Cot Seurani: Cerminan Demokrasi yang Sesunguhnya

Beberapa orang sedang berdiskusi di Meunasah
Setelah Maghrib usai, sayup-sayup terdengar pengumuman dalam Bahasa Aceh yang kurang lebih artinya, ”Ayo, warga kampong Cot Seurani (sebuah desa kecil di kecamatan kecil Krueng Mane, NAD), kumpul di Meunasah (semacam Mushala) setelah Isya, ada yang penting untuk dibicarakan.”
Waktu berjalan. Isya baru saja lewat. Suara itu terdengar lagi, tapi lebih keras dan tegas, masih dalam Bahasa Aceh, yang kalau diterjemahkan menjadi, ”Hai warga kampong, ini sudah lewat Isya. Cepat kumpul!”
Sekitar 30 menit kemudian, berkumpullah sekitar 50 orang laki-laki yang mewakili keluarganya di Meunasah. Teuku Imum* angkat bicara. Kalau di-translate lalu dirangkum dalam Bahasa Indonesia menjadi, ”Akhir-akhir ini, orang yang datang ke masjid semakin berkurang. Sekarang saja yang datang Cuma sekitar 50, seharusnya 200 (ada sekitar 200 KK di desa Cot Seurani). Kekuatan islam ada di jama’ah sekalian. Kalau kita tidak bersatu, apa lagi yang bisa diandalkan dalam islam? Untuk itu saya minta saudara sekalian untuk lebih aktif lagi ke masjid. Kita harus bersatu. Islam harus bersatu.” Sebetulnya pidato tersebut lebih panjang dan lebih menyentuh lagi, saya potong karena akan panjang sekali.
Setelah Teuku Imum bicara, ia mempersilahkan Geuchik** untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Geuchik ambil posisi. “Yang penting-penting semua sudah disampaikan oleh Teuku Imum tadi. Yang saya sampaikan hanya melanjutkan amanah. Ada instruksi dari pemerintah untuk kita sama-sama menjalankan ronda setiap malam sampai pemilu usai. Kita tidak usah membantah, kerjakan saja. Sekarang yang kita sepakati, siapa yang akan dilibatkan dalam ronda?” Seseorang memberikan usul untuk laki-laki yang sudah Baligh. Kemudian ada warga yang membantah, “Sulit untuk yang masih sekolah. Kasihan mereka.” Terus menerus pendapat mengalir deras dari warga. Dengan bijak, Geuchik ambil alih, merangkum semua usulan, “Baik, jadi yang ikut ronda adalah pria umur 20-50, tapi kalau ada yang di bawah 20 namun tidak sekolah maka dia wajib ikut. Pengaturan selanjutnya tentang pembagian tugas akan digodok oleh tetua 4 dan tetua 8 (semacam DPR dan MPR dalam desa itu). Selanjutnya saya buka agenda dan lain-lain, ada yang ingin dibahas?”
Salah seorang warga mengacungkan jarinya lalu mulai bicara, “Ternak sapi yang suka dilepas entah punya siapa itu suka mengganggu rumah saya (banyak penduduk Aceh yang mempunyai ternak, Aceh terkenal dengan lumbung sapi). Tanaman habis dimakannya. Apa saya boleh tangkap ternak itu lalu saya potong?!!”
Dengan tenang, Geuchik memimpin forum itu untuk membahas kasus ini. Forum sepakat membuat hukum desa untuk masalah ini. Kembali banyak warga yang mengacungkan tangannya lalu mengajukan pendapatnya. Geuchik dengan hormat menampung semua pendapat warga, kemudian membuat kesimpulan lagi, “Kalau ada warga yang merasa dirugikan akibat sapi yang dilepas, maka warga tersebut boleh menangkap lalu mengikatnya di depan rumah. Tunggu sampai pemilik sapi datang. Ada juru hitung yang akan saya tunjuk untuk menghitung kerugian warga yang dirugikan lalu akan dimintakan pada pemilik sapi. Kalau tidak datang, pemilik sapi dikenakan 100 ribu/hari. Sampai angkanya setara dengan harga sapi, maka sapi boleh menjadi milik warga yang dirugikan.”
Selesai membuat kesimpulan, ada yang nyeletuk, “Kalau kambing bagaimana?” Geuchik langsung menjawab, “Akan sama persis dengan hukum sapi yang kita buat tadi.” Ada warga yang masih belum puas, “Kalau ayam atau bebek?” Warga yang lain tergelak dengan pertanyaan tersebut. Geuchik dengan sabar menjawab, “Tentunya itu akan beda kasusnya. Kalau sudah ada warga yang mengeluh tentang ayam dan bebek baru akan kita bahas kemudian bagaimana hukumnya.”
Seorang lagi warga yang masih belum puas, “Kalau warga yang dimakan pekarangannya itu mengikat sapi lalu sapinya mati, tanggung jawab siapa?” Dengan mimic yang sama sekali tidak meremehkan pertanyaan tersebut, Geuchik menjawab, “Sesungguhnya hidup dan mati itu sudah digariskan. Itu sudah ditulis di sana. Hewan ternak pun demikian, sudah ada garisnya. Tidak akan melenceng dari garis yang dibuat oleh pemilik alam ini. Jadi, kalau memang ternak itu mati, maka memang dia seharusnya mati. Bukan menjadi tanggung jawab yang mengikatnya. Namun demikian, kita tidak boleh membuat hal-hal yang dengan sengaja membuat hewan ternak itu mati.”
Dua jam sudah berlalu. Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, maka pertemuan itu ditutup. Warga kembali ke rumahnya masing-masing, tanpa membawa besek. Jangankan besek, segelas air mineral pun tidak ada. Sangat berbeda jauh dengan keadaannya di Jakarta. Pengurus masjid di Jakarta mempunyai aturan wajib yang tidak tertulis bahwa warga yang diundang oleh pengurus masjid harus diberi “bekal” ketika pulang. Tidak jarang, hal itu malah membuat tujuan berubah.
*****
Cerita di atas betul-betul terjadi ketika saya sedang tinggal di rumah nenek di Krueng Mane, sebuah desa kecil di pesisir timur Nangroe Aceh Darussalam. Desa yang tidak mengenal macet. Desa tanpa polusi. Desa dengan penduduknya yang ramah. Desa yang sarat akan gotong royong. Desa dengan aturan islam yang masih dipeluk erat.
Rapat seperti ini sering dilakukan pemimpin-pemimpin di sana untuk membahas sesuatu yang perlu dibahas bersama. Bayangkan, dengan pengumuman yang sangat mendadak, bahkan diiringi nada bicara yang ketus sekalipun, pemerintahan desa Cot Seurani mampu mengumpulkan warganya dalam sekejap. Warga pun tidak merasa dirugikan karena mereka tahu itu untuk kepentingan bersama.
Dalam satu pertemuan, dengan tegas pemimpin agama menasihati warganya. Warga tidak merasa dipojokkan sama sekali. Nasihat itu seperti nasihat ayah kepada anaknya, demi kebaikan si anak. Nasihatnya tegas, tidak mengawang-awang, tidak bertele-tele, namun sangat membekas di hati warga.
Di pertemuan itu juga dibahas keamanan lingkungan, bahkan sempat membuat beberapa hukum yang menghadirkan kata sepakat dari semua warga.
Walaupun punya dua pemimpin sekaligus, tapi tidak ada konflik sedikitpun antar pemimpin itu. Mereka saling mengisi dan saling menghormati. Saya tahu, sebetulnya inti dari pertemuan itu adalah sosialisasi ronda, tapi Geuchik dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada Teuku Imum, ia mengatakan bahwa yang penting adalah mengedepankan agama, ronda hanya masalah sepele.
Mimpi besar kita bersama untuk membuat Indonesia secara agregat memiliki jiwa demokrasi yang betul-betul sesuai dengan makna demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
*Teuku Imum: pemimpin agama dalam sebuah desa. Ada dua pemimpin dalam satu desa di Aceh, keduanya selalu berjalan beriringan.
**Geuchik: pemimpin dalam garis pemerintahan, setara Kepala Desa.
Partai Hijau Belum Bergegas
Hijau. Identik dengan pohon, alam, dan uang. Kenyataannya memang alam ini sangat dekat dengan uang. Anda mengerti kan maksud saya…?
Satu ketika saya berbincang dengan seorang yang sangat senior di bidang lingkungan hidup, sebutlah namanya Pak B. Puluhan tahun dia hidup dan meneliti alam. Katanya, alam itu sangat dekat dengan politik. Statement yang paling mengejutkan adalah bahwa segala masalah, segala perang, segala pertikaian, yang ada di muka bumi ini akibat memperebutkan alam. Pihak yang bertikai memperebutkan alam ingin mengeksploitasinya demi kemakmuran golongannya. Tokoh ini menyebutkan satu demi satu contoh pertikaian besar, kemudian ia menyambungkannya dengan perebutan alam, entah itu emas, minyak, hutan, dan sebagainya. Intinya konflik yang terjadi karena perebutan alam.
Ada sebagian yang sadar dengan hal ini sedangkan sebagian besar yang lain tidak melek atau tidak mau melek. Sebagian dari yang sadar memutuskan untuk mengambil langkah konkret, membela alam. Banyak cara yang dilakukan, salah satunya bergabung dengan lembaga yang mempunyai tujuan membela alam.
Semakin banyak yang sadar kemudian semakin banyak yang berkecimpung langsung mengabdi. Selanjutnya, pemikiran bahwa perjuangan hanya dilakukan lewat lembaga saja tidaklah cukup. Perlu orang pro lingkungan yang menyisip ke dalam pengambil keputusan yang namanya pemerintah itu. Mereka berjuang dalam satu partai yang disebut sebagai Partai Hijau.
Di Jerman, pertama kalinya partai hijau muncul langsung bisa menarik hati 14% pemilih, angka yang sangat besar untuk partai baru. Menurut Pak B, partai mereka memang baru terbentuk tapi perjuangan mereka sudah lama, sudah sangat mengakar di masyarakat. Maka ketika partai hijau dengan orang-orang yang sudah mengakar ini muncul, masyarakat sudah familiar dan tidak ragu untuk mendukung partai hijau.
Bagaimana dengan di Indonesia? menurut Pak B, sudah banyak aktivis lingkungan yang menyusup ke partai, hanya saja, bukan ke satu partai. Mereka menyebar. Akibatnya, masyarakat menilainya bukan merupakan satu kekuatan yang kokoh. Atau kemungkinan kedua, para aktivis lingkungan ini belum sepenuhnya mengakar ke masyarakat.
Ada sebuah partai di Indonesia yang mengaku sebagai partai hijau. Partai ini cukup besar, sudah ada sejak pemilu 2004. Namun, menurut Pak B, mereka belum mengerti banyak tentang lingkungan hidup. Ketika ditanya, bagaimana nasib lingkungan Indonesia kemudian? Pak B menjawab, akan semakin buruk karena belum banyak yang sungguh-sungguh membela alam. Sebagian besar dari pengambil keputusan bukan tidak mau membela alam, tapi mereka tidak tahu keputusan-keputusannya ternyata berakibat buruk ke alam.
Sulit saya simpulkan, harus dimulai dari mana perubahan itu karena banyak hal yang ternyata belum masyarakat tahu tentang perlakuannya secara tidak sengaja justru merusak alam.
Sembako Murah; Lebih Cepat, Lebih Baik; Lanjutkan !
Kenapa bermain yoyo? Kenapa harus mengomentari orang yang bermain yoyo? Kenapa sampai 38? Kenapa merasa dirinya paling bersih? Kenapa harus saling silang?
Padahal, kalau M dan timnya betul-betul bisa memberikan sembako murah (walaupun ini masih kontroversi), kemudian K bisa membuatnya lebih cepat dan lebih baik (ini juga masih kontroversi), lalu S bisa melanjutkan prestasinya (lagi-lagi ini juga kontroversi), maka semua (semoga) akan berjalan ideal seperti yang digaungkan akhir-akhir ini.
Mungkin, ini cuma mungkin loh, karena sifat ke-Aku-an yang sudah luar biasa tinggi di negeri ini. Aku sudah membuktikan prestasi yang baik. Aku yakin, aku bisa bekerja lebih baik dari prestasinya. Aku merasa mereka belum pro rakyat. Aku merasa, akulah yang paling bersih. Semua serba Aku, aku, dan aku. Belum ada yang berani berbesar hati mengatakan, kamu memang hebat, seperti yang sudah terjadi di negeri kulit putih sana yang dipimpin oleh kulit hitam.
Saya rasa, kita terlalu banyak mengeluarkan energy di ke-Aku-an itu, tidak efisien, seperti mesin dua tak yang sudah lama dilarang di Jakarta, kota yang efisien itu.
Ahhh, sudahlah… Perutku sudah lapar.
Backpacking Takengon

