Arsip untuk Kategori 'jalan-jalan'

05
Jul
09

Eksotisme Wisata Air Banjar

Sunset Pantai Takisung

Sunset Pantai Takisung

Maka dengan sedikit menyesal, kuputuskan membeli sebotol Aqua 600 ml di luar bandara. Sejak ada logo Danone di kemasannya, aku selalu memilih merk lain agar seluruh uang yang kukeluarkan tidak keluar Indonesia. Sayangnya kios kecil tadi tidak menjual air mineral lain.

Perjalananku sejak dua hari lalu cukup padat, pantas saja kalau kerongkongan ini minta dibasuh. Sesampainya di bandara Syamsudin Noor dua hari yang lalu, kupikir sudah sampai di kota Banjarmasin, ternyata baru sampai Banjar Baru. Bandara itu letaknya pada pal 25, sedangkan kota Banjarmasin ada pada pal 10 ke bawah. Orang Banjar biasa menyebut pal untuk kata ganti kilometer. Kata “pal” jauh lebih akrab buat mereka. Bahkan terminal terbesar yang ada di kota Banjarmasin dilabeli nama “Pal 6” karena letaknya di kilometer keenam dari mesjid raya Banjarmasin yang dinobatkan sebagai titik kilometer nol, eh salah, pal nol.

Menuju Pal 6, banyak taksi yang bisa dicegat di luar bandara. Taksi di Banjar bukan dari golongan Limo atau sedan lainnya seperti di Jakarta, tapi mobil colt besar yang rela diisi sampai 14 manusia. Taksi adalah sebutan masyarakat lokal untuk angkutan umum. Tarifnya, ya seperti tarif angkutan umum. Alternatif lainnya menggunakan ojeg, tarifnya minimal Rp15 ribu, tergantung skill menawar.

Adzan Magrib bergema tepat setelah aku sampai Pal 6. Segera kukabari Anas posisiku. Sambil menunggu, aku bereskan urusan lambung dulu di tempat yang direkomendasikan seorang supir taksi. Tidak lama kemudian, Anas datang. Tubuhnya tidak segempal yang aku bayangkan. Anas adalah penduduk lokal Banjar yang baru kukenal seminggu yang lalu lewat milis IndoBackpacker. Setelah intensif berkomunikasi via udara, akhirnya bisa bertemu langsung juga.

Perbincangan langsung mengalir deras. Ia bercerita tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Menarik sekali, tapi sayang waktuku tidak lama. Loksado adalah wisata alam nomor wahid di Kalimantan Selatan, di sana ada air terjun, pegunungan, dan masih banyak suku Dayak asli. Mungkin jalan-jalan berikutnya.

Setelah membayar Rp11 ribu untuk segelas air jeruk hangat, segelas teh manis, dan sepiring kuetiau, kami langsung menuju hotel rekomendasi Anas, Niagara namanya. Saya masih bingung navigasi Banjarmasin, tapi yang jelas hotel Niagara masih di dalam kota, di pinggir jalan besar (telp 0511-3356355). Aku pilih kamar non AC untuk dua orang, harganya Rp60 ribu. Kalau untuk satu orang, harganya Rp35 ribu. Kamar yang termahal seharga Rp80 ribu untuk dua orang dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam.

Kondisi kamar hotel Niagara

Kondisi kamar hotel Niagara

Melepas lelah sejenak, langsung atur strategi perjalanan. “Malam ini kita ke Kuin,” kata Anas. Beruntung, Anas punya Vega R merah, jadi hanya perlu mengisi bensin Rp10 ribu saja untuk perjalanan seharian. Sangat membuat hemat.

Kuin adalah tempat terjadinya pasar terapung setiap pagi. Ini adalah lokasi shooting RCTI untuk jeda antarprogram yang dulu sering kali diputar. Kata Anas, sejak subuh sampai sekitar jam 9 pasar terapung itu bergeliat. “Sekarang sudah jam 9 malam, jangan harap bisa melihat pasar terapung,” katanya. Di malam hari, sungai Barito masih tetap cantik. Terlihat kapal besar di tengah sungai besar itu. Kapal itu tidak bergerak. Kata Sujito, polisi patroli yang markasnya sedang bertengger di dekat pelabuhan Kuin, itu adalah kapal yang terjerat kasus penyelundupan minyak. Karena masih sengketa, maka kapal tidak boleh beranjak.

Markas polisi patroli yang saya lihat itu nyatanya bisa bergerak. Di bawah markas itu ada kumpulan drum besar yang menyangga markas. Mesin diletakkan di belakang markas. Kalau sedang banyak kasus di seberang sungai, tinggal tancap gas, maka markas pun pindah ke seberang.

Sudah puas menghirup udara sungai, kami kembali ke hotel. Oiya, sebelumnya mampir di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Siapakah dia? Aku juga tak paham. Tapi dilihat dari megahnya pemakaman itu, Sultan ini pasti dulu pernah menjadi orang hebat. Sekelompak orang sedang berkumpul di dekat makam. Mereka tertawa, bersenda gurau persis di samping makam. Sepertinya tempat ini sudah dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk membahas sesuatu. Suasana mistis raib bersama gelak tawa mereka.

makam sultan tampak muka

makam sultan tampak muka

Vega R merah kembali ditancap, balik menuju Hotel Niagara. Suasana hotel sepi. Sepertinya sedikit yang menginap malam ini. Ah, sudahlah. Kami harus tidur cepat supaya besok bisa bangun cepat.

Pukul 5.30 pagi kami sudah siap berangkat. Tujuannya Pasar Terapung Lok Baintan di sungai Martapura, 30 menit dengan sepeda motor. Lok Baintan adalah pasar terapung yang paling alami. Di dunia, ada 3 buah pasar terapung. Satu di Thailand, bentukan pemerintahnya untuk menggaet wisatawan. Dua lagi di Kalimantan Selatan ini, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Kuin dekat dengan kawasan industri sehingga aura alaminya sedikit luruh.

IMG_7312

Barang dagangan di pasar terapung hampir sama persis dengan pasar darat. Hanya daging sapi yang tidak terlihat dijajakan di sini. Kebanyakan dari pedagang menjual hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Sebagian lagi menjual ikan, sembako, makanan kecil, dan pakaian. Pemandangan jukung (sejenis sampan kecil) yang dipenuhi dengan tumpukan jeruk membuatku sumringah. Indah! Indah sekali. Pemandangan yang tidak pernah kudapat di Jakarta.

Sungai sudah menjadi jalan hidup masyarakat sekitar Lok Baintan. Mereka memiliki Jukung seperti masyarakat desa di Jawa memiliki sepeda atau sepeda motor bagi masyarakat kota. Jukung menjadi alat transportasi utama.

Puncak aktivitas pasar itu sekitar pukul 8 pagi. Ada sekitar 100 jukung yang ikut andil. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa berlipat. Sungai Martapura menjadi mati kembali setelah pukul 10.

Tidak terasa, kami belum sarapan. Soto Banjar harus kunikmati pagi ini. “Beres, kita ke Soto Banjar Bang Amat,” kata Anas. Soto Banjar Bang Amat bisa dibilang yang paling dicari untuk menikmati soto banjar. Letaknya di pinggir sungai Barito. Harga soto yang biasa Rp12 ribu dan yang spesial Rp19 ribu. Banyak pejabat dan artis yang sudah mampir ke tempat ini, mereka pasti mencari pemandangan.

Soto Banjar Bang Amat

Soto Banjar Bang Amat

Pukul 9 pagi. Anas mengantarku kembali ke hotel sedangkan dia sendiri harus bekerja, maka kami berpisah. “Thanks Nas, kalau kita gak ketemu, gak akan selancar ini,” kataku. Anas berlalu. Aku berkemas kemudian melanjutkan perjalananku ke Pantai Batakan. Beberapa menit kutunggu taksi ke Batakan dari Pal 6, tapi tak ada tanda-tanda. Saran dari Anas lewat SMS, naik ke Plaihari saja dulu, baru di sana lanjut ke Batakan.

Kuturuti. Dua jam perjalanan menuju Plaihari. Banjarmasin-Plaihari berjarak 65 km. Ongkosnya Rp13 ribu. Berita buruknya, taksi menuju Batakan baru ada pukul 4 sore, padahal jarum pendek di terminal baru menunjuk ke arah angka 12. Tidak hilang akal, kulihat lagi brosur Pariwisata Kabupaten Tanah Laut (Kabupatennya kota Plaihari) yang kudapat dari pameran wisata Gebyar Nusantara. Ada alternatif Pantai Takisung. Gambar di brosur cukup meyakinkan. Pantainya bersih, pohon kelapa berjejer rapi. Keterangannya, pantai ini cocok untuk menikmati sun set.

Sepuluh detik kemudian, kuputuskan mengubah haluan ke Takisung. Pendapat tukang ojeg sekitar bahwa Batakan lebih jauh (40 km dari Plaihari) dan rawan tindak kriminal membuatku semakin kokoh menuju Takisung.

Taksi menuju Takisung juga baru ada sekitar pukul 4 sore, jadi kuputuskan untuk naik ojeg. Plaihari-Takisung berjarak 22 km, ongkos ojegnya Rp25 ribu. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Di sebelah kiri jalan tampak jelas pegunungan Meratus.

Pantai Takisung cukup ramai, ada ratusan orang yang sedang berekreasi siang itu. Ada yang duduk-duduk di tenda sewaan (Rp40 ribu untuk seharian) ada yang bermain-main air di pinggir pantai, ada yang menyewa kapal untuk berkunjung ke pulau Bejanggut. Harga sewanya Rp50 ribu, bisa dihinggapi sampai 20 orang. Pasir pantainya abu-abu. Pantainya tidak sejernih yang kubayangkan.

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Awalnya aku mau menyewa satu penginapan milik Dinas Pariwisata. Agak berat hati mengiyakannya karena biayanya Rp150 ribu per malam dengan fasilitas seadanya, hanya kasur ukuran besar dan kamar mandi dalam, tanpa AC dan tanpa TV.

