Arsip untuk Kategori 'sosok'

25
Jun
09

Angkat Tanganmu untuk Indonesia

IMG_0191Padahal sudah habis gelas kedua, tapi suara riuh belum keluar dari loud speaker itu. Sekelilingku sibuk tertawa dengan temannya masing-masing. Aku mau baca majalah yang kubawa dari rumah tapi lampu dalam ruangan itu remang-remang. Kata nenekku, tidak baik baca dalam keadaan remang-remang. Hmm…tertawa dan remang-remang, mirip Jakarta tampak depan ya?

Plaza fx Senayan memang selalu ramai. Kalau mau menutup mata sejenak dari bayangan buruknya kehidupan ibukota, fx bisa jadi alternatif. Tapi tidak untuk forum yang sedang kunantikan ini. Microsoft, Acer, dan Fresh si empunya acara justru ingin memberikan alternatif untuk membuka mata pemuda-pemuda di sekelilingku, melihat dan menyadari sepenuhnya keadaan lingkungan dengan usaha melebarkan senyum di sekeliling.

Social Entrepreneurship! Tiga jam ke depan, otakku akan dijejali dengan konsep-konsep social entrepreneurship. Grace, sang pembicara pertama lulusan Nanyang, bertutur social entrepreneurship adalah konsep yang tujuan utamanya bukan maximizing profit seperti konsep Kotler dalam bukunya yang dianut hampir seluruh mahasiswa dunia, termasuk Indonesia. Karena ada kata depan sosial, maka tujuan utamanya adalah pergerakan sosial, peka dengan darah-darah di lingkungannya, maximizing profit boleh, tapi kemudian profit itu untuk tujuan sosial. Bahkan, Grace menghalalkan creative capitalism yang digaungkan Bill Clinton. Mungkin si Grace ini belum tahu kalau orang Indonesia bisa melotot kalau ada yang bicara kapitalis-kapitalisan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan creative capitalism beda dengan capitalism biasa, yang ini tidak menumpukkan harta di satu puncak, karena yang ada di puncak-puncak itu selalu mengalirkan hartanya lagi ke piramida terbawah alias orang-orang miskin yang kata badan dunia berpenghasilan kurang dari dua dolar per hari. Apa jangan-jangan creative capitalism ini yang disebut-sebut ekonomi kerakyatan yang sebenarnya ya?

Contoh yang paling terkenal dalam aplikasi social entrepreneurship ada pada Muhammad Yunus. Pria hebat ini keliling ke salah satu kampung miskin di Bangladesh kemudian menemukan bahwa ada 42 wanita yang tidak punya modal untuk memulai atau melanjutkan usahanya. Untuk memodali mereka semua, ternyata hanya diperlukan 27 dolar saja! Maka dengan sigap Yunus mengumpulkan uang lalu menyalurkannya. Tidak lama kemudian, keempat puluh dua wanita itu sudah bisa mengembalikan uang Yunus sambil menyunggingkan senyumnya, mereka sudah mengaktifkan kembali usaha mereka. Dari situlah usaha Yunus semakin berkembang. Satu saat, dengan bangga ia mengangkat ke atas piala nobel yang didapatkannya karena langkah hebatnya itu.

Atau kisah sepasang manusia yang dengan kemampuan IT yang baik dalam membantu orang-orang di Afrika. Ia membuat kiva.org untuk menghubungkan peminjam dengan calon orang yang akan dibantunya di Afrika sana. Lewat video dan gambar yang mudah diakses, calon peminjam dapat dengan mudah memilih orang mana yang akan dibantunya.

Pada akhir presentasinya, Grace meyakinkan kami semua bahwa semua bisa ikut dalam gerakan sosial dengan bakat yang dimilikinya asalkan mau aksi langsung dan punya jiwa yang senang melihat kepingan orang yang dibantu tersenyum lalu mengoleksi kepingan-kepingan itu sebanyak-banyaknya.

Next, pembicara kedua, bloger hebat yang dipilih Microsoft untuk mendapatkan Microsoft blogership. Aku kenal gadis mungil itu. Anandita Puspitasari, kakak kelasku yang hebat. Stok semangatnya untuk beraksi offline sepertinya tidak pernah habis. Tulisan-tulisannya banyak menggugah. Aku sudah lama berlangganan blognya, nonadita.com.

Cerita multipoint yang diceritakannya sudah pernah kubaca di blognya. Gambaran ringkasnya, setiap murid dalam satu kelas dapat menggerakkan kursor dalam satu layar besar di depan kelas untuk mempelajari suatu hal yang sedang diajarkan gurunya. Satu layar banyak mouse. Misalnya sang guru sedang mengajarkan nama-nama benua di dunia, maka dia minta murid-muridnya berebut cepat dalam memindahkan kotak-kotak kecil bertuliskan nama-nama benua ke gambar peta dunia dalam layar dengan cara mengklik mouse masing-masing. Mungkin karena banyak kursor yang akan terlihat di layar maka dinamakanlah multipoint.

Adanya multipoint ini karena kegundahan Microsoft melihat data perbandingan jumlah computer dengan murid sekolah, di Jawa 1:900, artinya 1 komputer untuk 900 siswa. Luar Jawa pasti punya angka yang lebih besar. Dengan multipoint ini, hanya dibutuhkan 1 komputer untuk 1 kelas. Memang belum menyelesaikan masalah yang 1:900 tadi, tapi paling tidak ada satu gerakan yang sangat aplikatif untuk sekolah yang kurang mampu membeli banyak computer. Dengar-dengar, software untuk multipoint ini gratisan loh.

Lepas Dita, ada seorang penggiat UNICEF yang mengajak kita semua untuk lebih peduli dengan anak kecil. Ia meminta kami semua untuk membantu UNICEF dalam pergerakannya, kalau tidak bisa dengan uang ya dengan tenaga atau skill yang dimiliki. Ia bercerita tentang parahnya angka kematian balita di Indonesia karena banyak hal, termasuk imunisasi yang cupu.

Suasana jauh lebih meriah ketika Pandji Pragiwaksono, pembawa acara reality show “Kena Deh” itu loh, muncul di panggung. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: Angkat Tanganmu untuk Indonesia. Rupanya itu adalah lirik lagu rap ciamik buatannya. Harmonisasi lirik dan music semakin membuai penonton dan ikut larut mengangkat tangannya untuk Indonesia sambil sedikit ikut berdendang. Lirik dan musiknya sungguh membuat seratus kepala dalam ruangan remang itu terbius. Angkat Tanganmu untuk Indonesia…!

19
Jan
09

Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap

di atas Bromo yang sedang berasap

Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?

Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.

Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.

Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.

Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.

Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.

Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.

Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.

Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!

Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.

Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.

Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.

Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!

Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.

Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo

Dataran sabana menuju Bromo

Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.

Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo

Lautan pasir menuju Bromo

Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.

Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.

Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.

Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.

Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.

Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.

Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.

Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.

Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.

Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.

Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.

Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.

Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.

Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.

Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.

Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.

Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.

Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.

Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.

Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.

Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.

Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)

Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta

Kereta Jakarta – Malang 55.000

Stasiun – Arjosari 2.500

Arjosari – Gang Cak Nu 4.000

Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000

Biaya nebeng truk 25.000

Hotel 50.000

Kupluk + sarung tangan + syal 18.000

Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000

Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000

Probolinggo – Malang 14.000

Arjosari – Stasiun 2.500

Malang – Jakarta 55.000

Makan 10 x 7000 70.000

TOTAL 392.000

19
Des
08

Muhammad Kasim Arifin; Sosok Ideal Mahasiswa

Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim

Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim

Gemetar rasanya kalau nama itu disebut-sebut kembali. Kasim Arifin. Seorang kakak angkatan yang sangat saya banggakan. Bukan dua tahun beda usia kami. Bukan pula lima tahun atau sepuluh tahun. Tapi empat puluh delapan tahun. Bahkan orangtua saya belum bertemu ketika Kasim dinyatakan lulus dari almamaternya, Institut Pertanian Bogor.

Adalah Taufik Ismail yang ketika itu, 22 Oktober 2008, datang untuk membacakan puisi penyemangat untuk kami para wisudawan. Beliau bercerita tentang kisah teman satu atapnya dulu, Kasim.

