Archive for the 'kaki langit' Category

02
Nov
11

Panen Tempat Wisata dalam Satu Jalur

Kawasan dataran tinggi menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal, terutama dari kota besar seperti Jakarta. Puncak Bogor sempat berjaya dengan keunggulan tersebut, tapi makin lama orang jenuh dengan kondisi macet yang selalu menjadi momok menyebalkan. Ciwidey kemudian dilirik untuk menjadi alternatif Puncak Bogor, terutama setelah proyek Tol Cipularang tuntas.

Dahulu, Ciwidey dan strawberry menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Kalau ke Ciwidey ya petik strawberry. Namun, sebetulnya banyak tempat lain yang bisa dikunjungi sepanjang jalan dari Ciwidey sampai Situ Patengan, berikut akan dibahas satu per satu.

Kawah Putih

DarikotaBandung, perjalanan menuju Kawah Putih menempuh jarak 46 km atau 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kawah Putih adalah tempat wisata besar pertama yang ditemui sepanjang jalan dari Ciwidey ke Selatan. Kalau tempat wisata kecil seperti petik strawberry di belakang rumah, itu banyak terdapat di sepanjang jalan sebelum Kawah Putih.

kawah putih. Dok: tours88.blogspot.com

Letak pintu gerbangnya di sebelah kiri jalan. Dari pintu gerbang tersebut, perjalanan masih menanjak sekitar 6 km sampai menuju kawah yang sebetulnya tidak berwarna murni putih, tapi ada unsur biru dan hijaunya. Sepanjang jalan tersebut, pemandangan yang tersibak adalah hutan hujan tropis dan Eucalyptus. Berdiri di hamparan kawah berarti kita berdiri pada ketinggian 2.194 mdpl.

Tebing-tebing di sekitar kawah putih membuat suasana menjadi semakin syahdu. Air kawah yang tenang seakan mengajak mata untuk terus mengagumi keindahannya. Apalagi ketika kabut sudah mulai turun, rasanya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kita beranjak pulang.

Dulunya, dari pintu masuk sampai parkiran di atas, pengunjung dibebaskan masuk membawa kendaraannya. Namun, sejak 8 Mei 2010, setelah ditutup dua bulan untuk pemugaran, kendaraan sudah disortir untuk ke atas. Biayanya akan sangat mahal jika membawa kendaraan ke atas. Satu mobil dengan satu penumpang dikenakan biaya Rp165 ribu, tambah 15 ribu tiap penambahan 1 orang.

Sekarang, banyak yang bilang, Kawah Putih jauh lebih baik kondisinya daripada sebelum pemugaran. Juga, disuguhkan atraksi baru bagi pengunjung, yaitu Legenda Kawah Putih Domba Lukutan. Namun, banyak yang mengeluh karena biaya masuknya jadi berlipat sehingga sulit dijangkau. Paket termurah yang ditawarkan seharga Rp 25 ribu. Dengan paket tersebut, pengunjung mendapat karcis masuk dan fasilitas Ontang-Anting, yaitu alat transportasi yang akan mengantar pengunjung ke atas, menunggu pengunjung menikmati Kawah Putih, lalu mengantar kembali ke pintu masuk.Adayang bilang, memang harus seperti itu untuk membuat suatu kawasan wisata tetap terjaga keasriannya.

Emte

Entah kenapa diberi nama demikian. Ketika ditanya, apa Emte itu maksudnya Mario Teguh? Si pengelola cuma tertawa. Tempat wisata ini terbilang baru, belum banyak orang yang tahu. Baru sekitar awal 2010 Emte berdiri. Di dalamnya banyak sekali pilihan wisata. Kalau beberapa tempat wisata memfokuskan bisnisnya pada, pemetikan strawberry atau outbond atau pemandangan indah atau pemandian air panas, Emte hadir dengan semuanya itu. Memang, kualitasnya masih belum sebaik tepat wisata yang focus di satu wahana wisata.

Tempat ini cocok untuk keluarga, rombongan, juga perjalanan sendiri. Biaya masuknya Rp5 ribu, sudah termasuk kolam air hangat. Tapi kolamnya sangat biasa dan agak keruh. Adabeberapa saung besar dan kecil buat berkumpul atau berteduh. Flying fox yang melintasi kolam ikan (bukan kolam pemandian) berbayar Rp15 ribu. ATV ukuran besar Rp50 ribu per 3 lap, ukuran kecil Rp25 ribu per 3 lap. Petik strawberry sendiri dibandrol 30 rb/kg, tapi tidak harus memetik 1 kg. Satu Styrofoam itu setara dengan setengah kg, kita bahkan bisa petik kurang dari itu.

Di tengah-tengah tempat lokasi wisata Emte, terdapat kantin yang harganya lumayan bersaing. Nasi putih dengan ayam goreng special dihargai Rp10 ribu, sotobandungRp10 ribu, nasi goreng strawberry special Rp10 ribu. Yang membuat kantin lebih mempunyai daya saing adalah adanya saung-saung lesehan di seputaran kantin tersebut. Dari saung ini, hamparan pemandangan aktivitas wisatawan Emte bisa terlihat.

Ranca Upas

Ranca Upas. Dok: ayowisata.wordpress.com

Sejatinya, Ranca Upas adalah tempat wisata untuk berkemah. Beberapa orang bilang, kalau belum camping di Ranca Upas berarti belum ke Ciwidey. Pengelola sepertinya tidak mau ketiggalan dengan para tetangganya. Beberapa cottage kemudian dibangun. Pilihan aktivitas juga bertambah dengan adanya outbond. Satu paket outbond dengan 4 games yang salah satunya adalah flying fox, dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Harga ini tentu terbilang murah, terutama jika dibanding tempat wisata di Ciwidey yang menawarkan paket serupa.

Tiket masuk Ranca Upas adalah Rp5 ribu untuk weekdays dan Rp6.500 untuk weekend. Jika mau camping di dalamnya, maka pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.

CImanggu

Mata air panas yang ada di dalamnya berasal dari Gunung Patuha.

Rancabali

Tempat ini merupakan 1 dari 41 kebun milik PTPN VIII. Komoditas utama yang diusahakan adalah the. Seperti perkebunan the lain yang mempunyai lokasi strategis, Rancabali juga –oleh pengelolanya- digarap menjadi satu kawasan agrowisata. Kita bisa melakukan tea walk disana. Petik strawberry juga menjadi pilihan yang menarik.

Walini

Kebun Teh milik PTPN VIII yang ternyata punya kolam pemandian air panas.

Situ Patengan

Di tengahnya terdapat Pulau Asmara. Sebetulnya kurang tepat juga disebut pulau, karena letaknya yang tersambung dengan daratan pinggir Situ Patengan.

30
Okt
11

Ciwidey Bisa Jadi One Day Trip

Perjalanan surveyku menuju Ciwidey hanya menghabiskan biaya Rp70 ribu. Segala pilihan berbayar paling rendah menjadi pilihan utama dalam perjalanan kali ini.

Beberapa hari yang lalu, berdasar keputusan “rapat kampung”, Aku diamanahkan untuk mengurusi segala tetek bengek untuk rekreasi kampung kami yang berada di pinggirankotaJakarta. Maka jadilah malam ini Aku berada di Masjid Salman ITB, sendirian. Walau anggaran survey cukup untuk membayar hostel di Bandung, tapi Aku tetap memilih tidur di masjid untuk mendobrak paradigma di kampungku, bahwa jalan-jalan atau survey itu ribet dan mahal.

Tidak ada sleeping bag, tidak ada matras. Aku tidur di atas karpet yang lumayan tebal, di lantai dua bagian luar masjid, setelah sebelumnya diusir karena Aku tidur di dalam masjid dengan menggunakan mukena sebagai pembalut kaki yang kedinginan (Hehe, maaf ya Pak Satpam). Yang paling membebani pikiran malam itu adalah tas yang kebetulan berisi laptop dan kamera (sebelumnya ada presentasi dan kerjaan dibandung). Letak masjid sangat terbuka. Siapa saja bisa masuk kapan saja. Tapi, ya sudahlah, kalau tertulis besok bukan lagi jadi milikku ya tidak akan jadi milikku.

Paginya, Sabtu 3 Juli 2010, Aku langsung mengecek tas. Alhamdulillah aman. Aku menuju Kopo lalu lanjut ke Soreang. Lalu lintas aman, hanya saja di terminal Soreang ada pasar. Ya namanya pasar hampir selalu bikin macet. Tapi menurutku macetnya tidak terlalu parah, masih bisa ditolerir. Kalaupun tidak mau ambil risiko, setelah gapura besar masuk Kabupaten, sebelum terminal Soreang, ada jalan ke kiri. Kelihatannya jalan mulus dan bagus, tapi kok sepi. Kata supir angkot di sebelahku, itu karena jalan tersebut memutar, biasanya hanya dipakai kalau macetnya sudah gila-gilaan seperti ketika lebaran.

Dari Soreang, Aku naik Colt yang sangat sesak. Dulu, dari Bogor Aku biasa memakai angkutan macam ini menuju Sukabumi. Satu kursi panjang maksimal diisi 4 orang, itu saja sudah sempit. Ini sampai 5 orang! Wah, masyarakat Soreang betul-betul menerapkan azaz efisiensi (baca: gak mau rugi). Memang hitungannya sangat murah, dengan jarak panjang Soreang-Ciwidey, Aku cuma dimintai Rp4 ribu.

Perjalanan semakin sejuk dan memanjakan mata dari Ciwidey sampai seterusnya ke Situ Patengan. Tapi melelahkan menunggu angkot untuk jalan, hampir sejam penumpang angkot jurusan Ciwidey-Patengan cuma bertambah 4 orang! Belum lagi, Aku harus menerima kenyataan, tidak ada penumpang yang punya tujuan sampai Patengan, semua turun di Kawah Putih (sekitar 5 km sebelum Patengan). Si supir cuma menghadapku dengan senyum-senyum, “Maaf ya….” Yah, Aku mengerti.

kawah putih. Dok: ariesaksono.wordpress.com

Kawah putih sudah jauh berubah, katanya sih, demi konservasi yang lebih intensif. Biaya masuk dinaikkan, biaya jauh membengkak kalau kita membawa mobil atau motor ke atas kawah. Ya, mudah-mudahan kebijakan itu efektif. Aku terpaksa mencoret Kawah Putih sebagai tujuan wisata kampungku, selain karena mahal, sebelumnya memang Aku sudah kepikiran, apa ada tempat nongkrong di atassana buat kumpul-kumpul satu bis? Sepertinya tidak –berbekal pengalaman ke sini setahun lalu-.

Tepat di depan Kawah Putih, ada satu tempat rekreasi baru yang teriak-teriak lewat pengeras suaranya, “Masuk Emte (nama tempat wisatanya) hanya Rp5 ribu, sudah termasuk pemandian air hangat.” Wah, harganya oke berat tuh. Aku langsung terpikat lalu berbincang dengan Pak Dede, semacam manajer operasional tempat ini. Pertanyaanku, “Pak, saya tahu ini tempat baru, tapi apa harus teriak-teriak begitu buat nyari ‘pasien’?” Dijawab, “Wah, iya. Malah di atas Kawah Putihsana kami bagi-bagi brosur Emte.” Hmm, persaingan bisnis penuh intrik ya. Obrolan semakin hangat karena ternyata beliau lulusan Agronomi yang cukup peduli dengan pengembangan Agrowisata, cocok. Kami bicara banyak hal tentang konsep ideal pengembangan wilayah dan kasus-kasus yang bikin agrowisata hancur.

Memang, tidak berlebihan kalau Emte disebut “tempat wisata segala ada” karena di dalamnya ada segalanya, yaitu tempat pemetikan strawberry, tanah lapang yang luas (penting untuk rombongan yang butuh tempat kumpul), tiga kolam air hangat, tempat pemancingan, restoran yang murah meriah tapi masih berkesan eksklusif, permainan outbond yang memang masih sedikit tapi sudah ada flying fox, sarana dan prasarana ATV, dsb (detail harga dan pilihan ada di rubrik Ordinat).

Ketika Aku survey harga makanan di restoran Emte, ada seorang pegawai resto yang mendekat sambil berbisik, “Di sini makanannya enak mas, murah lagi,” lalu bisiknya semakin dekat dan semakin tipis, “Ada ‘jatah’ buat Tour Leader nya juga loh, kalau bawa peserta ke sini,” sambil tersenyum. Aku juga ikutan tersenyum.

Lanjut, Aku jalan kaki ke atas, ada Ranca Upas di sebelah kanan. Di sini utamanya adalah tempat perkemahan. Di dalamnya ada penangkaran rusa yang katanya sudah ditata lebih rapi, tapi rusanya ternyata hanya 17 ekor. Pengunjung yang datang sepertinya tidak terlalu banyak. Aku tidak masuk ke dalam karena waktu semakin mepet, Aku harus sudah minggat dari Ciwidey sebelum sore karena angkutan akan raib setelahnya.

Masih jalan kaki, Aku lanjut ke Taman Wisata Cimanggu di sebelah kiri jalan. Utamanya tempat ini menjual kolam pemandian air panas, airnya betul-betul panas, bukan hangat. Sepertinya, hanya orang gila yang bisa langsung nyemplung dan berenang. Di dalamnya sangat ramai. Hampir tidak ada tempat sepi di seputaran kolam pemandian. Menurutku, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sari Ater di Lembang. Tapi di sini jauh lebih murah dan tidak ada anggapan seperti di Sari Ater, “apa-apa duit, nambah lagi nambah lagi”.

Situ Patenggang. Dok: yussi.host22.com

Menuju Situ Patengan, Aku naik angkot dengan harga Rp7 ribu, sudah termasuk tiket masuk. Wah, ramai sekali hari Sabtu ini. Namun, menurut beberapa penjaja jasa perahu penyebrangan, ini katanya belum terlalu ramai dibanding hari Minggu. Perahu betebaran karena memang itu yang paling dicari pengunjung untuk menyebrang ke Batu Cinta, atau sekedar mengelilingi danau. Mendengar Aku sedang survey, beberapa orang mendekat, menawarkan jasa perahu yang dikorting, tadinya Rp20 ribu untuk mengitari danau, jadi Rp15 ribu, mereka juga menggoda dengan, “Nanti adalah jatah buat Tour Leader-nya,” sambil berbisik.

Waktu semakin tipis, setelah Ashar, Aku bergegas menuju Ciwidey-Soreang-Cihampelas. Aku ingin mengajak rombongan kampungku ke tempat belanja ini. Pikirku, kalaupun acara tidak terlalu berhasil, mungkin bisa tertutup dengan diberikannya acara belanja ini. Mudah-mudahan, Ibu-ibu akan berbinar dan lupa untuk berkomentar, “Ah, si Iqbal nih gak asik bikin acaranya.”

Untuk itu semua, dengan perjalanan dari Bandung-keliling Ciwidey-Bandung, Aku menghabiskan hanya Rp70.000, dengan perincian: makan pagi (lontong sayur) Rp5 ribu, angkot ITB-Caringin Rp3 ribu, angkot ke Kopo Rp2 ribu, Kopo-Soreang Rp2 ribu, Soreang-Ciwidey Rp4 ribu, Ciwidey-Kawah Putih Rp8 ribu, makan siang (nasi+telur) Rp5 ribu, menuju Patengan + tiket Rp7 ribu, penyebarangan perahu Rp10 ribu, Patengan-Ciwidey Rp6 ribu, Ciwidey-Soreang Rp4 ribu, Soreang-Kalapa Rp6 ribu, Kalapa-ITB Rp3 ribu, makan malam (nasi+telur+kacang merah) Rp5 ribu. Total biaya bisa rendah karena, pertama, Aku selalu pilih cara termurah. Kedua, Aku dapat keistimewaan sebagai “surveyor” yang mendapat tiket masuk gratis ke beberapa tempat wisata dan perahu murah ketika di Patengan.

Setelah pulang, pikiran berkecamuk ingin membuat rencana perjalanan ala backpacker yang bisa menghampiri banyak tempat wisata di daerah Ciwidey. Gambaran besarnya, total biaya Rp214 ribu dengan 5 tempat yang dikunjungi, yaitu Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ranca Upas (termasuk outbond 4 games, salah satunya flying fox), Situ Patengan, dan Emte. Sisipan ide gilanya: tracking mengitari Situ Patengan! Mungkin suatu saat akan kubuat open trip untuk perjalanan berikut:

Sabtu

6.00: Kumpul di Kampung Rambutan

6.00-10.00: Menunggu bis ngetem dan perjalanan menujuBandung(Leuwi Panjang)

10.00-11.30: Leuwi Panjang-Ciwidey, menggunakan mobil Colt/L300

11.30-13.00: Menunggu angkot ngetem dan perjalanan menuju Kawah Putih

13.00-15.00: Menikmati Kawah Putih

15.00-15.30: Menuju Pemandian Cimanggu dengan berjalan kaki

15.30-17.00: Menikmati Cimanggu

17.00-17.30: Menuju Ranca Upas dengan berjalan kaki

17.30-18.00: Pasang tenda, kalau tidak ada yang bawa, gelar matras dan sleeping bag

18.00-07.00: Bebas

Minggu

7.00-7.30: Menuju Situ Patengan

7.30-12.00: Tracking mengelilingi Situ Patengan, dari kiri ke kanan. Katanya akan menemuipadang rumput yang indah dan mata air yang segar.

12.00-13.00: Menuju Emte

13.00-14.00: Istirahat, menikmati Emte

14.00-20.00: Menuju Jakarta lewat Ciwidey- Leuwi Panjang

Biaya:

Bis Rambutan-Leuwi Panjang PP Rp80 ribu

Colt Leuwi Panjang-Ciwidey PP Rp12 ribu

Angkot Ciwidey-Kawah Putih/Emte PP Rp14 ribu

Angkot Kawah Putih/Emte-Situ Patengan PP Rp10 ribu

Masuk Kawah Putih Rp25 ribu

Masuk Cimanggu dan sewa tempat nongkrong Rp17 ribu

Masuk dan camping di Ranca Upas Rp17 ribu

Outbond 4 games di Ranca Upas Rp35 ribu

Masuk Situ Patengan Rp4 ribu

TOTAL 214.000

09
Jun
11

Hidden Nusakambangan

Tidak salah kalau orang ditanya apa yang kamu tahu tentang Nusakambangan (pulau di Selatan Cilacap, Jawa Tengah) lalu dijawab penjara yang menakutkan. Karena memang ada empat Lembaga Pemasyarakatan (dulu ada sembilan) yang spesial dibuat untuk penjahat-penjahat besar. Sebutlah Johny Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan.

Pagi tadi, pukul 6.30, Mei 2011, aku, tanpa bekal informasi yang cukup, coba langsung trabas ke Dermaga Wijayapura, satu-satunya dermaga besar formal yang menghubungkan Kota Cilacap dengan Nusakambangan (Dermaga Sodong).

“Pak, saya mau ke Nusakambangan. Bayarnya berapa ya?”

“Kamu dari mana?” kata si petugas di kantor yang pakai pakaian dinas seperti polisi air.

“Dari Jakarta.”

“Maksudnya dari institusi apa?”

“Ya bukan dari mana-mana, saya mau main ke pantainya.”

“Ya tidak bisa. Harus jelas kalau ke sana. Wisatawan tidak boleh.”

“Gak boleh? Saya dari Jakarta loh Pak, ke sini cuma mau ke Nusakambangan.”

“Nusakambangan bukan daerah wisata, mas!”

Arggh! Ini gara-gara terlalu percaya Loney Planet. Di situ ditulis, kapal very berangkat pukul 7 pagi dengan tarif Rp 30.000. Padahal, kapal very itu sama sekali tidak boleh buat wisatawan. Lonely Planet yang kupegang keluaran 2008, sedangkan larangan wisatawan tidak boleh nebeng itu, menurut petugas, sejak sebelum tahun 2000. Kesalahan fatal!

Aku balik ke penginapan di dekat alun-alun. Karena hujan tidak berhenti, siang ini juga tidak bisa keluar. Sorenya aku main-main ke Pantai Teluk Penyu atau kadang disebut orang lokal THR (Tempat Hiburan Rakyat). Ini adalah pantai yang paling favorit buat orang Cilacap.

Garis pantainya cukup panjang dan banyak berjejer kios-kios makanan, ada yang dibuat serius seperti restoran mewah, ada yang cuma bilik bambu. Mirip dengan pantai Ujong Blang di Lhokseumawe, Aceh. Sama-sama punya garis pantai yang panjang, sama-sama punya banyak kios, dan sama-sama dekat dengan tanki minyak (Pertamina di Teluk Penyu, Arun di Ujong Blang).

Teluk Penyu. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Padahal ini hari Rabu dan bukan tanggal merah, tapi kios-kios itu tetap buka loh. Menurut orang lokal, memang di sini setiap hari ramai, apalagi tanggal merah. Pantainya biasa saja, tidak ada ombak tinggi bergulung-gulung, tidak ada pasir putih, tidak ada sunset, tidak boleh berenang pula, dan yang gawatnya, ada pemberitahuan bahwa di pantai terkadang ada binatang laut berbisa. Aku pun masih bingung kenapa bisa seramai ini. Mungkin karena tidak ada pilihan wisata lain ya.

Kapal-kapal nelayan yang berjejer-jejer, yang awalnya aku sangka buat cari ikan, rupanya bisa juga untuk alat transportasi ke Nusakambangan. Sial aku baru tahu sekarang! Kalau sudah sore begini sama saja bohong kalau maksain nyeberang ke Nusakambangan.

Aku cuma tanya-tanya saja sama pemilik kapalnya, tentang Nusakambangan dan tarif-tarif kapalnya, mungkin lain kali bisa main ke sini lagi. Pada umumnya, wisatawan naik kapal ini buat ke Nusakambangan. Kapalnya  mirip kapal-kapal carteran buat snorkeling di kepulauan seribu. Rata-rata muat sekitar 15 orang. Alhamdulillah, sudah pakai mesin =)

Mungkin karena ketahuan tidak tahu harga, si pemilik kapal nembak Rp 25.000 per orang untuk ke Nusakambangan (Pantai Karang Pandan). Tapi orang lokal bilang biasanya cuma Rp 10.000. Nyeberang paling cuma 15 menit, pulaunya kelihatan kok. Mirip dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu (Malang) atau dari Pantai Iboih (Sabang) ke Pulau Rubiah

Itu terserah kita mau pulang jam berapa, paling telat pukul 17.30 karena jam segitu Teluk Penyu tutup. Selain Pantai Karang Pandan, di sana juga ada Benteng Karang Bolong. Biasanya turis yang datang ya ke dua tempat itu.

Gimana kalau mau camping di Nusakambangan? Ya bisa saja, sudah banyak kok yang camping di Karang Pandan. Nanti izinnya bisa diurus si pemilik kapal, nambah Rp 5.000. Besoknya dijemput sesuai jam kesepakatan. Biasanya si turis dibekali nomor si pemilik kapal, jadi kalau mau pulang tiggal SMS juga bisa (salah satu pemilik kapal: Pak Budi 085726105114). Di Nusakambangan sinyal kuat.

Obrolanku dengan si pemilik kapal terus berlanjut sampai ke sebuah pulau bernama Kampung Laut. Katanya, “Di pulau ini boleh-boleh saja bawa kamera atau HP berkamera, tapi itu tidak akan berguna.” Aku heran, “Loh, kenapa Pak?” Dijawab, “Kita bisa melihat hasil jepretannya selama masih di dalam pulau, kalau sudah keluar, data foto itu hilang dengan misterius.” Hehe, mau coba?

Masih di Kampung Laut, ada sekumpulan batu yang terkadang kalau dipukul tidak keluar bunyi apa-apa seperti batu biasa, tapi terkadang bisa bunyi seperti kendang, walau cuma dipukul pakai tangan. Ini mirip dengan kejadian stalaktit-stalaknit yang ada di Goa Tabuhan di Pacitan.

Pak Budi pasang tarif Rp 450.000 (belum ditawar) per kapal untuk ke Kampung Laut, ditemani camping (atau tidak camping), sampai pulang besoknya. Perjalanan dari Teluk Penyu sekitar satu jam.

“Tapi kalau camping, hati-hati ya mas. Hewan liarnya keluar kalau malam.” Nah loh. Tapi selama di pinggir pantai atau dekat rumah penduduk Insya Allah aman. Silakan dicoba… =)

31
Jan
11

Parangtritis Trip

Senin (17 Jan 2011) sengaja dipilih supaya tidak menjumpai ramai-ramai. Aku dan rombongan motor berangkat dari Ring Road Utara Jogja sekitar pukul 9 pagi. Dengan jalan santai, sampai di Parangtritis sejam kemudian dengan melewati jalan lurus mulus. Katanya masuk Rp 6 ribu per orang, tapi si petugas minta Rp 5 ribu per orang, tanpa ada robekan karcis. Yah, begitulah. Tempat wisata kecil atau tenar sederajat Parangtritis pun, preman berseragam masih banyak. Jelas duitnya masuk kantong.

Dari pintu masuk itu, masih lumayan jauh masuk ke dalam. Di kanan kirinya banyak penginapan dan warung. Tapi kok sepi betul ya. Bisa jadi memang Senin itu sepi, bisa jadi memang Parangtritis selalu sepi, bisa jadi bukan keduanya.

Di belokan terakhir menuju pantai, beberapa orang sudah siaga di tengah jalan. Aku kira mau nawarin vila, tapi masing-masing mereka membentangkan tangannya, menghalang-halangi kami agar parkir di tempatnya. Menurutku, kelakuan mereka sudah kelewatan karena tangan mereka betul-betul sampai seperti merangkul agar kami berhenti. Lepas dari bentangan tangan yang satu ada lagi yang lain di depan, begitu terus sampai sekitar 6 kali. Ini aneh dan sangat mengganggu.

Jelas kami pilih parkiran yang paling dekat ke pantai, ada di paling ujung. Terakhir saya baru tahu biaya parkir untuk motor Rp 3 ribu, mobil Rp 10 ribu, yang ini tidak diberitahukan sebelumnya, tapi ditembak waktu mau pulang. Mahal betul. Pantas mereka rebutan sampai maksa begitu. Tapi gak pantas juga deng, itu kelewatan.

Sepinya menghapus nama besar Parangtritis. Kalau dikumpulkan semua pengunjungnya saat itu (termasuk yang lagi pacaran di balik-balik batu), mungkin cuma 20 orang. Sampah juga gak sebanyak pantai-pantai ramai yang komersil. Bagus sih, tapi justru terlihat janggal. Termasuk karena jumlah pedagang yang bisa dihitung dengan jari.

Ada beberapa hal menarik di Parangtritis, selain yang seharusnya ada di pantai. Pertama, banyak kuda yang disewakan, ada pula andong. Kalau kuda, satu putaran (sekitar 15 menit) tarifnya Rp 20 ribu. Kalau andong Rp 25 ribu. Kedua, kita bisa ikut Paralayang di sana. Untuk biaya tandem itu Rp 300 ribu sekali terjun, sudah termasuk kursus singkat. Tapi petugas yang satu lagi bilang Rp 250 ribu. Gak kompak.

 

Andong yang bisa disewa di Parangtritis. Dok: Iqbal

Air terjun kecil bisa ditemukan kalau kita berjalan sekitar 500 meter ke Timur. Airnya segar, lumayan kalau mau mandi-mandi, karena di pantai katanya bahaya untuk mandi-mandi, dan memang nyatanya tidak ada yang berani, paling cuma di pinggir-pinggirnya sampai air selutut. Setelah air terjun itu, kalau lanjut ke Timur lagi, kita bisa ketemu batu-batu besar. Di balik batu-batu besar itulah gampang didapat orang yang pacaran. Setelah batu-batu besar itu, pasir putih jauh lebih bagus dari di tempat awal masuk tadi. Tapi, harus jalan dulu sekitar 500 meter lagi.

Aku di sana hanya sekitar 2 jam, tidak kuat sama panasnya, kembalilah ke kota Jogja. Setelah sebelumnya dipalak ibu-ibu karena sudah duduk di tempatnya. Padahal kami duduk di bangku bambu biasa yang ada di pinggir pantai pada umumnya yang itu memang fasilitas pantai, itupun paling cuma duduk 15 menit. Dia minta lima ribu. Daripada ribut, berikan sajalah. Kalau Aku ke sini lagi, motifnya bukan karena mengejar keindahan Parangtritis.

16
Jun
10

Sergap Ceremai!

Penghujung Mei 2010 akan menjadi pijakan kuat untuk menerima hukum relativitas Einstein. Satu detik di minggu ini jauh lebih panjang dari satu detik di minggu-minggu biasa. Saya memilih untuk ikut pendakian Tim Sergap ke gunung Ceremai bersama 26 peserta lainnya. Menggilas waktu di tengah suara serangga gunung menjadikan waktu terasa lambat.

Perjalanan dimulai Kamis malam dengan memilih Kampung Rambutan sebagai meeting point. Saya hanya mengenal 3 dari total peserta, selebihnya baru kenal di pendakian ini. Menjadi satu hal menyenangkan tersendiri bisa mengenal kawan-kawan baru karena disatukan hobi yang sama. Mereka sebagian besar adalah karyawan yang bekerja di Jakarta dengan warni latar belakang dan karakter.

Kami harus menunggu salah satu peserta yang sengaja terbang dari Palembang untuk ikut mendaki Ceremai. Jadilah keberangkatan mundur 3 jam, pukul 11 malam. Semua siap dengan carrier-nya masing-masing. Minoritas memilih menggunakan daypack. Tidak mengapa, asal packing bagus, daypack pun cukup.

Angka Rp45 ribu yang tertera di karcis bus Jakarta-Kuningan tidak berlaku malam itu. Kami ditembak dengan harga Rp60 ribu. Apa boleh buat, daripada tidak jadi berangkat. Seluruh bagasi penuh dengan barang bawaan kami sehingga sebagian harus diangkut ke atas bus. Pukul 6 pagi kami sudah sampai. Supir bus memberi kami bonus dengan mengantar langsung sampai Desa Linggarjati yang merupakan satu dari 3 jalur pendakian umum.

Linggarjati berada pada ketinggian 650 mdpl, sedangkan puncak Ceremai ada di ketinggian 3.079 mdpl, berarti perjalanan kami 2.429 meter ke arah langit. Cukup sulit, apalagi Linggarjati adalah jalur terberat menuju puncak Ceremai. Untungnya, dua hari pendakian tidak disisipi dengan hujan setetespun.

Setalah berdoa, pukul 9 pagi pendakian dimulai. Rombongan dibagi menjadi 3 tim, masing-masing 9 orang. Saya masuk tim 3 yang berjalan paling akhir. Hampir di setiap rumah kosong menuju pos 1 (Cibunar-863 mdpl) dan pos 2 (Condang Amis-1.212 mdpl) kami istirahat. Maklum, sebagian dari kami belum terbiasa naik gunung, apalagi dengan jalur terberat dan gunung tertinggi di Jawa Barat. Sepanjang jalan kebanyakan terlihat ladang warga dan hutan pinus. Jalan menanjak tapi masih bisa dibilang landai.

Berkenalan. DOk: Iqbal

Menuju pos pertama. Dok: Iqbal

Pos 3 (Kuburan Kuda-1.450 mdpl), pos 4 (Pangalap-1.673 mdpl), dan pos 5 (Tanjakan Seruni-1.812 mdpl) punya kemiringan yang lebih terjal. Kebetulan, hari itu bertepatan dengan acara Gerakan Sapu Gunung Ceremai, jadi sepanjang jalan, banyak pendaki muda yang berpapasan dengan kami. Saya tanya, dari mana? Kebanyakan mereka menjawab “Dari Kuningan” atau “Dari Cirebon”. Jarang saya temui yang usianya lebih dari SMA. Di usia semuda itu…  Mereka hebat!

Terdengar teriakan dari bawah, “Nyalakan senter!” Entah dari siapa, tapi sepertinya dari tim kami. Rencana awal kami, malam ini menginap di Pengasinan, pos 10, tepat sebelum puncak. Rupanya sudah gelap pun, pos 6 (Bapa Tere-2.146 mdpl) belum terpijak. Tim yang dibentuk sudah kocar-kacir tidak pada tempatnya. Saya, Ben, dan Nina sempat terpisah dari kelompok depan dan belakang. Celakanya, senter saya dan Nina tidak bisa dipakai, padahal kami baru beli senter dan baterainya. Ini memang sering terjadi pada pendakian. Ada yang bilang, tenaga baterai tersedot karena suhu yang rendah. Untungnya masih ada senter Ben.

Kami bertiga cukup jauh terpisah. Saya dan Ben baru pertama kali naik gunung dan tidak tahu banyak tentang gunung. Kami punya dua pilihan, menunggu yang di bawah atau mengejar yang di atas. Awalnya kami menunggu yang di bawah, tapi lama sekali rupanya, teriakan kami pun tak berbalas. Akhirnya kami bersegera menyusul ke atas. Sempat beberapa jauh kami temukan keheningan, tidak ada suara apapun kecuali langkah kami bertiga yang hanya ditemani sorot lampu Ben. Suasana damai setelah terikan “SERGAP” kami berbalas dari atas, semakin keras. Sampai kami bertemu dengan rombongan, Alhamdulillah.

Tanah yang cukup lapang. Agak berundak tapi cukup luas sehingga beberapa orang mengusulkan mendirikan tenda di sini karena melihat kondisi rombongan yang sudah menurun dan hari yang sudah malam, pukul 7 malam. Beberapa orang lagi mengusulkan lanjut ke pos Bapa Tere, berkemah di sana. Akhirnya beberapa orang yang masih kuat dengan meninggalkan bawaanya berjalan ke atas untuk tahu seberapa jauh lagi Bapa Tere. Setengah jam kemudian mereka kembali, “Lebih baik di sini, Bapa Tere masih jauh, kami belum ketemu.”

Jadilah tenda dipasang. Walau terbatas lahan, tapi toh 7 tenda ukuran 3-4 orang masih bisa berdiri tegak. Sementara Aji dan beberapa orang lainnya mulai sibuk menentukan dapur, menyalakan kompor, memotong sayuran, dan menggoreng Nugget. Saya sendiri bingung mau bantu yang mana, takutnya malah merepotkan. Akhirnya serabutan saja, ada yang sedang kesulitan melebarkan penutup tenda, saya bantu. Ada yang menggelar terpal, saya bantu. Maklum, baru pertama kali, jadi masih belum cekatan seperti yang lain.

Sekitar pukul 10 malam, kami sudah mengelilingi buah karya Aji dkk: sewadah nasi, sewadah nugget, dan sewadah capcay. Tiap orang siap dengan wadah kosong dan alat makannya masing-masing. Saya betul-betul tidak menyangka bisa makan makanan senikmat ini di atas gunung. Bisa karena memang makanannya betul enak, bisa karena saya yang kelaparan, bisa jadi keduanya. Yang jelas, semua lahap, lalu lelap.

Sabtu pukul 1 dini hari kami bergegas menyiapkan diri, membawa barang seperlunya. Beberapa orang diberi beban membawa stok makanan dan minuman untuk di atas. Saya banyak berterima kasih pada mereka. Kami tidak menutup tenda. Ada dua orang yang rela tidak muncak untuk menjaga tenda dan memasakkan makanan untuk kami yang akan muncak. Saya juga banyak berterima kasih pada mereka.

Pukul 2 dini hari kami bergerak. Tim tetap dibagi tiga. Jaket, kupluk, dan sarung tangan sepertinya wajib untuk perjalanan sepagi ini. Saya menambahkan penutup leher agar lebih hangat. Jalan kami masih terbata-bata, mungkin karena udaranya yang sejuk ditambah langit yang masih pekat. Tidak ada yang banyak berceloteh. Semua tampak fokus pada pijakan berikutnya dan berikutnya sampai kami melewati Pos 6  dan Pos 7 (Batu Lingga-2.365 mdpl). Pilihan yang tepat karena kami tadi malam berkemah di tempat yang bukan pos itu karena di pos-pos selanjutnya lahan untuk mendirikan tenda lebih sedikit lagi, itupun sudah penuh oleh orang lain.

Berikutnya agak lebih mudah karena matahari sudah menemani. Rombongan saya sempat pijat-pijatan untuk sekedar mereduksi pegal. Cukup menyenangkan dan menyegarkan. Pos 8 (Sangga Buana 1 -2.491 mdpl), Pos 9 (Sangga Buana 2-2.648 mdpl), dan akhirnya Pos 10 (Pangasinan-2.842 mdpl). Saya dan rombongan kedua sampai Pangasinan sekitar pukul 8 pagi. Sebetulnya saya masuk dalam tim 3, tapi formasi sepertinya pecah jadi yang penting jalan saja. Apa saya menyalahi aturan ya? Di setiap pos yang dilewati, Tim Sergap memasang nama pos dengan seng berbalut cat kuning. Jadi, setelah sampai di Pangasinan, tuntas sudah misi pemasangan jalur di tiap pos pendakian.

Masak-masak rupanya terkendala air. Stok air kami sedikit jadilah hanya dibuat beberapa bungkus mi (saya berterima kasih pada yang memasakkan mi). Kami bagi rata mi seadanya itu, masing-masing 2-3 sendok. Itupun sepertinya rombongan terakhir tidak dapat. Mulai dari sini, air sudah menipis. Sebagian sudah tidak memegang sedikitpun air lagi. Tapi puncak tetap menggoda.

Pengasinan menuju puncak adalah jalur paling berat. Tanjakan semakin curam dan seperti tiada henti. Namun itu terobati dengan indahnya padang Edelweis dan cantiknya puncak Ceremai. Sayang, Edelweis waktu itu belum berbunga.

Cuaca begitu mendukung kami. Gelembung awan dan birunya langit bermain cantik di banyak kamera. Sedikit, Gunung Slamet mengintip lalu menutup diri lagi dengan balutan awan. Sampai 25 peserta berhasil menggapai puncak (3.079 mdpl) pada pukul 10 siang. Bangga, berfoto, bergaya. Kami membuat semacam pesta kecil dengan Nata de coco sebagai hidangan utama (dan satu-satunya).

Puncak. Dok: Iqbal

Pukul 11 kami beranjak turun kembali ke tenda (setelah Bapa Tere dari puncak). Beberapa orang berlari atau setengah berlari sehingga bisa sampai pukul 12.30, jadi cuma 1,5 jam! Saya dan beberapa yang lain sampai tenda pukul 3 siang, sedangkan rombongan terakhir sampai pukul 5 sore. Semua mengeluh kehausan sepanjang jalan turun tadi. Saking kehausannya, kami minta-minta air ke tiap orang yang lewat. Ada yang tidak punya stok tapi banyak juga yang memberi. Ada yang memberi beberapa teguk, ada juga yang sampai satu botol. Bahkan, ada yang tanpa diminta langsung menawari, apa butuh air? Kami mengangguk. Satu botol berpindah tangan. Baik sekali orang-orang itu. Mudah-mudahan Tuhan membalasnya dengan yang lebih baik.

Tidak terasa, sepanjang hari ini kami baru makan 3 sendok mi dan beberapa camilan saja. Setibanya di tenda, makanan sudah tersaji, tentu ini buah karya Abas, yang memilih tidak muncak untuk menyajikan makanan senikmat ini. Walau dibatasi, baik makanan maupun minuman, tapi kami tetap makan dengan lahap.

Banyak cerita seru dan lucu yang kami bagi sambil membereskan tenda. Setelah rampung, pukul 6 Maghrib kami sudah melingkar lagi, satu lingkaran besar, semua posisi berdiri. Andi sebagai pimpinan rombongan mengajak kami semua berterima kasih pada banyak pihak yang berkorban lebih pada pendakian kali ini. Tentu kami memberikan tepuk tangan semeriah yang bisa kami beri.

Palu sudah diketuk, kita jalan malam. Mungkin karena pertimbangan ingin sampai Jakarta sebelum Senin. Maka malam minggu ini kami habiskan dengan menuruni Ceremai. Memang, turun lebih mudah daripada naik. Ditambah lagi beban air yang sudah hampir hilang membuat gerakan lebih gesit. Tapi kaki saya sepertinya mulai sulit diajak kompromi. Langkah sulit diatur. Saya mulai sering terpeleset, kadang terjerembab. Tapi katanya keluhan yang tertutur membuat kondisi kita sendiri dan tim makin buruk, teori gunung es otak bawah sadar, jadi sebisa mungkin saya tahan.

Baru lewat dua pos tapi kaki semakin lunglai. Saya prediksi sudah banyak jaringan otot, terutama paha, yang robek. Nihilnya air membuat penderitaan semakin pekat sekaligus menjadi cambuk untuk terus melangkah ke Pos I (Cibunar). Alhamdulillah rombongan kami, rombongan pertama yang berjumlah 12 orang, tidak ada yang mengeluh. Saya tahu mereka kurang lebih sekusut saya kondisi fisiknya, tapi keluhan tetap dipendam. Itu yang membuat kami tetap maju walau sedikit-sedikit. Pukul 10 malam kami sampai di Pos 2 Condang Amis.

Di situ saya langsung terlelap dengan tetap menggunakan carrier. Rupanya sepanjang saya tidur, beberapa orang memasakkan minuman ringan dan bubur untuk yang lain. Saya berterima kasih atas Energen dan Super Buburnya. Terima kasih betul-betul karena bubur itu menjadi enak sekali dan menghapus lapar. Setelah istirahat dan makan minum, saya seperti punya tenaga baru.

Pukul 10.30 malam kami hendak menuju Cibunar, pos impian. Kemarin, ketika naik, Cibunar-Condang Amis ditempuh satu jam. Logikanya, penurunan kali ini akan kurang dari 1 jam. Tapi tidak demikian aturan main malam itu. Kami baru sampai Cibunar Ahad 00.30, atau 2 jam perjalanan! Saya pun tak tahu pasti kenapa. Tapi kecurigaan-kecurigaan banyak bermain di kepala. Mungkin kami diputar-putar, atau terputar-putar. Mungkin karena kami yang sudah kelelahan. Tapi untuk yang kedua agak sulit saya terima karena kami berjalan cukup cepat dan jarang berhenti.

Sempat, kami bingung di satu titik, lurus atau belok kanan menurun. Ada yang yakin lurus ada yang yakin kanan. Akbar yang yakin lurus langsung maju, “Sudah, saya di depan.” Sempat jalan beberapa meter lalu Akbar kembali dengan langkah yang lebih cepat, “Bukan..bukan..bukan.. ini salah, jangan lewat sini.” Kami tanya, “Ada apa Bar?” Dia jawab, “Nanti ceritanya di bawah.” Kemudian baru saya tahu bahwa ia mencium melati dan melihat kuburan.

Jalan kanan turun menjadi logis bagi semuanya. Kami susuri terus. Walau jalan sudah tidak terlalu menurun, tapi terkadang jalan tertutup rumput yang melayang-layang di atas kaki kita sehingga agak sulit menentukan jejak berikutnya. Walau banyak hal aneh antara Condang Amis-Cibunar, tapi Alhamdulillah kami sampai juga pukul 00.30 hari Minggu.

Serotonin seperti berproduksi lipat ganda. Bahagia meluap luar biasa ditambah tawa haru. Saya bersukur pendakian pertama saya kali ini bersama orang-orang yang tepat, bukan pecinta alam yang suka merusak alam, bukan pengeluh, dan bukan amatir. Hahhhh…..

Salah satu kaos Tim Sergap. Dok: Iqbal

Untungnya, sebuah warung buka sampai pagi. Ibu penjaganya juga ramah dan melayani dengan sangat baik seperti tamunya sendiri. Teh manis dan mi rebus langsung kami pesan. Kami bahkan dipersilakan tidur di dalam. tapi kami memilih tidur di luar dengan matras dan sleeping bag. Tidak henti-henti cerita lucu mengalir, tapi beberapa seakan tak perduli dan tetap terpejam.

Pukul 5 subuh, rombongan kedua datang dengan kabar buruk: Ambar terkilir sehingga 6 orang di rombongan terakhir harus pasang tenda lagi di Pos 3 Kuburan Kuda. Tidak ada yang punya tenaga lagi untuk naik sekedar memberikan air atau makanan. Apa boleh buat, kami cuma bisa menunggu mereka yang baru sampai Cibunar pukul 11 siang. Ambar terlihat sehat, tapi beberapa kali dia sempat muntah.

Kami mengejar bus segera. Dari Cibunar jalan sampai Linggarjati lalu pakai jasa angkot ke jalan raya (Rp2 ribu). Sekitar pukul 3 siang kami sudah di bus berbiaya Rp40 ribu (non-AC). Belum lama bergerak, bus sempat mogok dan sempat ada acara dorong bus. MENDORONG SEBUAH BUS! Tapi saya tidak ikut menikmatinya karena mendorong diri sendiri saja kian sulit. Jaringan otot paha semakin banyak yang robek.

Sukur tidak lama kemudian mesin hidup kembali meluncur ke Jakarta. Bus sampai Jakarta pukul 10 malam, lalu berhenti di banyak terminal. Sedikit demi sedikit kami berpisah. Andi, Aank, Bayu, Saya, Ika, dan Putri adalah yang turun di terminal terakhir, Pasar Minggu. Sembari makan, cerita-cerita tersembunyi beredar…. dan selamat malam…=)

09
Mar
10

Ciregal

Cirebon dan Tegal memang bukan menjadi tempat tujuan utama backpacker. Namun keterbatasan dana menjadi tantangan tersendiri yang membuat trip biasa jadi lebih seru. Hanya dengan 186 ribu saja sudah cukup mengarungi 3 Keraton di Cirebon, Pantai Alam Indah dan Guci di Tegal, serta menjelajahi kehidupan dua kota tersebut selama 3 hari.

Arum Tegal. Satu varian kereta ekonomi yang baru pertama kunaiki. Beranjak dari Pasar Senen (Jakarta) pukul 15:19, menuju Tegal di akhir Desember 2009. Empat belas ribu rupiah. Aku pesan turun di Cirebon Prujakan, lebih murah seribu menjadi 13 ribu. Pecahan dua puluh ribuanku ditukar dengan sebuah tiket, sebuah kupon PMI, dan uang 6 ribu. Petugas memperkosa seribuku tanpa izin, disumbangkan ke PMI. Setelah berlalu, Aku baru sadar kupon PMI hanya senilai lima ratus. Berarti lima ratus lagi raib. Diperkosa dua kali.

Ada beberapa cara menuju Cirebon. Pertama dengan bus, setahuku ada yang dari Pulogadung. Ongkosnya sekitar 30an ribu (tergantung kelas), perjalanan selama empat jam. Kedua, menggunakan kereta Cirebon Ekspres (Eksekutif dan Bisnis) bisa sampai dengan tiga jam saja, tapi biayanya 80 ribu! Itupun baru kelas bisnis. Tentu Aku lebih memilih Arum Tegal, walau mungkin lebih tidak nyaman tapi jauh lebih murah. Itulah enaknya sering berkunjung ke website KAI dan punya banyak teman di banyak daerah, jadi bisa mendapat banyak pilihan.

Tepat empat jam Aku sampai Cirebon. Aldi, kawanku, sudah siap dengan motornya di depan stasiun. Sebelumnya memang Aku minta tolong untuk dijemput, selain karena sudah malam dan tidak hapal daerah Cirebon, juga untuk pengiritan, hihi.

Menginap di rumah Aldi juga termasuk pengiritan, apalagi makan malam dan makan pagi keesokan harinya pun disediakan oleh keluarganya. Bahkan Aku diantar dari rumahnya ke keraton yang akan kukunjungi. Merasa tidak enak, kuisikan bensin motornya, sepuluh ribu rupiah.

Ada tiga keraton di kotamadya Cirebon, yaitu Kacirebonan, Kasepuhan, dan Kanoman. Letak ketiganya saling berdekatan, hanya berselang sekitar 1 km.

Kacirebonan yang kukunjungi pertama. Sepi sekali. Aku adalah pengunjung satu-satunya. Seorang Ibu tua sedikit kata menghampiriku dan mengajak masuk ke dalam ruangan gelap berdebu dengan foto raja nyengir. Kalau tidak ada plang Keraton, tempat itu lebih mirip rumah hantu. Perabot-perabot tua sudah duduk manis di teras dan di dinding. Ibu tua tersebut bisa dibilang kuncen keraton. Dia membuka setiap ruangan yang ingin kulihat.

Banyak kursi antik terlihat, seakan rapuh menyangga dirinya sendiri. Dalam satu lemari kaca, ada kumpulan uang rupiah zaman dulu yang masih menggunakan satuan sen, baik kertas maupun logam. Salah satu ruangan memuat perabot musik. Namun yang kukenal cuma gamelan, selebihnya masih alat musik pukul tapi entah namanya. Di belakang bangunan keraton, rupanya ada aktivitas latihan alat musik tradisional. Mudi-mudi inilah yang akan meneruskan budaya musik lokal.

Mudi-mudi berlatih gamelan di belakang Kacirebonan. Dok: Iqbal

Menjelang pulang, Aku diminta mengisi buku tamu. Ibu tua tadi memberikan selembar kertas tentang sejarah Keraton Kacirebonan. Kutanya, “Untukku?” Dia mengangguk. Aku selipkan 6 ribu rupiah di buku tersebut. Sepertinya Ibu itu cukup senang menerimanya.

Tidak seperti Kacirebonan, Keraton Kasepuhan punya tarif khusus. Tiga ribu rupiah untuk manusia dan dua ribu rupiah untuk kamera. Tempatnya cukup ramai, rapi, dan luas. Wajar kalau tarif ditetapkan.

Beruntung, waktu itu Aku datang ketika keris-keris koleksi keraton sedang dibersihkan. Ada kemenyan berasap dan potongan-potongan jeruk nipis yang bertaburan di sekeliling mereka yang sedang membersihkan. Ada satu keris yang pada pangkal bawahnya ada juntaian rambut. Aku tanya, “Itu apa mas?” Dijawab, “Dulu, orang yang sudah dibunuh dengan keris ini rambutnya dipotong sebagian untuk ditempel di pangkal keris.” Kok terdengar sarkastik ya?

Keris berbulu korban. Dok: Iqbal

Rehat sejenak, Aku menuju ke tempat rekomendasi kawanku, kumpulan kios untuk “moci”. Moci adalah budaya minum teh dari Tegal. Teh yang digunakan jenis tubruk. Dimasukkan dalam poci dari tanah liat. Tahukah kawan, poci yang digunakan tidak pernah dicuci! Sambil meracik, penjual teh poci itu berkomentar “Makin berkerak hitam makin nikmat mas.” Memang betul, bagian dalam poci itu kelam stadium empat!

Gula yang digunakan adalah gula batu. Baru kali ini Aku melihat ada jenis gula ini. Bentuknya seperti bongkahan kristal sebesar telur puyuh, memenuhi gelas yang juga dari tanah liat. Gelas itu tak lebih besar dari gelas belimbing. Kalau kebiasaannya begini, hati-hati diabetes kawan.

Satu poci berharga lima ribu rupiah. Cukup menyenangkan rehat sambil moci. Aromanya, rasanya, menenangkan sekali. Orang Tegal akrab dengan teh Wasgitel: wangi, sedap, legi, kentel.

Lanjut ke Keraton Kanoman. Letaknya di tengah-tengah pasar Kanoman. Bayangkan keraton di tengah-tengah pasar! Betul, sangat tidak nyaman. Tempatnya juga kotor, kurang terawat. Koleksinya tidak terlalu banyak. Tidak ada alasan kuat untuk berlama-lama di dalamnya.

perlengkapan moci. Dok: Iqbal

Sudah sore, dalam itinerary-ku, malam ini sudah harus sampai Tegal. Segera bergegas membeli  2 kg jeruk untuk oleh-oleh Aldi dan keluarga, lalu beranjak menuju terminal Cirebon.

Pengamen di terminal Cirebon menyebalkan. Selama bus ngetem sekitar setengah jam, ada sekitar 10 pengamen. Naik turun tanpa jeda. Minta dengan memaksa. Dia colek-colek. Calo bus pun tak jelas, tarif berbeda tiap penumpang. Tadinya Aku ditembak dua puluh ribu untuk sampai Tegal. Kutawar, akhirnya sampai di angka sebelas ribu.

Perjalanan bus tidak sampai dua jam. Sebelumnya, Aku sudah janjian dengan kawanku untuk dijemput di halte depan  Mal Pacific, mal paling besar di Tegal. Aku diajak tidur di masjid. Tapi sebelum tidur, Aku mampir di warung terdekat untuk makan nasi Lengko, makanan khas Tegal. Semacam pecel, tapi unsur sayurannya lebih sedikit. Cuma ada tahu, tempe, dan tauge yang dibaluri bumbu kacang. Ditemani minuman jeruk hangat Aku cukup membayar tujuh ribu.

Sebelum matahari bersinar gagah keesokan harinya, Aku sudah keluar menuju pasar pagi untuk hunting teh tubruk tradisional. Merk-merk Poci, Tong Tji, Guji, Gopek, Pecco, 2 Tang dapat dengan mudah ditemukan. Kalau di Jakarta sulit sekali mencarinya. Sekali lagi dengan bendera pengiritan, Aku memilih jalan kaki. Walau berjarak 2 km menuju pasar ini, tak apalah. Kalau naik becak akan kena sekitar 10 ribu. Sayang. Hehe.

Menuju Pantai Alam Indah (PAI) Aku juga berjalan kaki, sekitar 2 km lagi dari pasar pagi. PAI adalah pantai yang paling bagus di Tegal. Tapi biasa-biasa saja menurutku. Cuma ada satu yang spesial, yaitu restoran di tengah pantai, di atas kapal besar. Tapi sekarang, pukul delapan pagi, belum buka.

Menuju kapal tersebut, ada jalan khusus yang terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 100 meter menuju laut. Di ujung jalan ini angin cukup kencang. Lampu-lampu antik dipajang di pinggir jalan tersebut, berderet rapi. Sepertinya indah kalau malam.

Satu tempat yang katanya jadi objek wisata andalan di Tegal: Guci. Merupakan nama satu wilayah 40 km di selatan Tegal, tetangganya gunung Slamet. Menuju ke Guci, pertama dengan bus kecil tujuan Bumiayu turun di Yomani. Busnya aneh, hanya enam belas tempat duduk. Sebagai perbandingan, Metro Mini punya lebih dari dua puluh tempat duduk. Tarifnya lima ribu rupiah dengan lama perjalanan satu jam.

Dari Yomani, lanjut dengan bus macam itu lagi, menuju Tuwel. Perjalanan setengah sampai satu jam. Jalannya menanjak, menyenangkan sekali. Jalannya sudah aspal mulus, dua jalur. Kanan kiri jalan selalu menghidangkan pepohonan dan gunung. Sesekali saja bata dan beton.

Di Tegal, jarang yang menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Tegal adalah bahasa Jawa blekok-blekok, istilahku. Banyak terdengar huruf “k” yang di-qolqolah-kan dan banyak apostrof. Setiap kalimat bagiku selalu terdengar menggantung, seperti belum habis terucap.

Di perut bus, kondektur bicara padaku setelah kuberi lima ribu, “bla bla…blekok-blekok….bla bla…PITUNGEWU MAS… blekok-blekok…” Cuma dua kata yang kutangkap, PITUNGEWU MAS. Untungnya ini terdengar seperti inti kalimatnya. Aku ingat wong pitu. Tujuh. Mungkin tujuh ribu. Kujawab, ”Limangewuooo.” Agak ragu, apa lima dalam bahasa Jawa lima juga ya? Di akhir kalimat, Aku panjangkan dengan lambaian “ooo”. Demikian yang sering kudengar dari Falakh, kawan kuliahku yang dari Tegal. Kuikuti saja.

Tuwel adalah titik terakhir sebelum menggapai Guci. Satu-satunya transportasi umum yang bisa dipakai adalah pick up. Warga Guci dan sekitarnya mengandalkan pertanian sebagai motor ekonominya. Pick up mereka gunakan untuk mengangkut hasil pertaniannya. Jangan heran kalau tiap lima menit ada pick up yang lewat sehingga dijadikan alat transportasi umum, walaupun plat hitam.

Ongkos pick up Tuwel-Guci sebesar sepuluh ribu. Tak perlu bayar tiket masuk Guci lagi. Jaraknya sekitar 6 kilo. Kacang tanah, wortel, dan kol melambai sepanjang perjalanan. Gunung Slamet mengintip lewat kabut tebal di sebelah kiri. Gunung Traju di sebelah kanan. Aku babak belur diberikan pemandangan hijau menenangkan.

Sayang tidak kutawar lebih jauh. Geram sekali mendengar informasi warga bahwa tarif pick up itu standarnya 3 ribu saja. Terakhir Aku baru tahu, masalah tawar-menawar, dengan orang Tegal, jangan tanggung-tanggung. Jangan percaya orang yang baru dikenal, coba konfirmasikan dengan orang lain.

Sampai di Guci, ramai sekali. Kebetulan memang sedang libur natal. Aku cuma merendam kaki setengah betis, rileks, layaknya diurut. Sensasi kontrakafein terpapar ke seluruh tubuh meresap sampai ke jaringan saraf. Air yang lewat tidak satu suhu. Kadang dingin, kadang hangat, tapi  tidak pernah panas.

Guci. Dok: Iqbal

Merasa tidak puas hanya merendam betis, Aku menuju bukit, hanya jalan setapak kecil yang tersedia. Menanjak sekitar 300 meter dari pemandian air panas yang jenuh manusia itu. Lebih nikmat menikmati Guci dari atas sini. Tanam-tanaman warga berderet rapi. Syahdu luar biasa.

Kembali ke Tegal. Malamnya Aku berjalan menuju alun-alun. Di manapun itu, yang namanya alun-alun selalu ramai lancar. Seluruh iklan di sekelilingnya adalah iklan teh. Bahkan ada yang namanya Taman Poci. Sebegitu cintanya masyarakat Tegal dengan teh.

Jangan pernah lewatkan moci di malam hari. Di jalan Ahmad Yani, setiap malam berjamuran lapak kaki lima. Sekitar 30% nya punya fasilitas moci. Di Tegal, teh jauh lebih favorit daripada kopi. Gula batunya betul-betul eksotis. Teh yang dimasukkan ke dalam gelas makin lama makin manis seiring larutnya gula. Mungkin mirip perjuangan hidup, pahit di awal, (semoga) manis di akhir…=)

Pengeluaran:

Arum Tegal (Senen-Prujakan)                           14.000

Bensin                                                                         10.000

Sumbangan di Kacirebonan                                  6.000

Tarif 1 orang+ 1 kamera                                          5.000

Jeruk 2 kg                                                                   20.000

Angkot (Kanoman-rumah Aldi)                           3.000

Angkot (rumah Aldi-terminal Cirebon)             2.000

Bus Cirebon-Tegal                                                  11.000

Ongkos mal Pacific-Guci PP                                 35.000

Makan 5x                                                                   35.000

Moci 4x                                                                       20.000

Becak (masjid-stasiun)                                         10.000

Arum Tegal (Tegal-Senen)                                  15.000

TOTAL                                                                        186.000

28
Jan
10

Kasodo untuk Bromo

Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upacara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Tengger

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah dorongan yang paling kuat dalam penyusunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan sembarang kalender. Bukan berdasarkan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentukan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, penduduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun berikutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentukan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebelumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Tengger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger.

Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Legenda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu menegaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sama dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten menjadi salah satu mata rantai upacara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melemparkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Tengger dengan Hindu Bali punya budaya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger sehingga budaya mampir ke Poten terlebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rangkaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sumber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Kecamatan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Persiapan Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Ada yang mengatakan, membersihkan Pura Poten juga merupakan rantai wajib dalam upacara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 sedangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa bergumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bukan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mirip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir adalah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa punya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan menggantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang dinobatkan sebagai acara puncak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan mengumpulkan hasil bumi yang hendak dipersembahkan di penghujung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam rantai kegiatan upacara Kasodo.

Upacara Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang dilakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan untuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kambing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikorbankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi tersebut setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Tengger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendapatkannya. Kadang terlihat menegangkan ketika mereka menjatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap perlindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi sekitar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengambilan air dan sebagainya. Titik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar empat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara puncaknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasanah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

(salah satu tulisan di Ezine Backpackin’ edisi pertama, klik di sini untuk masuk blognya lalu bisa download Ezinenya )




September 2014
S S R K J S M
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.