Arsip untuk Kategori 'kuliner'

05
Jul
09

Eksotisme Wisata Air Banjar

Sunset Pantai Takisung

Sunset Pantai Takisung

Maka dengan sedikit menyesal, kuputuskan membeli sebotol Aqua 600 ml di luar bandara. Sejak ada logo Danone di kemasannya, aku selalu memilih merk lain agar seluruh uang yang kukeluarkan tidak keluar Indonesia. Sayangnya kios kecil tadi tidak menjual air mineral lain.

Perjalananku sejak dua hari lalu cukup padat, pantas saja kalau kerongkongan ini minta dibasuh. Sesampainya di bandara Syamsudin Noor dua hari yang lalu, kupikir sudah sampai di kota Banjarmasin, ternyata baru sampai Banjar Baru. Bandara itu letaknya pada pal 25, sedangkan kota Banjarmasin ada pada pal 10 ke bawah. Orang Banjar biasa menyebut pal untuk kata ganti kilometer. Kata “pal” jauh lebih akrab buat mereka. Bahkan terminal terbesar yang ada di kota Banjarmasin dilabeli nama “Pal 6” karena letaknya di kilometer keenam dari mesjid raya Banjarmasin yang dinobatkan sebagai titik kilometer nol, eh salah, pal nol.

Menuju Pal 6, banyak taksi yang bisa dicegat di luar bandara. Taksi di Banjar bukan dari golongan Limo atau sedan lainnya seperti di Jakarta, tapi mobil colt besar yang rela diisi sampai 14 manusia. Taksi adalah sebutan masyarakat lokal untuk angkutan umum. Tarifnya, ya seperti tarif angkutan umum. Alternatif lainnya menggunakan ojeg, tarifnya minimal Rp15 ribu, tergantung skill menawar.

Adzan Magrib bergema tepat setelah aku sampai Pal 6. Segera kukabari Anas posisiku. Sambil menunggu, aku bereskan urusan lambung dulu di tempat yang direkomendasikan seorang supir taksi. Tidak lama kemudian, Anas datang. Tubuhnya tidak segempal yang aku bayangkan. Anas adalah penduduk lokal Banjar yang baru kukenal seminggu yang lalu lewat milis IndoBackpacker. Setelah intensif berkomunikasi via udara, akhirnya bisa bertemu langsung juga.

Perbincangan langsung mengalir deras. Ia bercerita tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Menarik sekali, tapi sayang waktuku tidak lama. Loksado adalah wisata alam nomor wahid di Kalimantan Selatan, di sana ada air terjun, pegunungan, dan masih banyak suku Dayak asli. Mungkin jalan-jalan berikutnya.

Setelah membayar Rp11 ribu untuk segelas air jeruk hangat, segelas teh manis, dan sepiring kuetiau, kami langsung menuju hotel rekomendasi Anas, Niagara namanya. Saya masih bingung navigasi Banjarmasin, tapi yang jelas hotel Niagara masih di dalam kota, di pinggir jalan besar (telp 0511-3356355). Aku pilih kamar non AC untuk dua orang, harganya Rp60 ribu. Kalau untuk satu orang, harganya Rp35 ribu. Kamar yang termahal seharga Rp80 ribu untuk dua orang dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam.

Kondisi kamar hotel Niagara

Kondisi kamar hotel Niagara

Melepas lelah sejenak, langsung atur strategi perjalanan. “Malam ini kita ke Kuin,” kata Anas. Beruntung, Anas punya Vega R merah, jadi hanya perlu mengisi bensin Rp10 ribu saja untuk perjalanan seharian. Sangat membuat hemat.

Kuin adalah tempat terjadinya pasar terapung setiap pagi. Ini adalah lokasi shooting RCTI untuk jeda antarprogram yang dulu sering kali diputar. Kata Anas, sejak subuh sampai sekitar jam 9 pasar terapung itu bergeliat. “Sekarang sudah jam 9 malam, jangan harap bisa melihat pasar terapung,” katanya. Di malam hari, sungai Barito masih tetap cantik. Terlihat kapal besar di tengah sungai besar itu. Kapal itu tidak bergerak. Kata Sujito, polisi patroli yang markasnya sedang bertengger di dekat pelabuhan Kuin, itu adalah kapal yang terjerat kasus penyelundupan minyak. Karena masih sengketa, maka kapal tidak boleh beranjak.

Markas polisi patroli yang saya lihat itu nyatanya bisa bergerak. Di bawah markas itu ada kumpulan drum besar yang menyangga markas. Mesin diletakkan di belakang markas. Kalau sedang banyak kasus di seberang sungai, tinggal tancap gas, maka markas pun pindah ke seberang.

Sudah puas menghirup udara sungai, kami kembali ke hotel. Oiya, sebelumnya mampir di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Siapakah dia? Aku juga tak paham. Tapi dilihat dari megahnya pemakaman itu, Sultan ini pasti dulu pernah menjadi orang hebat. Sekelompak orang sedang berkumpul di dekat makam. Mereka tertawa, bersenda gurau persis di samping makam. Sepertinya tempat ini sudah dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk membahas sesuatu. Suasana mistis raib bersama gelak tawa mereka.

makam sultan tampak muka

makam sultan tampak muka

Vega R merah kembali ditancap, balik menuju Hotel Niagara. Suasana hotel sepi. Sepertinya sedikit yang menginap malam ini. Ah, sudahlah. Kami harus tidur cepat supaya besok bisa bangun cepat.

Pukul 5.30 pagi kami sudah siap berangkat. Tujuannya Pasar Terapung Lok Baintan di sungai Martapura, 30 menit dengan sepeda motor. Lok Baintan adalah pasar terapung yang paling alami. Di dunia, ada 3 buah pasar terapung. Satu di Thailand, bentukan pemerintahnya untuk menggaet wisatawan. Dua lagi di Kalimantan Selatan ini, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Kuin dekat dengan kawasan industri sehingga aura alaminya sedikit luruh.

IMG_7312

Barang dagangan di pasar terapung hampir sama persis dengan pasar darat. Hanya daging sapi yang tidak terlihat dijajakan di sini. Kebanyakan dari pedagang menjual hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Sebagian lagi menjual ikan, sembako, makanan kecil, dan pakaian. Pemandangan jukung (sejenis sampan kecil) yang dipenuhi dengan tumpukan jeruk membuatku sumringah. Indah! Indah sekali. Pemandangan yang tidak pernah kudapat di Jakarta.

Sungai sudah menjadi jalan hidup masyarakat sekitar Lok Baintan. Mereka memiliki Jukung seperti masyarakat desa di Jawa memiliki sepeda atau sepeda motor bagi masyarakat kota. Jukung menjadi alat transportasi utama.

Puncak aktivitas pasar itu sekitar pukul 8 pagi. Ada sekitar 100 jukung yang ikut andil. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa berlipat. Sungai Martapura menjadi mati kembali setelah pukul 10.

Tidak terasa, kami belum sarapan. Soto Banjar harus kunikmati pagi ini. “Beres, kita ke Soto Banjar Bang Amat,” kata Anas. Soto Banjar Bang Amat bisa dibilang yang paling dicari untuk menikmati soto banjar. Letaknya di pinggir sungai Barito. Harga soto yang biasa Rp12 ribu dan yang spesial Rp19 ribu. Banyak pejabat dan artis yang sudah mampir ke tempat ini, mereka pasti mencari pemandangan.

Soto Banjar Bang Amat

Soto Banjar Bang Amat

Pukul 9 pagi. Anas mengantarku kembali ke hotel sedangkan dia sendiri harus bekerja, maka kami berpisah. “Thanks Nas, kalau kita gak ketemu, gak akan selancar ini,” kataku. Anas berlalu. Aku berkemas kemudian melanjutkan perjalananku ke Pantai Batakan. Beberapa menit kutunggu taksi ke Batakan dari Pal 6, tapi tak ada tanda-tanda. Saran dari Anas lewat SMS, naik ke Plaihari saja dulu, baru di sana lanjut ke Batakan.

Kuturuti. Dua jam perjalanan menuju Plaihari. Banjarmasin-Plaihari berjarak 65 km. Ongkosnya Rp13 ribu. Berita buruknya, taksi menuju Batakan baru ada pukul 4 sore, padahal jarum pendek di terminal baru menunjuk ke arah angka 12. Tidak hilang akal, kulihat lagi brosur Pariwisata Kabupaten Tanah Laut (Kabupatennya kota Plaihari) yang kudapat dari pameran wisata Gebyar Nusantara. Ada alternatif Pantai Takisung. Gambar di brosur cukup meyakinkan. Pantainya bersih, pohon kelapa berjejer rapi. Keterangannya, pantai ini cocok untuk menikmati sun set.

Sepuluh detik kemudian, kuputuskan mengubah haluan ke Takisung. Pendapat tukang ojeg sekitar bahwa Batakan lebih jauh (40 km dari Plaihari) dan rawan tindak kriminal membuatku semakin kokoh menuju Takisung.

Taksi menuju Takisung juga baru ada sekitar pukul 4 sore, jadi kuputuskan untuk naik ojeg. Plaihari-Takisung berjarak 22 km, ongkos ojegnya Rp25 ribu. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Di sebelah kiri jalan tampak jelas pegunungan Meratus.

Pantai Takisung cukup ramai, ada ratusan orang yang sedang berekreasi siang itu. Ada yang duduk-duduk di tenda sewaan (Rp40 ribu untuk seharian) ada yang bermain-main air di pinggir pantai, ada yang menyewa kapal untuk berkunjung ke pulau Bejanggut. Harga sewanya Rp50 ribu, bisa dihinggapi sampai 20 orang. Pasir pantainya abu-abu. Pantainya tidak sejernih yang kubayangkan.

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Awalnya aku mau menyewa satu penginapan milik Dinas Pariwisata. Agak berat hati mengiyakannya karena biayanya Rp150 ribu per malam dengan fasilitas seadanya, hanya kasur ukuran besar dan kamar mandi dalam, tanpa AC dan tanpa TV.

Namun, menurut nelayan sekitar, penginapan itu ada penunggunya. Hiiii. Dengan cepat kubatalkan kontrak. Jadi menginap di mana malam ini? Ada penduduk sekitar yang menawarkan menginap di rumahnya. Seorang penduduk lagi menawarkan tendanya dan dirinya untuk menemaniku bermalam di pinggir pantai. Aku pilih tenda.

Tenda di sini bukan tenda dome seperti yang biasa dibawa pendaki, tapi hanya terpal berukuran 2×3 yang disanggah oleh beberapa batang kayu kuat. Jadi, sambil tiduran, pantai masih jelas terlihat di depan dan samping.

Barang kutitipkan di rumah si pemilik tenda. Aman! Aku harus yakinkan diriku bahwa bawaanku akan aman. Ternyata memang aman. Aku bahkan sempat berkenalan dengan seluruh isi rumah si pemilik tenda.