Kuliah Kerja Nyata sudah menjadi suatu kewajiban bagi mahasiswa fakultas tertentu sejak dulu, tapi saat itu namanya agak lain, Pengerahan Tenaga Mahasiswa. Serupa maknanya. Kasim ditempatkan ke sebuah desa bernama Waimital di Pulau Seram, Maluku. Tugasnya waktu itu adalah mensosialisasikan Panca Usaha Tani kepada petani daerah itu. Beberapa bulan saja kewajibannya.

Setengah tahun kemudian, teman-temannya mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Kasim. Ke mana Kasim? Seharusnya dia sudah kembali ke Bogor untuk menyelesaikan skripsinya.

Setahun berlalu, Kasim tak kunjung muncul. Orangtuanya di Langsa, Aceh sana semakin cemas dengan hal tersebut. Dua tahun berikutnya Kasim juga tak nampak batang hidungnya. Padahal teman-temannya sudah lulus bahkan sudah bekerja menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tapi Kasim tetap tak nampak. Sang Ibu semakin cemas.

Orangtua Kasim sudah berkali-kali memintanya pulang. Begitu pula dengan pihak kampus. Panggilan pertama dari sang Rektor yang bercokol kala itu dihiraukannya. Pun dengan panggilan kedua. Untuk panggilan ketiga, Rektor, waktu itu Andi Hakim Nasution, menyematkan Saleh Widodo, sahabat Karim, untuk ikut serta menyerukan panggilan pulang dari rektor tersebut langsung ke Waimital.

Untungnya Kasim mau kembali, tapi itu setelah lima belas tahun. Ya, lima belas tahun. Cukup waktu untuk membuat kulit tangan dan kaki Kasim pecah-pecah. Sebab, setiap harinya, tak kurang 20 kilometer jarak perjalanan Kasim menuju sawah. Ia betul-betul mengajarkan petani daerah itu agar hasil tanamnya meningkat. Setiap hari dua puluh kilometer selama lima belas tahun. Sanggupkah engkau bayangkan, kawan? Sebelas dua belas dengan Lintang dalam cerita Laskar Pelangi yang bersepeda menempuh 40 kilometer setiap harinya itu.

Tak bosan-bosannya ia ajarkan berbagai metode yang didapatkannya di bangku kuliah untuk bisa diterapkan petani. Supaya petani lebih sejahtera hidupnya. Tentang kesejahteraan dirinya sendiri tak menjadi soal baginya.

Kasim menolong masyarakat agar mandiri. Tidak ada imbalan secuil pun atas jasanya ini. Atas jasanya membangun sawah-sawah baru. Atas jasanya memperkenalkan sekaligus membuat irigasi. Juga atas jasanya membuka jalan-jalan desa. Semua tanpa imbalan. Lima belas tahun, kawan.

Hiruk pikuk gemuruh suara manusia menyambut kembalinya Kasim. Teman-temannya yang sudah bergelimang harta memberikannya sepatu baru yang mengkilap seperti lampu taman, pakaian yang harum, tak lupa makanan yang lezat. Semua terharu akan kejadian tersebut. Semua bangga akan Kasim, teman lamanya yang duduk sama-sama mendengarkan dosen dua puluh tahun yang lalu.

Prosedur tetaplah prosedur bagi IPB. Sedemikian besar jasa Kasim, tetap dia harus menyelesaikan skripsinya untuk mendapatkan gelar. Hal tersebut tentu sulit sekali baginya. Lima belas tahun sudah Kasim tidak ditugasi pekerjaan kampus kali ini disuruh membuat skripsi yang merupakan tugas kampus paling berat bagi mahasiswa.

Teman-temannya tak hilang akal. Maka direkamlah semua cerita Kasim selama lima belas tahun membangun Waimital. Semua ia ceritakan. Butuh 28 jam untuk merekam apa yang Kasim ceritakan. Kemudian ada orang yang mengolahnya menjadi sebuah tulisan cerdas bernama skripsi itu. Prosedur-prosedur berikutnya tetap dilaluinya. Tentu saja dengan kemudahan di sana sini karena Kasim spesial. Pada akhirnya, skripsi selesai kemudian Kasim dinyatakan lulus sebagai Insinyur Pertanian.

Hotel Salak menjadi tempat yang cocok untuk sosok hebat seperti Kasim. Ia dipersilakan beristirahat dengan tenang di tempat yang nyaman itu untuk kemudian bersiap-siap melakukan wisuda istimewa baginya keesokan harinya.