Takengon adalah nama sebuah Kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Kalau dipetakan, Takengon terletak di tengah-tengah wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Karena letaknya yang bukan pada jalur utama jalan antarprovinsi, maka wajar saja kalau jalan menuju ke sana banyak yang rusak, dari yang hanya sompel sedikit sampai lubang yang besar sekali. Jauh lebih besar daripada kerusakan jalan di Ibukota yang sering masuk TV itu. Sayangnya, Takengon letaknya jauh dari kota besar, tidak ada masyarakat ataupun mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut perbaikan jalan. Jadi, jalan menuju Takengon tetap begitu-begitu saja.
Belum banyak yang tahu tentang keindahan Takengon. Bahkan, mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar Takengon. Pamornya masih kalah jauh dibanding Waduk Jatiluhur, Danau Singkarak, apalagi Danau Toba. Sepertinya, Takengon hanya akrab di telinga masyarakat Aceh saja, sekedar artis lokal yang belum terdengar namanya di kancah nasional.
Padahal, potensinya luar biasa. Danau Lut Tawar sudah lama menjadi icon Takengon, selain komoditas kopinya. Danau tersebut terletak tidak jauh dari kota Takengon. Dari atas kumpulan ruko 3 lantai yang ada di kota saja, danau ini sudah dapat dilihat dengan jelas. Hanya sekitar 300 meter dari jantung kota.
Di pagi hari, hawa mistis menyeruak kental sekali dari dalam danau. Air danau sangat tenang, seperti cermin datar yang memantulkan segala apa yang ada di atasnya. Kabut dengan jelas terlihat melapisi permukaan danau, sedikit demi sedikit merangkak ke atas, sampai akhirnya hilang sama sekali. Seakan, sinar matahari menyedot semua kabut itu, kemudian akan dimuntahkannya lagi di malam harinya. Sinar matahari itu dengan tersipu malu memancarkan kehidupan dari balik bukit di pinggir danau. Bukit yang berangkulan erat di setiap sudut danau, menjaga danau dengan sepenuh raga.

