Arsip untuk Kategori 'tren'

20
Nov
09

Eco Fashion dari Kacamata Merry Pramono

Tertarik dengan eco-fashion, saya coba cari tahu lebih dalam lagi tentangnya. Wah, ternyata desainer susah ditemui di beberapa hari terakhir. Padahal di awal-awal banyak yang sering nongkrong di press room Jakarta Fashion Week 09/10. Kesempatan terbuang sia-sia.

Tidak patah arang, saya coba tanyakan ke beberapa desainer via email. Baru Ibu Merry Pramono yang membalas. Berikut email yang saya kirim:

Dear Ibu Merry Pramono

Perkenalkan, saya Iqbal, salah satu yang meliput acara Jakarta Fashion Week 09/10 di blog pribadi saya, http://sagoeleuser5.wordpress.com/ .

Isu lingkungan terus merebak belakangan ini. Saya berencana menggali eco-fashion lebih dalam lagi. Kalau berkenan, saya mohon pendapatnya tentang eco-fashion di Indonesia:

1. Apakah akan menjadi suatu isu yang bakal menjadi lebih besar lagi sehingga eco-fashion mempunyai nilai lebih tersendiri, atau justru akan menjadi isu basi yang akan ditinggalkan ?

2. Siapa tokoh desainer yang mati-matian memperjuangkan fashion ramah lingkungan di Indonesia ?

Terima kasih.

Salam

Iqbal

Berikut jawabannya:

Dear Mas Iqbal,

Pertama-tama, mohon maaf saya baru sempat membalas email mas Iqbal hari ini, semoga tidak terlambat ya mas. Maklum, dari kemarin masih wara-wiri ke Pacific Place dan kontrol workshop saya.

Untuk pertanyaan 1, sudah pasti eco-fashion di Indonesia akan menjadi sesuatu yang signifikan di masa yang akan datang. Alasannya adalah pertama, saat ini masyarakat lebih kritis & lebih peduli terhadap lingkungan, karen sudah banyak sekali gejala alam (global warming) yang mengharuskan kita untuk peduli terhadap lingkungan.

Alasan kedua, fashion di Indonesia selalu mengikuti perkembangan tren fashion internasional, dimana di sana sudah banyak fashion designers atau organisasi-organisasi yang membuat gerakan eco-fashion. Walaupun masih dalam kelompok minoritas, akan tetapi mereka sudah ada kesadaran untuk memberi penyuluhan pada petani-petani bagaimana untuk membuat cotton organic yang ramah lingkungan & ekonomis.

Jika dikaitkan dengan apa yang terjadi Indonesia, mungkin masih jauh dari idealisme eco-fashion, karena kita sendiri (komunitas fashion) masih berjuang untuk menggalakkan pemakaian kain-kain lokal/tradisional, (batik, tenun dll). Akan tetapi, sudah pasti kita sebagai fashion designers, merasa tugas kita tidak hanya membuat karya yang indah dalam bentuk pakaian, tetapi juga pakaian yang ramah lingkungan, pakaian yang merupakan produk bertanggung jawab terhadap lingkungan, terhadap pemakainya, dan juga terhadap buruh-buruh yang membuat bahan tersebut.

Pertanyaan ke-2, sampai saat ini, menurut saya belum ada desainer yang mati-matian memperjuangkan fashion ramah lingkungan di Indonesia. Hal ini dikarenakan memang karena dana untuk penyuluhan dan proses pembuatan eco-fashion belum ada, jadi belum ada SDM yang memenuhi kriteria untuk membuat pabrik dalam negeri untuk dijadikan produk ready-to-wear.

Sepengetahuan saya, kemarin pada saat JFW, Lenny Agustin mencoba membuat pakaian dari fiber singkong. Dia ingin mencoba untuk mempraktekkan eco-fashion. Tapi seperti saya bilang, bahan tersebut belum bisa mempunyai nilai jual sebagai produk karena bahannya seperti kertas, jika dicuci akan memuai di air, jadi seratnya hilang. Namun demikian, saya salut dengan usaha Lenny Agustin, karena saya tau usahanya pasti sangat membutuhkan research trial and error yang membutuhkan waktu, energi, dan dana yang cukup.

Oke, mungkin sekiranya seperti ini mas jawaban saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih.

Salam

Merry Pramono

19
Nov
09

Delapan Talenta Gemilang dalam Dewi Fashion Knight

Bisa dibilang, ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu dalam Jakarta Fashion Week 09/10, Dewi Fashion Night. Banyak wartawan yang membicarakannya sejak beberapa hari lalu. Wajar saja, mereka yang akan manggung adalah delapan desainer yang sudah hebat atau yang baru hebat. Lenny Agustin yang termasuk baru hebat. Show Lennor (brand dari Lenny) yang paling saya tunggu. Tapi, lagi-lagi blogger tidak diberi kesempatan meliput acara yang paling ditunggu-tunggu ini. Terpaksa deh, Cuma bisa lihat fotonya besok.

The Soul of Modernism menjadi tema besar Dewi Fashion Knight. Berikut saya coba review para desainer yang terlibat satu per satu. Biarlah tidak bisa melihat langsung, harus puas hanya dengan mendengar penjelasan mereka dan foto karya mereka.

Ali Charisma. Mendengar cerita panjangnya, mengingatkan pada Agnes Monica. Keinginannya untuk go internasional begitu besar. Sudah Sembilan musim terakhir, ia rutin ikut Hong Kong Fashion Week. Charisma menggabungkan gaya Eropa dengan unsur Indonesia.

Barli Asmara belajar dunia mode secara otodidak. Ia khas dengan rancangan kreasi tangan seperti origami dan kerajinan. Kekhasan lain dari Barli adalah permukaan bertekstur dalam menyuguhkan gaya modern dan edgy pada desain-desainnya.

Deden Siswanto yang merupakan ketua APPMI Bandung selalu melahirkan karya-karya penuh budaya yang imajinatif. Ia terkenal rajin dalam riset sebelum berkarya.

Denny Wirawan merupakan salah satu lulusan Lomba Perancang Mode. Busana berbahan kain tenun Indonesia atas kerja sama dengan Citra Tenun Indonesia karyanya sudah sampai ke Paris dan Milan. Bukti eksistensinya di dunia internasional.

Lenny Agustin yang beberapa hari yang lalu menguasai fashion tent sendiri juga masuk hitungan dalam Dewi Fashion Knight. Nuansa ceria dan playful selalu menjadi cirri khasnya. Batik, lurik, dan tenun dikembangkan dalam karyanya, bukti Lenny ikut mengembangkan budaya nusantara.

Salah satu karya Lenny. Dok: JFW 09/10.

Oka Diputra berciri khas pada kesederhanaan ornamentasinya. Ia lebih memfokuskan pada siluet bervolume. Lebih mengandalkan teknik ikat mengikat dan membatasi penggunaan ritsleting dan kancing.

Siapa yang tidak kenal nama Oscar Lawalata? Ia ikut memeriahkan fashion tent malam ini. Oscar selalu menggali tradisi Indonesia.

Salah satu karya Oscar Lawalata

Sally Koeswanto yang merupakan lulusan The White Fashion House Design School, Sydney, dikenal dengan eksplorasinya yang menantang. Dinamis, sensual, dan provokatif adalah gambaran desain-desainnya.

19
Nov
09

Kain Indonesia dalam LPM

Femina Group setiap tahunnya mengadakan Lomba Perancang Mode (LPM). Lomba fashion yang selalu ditunggu-tunggu ini cukup sibuk di hari ke-6 Jakarta Fashion Week 09/10. Eksplorasi kain Indonesia dipilih menjadi tema besar LPM tahun ini dengan harapan para desainer muda berbakat yag terpilih ini akan terus mengembangkan kekuatan kain Indonesia, terus dieksplorasi sehingga tidak mati. Mereka dibebaskan untuk mengeksplorasi segala jenis kain Indonesia, termasuk batik, tenun, lurik, dan songket.