Bukan nyaman yang didapat, tapi justru Kasim tidak bisa tidur. Suara kendaraan yang mondar-mandir di depan hotel menggangu telinganya. Kasim tidak terbiasa dengan hal tersebut. Maka ia mencari meja yang ada di kamarnya. Kemudian dia tidur di atasnya. Lelap. Tertawalah teman-teman Kasim mendengar insiden meja itu.

Wisuda spesial untuk orang spesial. Tidak seperti biasanya, dandanan Kasim pagi itu rapi sekali, setelan jas yang harum lengkap dengan sepatu mengkilap seperti lampu taman yang diberikan temannya membuat Kasim tampak beda. Sangat berbeda. Rambutnya disisir rapi dengan potongan yang cerdas.

Setelah proses wisuda selesai, banyak badan yang menawarinya pekerjaan. Teman-temannya yang sudah menjadi petinggi di sini dan di sana pun ikut menawarinya pekerjaan. Namun, semua ditolaknya dengan tegas. Kasim ingin kembali ke Waimital. Membangun Waimital kembali. Lima belas tahun masih belum cukup baginya. Maka berangkatlah Kasim kembali ke Waimital. Kali ini dengan title Insinyur di depan namanya. Tapi Kasim tak terlalu ambil pusing perihal title.

Beberapa waktu kemudian, Kasim berubah pikiran. Mungkin ia berpikir bahwa lebih baik ia menggodok seribu Kasim lainnya agar perjuangannya dapat ditularkan. Akhirnya ia beralih menjadi dosen di Universitas Syah Kuala, universitas negeri termashur di Aceh.

Walaupun rupa ini tidak pernah bertatap, bahkan tidak pula dalam bentuk kata-kata. Tapi pola pikirnya sanggup membuat semangat ini bangkit lagi untuk berguna bagi orang lain. Terima kasih Muhammad Kasim Arifin.

10
Des
08

Attila: Di Mana Saya Melintas, Rumput Tidak Tumbuh Lagi

attila the hun

attila the hun

Ada sebuah game yang cukup digandrungi anak muda, yaitu Age of Empire. Di dalamnya kita disuruh memilih menggunakan suku apa untuk berperang. Sebuah suku yang cukup unik ada di dalamnya: The Huns! Kelebihan menggunakan suku ini adalah tidak perlu membangun rumah untuk penduduknya. Dia punya satu pasukan elit, yaitu tarkan, pasukan berkuda yang handal dalam menghancurkan bangunan.

Saya penasaran. Saya gali lebih dalam lagi. Berdasarkan sejarah, Huns memang suku nomaden alias suka pindah-pindah. Mungkin karena sifatnya ini maka dia tidak butuh rumah. Asalnya dari Asia Tengah. Di dalamnya ada beberapa etnis, dua di antaranya yang terkenal adalah etnis turki dan mongol. Mereka menjadi semakin kuat pada abad ke-4 M.

Yang namanya manusia zaman dulu (mungkin juga masih sampai sekarang), selalu rakus kekuasaan, tidak pernah puas dalam menguasai wilayah. Di abad ke-5, The Huns membuat sebuah kerajaan namanya Hunnic Empire. Waktu itu Attila yang memimpin.

Attila ini orang gila. Kata-kata yang terkenal darinya, “Di mana saya melintas, rumput tidak tumbuh lagi.” Ia dinobatkan sebagai raja paling sadis di dunia. Beberapa wilayah yang pernah jadi koleksi dia: Balkan, Serbia, Bulgaria, Yunani.

Semakin menggila. Semakin banyak sekutu yang dilibatkan. Serangan yang paling besar melibatkan 700.000 pasukan. Waktu itu Eropa Barat yang jadi sasaran. Perang di Eropa Barat cukup panjang kala itu. Kemenangan besar!

Entah ini dibuat-buat sama sejarawan atau memang betulan. Setelah serangan besar-besaran itu, Attila pulang ke istananya. Dia dapat istri baru, namanya Illdico. Malam itu mereka langsung memadu kasih. Pagi harinya, Attila ditemukan tanpa nyawa dengan darah mengucur dari hidungnya. Akhir yang tragis.

19
Okt
08

WARWICK PURSER: Pahlawan dari Tembi

“Edisi depan, kita angkat Indonesian Craft!” kata bos saya sambil memberikan sebuah buku tebal seberat hampir 1kg dengan judul Made in INDONESIA: A Tribute to the Country’s Craftspeople. Pengarangnya bernama WARWICK PURSER. Di situlah perkenalan pertama saya dengan nama Warwick Purser. Sebetulnya saya masih agak bingung juga, kok buku tentang Indonesia dibuat oleh orang asing? Kalau tentang sejarah pulau Jawa dan Sumatera tercetak di buku-buku Belanda masih wajar karena kita pernah dijajah mereka. Tapi ini tentang kerajinan tangan Indonesia. Oke, mungkin ini akan dibahas di lain waktu.

Singkat cerita, saya berangkat ke Jogja untuk mencari bahan tulisan. Di sore itu, saya meliput PT Out of Asia yang kepunyaan Purser. Namun sayangnya, beliau tidak bisa diwawancarai karena sedang tidak di tempat.

Perusahaan itu bisa dibilang sebuah distributor dan produsen terbesar untuk kerajinan tangan. Panjang ceritanya sampai menjadi sebesar ini. Singkatnya begini. Pada tahun 1995, Warwick pindah ke Tembi, sebuah daerah dekat Parangtritis. Sulit sekali mencari pekerjaan di daerah ini sehingga kebanyakan penduduknya pindah dan bekerja di kota. Tapi Purser tetap yakin tentang apa yang dilakukannya: membangun Tembi. Tidak berapa lama kemudian, dia berhasil mendirikan PT Out of Asia dengan mempekerjakan penduduk sekitar. Pada tahun 1993, ada 800 penduduk sekitar yang dilibatkan. Purser memiliki tujuan yaitu menciptakan lapangan pekerjaan paling tidak satu dari seluruh anggota keluarga di daerah Tembi. Perusahaan ini terus berkembang. Sampai tahun 2008, puluhan ribu pengrajin sudah terlibat di dalamnya. Ya, puluhan ribu! Dari sini saja kita sudah bisa berdecak kagum, bukan?

Tapi tidak hanya itu saja kehebatan Purser. Hal unik lain dari Purser, ia ingin rumahnya dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas. Jadi, dia membeli tanah yang cukup luas, kemudian dia bangun rumah di tengahnya. Sisa lahan yang masih sangat luas diberikan kepada petani untuk mengolahnya, tanpa dibebani uang sewa. Ia hanya ingin rumahnya dikelilingi sawah. Hasil panen silakan dimanfaatkan sepenuhnya oleh petani. Apa ada orang kaya di Indonesia yang mempunyai keinginan seperti itu? Mempunyai rumah di tengah sawah? Rumah di tengah sawah banyak, tapi itu dibangun dengan terpaksa oleh petani miskin.

Bentuk bangunan perusahaannya juga unik karena bukan berupa bangunan layaknya kantor. Purser menyewa rumah-rumah warga di Tembi untuk dijadikan kantor. Jadi, letak kantor bagian promosi di rumah ini, kantor bagian personalia di rumah yang itu, kantor bagian pengembangan produk di dekat belokan sana. Ini dilakukan Purser agar perusahaannya tidak mempunyai kesan eksklusif, dia ingin berbaur dengan masyarakat.

Yah, begitulah Purser, tokoh visioner yang layak untuk dikagumi karena idealismenya.

12
Sep
08

Sarjana yang Turun Lapang

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

Selama ini, saya pikir cerita2 di salah satu bukunya Helvi Tiana Rosa (lupa judulnya) yang mengangkat penggalan2 kisah orang baik itu tidak akan bisa saya temui langsung. Tapi ternyata salah, beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Usnadi, salah satu petani yang tinggal di daerah Cibatok, Bogor. Kami ngobrol tentang padi yang dipakai daerah itu, penduduk2nya, sampai membicarakan HKTI segala. Tidak lama kami mengobrol, datang Sekdes yang ikutan nimbrung ngobrol dengan kami. Dari sang Sekdes itu baru saya tahu bahwa ternyata Usnadi ini lulusan Sosek Unpad. Kaget betul saya waktu itu. Kok mau2nya sarjana nyawah.