Ketika sedang menikmati pantai, tiba-tiba seorang anak memamerkan hasil tangkapan ubur-uburnya di depan wajahku. Hidup! Ubur-ubur itu masih hidup! Segera kuperintahkan memasukkannya ke dalam plastik berisi air. Tidak besar, ukurannya hanya sebesar satu ruas jempol kaki. Setelah diamat-amati, di pinggiran pantai banyak ubur-ubur kecil yang terlihat jelas. Anehnya, anak-anak itu tidak merasa gatal sedikitpun setelah memegang dan menyiksa ubur-ubur itu. Menyiksa dalam arti yang sebenarnya. Salah satu dari mereka memotong ubur-ubur itu hidup-hidup, lalu membuangnya lagi ke pantai. Ternyata benar apa yang digambarkan dalam film Jermal tentang kerasnya kehidupan laut.

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

Matahari semakin condong ke barat. Tidak salah kalau brosur Dinas Pariwisata mengatakan bahwa pantai Takisung tepat untuk menikmati sun set. Tidak ada awan sedikitpun. Aku bisa melihat matahari seakan bersentuhan dengan laut. Pantulan cahayanya seperti intan yang bertaburan di permukaan laut, kemilau.

Sunset Takisung

Sunset Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

Adzan Subuh membangunkanku. Sudah pagi. Selimut tebal dari pemilik tenda membuatku tidur lelap sekali. Setelah api unggun mini redup tadi malam, aku langsung tidur, tak terasa 7 jam sudah. Segar sekali rasanya. Untuk biaya sewa tenda dan selimut tebal serta bonus api unggun, aku dimintai Rp50 ribu.

Taksi Takisung menuju Banjar biasanya berangkat pukul 7. Hanya itulah jam keberangkatannya. Kalau ketinggalan, silakan naik ojeg yang itu berarti mahal! Taksi Takisung Banjar bertarif Rp20 ribu dengan lama perjalanan 2,5 jam.

Dari Pal 6, aku sewa ojeg menuju Kuin kembali untuk mendapatkan gambar, kemudian lanjut ke bandara untuk penerbangan pukul 2 siang. Biaya sewa ojegnya Rp45 ribu. Andai aku punya waktu, pasti bukan ojeg pilihanku.

Akhirnya, aku terduduk di ruang tunggu pesawat. Lion-ku belum nampak, padahal sudah pukul 2 lebih. Kutenggak kembali aqua 600 ml yang kubeli di luar tadi. Ah, segar….

25
Mei
09

Dokter Alam di Simpang Mentjos

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

27
Jan
09

Backpacking Kediri – Malang

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri

Jauh sebelum wisuda Oktober 2008 lalu, saya sudah bertekad ingin liburan habis-habisan. Wajar saja, dari awal masuk IPB sudah ada matrikulasi. Tahun depannya semester pendek, lalu praktek lapang, disambung penelitian. Jadi, waktu liburan panjang tidak pernah diisi dengan agenda berlibur. Inilah saatnya pembalasan.

Tadinya saya dan beberapa teman dari SEI (salah satu jurusan di IPB) berniat ke Bali dan sekitarnya. Rencana sudah matang, tiba-tiba sebagian besar mundur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mungkin meliburkan diri selama 10 hari. Di saat kekecewaan itu, Yossy, salah satu senior saya menceritakan tentang aktivitasnya di Kampung Bahasa, Pare, sebuah Kecamatan di Kediri. Tempat ini adalah sentra kursus Bahasa Inggris termurah di Indonesia.

Setelah chating dengan Yossy, saya langsung plot waktu untuk liburan dan meminta izin bos. Disetujui, dua minggu. Sambil saya menunggu waktu liburan itu, saya mencari beberapa cerita tentang kampung bahasa dan beberapa kawasan wisata di Jawa Timur. Bromo menjadi incaran utama yang masuk dalam rencana liburan.

Saya berangkat naik bus Lorena dari Rawa Mangun langsung ke Kediri. Kalau sesuai rencana, bus berangkat pukul 3 sore dan sampai pukul 6 pagi keesokan harinya. Tapi karena ketika itu sedang musim liburan tahun baru, maka kejadianlah bus itu baru berangkat pukul 7 malam, sampainya di Kediri pukul 4 sore. Sehari semalam di bus mengutuki ketidaknyamanan menggunakan Lorena. Mulai dari waktu datang bus yang terlambat sampai supir bus yang merokok. Mengecewakan.

Namun, ada juga hikmahnya. Saya jadi bisa mendapatkan pemandangan bagus dari pagi sampai sore. Satu jam sebelum Ngawi, di kanan kiri jalan terhampar sawah sampai ujung mata memandang. Ke luar Ngawi menuju Madiun juga demikian, keluar Madiun juga masih sawah yang berkuasa. Lebih susah mencari orang daripada sawah. Seperhatian saya, ada 3 tanaman utama: padi, jagung, dan tebu. Ternyata benar kata buku-buku IPS zaman SD dulu, Indonesia adalah negara agraris.

Sampai di terminal Kediri. Menurut berbagai narasumber, saya harus mencari bus Puspa Indah yang menuju Malang turun di BEC, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Bahasa. Yossy dan Iffan yang menjemput. Iffan baru saya kenal di Pare. Dia menjadi kawan sekamar saya selama di Kampung Bahasa. Hampir setiap malam kami bertiga hunting makanan di daerah Pare. Terkadang beberapa rekan seatap Yossy ikut hunting. Hunting dengan sepeda yang kebanyakan dari kami menyewanya dari bengkel sepeda. Sepeda masih sangat “in” di daerah ini.

Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial dengan makanan Pare. Perbedaan yang paling mendasar adalah harga, di Pare harga makanan sangat murah. Oya, ada satu lagi keunikan. Di Pare menjamur warung nasi pecel. Kalau di Bogor atau Jakarta kebanyakan warung menawarkan pecelnya saja. Kalau di Pare dan kebanyakan tempat di Jawa Timur, pecel tersebut langsung dicampur dengan nasi. Ditambah kerupuk peyek. Standar harganya Rp2.000/porsi.

Variasi makanan lebih terlihat di alun-alun Pare. Harganya juga lebih tinggi daripada di kampung Bahasa. Untuk mencapai alun-alun, perlu waktu sekitar 10 menit bersepeda dari kos saya di Kampung Bahasa. Alun-alun di Pare ini unik, tumben-tumbenan ada alun-alun di tingkat Kecamatan. Biasanya alun-alun ada di kabupaten. Mungkin ini menjadi salah satu indikator majunya Kecamatan Pare. Pernah satu malam minggu saya main ke alun-alun. Ramainya luar biasa. Malam minggu di alun-alun bukan hanya untuk anak muda, tapi banyak juga orang tua yang membawa anak-anak kecilnya menghabiskan malam di alun-alun. Pedagang bertaburan di malam minggu. Makanan yang membuat saya geli adalah sate bekicot. Banyak yang menjajakan sate bekicot. Mungkin karena banyak persawahan di sini sehingga banyak juga bekicot. Selain pedagang, ada juga jasa rekreasi mobil-mobilan mirip bom bom car untuk anak kecil. Berkelap kelip lampu mobil itu menambah semarak malam minggu alun-alun.

Garuda Park terkadang dijadikan masyarakat sebagai tempat kumpul-kumpul. Garuda Park seperti taman, tapi mini sekali. Patung Garuda kokoh berdiri di atas tugu. Mirip dengan tugu Tani tapi patung Pak taninya diganti dengan Garuda. Di bawah tugu itu, ada taman mini sekali. Inilah yang disebut Garuda Park, atau masyarakat sering menyebutnya GP.

Menurut dinas pariwisata Kediri lewat websitenya, ada dua buah wisata Candi di Pare, yaitu Tegowangi dan Surowono. Saya ikutilah saran dari Dinas pariwisata.

Lagi-lagi dengan bersepeda, saya menuju Candi Tegowangi. Yossy tahu tempatnya, jadi tidak perlu ada acara nyasar. Dua puluh menit sudah sampai. Perjalanan melewati jalan kampung yang jarang ada penduduk berseliweran. Sawah-sawah terhampar di kanan kiri. Beberapa kali saya melihat ada peternakan lebah mini di halaman-halaman rumah warga. Lebah tidak bersarang di pohon tetapi di kotak-kotak seukuran kotak suara pemilu.

Candi Tegowangi tampak samping

Candi Tegowangi tampak samping

Agak kecewa dengan Candi Tegowangi. Jauh sekali dengan keadaan Prambanan atau Borobudur (hanya kedua candi ini yang pernah saya kunjungi). Ukurannya hanya sekitar 10×10 meter. Mungkin kurang. Tingginya hanya sekitar 3 meter. Tidak ada yang berkunjung ke situ kecuali kami. Tidak ada tarif masuk. Semua sangat seadanya di Candi Tegowangi. Bahkan tidak tampak satu pedagang pun di sekitar candi. Di sekeliling candi ada taman mini yang cukup dirawat. Hanya itu poin plusnya.

Setali tiga uang dengan Candi Surowono. Bedanya, candi Surowono punya petugas yang menjaga pintu masuk. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu lalu dimintai sumbangan seikhlasnya. Saya member 2.000 rupiah, awalnya saya rasa uang sejumlah itu kurang, tapi setelah berkunjung ke Goa dan pemandian Surowono, sepertinya 2.000 untuk hanya melihat-lihat candi kecil itu dirasa berlebih. Taman di Candi Surowono sedikit lebih luas dari taman Tegowangi. Letaknya tepat di pinggir jalan. Menuju ke sana butuh 30 menit bersepeda melewati jalan raya dengan aktivitas yang lumayan padat. Ketika saya berkunjung ke sana, ada dua orang pengunjung lain, ada juga seorang pedagang yang menjajakan lemang. Yah, bisa dibilang candi Surowono satu level lebih maju dari Tegowangi.

Tidak jauh dari Candi Surowono, ada pemandian Surowono dan Goa Surowono. Pemandian di sini bukan pemandian air panas seperti yang saya bayangkan, tapi kolam renang. Ada dua buah kolam renang di dalamnya. Yang besar dan kecil. Yang besar dalamnya sekitar 160 cm sedangkan yang kecil hanya sebatas lutut orang dewasa. Cukup ramai peminat pemandian ini. Airnya juga cukup bersih. Biaya masuknya murah sekali, hanya Rp1.500. Di sekeliling kolam ada kios-kios kecil yang menjajakan bermacam penganan.

Goa Surowono punya tarif masuk yang lebih murah lagi, hanya Rp500. Jangan dibayangkan Goa yang dimaksud terawat dan besar, tidak. Goa berada di bawah tanah rumah-rumah warga Surowono. Mungkin zaman dahulu, Goa ini dijadikan tempat persembunyian atau jalan tikus. Untuk masuk ke Goa, kita perlu turun dulu lewat semacam kubangan kecil. Sepanjang Goa, air tidak henti-hentinya mengalir. Suasana gelap sekali sehingga tidak mungkin kalau tidak membawa senter.

Tak lupa saya juga berkunjung ke Gunung Kelud, wisata andalan Kabupaten Kediri. Saya ikut trip yang ditawarkan dari sebuah kursusan di Kampung Bahasa. Biayanya hanya 20 ribu, sudah termasuk transport, makan siang, snack, dan tiket masuk. Saya juga bingung bagaimana bisa semurah itu. Kami berangkat naik truk. Perjalanan tepat 1,5 jam dari Kampung Bahasa. Sejak pintu masuk, truk harus melewati pendakian yang cukup melelahkan selama 10 menit. Sampai di satu titik dimana truk benar-benar tidak bisa lewat lagi. Dari titik itu, kami harus berjalan sekitar 1,5 kilometer untuk menuju rest area. Perjalanan 1,5 km itu butuh energi ekstra. Walaupun jalanan sudah diaspal dengan baik, tapi bentuknya berupa tanjakan terus-menerus.

Mencapai rest area, kita bisa beristirahat. Banyak kios yang menjajakan makanan. Kalau ingin menguji adrenalin, ada sarana Flying Fox seharga 15 ribu sekali aksi. Pemandangan dari rest area lumayan bagus. Hijau semua di bawah sana. Karakter hijaunya berbeda-beda, tergantung seberapa besar intensitas matahari memolesnya. Kediri terlihat cukup jelas dari atas sini.

Butuh berjalan sekitar 15 menit lagi untuk mencapai terowongan tanpa cahaya. Terowongan ini adalah jalan satu-satunya menuju anak Kelud. Panjang terowongan sekitar 100 meter dengan tinggi hanya dua meter lebih sedikit. Masuk beberapa langkah saja, gulita sudah melanda. Bingkai kacamata saya pun tak terlihat, apalagi teman di sebelah. Patokan satu-satunya adalah sedikit cahaya di ujung terowongan yang semakin dekat akan semakin terang cahayanya. Terowongan cukup terawat. Tidak berbau. Permukaannya rata, tidak ada batu-batuan, jadi tidak perlu takut tersandung.

Setelah lewat terowongan, kita harus menuruni tangga cukup panjang untuk menemukan anak Kelud. Menurut berbagai literature, anak Kelud ini merupakan keistimewaan Kelud. Tapi bagi saya, itu bukanlah apa-apa, hanya onggokan besar batu yang masih berasap-asap.

Bosan dengan anak Kelud, saya menuju aliran air panas dekat rest area. Bagi saya, inilah bagian paling menyenangkan sekaligus melelahkan dari Kelud. Kita harus menuruni tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. Tangga yang saya maksud bukan sembarang tangga. Tangga yang tidak bisa kita lihat ujungnya, kita hanya bisa melihat anak tangga yang paling jauh. Ketika kita telah mencapai anak tangga terjauh itu, mata kita masih belum bisa menemukan ujungnya. Terulang sampai beberapa kali, baru sungai mulai terlihat.

Asap mengepul dari sungai itu membentuk gerombolan kabut. Ada dua asal aliran sebelum bertemu di satu titik. Aliran pertama airnya dingin seperti layaknya air gunung. Aliran kedua luar biasa panas. Dari aliran kedua inilah gerombolan kabut tadi berasal. Saya sempat bermain di titik tempat percampuran kedua aliran itu. Walaupun sudah bercampur, tetap dibutuhkan kehati-hatian karena di bagian tertentu airnya masih lebih dari 80 derajat, belum tercampur dengan rata. Tidak ada pengunjung yang berani mencelupkan kakinya di aliran kedua, bisa jadi suhunya mendekati 100 derajat. Bisa benjol kaki dibuatnya.

Untuk kembali, dibutuhkan perjuangan yang lebih besar lagi, tangga tanpa batas tadi harus dilewati kembali, bedanya, kali ini mendaki. Tidak kurang dari tiga kali saya beristirahat sebelum sampai di pangkal tangga. Dari pangkal tangga, kembali harus berjalan sampai rest area, lalu berjalan lagi 1,5 km menuruni jalan aspal sampai ke truk. Sungguh melelahkan.

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih

Secara keseluruhan, menurut saya Kelud biasa saja. Lebih banyak perjalanan melelahkannya daripada kenikmatan pemandangan.

Merasa sudah menggagahi seluruh pelosok Kediri, saya berangkat ke Malang. Kota ini lebih ramai dari Kediri. Mungkin karena banyak universitas yang ada di dalamnya. Mungkin juga karena percepatan pembangunan kota ini lebih tinggi daripada Kediri.

Beruntung saya punya teman SMA yang kuliah di Unbraw, Arya. Dia dengan baiknya menjemput saya di depan kampusnya, lumayan, transport dan akomodasi gratis. Malam itu juga, kami langsung mempersiapkan segala hal untuk perjalanan menuju Bromo. Keesokan paginya, dari rumah Cak Nu, pemilik persewaan truk dan Jeep, kami memulai perjalanan menuju Cemoro Lawang. Lalu di hari berikutnya, saya sudah bisa mencoret target utama perjalanan saya itu. Bromo sangat menyenangkan.

Sekembalinya dari Bromo, Arya langsung mengajak makan di Ikana, sebuah tempat makan yang sangat laris di Malang. Tempatnya sederhana. Makanannya yang luar biasa. Pengunjung rela menunggu 30 – 60 menit untuk dapat mencicipi makanan di sini. Jarang terlihat kursi kosong. Hati-hati dengan pemesanan. Satu porsi di Ikana tidak sama dengan satu porsi di tempat makan lain. Bisa 3 kali lipat lebih banyak. ikana memang di-set untuk pengunjung rombongan. Menurut cerita Arya, di Ikana hanya ada satu kompor. Si pemilik juga berfungsi sebagai koki. Hanya dia yang tahu betul resep makanan Ikana. Karena itulah butuh kesabaran berlebih kalau mau makan di Ikana.

Malang terkenal dengan Apel Malang, terkenal juga dengan agrowisata petik apelnya. Kusuma Agro adalah yang terbesar dalam agrowisata ini. Tidak ada angkutan umum yang mencapai Kusuma. Tapi kita bisa naik ojeg dari terminal Batu sampai di depan tempat penjualan tiket wisata. Tarif ojegnya Rp5.000. Ratusan orang setiap harinya berkunjung ke kebun apel Kusuma. Setelah membeli tiket yang kurang dari 50 ribu (tergantung paket), kita diajak untuk berkeliling kebun sambil diberikan bermacam informasi. Sampai di kebun, kita dipersilakan untuk memetik dua buah apel. Memetiknya harus sesuai dengan yang diajarkan petugas, diputar sampai putus, bukan ditarik. Dari kebun apel ini, gunung Pandarman dan Gunung Arjuna gagah berdiri di ujung sana. Indah.

Saya penasaran dengan Jatim Park yang menjadi rekomendasi kuat dari teman saya. Tempatnya tidak jauh dari Kusuma Agro, tinggal naik ojeg seharga Rp5.000. Ada bermacam wahana di dalam Jatim Park. Bisa dibilang mirip Dufan mini. Ada jet coaster, bom bom car, dsb. Tapi semua wahana itu tidak ada yang membuat jantung saya berdetak lebih cepat, terlalu biasa. Hanya satu yang menurut saya seru, yaitu rumah hantu. Tidak berani saya masuk sendiri ke dalamnya.

Tiga jam cukup bagi saya untuk mengitari seluruh wahana yang ada di Jatim Park, termasuk bird park dan reptile park. Mungkin ini karena hampir semua wahana tidak perlu mengantri. Kontras dengan dufan yang rata-rata wahana perlu 1 jam antrian.

Demikian beberapa alternatif tempat yang bisa dijadikan referensi hiburan pembaca sekalian ketika berkunjung ke Kediri dan Malang. Semoga bermanfaat…=)

Destination:

1. Kampung Bahasa

2. Alun-alun Pare

3. Garuda Park

4. Puluhan tempat makan di Pare

5. Candi Tegowangi

6. Candi Surowono

7. Pemandian Surowono

8. Goa Surowono

9. Menara masjid tertinggi di Kediri

10. Gunung Kelud

11. Kosan Arya

12. Matos (Malang Town Square)

13. Rumah Cak Nu

14. Cemoro Lawang

15. Bantengan

16. Pananjakan

17. Bromo

18. Ikana (tempat makan)

19. Kusuma Agrowisata

20. Jatim Park

21. MOG (Mal Olympic Garden)

22. Rumah Dian

23. Pameran Foto di Perpus Pusat Malang

Cost:

Bus Lorena Jakarta – Kediri 215.000

Makan+wisata Kuliner 328.000

Bromo Trip 478.000

Kelud Trip 20.000

Transpor dalam kota 69.000

Kosan 2 minggu 70.000

Biaya sewa sepeda 2 minggu 20.000

Program di Kampung Bahasa 44.000

Buku Program 35.000

Masuk Jatim Park 30.000

Kereta Bisnis Bangunkarta 150.000

TOTAL 1.459.000

22
Des
08

Backpacking Jogja-Bandung

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja

Backpacking kali ini punya misi khusus, memburu berita. Tapi tentu saja bisa diselingi dengan jalan-jalan ke berbagai tempat yang memungkinkan.

Ada beberapa alternative cara untuk menuju Jogja dari Bogor atau Jakarta, bisa dengan bis atau kereta api. Tapi saya memilih travel karena dirasa lebih praktis. Harga juga bervariasi. Jika betul-betul miskin, kita bisa mengunakan kereta ekonomi dari Jakarta. Setahun yang lalu, kawan saya hanya membayar 37 ribu, mungkin sekarang sudah naik, tapi tidak akan lewat dari 50 ribu. Yang jelas ini jauh lebih murah daripada travel yang bisa lebih mahal tiga kali lipatnya. Perlu waktu 10 jam untuk mencapai Jogja dengan travel. Ada snack dan minuman yang disediakan dari travel, tapi bukan makan malam.

Enaknya, di Jogja ada trans Jogja yang mempunyai rute di dalam kota Jogja. Keberadaannya sangat membantu bagi orang yang belum paham Jogja. Pegawai yang menjaganya pun ramah. Kita bisa bertanya sampai puas tanpa takut dibohongi. Cukup dengan 3 ribu, kita bisa mengelilingi Jogja, asalkan tidak turun dari halte.

Mind set kiri kanan harus diubah ketika sampai di Jogja. Navigasi otak kita harus jalan karena kebiasaan orang Jogja memberitahu arah dengan arah mata angin. Misalnya, ketika ditanya rumah Pak Soleh yang rajin mengaji itu di mana? Masyarakat menjawab, dari sini ke Utara sampai ketemu restoran padang Salero Bundo yang menghadap ke Barat. Masuk terus ke timur sekitar 200 meter maka Bapak akan ketemu rumah Pak Soleh yang menghadap ke Utara dengan pintu utama di Barat. Nah loh, puyeng gak tuh??

Makanan di Jogja bisa dibilang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Asal tidak menampakkan kewisatawanan kita, apalagi di Malioboro, maka kita akan aman dari mark up yang tidak berprikemanusiaan itu. Lebih aman kalau kita bertanya dulu harga makanan sebelum dengan sukses menghabiskan sepiring gudeg.

Kasongan bisa dijadikan tempat cuci mata yang unik. Di sepanjang jalan Kasongan ini, dipenuhi penjual kerajinan dari tanah liat. Bisa dikatakan, Kasongan adalah sentra kerajinan tanah liat di Indonesia.

Siapa yang tidak kenal gudeg? Tapi pasti jarang yang mengenal gudeg paling tua di Jogja, bukan? Adalah Gudeg Yu Djum, yang sudah menginjak ke generasi ketiga dalam bisnis gudeg ini. Tempatnya di sekitar UGM. Tukang ojeg pasti kenal daerah gudeg, tinggal cari saja Gudeg Yu Djum, tidak sulit menemukannya. Tentang harga, memang Yu Djum memberikan harga yang lebih tinggi dibanding gudeg yang lain. Tapi, semahal-mahalnya harga makanan di Jogja masih terjangkau lah. Seporsi gudeg dengan telur pindang lengkap dengan nasinya hanya dibandrol 6 ribu.

Wisata candi? Ah, sudah biasa. Tapi bagaimana dengan wisata candi yang menjual view sunset dari atas candi? Unik bukan? Kalau tertarik, silakan berkunjung ke Candi Boko, tidak jauh dari Prambanan. Dengan merogoh 35 ribu, kita bisa menikmati indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Uang sejumlah itu tidak hanya sebagai biaya untuk melihat sunset. Tapi sudah termasuk makan malam dengan masakan tradisional Indonesia, seperti bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, atau soto. Sambil menunggu sunset, pengunjung juga disuguhi teh atau kopi lengkap dengan makanan kecilnya.

Namun, agak sulit mencapai Candi Boko karena tidak ada angkutan umum yang mencapainya. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka ojeg adalah satu-satunya pilihan. Tidak mengapa, karena tariff yang ditawarkan tukang ojeg di Jogja adalah tariff yang sudah berkonsolidasi dengan isi dompet. Orang Jogja terkenal dengan kejujuran dan keramahannya.

Menuju bandung dari Jogja, juga ada banyak alternative. Tapi sepertinya yang paling nyaman adalah dengan kereta. Untuk kelas eksekutif dihargai 150 ribu. Di dalam kereta, kita disuguhi snack yang cukup untuk menyumpal perut di malam hari. Bantal dan selimut tebal disediakan untuk tiap orang. Sesuai dengan yang dijanjikan, kereta berangkat pukul 21.30 dan sampai di Bandung pukul 5.30. Betul-betul tepat, tidak ada selisih yang lebih dari tiga menit.

Beruntung, saya punya kawan di Bandung yang baik hatinya, Baskara Aditama. Dia bersedia menjemput di Stasiun Bandung. Karena letih berputar-putar di Jogja, sedikit tenaga yang tersisa di Bandung. Hanya mampir wawancara di Pajajaran.

RM Ma’Uneh bisa dijadikan tujuan kuliner yang jempolan. Letaknya di dekat GOR Pajajaran. Ratusan jenis masakan Sunda siap dipesan. Harganya memang agak premium. Sepiring udang yang berisi tiga buah udang windu besar dihargai 60 ribu. Tapi masalah rasa, jangan ragukan. Bermacam menteri dan artis sering makan di tempat ini. menandakan tempat ini memang premium.

Berikut ini lampiran tempat-tempat yang saya kunjungi lengkap dengan biayanya. Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Semoga bermanfaat.

Destination:

  1. Rumah Nenek di belakang FT-UII, Kaliurang
  2. Sasanti Galeri (Next door Hyatt Jogja)
  3. Sentra kerjinan Kasongan
  4. PT. Out of Asia (Tembi)
  5. Malioboro
  6. Ambarrukmo Plaza
  7. Gudeg Yu Djum, Kaliurang
  8. Sunset Boko
  9. RM. Ma’Uneh, Pajajaran, Bandung
  10. Blitz PVJ
  11. 1001Crafts, Pajajaran, Bandung

Cost:

Day 1

Diana Travel Bogor-Yogya 180.000

Makan malam di jalan 17.000

Toilet 2x 2.000

Day 2 (Jogja)

Tambahan travel ke Kaliurang 20.000

Trans Jogja 3.000

Ke kasongan 2.500

Ojeg keliling Kasongan + bantul 25.000

Aqua 1 botol 1.500

Ke Pojok Bateng 3.000

Ke Malioboro 3.000

Batik 20.000

Makan malam (3orang) 29.000

Day 3 (Jogja)

Angkot UII-UGM 6.000

UGM-Tugu 2.500

Ojeg Tugu-UGM-Boko-Malioboro 60.000

Tip buat Satpam Boko 10.000

Trans Jogja 3.000

Mandi di Stasiun 3.000

Makan malam 14.000

Kereta Eksekutif Jogja-Bandung 150.000

Day 4 (Bandung)

