14
Apr
08

Swadaya X Project

kecelakaan bisa mengubah cara pikir kita

kecelakaan bisa mengubah cara pikir kita

29 Feb 08. Saya mempunyai niat mulia: silaturahim dengan sanak saudara, handai taulan, dan kerabat di Jakarta. Baru sehari sebelumnya selesai penelitian, jadi, sekalian refreshing.

Sasaran pertama dan utama: rumah berplat Swadaya X no10. Tapi, berbagai halangan, cobaan, dan rintangan membuat proyek itu, yang sewajarnya selesai dalam 3 jam, baru bisa selesai sembilan hari kemudian.

Vespa putih seperti tidak mau diajak kompromi ketika diperintahkan menggerakkan kanvas remnya di bilangan kalimalang. Malang sekali memang. Setelah menabrak motor dari arah berlawanan, saya terpental ke kaca depan ”City” kemudian dihantam lagi dengan motor. Semua dari arah yang berlawanan. Tidak ada kepanikan sama sekali dalam diri saya ketika itu. Orang-orang di jalan berdatangan memberikan barang-barang milik saya yang terpental: MP3 player, helm, dan sebongkah vespa putih.

Saat itu, mata saya terbuka tapi tidak bisa melihat apapun selama 5 menit. Saya pikir mata ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Rasanya, seperti tidak ada kekuatan lagi yang tersisa untuk sekedar berdiri.

Siksaan berupa cacian tidak henti-hentinya keluar dari mulut seorang Bapak dan Anak yang saya tabrak motornya. Tapi kepanikan masih belum datang. Saya masih bisa berpikir jernih untuk menelepon orang tua. Lima belas menit kemudian, Ayah datang. Cepat sekali beliau menetralisir keadaan. Kami semua, pelaku (baca:Iqbal) dan korban, segera menuju RS Harum. UGD di sana sigap. Dalam lima menit, semua luka sudah dibaluri dengan betadine. Suntik tetanus juga sudah dilakukan.

Setelah meraba seluruh bagian tubuh, sepertinya hanya lecet-lecet biasa saja, tapi tangan kanan saya tidak bisa digerakkan. Jari-jari yang masih bisa digerakkan membuat saya berpikir itu hanya keseleo biasa. Dokter menyarankan rontgen. Ternyata hasilnya patah cukup parah. Barulah kepanikan melanda. Terpikir jutaan uang yang harus dikeluarkan keluarga saya. Air mata mulai berjatuhan…

Keputusan harus cepat diambil, pengobatan kedokteran atau alternatif. Alternatif jadi pilihan karena lebih murah dan tidak akan berbekas karena tidak ada pembedahan seperti pengobatan kedokteran.

Guru Singa yang beruntung mendapat kesempatan mengobati saya. Setelah membereskan administrasi untuk saya dan orang2 yang saya tabrak, kami bergegas ke Guru Singa. Sesampainya di sana, tanpa basa-basi, saya langsung dibawa ke ruang eksekusi. Perihnya tiga menit pijitan rasanya melebihi perih yang ada selama 21 tahun hidup. Jauh lebih sakit daripada sepuluh kali sunat. Percayalah! Saya memproduksi jeritan terbesar seumur hidup. Mungkin itu bisa membuat orang-orang yang mendengarnya berpikir ratusan kali untuk lebih menjaga tulangnya.

Seperti rumah sakit pada umumnya, Yayasan Guru Singa juga menyediakan puluhan kamar, bahkan mungkin mencapai ratusan, untuk rawat inap, dengan level-level tertentu juga. Saya menyewa kamar dengan fasilitas AC dan TV (level menengah). Biaya sewanya Rp 150.000 per malam, hampir sama dengan sewa kamar di RS.

Ratusan SMS dan puluhan telepon berdatangan. Itulah hiburan untuk orang yang terkapar di ruang rawat inap. Lebih terhibur lagi jika ada yang datang menjenguk. Tetangga, saudara, dan teman-teman datang menjenguk mulai dari hari pertama. Sampai hari terakhir, ada saja yang datang menjenguk. Jarak tidak membuat teman-teman saya di asrama dan di Koran Kampus untuk datang sekedar untuk mengajak ngobrol. Di titik itu, saya baru tahu bahwa perhatian-perhatian seperti itulah yang sangat diperlukan oleh orang sakit. Mungkin bagi mereka yang menjenguk itu suatu hal yang biasa. Tapi tidak demikian bagi si sakit. Saya harus membalasnya suatu saat nanti.

Proyek ini sepertinya menampar saya karena selama ini kurang peduli dengan Orang Tua. Padahal, ketika dalam kondisi seperti ini, merekalah yang pertama kali maju. Ayah saya meninggalkan pekerjaannya selama sembilan hari hanya untuk merawat saya.

Walaupun tidak berjalan sesuai rencana, tapi proyek ini sudah mencapai tujuannya, bahkan melampaui tujuan awal: silaturahim. Terima kasih Tuhan, Engkau memang selalu punya cara brilliant.


4 Responses to “Swadaya X Project”


  1. 1 rae
    April 15, 2008 pukul 6:33 am

    masih berani bilang masih enak naek vespa?

    hwkwkwkwkwk…..

  2. April 17, 2008 pukul 2:18 pm

    wew, maap ya kak ndak bisa nengokin.. udah sembuh blm?

    ati-ati atuh kak.. ^^

    btw, manstab euy postingannya, mengalir dengan indah.. hhe..

  3. 4 mee
    April 18, 2008 pukul 1:41 pm

    dasar anak durhaka !!!!

    he he he….
    udah sembuh ya bal??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2008
S S R K J S M
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: