Arsip untuk Kategori 'unik'

25
Agu
11

Sapi Perah di Segitiga Emas Masih Berdetak

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Seperti cerita di negeri dongeng. Sampai detik ini, masih ada produsen susu sapi yang bertahan meneruskan usaha nenek moyangnya di tengah jantung kota ibukota, dikelilingi gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Lebih dari lima puluh sapi perah berbagai usia masih hidup dan masih produktif dimiliki Mirdan. Dua ratus liter susu sapi disuplai dari tempat ini setiap harinya. Menurut Ridho, kakak kandung dari Mirdan yang juga mengelola peternakan ini, mereka sudah merintisnya sejak tahun 1960. Peternakan ini merupakan usaha turun-temurun keluarganya.

Letaknya dekat sekali dengan kawasan Mega Kuningan, tepatnya di Jalan Perintis, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tidak persis di pinggir jalan perintis, tetapi ada semacam lorong kecil sepanjanglimapuluh meter yang memang hanya menuju peternakan ini. Di jalan perintisnya sendiri, kemacetan khas ibukota dijumpai setiap hari pada jam masuk dan keluar kantor.

Kedua keadaan tersebut sangat kontras sekali terasa. Di jalan raya, segala kemodernan kental sekali, mobil-mobil mewah berbondong-bondong menuju atau keluar perkantoran. Tetapi ketika berjalan sedikit ke dalam peternakan, hawa pedesaanlah yang menyeruak, alami sekali. Tampak jelas di sekeliling peternakan sapi perah ini gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi menampakkan kekuasaannya. Sapi perah di kawasan ini sudah ada sejak dulu, sebelum gedung-gedung tinggi disekitarnya dibangun, bahkan sebelum dipikirkan akan dibangun.

Bekas Sentra Susu Jakarta

Memang kawasan ini dulunya adalah tempat produksi susu sapi terbesar diJakarta. Bahkan ada suatu gang yang dinamakan gang susu. Sepanjang gang susu ini dulunya dipenuhi sapi perah. Sekarang tidak ada satupun sapi yang terlihat di gang susu. Namun, plang nama Gang Susu masih tetap tegar berdiri menjadi saksi bisu kejayaan akan susu sapi di tempat ini dulu.

Ahmad Mirdan adalah salah satu dari sisa peternak itu. Usaha peternakan miliknya saat ini sudah dilakukan sejak dua generasi sebelumnya. Jadi, Mirdan adalah generasi ketiga. Ia dan keluarganya memiliki lebih darilimapuluh sapi berbagai usia, ada yang siap perah ada juga yang belum. Terlihat juga belasan kambing yang ikut diternakkan di tempat ini. Bisa dibilang, lahan peternakan seluas kurang lebih 200 meter persegi ini kurang layak lagi untuk ditempati sapi-sapi dan kambing-kambing itu karena harus berjejalan dengan jarak antarsapi yang sangat kecil.

Beternak sapi di bawah gedung-gedung tinggi. Dok: Iqbal

Setiap hari, Ridho memerah sapinya dua kali, yaitu pada pukul 6 pagi dan 4 sore. Produksi susu dari peternakan ini sekitar 200 liter per hari. “Saya jual ke loper-loper susu yang berani membeli dengan harga tujuh ribu per liter. Kalau tidak ada yang beli ya saya jual ke koperasi. Susu pasti laku dijual,” kata Mirdan. Ridho menambahkan, terkadang ada juga pembeli yang langsung datang ke tempatnya untuk membeli susu. Minimal pembelian adalah satu liter. Harga yang diberikan sama dengan harga untuk loper.

Setelah sapi diperah, biasanya para loper susu sudah menunggu hasil saringan susu itu untuk diedarkan ke berbagai pelosok ibukota. Kemasannya ada dua jenis, plastik dan botol. Botol-botol yang dipakai ini adalah hibah dari pemerintahan Soeharto dulu. Ukurannya ada yang setengah dan ada yang satu liter.

Dulu, para loper susu ini menyebarkan susu dengan menggunakan sepeda yang disemati kantong-kantong di sekujur tubuh sepeda. Namun, sekarang tidak perlu mengayuh sepeda sampai berpuluh kilometer lagi karena biasanya loper sudah dilengkapi dengan sepeda motor.

Pemindahan sentra susu Jakarta dari Kuningan ke Pondok Ranggon dilakukan sekitar tahun 70an. Saat itu, Jakarta mulai melakukan pengembangan kawasan Mega Kuningan. Sedikit demi sedikit peternak pindah ke Pondok Rangon atau memilih untuk menutup usaha sapi perahnya sama sekali.

Proses pengembangan kawasan Kuningan menggerus lahan-lahan kosong yang biasa ditumbuhi rumput. Dengan begitu, Mirdan dan Ridho merasa kesulitan mencari hijauan sebagai pakan sapi-sapi mereka. “Biasanya kami ngarit sampai ke Cilandak,” kata Ridho. Memang mendapatkan hijauan menjadi kendala bagi peternak di daerah perkotaan. Di Pondok Ranggon pun mencari hijauan sudah memperlihatkan kendala.

Bahan pakan selain hijauan relatif lebih mudah didapatkan. Ridho bercerita bahwa pakan yang diberikan terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan potongan-potongan singkong, selain hijauan yang diberikan dalam jumlah paling besar. Ada komposisi tertentu yang dipercaya efektif menghasilkan susu lebih banyak.

Kalau dilihat dari sudut pandang para loper susu sebagai distributor andalan, mereka diberi pilihan yang berat, membeli susu ke Pondok Rangon dengan harga relatif lebih murah, yaitu sekitar 4 ribuan tetapi biaya distribusinya lebih tinggi, atau membeli ke Mirdan, mahal tetapi dekat.

20 juta per meter

Menurut Mirdan, lahan peternakan miliknya sekarang berharga 20 juta/meter. “Sampai sekarang belum ada penawaran harga yang cocok buat saya jadi belum saya jual,” akunya. Mirdan tidak segan untuk menjual lahan peternakan mininya itu jika ada tawaran menarik. Pengembang kawasan Mega Kuningan masih mematok harga tertinggi 10 juta/meter. Harga tersebut masih ditolak oleh Mirdan.

Bagi Mirdan, bisnis usaha sapi perah masih cukup menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, keuntungan bersih dari satu ekor sapi produktif adalah lebih dari 10 juta dalam satu tahun. Sedangkan Mirdan memiliki puluhan sapi yang masih produktif. Jadi, memang hasil dari beternak sapi di kawasan ini sama menggiurkannya dengan menjual lahan peternakannya kepada pihak pengembang.

Kalau lahan Mirdan ini sudah dijual, habis sudah bekas-bekas kejayaan kuningan sebagai produsen susu. Sapi berubah menjadi gedung. Lebih gagah memang, tetapi juga lebih sombong.

09
Jun
11

Hidden Nusakambangan

Tidak salah kalau orang ditanya apa yang kamu tahu tentang Nusakambangan (pulau di Selatan Cilacap, Jawa Tengah) lalu dijawab penjara yang menakutkan. Karena memang ada empat Lembaga Pemasyarakatan (dulu ada sembilan) yang spesial dibuat untuk penjahat-penjahat besar. Sebutlah Johny Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan.