Makan Pagi 11.000

Angkot Darul Hikam-Simpang Dago 1.500

Simpang Dago-Pajajaran 3.000

Nonton di Blitz PVJ 25.000

Pajajaran-Simpang Dago 3.000

Simpang Dago-Darul Hikam 1.500

Sebotol Mizone 3.500

Makan malam (2 orang) 25.000

Day 5 (Bandung)

Makan pagi 7.500

Hikam-Simpang 1.500

Makan siang 11.500

Ke lw. Panjang 2.500

Bis eksekutif ke UKI 40.000

TOTAL 691.000

06
Okt
08

Taman Kuliner: Tempat Kumpul-Kumpul Baru Anak Kalimalang

Setahun yang lalu (2007), dan tahun-tahun sebelumnya, saya dan teman-teman yang bertempat tinggal di Jakarta Timur dan Bekasi pinggiran, tepatnya sepanjang kalimalangkalau ingin membuat acara buka puasa bareng atau sekedar kumpul-kumpul, harus pergi bermacet-macet ria kea rah Kemang atau Kelapa Gading. Sebetulnya banyak tempat makan enak di sepanjang kalimalang atau jatiwaringin, tapi yang berkonsep “anak muda” hanya beberapa saja. Itupun dengan harga yang relative tinggi.

Sekarang, taman kuliner sudah berdiri, tepat di ujung Kodam, sebelah Polsek Duren Sawit. Tempatnya enak, anak muda banget… Walhasil, tahun ini, kita tidak perlu bermacet-macet lagi untuk sekedar buka bareng…

Hebatnya, belum genap setahun, tapi untuk buka bareng di tempat ini harus reserve sehari sebelumnya. Kalau tidak, silakan mencari tempat yang lain karena dijamin Taman Kuliner sudah penuh.

06
Jun
08

Backpackers Indo Juga Banyak

Backpacker belajar dari lingkungan

Backpacker belajar dari lingkungan

Banyak orang yang suka banget sama yang namanya jalan2. Tapi kebanyakan dari mereka cuma punya duit yang terbatas dengan angan2 tak terbatas. Maka muncullah istilah backpackers. Orang-orang yang suka melanglang buana kemana2 dengan make backpack yang segede bagong kayak tas gunung.

Semakin banyak orang2 yang demen jalan2 semakin banyaklah backpackers. Sampe suatu hari ada yang bikin komunitas backpackers se dunia. Mereka boleh nginep gratis di tempat sesama backpackers dalam satu komunitas itu. Mereka juga dikasih trik buat ngurangin biaya jalan-jalannya sama anggota komunitas yang tinggal di daerah yang bakalan dikunjungin. Tentunya mereka juga harus siap rumahnya dijadiin tempat nginep sementara oleh petamasya2 itu. Dan mereka juga diwajibkan ngasih informasi buat bikin tamasya yang murah di daerah tempat tinggalnya. Biaya yang harus dikeluarin biar dapet makan murah, losmen murah, aturan2 adat daerah situ, apa aja yang harus disiapin, dsb dsb.

Informasi tentang promo daerah wisata ini itu udah jadi makanan tiap hari anggota komunitas ini. Yang gak promo aja ada apalagi yang promo. Misalnya ini nih:

Nah buat yg mau backpackers di Bali, info2 berikut mudah2an bisa membantu yah.

- Mendingan pake pesawat deh kalo ke Bali. Dari Jkt kan banyak yg murah2 kayak air asia. Waktu lebih efektif drpd naek bus umum.

- Penginapan pilih yg didaerah Gang Poppies I atau Poppies II. Disini banyak losmen yg harganya mulai dr IDR50rb-100rb tergantung keinginan. Kondisinya lumayanlah, ada kipas angin, dapat breakfast kopi+roti.

-Sewa motor utk transportasi. Harga motor jenis bebek atau matic cuman IDR 40rb.-/hari (24 jam) tanpa bensin. Tapi pastikan bahwa itu motor ga bermasalah kalo dijalanin. Kalo masalah rute, tinggal bawa ajah map yg banyak disediakan di hotel2. Jalan di Bali tidak terlalu sulit kok. Yg penting diperhatikan saat naik motor adalah memakai helm standard yg nutupin ampe kepala belakang. Kalo ga, abis deh ditilang ma Pak Polisi. Trus tidak semua belok kiri yg ada lampu merah itu bisa jalan terus, watch the sign!!. Kalo nyasar, tanya ajah ama penduduk. Nanya yg sopan tp, matikan motor, turun dari motor, dan tanyakan. Kalo anda nanya dalam keadaan motor hidup dan andanya masih diatas motor, dicuekin bro…kalopun dikasi tau, pasti arah yg ngawur hehehe…

-Ttg makanan, gampang kok cari makanan kelas kaki lima. Banyak warung Jawa tersebar dgn gaya warteg. Paling 6000.-/porsi plus es the 1500.-. Kalo mau clubbing, tinggal mampir ke circle K ambil brosur What’s Up Bali…atau Beat Magazine. Info lengkap ada disitu.

Manstab kan informasinya?! Detail dan ngena… Hohoho, semakin ingin ber backpacker ria? Sok, mangga dicari informasi lebih dalem lagi tentang backpacker, tanya aja sama om gugel. Kmungkinan besar orang Indo udah bikin komunitas backpacker sendiri.