Untuk mendapatkan pemandangan danau Lut Tawar yang indah itu, hanya jalan darat yang bisa digunakan. Dari kota medan, ada angkutan L300 yang siap mengantarkan kita ke kota takengon. Alternative kedua, jalan darat dari Banda Aceh. Kalau ingin mengenal Aceh lebih dekat, ada baiknya kita menggunakan jalur dari Banda Aceh. Lagi-lagi, L300 yang jadi andalan. Biayanya 80 ribu. Dari Banda, akan memakan waktu sekitar 8 jam.
Selama perjalanan ini, L300 akan melakukan paling tidak dua kali pemberhentian. Sebelum pemberhentian pertama di Sare, kita akan melewati gunung Seulawah sehingga jalan akan berkelok. Cukup untuk membuat pusing. Sare adalah suatu daerah yang dulunya sepi sekali, tidak ada kehidupan manusia, kemudian pemerintah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Sare. Mayoritas transmigran bertani. Hasil pertaniannya inilah yang dijual di pinggir-pinggir jalan sehingga banyak mobil yang mampir ke Sare sekedar untuk berbelanja. Satu makanan olahan yang terkenal di tempat ini adalah keripik ubi. Bermacam jenis keripik ubi yang ditawarkan, tergantung selera.
Pemberhentian kedua adalah di kota Biereun. Tempat ini jauh lebih ramai daripada Sare. Ada satu jenis produk yang sangat tersohor se-antero Aceh, yakni Keripik Biereun. Sekali coba pasti langsung terpesona. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang membawa Keripik Biereun sebagai oleh-oleh khas Aceh. Bahan dasar keripiknya beragam, ada pisang, ubi, dan Sukun. Keripik Sukun yang mempunyai keunikan lebih dibanding teman sejawatnya. Satu kilo keripik sukun dibandrol dengan harga 50 ribu, jauh lebih tinggi dibanding keripik pisang dan ubi yang tidak lebih dari 20 ribu saja.
Terminal di Biereun bisa dikatakan yang paling padat diantara terminal lain di Aceh. Mungkin ini karena adanya angkutan BE (Biereun Express), selain bus antar kota, L300, dan labi-labi (angkutan lokal, mirip angkot).
Sepanjang perjalanan, sering sekali terlihat hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sapi-sapi di Aceh seakan tidak memiliki kandang permanen. Penduduk melepaskan begitu saja sapinya. Sehingga menjadi pemandangan yang wajar ketika ada sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat sampah pasar, ada yang berkeliaran di lapangan, bermain bersama anak-anak kecil yang sedang asik bermain bola. Sapi memang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.
Perjalanan dari Biereun menuju Takengon tidak semulus perjalanan sebelumnya. Jalan berkelok-kelok dan mendaki. Beberapa papan pengumuman menyampaikan hal yang sama, bahwa daerah itu rawan longsor ketika hujan. Pernah dulu, menurut warga Takengon, jalan satu-satunya dari Biereun ke takengon itu tertutup tanah sehingga transportasi sama sekali terputus. Penduduk harus pergi ke Medan untuk mendapatkan kebutuhannya. Sampai sekarang pun, jalan itu masih rawan akan longsor. Belum lagi, jalan tidak mulus, banyak ditemui lubang-lubang besar mematikan. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang.
Memasuki KM 40 dari Biereun (jarak Biereun-Takengon 101 KM), posisi bisa dikatakan sudah di atas gunung, pohon cemara di kanan kiri absen tanpa henti. Kadang terlihat gubuk-gubuk kecil beratapkan dedaunan kering. Atapnya cukup panjang ke bawah, kira-kira sampai setinggi bahu orang dewasa, jadi, harus menunduk untuk memasuki gubuk kecil itu. Di dalamnya tidak besar, mungkin hanya muat untuk dua orang. Sepertinya tempat ini di set untuk tempat orang pacaran.
Hati-hati berjalan menuju Takengon di malam hari, karena tidak ada lampu di puluhan kilometer jalan itu. Lampu hanya terlihat di beberapa desa yang dilewati saja. Selebihnya hutan yang tidak memiliki cahaya. Semakin masuk ke hutan, udara semakin sejuk.
Kalau beruntung, kita akan menemui penjual air aren di pinggir jalan. Penduduk sekitar yang berjualan sudah menyiapkan gelas dan sedikit tempat duduk dari potongan kayu yang dibersihkan seadanya. Satu bungkus air aren dijual dengan harga 5 ribu. Kira-kira isinya 1 liter. Segar sekali.
Mencapai Takengon, ada satu hotel yang sangat terkenal di daerah ini, Renggali namanya. Hotel ini adalah satu-satunya hotel yang ada di pinggir danau Lut Tawar. Pengelolaannya sudah cukup professional. Harganya juga ikut-ikutan professional. Untuk standard room dihargai 250 ribu, deluxe 350 ribu, dan suite 550 ribu. Indah sekali view dari hotel ini. Beberapa kamar menghadap langsung ke danau. Pantulan bulan terlihat sempurna di danau. Ada beberapa cercah cahaya yang mondar-mandir di danau pada malam hari. Kalau dilihat lebih teliti, itu adalah cahaya dari lampu nelayan sekitar yang mencari ikan khas Takengon.

Suite room di Hotel Renggali
Di pagi harinya, silakan mengejar sunrise, karena cahaya oranye bercampur kuning dan merah di langit pasti akan membuat Anda terpesona. Namun, jangan coba-coba berenang atau bermain-main air danau karena hal tersebut cukup dilarang keras. Menurut penduduk sekitar, ada Peutri Ijo, sesosok makhluk yang menjaga danau tersebut yang selalu meminta korban di setiap tahunnya. Kebanyakan korbannya adalah pendatang.
Budgeting Takengon Trip (dari Banda):
L300 Banda Aceh-Takengon 80.000
Makan 5 kali 50.000
Standard Room Hotel renggali 250.000
L300 Takengon-Banda 80.000
Total 460.000
Backpacking Sabang

Bagaimana kalau kita bisa melihat bintang laut tepat di pinggir pantai? Lengkap dengan ribuan cacing laut yang melambai-lambai seakan memberi salam sambil tersenyum dan dengan mesra mengatakan, “Selamat dating di Sabang”?
Atau snorkeling di pantai yang jernih airnya? Beberapa meter dari ombak pantai, ikut menyapa bermacam jenis ikan berwarna-warni dan juga tersenyum ratusan bulu babi. Senyum yang agak tegas tentunya.
Kalau tertarik, bisa jadi Sabang adalah pilihan yang paling tepat. Pulau ini sudah lama dijadikan icon persatuan bangsa ini. Dengan gagah, pulau ini berdiri di ujung nusa, siap menjaga pertahanan dan keamanan RI.
Untuk mencapainya, butuh sedikit perjuangan. Beberapa penerbangan di kota besar sudah ada yang langsung mencapai Banda Aceh. Kalau tidak dapat, bisa juga menggunakan pesawat sampai Medan, lalu dilanjutkan dengan bus selama 12 jam sampai di Banda. Dari Banda, untuk mencapai Sabang, hanya ada satu cara, yaitu dengan kapal very.
Kapal very yang tersedia ada dua jenis, kapal cepat dan kapal lambat. Sesuai namanya, kapal lambat bergerak lambat sehingga butuh waktu sampai 2 jam untuk sampai Sabang. Tarifnya untuk yang ekonomi 17 ribu, eksekutif 35 ribu. Saya tidak menyarankan untuk ke kelas bisnis karena penuh asap rokok dengan keadaan yang di dalam ruangan tertutup, jadi udara sesak. Lebih baik ke ekonomi sekalian karena udara laut bebas masuk, atau ke eksekutif yang memang dilarang merokok. Kapal lambat ini hanya punya satu kali keberangkatan per hari, dari Banda (Pelabuhan Ulhee-lee) menuju Sabang pukul 2 siang atau dari Sabang menuju Banda pukul 8 pagi. Berita buruknya, terkadang kapal, baik cepat maupun lambat, tidak beroprasi ketika ombak sedang tinggi.

Kapal cepat punya waktu tempuh 45 menit saja. Kapalnya lebih kecil dari kapal lambat karena yang diangkutnya juga lebih sedikit. Kapal cepat tidak menerima kapalnya disusupi mobil atau motor. Itulah perbedaan yang juga mendasar diantara dua kapal ini. Harga kapal cepat jauh lebih mahal, bahkan hamper 3 kali lipat. Untuk kelas ekonomi seharga 55 ribu, sedangkan eksekutif 80 ribu. Ada dua perjalanan setiap harinya. Dari Sabang pukul 8.30 dan 15.00, sedangkan dari Banda pukul 9.00 dan 16.00.
Berhubung sulit sekali mendapatkan kendaraan umum di Sabang, maka dianjurkan untuk menyewa motor sejak di Banda. Akan lebih puas berkeliling kalau ada kendaraan sendiri. Satu tips yang harus dipegang dalam berkeliling Sabang, kalau hendak bertanya jalan, matikanlah mesin motor lalu turun dari motor, baru kemudian bertanya. Adabnya seperti itu. Kalau tidak, bisa dicemooh masyarakat.
Sesampainya di pelabuhan Sabang (Balohan), kita bisa beristirahat sejenak dekat pelabuhan. Berderet tempat makan siap melayani kita. Saya sarankan kalau berkunjung ke Aceh, termasuk Sabang, untuk menyicipi “Mie Aceh”. Di tempat ini tidak ada embel-embel Aceh, jadi hanya “Mie” saja. Makanan ini menjadi digandrungi karena bumbu rempah yang terkandung di dalamnya sangat beragam, pastinya menggugah selera. Satu porsi Mie dengan cumi dihargai 13 ribu. Ada juga kepiting dan udang.
Tempat penginapan ada daerah kota Sabang. Atau kalau mau di cottage dekat pantai juga ada, baik di pantai Gapang ataupun pantai Iboih. Harganya bervariasi, tapi dengan uang 100 ribu, sudah bisa didapat tempat yang cukup nyaman. Ada juga persewaan satu cottage sekaligus di pantai Gapang, terdiri dari 3 kamar, harganya 300 ribu.
Sore harinya, kita bisa menikmati Sabang Fair, pantai paling indah di Sabang. Ini pantai yang paling dekat dengan kota sehingga paling ramai dikunjungi, terutama wisatawan lokal dan penduduk Sabang. Di pinggir pantai sudah dibangun semacam tembok pendek untuk menghalangi air ketika pasang. Tembok ini sering dijadikan tempat duduk-duduk yang nyaman. Pemandangan laut terhampar luas di depan. Tidak terlihat pulau apapun lagi karena itu sudah laut lepas.
Bisa dikatakan, pantai ini masih natural, belum banyak sampah. Bermacam jenis hewan terlihat di pantai, bahkan di genangan-genangan air yang tertahan karang mati sebelum pantai. Cacing laut yang paling dominan, putih seperti potongan-potongan kain yang melambai-lambai mengikuti arah air bergerak. Ada juga teripang berwarna hitam yang kalau digoda sedikit maka dia akan meludah. Ludahnya berwarna biru, menarik di mata, tapi hati-hati dengan efeknya. Bintang laut seakan tak mau kalah. Ia ikut meramaikan pantai di Sabang Fair. Beberapa ikan warna-warni diam-diam ikut mengintip di balik batu karang.