Para finalis rata-rata berumur 23 tahun. Di tangan merekalah ke depannya fashion Indonesia akan dikembangkan. Mereka membuat kain-kain Indonesia menjadi karya desain yang kontemporer, chic, dan stylish. Kreatifitas dan desain inovatif sarat bermunculan.

Kesepuluh finalis itu adalah Albert Garry Yanuar (tema:Pelangi Khatulistiwa), Bethania Agustha Tamsir (Mood Swing), Elizabeth Myra Juliarti (Culture Rocks!), Kursien Karzai (Save the Forest!), Reviansyah Al Hamidi (National Trasure), Vonni Chyntia Kirana (Indonesian Beauty), Denise Kristi Trisna (Contradictive), Vinora Ng (Edito), Galih Prakarsa (Maha Dewata), Imelda Kartini (Impossible-Possible).

Sebelum kesepuluh finalis manunjukkan tajinya, ada beberapa alumni LPM yang memperlihatkan karyanya, yaitu Billy Tjong (pemenang kedua dan favorit 2005), Eny Ming (pemenang pertama 2007), Zacky Gaficky (pemenang kedua 2007), dan Hian (pemenang favorit 2007). Simpel. Itu penilaian saya untuk mereka berempat.

Saya suka dengan ide Albert di busana terakhir. Di tengah show, si model melepas lapisan luar rok panjangnya lalu dijadikan jubah. Mantap idenya. Desainnya yang banyak menggambarkan pura di Bali juga unik dengan kombinasi warna-warna cerah.

Bethania punya gaya sendiri. Dia campur gaya punk di pinggir jalan dengan kain anak remaja yang abis sunatan. Damn! Gila banget idenya. Saya dibuat merinding. Kostum khas anak punk yang compang-camping dicapur dengan motif kain sarung yang biasa dipakai anak-anak pedalaman setelah sunat (kalo anak kota kan gak pake sarung). Bethania favorit saya! Dia konsisten banget dengan tema yang dia usung.

Bethania diapit dua modelnya. Dok: JFW 09/10.

Elizabeth mengeksplorasi kain Sasirangan. Jadi ingat Kalimantan Selatan. Kain ini top banget dari Kalsel. Backsoundnya lagu Kota Baru, pas banget! Oh Kota baru! Bikin gemetar.

Vinora Ng yang baru berumur 20 tahun mengangkat kain tenun tradisional Sulawesi Utara. Dia juga terinspirasi dari makhluk-makhluk dalam laut. Desain-desainnya simple dan ready to wear.

Karya terakhir dari desainer terakhir, Imelda Kartini, mendapatkan banyak tepuk tangan. Susah menjelaskan di mana hebatnya. Mudah-mudahan dapat fotonya. Desainer terakhir ini juga favorit saya. Kental sekali unsure kain Indonesia yang dia bawa.

Sepertinya hanya di ajang inilah bisa ditemukan kain songket Makassar sebagai gaun 2 in 1, kain sarung bergaya kimono, kain lurik model ponco, modifikasi kain tenun Bali yang mewah, sampai kain Papua.

Mereka dinilai oleh para juri yang sudah tidak asing lagi namanya di dunia fashion, yaitu Sebastian Gunawan (desainer), Ninuk Mardiana Pambudy (wartawan senior mode), Timur Angin (fotografer), dan Agni Pratista (artis). Mereka yang menentukan siapa pemenang yang mendapatkan beasiswa sekolah fashion di Los Angeles selama 3 bulan dan uang tunai 3 ribu USD.

Selain juara yang dipilih oleh dewan juri, ada juga juara favorit. Sebelum-sebelumnya, juara favorit cuma berdasarkan suara penonton yang hadir. Kalau sekarang ada juga lewat vote di facebook dan juga SMS. Untuk SMS hanya dibuka satu jam menjelang penentuan pemenang.

Bagian ini yang menurut saya gak penting. Karena yang namanya voting, selama Cuma satu komunitas saja yang mengerti, pasti ujung-ujungnya Cuma banyak-banyakan teman. Tepat dugaan saya, saat show belum dimulai pun, orang-orang di sekitar saya sudah bicara kapan mereka akan SMS supaya masuk hitungan dewan juri. Pasti mereka adalah teman-teman dari salah satu finalis. Tapi, ya sudahlah, yang penting bukan juara terbaik yang ditentukan lewat voting.

LPM selalu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompetensi tinggi di dunia fashion. Maka kita patut berterima kasih pada Femina sebagai motor LPM. Semoga desainer-desainer muda berbakat ini akan terus konsisten mengeksplorasi kain tradisional nusantara.

19
Nov
09

DKNY Jeans Ikut Meriahkan JFW 09/10

Jeans yang awalnya hanya digunakan pleh kaum buruh sekarang sudah menjadi barang yang bisa dibilang wajib dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Asia juga tidak mau kalah untuk mengadopsi bahan santai ini. Di Indonesia sendiri, bukan hal yang sulit untuk mencari orang yang menggunakan jeans.

Jeans juga butuh kedinamisan, supaya konsumennya tidak jenuh. Kali ini di Jakarta Fashion Week 09/10, DKNY Jeans ikut berpartisipasi memamerkan keluaran-keluaran barunya yang tidak hanya celana panjang berbahan jeans, tapi juga rok dan jaket.

Dalam bincang-bincang beberapa wartawan dengan beberapa perwakilan DKNY jeans, dijelaskan banyak hal tentang perjalanan DKNY jeans. Umurnya sendiri sudah 20 tahun. Terinspirasi dari kehidupan kota New York yang selalu serba cepat, selalu mau yang baru, itulah DKNY jeans.

Di Indonesia sendiri, DKNY jeans baru masuk tahun lalu dan baru membuat satu tempat penjualan, yaitu di Pacific Place lantai 1. “Kita pilih Pacific Place karena ini baru dan megah juga,” kata Vella, Marketing Communication Club 21, di bawah DKNY jeans.

“Penjualannya sendiri, setahun ini ada prospek di Jakarta. Slow but sure. Pertama-tama mungkin it’s hard kita menyebarkan brand DKNY jeans. Tapi dengan mouth to mouth, orang juga cerita DKNY itu bagus. Keunggulan DKNY itu jeans yang sangat simple. Biarpun kita fashionable kita gak perlu dengan sesuatu yang feminine, tapi dengan jeans juga cukup, kita casual tapi tetap fashionable,” kata Velda Catrinna, Brand Manager dari DKNY Jeans Jakarta.

Sekitar sebulan yang lalu, DKNY jeans sedunia bikin acara DKNY Jeans Competition, dengan tema Break the Rules. Salah satu pemenangnya adalah Kalita dari Indonesia yang umurnya baru 19 tahun. “Waktu itu aku jalan-jalan ke DKNY jeans, terus aku dikomentarin, ‘kamu oke, gayanya street style banget, ikut aja DKNY competition’. Sampai rumah saya langsung foto, itupun Cuma di tempat jemuran rumah, Cuma pakai kamera HP adik saya, saya upload dan ikut jadi peserta. Ternyata menang juara 2. Juara 1 dari Perancis, juara 3 dari Belgium, jadi aku satu-satunya dari Asia,” katanya.

DKNY jeans memang mencari gaya-gaya baru anak muda untuk dikembangkan. Break the Rules juga dijadikan tema show DKNY Jeans hari ini di Fashion Promenade. Show-nya hebat, jeans jadi terkesan tidak seperti biasa.

DKNY jeans bisa dijadikan pembelajaran bagi industri fashion Indonesia. Pasar jeans Indonesia itu luar biasa besar, tapi belum ada brand jeans Indonesia yang menonjol. Yang ada vermak levis atau permak lepis atau fermak lepis, itu aja yang terkenal merambah sampai akar rumput, hehe.

DKNY jeans. Dok: JFW 09/10.

18
Nov
09

Urban Crew & Holly Love

Penghujung hari besar APMI hari ini pada Jakarta Fashion Week 09/10 ditutup oleh karya-karya Era Soekamto dan Valentino Napitupulu. Saya masih ingat betul, tadi siang Era ikut dalam konpers APMI. Dia sangat menggebu-gebu dalam perjuangan mengangkat budaya tradisional Indonesia. Malam ini, Era mengangkat tema Urban Crew. Era mendapat inspirasi dari perjalanan para icon musik dunia seperti Rolling Stone, The Ramones, Michael Jackson, Axl Rose, Beyonce, dan Lady Gaga. Icon-icon tersebut berhasil membuat trademark fashion mereka sendiri. “Koleksi Urban Crew” kali ini juga tercipta dari perjalanan penjangnya sebagai fusion dari semua koleksi sebelumnya seperti Jungle Babe, Urban Speed, REjuvenescence, dan Escapism,” kata Era. Keren banget deh. Dia campur Gothic dengan gaya Indian, dikemas modern. Era mendapatkan bunga banyak sekali dari penonton, sampai-sampai dia harus minta tolong para modelnya untuk megangin bunga. Great Job! (Sorry, foto karyanya Era gak dimasukin, bahaya! =p)

Valentino mengusung Holly love. Tema tersebut menggambarkan cinta suci seorang anak manusia bagi sang pencipta. Dituangkan dalam busana yang total look feminine, elegan, dan chic. Dipadukan dengan teknik tempelan motif brocade lace, pemasangan payet, dan swarowsky, untuk membuat efek mewah. Songket Toba dipilih pada sequence terakhir, menampilkan busana pesta yang modern. Valentino berucap, “Saya menjadikan songket Toba Bustier dan saya penuhi dengan payet dan Kristal swarowsky hanya pada motif songket yang ada sehingga motif songket lebih eye catching. Songket Toba pun saya buat untuk rok berpayet.”

Sepertinya, semua hasil karya Valentino kali ini untuk pakian pengantin. Tidak rumit dengan segala rupa kain. Valentino memberikan desain-desain simple tapi tetap elegan dan “wah”. Warna yang ditampilkan Cuma putih, mungkin itu yang membuat simple. Dipadukan dengan gemerlapan manic yang membuat elegan.

Valentino menggendong anaknya ketika masuk ke panggung. Lucunya, si anak didandani mirip pengantin seperti karya-karyanya malam ini. Betul-betul eksklusif.

Holly love. DOk: JFW 09/10.

18
Nov
09

KATA GHEA

Bukan Ghea berkata, tapi KATA adalah brand dari Kanaya Tabitha yang malam ini di Jakarta Fashion Week 09/10 sepanggung dengan Ghea Panggabean. Kanaya dengan temanya Rockerysistah menampilkan busana cocktail yang ready to wear. Kental sekali nuansa feminine-maskulinnya. Kanaya mendapat inspirasi dari musik-musik rock yang ultrafeminin. “Untuk memperoleh efek rockerysistah ini saya banyak menggunakan bahan velvet, jersey, lather, dan frill. Juga warna yang kuat seperti strong black, silver, dan fuchia violet,” jelasnya. Kanaya berpadu dengan Vj. Marissa dengan koleksi sepatunya.

Di cat walk, karya Kata tampil konsisten dengan busana hitam dihias batu-batu berlian (atau mirip berlian) dan penutup kepala (bukan jilbab) pink. Sarung tangan pink di sebelah tangan makin mempercantik busana total, matching dengan penutup kepalanya. Bagian akhir menurut saya cukup unik. Biasanya desainer tampil di akhir show dan memberi hormat pada hadirin sebagai ucapan terima kasih. Karena Kanaya sedang di Russia, maka anaknya yang tampil. Diiringi dengan dua modelnya, anak laki-laki Kanaya membawa foto Kanaya yang bertuliskan “Thank You”.

Rockerysistah. Dok: JFW 09/10.

Spirit of Java diangkat menjadi tema Ghea malam ini. Inspirasi ia dapatkan dari busana wayang orang, penari keraton, dan kostum priyayi. Cinde yang terpilih menjadi motif Ghea kali ini. “Saya merasa bernostalgia dengan menerapkan rancangan pada velvet, chiffon, satin, thai silk, dan crepe dengan warna yang melambangkan busana priyayi Jawa seperti hitam, marun, hijau emerald, dan hijau kunyit. Ada pula aplikasi border sulam emas gaya Jawa dan lambing mahkota merupakan gaya detil pemanis,” kata Ghea yang tahun depan umurnya genap tiga dasawarsa. Ghea memang puny aide yang selalu ada-ada saja. Unik sekali etnik yang diangkatnya. Tidak sedikit juga orang yang merekomendasikan desain etnik padanya. Kalau etnik ya Ghea.

Coba deh dibayangin, manset yang biasa ibu-ibu pakai itu dipasang di luar. Mungkin terinspirasi dari superman kali ya…=p Tapi ready to wear menurut saya. Koleksi tas juga ikut dipamerkan. Ada tas tangan yang dililit dengan kain batik, jadi ikut melambai seiring melangkahnya sang model. Boleh nih jadi tren, kain batik yang dililit ke tas. Ada stoking yang bermotif batik seakan-akan kulit kakinya ditato batik. Tato batik? Wah lucu tuh. Ada juga jubah hitam murni, setelah dicari-cari mana motif batiknya, ternyata ada di bagian dalam jubah itu. Ghea emang sip deh.

Spirit of Java. Dok: JFW 09/10.

18
Nov
09

Etnik Ekletik, Evolution, dan Easy Feminiti

Stephanus Hamy, Carmanita, dan Hutama Hadi tampil satu panggung di Jakarta Fashion Week 09/10. Mereka mengisi sesi pertama untuk IPMI. Carmanita yang paling saya tunggu-tunggu. Waktu konpers, dia menggebu-gebu sekali bicaranya. Menggebu-gebu bahwa kita harus berjuang mempertahankan kain Indonesia. Gak usah nunggu pemerintah. Kita aja yang gerak. “Hebat ya, dia itu cucunya Ibu Soed loh,” kata wartawan di sebelah saya. Carmanita memang bukan sekali dua kali mengharumkan Indonesia. Ia cinta sekali pada ragam kain nusantara, terutama batik.

Hamy mengangkat tema Etnik Ekletik. Gaya etnik yang verbal akan dihasilkan dari transformasi etnik dalam dalam pleats. Karya Hamy memang selalu ready to wear. “Teknik pleats yang simple ini akan ditampilkan dalam beragam styling,” kata Hamy. Bahan kain yang dipamerkan memberikan kesan ringan dan modern.

Etnik Ekletik. Dok: JFW 09/10.

Carmanita membawakan tema Evolution. Warna-warna enerjik yang dipilihnya, dipadu dengan motif-motif garis dan geometris floral. Teknik pewarnaan yang dipakai adalah teknik shibori, hebatnya, dipadu dengan teknik lipat origami yang kemudian dicelup warna. Carmanita sedikit menjelaskan, “Tidak ada sumber inspirasi yang spesifik dari karya terbaru saya. Ide lebih banyak datang dari aktivitas sehari-hari. Saya juga banyak menggunakan teknik draping sebagai siluet eksperimental.

Evolution. Dok: JFW 09/10.

Hadi malam ini mendorong tema Easy Feminiti. Di dalamnya mengangkat sisi feminin, seksi, dan berani. Minimalis namun tetap stylish. Auuuu. “Ketika Anda memakai rancangan ini, Anda akan tetap merasa nyaman, menjadi diri sendiri dengan representative khayalan masing-masing individu yang Anda inginkan,” kata Hadi. (Gambar karya Hadi tidak ditampilkan, bahaya! hehe).

18
Nov
09

IPMI; Dalang yang Lain

Beberapa hari yang lalu, APPMI menguasai fashion tent dengan 22 desainernya. Hari ini saatnya IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) yang unjuk kebolehan. Tidak sebanyak APPMI, kali ini IPMI hanya membawa 10 desainernya. Walau demikian, APMI tetap bisa menampilkan kejutan-kejutan untuk para fashionista. Kesepuluh desainer itu adalah Carmanita, Denny Wirawan, Era Soekamto, Kanaya Tabitha, Ghea, Hutama Adhi, Stephanus Hamy, Syahreza Muslim, Tuti Cholid, dan Valentino Napitupulu.

