Posts Tagged ‘pedagang kaki lima

11
Sep
11

Sudut Pandang Baru dari Kereta Ekonomi

Belakangan ini, saya jadi sering pakai kereta ekonomi kalau muter-muter Jawa. Awalnya dulu dicemplungin sama anak-anak Backpacker Indonesia. Banyak dari mereka yang ke mana-mana pakai kereta ekonomi, biar irit katanya. Buat saya, kereta ekonomi ini bukan irit, tapi irit banget! Harga tiketnya bisa cuma 20% harga tiket kereta bisnis/eksekutif. Dan dia gak ikutan naik di waktu harga kereta bisnis/eksekutif naik, misal pas liburan atau lebaran.

Memang sih, kalau punya duit, saya mending naik bisnis/eksekutif karena jelas dapat kursi dan gak ada orang jualan. Tapi di kereta ekonomi ada nilai lebihnya juga yang susah saya dapat di kereta bisnis/eksekutif: sudut pandang baru.

Kebanyakan yang naik kereta ekonomi ini, setahu saya, orang-orang menengah ke bawah, ya kuli bangunan, pedagang kaki lima, satpam, dsb, atau orang-orang yang sedang pakai topeng menengah ke bawah, macam mahasiswa itu lah.

Mereka ini baik baik loh, suka nawarin makan, suka ngajak ngobrol, suka kasih info rute, mau dititipin barang kalau mau ke WC. Bagian yang paling saya suka adalah, mereka suka ngobrol dan pengalamannya banyak yang menarik dan suka beda sama berita yang saya dengar di TV.

Kereta ekonomi Matarmaja. Dok: http://www.ucuagustin.blogspot.com

Saya pernah ketemu sepasang suami istri. Mereka sering ke senayan buat jualan, aslinya orang Jawa Timur. Sang istri dulu pernah jadi TKW di Arab. Dia bilang, berita di TV itu salah. Kalau ada TKW yang digebukin atau diperkosa, itu salah TKW nya, bukan salah bironya. Kalau TKW nya nurut apa yang diminta majikan, dia gak jahat kok. “Saya kan bertahun-tahun di sana, saya tahu karakter orang Arab, saya tahu karakter TKW kita, saya paham situasi, jadi saya tahu mana yang salah.”

“Yang biasanya gak bener kerjanya itu orang Sunda sama NTB. Kalau orang Jawa Tengah nurut-nurut jadi gak ada masalah sama majikan.”

Dia lanjut cerita, kalau masalah digebukin, disetrika, diperkosa, itu mah gak usah ke Arab, di Jakarta juga banyak. Tapi kok gak pernah atau jarang masuk TV? Ya itu karena majikannya terkadang orang berada dan punya pengaruh, nanti kalau diangkat, medianya yang ikutan kena gebuk.

Nah, cerita yang begini-begini yang bikin saya punya sudut pandang baru. Selama ini kan kesan yang dikasih TV ke otak kita, majikan luar yang brengsek, tapi di kereta ekonomi saya dapat pandangan bahwa TKW juga ada salahnya kok.

Si suami nambah cerita pengalamannya jualan di JCC Senayan. “Pokoknya kalau ada pameran computer, itu panen deh,” langsung to the point. Iya sih, saya 2 kali ke Indocomtech, kayaknya butuh dibangun fly over dari dalam ruangan pameran ke parkiran, saking ramainya orang.

Pesan yang saya pegang betul, “Jangan beli teh yang biasa dijual pakai gelas plastik besar. Itu pakai air keran!” Kelihatanya memang segar, tapi gak sehat. Saya gak langsung percaya, mungkin aja ini Cuma suudzon. Tapi logikanya, memang itu lebih riskan sih dibanding minuman kemasan. “Tau berapa modal mereka terus bisa dilipat jadi berapa?”

“Berapa Pak?”

“Lima belas ribu jadi empat ratus ribu. Ya iyalah wong pakai air keran.”

Atau pengalaman lain di kereta ekonomi, dulu saya pernah ketemu anak muda, sekitar umur 20 tahun. Dia dari Madura tapi pindah ke Jakarta. Di Madura kerjaan dia sehari-hari bikin garam, bantu orang tuanya. Dengan kerja Cuma setengah hari, dia bisa dapat 2 juta sebulan. Tapi dia milih hijrah ke Jakarta buat jadi buruh yang gajinya gak nyampe 1 juta sebulan, itu pun mesti dihadapkan dengan biaya hidup yang tinggi.

Saya tanya kenapa pindah. Kan di Madura udah enak? Dia jawab, pengen cari pengalaman. Mungkin dia mau tahu ibukota tuh gimana sih.

Di sini saya juga dapat sudut pandang baru, bahwa walau desentralisasi ekonomi jalan, tapi harus dipikirin juga factor “pengen cari pengalaman”. Pengamat urbanisasi Jakarta yang sering nongol di TV bilang, urbanisasi itu karena di daerahnya gak ada lapangan pekerjaan. Tapi si penghuni kereta ekonomi yang itu pelaku urbanisasinya langsung bilang pengen cari pengalaman, bukan karena di daerahnya gak ada lapangan kerjaan. Bertolak belakang banget kan.

Yah, yang begitu-begitu lah nilai positif kereta ekonomi, bikin saya punya sudut pandang baru, langsung dari yang ngalamin.




September 2014
S S R K J S M
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.