Namun, menurut nelayan sekitar, penginapan itu ada penunggunya. Hiiii. Dengan cepat kubatalkan kontrak. Jadi menginap di mana malam ini? Ada penduduk sekitar yang menawarkan menginap di rumahnya. Seorang penduduk lagi menawarkan tendanya dan dirinya untuk menemaniku bermalam di pinggir pantai. Aku pilih tenda.

Tenda di sini bukan tenda dome seperti yang biasa dibawa pendaki, tapi hanya terpal berukuran 2×3 yang disanggah oleh beberapa batang kayu kuat. Jadi, sambil tiduran, pantai masih jelas terlihat di depan dan samping.

Barang kutitipkan di rumah si pemilik tenda. Aman! Aku harus yakinkan diriku bahwa bawaanku akan aman. Ternyata memang aman. Aku bahkan sempat berkenalan dengan seluruh isi rumah si pemilik tenda.

Ketika sedang menikmati pantai, tiba-tiba seorang anak memamerkan hasil tangkapan ubur-uburnya di depan wajahku. Hidup! Ubur-ubur itu masih hidup! Segera kuperintahkan memasukkannya ke dalam plastik berisi air. Tidak besar, ukurannya hanya sebesar satu ruas jempol kaki. Setelah diamat-amati, di pinggiran pantai banyak ubur-ubur kecil yang terlihat jelas. Anehnya, anak-anak itu tidak merasa gatal sedikitpun setelah memegang dan menyiksa ubur-ubur itu. Menyiksa dalam arti yang sebenarnya. Salah satu dari mereka memotong ubur-ubur itu hidup-hidup, lalu membuangnya lagi ke pantai. Ternyata benar apa yang digambarkan dalam film Jermal tentang kerasnya kehidupan laut.

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

Matahari semakin condong ke barat. Tidak salah kalau brosur Dinas Pariwisata mengatakan bahwa pantai Takisung tepat untuk menikmati sun set. Tidak ada awan sedikitpun. Aku bisa melihat matahari seakan bersentuhan dengan laut. Pantulan cahayanya seperti intan yang bertaburan di permukaan laut, kemilau.

Sunset Takisung

Sunset Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

Adzan Subuh membangunkanku. Sudah pagi. Selimut tebal dari pemilik tenda membuatku tidur lelap sekali. Setelah api unggun mini redup tadi malam, aku langsung tidur, tak terasa 7 jam sudah. Segar sekali rasanya. Untuk biaya sewa tenda dan selimut tebal serta bonus api unggun, aku dimintai Rp50 ribu.

Taksi Takisung menuju Banjar biasanya berangkat pukul 7. Hanya itulah jam keberangkatannya. Kalau ketinggalan, silakan naik ojeg yang itu berarti mahal! Taksi Takisung Banjar bertarif Rp20 ribu dengan lama perjalanan 2,5 jam.

Dari Pal 6, aku sewa ojeg menuju Kuin kembali untuk mendapatkan gambar, kemudian lanjut ke bandara untuk penerbangan pukul 2 siang. Biaya sewa ojegnya Rp45 ribu. Andai aku punya waktu, pasti bukan ojeg pilihanku.

Akhirnya, aku terduduk di ruang tunggu pesawat. Lion-ku belum nampak, padahal sudah pukul 2 lebih. Kutenggak kembali aqua 600 ml yang kubeli di luar tadi. Ah, segar….

25
Mei
09

Dokter Alam di Simpang Mentjos

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

06
Mei
09

Backpacker Indonesia Copot Semua Identitas

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca satu buku yang sangat inspiratif, judulnya 5 cm. Setelah menutup halaman terakhir buku itu, adrenalin saya seakan meningkat. Tiba-tiba ada energy yang besar, siap untuk melakukan dua hal. Pertama, mencintai bangsa ini sebesar-besarnya. Kedua, menjelajahi Indonesia seluas-luasnya.

Untuk hal menjelajahi Indonesia, terkadang banyak kendala yang menghadang. Ketika ada keinginan dan teman jalan, uangnya tidak ada. Ketika ada uang dan teman jalan, waktunya tidak ada. Atau yang paling sering, ketika ada keinginan, waktu, dan uang, sayangnya tidak ada teman jalannya. Sehingga mau tidak mau perjalanan ditunda karena kalaupun dipaksa jalan sendirian, bisa jadi akan berisiko tinggi (mis: naik gunung), kurang seru, atau akan banyak menghabiskan uang akibat trip tidak efisien.

Kabar baiknya, keluh kesah itu sudah dapat dinetralisir dengan adanya komunitas Backpacker Indonesia (BI). Saya masuk komunitas ini sejak Februari 2009 kemarin. Saya ikuti aktivitasnya di facebook. Ramai diperbincangkan cerita-cerita trip, bagaimana membuat sebuah trip yang hebat sekaligus murah, dan tips dan trik dalam melakukan trip.

Padat sekali aktivitas yang ada di grup ini. Topic di Discussion Board(DB)-nya pun sangat aktif. Ternyata ada semacam semi-kepengurusan yang sudah dibentuk dalam komunitas ini. Awal komunitas ini terbentuk adalah dari seorang mahasiswi Bandung bernama Ilma Dityanngrum. Ia membuat satu trip perdana awal 2009 kemarin ke Pulau Sempu, Bromo, Pananjakan, dsk. Semua persiapan tetek bengek dibahas di DB. Komplit! Mulai dari jadwal trip, rincian prediksi biaya yang akan dikeluarkan, sampai barang-barang apa yang harus dibawa.

Sebagian besar yang aktif di DB ini belum pernah kenal sebelumnya. Sama sekali belum pernah bertatap muka. Semua komunikasi bermula dari DB dan tidak ada komunikasi langsung. Ketika pendaftaran trip ditutup, mereka yang ikut mulai berkomunikasi via HP masing-masing. Mereka berkumpul di tempat yang sudah disepakati (trip pertama kumpul di Malang). Anggota yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya berkumpul di Malang. Mereka berkenalan lalu menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari. Setelah selesai, mereka membuat semacam kepengurusan kecil. Ilma sebagai inisiator awal diberi jabatan Bu Lurah. Kemudian setiap cabang daerah punya ketua RW nya masing-masing (ada RW Jakarta, RW Bandung, dsb). Dari situlah, grup ini mulai melakukan pergerakan yang lebih besar.

Beberapa trip lagi dibuka kemudian. Ada trip yang dibuka untuk menjelajahi 5 negara hanya dengan 5 juta rupiah. Yang membuat saya tertarik adalah trip ke Kepulauan Seribu. Adhit yang membuka trip ini. Ia dengan lugas memberitahukan tujuan-tujuannya, kemudian rincian costnya (mulai dari ongkos perahu sampai sewa penginapan), dan juga detail waktunya per jam. Untuk yang berminat, bisa kirim uang Rp 50 ribu untuk DP sewa penginapan, sewa kapal, dsb.

Pagi itu, pukul 7 pagi di pom bensin Muara Angke, sekitar 30 orang sudah berkumpul dan siap berangkat. Sesuai jadwal yang diberikan Adhit, kapal berangkat pukul 7 pagi. Kapalnya sangat sederhana, lebih mirip kapal ikan (ya iyalah, kalo kapal pesiar bukan backpacker namanya), tapi tidak ada yang mempermasalahkannya, perjalanan tetap seru.

Singkat cerita, kami diajak snorkeling di beberapa tempat, jalan-jalan ke beberapa pulau, melihat taman nasional, dsb. Untuk itu semua, saya cuma keluar tidak lebih dari 200 ribu, tidak jauh dari prediksi yang Adhit paparkan. Sangat lain ceritanya kalau trip dilakukan sendiri, karena untuk penginapan dan sewa kapal akan jauh lebih murah kalau beramai-ramai.

Sebagian besar (sekitar 70%) yang ikut adalah mahasiswa, ada yang dari UI, IPB, UGM, ITB, Unpad, UNJ, dsb. Sebagian lagi sudah kerja, sebagai konsultan, PNS, jurnalis, banker, perpajakan, dsb. Di balik itu pasti masih banyak keragaman lain, perbedaan suku, agama, cara pandang, ideology, pergaulan, dsb. Tapi kami melepas semua itu, demi satu hobi yang sama, hobi menjelajahi sudut-sudut indah di bumi ini.

Sepulangnya dari trip itu, saya membawa oleh-oleh pengalaman, foto-foto hebat, dan sekian banyak kenalan baru. Komunikasi tetap dilanjutkan lewat facebook.

BI punya satu acara besar demi langkah yang lebih besar, yaitu Gathering pertama BI (tentunya ada jalan-jalannya donk), akan dilaksanakan di Bandung, 30-31 Mei ini. Bagi yang berminat silakan join grup BACKPACKER INDONESIA, lalu baca DB-nya untuk gimana-gimananya.

Salam ransel !

17
Apr
09

Gapui; Prototipe Pedalaman Aceh

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Sigli, sebuah kota yang bisa dikatakan besar di NAD. Kehidupan Sigli sudah cukup modern. Akses informasi hampir sama dengan di Jakarta. Hampir semua rumah sudah memiliki TV walaupun tidak bisa mengakses semua stasiun TV seperti di Jakarta. Radio dan Koran hampir sama nasibnya. Warung internet sudah banyak, walaupun tidak sebanyak Jakarta dan penggunanya juga masih belum banyak. Garis besarnya, dari segi aliran informasi, Sigli sudah layak dikatakan kawasan perkotaan. Lansekap Sigli juga mendukung pernyataan tersebut. Banyak rumah, banyak pedagang, dan sedikit sawah.

Tapi, itu ya Sigli, berbeda jauh keadaannya dengan Gapui, tetangga Sigli. Padahal jarak Gapui-Sigli hanya 3 km. Namun dengan cepat kita bisa menghakimi bahwa Sigli adalah kota dan Gapui adalah kampung.

Tidak ada angkutan umum yang bisa mengakses Gapui kecuali RBT, atau dalam bahasa Jakarta-nya ojeg. Entah siapa yang menamakan ojeg itu RBT. Setiap saya tanya ke teman yang berdarah Aceh, tidak ada yang tahu apa kepanjangannya. Mereka hanya menyebut RBT. Aneh. Ada yang memelesetkan menjadi Rakyat Banting Tulang. Haha. Tentu saja bukan itu kepanjangannya.

Sepanjang jalan, tidak ada pemandangan lain kecuali sawah dan hutan. Jalan akses Sigli-Gapui hanya selebar 3 meter. Masalah besar ketika dua mobil dari arah berlawanan berpapasan. Namun itu jarang terjadi karena tidak banyak penduduk Gapui yang memiliki mobil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Mulai memasuki Gapui, terlihat rumah-rumah tinggi, rumah panggung. Dulu, rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari keganasan hewan-hewan buas, tapi sekarang rumah itu hanya sebagai adat atau budaya yang terus-menerus diturunkan dengan jumlah yang semakin berkurang karena ada anggapan bahwa rumah panggung adalah kampungan. Terselip beberapa rumah yang bukan panggung, sudah beton dan sudah memiliki pagar dari besi.

Ada yang unik dari rumah panggung di Gapui ini. Bahan dasarnya diambil dari batang kayu nangka. Penduduk meyakini bahwa kayu nangka adalah kayu yang paling kuat. Mereka menyambung batang demi batang sehingga terbentuklah sebuah rumah. Yang paling mencengangkan adalah, mereka menyambung dengan tanpa menggunakan paku sama sekali. Namun demikian, tidak pernah ada cerita rumah panggung Aceh rubuh. Sekalipun tidak pernah! Semuanya dibuat oleh arsitek alami tanpa gelar sarjana.

Tinggi rumah panggung bermacam-macam, kalau diambil rata-rata, mungkin 1,5-3 meter. Di bawah rumah panggung itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai rumah bagi ternaknya, atau ada juga yang menggunakan sebagai ruang tamu, bahkan untuk keduanya sekaligus. Artinya betul-betul tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi yang dekat dengan hewan ternak (biasanya kambing) yang diikat.

Memang, mata pencarian sebagian besar penduduk adalah beternak dan bertani. Maka merupakan hal biasa kalau di sepanjang jalan dan di setiap rumah akan terlihat ternak. Nah, ini juga unik. Paman saya yang dulu sempat menghabiskan masa kecilnya di Gapui bercerita, karena kebanyakan penduduk adalah petani, maka kesibukan warga hanyalah ketika masa tanam dan masa penen. Di waktu sela antara itu, warga menghabiskan waktu dengan bermain adu kerbau dan adu orang. Adu orang dalam arti yang sebenarnya! Kalau di olahraga, mungkin gambaran yang paling mendekati adalah gulat. Dua lawan satu. Yang dua tidak boleh menggunakan tangan (tidak boleh menonjok, memukul, menggampar, menampar, mencubit, dsb) sedangkan yang satu bebas memakai apa saja. Inilah hiburan yang paling menghibur bagi masyarakat. Entah masih ada atau tidak kebiasaan tersebut.

Waktu itu, saya berjalan-jalan ke Gapui dalam rangka silaturahim dengan keluarga. Definisi keluarga bagi orang kampung sangat luas dan sangat jauh. Mereka bisa mengatakan satu kampung (setara Kelurahan) itu adalah saudara semua. Kenyataannya bisa jadi demikian, karena banyak pernikahan dilakukan antara sesama warga kampung kemudian menetap di kampung itu juga, dan seterusnya. Nenek saya yang besar di Gapui selalu mengatakan, dia adalah saudara, orang yang di rumah tinggi itu saudara semua, bapak-bapak yang sedang berjalan itu saudara juga, dan seterusnya.

Kami singgah di rumah saudara yang saya juga tidak tahu bagaimana hubungannya sampai bisa dikatakan saudara. Di rumah itu saya bertemu seorang nenek, anak dan menantunya, serta cucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Semuanya terpesona melihat si balita karena betul-betul menggemaskan. Ketika ditanya siapa namanya, kedua orang tuanya menyahut dengan santai, belum ada. Belum ada! Satu setengah tahun, kawan!

Mampir di rumah kedua, lagi-lagi nenek mengatakan ini rumah saudara dan lagi-lagi saya tidak peduli hubungan saudara macam apa antara saya dan dia, sudah terlalu banyak yang dijejalkan sebagai saudara ke tempurung ini hari itu. Kebetulan, ada anak kecil lagi, kali ini lebih kecil, umurnya belum genap satu tahun. Seperti di awal, sang Ibu belum membubuhkan nama untuk si anak. Malah sang ibu minta tolong untuk dicarikan nama. Seorang kerabat dari sang Ibu nyeletuk, “Ah, nama itu nanti saja, kalau memang sudah diperlukan, misalnya mau masuk sekolah, baru dipikirkan.” Wah, bisa stress ini orang dinas kependudukan. Di aturan yang ada, maksimal melaporkan kelahiran (dengan sudah ada nama) selambat-lambatnya 6 bulan setelah kelahiran, kalau tidak maka akan ada sanksi kurungan atau denda. Mungkin ini jawaban kenapa DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk Pemilu tidak pernah beres di negeri ini.

Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah saudara yang kekerabatannya paling dekat (menurut Nenek). Di rumah panggung itu, kami disuguhi makanan yang pastinya sudah disiapkan sejak tadi pagi. Mendengar akan datang saudara jauh, maka si kerabat ini mempersiapkan makanan semaksimal yang bisa dibuatnya. Ya begitulah budaya orang kampung ketika menerima tamu. Di sela-sela makan, Nenek nyeletuk, “Eeeh Ibal mau air kelapa ya…” Dengan sigap, si empunya rumah langsung turun, memetik kelapa, lalu memecahkannya. Lima menit kemudian, kelapa yang sangat segar itu sudah tersaji di hadapan. Alami! Sangat alami!

Budaya kapitalis dan imperialis, baik yang lama, neo, atau apalah itu, sama sekali tidak terasa di Gapui. Yang ada adalah budaya hormat-menghormati, budaya gotong-royong, dan budaya memuliakan tamu. Sepertinya terbalik kalau orang kota mengatakan, “Ah, dasar kampungan!” Mungkin lebih tepat kalau orang kampung yang mencaci, “Dasar orang kota!”

16
Mar
09

Backpacking Takengon

takengon1

Takengon adalah nama sebuah Kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Kalau dipetakan, Takengon terletak di tengah-tengah wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Karena letaknya yang bukan pada jalur utama jalan antarprovinsi, maka wajar saja kalau jalan menuju ke sana banyak yang rusak, dari yang hanya sompel sedikit sampai lubang yang besar sekali. Jauh lebih besar daripada kerusakan jalan di Ibukota yang sering masuk TV itu. Sayangnya, Takengon letaknya jauh dari kota besar, tidak ada masyarakat ataupun mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut perbaikan jalan. Jadi, jalan menuju Takengon tetap begitu-begitu saja.

Belum banyak yang tahu tentang keindahan Takengon. Bahkan, mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar Takengon. Pamornya masih kalah jauh dibanding Waduk Jatiluhur, Danau Singkarak, apalagi Danau Toba. Sepertinya, Takengon hanya akrab di telinga masyarakat Aceh saja, sekedar artis lokal yang belum terdengar namanya di kancah nasional.

Padahal, potensinya luar biasa. Danau Lut Tawar sudah lama menjadi icon Takengon, selain komoditas kopinya. Danau tersebut terletak tidak jauh dari kota Takengon. Dari atas kumpulan ruko 3 lantai yang ada di kota saja, danau ini sudah dapat dilihat dengan jelas. Hanya sekitar 300 meter dari jantung kota.

Di pagi hari, hawa mistis menyeruak kental sekali dari dalam danau. Air danau sangat tenang, seperti cermin datar yang memantulkan segala apa yang ada di atasnya. Kabut dengan jelas terlihat melapisi permukaan danau, sedikit demi sedikit merangkak ke atas, sampai akhirnya hilang sama sekali. Seakan, sinar matahari menyedot semua kabut itu, kemudian akan dimuntahkannya lagi di malam harinya. Sinar matahari itu dengan tersipu malu memancarkan kehidupan dari balik bukit di pinggir danau. Bukit yang berangkulan erat di setiap sudut danau, menjaga danau dengan sepenuh raga.

takengon2

Untuk mendapatkan pemandangan danau Lut Tawar yang indah itu, hanya jalan darat yang bisa digunakan. Dari kota medan, ada angkutan L300 yang siap mengantarkan kita ke kota takengon. Alternative kedua, jalan darat dari Banda Aceh. Kalau ingin mengenal Aceh lebih dekat, ada baiknya kita menggunakan jalur dari Banda Aceh. Lagi-lagi, L300 yang jadi andalan. Biayanya 80 ribu. Dari Banda, akan memakan waktu sekitar 8 jam.

Selama perjalanan ini, L300 akan melakukan paling tidak dua kali pemberhentian. Sebelum pemberhentian pertama di Sare, kita akan melewati gunung Seulawah sehingga jalan akan berkelok. Cukup untuk membuat pusing. Sare adalah suatu daerah yang dulunya sepi sekali, tidak ada kehidupan manusia, kemudian pemerintah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Sare. Mayoritas transmigran bertani. Hasil pertaniannya inilah yang dijual di pinggir-pinggir jalan sehingga banyak mobil yang mampir ke Sare sekedar untuk berbelanja. Satu makanan olahan yang terkenal di tempat ini adalah keripik ubi. Bermacam jenis keripik ubi yang ditawarkan, tergantung selera.

Pemberhentian kedua adalah di kota Biereun. Tempat ini jauh lebih ramai daripada Sare. Ada satu jenis produk yang sangat tersohor se-antero Aceh, yakni Keripik Biereun. Sekali coba pasti langsung terpesona. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang membawa Keripik Biereun sebagai oleh-oleh khas Aceh. Bahan dasar keripiknya beragam, ada pisang, ubi, dan Sukun. Keripik Sukun yang mempunyai keunikan lebih dibanding teman sejawatnya. Satu kilo keripik sukun dibandrol dengan harga 50 ribu, jauh lebih tinggi dibanding keripik pisang dan ubi yang tidak lebih dari 20 ribu saja.

Terminal di Biereun bisa dikatakan yang paling padat diantara terminal lain di Aceh. Mungkin ini karena adanya angkutan BE (Biereun Express), selain bus antar kota, L300, dan labi-labi (angkutan lokal, mirip angkot).

Sepanjang perjalanan, sering sekali terlihat hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sapi-sapi di Aceh seakan tidak memiliki kandang permanen. Penduduk melepaskan begitu saja sapinya. Sehingga menjadi pemandangan yang wajar ketika ada sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat sampah pasar, ada yang berkeliaran di lapangan, bermain bersama anak-anak kecil yang sedang asik bermain bola. Sapi memang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.

Perjalanan dari Biereun menuju Takengon tidak semulus perjalanan sebelumnya. Jalan berkelok-kelok dan mendaki. Beberapa papan pengumuman menyampaikan hal yang sama, bahwa daerah itu rawan longsor ketika hujan. Pernah dulu, menurut warga Takengon, jalan satu-satunya dari Biereun ke takengon itu tertutup tanah sehingga transportasi sama sekali terputus. Penduduk harus pergi ke Medan untuk mendapatkan kebutuhannya. Sampai sekarang pun, jalan itu masih rawan akan longsor. Belum lagi, jalan tidak mulus, banyak ditemui lubang-lubang besar mematikan. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang.

Memasuki KM 40 dari Biereun (jarak Biereun-Takengon 101 KM), posisi bisa dikatakan sudah di atas gunung, pohon cemara di kanan kiri absen tanpa henti. Kadang terlihat gubuk-gubuk kecil beratapkan dedaunan kering. Atapnya cukup panjang ke bawah, kira-kira sampai setinggi bahu orang dewasa, jadi, harus menunduk untuk memasuki gubuk kecil itu. Di dalamnya tidak besar, mungkin hanya muat untuk dua orang. Sepertinya tempat ini di set untuk tempat orang pacaran.

Hati-hati berjalan menuju Takengon di malam hari, karena tidak ada lampu di puluhan kilometer jalan itu. Lampu hanya terlihat di beberapa desa yang dilewati saja. Selebihnya hutan yang tidak memiliki cahaya. Semakin masuk ke hutan, udara semakin sejuk.

Kalau beruntung, kita akan menemui penjual air aren di pinggir jalan. Penduduk sekitar yang berjualan sudah menyiapkan gelas dan sedikit tempat duduk dari potongan kayu yang dibersihkan seadanya. Satu bungkus air aren dijual dengan harga 5 ribu. Kira-kira isinya 1 liter. Segar sekali.

Mencapai Takengon, ada satu hotel yang sangat terkenal di daerah ini, Renggali namanya. Hotel ini adalah satu-satunya hotel yang ada di pinggir danau Lut Tawar. Pengelolaannya sudah cukup professional. Harganya juga ikut-ikutan professional. Untuk standard room dihargai 250 ribu, deluxe 350 ribu, dan suite 550 ribu. Indah sekali view dari hotel ini. Beberapa kamar menghadap langsung ke danau. Pantulan bulan terlihat sempurna di danau. Ada beberapa cercah cahaya yang mondar-mandir di danau pada malam hari. Kalau dilihat lebih teliti, itu adalah cahaya dari lampu nelayan sekitar yang mencari ikan khas Takengon.

Suite room di Hotel Renggali

Suite room di Hotel Renggali

Di pagi harinya, silakan mengejar sunrise, karena cahaya oranye bercampur kuning dan merah di langit pasti akan membuat Anda terpesona. Namun, jangan coba-coba berenang atau bermain-main air danau karena hal tersebut cukup dilarang keras. Menurut penduduk sekitar, ada Peutri Ijo, sesosok makhluk yang menjaga danau tersebut yang selalu meminta korban di setiap tahunnya. Kebanyakan korbannya adalah pendatang.

Budgeting Takengon Trip (dari Banda):

L300 Banda Aceh-Takengon 80.000

Makan 5 kali 50.000

Standard Room Hotel renggali 250.000

L300 Takengon-Banda 80.000

Total 460.000

28
Feb
09

Backpacking Sabang

img_0052

Bagaimana kalau kita bisa melihat bintang laut tepat di pinggir pantai? Lengkap dengan ribuan cacing laut yang melambai-lambai seakan memberi salam sambil tersenyum dan dengan mesra mengatakan, “Selamat dating di Sabang”?

Atau snorkeling di pantai yang jernih airnya? Beberapa meter dari ombak pantai, ikut menyapa bermacam jenis ikan berwarna-warni dan juga tersenyum ratusan bulu babi. Senyum yang agak tegas tentunya.

Kalau tertarik, bisa jadi Sabang adalah pilihan yang paling tepat. Pulau ini sudah lama dijadikan icon persatuan bangsa ini. Dengan gagah, pulau ini berdiri di ujung nusa, siap menjaga pertahanan dan keamanan RI.

Untuk mencapainya, butuh sedikit perjuangan. Beberapa penerbangan di kota besar sudah ada yang langsung mencapai Banda Aceh. Kalau tidak dapat, bisa juga menggunakan pesawat sampai Medan, lalu dilanjutkan dengan bus selama 12 jam sampai di Banda. Dari Banda, untuk mencapai Sabang, hanya ada satu cara, yaitu dengan kapal very.

Kapal very yang tersedia ada dua jenis, kapal cepat dan kapal lambat. Sesuai namanya, kapal lambat bergerak lambat sehingga butuh waktu sampai 2 jam untuk sampai Sabang. Tarifnya untuk yang ekonomi 17 ribu, eksekutif 35 ribu. Saya tidak menyarankan untuk ke kelas bisnis karena penuh asap rokok dengan keadaan yang di dalam ruangan tertutup, jadi udara sesak. Lebih baik ke ekonomi sekalian karena udara laut bebas masuk, atau ke eksekutif yang memang dilarang merokok. Kapal lambat ini hanya punya satu kali keberangkatan per hari, dari Banda (Pelabuhan Ulhee-lee) menuju Sabang pukul 2 siang atau dari Sabang menuju Banda pukul 8 pagi. Berita buruknya, terkadang kapal, baik cepat maupun lambat, tidak beroprasi ketika ombak sedang tinggi.

101_7152

Kapal cepat punya waktu tempuh 45 menit saja. Kapalnya lebih kecil dari kapal lambat karena yang diangkutnya juga lebih sedikit. Kapal cepat tidak menerima kapalnya disusupi mobil atau motor. Itulah perbedaan yang juga mendasar diantara dua kapal ini. Harga kapal cepat jauh lebih mahal, bahkan hamper 3 kali lipat. Untuk kelas ekonomi seharga 55 ribu, sedangkan eksekutif 80 ribu. Ada dua perjalanan setiap harinya. Dari Sabang pukul 8.30 dan 15.00, sedangkan dari Banda pukul 9.00 dan 16.00.

Berhubung sulit sekali mendapatkan kendaraan umum di Sabang, maka dianjurkan untuk menyewa motor sejak di Banda. Akan lebih puas berkeliling kalau ada kendaraan sendiri. Satu tips yang harus dipegang dalam berkeliling Sabang, kalau hendak bertanya jalan, matikanlah mesin motor lalu turun dari motor, baru kemudian bertanya. Adabnya seperti itu. Kalau tidak, bisa dicemooh masyarakat.

Sesampainya di pelabuhan Sabang (Balohan), kita bisa beristirahat sejenak dekat pelabuhan. Berderet tempat makan siap melayani kita. Saya sarankan kalau berkunjung ke Aceh, termasuk Sabang, untuk menyicipi “Mie Aceh”. Di tempat ini tidak ada embel-embel Aceh, jadi hanya “Mie” saja. Makanan ini menjadi digandrungi karena bumbu rempah yang terkandung di dalamnya sangat beragam, pastinya menggugah selera. Satu porsi Mie dengan cumi dihargai 13 ribu. Ada juga kepiting dan udang.

Tempat penginapan ada daerah kota Sabang. Atau kalau mau di cottage dekat pantai juga ada, baik di pantai Gapang ataupun pantai Iboih. Harganya bervariasi, tapi dengan uang 100 ribu, sudah bisa didapat tempat yang cukup nyaman. Ada juga persewaan satu cottage sekaligus di pantai Gapang, terdiri dari 3 kamar, harganya 300 ribu.

Sore harinya, kita bisa menikmati Sabang Fair, pantai paling indah di Sabang. Ini pantai yang paling dekat dengan kota sehingga paling ramai dikunjungi, terutama wisatawan lokal dan penduduk Sabang. Di pinggir pantai sudah dibangun semacam tembok pendek untuk menghalangi air ketika pasang. Tembok ini sering dijadikan tempat duduk-duduk yang nyaman. Pemandangan laut terhampar luas di depan. Tidak terlihat pulau apapun lagi karena itu sudah laut lepas.

Bisa dikatakan, pantai ini masih natural, belum banyak sampah. Bermacam jenis hewan terlihat di pantai, bahkan di genangan-genangan air yang tertahan karang mati sebelum pantai. Cacing laut yang paling dominan, putih seperti potongan-potongan kain yang melambai-lambai mengikuti arah air bergerak. Ada juga teripang berwarna hitam yang kalau digoda sedikit maka dia akan meludah. Ludahnya berwarna biru, menarik di mata, tapi hati-hati dengan efeknya. Bintang laut seakan tak mau kalah. Ia ikut meramaikan pantai di Sabang Fair. Beberapa ikan warna-warni diam-diam ikut mengintip di balik batu karang.

101_7166

Matahari hamper menuju ke peraduannya. Inilah saat-saat terindah Sabang Fair. Sunset jelas terlihat. Kalau tidak ada awan yang mengganggu, sunset akan semakin indah dipandang mata.

Snorkeling bagus dilakukan di pantai Gapang atau Iboih. Di dekat pantai, ada tempat persewaan alat-alat snorkel, diving, dan sebagainya. Untuk alat snorkel lengkap dengan life jacket dan kaki katak, dihargai 45 ribu per hari. Pilihlah kaki katak yang betul-betul pas agar tidak lepas ketika dipakai.

Snorkeling di Iboih harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, karena bulu babi banyak sekali tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, selain rasa perih, kulit juga akan membengkak. Kalau memang terkena bulu babi, cara paling mudah adalah siramlah bagian yang terkena bulu babi dengan air seni.

Namun, bulu babi bukanlah halangan untuk berhenti snorkeling. Bermacam jenis ikan ada di Iboih. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan gerombolan ikan yang sedang bermain sampai ke pinggir pantai. Karang-karang yang beru tumbuh berwarna-warni menghiasi dataran pantai Iboih. Ada kuda laut yang dengan tanpa daya mengikuti ombak, terombang-ambing tanpa arah yang jelas.

Kalau kita agak ke tengah, variasi biota laut akan semakin beragam. Jenis ikan besar mulai tampak. Tapi hati-hati, arus semakin ke tengah semakin deras. Bisa-bisa dalam dua hari kita tersesat sampai Madagaskar (pernah ada kejadian ini).

Di seberang sana, ada pulau Rubiah, tanpa penghuni. Pulau ini sering dijadikan target kunjungan wisatawan karena snorkeling di salah satu bagian pulau ini cukup menyenangkan.

Untuk mencapainya, bisa menggunakan jasa kapal seberang dengan harga 200 ribu per kapal yang bisa diisi sampai 5 orang. Di dalam kapal seberang itu, ada kaca yang di bagian bawah yang memberikan kesempatan pengunjung melihat biota bawah laut dari atas kapal. Indah.

Sebetulnya jarak ke Rubiah tidak jauh, mungkin sekitar 100 meter saja. Berenang pun jadi. Hanya saja, untuk menuju ke sana, harus melewati palung yang cukup dalam. menurut penduduk sekitar, terkadang dari palung itu keluar anak hiu. Walau demikian, tidak pernah ada cerita pengunjung Iboih diserang hiu.

Cara alternative lain mencapai Rubiah adalah dengan Kano kecil yang bisa disewa seharga 50 ribu per hari. Dibutuhkan keseimbangan dan sedikit latihan terlebih dahulu sebelum menyebrang menggunakan kano.

101_7278

Kenikmatan snorkeling di Sabang sulit diungkapkan dengan kata. Yang jelas, membuat pengunjungnya ketagihan untuk snorkeling lagi di lain waktu.

Karena sudah jauh sampai ke Iboih, ada baiknya berkunjung juga ke tugu kilometer nol, sekitar 10 km dari Iboih. Perlu kesabaran karena jalannya banyak yang rusak dan berbatu sehingga rawan terpeleset. Melewati belantara hutan yang masih dipenuhi kera dan babi.

img_0164

Tidak ada yang special di tugu ini. Hanya bangunan biasa saja. Tapi dari tempat itu, bisa jelas terlihat sunset tepat di ujung laut.

Secara umum, bisa dikatakan bahwa dunia pariwisata di Sabang sangat potensial. Namun, butuh keseriusan untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan tempat penginapan. Terutama jalan menuju Gapang, Iboih, dan tugu kilometer nol.

Semoga bermanfaat…=)

Cost:

Sewa motor 2 hari 200.000

Kapal lambat Banda Aceh-Sabang PP 34.000

Seberangkan motor PP 34.000

Makan 6 x 100.000

Penginapan 2 malam 200.000

Sewa alat snorkel 45.000

Bensin 30.000

TOTAL 643.000

27
Jan
09

Backpacking Kediri – Malang

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri

Jauh sebelum wisuda Oktober 2008 lalu, saya sudah bertekad ingin liburan habis-habisan. Wajar saja, dari awal masuk IPB sudah ada matrikulasi. Tahun depannya semester pendek, lalu praktek lapang, disambung penelitian. Jadi, waktu liburan panjang tidak pernah diisi dengan agenda berlibur. Inilah saatnya pembalasan.

Tadinya saya dan beberapa teman dari SEI (salah satu jurusan di IPB) berniat ke Bali dan sekitarnya. Rencana sudah matang, tiba-tiba sebagian besar mundur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mungkin meliburkan diri selama 10 hari. Di saat kekecewaan itu, Yossy, salah satu senior saya menceritakan tentang aktivitasnya di Kampung Bahasa, Pare, sebuah Kecamatan di Kediri. Tempat ini adalah sentra kursus Bahasa Inggris termurah di Indonesia.

Setelah chating dengan Yossy, saya langsung plot waktu untuk liburan dan meminta izin bos. Disetujui, dua minggu. Sambil saya menunggu waktu liburan itu, saya mencari beberapa cerita tentang kampung bahasa dan beberapa kawasan wisata di Jawa Timur. Bromo menjadi incaran utama yang masuk dalam rencana liburan.

Saya berangkat naik bus Lorena dari Rawa Mangun langsung ke Kediri. Kalau sesuai rencana, bus berangkat pukul 3 sore dan sampai pukul 6 pagi keesokan harinya. Tapi karena ketika itu sedang musim liburan tahun baru, maka kejadianlah bus itu baru berangkat pukul 7 malam, sampainya di Kediri pukul 4 sore. Sehari semalam di bus mengutuki ketidaknyamanan menggunakan Lorena. Mulai dari waktu datang bus yang terlambat sampai supir bus yang merokok. Mengecewakan.

Namun, ada juga hikmahnya. Saya jadi bisa mendapatkan pemandangan bagus dari pagi sampai sore. Satu jam sebelum Ngawi, di kanan kiri jalan terhampar sawah sampai ujung mata memandang. Ke luar Ngawi menuju Madiun juga demikian, keluar Madiun juga masih sawah yang berkuasa. Lebih susah mencari orang daripada sawah. Seperhatian saya, ada 3 tanaman utama: padi, jagung, dan tebu. Ternyata benar kata buku-buku IPS zaman SD dulu, Indonesia adalah negara agraris.

Sampai di terminal Kediri. Menurut berbagai narasumber, saya harus mencari bus Puspa Indah yang menuju Malang turun di BEC, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Bahasa. Yossy dan Iffan yang menjemput. Iffan baru saya kenal di Pare. Dia menjadi kawan sekamar saya selama di Kampung Bahasa. Hampir setiap malam kami bertiga hunting makanan di daerah Pare. Terkadang beberapa rekan seatap Yossy ikut hunting. Hunting dengan sepeda yang kebanyakan dari kami menyewanya dari bengkel sepeda. Sepeda masih sangat “in” di daerah ini.

Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial dengan makanan Pare. Perbedaan yang paling mendasar adalah harga, di Pare harga makanan sangat murah. Oya, ada satu lagi keunikan. Di Pare menjamur warung nasi pecel. Kalau di Bogor atau Jakarta kebanyakan warung menawarkan pecelnya saja. Kalau di Pare dan kebanyakan tempat di Jawa Timur, pecel tersebut langsung dicampur dengan nasi. Ditambah kerupuk peyek. Standar harganya Rp2.000/porsi.

Variasi makanan lebih terlihat di alun-alun Pare. Harganya juga lebih tinggi daripada di kampung Bahasa. Untuk mencapai alun-alun, perlu waktu sekitar 10 menit bersepeda dari kos saya di Kampung Bahasa. Alun-alun di Pare ini unik, tumben-tumbenan ada alun-alun di tingkat Kecamatan. Biasanya alun-alun ada di kabupaten. Mungkin ini menjadi salah satu indikator majunya Kecamatan Pare. Pernah satu malam minggu saya main ke alun-alun. Ramainya luar biasa. Malam minggu di alun-alun bukan hanya untuk anak muda, tapi banyak juga orang tua yang membawa anak-anak kecilnya menghabiskan malam di alun-alun. Pedagang bertaburan di malam minggu. Makanan yang membuat saya geli adalah sate bekicot. Banyak yang menjajakan sate bekicot. Mungkin karena banyak persawahan di sini sehingga banyak juga bekicot. Selain pedagang, ada juga jasa rekreasi mobil-mobilan mirip bom bom car untuk anak kecil. Berkelap kelip lampu mobil itu menambah semarak malam minggu alun-alun.

Garuda Park terkadang dijadikan masyarakat sebagai tempat kumpul-kumpul. Garuda Park seperti taman, tapi mini sekali. Patung Garuda kokoh berdiri di atas tugu. Mirip dengan tugu Tani tapi patung Pak taninya diganti dengan Garuda. Di bawah tugu itu, ada taman mini sekali. Inilah yang disebut Garuda Park, atau masyarakat sering menyebutnya GP.

Menurut dinas pariwisata Kediri lewat websitenya, ada dua buah wisata Candi di Pare, yaitu Tegowangi dan Surowono. Saya ikutilah saran dari Dinas pariwisata.

Lagi-lagi dengan bersepeda, saya menuju Candi Tegowangi. Yossy tahu tempatnya, jadi tidak perlu ada acara nyasar. Dua puluh menit sudah sampai. Perjalanan melewati jalan kampung yang jarang ada penduduk berseliweran. Sawah-sawah terhampar di kanan kiri. Beberapa kali saya melihat ada peternakan lebah mini di halaman-halaman rumah warga. Lebah tidak bersarang di pohon tetapi di kotak-kotak seukuran kotak suara pemilu.

Candi Tegowangi tampak samping

Candi Tegowangi tampak samping

Agak kecewa dengan Candi Tegowangi. Jauh sekali dengan keadaan Prambanan atau Borobudur (hanya kedua candi ini yang pernah saya kunjungi). Ukurannya hanya sekitar 10×10 meter. Mungkin kurang. Tingginya hanya sekitar 3 meter. Tidak ada yang berkunjung ke situ kecuali kami. Tidak ada tarif masuk. Semua sangat seadanya di Candi Tegowangi. Bahkan tidak tampak satu pedagang pun di sekitar candi. Di sekeliling candi ada taman mini yang cukup dirawat. Hanya itu poin plusnya.

Setali tiga uang dengan Candi Surowono. Bedanya, candi Surowono punya petugas yang menjaga pintu masuk. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu lalu dimintai sumbangan seikhlasnya. Saya member 2.000 rupiah, awalnya saya rasa uang sejumlah itu kurang, tapi setelah berkunjung ke Goa dan pemandian Surowono, sepertinya 2.000 untuk hanya melihat-lihat candi kecil itu dirasa berlebih. Taman di Candi Surowono sedikit lebih luas dari taman Tegowangi. Letaknya tepat di pinggir jalan. Menuju ke sana butuh 30 menit bersepeda melewati jalan raya dengan aktivitas yang lumayan padat. Ketika saya berkunjung ke sana, ada dua orang pengunjung lain, ada juga seorang pedagang yang menjajakan lemang. Yah, bisa dibilang candi Surowono satu level lebih maju dari Tegowangi.

Tidak jauh dari Candi Surowono, ada pemandian Surowono dan Goa Surowono. Pemandian di sini bukan pemandian air panas seperti yang saya bayangkan, tapi kolam renang. Ada dua buah kolam renang di dalamnya. Yang besar dan kecil. Yang besar dalamnya sekitar 160 cm sedangkan yang kecil hanya sebatas lutut orang dewasa. Cukup ramai peminat pemandian ini. Airnya juga cukup bersih. Biaya masuknya murah sekali, hanya Rp1.500. Di sekeliling kolam ada kios-kios kecil yang menjajakan bermacam penganan.

Goa Surowono punya tarif masuk yang lebih murah lagi, hanya Rp500. Jangan dibayangkan Goa yang dimaksud terawat dan besar, tidak. Goa berada di bawah tanah rumah-rumah warga Surowono. Mungkin zaman dahulu, Goa ini dijadikan tempat persembunyian atau jalan tikus. Untuk masuk ke Goa, kita perlu turun dulu lewat semacam kubangan kecil. Sepanjang Goa, air tidak henti-hentinya mengalir. Suasana gelap sekali sehingga tidak mungkin kalau tidak membawa senter.

Tak lupa saya juga berkunjung ke Gunung Kelud, wisata andalan Kabupaten Kediri. Saya ikut trip yang ditawarkan dari sebuah kursusan di Kampung Bahasa. Biayanya hanya 20 ribu, sudah termasuk transport, makan siang, snack, dan tiket masuk. Saya juga bingung bagaimana bisa semurah itu. Kami berangkat naik truk. Perjalanan tepat 1,5 jam dari Kampung Bahasa. Sejak pintu masuk, truk harus melewati pendakian yang cukup melelahkan selama 10 menit. Sampai di satu titik dimana truk benar-benar tidak bisa lewat lagi. Dari titik itu, kami harus berjalan sekitar 1,5 kilometer untuk menuju rest area. Perjalanan 1,5 km itu butuh energi ekstra. Walaupun jalanan sudah diaspal dengan baik, tapi bentuknya berupa tanjakan terus-menerus.

Mencapai rest area, kita bisa beristirahat. Banyak kios yang menjajakan makanan. Kalau ingin menguji adrenalin, ada sarana Flying Fox seharga 15 ribu sekali aksi. Pemandangan dari rest area lumayan bagus. Hijau semua di bawah sana. Karakter hijaunya berbeda-beda, tergantung seberapa besar intensitas matahari memolesnya. Kediri terlihat cukup jelas dari atas sini.

Butuh berjalan sekitar 15 menit lagi untuk mencapai terowongan tanpa cahaya. Terowongan ini adalah jalan satu-satunya menuju anak Kelud. Panjang terowongan sekitar 100 meter dengan tinggi hanya dua meter lebih sedikit. Masuk beberapa langkah saja, gulita sudah melanda. Bingkai kacamata saya pun tak terlihat, apalagi teman di sebelah. Patokan satu-satunya adalah sedikit cahaya di ujung terowongan yang semakin dekat akan semakin terang cahayanya. Terowongan cukup terawat. Tidak berbau. Permukaannya rata, tidak ada batu-batuan, jadi tidak perlu takut tersandung.

Setelah lewat terowongan, kita harus menuruni tangga cukup panjang untuk menemukan anak Kelud. Menurut berbagai literature, anak Kelud ini merupakan keistimewaan Kelud. Tapi bagi saya, itu bukanlah apa-apa, hanya onggokan besar batu yang masih berasap-asap.

Bosan dengan anak Kelud, saya menuju aliran air panas dekat rest area. Bagi saya, inilah bagian paling menyenangkan sekaligus melelahkan dari Kelud. Kita harus menuruni tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. Tangga yang saya maksud bukan sembarang tangga. Tangga yang tidak bisa kita lihat ujungnya, kita hanya bisa melihat anak tangga yang paling jauh. Ketika kita telah mencapai anak tangga terjauh itu, mata kita masih belum bisa menemukan ujungnya. Terulang sampai beberapa kali, baru sungai mulai terlihat.

Asap mengepul dari sungai itu membentuk gerombolan kabut. Ada dua asal aliran sebelum bertemu di satu titik. Aliran pertama airnya dingin seperti layaknya air gunung. Aliran kedua luar biasa panas. Dari aliran kedua inilah gerombolan kabut tadi berasal. Saya sempat bermain di titik tempat percampuran kedua aliran itu. Walaupun sudah bercampur, tetap dibutuhkan kehati-hatian karena di bagian tertentu airnya masih lebih dari 80 derajat, belum tercampur dengan rata. Tidak ada pengunjung yang berani mencelupkan kakinya di aliran kedua, bisa jadi suhunya mendekati 100 derajat. Bisa benjol kaki dibuatnya.

Untuk kembali, dibutuhkan perjuangan yang lebih besar lagi, tangga tanpa batas tadi harus dilewati kembali, bedanya, kali ini mendaki. Tidak kurang dari tiga kali saya beristirahat sebelum sampai di pangkal tangga. Dari pangkal tangga, kembali harus berjalan sampai rest area, lalu berjalan lagi 1,5 km menuruni jalan aspal sampai ke truk. Sungguh melelahkan.

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih

Secara keseluruhan, menurut saya Kelud biasa saja. Lebih banyak perjalanan melelahkannya daripada kenikmatan pemandangan.

Merasa sudah menggagahi seluruh pelosok Kediri, saya berangkat ke Malang. Kota ini lebih ramai dari Kediri. Mungkin karena banyak universitas yang ada di dalamnya. Mungkin juga karena percepatan pembangunan kota ini lebih tinggi daripada Kediri.

Beruntung saya punya teman SMA yang kuliah di Unbraw, Arya. Dia dengan baiknya menjemput saya di depan kampusnya, lumayan, transport dan akomodasi gratis. Malam itu juga, kami langsung mempersiapkan segala hal untuk perjalanan menuju Bromo. Keesokan paginya, dari rumah Cak Nu, pemilik persewaan truk dan Jeep, kami memulai perjalanan menuju Cemoro Lawang. Lalu di hari berikutnya, saya sudah bisa mencoret target utama perjalanan saya itu. Bromo sangat menyenangkan.

Sekembalinya dari Bromo, Arya langsung mengajak makan di Ikana, sebuah tempat makan yang sangat laris di Malang. Tempatnya sederhana. Makanannya yang luar biasa. Pengunjung rela menunggu 30 – 60 menit untuk dapat mencicipi makanan di sini. Jarang terlihat kursi kosong. Hati-hati dengan pemesanan. Satu porsi di Ikana tidak sama dengan satu porsi di tempat makan lain. Bisa 3 kali lipat lebih banyak. ikana memang di-set untuk pengunjung rombongan. Menurut cerita Arya, di Ikana hanya ada satu kompor. Si pemilik juga berfungsi sebagai koki. Hanya dia yang tahu betul resep makanan Ikana. Karena itulah butuh kesabaran berlebih kalau mau makan di Ikana.

Malang terkenal dengan Apel Malang, terkenal juga dengan agrowisata petik apelnya. Kusuma Agro adalah yang terbesar dalam agrowisata ini. Tidak ada angkutan umum yang mencapai Kusuma. Tapi kita bisa naik ojeg dari terminal Batu sampai di depan tempat penjualan tiket wisata. Tarif ojegnya Rp5.000. Ratusan orang setiap harinya berkunjung ke kebun apel Kusuma. Setelah membeli tiket yang kurang dari 50 ribu (tergantung paket), kita diajak untuk berkeliling kebun sambil diberikan bermacam informasi. Sampai di kebun, kita dipersilakan untuk memetik dua buah apel. Memetiknya harus sesuai dengan yang diajarkan petugas, diputar sampai putus, bukan ditarik. Dari kebun apel ini, gunung Pandarman dan Gunung Arjuna gagah berdiri di ujung sana. Indah.

Saya penasaran dengan Jatim Park yang menjadi rekomendasi kuat dari teman saya. Tempatnya tidak jauh dari Kusuma Agro, tinggal naik ojeg seharga Rp5.000. Ada bermacam wahana di dalam Jatim Park. Bisa dibilang mirip Dufan mini. Ada jet coaster, bom bom car, dsb. Tapi semua wahana itu tidak ada yang membuat jantung saya berdetak lebih cepat, terlalu biasa. Hanya satu yang menurut saya seru, yaitu rumah hantu. Tidak berani saya masuk sendiri ke dalamnya.

Tiga jam cukup bagi saya untuk mengitari seluruh wahana yang ada di Jatim Park, termasuk bird park dan reptile park. Mungkin ini karena hampir semua wahana tidak perlu mengantri. Kontras dengan dufan yang rata-rata wahana perlu 1 jam antrian.

Demikian beberapa alternatif tempat yang bisa dijadikan referensi hiburan pembaca sekalian ketika berkunjung ke Kediri dan Malang. Semoga bermanfaat…=)

Destination:

1. Kampung Bahasa

2. Alun-alun Pare

3. Garuda Park

4. Puluhan tempat makan di Pare

5. Candi Tegowangi

6. Candi Surowono

7. Pemandian Surowono

8. Goa Surowono

9. Menara masjid tertinggi di Kediri

10. Gunung Kelud

11. Kosan Arya

12. Matos (Malang Town Square)

13. Rumah Cak Nu

14. Cemoro Lawang

15. Bantengan

16. Pananjakan

17. Bromo

18. Ikana (tempat makan)

19. Kusuma Agrowisata

20. Jatim Park

21. MOG (Mal Olympic Garden)

22. Rumah Dian

23. Pameran Foto di Perpus Pusat Malang

Cost:

Bus Lorena Jakarta – Kediri 215.000

Makan+wisata Kuliner 328.000

Bromo Trip 478.000

Kelud Trip 20.000

Transpor dalam kota 69.000

Kosan 2 minggu 70.000

Biaya sewa sepeda 2 minggu 20.000

Program di Kampung Bahasa 44.000

Buku Program 35.000

Masuk Jatim Park 30.000

Kereta Bisnis Bangunkarta 150.000

TOTAL 1.459.000

19
Jan
09

Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap

di atas Bromo yang sedang berasap

Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?

Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.

Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.

Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.

Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.

Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.

Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.

Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.

Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!

Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.

Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.

Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.

Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!

Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.

Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo

Dataran sabana menuju Bromo

Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.

Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo

Lautan pasir menuju Bromo

Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.

Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.

Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.

Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.

Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.

Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.

Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.

Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.

Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.

Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.

Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.

Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.

Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.

Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.

Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.

Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.

Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.

Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.

Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.

Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.

Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.

Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)

Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta

Kereta Jakarta – Malang 55.000

Stasiun – Arjosari 2.500

Arjosari – Gang Cak Nu 4.000

Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000

Biaya nebeng truk 25.000

Hotel 50.000

Kupluk + sarung tangan + syal 18.000

Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000

Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000

Probolinggo – Malang 14.000

Arjosari – Stasiun 2.500

Malang – Jakarta 55.000

Makan 10 x 7000 70.000

TOTAL 392.000

12
Jan
09

Kampung Bahasa; Sentra Kursus Bahasa Inggris Termurah di Indonesia

situasi belajar di salah satu kursusan

situasi belajar di salah satu kursusan

Lokasi tepatnya adalah di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya berani katakan kalau di sini adalah pusat kursus Bahasa Inggris termurah dan terbesar di Indonesia.

Bayangkan saja, satu program intensif setiap hari selama 1 bulan dengan pertemuan selama 1,5 jam dihargai kurang dari 100 ribu. Kontras dengan EF yang bahkan mencapai 1 juta/bulan untuk pertemuan yang hanya 3 kali seminggu.

Namun, memang tempat belajar mengajarnya sederhana. Ada yang di dalam ruangan yang dibentuk dari batako tanpa semen dan cat, lalu duduk di kursi kayu. Ada juga di ruangan bersih tapi duduk lesehan. Bahkan ada yang di luar ruangan dengan memanfaatkan gazebo seadanya. Sederhana, namun saya rasa tidak mengurangi makna sedikitpun.

Kemudian saya katakan terbesar karena ada sekitar 30 lembaga kursus bahasa dengan kelebihannya masing-masing. Ada yang terkenal dengan program speakingnya (Dafodiles dan Webster), ada yang jago di grammer (Smart), ada yang punya program khusus TOEFL (Elfast), ada juga yang mempunyai ujian langsung ngobrol dengan turis asing di Bali (Harfard), dan sebagainya. Pilihan tergantung tujuan kita apa.

Ratusan, mungkin ribuan, orang yang sengaja datang ke Pare hanya untuk kursus. Asalnya ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Lampung, NTB, Bandung, dsb. Anak Jakarta juga banyak. Ketiga teman sekamar saya kebetulan semuanya dari Jakarta. Beruntung bagi saya, karena jadi tidak terlalu kaget menghadapi budaya yang baru. Analisis singkat saya, sebagian besar yang kursus di Pare adalah siswa yang baru lulus SMA atau mahasiswa yang juga baru lulus. Dua orang teman sekamar saya baru lulus UNJ dan Unpad. Satu orang lagi baru lulus SMA.

Tidak sulit juga menemui Sarjana Sastra Inggris yang kursus di sini. Salah satu teman saya lulusan sastra Inggris dari salah satu kampus swasta terkemuka mengaku pelajaran grammer di sini dalam sekali, banyak yang tidak didapatnya di kampus. Saya pun mengakui, pengajar-pengajar di sini sudah sangat expert untuk grammer.

Layaknya pusat-pusat pembelajaran di tempat lain, Kampung Bahasa juga menumbuhkan berbagai aktivitas perekonomian di Pare. Banyak tempat-tempat kos yang ditawarkan. Ada dua jenis tempat kos, English Area (EA) dan bukan EA. Kalau yang bukan EA, penghuni tempat kos hanya diberi fasilitas tempat tinggal saja. Sedangkan di EA, ada tambahan program yang ditawarkan untuk memperlancar belajar Bahasa Inggris. Ada macam-macam program yang ditawarkan EA. Program dasar adalah wajib berbahasa Ingris di lingkungan kos. Oleh karenanya, kebanyakan penghuni baru langsung mengidap penyakit gagu akut. Kemudian ada beberapa program tambahan lagi, tergantung tempatnya.

Saya hanya bisa mencontohkan satu EA, yaitu Access. Saya tinggal di Access 4 selama 2 minggu. Biayanya 175 ribu/bulan. Dengan uang sejumlah itu, kita sudah diberi fasilitas akomodasi sekaligus 3 program tambahan. Pertama, pk 5.00 – 6.30 adalah latihan membaca expression kemudian menghapalnya. Ada sekitar 10 expression setiap harinya. Ini sangat penting untuk membantu percakapan sehari-hari. Kedua, pk 16.00 – 17.30 ada kelas Pronounciation dengan logat Amrik. Di sinilah kelebihan Access, pronounce-nya bagus. Lalu, program yang terakhir, pk 18.30 – 20.00, kita diajak berdiskusi, berdepat, presentasi, nonton, dsb untuk mengaplikasikan Bahasa Inggris kita.

Memang akomodasi yang diberikan sederhana. Jangan harap di Kampung Bahasa bisa mendapat kamar kos ber-AC. Mencari kamar yang satu kamar untuk satu orang saja sulit. Kamar saya di Access diisi 4 orang dengan kasur kapuk tanpa dipan dan lemari. Tapi bagi saya fasilitas tersebut cukup nyaman dan manusiawi. Bisa saya katakan, Access tempat saya tingal ini termasuk yang premium, malah bisa jadi yang paling mahal. Tapi Access sering menjadi rekomendasi banyak orang karena memang bagus. Saya pernah dengar cerita, di daerah ini ada yang menawarkan kos (bukan EA) dengan biaya sewa 35 ribu/bulan. Tapi ini jarang-jarang. Kalau saya ambil rata-rata, kos bukan EA di Pare sebesar 75 ribu/bulan.

Program di asrama (EA) sengaja di-set subuh dan sore ke atas supaya pada jam kerja penghuni bisa ikut kursus lagi di luar sesuai tujuannya.

Tempat kursus kebanyakan tidak jauh dari kosan. Sangat mungkin untuk jalan kaki. Tapi sebagian besar memilih sepeda sebagai alat transportasi. Ya, sepeda, ini yang unik. Pertama kali sampai di terminal Kediri, saya terbengong-bengong melihat pemuda usia SMA memakai baju koko, sarung, lengkap dengan pecinya, ber-ontel ria di jalan. Tapi itu sudah biasa bagi masyarakat daerah itu.

Saking “in” nya sepeda, banyak bermunculan tempat penyewaan sepeda. Harganya sekitar 40 ribu/bulan. Bermacam pilihan sepeda yang ditawarkan, tapi kebanyakan sepeda tua. Kalau berniat kursus lebih dari 3 bulan, saya sarankan untuk membeli saja, jangan menyewa. Harga sepeda-sepeda second berkisar antara 100 – 300 ribu. Setelah kursus, sepeda itu bisa dijual lagi ke bengkel sepeda.

sepeda menjadi alat transportasi utama bagi anak kursusan

sepeda menjadi alat transportasi utama bagi anak kursusan

Masalah makanan, lebih mudah lagi. Makanan di sini murah. Sepiring nasi dengan ayam lengkap dengan sayurnya dihargai 4500. Nasi dengan telur dan sayur dihargai 3000. Yang lain mungkin bisa diprediksi sendiri. Budget makan 10 ribu/hari saya rasa cukup.

Untuk hiburan, memang sulit didapatkan di Pare. Kebanyakan dari kami harus pergi dulu ke malang (perjalanan 2 jam) untuk bisa mendapatkan hiburan. Kalau tidak ada program di siang hari, mati gaya rasanya. Mau keluar, rasanya panas betul, mau belajar sudah bosan, mau tidur pun sulit karena panas. Jadi, saya sarankan untuk membawa laptop, kalau bisa yang sudah dilengkapi dengan modem. Atau, bawa apa saja yang bisa membuat terhibur.

Berikut saya coba buat rancangan budget untuk belajar Bahasa Inggris di Pare. Dari perjalanan berangkat dari Jakarta dengan keadaan tidak PD berbicara English dan payah dalam menulis sampai tiga bulan kemudian pulang dengan PD berbicara Bahasa Inggris dan yakin akan grammer yang dibuat dalam karangannya.

Perjalanan dari Jakarta bisa naik Kereta sampai Jombang (kereta Bangunkarta), bisa juga dengan Bis sampai di Kediri. Harga kereta Bangunkarta Eksekutif 180 ribu, Bangunkarta bisnis 130 ribu, ekonomi kurang dari 50 ribu. Harga bis Eksekutif Lorena 215 ribu, tapi itu saya beli di akhir tahun, ketika harga sedang naik, kalau hari biasa bisa lebih murah lagi. Dari terminal Kediri, naik bis Puspa Indah jurusan Kediri-Malang, turun di BEC (tempat kursus paling tua di Pare) atau turun di GP (Garuda Park), kemudian naik becak sampai kosan yang diinginkan. Becak dari GP maksimal 5 ribu. Tawar dulu sebelum naik.

Saran saya, di bulan pertama, santai saja dulu, lihat situasi, perluas pergaulan, cari informasi. Masuk ke EA kemudian ambil program speaking dari Daffodiles untuk membangun keberanian berbicara Bahasa Inggris. Di akhir bulan pertama, kita bisa refreshing dengan mengikuti paket wisata ke Bali seharga 200 ribu. Ada sekitar 10 tujuan wisata terkenal sudah masuk dalam paket itu. Jangan heran dengan harganya. Di pare 100 rupiah juga masih berharga.

Di bulan ke-2 dan 3, coba pindah ke tempat yang bukan EA, kemudian ikuti program Planet English dari kursusan Kresna selama 7 minggu dengan biaya 190 ribu. Dalam program ini ada 5 pertemuan setiap harinya, tersebar dari pk 5.30 sampai pk 20.30. masing-masing pertemuan lamanya 1,5 jam. Perhitungan saya, total semua itu menghabiskan 2.430.000. Namun, Anda masih bisa irit sampai kurang dari 2 juta dengan mengurangi biaya transpor dan meniadakan jalan-jalan ke Bali. Saya jamin, sekembalinya, Anda akan merasa jauh lebih baik dalam berbahasa Inggris…

Semoga bermanfaat…=)

Budgeting kursus di Pare 3 bulan dari Jakarta

Lorena Eksekutif Jkt(Rw. Mangun) – Kediri 215.000

Kediri – kosan 10.000

Beli sepeda 100.000

Makan 3 bulan 1.000.000

Pulsa 3 bulan 150.000

Program speaking di Dafodiles 100.000

Wisata ke Bali 200.000

Program Planet English di Kresna 190.000

Kos di English Area Access (1 bulan) 175.000

Kos di bukan EA (2 bulan) 150.000

Kosan – Jombang 10.000

Kereta bisnis Bangunkarta 130.000

TOTAL 2.430.000

22
Des
08

Backpacking Jogja-Bandung

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja

Backpacking kali ini punya misi khusus, memburu berita. Tapi tentu saja bisa diselingi dengan jalan-jalan ke berbagai tempat yang memungkinkan.

Ada beberapa alternative cara untuk menuju Jogja dari Bogor atau Jakarta, bisa dengan bis atau kereta api. Tapi saya memilih travel karena dirasa lebih praktis. Harga juga bervariasi. Jika betul-betul miskin, kita bisa mengunakan kereta ekonomi dari Jakarta. Setahun yang lalu, kawan saya hanya membayar 37 ribu, mungkin sekarang sudah naik, tapi tidak akan lewat dari 50 ribu. Yang jelas ini jauh lebih murah daripada travel yang bisa lebih mahal tiga kali lipatnya. Perlu waktu 10 jam untuk mencapai Jogja dengan travel. Ada snack dan minuman yang disediakan dari travel, tapi bukan makan malam.

Enaknya, di Jogja ada trans Jogja yang mempunyai rute di dalam kota Jogja. Keberadaannya sangat membantu bagi orang yang belum paham Jogja. Pegawai yang menjaganya pun ramah. Kita bisa bertanya sampai puas tanpa takut dibohongi. Cukup dengan 3 ribu, kita bisa mengelilingi Jogja, asalkan tidak turun dari halte.

Mind set kiri kanan harus diubah ketika sampai di Jogja. Navigasi otak kita harus jalan karena kebiasaan orang Jogja memberitahu arah dengan arah mata angin. Misalnya, ketika ditanya rumah Pak Soleh yang rajin mengaji itu di mana? Masyarakat menjawab, dari sini ke Utara sampai ketemu restoran padang Salero Bundo yang menghadap ke Barat. Masuk terus ke timur sekitar 200 meter maka Bapak akan ketemu rumah Pak Soleh yang menghadap ke Utara dengan pintu utama di Barat. Nah loh, puyeng gak tuh??

Makanan di Jogja bisa dibilang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Asal tidak menampakkan kewisatawanan kita, apalagi di Malioboro, maka kita akan aman dari mark up yang tidak berprikemanusiaan itu. Lebih aman kalau kita bertanya dulu harga makanan sebelum dengan sukses menghabiskan sepiring gudeg.

Kasongan bisa dijadikan tempat cuci mata yang unik. Di sepanjang jalan Kasongan ini, dipenuhi penjual kerajinan dari tanah liat. Bisa dikatakan, Kasongan adalah sentra kerajinan tanah liat di Indonesia.

Siapa yang tidak kenal gudeg? Tapi pasti jarang yang mengenal gudeg paling tua di Jogja, bukan? Adalah Gudeg Yu Djum, yang sudah menginjak ke generasi ketiga dalam bisnis gudeg ini. Tempatnya di sekitar UGM. Tukang ojeg pasti kenal daerah gudeg, tinggal cari saja Gudeg Yu Djum, tidak sulit menemukannya. Tentang harga, memang Yu Djum memberikan harga yang lebih tinggi dibanding gudeg yang lain. Tapi, semahal-mahalnya harga makanan di Jogja masih terjangkau lah. Seporsi gudeg dengan telur pindang lengkap dengan nasinya hanya dibandrol 6 ribu.

Wisata candi? Ah, sudah biasa. Tapi bagaimana dengan wisata candi yang menjual view sunset dari atas candi? Unik bukan? Kalau tertarik, silakan berkunjung ke Candi Boko, tidak jauh dari Prambanan. Dengan merogoh 35 ribu, kita bisa menikmati indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Uang sejumlah itu tidak hanya sebagai biaya untuk melihat sunset. Tapi sudah termasuk makan malam dengan masakan tradisional Indonesia, seperti bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, atau soto. Sambil menunggu sunset, pengunjung juga disuguhi teh atau kopi lengkap dengan makanan kecilnya.

Namun, agak sulit mencapai Candi Boko karena tidak ada angkutan umum yang mencapainya. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka ojeg adalah satu-satunya pilihan. Tidak mengapa, karena tariff yang ditawarkan tukang ojeg di Jogja adalah tariff yang sudah berkonsolidasi dengan isi dompet. Orang Jogja terkenal dengan kejujuran dan keramahannya.

Menuju bandung dari Jogja, juga ada banyak alternative. Tapi sepertinya yang paling nyaman adalah dengan kereta. Untuk kelas eksekutif dihargai 150 ribu. Di dalam kereta, kita disuguhi snack yang cukup untuk menyumpal perut di malam hari. Bantal dan selimut tebal disediakan untuk tiap orang. Sesuai dengan yang dijanjikan, kereta berangkat pukul 21.30 dan sampai di Bandung pukul 5.30. Betul-betul tepat, tidak ada selisih yang lebih dari tiga menit.

Beruntung, saya punya kawan di Bandung yang baik hatinya, Baskara Aditama. Dia bersedia menjemput di Stasiun Bandung. Karena letih berputar-putar di Jogja, sedikit tenaga yang tersisa di Bandung. Hanya mampir wawancara di Pajajaran.

RM Ma’Uneh bisa dijadikan tujuan kuliner yang jempolan. Letaknya di dekat GOR Pajajaran. Ratusan jenis masakan Sunda siap dipesan. Harganya memang agak premium. Sepiring udang yang berisi tiga buah udang windu besar dihargai 60 ribu. Tapi masalah rasa, jangan ragukan. Bermacam menteri dan artis sering makan di tempat ini. menandakan tempat ini memang premium.

Berikut ini lampiran tempat-tempat yang saya kunjungi lengkap dengan biayanya. Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Semoga bermanfaat.

Destination:

  1. Rumah Nenek di belakang FT-UII, Kaliurang
  2. Sasanti Galeri (Next door Hyatt Jogja)
  3. Sentra kerjinan Kasongan
  4. PT. Out of Asia (Tembi)
  5. Malioboro
  6. Ambarrukmo Plaza
  7. Gudeg Yu Djum, Kaliurang
  8. Sunset Boko
  9. RM. Ma’Uneh, Pajajaran, Bandung
  10. Blitz PVJ
  11. 1001Crafts, Pajajaran, Bandung

Cost:

Day 1

Diana Travel Bogor-Yogya 180.000

Makan malam di jalan 17.000

Toilet 2x 2.000

Day 2 (Jogja)

Tambahan travel ke Kaliurang 20.000

Trans Jogja 3.000

Ke kasongan 2.500

Ojeg keliling Kasongan + bantul 25.000

Aqua 1 botol 1.500

Ke Pojok Bateng 3.000

Ke Malioboro 3.000

Batik 20.000

Makan malam (3orang) 29.000

Day 3 (Jogja)

Angkot UII-UGM 6.000

UGM-Tugu 2.500

Ojeg Tugu-UGM-Boko-Malioboro 60.000

Tip buat Satpam Boko 10.000

Trans Jogja 3.000

Mandi di Stasiun 3.000

Makan malam 14.000

Kereta Eksekutif Jogja-Bandung 150.000

Day 4 (Bandung)

Makan Pagi 11.000

Angkot Darul Hikam-Simpang Dago 1.500

Simpang Dago-Pajajaran 3.000

Nonton di Blitz PVJ 25.000

Pajajaran-Simpang Dago 3.000

Simpang Dago-Darul Hikam 1.500

Sebotol Mizone 3.500

Makan malam (2 orang) 25.000

Day 5 (Bandung)

Makan pagi 7.500

Hikam-Simpang 1.500

Makan siang 11.500

Ke lw. Panjang 2.500

Bis eksekutif ke UKI 40.000

TOTAL 691.000