengan hewan coba (in vivo), maka akan sulit sekali menemukan obat untuk berbagai penyakit. Pegujian obat dengan metode in vitro tidak akan mewakili kompleksnya metabolisme dalam tubuh manusia. Terbukti banyak sekali penyakit yang dapat ditangani dengan baik akibat dilakukannya uji in vivo. Malaria, polio, demam berdarah, dan masih banyak lagi penyakit yang ternyata ditemukan penyelesaiannya setelah uji in vivo.

Mendengar hal tersebut, sang aktivis tetap berprinsip bahwa hak asasi hewan betul-betul harus diusung. Lalu, bagaimana masalah ini dapat diselesaikan?

Setelah berembug sana-sini, lahirlah suatu aturan main yang betul-betul harus dipegang erat oleh ilmuwan ketika menggunakan hewan coba, yaitu konsep 3R: reduce, replace, dan refine. Reduce di sini maksudnya adalah sebisa mungkin mengurangi penggunaan jumlah hewan dalam penelitian. Replace maksudnya cobalah gunakan alternatif lain, misalnya kultur sel. Kemudian refine artinya mengembalikan hewan coba ke kondisi semula, dalam arti memproduksi lagi sejumlah hewan coba yang digunakan. Konsep 3R ini sudah lama dilakukan. Ternyata efektif.

Di Indonesia sendiri, Depkes mengeluarkan Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan, yang terkenal dengan konsep 5 Freedom, yaitu bebas dari rasa lapar, rasa haus, rasa sakit/penyakit, rasa tidak nyaman yang kronis, bebas dari cekaman, dan juga dapat mengekspresikan sifat alamiahnya.

Namun, permasalahannya sekarang, lampu hijau penggunaan hewan coba ini sering disalahartikan oleh ilmuwan nakal. Mereka mengeksploitasi hewan untuk kesenangan atau bahkan kejahatan. Inilah yang harus diawasi.

Iklan

0 Responses to “Hak Asasi Hewan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2008
S S R K J S M
« Apr   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: