Arsip untuk Kategori 'religi'

03
Okt
11

Relatif

Satu adegan nyentil di film Ice Age (lupa Ice Age berapa). Salah satu tokoh hewan menggali tanah nyari air, dia gali lumayan dalam. Akhirnya dia nemu sesuatu: intan, emas, perhiasan. Dia buang sekopnya, perhiasan ditinggalin begitu aja. Kecewa berat karena gak dapat yang dia cari. Waktu itu, air jauh lebih mahal dari setumpuk perhiasan.

Satu lagi. Ada game namanya Age of Empire. Di situ, kita jadi raja salah satu kaum yang butuh ekspansi kekuasaan (mirip sifat dasar manusia). Di awal-awal, saya gampang banget ngumpulin kayu dan bikin pertanian. Kayu dan pangan jadi barang yang gak ada artinya banget dibanding emas. Kebutuhan primer jelas tercukupi.

Tapi waktu semua lahan sudah terkuasai, sudah dieksplorasi habis, pasar menghendaki harga emas sebagai komoditi tersier jauh lebih rendah dari kayu dan pangan yang jadi barang super langka. Saya dituntut untuk ngurangin populasi penduduk supaya makanan cukup. Harga pangan relatif naik.

Secara logis kedua cerita di atas bisa dijabarkan. Suatu hari nanti emas gak ada artinya. Gak ada orang miskin yang mau dikasih harta, semua sudah kaya (kutub as sittah). Harga emas relatif turun.

Dok: en.fotolia.com

Tapi memang sudah dasar sifatnya orang itu rakus. Sesuai HR Tirmidzi: Kalau manusia sudah punya emas sebanyak 2 jurang, maka dia akan mencari yang ketiga. Hanya tanah yang bisa memenuhi mulutnya.

Alhakumuttakatsur. Semua kita, semua kalian, sibuk pake mulut, jalanin bisnis, kerja dari pagi sampai sore, melipatgandakannya, beli rumah, beli mobil. Dan Allah kasih semua itu, insya Allah. Tapi ketika diajarkan tentang Allah, tentang agama, kalian bilang, “Maaf gak ada waktu. Entar aja deh kalo udah tua. Kok hukumnya menentang HAM sih? Sekarang kan zamannya kesetaraan gender. Gak pacaran gimana pendekatannya? Ih, fundamentalis…” Bla…bla…bla…

See, how arrogant the people can be… how arrogant I can be… A’udzu billah min dzalik.

06
Jul
11

Belajar Nahwu Sharaf di Lengkong

Aku pikir si petugas dapur lupa memberikan lauk, rupanya di sini memang biasa makan dengan menu: nasi, sayur nangka, dan dua buah kerupuk.

Itulah konflik terbesar dalam diriku selama belajar nahwu shorof di Lengkong. Maklum, ini kali pertama aku tinggal di pondok yang konsekuensinya juga makan-makanan pondok. Ini juga jadi jawaban kenapa biaya per bulannya hanya Rp 200 ribu (up date pertengahan 2011 Rp 250 ribu/bulan).

Tapi itu tidak seberapa dibanding ilmu yang kudapat. Di sini, tiap dua bulan sekali, dimuai kelas baru lagi, dari awal lagi. Dan tidak ada level berikutnya setelah belajar 2 bulan di sini.

Satu hari ada 4 kelas: subuh, pagi, siang, dan malam. Setiap hari otakku rasanya dijejali rumus-rumus (wazan), bermacam istilah, yang itu semua harus dihapal. Siswa lain kebanyakan basic nya memang mubaligh, jadi tidak kaget dengan memgang kitab pembelajaran yang dari awal sampai akhir huruf Arab semua.

Lah aku… dengan hanya menghapal sedikit kosakata, aku megap-megap. Tapi bisa kok, Alhamdulillah. Asal tidak malu tanya, insya Allah lancer.

Dok: aisi-balikpapan.blogspot.com

Nahwu Sharaf itu adalah ilmu rangkuman para ulama zaman dulu tentang tata bahasa Arab berdasarkan Quran Hadits. Ketika zaman Nabi, tidak ada itu ilmu Nahwu Sharaf, bahkan tidak ada harokat dan titik dalam huruf-huruf yang digunakan. Islam berkembang. Orang dari mana-mana belajar Quran Hadits yang itu berbahasa Arab. Asal mereka yang beragam menimbulkan ketakutan adanya salah tafsir kalau tidak ada ilmu tata bahasa baku dalam Bahasa Arab. Juga, untuk mempermudah orang-orang non Arab buat mempelajari Bahasa Arab. Maka dibuatlah ilmu Nahwu Sharaf.

Aku bisa bilang, Bahasa Arab itu lebih rumit dari Bahasa Inggris. Bahasa Arab mengenal kata benda laki-laki, perempuan, tunggal, dual, dan jamak. Kata kerjanya juga terbagi ke kata dasar (mashdar), bentuk lampau, bentuk kini/masa datang, pasif, dan aktif. Semua itu ada rumusnya dan harus dihapal!

Rumus itu bakal beda kalau kada dasarnya mengandung huruf alif, ya, dan waw. Bakal beda lagi kalau ketiga huruf itu ada di depan, ada di tengah, ada di belakang, dan kompilasinya. Bisa beda lagi kalau hurufnya berjumlah dua, tiga, atau lebih. Itu semua punya rumusnya sendiri. Dan kabar buruknya, kalaupun semua itu sudah dihapal, belum tentu dia bisa baca Arab gundul karena juga harus memperbanyak kosakata. Hehe, seru ya… =)

Jadi setiap hari kerjaan kami ya menghapal wazan-wazan itu (rumus). Tapi di Lengkong, ini tidak wajib. Dulu pernah diwajibkan, tapi banyak siswa yang mental, jadi pengurus memutuskan dihapus sajalah. Targetnya dikurangi menjadi: paling tidak pernah ketemu wazan model begitu.

Kedudukan kata juga kami pelajari. Di situ aku mengenal istilah marfu’, nashob, majrur, fa’il, naibu fa’il, isim inna, khobar kana, maf’ul bih, mubtada’, dsb…

Tenang… tidak sesulit yang dibayangkan kok. Ada waktu 2 bulan buat menguasainya. Asal rutin ikut kelas dan focus, insya Allah tidak perlu ngulang lagi juga sudah masuk. Kawan-kawanku juga tenang-tenang saja. Malah mereka hamper tiap sore masih sempat main bola.

Yang perlu disiapkan adalah pikiran yang kosong dan tenang. Belajar nahwu shorof harus focus. Kebetulan, di Pondok Lengkong ini ada aturan bahwa siswa dilarang bawa HP. Menurutku itu bakal lebih membuat bisa focus. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Kelas ada tiap hari. Libur hanya di hari Jumat. Dua bulan ini, menurutku, memang paketnya segitu. Kalau dia cuma ikut satu bulan bakal cacat ilmunya, tanggung.

Untuk ke Lengkong, gampang. Capai stasiun Kertosono, terus jalan ke pasar Kertosono (sekitar 100 meter dari stasiun), terus naik angkot jurusan Lengkong (Rp 5.000; 30 menit; Cuma ada dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore). Angkot baka berhenti di pasar Lengkong. Dari situ tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Tanya aja orang pasar, pondok Lengkong di mana, insya Allah mereka tahu.

Atau bisa juga dari stasiun Kertosono naik ojeg. Ongkosnya Rp 15.000. Bilang ke pondok Lengkong. Kalau ojeg ini ada 24 jam.

Selama di Lengkong, hiburanku Cuma dua. Pertama jalan-jalan ke pasar Lengkong buat ngopi. Secangkir kecil seribu, gelas standar dua ribu. Dua, jogging ke sekitar pondok. Di daerah sini banyak sekali pohon kersen atau orang local menyebutnya keres. Sekali jogging aku bisa nyambi makan kersen. Sebutir demi sebutir. Kalau dikumpulkan sekali jogging ya setengah piring kersen lah, hehe.

Ohya, di pertengahan pembelajaran, aku pulang ke Jakarta, bawa laptop. Itu membantu juga kalau jenuh. Di pondok Lengkong memang tidak boleh bawa HP tapi boleh bawa laptop.

Iklim daerah Nganjuk sedang. Jadi kalau tidur di masjid tidak pakai selimut masih bisa lah. Aku bawa sleeping bag. Itu lebih aman.

Mudah-mudahan bermanfaat.

31
Mei
11

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

29
Mei
11

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.

26
Jun
10

Batas

Stop. Dok: Flickr

Metabolisme dalam seonggok tubuh manusia masih sama misteriusnya dengan galaksi Bimasakti. Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah senyawa pengatur di dalamnyanya karena selalu ditemukan yang baru dan ditemukan lagi yang baru. Tidak ada hormon yang mempunyai kebaikan mutlak dan tidak ada hormon yang mempunyai kejelekan mutlak. Hormon pertumbuhan akan menyebabkan gigantisme kalau kelebihan dan kretinisme kala kekurangan. Ia bermain cantik sehingga ada dalam batas yang diberikan lewat hormon lain. Hormon lain itu dibatasi oleh hormon yang lain lagi. Semuanya terkait berbentuk seperti jaring-jaring makanan. Seperti hutan tropis. Tidak ada tumbuhan yang mendominasi. Semua berjalan dengan seimbang karena saling membatasi.

Terkadang tidak mudah untuk mempertahankan suatu batas. Butuh usaha yang kuat. Sayangnya, justru permasalahannya bukan di seberapa kuat mempertahankan batas, tapi di seberapa paham manusia akan batas yang diberikan padanya. Maka wajar jika terjadi pertentangan mengenai batas yang seharusnya membatasi.

Tantangan semakin berat ketika manusia yang belum paham akan batas membuat batas-batas baru yang terkadang lebih kecil, terkadang lebih besar, dan terkadang sangat besar sehingga mengaburkan batas yang sebenarnya. Namun, masih ada manusia-manusia yang terus menggoreskan kapurnya di batas yang sebenarnya, sehingga, walau samar, masih terlihat bahwa itulah batas yang sebenarnya. Ia mengorbankan kapurnya untuk orang banyak, padahal dia bisa memanfaatkannya untuk keuntungan pribadinya, karena memang itulah perintah dari yang memberi batas.

Mereka membuka kacamatanya ketika sekelilingnya sudah kelewat batas, sekedar untuk memburamkan batas semu itu dan meyakinkan hatinya, “Ini tipu daya.” Mereka mematikan televisinya untuk membunuh siaran-siaran yang menyiarkan batas-batas baru yang tidak sejajar dengan batas yang sebenarnya. Mereka masih konsisten menyiarkan batas mana yang seharusnya menjadi pedoman bagi orang banyak. Mereka menjadi hormon pembatas bagi metabolisme di sekitarnya. Mereka juga menyiapkan kayu bakar-kayu bakar baru untuk tetap menggelorakan api perjuangan.

Sayang, jumlah mereka berbanding terbalik dengan hitungan waktu. Sampai suatu saat nanti, batas sudah mutlak ditinggalkan. Tidak ada manusia yang mengenal Tuhannya. Tidak ada pengemis yang mau diberikan harta. Tidak ada kepercayaan dalam diri siapapun untuk mengejar apapun pascatiada. Baru setelah itu, semua akan menyadari betapa pentingnya batas dan betapa perlunya tetap tidak melewati batas.

28
Jan
10

Kasodo untuk Bromo

Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upacara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Tengger

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah dorongan yang paling kuat dalam penyusunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan sembarang kalender. Bukan berdasarkan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentukan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, penduduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun berikutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentukan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebelumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Tengger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger.

Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Legenda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu menegaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sama dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten menjadi salah satu mata rantai upacara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melemparkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Tengger dengan Hindu Bali punya budaya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger sehingga budaya mampir ke Poten terlebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rangkaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sumber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Kecamatan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Persiapan Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Ada yang mengatakan, membersihkan Pura Poten juga merupakan rantai wajib dalam upacara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 sedangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa bergumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bukan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mirip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir adalah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa punya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan menggantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang dinobatkan sebagai acara puncak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan mengumpulkan hasil bumi yang hendak dipersembahkan di penghujung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam rantai kegiatan upacara Kasodo.

Upacara Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang dilakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan untuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kambing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikorbankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi tersebut setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Tengger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendapatkannya. Kadang terlihat menegangkan ketika mereka menjatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap perlindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi sekitar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengambilan air dan sebagainya. Titik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar empat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara puncaknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasanah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

(salah satu tulisan di Ezine Backpackin’ edisi pertama, klik di sini untuk masuk blognya lalu bisa download Ezinenya )




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.