Arsip untuk Kategori 'sosok'

07
Jul
11

Pembunuh Singa Padang Pasir

Karya Dr Najib Kailani. Penerbit Pustaka.

Empat paragraf awal, sebelum daftar isi, langsung membuatku ingin membaca terus sampai episode terakhir (total 268 halaman). Ini hanya penangkap perhatian pembaca saja, yang diambil dari pertengahan cerita. Selanjutnya novel dimulai dari persiapan Quraisy untuk perang Uhud melawan umat islam yang sudah hijrah ke Madinah.

Serunya, yang dijadikan pemeran utama adalah Wahsyi, seorang budak milik Jabir bin Muth’im (tokoh Mekah). Darinya kita jadi tahu kehidupan budak zaman dulu.

Penulis membeberkan sejarah masuknya islam. Konflik dan peperangan awal antara islam dan orang Quraisy serta Yahudi dari berbagai klan. Sekalipun mereka menyatukan kekuatan dalam perang Khandaq, tapi islam tidak kunjung takluk.

Dialog-dialog cerdas dan dalam tentang pemaknaan islam antara Wahsyi dengan Suhail, kawannya, dan Wisoli, pelacur Mekah yang tersohor, membuat novel ini makin memperlihatkan seperti apakah islam, paling tidak menurut Najib Kailani.

Puncaknya ketika Fathu Mekkah (terbukanya kota Mekkah) ketika kota Mekkah takluk tanpa terjadi adu senjata. Islamisasi yang sungguh anggun. Tinggallah Wahsyi yang kabur dari Mekah karena takut perbuatannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga dijuluki si Singa Padang Pasir) atas permintaan Hindun bin ‘Atabah.

Perkataan Suhail tentang islam dan jaminannya bahwa Nabi tidak akan membunuhnya kala dia ingin masuk islam, membuat Wahsyi berkeputusan menjumpai Nabi. Nabi menerima keislamannya, tapi Wahsyi diminta untuk menjauhkan wajahnya dari hadapan Nabi. Permintaan Nabi itu sungguh membuatnya terpukul. Namun, ia tetap melaksanakannya.

Wahsyi menjadi penganut islam dan menjalankan syariat islam seperti orang pada umumnya. Keandalannya dalam melempar lembing membuatnya berhasil membunuh Musailamah Al Kazzab, nabi palsu yang menjadi musuh islam, pada zaman kekhaifahan Abu Bakr RA.

Wahsyi berjongkok, mencabut tombaknya yang masih tertancap di tubuh Musailamah. Dengan wajah tengadah Wahsyi bergumam:

“Maka sekiranya aku dengan tombak ini telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, aku berharap, kiranya Allah mengampuni segala dosa-dosaku, karena dengan tombak ini pula aku telah membunuh sejahat-jahat manusia, yaitu Musailamah Al Kazzab.”

 

31
Mei
11

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

04
Mei
11

A Survivor’s Story

Lance Armstrong yang terkenal sebagai atlet sepeda itu ternyata punya cerita panjang sekali dalam hidupnya. Seperti yang Ibunya bilang, setiap sisi hidup Lance adalah keajaiban. Banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin baginya.

Lance adalah seorang Amerika yang berhasil memenangkan Tour de France setelah mengidap kanker otak. Umurnya masih 20-an ketika itu. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara logis bagaimana seorang yang telah melakukan kemoterapi berkali-kali bisa mengayuh sepedanya lagi, bahkan menjadi juara turnamen sepeda terhebat di dunia. Tahun depannya menang lagi, tahun depannya menang lagi, sampai berkali-kali.

Ia menceritakan bagaimana dirinya menghadapi tantangan hidup. Tidak ada pemuda di Amerika yang menganggap profesi atlet sepeda itu keren, tapi ia menjalaninya. Sampai ia memenangkan Tour de France, akhirnya Amerika mengelu-elukan namanya dan bangga sekali dengan Lance.

Keteguhan hatinya patut dicontoh. Ia yakin sekali bisa kembali ke jalanan untuk menjadi atlet sepeda terbaik. Ia berhasil melakukannya.

Kanker membuat cara pikirnya berubah. Sampai ia mendirikan semacam yayasan yang mendorong para pasien kanker untuk bangkit. Lance adalah sosok yang luar biasa kuat.

24
Feb
11

Trowulan yang Panjang

“Anda memasuki kawasan bebas dari buang air besar sembarangan.” Setelah bolak balik baca baru aku sadar itu tulisan betulan dan serius, yang ditulis di potongan-potongan papan lalu dipasang di ujung sebuah gang. Di situ tertulis, sejak tanggal 29 Desember 2009. Berarti baru sekitar setahun yang lalu.

Kejadian itu adalah satu dari sekian kejadian menarik dalam perjalanan hari ini, 18 November 2010. Tujuanku Trowulan untuk melihat berbagai peninggalan Majapahit di sana. Sebelumnya Cuma dapat cerita-cerita sekilas dari kawan tentang beberapa situs di Trowulan.

Posisi awalku di Lengkong. Jarak Lengkong-Trowulan sekitar 40 km. Aku pilih jalan kaki karena sepertinya lebih seru dan bakal banyak pembelajaran serta cerita. Komentar kurang kerjaan, siapa peduli?

Sebelumnya aku berhitung, dengan asumsi jalan normal itu kecepatannya 4 km/jam dan istirahat dipasang 2 jam. Berarti kalau jalannya non-stop dan aku mulai sejak subuh, maka sampai Trowulan pukul 5 sore. Asumsi lain, tidak hujan dan tidak ada pengurangan kecepatan jalan. Kupilih asumsi itu berdasar pengalaman jalan sebelumnya berjarak 10 km yang tertempuh 2,5 jam. Selanjutnya kuketahui asumsi yang terakhir ini berbahaya!

Rute sudah dipaskan dengan saran-saran dari penduduk lokal. Kalau rute jalan besar ya lewat Kertosono, tapi saran mereka, kalau jalan kaki ya lewat jalan yang ke arah Ploso, lalu lanjut naik perahu di  Tambangan, lanjut Jombang, Mojoagung, baru sampai Trowulan. Cerita Tambangan ini yang paling membuatku tertarik, karena aku akan menggunakan kapal mesin tempel menyeberangi sungai Brantas. Apalagi mereka bilang jalur yang lewat Tambangan itu lebih dekat dan lebih sepi ketimbang lewat Kertosono. Cocoklah.