Saya semakin tertarik dengan sosok satu ini. Saya ajak ngobrol lebih mendalam tentang kehidupan dia. Usnadi pernah kerja di Bank dan beberapa perusahaan sebelumnya. Tapi akhirnya dia mengambil jalan untuk kembali ke daerahnya (Cibatok). Dia betul2 bertani layaknya buruh tani pada umumnya. Dari cara bicaranya, memang tidak perlu diragukan kalau dia adalah seorang sarjana. Pengetahuan politiknya cukup mendalam. Dia tahu banyak hal. Tapi dia tetap memilih menjadi petani. Satu pernyataan yang masih membuat saya tergugah sampai sekarang: Kalau bukan saya, siapa lagi yang membimbing petani desa ini?

Saat ini, Usnadi diangkat menjadi ketua kelompok tani di desa itu. Baru tiga tahun tinggal di Cibatok, tapi hampir semua orang di desa itu mengenalnya. Semua hormat dengan Usnadi. Begitu cerita dari salah satu penduduk.

Kalau dilihat dari kemampuannya, dia bisa saja mendapatkan kesejahteraan (materi) lebih baik lagi daripada sekarang. Tapi, siapa yang akan membimbing petani di tingkat bawah? Siapa yang membahasakan pelatihan dengan bahasa petani? Siapa yang memperkenalkan bibit2 unggul pada petani? Dan siapa yang meyakinkan petani bahwa perubahan itu perlu?

Di tingkat akademisi, kegiatan turun lapang memang sudah rutin dilakukan. Tapi hanya dua bulan, tidak permanen seperti yang Usnadi lakukan. Bukan berarti saya menyalahkan akademisi. Itu memang pilihan, tidak ada yang salah ketika kita memilih mencari kemerdekaan financial.

Usnadi memang sosok yang sangat pantas untuk saya kagumi. Cara berpikirnya berbeda dengan kebanyakan orang, Radikal!

10
Apr
08

XS Project

sampah dijadikan bahan daur ulang, kenapa tidak?

sampah dijadikan bahan daur ulang, kenapa tidak?

Ann Wizer, 53 tahun, lulusan Maryland Institute College of Art jurusan Seni Rupa, sengaja tinggal di Jakarta dengan tujuan mo ngurangin jumlah sampah jkt…dia kumpulin pemulung2 di jkt terus minta tolong pungutan2 plastiknya yg masih bagus dijual ke si Ann…ternyata si Ann ini bikin macem2 dr bahan baku sampah ini, yg gw tauk, dia produksi tas, dompet, sama kursi…hasil produksinya diekspor sampe eropa, amrik, ostrali…di setiap produknya digantungin tag: This product is made from GARBAGE, collected by Jakarta’s TRASH PICKERS

Proyek ini jalan dari 2002, cerita ni proyek sempet diangkat di majalah Tempo maret 05, dan yg bikin seneng, diangkat lagi sama majalah Provoke! Februari 08, provoke! tu majalah anak2 gaulnya jkt dan sekitarnya…sang pembaca Provoke! mungkin gak terlalu mikirin sampah numpuk tapi lebih mikirin gaya (berkaca dari proyek gelang karet kebersamaan yg hot 3 tahun y.l.), tapi gapapa…yg penting sampah ngurang…

Naaah…layaknya program buat majuin pertanian, ada ekstensifikasi dan ada intensifikasi pertanian…kalo gak bisa melakukan ekstensifikasi persampahan kyk yg Ann lakuin, kita bisa ikut dalam proyek intensifikasi persampahan…intinya ngurangin sampah yg gak perlu…mis: makan di tempat makan langsung, gak dibungkus…cz kalo dibungkus bakal perlu plastik lagi…atau, gak usah ngeprint hasil transaksi di atm, walopun kecil gitu tapi kan sayang juga kalo cuma diliat sekali trus dibuang…mungkin sampahnya lebih gampang diancurin daripada plastik, tapi buat bikin kertas sekecil itu kan butuh kayu yg lumayan banyak cing…atau, kalo cuma belanja mie gak usah diplastikinlah, langsung aja tumplekin ke tas…ya…lo bisa lebih kreatiflah…