Matahari hamper menuju ke peraduannya. Inilah saat-saat terindah Sabang Fair. Sunset jelas terlihat. Kalau tidak ada awan yang mengganggu, sunset akan semakin indah dipandang mata.
Snorkeling bagus dilakukan di pantai Gapang atau Iboih. Di dekat pantai, ada tempat persewaan alat-alat snorkel, diving, dan sebagainya. Untuk alat snorkel lengkap dengan life jacket dan kaki katak, dihargai 45 ribu per hari. Pilihlah kaki katak yang betul-betul pas agar tidak lepas ketika dipakai.
Snorkeling di Iboih harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, karena bulu babi banyak sekali tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, selain rasa perih, kulit juga akan membengkak. Kalau memang terkena bulu babi, cara paling mudah adalah siramlah bagian yang terkena bulu babi dengan air seni.
Namun, bulu babi bukanlah halangan untuk berhenti snorkeling. Bermacam jenis ikan ada di Iboih. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan gerombolan ikan yang sedang bermain sampai ke pinggir pantai. Karang-karang yang beru tumbuh berwarna-warni menghiasi dataran pantai Iboih. Ada kuda laut yang dengan tanpa daya mengikuti ombak, terombang-ambing tanpa arah yang jelas.
Kalau kita agak ke tengah, variasi biota laut akan semakin beragam. Jenis ikan besar mulai tampak. Tapi hati-hati, arus semakin ke tengah semakin deras. Bisa-bisa dalam dua hari kita tersesat sampai Madagaskar (pernah ada kejadian ini).
Di seberang sana, ada pulau Rubiah, tanpa penghuni. Pulau ini sering dijadikan target kunjungan wisatawan karena snorkeling di salah satu bagian pulau ini cukup menyenangkan.
Untuk mencapainya, bisa menggunakan jasa kapal seberang dengan harga 200 ribu per kapal yang bisa diisi sampai 5 orang. Di dalam kapal seberang itu, ada kaca yang di bagian bawah yang memberikan kesempatan pengunjung melihat biota bawah laut dari atas kapal. Indah.
Sebetulnya jarak ke Rubiah tidak jauh, mungkin sekitar 100 meter saja. Berenang pun jadi. Hanya saja, untuk menuju ke sana, harus melewati palung yang cukup dalam. menurut penduduk sekitar, terkadang dari palung itu keluar anak hiu. Walau demikian, tidak pernah ada cerita pengunjung Iboih diserang hiu.
Cara alternative lain mencapai Rubiah adalah dengan Kano kecil yang bisa disewa seharga 50 ribu per hari. Dibutuhkan keseimbangan dan sedikit latihan terlebih dahulu sebelum menyebrang menggunakan kano.

Kenikmatan snorkeling di Sabang sulit diungkapkan dengan kata. Yang jelas, membuat pengunjungnya ketagihan untuk snorkeling lagi di lain waktu.
Karena sudah jauh sampai ke Iboih, ada baiknya berkunjung juga ke tugu kilometer nol, sekitar 10 km dari Iboih. Perlu kesabaran karena jalannya banyak yang rusak dan berbatu sehingga rawan terpeleset. Melewati belantara hutan yang masih dipenuhi kera dan babi.

Tidak ada yang special di tugu ini. Hanya bangunan biasa saja. Tapi dari tempat itu, bisa jelas terlihat sunset tepat di ujung laut.
Secara umum, bisa dikatakan bahwa dunia pariwisata di Sabang sangat potensial. Namun, butuh keseriusan untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan tempat penginapan. Terutama jalan menuju Gapang, Iboih, dan tugu kilometer nol.
Semoga bermanfaat…=)
Cost:
Sewa motor 2 hari 200.000
Kapal lambat Banda Aceh-Sabang PP 34.000
Seberangkan motor PP 34.000
Makan 6 x 100.000
Penginapan 2 malam 200.000
Sewa alat snorkel 45.000
Bensin 30.000
TOTAL 643.000
Backpacking Kediri – Malang

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri
Jauh sebelum wisuda Oktober 2008 lalu, saya sudah bertekad ingin liburan habis-habisan. Wajar saja, dari awal masuk IPB sudah ada matrikulasi. Tahun depannya semester pendek, lalu praktek lapang, disambung penelitian. Jadi, waktu liburan panjang tidak pernah diisi dengan agenda berlibur. Inilah saatnya pembalasan.
Tadinya saya dan beberapa teman dari SEI (salah satu jurusan di IPB) berniat ke Bali dan sekitarnya. Rencana sudah matang, tiba-tiba sebagian besar mundur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mungkin meliburkan diri selama 10 hari. Di saat kekecewaan itu, Yossy, salah satu senior saya menceritakan tentang aktivitasnya di Kampung Bahasa, Pare, sebuah Kecamatan di Kediri. Tempat ini adalah sentra kursus Bahasa Inggris termurah di Indonesia.
Setelah chating dengan Yossy, saya langsung plot waktu untuk liburan dan meminta izin bos. Disetujui, dua minggu. Sambil saya menunggu waktu liburan itu, saya mencari beberapa cerita tentang kampung bahasa dan beberapa kawasan wisata di Jawa Timur. Bromo menjadi incaran utama yang masuk dalam rencana liburan.
Saya berangkat naik bus Lorena dari Rawa Mangun langsung ke Kediri. Kalau sesuai rencana, bus berangkat pukul 3 sore dan sampai pukul 6 pagi keesokan harinya. Tapi karena ketika itu sedang musim liburan tahun baru, maka kejadianlah bus itu baru berangkat pukul 7 malam, sampainya di Kediri pukul 4 sore. Sehari semalam di bus mengutuki ketidaknyamanan menggunakan Lorena. Mulai dari waktu datang bus yang terlambat sampai supir bus yang merokok. Mengecewakan.
Namun, ada juga hikmahnya. Saya jadi bisa mendapatkan pemandangan bagus dari pagi sampai sore. Satu jam sebelum Ngawi, di kanan kiri jalan terhampar sawah sampai ujung mata memandang. Ke luar Ngawi menuju Madiun juga demikian, keluar Madiun juga masih sawah yang berkuasa. Lebih susah mencari orang daripada sawah. Seperhatian saya, ada 3 tanaman utama: padi, jagung, dan tebu. Ternyata benar kata buku-buku IPS zaman SD dulu, Indonesia adalah negara agraris.
Sampai di terminal Kediri. Menurut berbagai narasumber, saya harus mencari bus Puspa Indah yang menuju Malang turun di BEC, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Bahasa. Yossy dan Iffan yang menjemput. Iffan baru saya kenal di Pare. Dia menjadi kawan sekamar saya selama di Kampung Bahasa. Hampir setiap malam kami bertiga hunting makanan di daerah Pare. Terkadang beberapa rekan seatap Yossy ikut hunting. Hunting dengan sepeda yang kebanyakan dari kami menyewanya dari bengkel sepeda. Sepeda masih sangat “in” di daerah ini.
Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial dengan makanan Pare. Perbedaan yang paling mendasar adalah harga, di Pare harga makanan sangat murah. Oya, ada satu lagi keunikan. Di Pare menjamur warung nasi pecel. Kalau di Bogor atau Jakarta kebanyakan warung menawarkan pecelnya saja. Kalau di Pare dan kebanyakan tempat di Jawa Timur, pecel tersebut langsung dicampur dengan nasi. Ditambah kerupuk peyek. Standar harganya Rp2.000/porsi.
Variasi makanan lebih terlihat di alun-alun Pare. Harganya juga lebih tinggi daripada di kampung Bahasa. Untuk mencapai alun-alun, perlu waktu sekitar 10 menit bersepeda dari kos saya di Kampung Bahasa. Alun-alun di Pare ini unik, tumben-tumbenan ada alun-alun di tingkat Kecamatan. Biasanya alun-alun ada di kabupaten. Mungkin ini menjadi salah satu indikator majunya Kecamatan Pare. Pernah satu malam minggu saya main ke alun-alun. Ramainya luar biasa. Malam minggu di alun-alun bukan hanya untuk anak muda, tapi banyak juga orang tua yang membawa anak-anak kecilnya menghabiskan malam di alun-alun. Pedagang bertaburan di malam minggu. Makanan yang membuat saya geli adalah sate bekicot. Banyak yang menjajakan sate bekicot. Mungkin karena banyak persawahan di sini sehingga banyak juga bekicot. Selain pedagang, ada juga jasa rekreasi mobil-mobilan mirip bom bom car untuk anak kecil. Berkelap kelip lampu mobil itu menambah semarak malam minggu alun-alun.
Garuda Park terkadang dijadikan masyarakat sebagai tempat kumpul-kumpul. Garuda Park seperti taman, tapi mini sekali. Patung Garuda kokoh berdiri di atas tugu. Mirip dengan tugu Tani tapi patung Pak taninya diganti dengan Garuda. Di bawah tugu itu, ada taman mini sekali. Inilah yang disebut Garuda Park, atau masyarakat sering menyebutnya GP.
Menurut dinas pariwisata Kediri lewat websitenya, ada dua buah wisata Candi di Pare, yaitu Tegowangi dan Surowono. Saya ikutilah saran dari Dinas pariwisata.
Lagi-lagi dengan bersepeda, saya menuju Candi Tegowangi. Yossy tahu tempatnya, jadi tidak perlu ada acara nyasar. Dua puluh menit sudah sampai. Perjalanan melewati jalan kampung yang jarang ada penduduk berseliweran. Sawah-sawah terhampar di kanan kiri. Beberapa kali saya melihat ada peternakan lebah mini di halaman-halaman rumah warga. Lebah tidak bersarang di pohon tetapi di kotak-kotak seukuran kotak suara pemilu.