Hanya tas gemblok yang kubawa dengan isi sepasang baju ganti, sarung, dan air minum. Sorban kupakai untuk menghalau panas, tapi baru kupakai ketika matahari betul-betul berasa. Tadinya mau pakai topi yang biasa dipakai anak-anak gunung dengan pengahalau panas di semua sisinya, tapi tidak punya dan sayang kalau beli sekali pakai hilang, biasanya begitu.

Sepatu kets biasa, baju lengan panjang, dan celana training yang dilipat hampir sampai lutut, mungkin bukan muasal orang bertanya-tanya dan memandangku begitu anehnya. Kupikir, mereka menganggapku aneh karena memakai sorban yang dibalut seperti selendang. Apalagi ditambah kacamata cokelat tak tembus pandang.

Aku jalan dengan tidak makan sebelumnya. Baru berjalan 5 km atau 1 jam lebih sedikit, aku istirahat sekaligus sarapan. Warung makan yang kusambangi tiadalah besar, hanya sebesar warteg pada umumnya. Sepiring pecel harganya Rp 3.000. Ngobrol sebentar dengan orang yang ada di warung, untuk memastikan rute sudah betul.

Sebelum beranjak, aku izin ke toilet. Ibu penjaga warung mempersilakan, sambil menunjukkan jarinya ke belakang. Aku ke belakang dan tidak melihat ada ruangan apa pun layaknya toilet, yang ada hanyalah ember tanpa air di sebuah gubuk tak beratap dan tak berpintu. Letak gubuk itu persis di belakang warung. Sekelilingnya hanya kebun yang beralirkan limbah dari tempat pencucian piring dalam warung.

Aku kembai lagi, “Bu, toiletnya yang mana?” Dia menunjuk ke gubuk itu. Oh sial. Aku masuk dan mengamati lagi, gimana memanfaatkan gubuk itu jadi toilet? Rupanya di tengah gubuk ada lubang ke bawah yang hitam dan kecil dan tidak mau aku lihat untuk kedua kalinya. Aku pilih buang air kecil di kebun sebeah gubuk itu sajalah. Untung aku sudah makan sebelumnya. Kalau belum, mungkin seketika selera itu hilang.

Sepanjang jalan banyak orang yang memperhatikanku. Aku sudah biasa melihat picingan mata atau curi-curi pandang seperti yang mereka lakukan. Tidak kupedulikan sama sekali. Terkadang malah aku balas pandangan mereka tepat di matanya, biasanya mereka yang mengalah.

Aku sampai di Tambangan masih pagi. Seperti yang diceritakan kepadaku, di sini orang menyeberang dengan kapal tempel (kapal nelayan yang ditempel mesin). Dalam satu kapal itu bisa muat sekitar 7 motor dan 20 orang. Tarifnya per motor (termasuk orangnya) Rp 2.000. Modelku sudah ketebak bahwa aku orang asing dan kuprediksi harga akan dinaikkan buatku, apalagi aku pakai bahasa Indonesia. Tapi justru malah aku digratiskan =). Wah, aku sudah suudzon.

Tiap sekitar 5 km aku istirahat beberapa menit sambil minum. Perjalanan dari Munung (nama tempat setelah menyeberang lewat Tambangan) ke Jombang adalah yang terberat. Jalannya sih sepi dan asik untuk pejalan kaki. Tapi tidak ada pohon di kanan kiri jalan, yang ada hanya sawah. Jadi panasnya itu cepat sekali bikin lemah. Jalanku melambat.

Sampai aku ketemu dengan suatu masjid megah yang juga merupakan kompleks sebuah pondok pesantren NU, kelihatannya ini awal masuk kota Jombang. Aku masuk dan ngobrol dengan seorang santri yang tinggal di dalam. Dia cerita bahwa itu adalah salah satu dari 4 pondok terbesar di Jombang. Dari dulu memang Jombang terkenal sebagai kota santri. Tebu Ireng adalah yang terbesar di Jombang.

Tidak bisa kutahan lagi, aku ingin tidur. Kucari masjid yang tidak di pinggir jalan raya, aku izin dengan yang ada di sekitar masjid itu, langsung tidur hanya dalam beberapa menit. Aku jalan lagi, lalu mampir lagi di masjid tidak jauh dari kota Jombang. Kalau yang kedua ini mampir karena lapar dan kelihatannya mau hujan.

Dua jam lebih bermukim di masjid tersebut, ternyata sudah Ashar. Wah, aku sudah kalah 2 jam dari target. Walau agak gerimis tapi aku jalan sajalah, toh ada sorban pelindung kepala dan tas. Kamera aku masukkan ke plastik lalu kutaruh di tas bagian paling bawah biar aman dari hujan.

Seingatku, tidak pernah aku baca artikel yang bilang bahwa otot itu bisa tiba-tiba keram kalau ketemu suhu yang turun. Tapi begitulah yang terjadi. Dalam 2 jam jalan itu rasanya otot mengeras mengikuti kurva logaritmik, cepat sekali.

Jam 5 sore aku sudah tidak tahan lagi. Langkah sulit kuatur. Otot kaki bisa melangkah ke depan tapi sulit dihentikan sehingga kaki sampai menghentak lurus baru bisa menapak. Sepertinya lututku mulai bermasalah. Kuputuskan bermalam sajalah di Mojoagung, sekitar 6 km sebelum Trowulan. Aku kalah dan salah berasumsi.

Ramainya alun-alun Mojoagung yang di pinggir jalan lintas itu ternyata gara-gara mala mini banyak yang bakal berkunjung ke makam Mbah Sayyid Sulaiman. Plang besar yang menunjukkan arah ke situ menandakan ini orang dulunya bukan sembarang orang. Beberapa orang bilang malam ini akan sangat ramai. Mobil akan mogok berkilo-kilo meter. Tapi sama sekali aku tidak tertarik mampir ke sana karena memang menurutku tidak betul yang begitu-begituan.

Aku pikir besoknya aku bisa jalan lanjut ke Trowulan, tapi sakitnya kaki tidak berkurang sama sekali, malah sepertinya tambah parah. Jadi, aku naik angkutan umum berbayar Rp 2.000 sampai depan kantor wisata Trowulan. Lalu lanjut jalan ke dalam sekitar 1 km menuju museum. Mungkin cerita detail Trowulan akan kulanjutkan kapan-kapan.

12
Jul
10

Ayah dan Pendidikan

Sejak lahir sampai sekarang, Aku tumbuh di sebuah wilayah di pinggiran Jakarta. Bukan perumahan, bukan komplek, bukan juga perkampungan. Entah apa namanya, tapi yang jelas, posisi rumahku di satu sisi berhadapan dengan perkampungan, di sisi lain dengan perumahan yang cukup mewah.

Keadaan tersebut membuatku bisa bergaul dengan, maaf, anak-anak kampung. Mereka adalah anak-anak yang sejak lahir dididik untuk bermain di luar rumah. Tapi sepertinya kurang tepat juga menggunakan kata “dididik” yang lebih terkesan disengaja. Padahal, mereka memang tidak punya pilihan. Uangnya tidak cukup untuk membelikan anaknya Nitendo atau Sega, games yang eksis kala itu, jauh sebelum masa jaya Play Station. Mereka hanya dibekali uang yang hanya cukup untuk membeli layangan.

Jadilah Aku ikut bermain layangan bersama mereka, hampir setiap hari. Aku sangat kenal dengan istilah “Telap”, yaitu sebutan untuk layangan yang sudah putus. Di saat itu, semua anak berlarian, tanpa alas kaki, mengejar layangan tersebut. Aturan tak tertulisnya, siapa saja yang sudah menyentuh benang dari layangan putus itu, maka dialah yang berhak menjadi tuan bagi layangan malang tersebut.

Permainan yang juga sering kami mainkan adalah kelereng, tapi kami lebih senang menyebutnya “gundu”. Bermacam varian bermain gundu sudah kukuasai, dari saling mengenai dengan lawan sampai berebut sebanyak-banyaknya gundu yang ada di sebuah kotak dengan cara mengenainya sehingga keluar kotak. Gundu yang sudah keluar kotak menjadi milik kita. Masih banyak varian lain dari bermain gundu. Istilah yang juga beken adalah “Gacoan”, yaitu gundu andalan kita yang kita anggap paling hebat atau gundu favorit.

Aku juga ikut bermain Tak Kadal Lobang, Tak Umpet, Tak Benteng, Tak Jongkok, Galasin, dan mainan outdoor lainnya. Terkadang, kami bertualang ke kebun tak terurus di dekat rumahku untuk mencari batang bambu kecil. Setelah dipotong dan diperhalus, batang bambu itu disulap menjadi sebuah senjata seperti suku-suku pedalaman yang sering kulihat di TV. Bedanya, mereka meniup pelurunya lewat bambu, sedangkan kami menyodoknya dengan alat yang juga terbuat dari bambu. Berjam-jam kemudian, kami larut dalam permainan perang-perangan.

Di waktu yang lain, kami jalan-jalan ke sawah dekat rumahku, lalu membius ikan sepat dan gabus dengan “cengkalim”, entah pengejaannya seperti apa, tapi mereka menyebutnya demikian. Bentuknya seperti sabun batangan berwarna putih. Cukup digoyang-goyang ke dalam air sawah, semenit kemudian, ikan-ikan mabuk, lalu kami tangkap. Dibanding semua permainan, inilah yang menurutku paling menyenangkan karena Aku bisa bermain basah-basahan dan bisa membawa pulang ikan hasil tangkapan. Biasanya ikan Aku taruh ke Akuarium lalu sehari kemudian mati. Mungkin karena dosis cengkalim yang terlalu tinggi, tapi yang jelas selalu demikian.

Oleh Ayah, Aku diberi kebebasan bermain apa saja dengan syarat, saat Adzan Magrib sudah ada di rumah dan mulai fokus pada pelajaran sekolah. Mama punya syarat lain, jangan bermain sampai mengotori baju karena akan susah mencucinya. Jadi, kalau Aku dari sawah, lumpur yang menempel di baju selalu Aku bersihkan terlebih dahulu dengan pompa air umum dekat sawah, lalu setelah baju kering, Aku baru berani pulang.

Ayah waktu di Amsterdam. Sebetulnya gak relevan dgn cerita, tp stok foto Ayah cuma sedikit dan ini yang menurutku terkeren. Dok: Iqbal.

Di sisi lain, sebetulnya Aku tidak punya akses untuk bergaul dengan anak-anak komplek yang jarang sekali keluar rumah itu. Tapi, ada pendekatan lain yang membuatku bisa berbaur dengan mereka. Ayahku punya satu sifat positif, selalu mengutamakan pendidikan pada anak-anaknya. Jadilah kami selalu diusahakan untuk masuk sekolah unggulan. “Diusahakan” di sini bukan cuma sekedar menyuruh anaknya belajar dan ikut les dengan rutin, tapi sampai mengemis-ngemis ke sekolah untuk bisa diberi keringanan SPP. Maklum, Ayahku bukan orang kantoran yang mendapat gaji tetap sehingga bisa mengukur “kapasitas”. Aku sangat bersukur dengan sifat Ayah yang satu ini.

SD, SMP, dan SMA yang kududuki terbilang sekolah unggulan. Dari situlah Aku mengenal komunitas yang jauh lebih “berada”. Awalnya, terutama di SD, Aku kagok bergaul dengan orang-orang yang diantar jemput dengan mobil pribadi, sedangkan Aku selalu jalan kaki berkilo-kilo selama 12 tahun (SD-SMP-SMA). Aku kagok bergaul dengan mereka yang bisa bebas membeli makan siang di sekolah, sedangkan Aku hanya bisa membeli nasi goreng (pilihan termurah waktu itu). Tapi kemudian pergaulan bisa dilanjutkan. Alhamdulillah Aku diberi kemampuan menangkap pelajaran dengan baik, terutama Matematika. Itulah yang menjadi modalku bergaul dengan mereka.

Jadi, Aku punya dua varian pergaulan yang jauh bertolak belakang. Setelah pulang sekolah, terkadang Aku bermain layangan dengan anak-anak di kampung dekat rumahku dengan bermandikan peluh ditemani oleh matahari terik. Di waktu yang lain, Aku bermain Play Station di kamar temanku yang ber-AC dan dipenuhi makanan-makanan enak. Aku menikmati keduanya.

Waktu terus berjalan, malang bagi teman-temanku yang suka bermain layangan, sebagian besar dari mereka tidak dapat masuk ke sekolah unggulan. Banyak faktor di balik fakta tersebut, yang paling kuat adalah ketidakberdayaan akan biaya sekolah. Mereka lebih memilih sekolah biasa yang sarat akan budaya tawuran.

Alamku semakin berbeda dengan mereka karena pola pikir yang diajarkan kepadaku di sekolah jauh berbeda dengan pola pikir mereka. Semakin tidak nyambung, sampai di suatu titik, setelah masuk SMA, Aku tidak bergaul lagi dengan mereka. Aktifitas yang padat luar biasa di sekolah mendorong hal tersebut semakin kuat.

Aku bersukur sempat menikmati masa kanak dengan permainan-permainan outdoor setiap hari. Sepertinya hal tersebut sangat sulit didapat pada zaman sekarang, padahal setahuku, itu adalah metode pengembangan anak yang paling baik. Aku juga bersukur karena terselamatkan dari berbagai kenakalan remaja yang kerap dilakukan anak kampung di daerah rumahku. Ayah punya metode pengajaran yang tepat, sangat patut dijadikan contoh. Aku bangga punya Ayah yang sangat peduli akan pendidikan Anak-anaknya.

03
Jun
10

Teruntuk Rachel Corrie

Rachel Corry. Doc: www.flickr.com

Salam untukmu di sana.

Beberapa hari ini, Aku kerap mendengar namamu dari beberapa media. Sekelompok orang menamakan sebuah kapal dengan namamu karena mereka ingin menularkan semangatmu kepada tiap orang yang ada dalam kapal itu. Rupanya berhasil, semangatmu berkobar tegas. Walau Marvi Marmara ditembaki tentara Israel beberapa hari lalu, tapi kapal dengan namamu itu tetap meluncur ke Gaza tanpa gentar. Persis seperti semangat mudamu dulu. Pidatomu waktu masih sangat belia membuat kepalaku gemetar. Apalagi setelah mereka mengabarkan bahwa kamu mati terlindas tank Israel ketika kamu menghalangi tank itu melantakkan sebuah rumah milik satu keluarga Palestina yang kamu pun tak kenal.

Dua puluh tiga tahun. Dalam usia semuda itu, kamu telah berbuat sangat banyak demi sebuah cita-cita yang sudah kamu kukuhkan sejak kecil, menyelamatkan orang tertindas yang jumlahnya selalu bertambah 40 ribu orang per hari. Kamu telah berbuat sangat banyak sampai meluberkan isi dalam gelasmu sendiri dan membasahi gelas-gelas lain dengan semangatmu.

Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu kuat memegang prinsip dan cita-cita. Kamu meninggalkan hidupmu di Amerika yang penuh dengan kemudahan lalu beranjak ke Gaza. Di saat banyak negara hanya mengecam, engkau berani pasang badan langsung di pusat konflik. Di saat banyak orang hanya mendengar cerita-cerita, engkau melihat langsung seorang anak dibom saat ia tidur dan seorang pemuda yang ditembak mati dengan mata tertutup dan tangan terikat.

Aku sangat lemah. Tidak terbersit sedikitpun pikiran untuk berbuat seperti yang kamu perbuat. Aku hanya bisa menganalisis mana saja produk buatan Yahudi lalu mencoretnya dari daftar belanjaku. Harapannya, Aku bisa mengurangi satu peluru yang kusumbangkan untuk tentara Israel. Ya, hanya satu peluru, dan hanya berupa sebuah harapan. Jauh lebih kecil dibanding apa yang sudah kamu perbuat. Aku hanya memikirkan kehidupan diriku dan orang-orang di sekelilingku, sedangkan engkau memikirkan orang-orang tertindas yang tidak kamu kenal, ratusan ribu kilometer dari rumahmu. Aku sangat jauh dari apa yang sudah kamu perbuat.

Terima kasih atas tamparannya untuk menyadarkanku dan mungkin banyak orang lain.

Muhammad Iqbal

05
Mei
10

Bamboo House: Gambaran Sejarah dan Budaya Jabar dalam Satu Pagar

Pagar depan bamboo house. Dok: Iqbal

Beberapa orang memfokuskan dirinya mengenal budaya Jawa Barat secara keseluruhan. Kuswandi pun demikian. Bedanya, ia mengambil penjurusan yang lebih spesifik, yaitu sejarah perkebunan di Jawa Barat. Rumahnya di Garut divermak habis dengan gaya Sunda.

Februari 2010 lalu, saya mendapat kesempatan menyambangi Bamboo House untuk melakukan studi literatur. Bamboo House adalah nama sebuah tempat mirip vila yang sarat akan ilmu pengetahuan, terutama tentang sejarah dan budaya Jawa Barat. Letaknya tidak begitu jauh dari kota Garut. Katanya sih begitu. Saya sendiri belum tahu di mana letak kota Garut.

Waktu itu, saya pergi menggunakan mobil pribadi. Namun bus umum juga bisa mengaksesnya dengan mudah. Bisa dimulai dari terminal Rambutan atau Lebak Bulus tujuan Guntur Garut, tarifnya sekitar Rp35 ribu. Lanjut naik angkot jurusan Karangpwitan, turun di Cimurah, sekitar Rp3 ribu. Cimurah adalah nama sebuah desa tempat Bamboo House berada. Jalan turun dari angkot menuju desa itu kecil dan sepi. Hanya cukup untuk dilewati satu buah mobil dan satu buah motor. Tapi tetap saja tidak ditemukan dua mobil dari arah berlawanan yang berdesakan menggunakan jalan, karena sepinya jalan itu.

Dari tempat turun bus sampai Bamboo House kira-kira sekitar 200 meter. Saya sarankan, jangan naik ojeg karena akan melewatkan banyak waktu menikmati pemandangan di kanan dan di kiri jalan yang penuh hamparan sawah.

Penduduk sekitar tidak mengetahui bahwa Bamboo House mempunyai segudang koleksi tentang sejarah Jawa Barat. Mereka hanya mengetahui itu adalah sebuah vila biasa, sama seperti vila-vila di sekelilingnya. Kalau kita belum masuk ke dalam vila memang tidak terlihat betapa cerdasnya Bamboo House memunguti cerita-cerita sejarah Jawa Barat.

Kami, saya dan teman penulis lain. disambut langsung oleh Kuswandi, pemilik Bamboo House. Ia adalah mantan karyawan PTPN VIII yang berkedudukan di Bandung. Setelah pensiun, Kuswandi memutuskan bersinergi dengan alam Garut dengan menyulap salah satu rumahnya menjadi tempat yang nikmat untuk menikmati alam Garut.

Sekeliling Bamboo House adalah hamparan sawah sehingga kita dapat dengan mudah melihat gunung-gunung yang mengepung Garut. Saya lupa nama-nama gunungnya, tapi yang jelas ada sekitar 5 gunung yang dengan jelas dapat dilihat dari Bamboo House, tentu kalau awan tidak menghadang.

Matahari kembali ke sangkarnya, beberapa penjaga Bamboo House terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk kami. Ketika makanan sudah terhidang di meja, barulah Kuswandi menjelaskan, “Semua makanan ini berasal dari kebun kita dan kolam kita.” Saya berucap tak percaya, “Ikannya dari kolam itu?” “Iya, baru tadi ditangkap.” “Sayurannya? Lalapannya?” “Ya juga dari kebun kita di sebelah.”

Wah, beruntung sekali saya diberi kesempatan tinggal sementara di Bamboo House dengan pelayanan langsung dari Kuswandi. Pembawaannya yang jenaka membuat saya tidak berhenti tersenyum. Pengetahuannya yang luas tentang sejarah Jawa Barat membuat saya betah berbincang dengannya sampai berjam-jam.

Setelah tuntas makan malam, Kuswandi mengajak kami melihat koleksi-koleksi bukunya. Kebanyakan berbahasa Belanda. Ia mempunyai buku novel “Heren van de Thee” atau artinya pengusaha teh. Ini adalah kisah nyata yang dibukukan berdasarkan catatan-catatan para pengusaha teh di Jawa Barat. Dalam buku itu, diceritakan bagaimana sulitnya membuka lahan perkebunan dari hutan belantara.

Saya baru tahu bahwa Jatinangor yang sekarang menjadi markas Universitas Padjajaran dulunya adalah kebun karet. Begitu juga Dramaga (Bogor) yang sekarang menjadi pusat kampus Institut Pertanian Bogor. Serpong dan banyak tempat lain di sekeliling Jakarta awalnya adalah hamparan kebun yang luas.

Tidak henti-hentinya Kuswandi menceritakan apa yang ia ketahui tentang sejarah perkebunan di Jawa Barat. Belanda menjadikan usaha perkebunan berkembang pesat untuk mengisi kantong-kantong kas nya. Perkebunan ibarat pelampung perekonomian mereka. Tanpa perkebunan, mungkin Belanda tidak akan kuat menjajah Indonesia sampai 3,5 abad.

Orang banyak mengenal Bosscha sebagai tempat peneropongan bintang terbesar di Indonesia. Namun, ternyata Bosscha bukanlah astronomis, ia adalah penguasa kebun teh Malabar yang kebetulan punya hobi meneropong bintang.

Kuswandi menceritakan seluk-beluk kehidupan Bosscha seakan ia hidup sezaman bersama Bosscha. Hidup melajang sampai kematiannya adalah pilihan hidup yang diambil Bosscha. Ia pernah mencintai seorang gadis bernama Nini tapi tidak pernah kesampaian. Itulah alasan mengapa setiap hari Bosscha merenung di salah satu bukit yang kemudian dikenal dengan bukit Nini. Saking cintanya terhadap perkebunan Malabar, Bosscha memilih dimakamkan di perkebunan itu. Sampai sekarang kita bisa melihat bukti sejarah makam itu di perkebunan Malabar.

Pemahaman saya agak beralih. Tadinya saya pikir seluruh orang Belanda pada masa penjajahan adalah jahat. Tapi ternyata tokoh-tokoh perkebunan di Jawa Barat mematahkan itu semua. Kalau tidak ada orang Belanda yang mau bersusah-susah menjelajahi hutan-hutan di Jawa Barat tentu tidak akan ada kemajuan seperti sekarang. Padahal waktu itu, harimau sancang masih menguasai rimba. Mereka tidak gentar. Mereka juga tidak takut setiap hari darahnya dihisap lintah hanya untuk membabat hutan dan membuka lahan perkebunan. Para pekebun itulah yang menghidupkan kota Bandung dengan uang yang mereka punya. Hotel dan restoran berjamuran karena permintaan mereka. Hotel Homan di Bandung adalah yang masih bertahan sampai sekarang.

Semua informasi di atas saya dapatkan di Bamboo House dan dari cerita Kuswandi langsung. Dalam satu malam pengetahuan saya tentang Jawa Barat meningkat pesat. Saya sangat menyarankan orang yang ingin mendalami sejarah Jawa Barat menginap dulu semalam di Bamboo House dengan terlebih dahulu menelepon ke 0262-443522 untuk memastikan apakah Kuswandi ada di tempat dan sempat untuk berbagi cerita. Saya rasa, Kuswandi orang yang sangat terbuka dengan orang baru. Ia senang berbagi ilmu.

Mungkin karena usianya yang sudah cukup sepuh, Kuswandi pamit untuk tidur terlebih dahulu. Ya, maklumlah, makin tua jam tayangnya semakin rendah, hehe. Kami tetap melanjutkan membaca bermacam buku yang dibawa Kuswandi sampai mata tidak bisa diajak kompromi.

Outbond dan wisata budaya

Setelah matahari cukup memberikan sinar, saya berjalan keluar dari Bamboo House. Syahdu sekali rasanya. Beberapa petani berlalu-lalang bersiap untuk menjajaki lahannya. Beberapa dari mereka menggunakan sepeda.

Bamboo House dikelilingi sawah. Setelah saya amati, tidak ada pengairan sawah yang khusus mengaliri sawah-sawah di daerah itu. Semua pengairan berasal dari gunung yang tidak henti-hentinya mengucurkan air. Beruntung sekali Desa Cimurah diberi karunia sebesar ini, air murni tanpa batas.

Tidak salah kalau seseorang pernah berkata, “Aneh kalau orang hidup di desa kalau menjadi miskin.” Sepertinya sangat kontra pemahaman dengan banyak orang. Tapi memang benar begitu adanya. Hanya orang malas yang kelaparan di desa. Sebetulnya hukum yang sama juga berlaku di kota.

Letih berkeliling, saya masuk kembali ke Bamboo House untuk mengitarinya. Kemarin saya datang sudah sore sehingga tidak sempat berkeliling. Ada sebuah kolam cukup besar di tengah-tengah Bamboo House. Ikan dari kolam itulah yang dihidangkan di meja tadi malam. Tiga buah saung dibuat di tengah kolam.

Terlihat banyak orang sedang sibuk mengerjakan interior sebuah bangunan. Bangunan itu akan disiapkan untuk menjadi sebuah museum mini tentang sejarah perkebunan teh dan budaya minum teh Indonesia, terutama Jawa Barat. Tidak terlalu besar tapi cukup untuk menambah pemahaman tentang sejarah teh. Di pojokan ruangan itu dibuat saung kecil tempat orang mampir untuk minum teh.

Sebelum bangunan ini, Kuswandi juga sudah membuat beberapa bangunan lain yang mencirikan kebudayaan Sunda, di antaranya Leuit dan Saung Ranggon. Leuit adalah tempat penyimpanan cadangan padi, sedangkan Saung Ranggon adalah tempat petani menarik tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah atau sejenisnya. Keduanya dibuat dari bambu dengan konstruksi tinggi sampai 3 meter.

Satu buah saung cukup besar dibuat untuk menampung koleksi foto dan cerita. Dinding-dinding saung itu penuh dengan foto, tak ada sisa tempat. Butuh berjam-jam untuk meresapi apa yang ada dalam foto-foto itu dan membaca seluruh cerita yang tertempel di dinding.

Beberapa arena outbond ikut memeriahkan suasana. Dalam kolam ikan besar yang tadi saya sebut, kita bisa bermain kano. Kuswandi berencana membuat sarana untuk flying fox yang akan melintasi kolam itu. Ada beberapa outbond lain yang seru untuk dimainkan bahkan oleh orang dewasa.

Rp350 ribu per rumah

Seingat saya, ada 3 rumah mini yang disewakan dalam Bamboo House. Masing-masing mempunyai dua kasur single terpisah, satu buah kamar mandi, dan satu buah ruangan santai. Seluruh dinding rumah dipenuhi bermacam koleksi cerita sejarah yang dimilik Kuswandi. Menarik, karena cerita yang ditawarkan berbahasa popular dan banyak menyentuh sisi human interest sehingga tidak akan membosankan bagi yang tidak mengetahui sejarah sekalipun.

Di salah satu rumah, terdapat koleksi awetan Harimau Sancang, spesies yang hampir punah saat ini. Harimau awetan itu dulunya adalah harimau yang mengganggu salah satu perkebunan milik PTPN VIII. Setelah ditangkap dan diawetkan, pengelola kebun memberikannya pada Kuswandi sebagai kenang-kenangan. Agak menakutkan melihatnya walau sudah dibekukan. Dari manapun arah mata kita, seakan-akan harimau itu memelototi kita terus.

Satu rumah disewakan dengan harga Rp350 ribu. Harga tersebut sudah termasuk sarapan pagi untuk 2 orang. Memang, bagi backpacker harga tersebut tidak menjadi referensi sebagai tempat menginap. Namun, saya rasa harga tersebut tergolong murah bagi yang ingin mengetahui banyak hal tentang sejarah dan budaya Jawa Barat.

tulisan ini telah diterbitkan di majalah Backpackin edisi 3 yang bisa diunduh di sini.

25
Feb
10

Di Balik Layar Penyusunan Buku Sejarah N8: Peliputan Kebun

Jumat terakhir di bulan Januari 2010 mungkin menjadi salah satu hari yang tidak terlupakan bagiku. Sore itu kontrak penulisan buku sejarah PTPN 8 bernilai 9 digit diteken. Mulai saat itu, setiap menit begitu berharga karena target yang diinginkan adalah penulisan dan peliputan selesai dalam 1 bulan! Padahal dalam proposal tertulis 3 bulan.

Empat puluh satu kebun milik N8 harus disambangi dan dicari “cerita”nya. Puluhan tetua kebun harus diwawancara. Lima saksi sejarah harus digali ingatannya sedalam mungkin. Bermacam buku dan artikel harus dibaca. Semua itu harus dikerjakan dan ditulis menjadi 110 halaman A4 dalam waktu 1 bulan!

Sabtu dan Minggu menjadi ajang bertukar pikiran bagi empat penulis yang ditunjuk. Semua konsep dan pandangan dijabarkan. Sukur, pondasi gagasan sudah kuat. Outline pertanyaan sudah tersusun rapi. Siap berangkat.

Hari senin, tanggal pertama di bulan Februari, kami berempat berangkat ke kantor N8 di Bandung. Ploting pembagian wilayah peliputan dilakukan. Waktu maksimal untuk menggarap semua kebun tersebut hanya 1 minggu. Aku mendapat wilayah Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Delapan kebun harus kueksplorasi, yaitu kebun Dayeuh Manggung, Cisaruni, Papandayan, Bunisari Lendra, Mira Mare, Bagjanegara, Batu Lawang, dan Cikupa. Tiga kebun pertama mengusahakan teh, selebihnya karet dan sedikit kakao.

Petualangan dimulai. Segala perlakuan dikondisikan untuk membuatku nyaman dan bisa fokus pada peliputan. Mess kebun yang kutiduri selalu nyaman dan punya stok teh walini yang cukup. Makanan tidak pernah kurang kuantitas dan kualitasnya. Aku jarang sekali menenteng tasku sendiri, ada petugas khusus yang ditugaskan untuk itu. Kehidupan bagai raja, jauh sekali dari aslinya. Agak risih juga menerima perlakuan setinggi ini. Aku merinding ketika di kebun Cikupa, pelayan yang bertugas melayaniku selalu duduk jongkok ketika Aku ajak bicara karena merasa dirinya jauh lebih rendah dariku, agh, seperti zaman feodal saja. Seorang pendamping peliputan diikutsertakan untuk membantuku. Apapun yang kuinginkan dalam rangka penggalian cerita diamini.

Sedikit cerita, di kebun Bunisari Lendra, Aku belum puas dengan nara sumber tetua yang diajukan pengelola kebun. Umurnya masih 60-an. Aku memaksa dengan halus untuk dicarikan nara sumber yang sudah 70-an. Mereka mencoba membujukku, tapi Aku tetap merasa tulisan masih kering tanpa nara sumber lain. Maka kemudian seorang staf diutus menjelajah kampung mencari tetua yang kumau. Saat kurasa cukup, baru perjalanan dilanjutkan.

Antara kebun satu ke kebun lain, Aku diberikan mobil lengkap dengan supirnya, biasanya Rocky atau Taft. Rata-rata perjalanan antarkebun 2 jam. Jaraknya mungkin dekat, tapi jalan menuju kebun itu tidak semulus tol Cipularang. Tidak jarang kutemui berkilo-kilo jalan berbatu.

Menuju dan dari Kebun Mira Mare, Aku melintasi pantai selatan. Sedikit hiburan mata di tengah riuhnya peliputan. Jalur selatan jalannya lebih kecil dan lebih berkelok dari jalur utara (pantura). Jalan lebih sepi dan lebih banyak pepohonan dan gunung yang tampak.

Waktu terasa kuhabiskan begitu efisien. Dalam 1 hari Aku bisa mengeksplorasi 2 kebun, itupun sudah menghitung waktu perjalanan. Aktivitas kumulai sejak matahari memberikan sinar untuk menerangi jalanku. Setelah menyeruput teh Walini, Aku keliling emplasemen dan pabrik. Kantor kebun buka pukul 7 pagi. Biasanya tetua sudah siap sebelum kantor buka.

Selama jadi wartawan Agro Observer, Aku biasanya menunggu nara sumber datang. Tapi selama peliputan kebun, aku yang sering ditunggu. Para tetua itu selalu datang in time. Keadaan paling ekstrim, saat di kebun Papandayan, Aku ditunggu sejak sore kemudian baru datang malam. Berjam-jam 2 tetua itu menungguku. Mereka selalu berdandan rapi seperti mau ke pesta pernikahan ketika bertemu denganku, seakan mau ketemu dengan orang besar. Pada umumnya, mereka memakai batik lengan panjang mengkilat. Aku tahu, itu adalah salah satu pakaian terbaik yang mereka miliki.

Beberapa kebun punya cerita menarik. Kebun teh Dayeuh Manggung letaknya di sekeliling gunung Cikuray. Saat membuka pintu mess, Cikuray langsung menyapa. Mengetahui mess yang nyaman dan punya banyak teh Walini itu diperuntukkan hanya untuk tamu N8 dan tamu penting, membuatku merasa sangat beruntung bisa mendiaminya walau cuma semalam. Pagi hari itu, Aku sempatkan berjalan ke pabrik teh ortodoks untuk mengumpulkan wewangian dari daun teh yang sedang dilayukan. Aku menarik napas maksimal sampai rongga dada dan perutku penuh untuk menikmati setiap kubik udara pelayuan.

Memasuki emplasemen Cisaruni, terlihat tugu Karel Frederick Holle. Ia pendiri perkebunan Waspada yang kemudian tersisa sebagiannya saja: Cisaruni. Karel adalah pembelajar tanpa henti, sejarawan terkemuka, sastrawan Sunda yang dikagumi, sekaligus pengusaha teh handal. Sambil menikmati teh Walini, Aku berpikir, “Garut berhutang banyak padanya.”

Dinamakan kebun Papandayan karena letaknya berdampingan dengan gunung Papandayan. Sayang Aku tidak sempat berkunjung ke kawah Papandayan, mungkin lain kali. Perjalanan menuju Papandayan kutempuh di sore menjelang malam hari. Jalan berkelok, tanpa lampu jalan, dan penuh dengan kabut.

Wawancara sesepuh Papandayan. Dok: Iqbal

Bunisare Lendra adalah kebun karet pertama yang kugarap. Banyak bungalow yang tersedia untuk disewakan. Seluruh bagian bungalow terbuat dari kayu dan bambu. Tepat di depan bungalow yang kutempati, terdapat mushola yang dibuat menjorok ke tengah-tengah kolam.

Mira Mare dulunya adalah hutan belantara. Banyak banteng liar di dalamnya. Sampai-sampai, pengelola kebun memanfaatkan fenomena itu dengan membuat “wisata banteng”. Setiap tamu yang datang ke kebun Mira Mare disuguhi wisata unik ini. Pada malam hari, mereka dibangunkan untuk kemudian menuju hutan. Mereka dibekali lampu sorot. Banteng merasa silau dengan lampu sorot sehingga banteng diam tak berkutik. Di saat itu, para wisatawan mulai menghitung banteng yang terpana tersebut. Dalam 1 gerombolan, biasanya terdapat 180 banteng. Namun sejak tahun 90-an, Banteng banyak enyah sehingga wisata banteng dibekukan.

Seluruh perjalanan kunikmati dengan maksimal apalagi selalu ditambah kesegaran teh Walini. Hobiku untuk berbicara dengan orang asing, mengenal budaya lain, mendengar cerita baru, dan bertualang kudapat dengan penuh. Semua wilayah garapanku berada di remote area. Benar kata Eross, “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia….” Semakin jauh dari habitat asalku, semakin dekat Aku dengan-Nya.

Perjalanan terasa melelahkan tapi sangat kunikmati. Seperti gamers yang diberikan games baru favoritnya. Suatu saat pasti merasa lelah lalu memutuskan berhenti sesaat untuk kemudian melanjutkannya lagi di waktu yang lain…=)

25
Jun
09

Angkat Tanganmu untuk Indonesia

IMG_0191Padahal sudah habis gelas kedua, tapi suara riuh belum keluar dari loud speaker itu. Sekelilingku sibuk tertawa dengan temannya masing-masing. Aku mau baca majalah yang kubawa dari rumah tapi lampu dalam ruangan itu remang-remang. Kata nenekku, tidak baik baca dalam keadaan remang-remang. Hmm…tertawa dan remang-remang, mirip Jakarta tampak depan ya?

Plaza fx Senayan memang selalu ramai. Kalau mau menutup mata sejenak dari bayangan buruknya kehidupan ibukota, fx bisa jadi alternatif. Tapi tidak untuk forum yang sedang kunantikan ini. Microsoft, Acer, dan Fresh si empunya acara justru ingin memberikan alternatif untuk membuka mata pemuda-pemuda di sekelilingku, melihat dan menyadari sepenuhnya keadaan lingkungan dengan usaha melebarkan senyum di sekeliling.

Social Entrepreneurship! Tiga jam ke depan, otakku akan dijejali dengan konsep-konsep social entrepreneurship. Grace, sang pembicara pertama lulusan Nanyang, bertutur social entrepreneurship adalah konsep yang tujuan utamanya bukan maximizing profit seperti konsep Kotler dalam bukunya yang dianut hampir seluruh mahasiswa dunia, termasuk Indonesia. Karena ada kata depan sosial, maka tujuan utamanya adalah pergerakan sosial, peka dengan darah-darah di lingkungannya, maximizing profit boleh, tapi kemudian profit itu untuk tujuan sosial. Bahkan, Grace menghalalkan creative capitalism yang digaungkan Bill Clinton. Mungkin si Grace ini belum tahu kalau orang Indonesia bisa melotot kalau ada yang bicara kapitalis-kapitalisan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan creative capitalism beda dengan capitalism biasa, yang ini tidak menumpukkan harta di satu puncak, karena yang ada di puncak-puncak itu selalu mengalirkan hartanya lagi ke piramida terbawah alias orang-orang miskin yang kata badan dunia berpenghasilan kurang dari dua dolar per hari. Apa jangan-jangan creative capitalism ini yang disebut-sebut ekonomi kerakyatan yang sebenarnya ya?

Contoh yang paling terkenal dalam aplikasi social entrepreneurship ada pada Muhammad Yunus. Pria hebat ini keliling ke salah satu kampung miskin di Bangladesh kemudian menemukan bahwa ada 42 wanita yang tidak punya modal untuk memulai atau melanjutkan usahanya. Untuk memodali mereka semua, ternyata hanya diperlukan 27 dolar saja! Maka dengan sigap Yunus mengumpulkan uang lalu menyalurkannya. Tidak lama kemudian, keempat puluh dua wanita itu sudah bisa mengembalikan uang Yunus sambil menyunggingkan senyumnya, mereka sudah mengaktifkan kembali usaha mereka. Dari situlah usaha Yunus semakin berkembang. Satu saat, dengan bangga ia mengangkat ke atas piala nobel yang didapatkannya karena langkah hebatnya itu.

Atau kisah sepasang manusia yang dengan kemampuan IT yang baik dalam membantu orang-orang di Afrika. Ia membuat kiva.org untuk menghubungkan peminjam dengan calon orang yang akan dibantunya di Afrika sana. Lewat video dan gambar yang mudah diakses, calon peminjam dapat dengan mudah memilih orang mana yang akan dibantunya.

Pada akhir presentasinya, Grace meyakinkan kami semua bahwa semua bisa ikut dalam gerakan sosial dengan bakat yang dimilikinya asalkan mau aksi langsung dan punya jiwa yang senang melihat kepingan orang yang dibantu tersenyum lalu mengoleksi kepingan-kepingan itu sebanyak-banyaknya.

Next, pembicara kedua, bloger hebat yang dipilih Microsoft untuk mendapatkan Microsoft blogership. Aku kenal gadis mungil itu. Anandita Puspitasari, kakak kelasku yang hebat. Stok semangatnya untuk beraksi offline sepertinya tidak pernah habis. Tulisan-tulisannya banyak menggugah. Aku sudah lama berlangganan blognya, nonadita.com.

Cerita multipoint yang diceritakannya sudah pernah kubaca di blognya. Gambaran ringkasnya, setiap murid dalam satu kelas dapat menggerakkan kursor dalam satu layar besar di depan kelas untuk mempelajari suatu hal yang sedang diajarkan gurunya. Satu layar banyak mouse. Misalnya sang guru sedang mengajarkan nama-nama benua di dunia, maka dia minta murid-muridnya berebut cepat dalam memindahkan kotak-kotak kecil bertuliskan nama-nama benua ke gambar peta dunia dalam layar dengan cara mengklik mouse masing-masing. Mungkin karena banyak kursor yang akan terlihat di layar maka dinamakanlah multipoint.

Adanya multipoint ini karena kegundahan Microsoft melihat data perbandingan jumlah computer dengan murid sekolah, di Jawa 1:900, artinya 1 komputer untuk 900 siswa. Luar Jawa pasti punya angka yang lebih besar. Dengan multipoint ini, hanya dibutuhkan 1 komputer untuk 1 kelas. Memang belum menyelesaikan masalah yang 1:900 tadi, tapi paling tidak ada satu gerakan yang sangat aplikatif untuk sekolah yang kurang mampu membeli banyak computer. Dengar-dengar, software untuk multipoint ini gratisan loh.

Lepas Dita, ada seorang penggiat UNICEF yang mengajak kita semua untuk lebih peduli dengan anak kecil. Ia meminta kami semua untuk membantu UNICEF dalam pergerakannya, kalau tidak bisa dengan uang ya dengan tenaga atau skill yang dimiliki. Ia bercerita tentang parahnya angka kematian balita di Indonesia karena banyak hal, termasuk imunisasi yang cupu.

Suasana jauh lebih meriah ketika Pandji Pragiwaksono, pembawa acara reality show “Kena Deh” itu loh, muncul di panggung. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: Angkat Tanganmu untuk Indonesia. Rupanya itu adalah lirik lagu rap ciamik buatannya. Harmonisasi lirik dan music semakin membuai penonton dan ikut larut mengangkat tangannya untuk Indonesia sambil sedikit ikut berdendang. Lirik dan musiknya sungguh membuat seratus kepala dalam ruangan remang itu terbius. Angkat Tanganmu untuk Indonesia…!

19
Jan
09

Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap

di atas Bromo yang sedang berasap

Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?

Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.

Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.

Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.

Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.

Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.

Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.

Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.

Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!

Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.

Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.

Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.

Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!

Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.

Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo

Dataran sabana menuju Bromo

Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.

Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo

Lautan pasir menuju Bromo

Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.

Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.

Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.

Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.

Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.

Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.

Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.

Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.

Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.

Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.

Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.

Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.

Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.

Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.

Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.

Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.

Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.

Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.

Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.

Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.

Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.

Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)

Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta

Kereta Jakarta – Malang 55.000

Stasiun – Arjosari 2.500

Arjosari – Gang Cak Nu 4.000

Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000

Biaya nebeng truk 25.000

Hotel 50.000

Kupluk + sarung tangan + syal 18.000

Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000

Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000

Probolinggo – Malang 14.000

Arjosari – Stasiun 2.500

Malang – Jakarta 55.000

Makan 10 x 7000 70.000

TOTAL 392.000




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.