Kanaya Tabitha mewakili IPMI mengatakan, “Bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. Dibutuhkan usaha yang lebih keras untuk menghasilkan pencapaian berikutnya. JFW adalah pencapaian masyarakat fashion Indonesia. JFW membawa kita pada pencapaian itu. IPMI gembira menjadi bagian dari acara besar ini.” Kanaya dan Ghea malam ini akan satu panggung dalam memamerkan karya-karya mereka. Ghea juga salah satu anggota IPMI yangs angat direkomendasikan untuk desain-desain etnik. Perpaduan keduanya akan menjadi sangat menarik. Nanti malam.

Ketika perskon, ketua dan pendiri IPMI, Syamsidar Isa yang lebih akrab dipanggil Mba’ Cami, menyampaikan, “Pasar internasional itu adalah harapan kita semua, tapi ingatlah itu bukan satu hal yang mudah. Butuh kerja sama banyak pihak. Moga-moga dengan terkumpulny seluruh komunitas di industri mode dalam JFW ini, kita bisa jadi satu kesatuan yang saling melengkapi, bisa saling bertukar pikiran.”

“Sebagian besar anggota IPMI sekarang sering turun ke desa, mengangkat tekstil kerajinan Indonesia. Sekarang, banyak anggota yang sedang menyebar ke daerah-daerah seperti Palembang, Majalaya, Solo, NTT, dan sebagainya.”

Era Soekamto ikut menambahkan, “Saya sebagai yang muda banggga sekali masuk IPMI. Karena berjuang bersama-sama jadi lebih mudah. Saya setuju banget kita harus memajukan industri kreatif. Pada show malam ini, saya memajukan karya-karya ready to wear itu bukan sekedar secara langsung mau menggaet buyer. Tapi saya mau mengatakan bahwa kita mampu untuk itu. Kita harus beritahu bahwa Indonesia itu tidak selalu tradisional. Tanpa mengurangi nilai tradisional budaya Indonesia itu.”

“Kreatif industri itu 68,7% menyumbang Pendapatan negara. Ada empat belas elemen dalam kreatif industri ini. Music dan fashion jadi yang paling besar sumbangannya. Kreatif industri begitu penting. Kita dari dasarnya memang bangsa yang kreatif. Jadi ayo mari, kreatif industri itu bukan hanya menghayal menghasilkan karya, tapi juga di-manage dengan baik, bisa mendapatkan market yang siap juga. Kita ini berjuang di industri kita sendiri, di sekup yang kecil untuk sesuatu yang besar.”

Menurut Era, “Kita dengan APPMI tidak ada perbedaan yang banyak. Kalau kami recruitment tiap empat tahun sekali, kita lihat dia progressif dan eksistensinya kuat, komitmennya besar, maka bisa masuk IPMI. Begitupun di APPMI punya keinginan yg bagus dengan meng-endorse bakat-bakat daerah. Semuanya bagus, jadi tidak ada yang harus muncul cuma satu.”

18
Nov
09

Allure Ikut Angkat Batik

http://www.jakartafashionweek.co.id/id/

Batik! Batik!!! Selalu batik yang membanggakan fashion Indonesia. Pembaca sekalian akan lebih merasa bangga lagi seandainya bisa hadir langsung di show-nya Allure siang ini. Satu sesi khusus Allure memamerkan karya-karyanya. Terinspirasi dari bunga-bunga di musim semi, dipadukan dengan warna-warna khas Allure, maka hadirlah beberapa karya hebat.

Di salah satu bagian show, ada Allure Kids show. Model cilik selalu bikin senyum. Di ujung catwalk ekspresinya macam-macam, menunjukkan keluguan mereka. Ada yang ekspresinya mirip orang marah. Ada yang jalannya pelan banget sambil sibuk matanya jelalatan ngeliatin penonton. Ada yang malah ngobrol sendiri. Ada yang lama banget bergaya di ujung. Haha. Kebanyakan yang ditampilkan itu menurut saya ready to wear banget. Anak kecil kan di macam-macamin juga gak masalah. Dia gak akan bilang, “Mama, kayaknya warnanya gak match sama aku deh.”

Kelas “kids” nya ada dua, yang barusan itu usia Taman Kanak-Kanak. Satu lagi, Allure kidz by Amanda. Ternyata Amanda itu desainer cilik. Bukan desainer baju-baju cilik, tapi memang desainer yang umurnya masih cilik, sekitar SMP mungkin. Dalam show Amanda ini model yang dipakai agak lebih dewasa, usia SD sampai SMP lah.

Selanjutnya, Allure menampilkan karya Allure Adult. Kali ini model yang dilibatkan cukup special. Ada Ibu Dirjen Pemasaran Depbudpar, ada Ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat, ada juga istri-istri duta besar untuk Indonesia. Di antaranya dari Republik Polandia, Russia, Thailand, Yunani, Turki, dan Srilanka.

Semua pakai batik! Walau cuma motif printilan di tangan, tapi semua ada unsur batiknya. Betul-betul tidak disangka batik bisa sedemikian beragamnya diekspolari.

Semua Berbatik Ria. Dok: JFW 09/10.

17
Nov
09

Merdi Sihombing Angkat Muara Bungo Jambi

Biasanya layar di depan peserta perskon menceritakan fashion, video fashion show atau gambar model yang sedang aksi. Tidak malam ini. Gambar-gambar rumah adat Indonesia yang tampak berkali-kali. “Ini adalah proyek saya yang ketiga, saya angkat kain tenun songket dari kabupaten Muara Bungo Jambi,” tiba-tiba Merdi angkat suara. “Pada 2002-2003, saya mengerjakan proyek pertama, saya angkat baduy dalam, saya riset langsung ke sana. Proyek yang kedua datang dana banyak sekali dari Austria. Hasilnya, karya saya menenun kain dengan Kristal itu ada di salah satu museum Austria sampai sekarang.”

Riset Merdi untuk karyanya yang ketiga ini dimulai dari desa Tanah Periuk, mengambil motif-motif pada rumah kapal yang umurnya sudah berabad-abad. Semuanya dikombinasikan dengan benang metalik berwarna perunggu/tembaga dengan menambahkan macam-amacam efek. Motif dipertegas dengan glitter sehingga efek dimensi terasa lebih nyata.

Persis di depan press room, tiga ibu-ibu yang sudah memperlihatkan kerutan umur sedang sibuk menenun. Mereka bertiga ada dalam sebuah stand berjudul “Merdi Sihombing”. “Saya bawa mereka ke mari karena tenun itu prosesnya panjang sekali. Kalau ada yang nanya harga, lalu disebutkan digitnya 6, dia bilang, ‘duh mahal banget’, makanya saya bawa langsung penenunnya, biar tahu gimana susahnya. Kebanyakan yang saya buat ini masterpiece yang prosesnya satu bulan, bahkan ada yang sampai dua bulan. Songket mahal itu karena benangnya, semakin halus semakin tinggi harganya, karena prosesnya panjang. Harus sabar supaya gak putus. Proses menenun adalah proses cipta dan kasih sayang.”

“Malaysia boleh bikin kain kita, tapi dia gak punya cerita seperti kain kita ini. Dulu kain-kain ini dipakai kain nenek moyang di pintu rumah untuk menolak bala. Ada ceritanya. Malaysia gak tau itu,” Merdi tegas seakan-akan ada orang Malaysia di depannya sedang menunduk bilang, “Iya…iya…”

Menurut Merdi, penting sekali mengangkat kain lokal Indonesia. “Kita harus budayakan, karena kalau hilang, mau cari ke mana lagi. Karena saya lihat di pedalaman banyak yang hilang karena tidak ada yang menenun lagi karena memang marketnya tidak ada.

Semakin semangat Merdi menjelaskan, “Dibutuhkan komitmen untuk datang ke pelosok, lalu dibenerin dan dibawa ke kota. Jangan sampai nanti udah diambil orang baru kita teriak-teriak. Saya memberikan pembelajaran bahwa kain kita ini luar biasa. Karena ini kekuatan kita ketika kita ke dunia internasional. Suatu saat nanti akan terbukti karya kita akan setara dengan brand-brand internasional.”

Batik karya Merdi. Dok: JFW 09/10




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.