Candi Tegowangi tampak samping
Agak kecewa dengan Candi Tegowangi. Jauh sekali dengan keadaan Prambanan atau Borobudur (hanya kedua candi ini yang pernah saya kunjungi). Ukurannya hanya sekitar 10×10 meter. Mungkin kurang. Tingginya hanya sekitar 3 meter. Tidak ada yang berkunjung ke situ kecuali kami. Tidak ada tarif masuk. Semua sangat seadanya di Candi Tegowangi. Bahkan tidak tampak satu pedagang pun di sekitar candi. Di sekeliling candi ada taman mini yang cukup dirawat. Hanya itu poin plusnya.
Setali tiga uang dengan Candi Surowono. Bedanya, candi Surowono punya petugas yang menjaga pintu masuk. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu lalu dimintai sumbangan seikhlasnya. Saya member 2.000 rupiah, awalnya saya rasa uang sejumlah itu kurang, tapi setelah berkunjung ke Goa dan pemandian Surowono, sepertinya 2.000 untuk hanya melihat-lihat candi kecil itu dirasa berlebih. Taman di Candi Surowono sedikit lebih luas dari taman Tegowangi. Letaknya tepat di pinggir jalan. Menuju ke sana butuh 30 menit bersepeda melewati jalan raya dengan aktivitas yang lumayan padat. Ketika saya berkunjung ke sana, ada dua orang pengunjung lain, ada juga seorang pedagang yang menjajakan lemang. Yah, bisa dibilang candi Surowono satu level lebih maju dari Tegowangi.
Tidak jauh dari Candi Surowono, ada pemandian Surowono dan Goa Surowono. Pemandian di sini bukan pemandian air panas seperti yang saya bayangkan, tapi kolam renang. Ada dua buah kolam renang di dalamnya. Yang besar dan kecil. Yang besar dalamnya sekitar 160 cm sedangkan yang kecil hanya sebatas lutut orang dewasa. Cukup ramai peminat pemandian ini. Airnya juga cukup bersih. Biaya masuknya murah sekali, hanya Rp1.500. Di sekeliling kolam ada kios-kios kecil yang menjajakan bermacam penganan.
Goa Surowono punya tarif masuk yang lebih murah lagi, hanya Rp500. Jangan dibayangkan Goa yang dimaksud terawat dan besar, tidak. Goa berada di bawah tanah rumah-rumah warga Surowono. Mungkin zaman dahulu, Goa ini dijadikan tempat persembunyian atau jalan tikus. Untuk masuk ke Goa, kita perlu turun dulu lewat semacam kubangan kecil. Sepanjang Goa, air tidak henti-hentinya mengalir. Suasana gelap sekali sehingga tidak mungkin kalau tidak membawa senter.
Tak lupa saya juga berkunjung ke Gunung Kelud, wisata andalan Kabupaten Kediri. Saya ikut trip yang ditawarkan dari sebuah kursusan di Kampung Bahasa. Biayanya hanya 20 ribu, sudah termasuk transport, makan siang, snack, dan tiket masuk. Saya juga bingung bagaimana bisa semurah itu. Kami berangkat naik truk. Perjalanan tepat 1,5 jam dari Kampung Bahasa. Sejak pintu masuk, truk harus melewati pendakian yang cukup melelahkan selama 10 menit. Sampai di satu titik dimana truk benar-benar tidak bisa lewat lagi. Dari titik itu, kami harus berjalan sekitar 1,5 kilometer untuk menuju rest area. Perjalanan 1,5 km itu butuh energi ekstra. Walaupun jalanan sudah diaspal dengan baik, tapi bentuknya berupa tanjakan terus-menerus.
Mencapai rest area, kita bisa beristirahat. Banyak kios yang menjajakan makanan. Kalau ingin menguji adrenalin, ada sarana Flying Fox seharga 15 ribu sekali aksi. Pemandangan dari rest area lumayan bagus. Hijau semua di bawah sana. Karakter hijaunya berbeda-beda, tergantung seberapa besar intensitas matahari memolesnya. Kediri terlihat cukup jelas dari atas sini.
Butuh berjalan sekitar 15 menit lagi untuk mencapai terowongan tanpa cahaya. Terowongan ini adalah jalan satu-satunya menuju anak Kelud. Panjang terowongan sekitar 100 meter dengan tinggi hanya dua meter lebih sedikit. Masuk beberapa langkah saja, gulita sudah melanda. Bingkai kacamata saya pun tak terlihat, apalagi teman di sebelah. Patokan satu-satunya adalah sedikit cahaya di ujung terowongan yang semakin dekat akan semakin terang cahayanya. Terowongan cukup terawat. Tidak berbau. Permukaannya rata, tidak ada batu-batuan, jadi tidak perlu takut tersandung.
Setelah lewat terowongan, kita harus menuruni tangga cukup panjang untuk menemukan anak Kelud. Menurut berbagai literature, anak Kelud ini merupakan keistimewaan Kelud. Tapi bagi saya, itu bukanlah apa-apa, hanya onggokan besar batu yang masih berasap-asap.
Bosan dengan anak Kelud, saya menuju aliran air panas dekat rest area. Bagi saya, inilah bagian paling menyenangkan sekaligus melelahkan dari Kelud. Kita harus menuruni tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. Tangga yang saya maksud bukan sembarang tangga. Tangga yang tidak bisa kita lihat ujungnya, kita hanya bisa melihat anak tangga yang paling jauh. Ketika kita telah mencapai anak tangga terjauh itu, mata kita masih belum bisa menemukan ujungnya. Terulang sampai beberapa kali, baru sungai mulai terlihat.
Asap mengepul dari sungai itu membentuk gerombolan kabut. Ada dua asal aliran sebelum bertemu di satu titik. Aliran pertama airnya dingin seperti layaknya air gunung. Aliran kedua luar biasa panas. Dari aliran kedua inilah gerombolan kabut tadi berasal. Saya sempat bermain di titik tempat percampuran kedua aliran itu. Walaupun sudah bercampur, tetap dibutuhkan kehati-hatian karena di bagian tertentu airnya masih lebih dari 80 derajat, belum tercampur dengan rata. Tidak ada pengunjung yang berani mencelupkan kakinya di aliran kedua, bisa jadi suhunya mendekati 100 derajat. Bisa benjol kaki dibuatnya.
Untuk kembali, dibutuhkan perjuangan yang lebih besar lagi, tangga tanpa batas tadi harus dilewati kembali, bedanya, kali ini mendaki. Tidak kurang dari tiga kali saya beristirahat sebelum sampai di pangkal tangga. Dari pangkal tangga, kembali harus berjalan sampai rest area, lalu berjalan lagi 1,5 km menuruni jalan aspal sampai ke truk. Sungguh melelahkan.

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih
Secara keseluruhan, menurut saya Kelud biasa saja. Lebih banyak perjalanan melelahkannya daripada kenikmatan pemandangan.
Merasa sudah menggagahi seluruh pelosok Kediri, saya berangkat ke Malang. Kota ini lebih ramai dari Kediri. Mungkin karena banyak universitas yang ada di dalamnya. Mungkin juga karena percepatan pembangunan kota ini lebih tinggi daripada Kediri.
Beruntung saya punya teman SMA yang kuliah di Unbraw, Arya. Dia dengan baiknya menjemput saya di depan kampusnya, lumayan, transport dan akomodasi gratis. Malam itu juga, kami langsung mempersiapkan segala hal untuk perjalanan menuju Bromo. Keesokan paginya, dari rumah Cak Nu, pemilik persewaan truk dan Jeep, kami memulai perjalanan menuju Cemoro Lawang. Lalu di hari berikutnya, saya sudah bisa mencoret target utama perjalanan saya itu. Bromo sangat menyenangkan.
Sekembalinya dari Bromo, Arya langsung mengajak makan di Ikana, sebuah tempat makan yang sangat laris di Malang. Tempatnya sederhana. Makanannya yang luar biasa. Pengunjung rela menunggu 30 – 60 menit untuk dapat mencicipi makanan di sini. Jarang terlihat kursi kosong. Hati-hati dengan pemesanan. Satu porsi di Ikana tidak sama dengan satu porsi di tempat makan lain. Bisa 3 kali lipat lebih banyak. ikana memang di-set untuk pengunjung rombongan. Menurut cerita Arya, di Ikana hanya ada satu kompor. Si pemilik juga berfungsi sebagai koki. Hanya dia yang tahu betul resep makanan Ikana. Karena itulah butuh kesabaran berlebih kalau mau makan di Ikana.
Malang terkenal dengan Apel Malang, terkenal juga dengan agrowisata petik apelnya. Kusuma Agro adalah yang terbesar dalam agrowisata ini. Tidak ada angkutan umum yang mencapai Kusuma. Tapi kita bisa naik ojeg dari terminal Batu sampai di depan tempat penjualan tiket wisata. Tarif ojegnya Rp5.000. Ratusan orang setiap harinya berkunjung ke kebun apel Kusuma. Setelah membeli tiket yang kurang dari 50 ribu (tergantung paket), kita diajak untuk berkeliling kebun sambil diberikan bermacam informasi. Sampai di kebun, kita dipersilakan untuk memetik dua buah apel. Memetiknya harus sesuai dengan yang diajarkan petugas, diputar sampai putus, bukan ditarik. Dari kebun apel ini, gunung Pandarman dan Gunung Arjuna gagah berdiri di ujung sana. Indah.
Saya penasaran dengan Jatim Park yang menjadi rekomendasi kuat dari teman saya. Tempatnya tidak jauh dari Kusuma Agro, tinggal naik ojeg seharga Rp5.000. Ada bermacam wahana di dalam Jatim Park. Bisa dibilang mirip Dufan mini. Ada jet coaster, bom bom car, dsb. Tapi semua wahana itu tidak ada yang membuat jantung saya berdetak lebih cepat, terlalu biasa. Hanya satu yang menurut saya seru, yaitu rumah hantu. Tidak berani saya masuk sendiri ke dalamnya.
Tiga jam cukup bagi saya untuk mengitari seluruh wahana yang ada di Jatim Park, termasuk bird park dan reptile park. Mungkin ini karena hampir semua wahana tidak perlu mengantri. Kontras dengan dufan yang rata-rata wahana perlu 1 jam antrian.
Demikian beberapa alternatif tempat yang bisa dijadikan referensi hiburan pembaca sekalian ketika berkunjung ke Kediri dan Malang. Semoga bermanfaat…=)
Destination:
1. Kampung Bahasa
2. Alun-alun Pare
3. Garuda Park
4. Puluhan tempat makan di Pare
5. Candi Tegowangi
6. Candi Surowono
7. Pemandian Surowono
8. Goa Surowono
9. Menara masjid tertinggi di Kediri
10. Gunung Kelud
11. Kosan Arya
12. Matos (Malang Town Square)
13. Rumah Cak Nu
14. Cemoro Lawang
15. Bantengan
16. Pananjakan
17. Bromo
18. Ikana (tempat makan)
19. Kusuma Agrowisata
20. Jatim Park
21. MOG (Mal Olympic Garden)
22. Rumah Dian
23. Pameran Foto di Perpus Pusat Malang
Cost:
Bus Lorena Jakarta – Kediri 215.000
Makan+wisata Kuliner 328.000
Bromo Trip 478.000
Kelud Trip 20.000
Transpor dalam kota 69.000
Kosan 2 minggu 70.000
Biaya sewa sepeda 2 minggu 20.000
Program di Kampung Bahasa 44.000
Buku Program 35.000
Masuk Jatim Park 30.000
Kereta Bisnis Bangunkarta 150.000
TOTAL 1.459.000
Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap
Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?
Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.
Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.
Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.
Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.
Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.
Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.
Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.
Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.
Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!
Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.
Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.
Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.
Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!
Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.
Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo
Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.
Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo
Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.
Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.
Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.
Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.
Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.
Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.
Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.
Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.
Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.
Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.
Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.
Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.
Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.
Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.
Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.
Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.
Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.
Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.
Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.
Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.
Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.
Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)
Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta
Kereta Jakarta – Malang 55.000
Stasiun – Arjosari 2.500
Arjosari – Gang Cak Nu 4.000
Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000
Biaya nebeng truk 25.000
Hotel 50.000
Kupluk + sarung tangan + syal 18.000
Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000
Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000
Probolinggo – Malang 14.000
Arjosari – Stasiun 2.500
Malang – Jakarta 55.000
Makan 10 x 7000 70.000
TOTAL 392.000
Kampung Bahasa; Sentra Kursus Bahasa Inggris Termurah di Indonesia

situasi belajar di salah satu kursusan
Lokasi tepatnya adalah di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya berani katakan kalau di sini adalah pusat kursus Bahasa Inggris termurah dan terbesar di Indonesia.
Bayangkan saja, satu program intensif setiap hari selama 1 bulan dengan pertemuan selama 1,5 jam dihargai kurang dari 100 ribu. Kontras dengan EF yang bahkan mencapai 1 juta/bulan untuk pertemuan yang hanya 3 kali seminggu.
Namun, memang tempat belajar mengajarnya sederhana. Ada yang di dalam ruangan yang dibentuk dari batako tanpa semen dan cat, lalu duduk di kursi kayu. Ada juga di ruangan bersih tapi duduk lesehan. Bahkan ada yang di luar ruangan dengan memanfaatkan gazebo seadanya. Sederhana, namun saya rasa tidak mengurangi makna sedikitpun.
Kemudian saya katakan terbesar karena ada sekitar 30 lembaga kursus bahasa dengan kelebihannya masing-masing. Ada yang terkenal dengan program speakingnya (Dafodiles dan Webster), ada yang jago di grammer (Smart), ada yang punya program khusus TOEFL (Elfast), ada juga yang mempunyai ujian langsung ngobrol dengan turis asing di Bali (Harfard), dan sebagainya. Pilihan tergantung tujuan kita apa.
Ratusan, mungkin ribuan, orang yang sengaja datang ke Pare hanya untuk kursus. Asalnya ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Lampung, NTB, Bandung, dsb. Anak Jakarta juga banyak. Ketiga teman sekamar saya kebetulan semuanya dari Jakarta. Beruntung bagi saya, karena jadi tidak terlalu kaget menghadapi budaya yang baru. Analisis singkat saya, sebagian besar yang kursus di Pare adalah siswa yang baru lulus SMA atau mahasiswa yang juga baru lulus. Dua orang teman sekamar saya baru lulus UNJ dan Unpad. Satu orang lagi baru lulus SMA.
Tidak sulit juga menemui Sarjana Sastra Inggris yang kursus di sini. Salah satu teman saya lulusan sastra Inggris dari salah satu kampus swasta terkemuka mengaku pelajaran grammer di sini dalam sekali, banyak yang tidak didapatnya di kampus. Saya pun mengakui, pengajar-pengajar di sini sudah sangat expert untuk grammer.
Layaknya pusat-pusat pembelajaran di tempat lain, Kampung Bahasa juga menumbuhkan berbagai aktivitas perekonomian di Pare. Banyak tempat-tempat kos yang ditawarkan. Ada dua jenis tempat kos, English Area (EA) dan bukan EA. Kalau yang bukan EA, penghuni tempat kos hanya diberi fasilitas tempat tinggal saja. Sedangkan di EA, ada tambahan program yang ditawarkan untuk memperlancar belajar Bahasa Inggris. Ada macam-macam program yang ditawarkan EA. Program dasar adalah wajib berbahasa Ingris di lingkungan kos. Oleh karenanya, kebanyakan penghuni baru langsung mengidap penyakit gagu akut. Kemudian ada beberapa program tambahan lagi, tergantung tempatnya.
Saya hanya bisa mencontohkan satu EA, yaitu Access. Saya tinggal di Access 4 selama 2 minggu. Biayanya 175 ribu/bulan. Dengan uang sejumlah itu, kita sudah diberi fasilitas akomodasi sekaligus 3 program tambahan. Pertama, pk 5.00 – 6.30 adalah latihan membaca expression kemudian menghapalnya. Ada sekitar 10 expression setiap harinya. Ini sangat penting untuk membantu percakapan sehari-hari. Kedua, pk 16.00 – 17.30 ada kelas Pronounciation dengan logat Amrik. Di sinilah kelebihan Access, pronounce-nya bagus. Lalu, program yang terakhir, pk 18.30 – 20.00, kita diajak berdiskusi, berdepat, presentasi, nonton, dsb untuk mengaplikasikan Bahasa Inggris kita.
Memang akomodasi yang diberikan sederhana. Jangan harap di Kampung Bahasa bisa mendapat kamar kos ber-AC. Mencari kamar yang satu kamar untuk satu orang saja sulit. Kamar saya di Access diisi 4 orang dengan kasur kapuk tanpa dipan dan lemari. Tapi bagi saya fasilitas tersebut cukup nyaman dan manusiawi. Bisa saya katakan, Access tempat saya tingal ini termasuk yang premium, malah bisa jadi yang paling mahal. Tapi Access sering menjadi rekomendasi banyak orang karena memang bagus. Saya pernah dengar cerita, di daerah ini ada yang menawarkan kos (bukan EA) dengan biaya sewa 35 ribu/bulan. Tapi ini jarang-jarang. Kalau saya ambil rata-rata, kos bukan EA di Pare sebesar 75 ribu/bulan.
Program di asrama (EA) sengaja di-set subuh dan sore ke atas supaya pada jam kerja penghuni bisa ikut kursus lagi di luar sesuai tujuannya.
Tempat kursus kebanyakan tidak jauh dari kosan. Sangat mungkin untuk jalan kaki. Tapi sebagian besar memilih sepeda sebagai alat transportasi. Ya, sepeda, ini yang unik. Pertama kali sampai di terminal Kediri, saya terbengong-bengong melihat pemuda usia SMA memakai baju koko, sarung, lengkap dengan pecinya, ber-ontel ria di jalan. Tapi itu sudah biasa bagi masyarakat daerah itu.
Saking “in” nya sepeda, banyak bermunculan tempat penyewaan sepeda. Harganya sekitar 40 ribu/bulan. Bermacam pilihan sepeda yang ditawarkan, tapi kebanyakan sepeda tua. Kalau berniat kursus lebih dari 3 bulan, saya sarankan untuk membeli saja, jangan menyewa. Harga sepeda-sepeda second berkisar antara 100 – 300 ribu. Setelah kursus, sepeda itu bisa dijual lagi ke bengkel sepeda.