Pagi tadi, pukul 6.30, Mei 2011, aku, tanpa bekal informasi yang cukup, coba langsung trabas ke Dermaga Wijayapura, satu-satunya dermaga besar formal yang menghubungkan Kota Cilacap dengan Nusakambangan (Dermaga Sodong).

“Pak, saya mau ke Nusakambangan. Bayarnya berapa ya?”

“Kamu dari mana?” kata si petugas di kantor yang pakai pakaian dinas seperti polisi air.

“Dari Jakarta.”

“Maksudnya dari institusi apa?”

“Ya bukan dari mana-mana, saya mau main ke pantainya.”

“Ya tidak bisa. Harus jelas kalau ke sana. Wisatawan tidak boleh.”

“Gak boleh? Saya dari Jakarta loh Pak, ke sini cuma mau ke Nusakambangan.”

“Nusakambangan bukan daerah wisata, mas!”

Arggh! Ini gara-gara terlalu percaya Loney Planet. Di situ ditulis, kapal very berangkat pukul 7 pagi dengan tarif Rp 30.000. Padahal, kapal very itu sama sekali tidak boleh buat wisatawan. Lonely Planet yang kupegang keluaran 2008, sedangkan larangan wisatawan tidak boleh nebeng itu, menurut petugas, sejak sebelum tahun 2000. Kesalahan fatal!

Aku balik ke penginapan di dekat alun-alun. Karena hujan tidak berhenti, siang ini juga tidak bisa keluar. Sorenya aku main-main ke Pantai Teluk Penyu atau kadang disebut orang lokal THR (Tempat Hiburan Rakyat). Ini adalah pantai yang paling favorit buat orang Cilacap.

Garis pantainya cukup panjang dan banyak berjejer kios-kios makanan, ada yang dibuat serius seperti restoran mewah, ada yang cuma bilik bambu. Mirip dengan pantai Ujong Blang di Lhokseumawe, Aceh. Sama-sama punya garis pantai yang panjang, sama-sama punya banyak kios, dan sama-sama dekat dengan tanki minyak (Pertamina di Teluk Penyu, Arun di Ujong Blang).

Teluk Penyu. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Padahal ini hari Rabu dan bukan tanggal merah, tapi kios-kios itu tetap buka loh. Menurut orang lokal, memang di sini setiap hari ramai, apalagi tanggal merah. Pantainya biasa saja, tidak ada ombak tinggi bergulung-gulung, tidak ada pasir putih, tidak ada sunset, tidak boleh berenang pula, dan yang gawatnya, ada pemberitahuan bahwa di pantai terkadang ada binatang laut berbisa. Aku pun masih bingung kenapa bisa seramai ini. Mungkin karena tidak ada pilihan wisata lain ya.

Kapal-kapal nelayan yang berjejer-jejer, yang awalnya aku sangka buat cari ikan, rupanya bisa juga untuk alat transportasi ke Nusakambangan. Sial aku baru tahu sekarang! Kalau sudah sore begini sama saja bohong kalau maksain nyeberang ke Nusakambangan.

Aku cuma tanya-tanya saja sama pemilik kapalnya, tentang Nusakambangan dan tarif-tarif kapalnya, mungkin lain kali bisa main ke sini lagi. Pada umumnya, wisatawan naik kapal ini buat ke Nusakambangan. Kapalnya  mirip kapal-kapal carteran buat snorkeling di kepulauan seribu. Rata-rata muat sekitar 15 orang. Alhamdulillah, sudah pakai mesin =)

Mungkin karena ketahuan tidak tahu harga, si pemilik kapal nembak Rp 25.000 per orang untuk ke Nusakambangan (Pantai Karang Pandan). Tapi orang lokal bilang biasanya cuma Rp 10.000. Nyeberang paling cuma 15 menit, pulaunya kelihatan kok. Mirip dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu (Malang) atau dari Pantai Iboih (Sabang) ke Pulau Rubiah

Itu terserah kita mau pulang jam berapa, paling telat pukul 17.30 karena jam segitu Teluk Penyu tutup. Selain Pantai Karang Pandan, di sana juga ada Benteng Karang Bolong. Biasanya turis yang datang ya ke dua tempat itu.

Gimana kalau mau camping di Nusakambangan? Ya bisa saja, sudah banyak kok yang camping di Karang Pandan. Nanti izinnya bisa diurus si pemilik kapal, nambah Rp 5.000. Besoknya dijemput sesuai jam kesepakatan. Biasanya si turis dibekali nomor si pemilik kapal, jadi kalau mau pulang tiggal SMS juga bisa (salah satu pemilik kapal: Pak Budi 085726105114). Di Nusakambangan sinyal kuat.

Obrolanku dengan si pemilik kapal terus berlanjut sampai ke sebuah pulau bernama Kampung Laut. Katanya, “Di pulau ini boleh-boleh saja bawa kamera atau HP berkamera, tapi itu tidak akan berguna.” Aku heran, “Loh, kenapa Pak?” Dijawab, “Kita bisa melihat hasil jepretannya selama masih di dalam pulau, kalau sudah keluar, data foto itu hilang dengan misterius.” Hehe, mau coba?

Masih di Kampung Laut, ada sekumpulan batu yang terkadang kalau dipukul tidak keluar bunyi apa-apa seperti batu biasa, tapi terkadang bisa bunyi seperti kendang, walau cuma dipukul pakai tangan. Ini mirip dengan kejadian stalaktit-stalaknit yang ada di Goa Tabuhan di Pacitan.

Pak Budi pasang tarif Rp 450.000 (belum ditawar) per kapal untuk ke Kampung Laut, ditemani camping (atau tidak camping), sampai pulang besoknya. Perjalanan dari Teluk Penyu sekitar satu jam.

“Tapi kalau camping, hati-hati ya mas. Hewan liarnya keluar kalau malam.” Nah loh. Tapi selama di pinggir pantai atau dekat rumah penduduk Insya Allah aman. Silakan dicoba… =)

01
Jun
11

Ada USD di Dompet Orang Kamboja

Selain bercerita banyak tentang islam yang ada di Kamboja, Yunus yang sejak kecil tumbuh di Pnom Penh juga bercerita tentang keadaan negaranya. “Kamboja itu punya potensi wisata lebih bagus daripada Thailand, tapi kurang kepintarannya,” kata Yunus dengan Bahasa Indonesia yang masih terbata-bata. “Orang-orang pintar yang ada di Kamboja memilih meninggalkan Kamboja untuk penghidupan yang lebih baik.”

Jadi wajar saja kalau pengelolaan negaranya kurang baik. Kuil-kuil di Kamboja lebih banyak daripada kuil-kuil di Thailand, tapi orang-orang tetap lebih memilih Angkor Wat (salah satu kuil terkenal di Thailand) sebagai tujuan utama.

Kalau menurut Yunus, Thailand mempersiapkan pariwisatanya dengan serius. Mereka memperbaiki akses jalan ke tempat wisata, menyediakan banyak penginapan, dan juga mempersiapkan SDM buat bisnis pariwisata. Sementara Kamboja tidak seserius itu.

Harga-harga di Kamboja tidak berbeda jauh dengan di Indonesia kalau di rupiah-kan. Sepiring bakso, di sana itu 1.000 riel (mata uang Kamboja; 1 riel = Rp 2,5) atau sekitar Rp 2.500.

Dok: fondosdibujosanimados.com

Yang unik, di Kamboja, USD laku di mana-mana. Sudah biasa kalau orang mempunyai uang Riel dan USD sekaligus dalam satu dompet. Yunus sendiri kalau jajan di sekolahnya sering menggunakan USD.

Kamboja mempunyai raja yang kedudukannya diwariskan turun-temurun. Ada suatu waktu ketika rajanya adalah bocah berumur 6 tahun (kalau tidak salah ingat). Orang-orang meremehkannya, tapi ternyata dia bisa memimpin dengan baik. Sampai sekarang raja itu masih ada tapi kekuasaannya sudah diwariskan ke anaknya.

Orang-orang Vietnam senang berdagang ke Kamboja. Kalau dihitung-hitung, lebih untung buat mereka jualan ke Kamboja ketimbang jualan di negaranya sendiri. Tapi tetangga satunya lagi, Thailand, menurut Yunus, agak dingin hubungannya dengan Kamboja. Masuk ke Vietnam, bagi orang Kamboja, jauh lebih mudah daripada masuk ke Thailand.

Mudah-mudahan lain kali ada kesempatan melihat langsung kehidupan Kamboja.

29
Mei
11

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.

09
Mar
10

Ciregal

Cirebon dan Tegal memang bukan menjadi tempat tujuan utama backpacker. Namun keterbatasan dana menjadi tantangan tersendiri yang membuat trip biasa jadi lebih seru. Hanya dengan 186 ribu saja sudah cukup mengarungi 3 Keraton di Cirebon, Pantai Alam Indah dan Guci di Tegal, serta menjelajahi kehidupan dua kota tersebut selama 3 hari.

Arum Tegal. Satu varian kereta ekonomi yang baru pertama kunaiki. Beranjak dari Pasar Senen (Jakarta) pukul 15:19, menuju Tegal di akhir Desember 2009. Empat belas ribu rupiah. Aku pesan turun di Cirebon Prujakan, lebih murah seribu menjadi 13 ribu. Pecahan dua puluh ribuanku ditukar dengan sebuah tiket, sebuah kupon PMI, dan uang 6 ribu. Petugas memperkosa seribuku tanpa izin, disumbangkan ke PMI. Setelah berlalu, Aku baru sadar kupon PMI hanya senilai lima ratus. Berarti lima ratus lagi raib. Diperkosa dua kali.

Ada beberapa cara menuju Cirebon. Pertama dengan bus, setahuku ada yang dari Pulogadung. Ongkosnya sekitar 30an ribu (tergantung kelas), perjalanan selama empat jam. Kedua, menggunakan kereta Cirebon Ekspres (Eksekutif dan Bisnis) bisa sampai dengan tiga jam saja, tapi biayanya 80 ribu! Itupun baru kelas bisnis. Tentu Aku lebih memilih Arum Tegal, walau mungkin lebih tidak nyaman tapi jauh lebih murah. Itulah enaknya sering berkunjung ke website KAI dan punya banyak teman di banyak daerah, jadi bisa mendapat banyak pilihan.

Tepat empat jam Aku sampai Cirebon. Aldi, kawanku, sudah siap dengan motornya di depan stasiun. Sebelumnya memang Aku minta tolong untuk dijemput, selain karena sudah malam dan tidak hapal daerah Cirebon, juga untuk pengiritan, hihi.

Menginap di rumah Aldi juga termasuk pengiritan, apalagi makan malam dan makan pagi keesokan harinya pun disediakan oleh keluarganya. Bahkan Aku diantar dari rumahnya ke keraton yang akan kukunjungi. Merasa tidak enak, kuisikan bensin motornya, sepuluh ribu rupiah.

Ada tiga keraton di kotamadya Cirebon, yaitu Kacirebonan, Kasepuhan, dan Kanoman. Letak ketiganya saling berdekatan, hanya berselang sekitar 1 km.

Kacirebonan yang kukunjungi pertama. Sepi sekali. Aku adalah pengunjung satu-satunya. Seorang Ibu tua sedikit kata menghampiriku dan mengajak masuk ke dalam ruangan gelap berdebu dengan foto raja nyengir. Kalau tidak ada plang Keraton, tempat itu lebih mirip rumah hantu. Perabot-perabot tua sudah duduk manis di teras dan di dinding. Ibu tua tersebut bisa dibilang kuncen keraton. Dia membuka setiap ruangan yang ingin kulihat.

Banyak kursi antik terlihat, seakan rapuh menyangga dirinya sendiri. Dalam satu lemari kaca, ada kumpulan uang rupiah zaman dulu yang masih menggunakan satuan sen, baik kertas maupun logam. Salah satu ruangan memuat perabot musik. Namun yang kukenal cuma gamelan, selebihnya masih alat musik pukul tapi entah namanya. Di belakang bangunan keraton, rupanya ada aktivitas latihan alat musik tradisional. Mudi-mudi inilah yang akan meneruskan budaya musik lokal.

Mudi-mudi berlatih gamelan di belakang Kacirebonan. Dok: Iqbal

Menjelang pulang, Aku diminta mengisi buku tamu. Ibu tua tadi memberikan selembar kertas tentang sejarah Keraton Kacirebonan. Kutanya, “Untukku?” Dia mengangguk. Aku selipkan 6 ribu rupiah di buku tersebut. Sepertinya Ibu itu cukup senang menerimanya.

Tidak seperti Kacirebonan, Keraton Kasepuhan punya tarif khusus. Tiga ribu rupiah untuk manusia dan dua ribu rupiah untuk kamera. Tempatnya cukup ramai, rapi, dan luas. Wajar kalau tarif ditetapkan.

Beruntung, waktu itu Aku datang ketika keris-keris koleksi keraton sedang dibersihkan. Ada kemenyan berasap dan potongan-potongan jeruk nipis yang bertaburan di sekeliling mereka yang sedang membersihkan. Ada satu keris yang pada pangkal bawahnya ada juntaian rambut. Aku tanya, “Itu apa mas?” Dijawab, “Dulu, orang yang sudah dibunuh dengan keris ini rambutnya dipotong sebagian untuk ditempel di pangkal keris.” Kok terdengar sarkastik ya?

Keris berbulu korban. Dok: Iqbal

Rehat sejenak, Aku menuju ke tempat rekomendasi kawanku, kumpulan kios untuk “moci”. Moci adalah budaya minum teh dari Tegal. Teh yang digunakan jenis tubruk. Dimasukkan dalam poci dari tanah liat. Tahukah kawan, poci yang digunakan tidak pernah dicuci! Sambil meracik, penjual teh poci itu berkomentar “Makin berkerak hitam makin nikmat mas.” Memang betul, bagian dalam poci itu kelam stadium empat!

Gula yang digunakan adalah gula batu. Baru kali ini Aku melihat ada jenis gula ini. Bentuknya seperti bongkahan kristal sebesar telur puyuh, memenuhi gelas yang juga dari tanah liat. Gelas itu tak lebih besar dari gelas belimbing. Kalau kebiasaannya begini, hati-hati diabetes kawan.

Satu poci berharga lima ribu rupiah. Cukup menyenangkan rehat sambil moci. Aromanya, rasanya, menenangkan sekali. Orang Tegal akrab dengan teh Wasgitel: wangi, sedap, legi, kentel.

Lanjut ke Keraton Kanoman. Letaknya di tengah-tengah pasar Kanoman. Bayangkan keraton di tengah-tengah pasar! Betul, sangat tidak nyaman. Tempatnya juga kotor, kurang terawat. Koleksinya tidak terlalu banyak. Tidak ada alasan kuat untuk berlama-lama di dalamnya.

perlengkapan moci. Dok: Iqbal

Sudah sore, dalam itinerary-ku, malam ini sudah harus sampai Tegal. Segera bergegas membeli  2 kg jeruk untuk oleh-oleh Aldi dan keluarga, lalu beranjak menuju terminal Cirebon.

Pengamen di terminal Cirebon menyebalkan. Selama bus ngetem sekitar setengah jam, ada sekitar 10 pengamen. Naik turun tanpa jeda. Minta dengan memaksa. Dia colek-colek. Calo bus pun tak jelas, tarif berbeda tiap penumpang. Tadinya Aku ditembak dua puluh ribu untuk sampai Tegal. Kutawar, akhirnya sampai di angka sebelas ribu.

Perjalanan bus tidak sampai dua jam. Sebelumnya, Aku sudah janjian dengan kawanku untuk dijemput di halte depan  Mal Pacific, mal paling besar di Tegal. Aku diajak tidur di masjid. Tapi sebelum tidur, Aku mampir di warung terdekat untuk makan nasi Lengko, makanan khas Tegal. Semacam pecel, tapi unsur sayurannya lebih sedikit. Cuma ada tahu, tempe, dan tauge yang dibaluri bumbu kacang. Ditemani minuman jeruk hangat Aku cukup membayar tujuh ribu.

Sebelum matahari bersinar gagah keesokan harinya, Aku sudah keluar menuju pasar pagi untuk hunting teh tubruk tradisional. Merk-merk Poci, Tong Tji, Guji, Gopek, Pecco, 2 Tang dapat dengan mudah ditemukan. Kalau di Jakarta sulit sekali mencarinya. Sekali lagi dengan bendera pengiritan, Aku memilih jalan kaki. Walau berjarak 2 km menuju pasar ini, tak apalah. Kalau naik becak akan kena sekitar 10 ribu. Sayang. Hehe.

Menuju Pantai Alam Indah (PAI) Aku juga berjalan kaki, sekitar 2 km lagi dari pasar pagi. PAI adalah pantai yang paling bagus di Tegal. Tapi biasa-biasa saja menurutku. Cuma ada satu yang spesial, yaitu restoran di tengah pantai, di atas kapal besar. Tapi sekarang, pukul delapan pagi, belum buka.

Menuju kapal tersebut, ada jalan khusus yang terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 100 meter menuju laut. Di ujung jalan ini angin cukup kencang. Lampu-lampu antik dipajang di pinggir jalan tersebut, berderet rapi. Sepertinya indah kalau malam.

Satu tempat yang katanya jadi objek wisata andalan di Tegal: Guci. Merupakan nama satu wilayah 40 km di selatan Tegal, tetangganya gunung Slamet. Menuju ke Guci, pertama dengan bus kecil tujuan Bumiayu turun di Yomani. Busnya aneh, hanya enam belas tempat duduk. Sebagai perbandingan, Metro Mini punya lebih dari dua puluh tempat duduk. Tarifnya lima ribu rupiah dengan lama perjalanan satu jam.

Dari Yomani, lanjut dengan bus macam itu lagi, menuju Tuwel. Perjalanan setengah sampai satu jam. Jalannya menanjak, menyenangkan sekali. Jalannya sudah aspal mulus, dua jalur. Kanan kiri jalan selalu menghidangkan pepohonan dan gunung. Sesekali saja bata dan beton.

Di Tegal, jarang yang menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Tegal adalah bahasa Jawa blekok-blekok, istilahku. Banyak terdengar huruf “k” yang di-qolqolah-kan dan banyak apostrof. Setiap kalimat bagiku selalu terdengar menggantung, seperti belum habis terucap.

Di perut bus, kondektur bicara padaku setelah kuberi lima ribu, “bla bla…blekok-blekok….bla bla…PITUNGEWU MAS… blekok-blekok…” Cuma dua kata yang kutangkap, PITUNGEWU MAS. Untungnya ini terdengar seperti inti kalimatnya. Aku ingat wong pitu. Tujuh. Mungkin tujuh ribu. Kujawab, ”Limangewuooo.” Agak ragu, apa lima dalam bahasa Jawa lima juga ya? Di akhir kalimat, Aku panjangkan dengan lambaian “ooo”. Demikian yang sering kudengar dari Falakh, kawan kuliahku yang dari Tegal. Kuikuti saja.

Tuwel adalah titik terakhir sebelum menggapai Guci. Satu-satunya transportasi umum yang bisa dipakai adalah pick up. Warga Guci dan sekitarnya mengandalkan pertanian sebagai motor ekonominya. Pick up mereka gunakan untuk mengangkut hasil pertaniannya. Jangan heran kalau tiap lima menit ada pick up yang lewat sehingga dijadikan alat transportasi umum, walaupun plat hitam.

Ongkos pick up Tuwel-Guci sebesar sepuluh ribu. Tak perlu bayar tiket masuk Guci lagi. Jaraknya sekitar 6 kilo. Kacang tanah, wortel, dan kol melambai sepanjang perjalanan. Gunung Slamet mengintip lewat kabut tebal di sebelah kiri. Gunung Traju di sebelah kanan. Aku babak belur diberikan pemandangan hijau menenangkan.

Sayang tidak kutawar lebih jauh. Geram sekali mendengar informasi warga bahwa tarif pick up itu standarnya 3 ribu saja. Terakhir Aku baru tahu, masalah tawar-menawar, dengan orang Tegal, jangan tanggung-tanggung. Jangan percaya orang yang baru dikenal, coba konfirmasikan dengan orang lain.

Sampai di Guci, ramai sekali. Kebetulan memang sedang libur natal. Aku cuma merendam kaki setengah betis, rileks, layaknya diurut. Sensasi kontrakafein terpapar ke seluruh tubuh meresap sampai ke jaringan saraf. Air yang lewat tidak satu suhu. Kadang dingin, kadang hangat, tapi  tidak pernah panas.

Guci. Dok: Iqbal

Merasa tidak puas hanya merendam betis, Aku menuju bukit, hanya jalan setapak kecil yang tersedia. Menanjak sekitar 300 meter dari pemandian air panas yang jenuh manusia itu. Lebih nikmat menikmati Guci dari atas sini. Tanam-tanaman warga berderet rapi. Syahdu luar biasa.

Kembali ke Tegal. Malamnya Aku berjalan menuju alun-alun. Di manapun itu, yang namanya alun-alun selalu ramai lancar. Seluruh iklan di sekelilingnya adalah iklan teh. Bahkan ada yang namanya Taman Poci. Sebegitu cintanya masyarakat Tegal dengan teh.

Jangan pernah lewatkan moci di malam hari. Di jalan Ahmad Yani, setiap malam berjamuran lapak kaki lima. Sekitar 30% nya punya fasilitas moci. Di Tegal, teh jauh lebih favorit daripada kopi. Gula batunya betul-betul eksotis. Teh yang dimasukkan ke dalam gelas makin lama makin manis seiring larutnya gula. Mungkin mirip perjuangan hidup, pahit di awal, (semoga) manis di akhir…=)

Pengeluaran:

Arum Tegal (Senen-Prujakan)                           14.000

Bensin                                                                         10.000

Sumbangan di Kacirebonan                                  6.000

Tarif 1 orang+ 1 kamera                                          5.000

Jeruk 2 kg                                                                   20.000

Angkot (Kanoman-rumah Aldi)                           3.000

Angkot (rumah Aldi-terminal Cirebon)             2.000

Bus Cirebon-Tegal                                                  11.000

Ongkos mal Pacific-Guci PP                                 35.000

Makan 5x                                                                   35.000

Moci 4x                                                                       20.000

Becak (masjid-stasiun)                                         10.000

Arum Tegal (Tegal-Senen)                                  15.000

TOTAL                                                                        186.000

25
Feb
10

Di Balik Layar Penyusunan Buku Sejarah N8: Peliputan Kebun

Jumat terakhir di bulan Januari 2010 mungkin menjadi salah satu hari yang tidak terlupakan bagiku. Sore itu kontrak penulisan buku sejarah PTPN 8 bernilai 9 digit diteken. Mulai saat itu, setiap menit begitu berharga karena target yang diinginkan adalah penulisan dan peliputan selesai dalam 1 bulan! Padahal dalam proposal tertulis 3 bulan.

Empat puluh satu kebun milik N8 harus disambangi dan dicari “cerita”nya. Puluhan tetua kebun harus diwawancara. Lima saksi sejarah harus digali ingatannya sedalam mungkin. Bermacam buku dan artikel harus dibaca. Semua itu harus dikerjakan dan ditulis menjadi 110 halaman A4 dalam waktu 1 bulan!

Sabtu dan Minggu menjadi ajang bertukar pikiran bagi empat penulis yang ditunjuk. Semua konsep dan pandangan dijabarkan. Sukur, pondasi gagasan sudah kuat. Outline pertanyaan sudah tersusun rapi. Siap berangkat.

Hari senin, tanggal pertama di bulan Februari, kami berempat berangkat ke kantor N8 di Bandung. Ploting pembagian wilayah peliputan dilakukan. Waktu maksimal untuk menggarap semua kebun tersebut hanya 1 minggu. Aku mendapat wilayah Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Delapan kebun harus kueksplorasi, yaitu kebun Dayeuh Manggung, Cisaruni, Papandayan, Bunisari Lendra, Mira Mare, Bagjanegara, Batu Lawang, dan Cikupa. Tiga kebun pertama mengusahakan teh, selebihnya karet dan sedikit kakao.

Petualangan dimulai. Segala perlakuan dikondisikan untuk membuatku nyaman dan bisa fokus pada peliputan. Mess kebun yang kutiduri selalu nyaman dan punya stok teh walini yang cukup. Makanan tidak pernah kurang kuantitas dan kualitasnya. Aku jarang sekali menenteng tasku sendiri, ada petugas khusus yang ditugaskan untuk itu. Kehidupan bagai raja, jauh sekali dari aslinya. Agak risih juga menerima perlakuan setinggi ini. Aku merinding ketika di kebun Cikupa, pelayan yang bertugas melayaniku selalu duduk jongkok ketika Aku ajak bicara karena merasa dirinya jauh lebih rendah dariku, agh, seperti zaman feodal saja. Seorang pendamping peliputan diikutsertakan untuk membantuku. Apapun yang kuinginkan dalam rangka penggalian cerita diamini.

Sedikit cerita, di kebun Bunisari Lendra, Aku belum puas dengan nara sumber tetua yang diajukan pengelola kebun. Umurnya masih 60-an. Aku memaksa dengan halus untuk dicarikan nara sumber yang sudah 70-an. Mereka mencoba membujukku, tapi Aku tetap merasa tulisan masih kering tanpa nara sumber lain. Maka kemudian seorang staf diutus menjelajah kampung mencari tetua yang kumau. Saat kurasa cukup, baru perjalanan dilanjutkan.

Antara kebun satu ke kebun lain, Aku diberikan mobil lengkap dengan supirnya, biasanya Rocky atau Taft. Rata-rata perjalanan antarkebun 2 jam. Jaraknya mungkin dekat, tapi jalan menuju kebun itu tidak semulus tol Cipularang. Tidak jarang kutemui berkilo-kilo jalan berbatu.

Menuju dan dari Kebun Mira Mare, Aku melintasi pantai selatan. Sedikit hiburan mata di tengah riuhnya peliputan. Jalur selatan jalannya lebih kecil dan lebih berkelok dari jalur utara (pantura). Jalan lebih sepi dan lebih banyak pepohonan dan gunung yang tampak.

Waktu terasa kuhabiskan begitu efisien. Dalam 1 hari Aku bisa mengeksplorasi 2 kebun, itupun sudah menghitung waktu perjalanan. Aktivitas kumulai sejak matahari memberikan sinar untuk menerangi jalanku. Setelah menyeruput teh Walini, Aku keliling emplasemen dan pabrik. Kantor kebun buka pukul 7 pagi. Biasanya tetua sudah siap sebelum kantor buka.

Selama jadi wartawan Agro Observer, Aku biasanya menunggu nara sumber datang. Tapi selama peliputan kebun, aku yang sering ditunggu. Para tetua itu selalu datang in time. Keadaan paling ekstrim, saat di kebun Papandayan, Aku ditunggu sejak sore kemudian baru datang malam. Berjam-jam 2 tetua itu menungguku. Mereka selalu berdandan rapi seperti mau ke pesta pernikahan ketika bertemu denganku, seakan mau ketemu dengan orang besar. Pada umumnya, mereka memakai batik lengan panjang mengkilat. Aku tahu, itu adalah salah satu pakaian terbaik yang mereka miliki.

Beberapa kebun punya cerita menarik. Kebun teh Dayeuh Manggung letaknya di sekeliling gunung Cikuray. Saat membuka pintu mess, Cikuray langsung menyapa. Mengetahui mess yang nyaman dan punya banyak teh Walini itu diperuntukkan hanya untuk tamu N8 dan tamu penting, membuatku merasa sangat beruntung bisa mendiaminya walau cuma semalam. Pagi hari itu, Aku sempatkan berjalan ke pabrik teh ortodoks untuk mengumpulkan wewangian dari daun teh yang sedang dilayukan. Aku menarik napas maksimal sampai rongga dada dan perutku penuh untuk menikmati setiap kubik udara pelayuan.

Memasuki emplasemen Cisaruni, terlihat tugu Karel Frederick Holle. Ia pendiri perkebunan Waspada yang kemudian tersisa sebagiannya saja: Cisaruni. Karel adalah pembelajar tanpa henti, sejarawan terkemuka, sastrawan Sunda yang dikagumi, sekaligus pengusaha teh handal. Sambil menikmati teh Walini, Aku berpikir, “Garut berhutang banyak padanya.”

Dinamakan kebun Papandayan karena letaknya berdampingan dengan gunung Papandayan. Sayang Aku tidak sempat berkunjung ke kawah Papandayan, mungkin lain kali. Perjalanan menuju Papandayan kutempuh di sore menjelang malam hari. Jalan berkelok, tanpa lampu jalan, dan penuh dengan kabut.

Wawancara sesepuh Papandayan. Dok: Iqbal

Bunisare Lendra adalah kebun karet pertama yang kugarap. Banyak bungalow yang tersedia untuk disewakan. Seluruh bagian bungalow terbuat dari kayu dan bambu. Tepat di depan bungalow yang kutempati, terdapat mushola yang dibuat menjorok ke tengah-tengah kolam.

Mira Mare dulunya adalah hutan belantara. Banyak banteng liar di dalamnya. Sampai-sampai, pengelola kebun memanfaatkan fenomena itu dengan membuat “wisata banteng”. Setiap tamu yang datang ke kebun Mira Mare disuguhi wisata unik ini. Pada malam hari, mereka dibangunkan untuk kemudian menuju hutan. Mereka dibekali lampu sorot. Banteng merasa silau dengan lampu sorot sehingga banteng diam tak berkutik. Di saat itu, para wisatawan mulai menghitung banteng yang terpana tersebut. Dalam 1 gerombolan, biasanya terdapat 180 banteng. Namun sejak tahun 90-an, Banteng banyak enyah sehingga wisata banteng dibekukan.

Seluruh perjalanan kunikmati dengan maksimal apalagi selalu ditambah kesegaran teh Walini. Hobiku untuk berbicara dengan orang asing, mengenal budaya lain, mendengar cerita baru, dan bertualang kudapat dengan penuh. Semua wilayah garapanku berada di remote area. Benar kata Eross, “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia….” Semakin jauh dari habitat asalku, semakin dekat Aku dengan-Nya.

Perjalanan terasa melelahkan tapi sangat kunikmati. Seperti gamers yang diberikan games baru favoritnya. Suatu saat pasti merasa lelah lalu memutuskan berhenti sesaat untuk kemudian melanjutkannya lagi di waktu yang lain…=)

28
Jan
10

Kasodo untuk Bromo

Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upacara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Tengger

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah dorongan yang paling kuat dalam penyusunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan sembarang kalender. Bukan berdasarkan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentukan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, penduduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun berikutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentukan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebelumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Tengger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger.

Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Legenda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu menegaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sama dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten menjadi salah satu mata rantai upacara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melemparkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Tengger dengan Hindu Bali punya budaya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger sehingga budaya mampir ke Poten terlebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rangkaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sumber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Kecamatan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Persiapan Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Ada yang mengatakan, membersihkan Pura Poten juga merupakan rantai wajib dalam upacara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 sedangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa bergumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bukan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mirip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir adalah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa punya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan menggantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang dinobatkan sebagai acara puncak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan mengumpulkan hasil bumi yang hendak dipersembahkan di penghujung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam rantai kegiatan upacara Kasodo.

Upacara Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang dilakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan untuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kambing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikorbankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi tersebut setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Tengger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendapatkannya. Kadang terlihat menegangkan ketika mereka menjatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap perlindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi sekitar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengambilan air dan sebagainya. Titik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar empat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara puncaknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasanah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

(salah satu tulisan di Ezine Backpackin’ edisi pertama, klik di sini untuk masuk blognya lalu bisa download Ezinenya )

13
Jan
10

Menapaki Ciwidey dan Gambung

Dalam peta Jawa Barat, ada kumpulan warna merah di sebelah Selatan kota Bandung. Menandakan daerah tersebut punya angka ketinggian yang paling besar. Salah satunya sudah tidak asing di telinga, Ciwidey. Dari terminal Leuwi Panjang ke Ciwidey ada dua alternatif angkutan umum, colt dan bus. Waktu itu Aku naik colt karena katanya lebih cepat, biayanya 6 ribu. Kalau lancar cuma 1 jam, kalau macet dan ngetem bisa sampai 2 jam.

Hal pertama yang terpatri dalam benakku tentang Ciwidey adalah strawberry. Memang banyak sekali perkebunan strawberry di kanan kiri jalan besar, jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Tidak sulit menemukan kebun strawberry yang di dekatnya sering tertulis “Petik Sendiri”.

Ciwidey terkenal dengan Situ Patenggang dan Kawah Putihnya. Situ Patenggang adalah nama sebuah danau eksotis yang menurutku punya kesan mistis yang dalam. Situ artinya danau sedangkan Patenggang berasal dari kata pateangan-teangan (bahasa Sunda) yang artinya saling mencari-cari. Ceritanya, dulu di seputaran danau ini ada pasangan yang saling mencari kemudian dipertemukan di sebuah batu yang kemudian terkenal dengan sebutan batu cinta, terletak di tengah-tengah danau.

Batu cinta. Dok: Iqbal

Kawah putih tidak kalah serunya. Aura mistis masih pekat menyeruak, tapi kesan damai lebih dalam lagi. Asap hasil metabolit kawah putih menyelimuti seluruh pelosok kawah, pagi, siang, malam, tanpa henti. Disebut kawah putih karena memang warna kawah yang putih dicampur sedikit warna biru, mungkin itu warna yang keluar ketika intensitas belerang jauh di atas ambang normal.

Kawah putih. Dok: Iqbal

Junghuhn adalah orang yang selalu dilibatkan dalam sejarah kawah putih. Setahuku dia adalah pengusaha Belanda yang punya andil besar dalam perkebunan Kina di Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Apa hubungannya ya dia dengan kawah putih?

Maaf Aku tidak bisa memberikan banyak info detail tentang perjalanan menuju kedua tempat dahsyat tersebut, karena waktu Aku dengan rombongan Backpacker Indonesia ke sana, kami menyewa angkot dari Bandung dengan rute: Bandung-Kawah Putih-Situ Patenggang-Bandung, per anak bayar 50 ribu. Jadi kalau tidak lebih dari 10 orang akan lebih mahal dari itu dan Aku tidak tahu berapa.

Dari terminal Ciwidey Aku menuju Gambung. Ada misi khusus: menuju perpustakaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk menggali sejarah dari perpustakaannya dalam rangka pembuatan bukuku tentang sejarah Teh di Indonesia. Jalan menuju Gambung agak banyak rusaknya walaupun masih wajar tapi cukup mengganggu. Menggunakan angkot memakan waktu setengah sampai satu jam dengan ongkos 4 ribu, sampailah di pos 1. Butuh naik ojeg untuk sampai ke kantor PPTK, jaraknya sekitar 1,5 km. Tahu ongkos ojeg nya berapa? Seribu perak saja! Kalau di Jakarta, bisa tiga sampai sepuluh ribu. Seribu perak itu memang harganya segitu. Kok bisa ya?

Udaranya dingin sekali. Seingatku, mirip ketika Aku menginap di Cemoro Lawang, Tengger. Memang masih bisa kalau tidak memakai jaket, tapi jauh lebih nyaman dengan jaket. PPTK dikelilingi banyak sekali pohon cemara, mirip rumah Edward Cullen dalam film Twilight, sunyi, damai. Semakin sore semakin riang serangga menggesek-gesekkan kakinya, sepertinya mereka berlomba-lomba mencuri perhatian seisi hutan.

Ya, hutan. Jauh lebih mirip hutan daripada pusat penelitian. Kalau diteruskan, jalan tersebut akan tembus menuju Pangalengan, tapi harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya hutan yang dikelola Perhutani.

Perpus tutup pukul 4 sore, Aku beranjak menuju Wisma milik PPTK. Di dalamnya ada sekitar 6 kamar yang dapat menampung 14 orang. Dua kamar di antaranya punya fasilitas air panas di dalam kamar mandi dalamnya. Dua kamar ini yang paling eksklusif. Yang pertama punya 1 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil. Harganya kalau tidak salah ingat 180 ribu. Kamar kedua punya 3 tempat tidur kecil, harganya 160 ribu. Waktu itu, Aku memakai kamar 2. Selain biaya kamar, Aku memesan makan malam dan sarapan, jadi menambah 30 ribu lagi.

Kalau mau menyewa seluruh wisma yang ada 6 kamar tersebut, biayanya 1,5 juta, itu sudah termasuk makan pagi untuk 30 orang. Walaupun Cuma ada 14 kasur di dalam kamar, tapi ruang tengahnya sangat luas. Begitu pula terasnya. Luas. Langsung menghadap ke hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sepertinya ruang tengah bisa menampung sampai 50 orang. Perapian menambah cantik ruang tengah. Kalau mau booking, hubungi Aku untuk nomor HP penjaga wismanya.

Pukul Sembilan malam sudah memaksaku berselimut, semakin larut semakin dingin. Walaupun saat itu (Januari 2010) sedang musim hujan, tapi bukan karena itu. Menurut penduduk sekitar, kawasan Gambung memang selalu dingin.

Rasanya menyenangkan kalau punya vila di daerah ini. Harga tanah di jalan utama seputaran Gambung ini sekitar 1 juta untuk satu tumbak. Orang sini biasa memakai ukuran tumbak untuk ukuran tanah. Satu tumbak sekitar 14 meter persegi. Jadi satu meternya sekitar 70 ribu saja! Kalau di jalan kecil/pelosok lebih murah lagi, 300 ribu satu tumbak atau 21 ribu per meter!

Esok paginya, merupakan perjuangan berat untuk berjalan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Udara super dingin, lantai lebih-lebih lagi. Untung ada air panas. Walau tidak mengantuk lagi, selimut tetap kutarik, mata tetap kupaksa terpejam, tak sanggup Aku melawan dinginnya pagi itu. Rencana berkeliling kebun teh tidak pernah kuintip lagi.

Pukul tujuh pagi udara sudah cukup bisa ditoleransi. Aku keluar menuju pabrik pengolahan daun teh, sekitar 100 meter saja dar wisma. Satu bungkus kecil teh yang ada di pasaran saja kalau dibuka bungkusnya bisa kuhirup aromanya berkali-kali saking nikmatnya. Bagaimana kalau tehnya sebanyak satu pabrik?! Luar biasa. Aromanya betul-betul menenangkan. Aroma daun teh bisa jadi keajaiban dunia kedelapan. Kewalahan mendapatkan nikmatnya aroma ini. Seperti anak kecil yang diberikan sekolam permen. Kewalahan.

Masih mengeksplorasi perpus PPTK. Sepertinya perpus jarang sekali dikunjungi, selama dua hari itu, sayalah pengunjung satu-satunya. Sesekali masuk karyawan hanya untuk membaca Koran. Padahal, buku-buku di dalamnya banyak yang tidak pernah Aku temui sebelumnya. Perlu diketahui, Aku sudah banyak sekali datang ke bermacam perpustakaan hanya untuk mencari literatur tentang dunia per-teh-an, buku yang ditemukan itu-itu saja. Berbeda sekali dengan Gambung. Banyak buku teh yang kutemukan bersampul keras dan kertasnya sudah berwarna cokelat, menggambarkankan umurnya. Sayangnya, semua buku bagus itu berbahasa Belanda, jadi sama saja, hehe. Aku hanya melihat-lihat gambarnya. Cukup menarik industri teh pada zaman Belanda dulu.

Ada beberapa buku ingin Aku photocopy. Namun di kantor PPTK tidak ada satupun mesin photocopy. Aku harus turun ke arah Ciwidey, menempuh belasan kilometer hanya untuk photocopy! Bisa dibayangkan betapa terpencilnya Gambung.

Gambung bagiku bukan tempat yang efektif untuk bekerja tapi sangat efektif untuk menenangkan diri, menyatu dengan alam, alam Gambung.

18
Nov
09

Allure Ikut Angkat Batik

http://www.jakartafashionweek.co.id/id/

Batik! Batik!!! Selalu batik yang membanggakan fashion Indonesia. Pembaca sekalian akan lebih merasa bangga lagi seandainya bisa hadir langsung di show-nya Allure siang ini. Satu sesi khusus Allure memamerkan karya-karyanya. Terinspirasi dari bunga-bunga di musim semi, dipadukan dengan warna-warna khas Allure, maka hadirlah beberapa karya hebat.

Di salah satu bagian show, ada Allure Kids show. Model cilik selalu bikin senyum. Di ujung catwalk ekspresinya macam-macam, menunjukkan keluguan mereka. Ada yang ekspresinya mirip orang marah. Ada yang jalannya pelan banget sambil sibuk matanya jelalatan ngeliatin penonton. Ada yang malah ngobrol sendiri. Ada yang lama banget bergaya di ujung. Haha. Kebanyakan yang ditampilkan itu menurut saya ready to wear banget. Anak kecil kan di macam-macamin juga gak masalah. Dia gak akan bilang, “Mama, kayaknya warnanya gak match sama aku deh.”

Kelas “kids” nya ada dua, yang barusan itu usia Taman Kanak-Kanak. Satu lagi, Allure kidz by Amanda. Ternyata Amanda itu desainer cilik. Bukan desainer baju-baju cilik, tapi memang desainer yang umurnya masih cilik, sekitar SMP mungkin. Dalam show Amanda ini model yang dipakai agak lebih dewasa, usia SD sampai SMP lah.

Selanjutnya, Allure menampilkan karya Allure Adult. Kali ini model yang dilibatkan cukup special. Ada Ibu Dirjen Pemasaran Depbudpar, ada Ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat, ada juga istri-istri duta besar untuk Indonesia. Di antaranya dari Republik Polandia, Russia, Thailand, Yunani, Turki, dan Srilanka.

Semua pakai batik! Walau cuma motif printilan di tangan, tapi semua ada unsur batiknya. Betul-betul tidak disangka batik bisa sedemikian beragamnya diekspolari.

Semua Berbatik Ria. Dok: JFW 09/10.

25
Jun
09

Angkat Tanganmu untuk Indonesia

IMG_0191Padahal sudah habis gelas kedua, tapi suara riuh belum keluar dari loud speaker itu. Sekelilingku sibuk tertawa dengan temannya masing-masing. Aku mau baca majalah yang kubawa dari rumah tapi lampu dalam ruangan itu remang-remang. Kata nenekku, tidak baik baca dalam keadaan remang-remang. Hmm…tertawa dan remang-remang, mirip Jakarta tampak depan ya?

Plaza fx Senayan memang selalu ramai. Kalau mau menutup mata sejenak dari bayangan buruknya kehidupan ibukota, fx bisa jadi alternatif. Tapi tidak untuk forum yang sedang kunantikan ini. Microsoft, Acer, dan Fresh si empunya acara justru ingin memberikan alternatif untuk membuka mata pemuda-pemuda di sekelilingku, melihat dan menyadari sepenuhnya keadaan lingkungan dengan usaha melebarkan senyum di sekeliling.

Social Entrepreneurship! Tiga jam ke depan, otakku akan dijejali dengan konsep-konsep social entrepreneurship. Grace, sang pembicara pertama lulusan Nanyang, bertutur social entrepreneurship adalah konsep yang tujuan utamanya bukan maximizing profit seperti konsep Kotler dalam bukunya yang dianut hampir seluruh mahasiswa dunia, termasuk Indonesia. Karena ada kata depan sosial, maka tujuan utamanya adalah pergerakan sosial, peka dengan darah-darah di lingkungannya, maximizing profit boleh, tapi kemudian profit itu untuk tujuan sosial. Bahkan, Grace menghalalkan creative capitalism yang digaungkan Bill Clinton. Mungkin si Grace ini belum tahu kalau orang Indonesia bisa melotot kalau ada yang bicara kapitalis-kapitalisan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan creative capitalism beda dengan capitalism biasa, yang ini tidak menumpukkan harta di satu puncak, karena yang ada di puncak-puncak itu selalu mengalirkan hartanya lagi ke piramida terbawah alias orang-orang miskin yang kata badan dunia berpenghasilan kurang dari dua dolar per hari. Apa jangan-jangan creative capitalism ini yang disebut-sebut ekonomi kerakyatan yang sebenarnya ya?

Contoh yang paling terkenal dalam aplikasi social entrepreneurship ada pada Muhammad Yunus. Pria hebat ini keliling ke salah satu kampung miskin di Bangladesh kemudian menemukan bahwa ada 42 wanita yang tidak punya modal untuk memulai atau melanjutkan usahanya. Untuk memodali mereka semua, ternyata hanya diperlukan 27 dolar saja! Maka dengan sigap Yunus mengumpulkan uang lalu menyalurkannya. Tidak lama kemudian, keempat puluh dua wanita itu sudah bisa mengembalikan uang Yunus sambil menyunggingkan senyumnya, mereka sudah mengaktifkan kembali usaha mereka. Dari situlah usaha Yunus semakin berkembang. Satu saat, dengan bangga ia mengangkat ke atas piala nobel yang didapatkannya karena langkah hebatnya itu.

Atau kisah sepasang manusia yang dengan kemampuan IT yang baik dalam membantu orang-orang di Afrika. Ia membuat kiva.org untuk menghubungkan peminjam dengan calon orang yang akan dibantunya di Afrika sana. Lewat video dan gambar yang mudah diakses, calon peminjam dapat dengan mudah memilih orang mana yang akan dibantunya.

Pada akhir presentasinya, Grace meyakinkan kami semua bahwa semua bisa ikut dalam gerakan sosial dengan bakat yang dimilikinya asalkan mau aksi langsung dan punya jiwa yang senang melihat kepingan orang yang dibantu tersenyum lalu mengoleksi kepingan-kepingan itu sebanyak-banyaknya.

Next, pembicara kedua, bloger hebat yang dipilih Microsoft untuk mendapatkan Microsoft blogership. Aku kenal gadis mungil itu. Anandita Puspitasari, kakak kelasku yang hebat. Stok semangatnya untuk beraksi offline sepertinya tidak pernah habis. Tulisan-tulisannya banyak menggugah. Aku sudah lama berlangganan blognya, nonadita.com.

Cerita multipoint yang diceritakannya sudah pernah kubaca di blognya. Gambaran ringkasnya, setiap murid dalam satu kelas dapat menggerakkan kursor dalam satu layar besar di depan kelas untuk mempelajari suatu hal yang sedang diajarkan gurunya. Satu layar banyak mouse. Misalnya sang guru sedang mengajarkan nama-nama benua di dunia, maka dia minta murid-muridnya berebut cepat dalam memindahkan kotak-kotak kecil bertuliskan nama-nama benua ke gambar peta dunia dalam layar dengan cara mengklik mouse masing-masing. Mungkin karena banyak kursor yang akan terlihat di layar maka dinamakanlah multipoint.

Adanya multipoint ini karena kegundahan Microsoft melihat data perbandingan jumlah computer dengan murid sekolah, di Jawa 1:900, artinya 1 komputer untuk 900 siswa. Luar Jawa pasti punya angka yang lebih besar. Dengan multipoint ini, hanya dibutuhkan 1 komputer untuk 1 kelas. Memang belum menyelesaikan masalah yang 1:900 tadi, tapi paling tidak ada satu gerakan yang sangat aplikatif untuk sekolah yang kurang mampu membeli banyak computer. Dengar-dengar, software untuk multipoint ini gratisan loh.

Lepas Dita, ada seorang penggiat UNICEF yang mengajak kita semua untuk lebih peduli dengan anak kecil. Ia meminta kami semua untuk membantu UNICEF dalam pergerakannya, kalau tidak bisa dengan uang ya dengan tenaga atau skill yang dimiliki. Ia bercerita tentang parahnya angka kematian balita di Indonesia karena banyak hal, termasuk imunisasi yang cupu.

Suasana jauh lebih meriah ketika Pandji Pragiwaksono, pembawa acara reality show “Kena Deh” itu loh, muncul di panggung. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: Angkat Tanganmu untuk Indonesia. Rupanya itu adalah lirik lagu rap ciamik buatannya. Harmonisasi lirik dan music semakin membuai penonton dan ikut larut mengangkat tangannya untuk Indonesia sambil sedikit ikut berdendang. Lirik dan musiknya sungguh membuat seratus kepala dalam ruangan remang itu terbius. Angkat Tanganmu untuk Indonesia…!




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.