sepeda menjadi alat transportasi utama bagi anak kursusan
Masalah makanan, lebih mudah lagi. Makanan di sini murah. Sepiring nasi dengan ayam lengkap dengan sayurnya dihargai 4500. Nasi dengan telur dan sayur dihargai 3000. Yang lain mungkin bisa diprediksi sendiri. Budget makan 10 ribu/hari saya rasa cukup.
Untuk hiburan, memang sulit didapatkan di Pare. Kebanyakan dari kami harus pergi dulu ke malang (perjalanan 2 jam) untuk bisa mendapatkan hiburan. Kalau tidak ada program di siang hari, mati gaya rasanya. Mau keluar, rasanya panas betul, mau belajar sudah bosan, mau tidur pun sulit karena panas. Jadi, saya sarankan untuk membawa laptop, kalau bisa yang sudah dilengkapi dengan modem. Atau, bawa apa saja yang bisa membuat terhibur.
Berikut saya coba buat rancangan budget untuk belajar Bahasa Inggris di Pare. Dari perjalanan berangkat dari Jakarta dengan keadaan tidak PD berbicara English dan payah dalam menulis sampai tiga bulan kemudian pulang dengan PD berbicara Bahasa Inggris dan yakin akan grammer yang dibuat dalam karangannya.
Perjalanan dari Jakarta bisa naik Kereta sampai Jombang (kereta Bangunkarta), bisa juga dengan Bis sampai di Kediri. Harga kereta Bangunkarta Eksekutif 180 ribu, Bangunkarta bisnis 130 ribu, ekonomi kurang dari 50 ribu. Harga bis Eksekutif Lorena 215 ribu, tapi itu saya beli di akhir tahun, ketika harga sedang naik, kalau hari biasa bisa lebih murah lagi. Dari terminal Kediri, naik bis Puspa Indah jurusan Kediri-Malang, turun di BEC (tempat kursus paling tua di Pare) atau turun di GP (Garuda Park), kemudian naik becak sampai kosan yang diinginkan. Becak dari GP maksimal 5 ribu. Tawar dulu sebelum naik.
Saran saya, di bulan pertama, santai saja dulu, lihat situasi, perluas pergaulan, cari informasi. Masuk ke EA kemudian ambil program speaking dari Daffodiles untuk membangun keberanian berbicara Bahasa Inggris. Di akhir bulan pertama, kita bisa refreshing dengan mengikuti paket wisata ke Bali seharga 200 ribu. Ada sekitar 10 tujuan wisata terkenal sudah masuk dalam paket itu. Jangan heran dengan harganya. Di pare 100 rupiah juga masih berharga.
Di bulan ke-2 dan 3, coba pindah ke tempat yang bukan EA, kemudian ikuti program Planet English dari kursusan Kresna selama 7 minggu dengan biaya 190 ribu. Dalam program ini ada 5 pertemuan setiap harinya, tersebar dari pk 5.30 sampai pk 20.30. masing-masing pertemuan lamanya 1,5 jam. Perhitungan saya, total semua itu menghabiskan 2.430.000. Namun, Anda masih bisa irit sampai kurang dari 2 juta dengan mengurangi biaya transpor dan meniadakan jalan-jalan ke Bali. Saya jamin, sekembalinya, Anda akan merasa jauh lebih baik dalam berbahasa Inggris…
Semoga bermanfaat…=)
Budgeting kursus di Pare 3 bulan dari Jakarta
Lorena Eksekutif Jkt(Rw. Mangun) – Kediri 215.000
Kediri – kosan 10.000
Beli sepeda 100.000
Makan 3 bulan 1.000.000
Pulsa 3 bulan 150.000
Program speaking di Dafodiles 100.000
Wisata ke Bali 200.000
Program Planet English di Kresna 190.000
Kos di English Area Access (1 bulan) 175.000
Kos di bukan EA (2 bulan) 150.000
Kosan – Jombang 10.000
Kereta bisnis Bangunkarta 130.000
TOTAL 2.430.000
Mahasiswa Tersenyum Lebar Akibat Penurunan Tarif
Ketika ditanya tentang total pengeluaran untuk komunikasi selulernya jika dibandingkan dengan sebelum terjadinya penurunan tarif, 43% mahasiswa menjawab tetap, 32% berkurang, dan 25% justru bertambah.

Survey dilakukan melalui polling yang disebarkan ke 100 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), kampus yang terkenal dengan keberagaman mahasiswanya, baik asal daerah maupun tingkat sosial ekonominya. Mahasiswa adalah satu golongan kecil masyarakat yang bisa dikatakan melek terhadap dunia informasi dan komunikasi. Jadi, bisa dikatakan mahasiswa cukup mewakili golongan yang responsif terhadap pergolakan dunia komunikasi.
Sebagian besar (75%) mahasiswa merasakan adanya efek penurunan tarif. Walaupun sudah sedemikian besarnya promosi penurunan tarif berbagai operator seluler, termasuk provider kakap, tetap saja seperempat mahasiswa tidak merasakan efek penurunan tarif tersebut.

Walaupun penurunan tarif cukup dirasakan mahasiswa, tapi hanya 32% mahasiswa yang total pengeluarannya berkurang untuk pos komunikasi. Sisanya menganggarkan biaya yang tetap atau bahkan bertambah. Kenyataan ini mengindikasikan semakin banyaknya penggunaan telepon seluler karena tarif turun sedangkan pengeluaran tetap atau bertambah.
Mahasiswa yang mengaku pengeluarannya berkurang pun menyatakan bahwa hubungan sosial mereka tidak dikurangi. Tarif yang turunlah yang menyebabkan pengeluaran mereka berkurang namun dengan intensitas pemakaian tetap atau lebih banyak. Hanya 6% mahasiswa yang mengatakan hubungan sosial lewat telepon selulernya berkurang.
Bisa dikatakan, hubungan sosial mahasiswa semakin tinggi akibat turunnya tarif telepon seluler. Hubungan sosial tersebut bisa ke sesama temannya bisa juga ke keluarga, mengingat sebagian besar mahasiswa IPB merupakan mahasiswa rantau. Tentunya mahasiswa tersenyum semakin lebar dengan adanya penurunan tarif tersebut.

Pos pengeluaran komunikasi mereka sebelum kenaikan tarif terkonsentrasi pada kisaran Rp25.000 – Rp50.000 per bulan. Keadaannya masih sama ketika tarif sudah diturunkan. Jadi, kalau dilihat dari sisi ekonomi mahasiswa, turunnya tarif tidak berpengaruh terhadap kantong mereka.
Namun, bisa jadi, dengan semakin meningkatnya hubungan sosial lewat telepon seluler, mahasiswa bisa menghemat pos-pos lain. Kerinduan akan kampung halaman bisa digantikan dengan saling menelepon dibarengi dengan mencoret anggaran transportasi untuk pulang.


Yang termurah belum tentu menjadi pemenangnya. Mungkin karena perbedaan tarif murah tersebut tidak terlalu lebar, maka sebagian mahasiswa enggan untuk mengganti providernya. Walaupun lingkungannya sudah sepakat untuk mengunakan satu jenis provider, tapi 68% mahasiswa memilih untuk tidak bergeming, tetap dengan nomor yang lama.

Backpacking Jogja-Bandung

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja
Backpacking kali ini punya misi khusus, memburu berita. Tapi tentu saja bisa diselingi dengan jalan-jalan ke berbagai tempat yang memungkinkan.
Ada beberapa alternative cara untuk menuju Jogja dari Bogor atau Jakarta, bisa dengan bis atau kereta api. Tapi saya memilih travel karena dirasa lebih praktis. Harga juga bervariasi. Jika betul-betul miskin, kita bisa mengunakan kereta ekonomi dari Jakarta. Setahun yang lalu, kawan saya hanya membayar 37 ribu, mungkin sekarang sudah naik, tapi tidak akan lewat dari 50 ribu. Yang jelas ini jauh lebih murah daripada travel yang bisa lebih mahal tiga kali lipatnya. Perlu waktu 10 jam untuk mencapai Jogja dengan travel. Ada snack dan minuman yang disediakan dari travel, tapi bukan makan malam.
Enaknya, di Jogja ada trans Jogja yang mempunyai rute di dalam kota Jogja. Keberadaannya sangat membantu bagi orang yang belum paham Jogja. Pegawai yang menjaganya pun ramah. Kita bisa bertanya sampai puas tanpa takut dibohongi. Cukup dengan 3 ribu, kita bisa mengelilingi Jogja, asalkan tidak turun dari halte.
Mind set kiri kanan harus diubah ketika sampai di Jogja. Navigasi otak kita harus jalan karena kebiasaan orang Jogja memberitahu arah dengan arah mata angin. Misalnya, ketika ditanya rumah Pak Soleh yang rajin mengaji itu di mana? Masyarakat menjawab, dari sini ke Utara sampai ketemu restoran padang Salero Bundo yang menghadap ke Barat. Masuk terus ke timur sekitar 200 meter maka Bapak akan ketemu rumah Pak Soleh yang menghadap ke Utara dengan pintu utama di Barat. Nah loh, puyeng gak tuh??
Makanan di Jogja bisa dibilang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Asal tidak menampakkan kewisatawanan kita, apalagi di Malioboro, maka kita akan aman dari mark up yang tidak berprikemanusiaan itu. Lebih aman kalau kita bertanya dulu harga makanan sebelum dengan sukses menghabiskan sepiring gudeg.
Kasongan bisa dijadikan tempat cuci mata yang unik. Di sepanjang jalan Kasongan ini, dipenuhi penjual kerajinan dari tanah liat. Bisa dikatakan, Kasongan adalah sentra kerajinan tanah liat di Indonesia.
Siapa yang tidak kenal gudeg? Tapi pasti jarang yang mengenal gudeg paling tua di Jogja, bukan? Adalah Gudeg Yu Djum, yang sudah menginjak ke generasi ketiga dalam bisnis gudeg ini. Tempatnya di sekitar UGM. Tukang ojeg pasti kenal daerah gudeg, tinggal cari saja Gudeg Yu Djum, tidak sulit menemukannya. Tentang harga, memang Yu Djum memberikan harga yang lebih tinggi dibanding gudeg yang lain. Tapi, semahal-mahalnya harga makanan di Jogja masih terjangkau lah. Seporsi gudeg dengan telur pindang lengkap dengan nasinya hanya dibandrol 6 ribu.
Wisata candi? Ah, sudah biasa. Tapi bagaimana dengan wisata candi yang menjual view sunset dari atas candi? Unik bukan? Kalau tertarik, silakan berkunjung ke Candi Boko, tidak jauh dari Prambanan. Dengan merogoh 35 ribu, kita bisa menikmati indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Uang sejumlah itu tidak hanya sebagai biaya untuk melihat sunset. Tapi sudah termasuk makan malam dengan masakan tradisional Indonesia, seperti bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, atau soto. Sambil menunggu sunset, pengunjung juga disuguhi teh atau kopi lengkap dengan makanan kecilnya.
Namun, agak sulit mencapai Candi Boko karena tidak ada angkutan umum yang mencapainya. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka ojeg adalah satu-satunya pilihan. Tidak mengapa, karena tariff yang ditawarkan tukang ojeg di Jogja adalah tariff yang sudah berkonsolidasi dengan isi dompet. Orang Jogja terkenal dengan kejujuran dan keramahannya.
Menuju bandung dari Jogja, juga ada banyak alternative. Tapi sepertinya yang paling nyaman adalah dengan kereta. Untuk kelas eksekutif dihargai 150 ribu. Di dalam kereta, kita disuguhi snack yang cukup untuk menyumpal perut di malam hari. Bantal dan selimut tebal disediakan untuk tiap orang. Sesuai dengan yang dijanjikan, kereta berangkat pukul 21.30 dan sampai di Bandung pukul 5.30. Betul-betul tepat, tidak ada selisih yang lebih dari tiga menit.
Beruntung, saya punya kawan di Bandung yang baik hatinya, Baskara Aditama. Dia bersedia menjemput di Stasiun Bandung. Karena letih berputar-putar di Jogja, sedikit tenaga yang tersisa di Bandung. Hanya mampir wawancara di Pajajaran.
RM Ma’Uneh bisa dijadikan tujuan kuliner yang jempolan. Letaknya di dekat GOR Pajajaran. Ratusan jenis masakan Sunda siap dipesan. Harganya memang agak premium. Sepiring udang yang berisi tiga buah udang windu besar dihargai 60 ribu. Tapi masalah rasa, jangan ragukan. Bermacam menteri dan artis sering makan di tempat ini. menandakan tempat ini memang premium.
Berikut ini lampiran tempat-tempat yang saya kunjungi lengkap dengan biayanya. Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Semoga bermanfaat.
Destination:
- Rumah Nenek di belakang FT-UII, Kaliurang
- Sasanti Galeri (Next door Hyatt Jogja)
- Sentra kerjinan Kasongan
- PT. Out of Asia (Tembi)
- Malioboro
- Ambarrukmo Plaza
- Gudeg Yu Djum, Kaliurang
- Sunset Boko
- RM. Ma’Uneh, Pajajaran, Bandung
- Blitz PVJ
- 1001Crafts, Pajajaran, Bandung
Cost:
Day 1
Diana Travel Bogor-Yogya 180.000
Makan malam di jalan 17.000
Toilet 2x 2.000
Day 2 (Jogja)
Tambahan travel ke Kaliurang 20.000
Trans Jogja 3.000
Ke kasongan 2.500
Ojeg keliling Kasongan + bantul 25.000
Aqua 1 botol 1.500
Ke Pojok Bateng 3.000
Ke Malioboro 3.000
Batik 20.000
Makan malam (3orang) 29.000
Day 3 (Jogja)
Angkot UII-UGM 6.000
UGM-Tugu 2.500
Ojeg Tugu-UGM-Boko-Malioboro 60.000
Tip buat Satpam Boko 10.000
Trans Jogja 3.000
Mandi di Stasiun 3.000
Makan malam 14.000
Kereta Eksekutif Jogja-Bandung 150.000
Day 4 (Bandung)
Makan Pagi 11.000
Angkot Darul Hikam-Simpang Dago 1.500
Simpang Dago-Pajajaran 3.000
Nonton di Blitz PVJ 25.000
Pajajaran-Simpang Dago 3.000
Simpang Dago-Darul Hikam 1.500
Sebotol Mizone 3.500
Makan malam (2 orang) 25.000
Day 5 (Bandung)
Makan pagi 7.500
Hikam-Simpang 1.500
Makan siang 11.500
Ke lw. Panjang 2.500
Bis eksekutif ke UKI 40.000
TOTAL 691.000
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (1)
- Juli 2009 (1)
- Juni 2009 (1)
- Mei 2009 (3)
- April 2009 (2)
- Maret 2009 (4)
- Februari 2009 (1)
- Januari 2009 (3)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (9)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS