Archive for the 'jalan-jalan' Category

01
Mar
13

Duek Pakat Harusnya Duek-Duek

Seorang warga sedang mengambil sirih dalam acara Duek Pakat. Dok: Iqbal

Seorang warga sedang mengambil sirih dalam acara Duek Pakat. Dok: Iqbal

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Waktu itu, awal 2012, saya sedang di rumah Nenek di Krueng Mane, Aceh Utara.

Setelah Maghrib, nenek bilang mau keluar sebentar, ke acara Duek Pakat. Saya langsung minta ikut. Tempatnya sekitar 100 meter dari rumah, masih di desa Cot Seurani, Aceh Utara. Saya dan nenek jalan kaki.

Duek artinya duduk. Pakat artinya berdiskusi atau bersepakat. Duek Pakat artinya duduk-duduk untuk berdiskusi membicarakan sesuatu, biasanya untuk mempersiapkan pesta pernikahan, seperti yang akan saya datangi ini.

Orang-orang belum datang. Baru ada beberapa anggota keluarga yang sedang siap-siap. Lantai rumah dilapisi tikar. Gelas-gelas diisi dengan teh dan kopi. Tampah-tampah besar dipenuhi dengan daun sirih dan buah pinang yang disusun rapi; daun sirih berbaris membulat rapi mengelilingi potongan-potongan pinang berwarna pucat.

Lepas Isya, tamu berdatangan. Mereka membawa gula yang kemudian dimasukkan ke dalam karung di depan rumah si empunya hajat. Rata-rata memberikan satu kilo. Adatnya memang begitu. Undangan membawa gula, si pembuat hajat menyediakan makanan berat, biasanya nasi tapi tidak mesti.

Saya membuka obrolan dengan seorang bapak yang sudah datang duluan. Dia bilang, duek pakat ini dulu betul-betul duek pakat. Ada diskusinya menentukan ini itu dalam mempersiapkan pesta pernikahan. Tapi sekarang tidak ada sama sekali. MC –dengan berbahasa Aceh- langsung membuka acara, menjadi satu-satunya pusat perhatian. One man show. Dia yang buka, dia yang memberikan informasi dan pesan-pesan, dia juga yang menutup acara. Total paling hanya 15 menit.

Informasinya adalah bahwa tanggal sekian akan dibuat pesta pernikahan si fulan dengan si fulanah, dengan undangan sekian ribu orang. Bahwa warga desa diminta tolong untuk ikut menyiapkan, seperti biasa.

Pesan-pesannya adalah bahwa ibu-ibu yang bantu motong bawang ya motong bawang aja, jangan sampai dibawa pulang. Bahwa warga desa yang diundang makan ya makan di tempat saja, jangan ada yang dibawa pulang. Kejadian-kejadian itu tidak banyak, tapi ada, makanya diingatkan.

Sama seperti kenduri yang dibuat nenek saya, semua akan berjalan autopilot. Yang biasa ngangkut kursi ya ngangkut kursi. Yang biasa ngupas bawang ya ngupas bawang, yang biasa ngeracik menu ya ngeracik. Semua seperti sudah di luar kepala.

Setelah acara ditutup, piring-piring berisi bubur ketan disebar, dengan topping pisang rebus dan nangka. Tiap orang dapat satu piring. Kuah bisa ambil bebas di panci-panci yang disebar di kerumunan hadirin. Ketannya banyak dan mengenyangkan, saya sampai tidak perlu makan malam lagi.

Buat saya, acara duek pakat ini membingungkan, terutama karena tidak ada diskusinya sama sekali. Duek pakat masih dibilang duek pakat walau tidak ada diskusinya, tapi tidak dibilang duek pakat kalau tidak ada makan-makannya. Jadi duek pakat lebih mirip acara makan-makan biasa, atau sekedar duek-duek, tanpa pakat.

26
Feb
13

Membumi di Krueng Mane

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Di Krueng Mane, saya tinggal di tempat kakek nenek dari jalur mama. Halamannya luas, ada pohon kelapa sepuluh lebih. Nenek tahu saya suka kelapa, jadi tidak lama setelah saya datang, langsung dipanggil tukang panjat kelapa. Puluhan kelapa dipetik. Airnya begitu manis dan segar. Dagingnya lembut dan nikmat.

Nenek punya beberapa ekor ayam yang rata-rata bertelur satu butir per hari. Telur ayam kampung. Ayamnya masih bisa lari ke mana-mana, susah ditangkap, masih bisa cari cacing sendiri. Telurnya kecil, tapi manisnya luar biasa. Ini telur ayam kampung terenak buat saya. Kalau tidak dibikin ceplok dengan kuning yang masih meleleh-leleh, nenek bikin telur setengah matang.

Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal

Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal

Kalau pagi, makanan pembukanya adalah pulut pakai tape. Tape nya bukan berbahan singkong, tapi beras. Kayaknya cuma orang Aceh yang bikin tape dari beras. Bentuknya bulat-bulat, agak lebih besar dari bola golf. Kalau di warung biasanya dijual lima ratus sebiji. Sedangkan pulut adalah ketan yang dibungkus daun, lalu dipanggang. Bentuknya memanjang seperti lemper. Juga lima ratusan.

Pulut dan tape berarti ketan dan beras. Walau jadinya double karbohidrat (malah nenek saya nawarin, mau pakai gula gak?) dan tidak ada protein -yang menurut ahli gizi itu gak bagus-, tapi rasanya begitu menggoda. Pulut featuring tape itu duet maut deh!

Gempuran protein baru datang siang dan malam. Di meja makan selalu ada ikan. Ikan jadi lauk utama orang Aceh. Seakan-akan orang Aceh bisa sakit kalau tidak makan ikan.

Kerjaan utama saya di Krueng Mane kalau sedang pulang kampung adalah mandi laut. Saya mandi laut seperti minum obat: pagi dan sore. Mandi laut maksudnya bukan di tengah laut, tapi di pantai. Dari rumah nenek, saya tinggal jalan 10 menit sudah sampai pantai.

Pantai Krueng Mane adalah pantai yang landai dengan pasir putih. Landai sampai-sampai sudah nyebur 50 meter, tinggi air masih 1 meter. Tidak ada batu. Tidak ada karang. Semuanya pasir. Ombaknya sulit diprediksi, kadang besar, kadang kecil, tapi tidak pernah tidak ada. Arus bawah lebih sulit lagi diprediksi, kadang tidak ada arus sama sekali, kadang arusnya gila-gilaan. Sore biasanya lebih berarus dari pagi.

Pernah, saking besarnya arus ke kanan (selatan), sekuat apapun saya coba berjalan, selalu terhempas ke kanan. Baru mencoba sedikit, ombak satu meter datang, pijakan saya lepas. Coba lagi, kena ombak lagi. Lima belas menit sudah kehabisan tenaga.

Tapi ada saat-saat ketika arusnya nol dan ombak minim. Biasanya pagi. Saya bisa mengapung sesuka saya. Berenang segala gaya. Seperti di kolam renang raksasa. Dan rasanya seperti milik sendiri, karena saya belum pernah ketemu sama orang yang berenang pagi.

Musuh pantai Krueng Mane cuma satu: ubur-ubur. Kalau lagi musim, tiap 10 meter pesisir pantai ada bangkai ubur-ubur. Jangan coba-coba masuk berenang. Beberapa tahun lalu saya pernah berenang lagi musim ubur-ubur. Belum sampai 3 menit, kaki saya sudah beberapa kali bersentuhan dengan ubur-ubur. Saya langsung mendarat. Bentol-bentol merah di sekujur kaki. Gatal, tapi saya tahu tidak boleh digaruk. Baru sembuh beberapa minggu kemudian. Sepupu saya malah pernah sampai korengan berbulan-bulan.

Mumpung lagi ngumpul (kebetulan keluarga om saya yang di Jakarta juga lagi ada di Krueng Mane), nenek berencana bikin kenduri, semacam pesta kecil, di rumah, dengan mengundang tetangga-tetangga sekitar.

Kalau di Krueng Mane, tidak sulit mencari tenaga yang mau bantu masak untuk kenduri. Tetangga-tetangga selalu ikut bantu. Kursi bisa dipinjam lewat pengurus desa. Piring bisa pinjam tetangga. Kewajiban utama yang bikin kenduri hanyalah siapin duit dan bilang maunya gimana.

Selebihnya berjalan autopilot. Yang biasa masak nasi ya masak nasi. Yang biasa nyapu ya nyapu. Yang biasa kupas bawang ya kupas bawang. Yang biasa angkat bangku ya angkat bangku. Tidak perlu bikin meeting bagi-bagi dapukan.

Keluarga yang bikin kenduri tidak diberatkan dengan hal seremeh kupas bawang. Untuk persiapan kenduri, saya cuma ikut nemani om saya yang juga nemani seorang penghubung untuk beli kambing di Pasar Geurugok. Dua ekor. Setiap Selasa, di Geurugok (kecamatan sebelah) ada pasar hewan, terutama kambing dan sapi. Ada juga domba dan kerbau.

Mereka memang menyebutnya pasar hewan, tapi tidak ada tempat khusus untuk menampung hewan-hewan itu. Kebanyakan pedagang kambing hanya mengikatkan tali, satu ujung di leher kambing, dan ujung satunya lagi di ranting-ranting pohon. Jadi terlihat banyak tali-tali menjuntai ke atas ranting pohon.

Yang unik, setelah penjual dan pembeli sepakat mau beli kambing yang mana dengan harga berapa, akad jual beli diucapkan. Waktu om sudah sepakat membeli dua kambing seharga sekian pada seorang pembeli, si pembeli –dengan rokok yang masih menempel di mulutnya- segera menyalami om dengan menyelipkan tali kekang kambing di antara dua telapak tangan mereka, lalu disebutkan harga kesepakatan. Deal!

Kenduri berlangsung begitu kilat. Setelah shalat Jumat, dua ratus orang datang, makan, terus pulang, selesai. Tidak ada prosesi sambutan atau ngomong-ngomong dari pembuat kenduri. Saya rasa tetamu undangan itu juga tidak tahu dalam rangka apa ada kenduri itu.

22
Jan
12

Peak Hunter Buat Travelling

Tiga bulan saya keliling Sumatera cuma bawa beberapa kaos, kebanyakan adalah kaos-kaosnya Peak Hunter. Buat saya yang outdoor banget, saya perlu kaos yang gampang nyerap keringat, bikin gak gerah, dan jelas saya perlu kaos yang melarnya enak.

Nah, itu semua saya dapat di kaos-kaosnya Peak Hunter. Kalau saya tracking yang lebih dari 3 km, biasanya saya pakai kaos Peak, kecuali lagi kotor semua, terpaksa deh saya pakai kaos lain. Panas dari dalam tubuh itu gampang keluar kalau pakai Peak.

Saya tanya ke Rendy, si produsen kaos-kaos Peak Hunter, pakai bahannya apa? Dia jawab begini:

“Kalo jenisnya sama kaya kaos merk-merk lain, cotton combed 30s. Cuman emang jenis cotton-nya yang berbeda. Kualitasnya halus. Gw mati-matian cari bahan kualitas gitu. Oh iya satu lagi, ada yang bilang kalo ukuran kaos gw lebih kecil. Itu emang gw buat kaya gitu agar lebih nempel ke badan, sehingga keringat yg keluar langsung diserap kaosnya dan langsung diuapkan ketika kena sinar matahari. Cocok buat light trekking dan backpacker.”

Oh gitu ya. Saya mah kurang paham begituan. Yang penting enak dipakailah.

pakai kaos peak waktu nyeberang dari Kalianda ke Pulua Sebesi

Kaos-kaos Peak sudah saya ajak snorkeling di Pulau Sebesi, masuk ke kandang gajah di Way Kambas, foto bareng situs megalitik di Pasemah, jalan-jalan di Pulau Siberut, makan masakan Padang bareng di Padang. Wah, udah ke mana-mana deh. Kaos Peak emang enak buat ke mana-mana selama judulnya jalan-jalan.

Saya juga suka desainnya. Gak norak. Pernah waktu di Harau saya ketemu sekelompok pemuda dari Bukittinggi yang lagi latihan panjat tebing. Katanya sih mau latihan buat lomba. Saya perhatikan kok mereka pada merhatiin saya, padahal gak saya ajak ngomong.

Saya baru sadar kalau saya lagi pakai kaos Peak yang gambar orang lagi manjat tebing batu dan ada tulisan “Rock Climbing” nya. O oww… mungkin mereka menganggap saya pemanjat juga. Bukan… bukan… saya bukan pemanjat. Saya cuma backpacker kere… =p

02
Nov
11

Panen Tempat Wisata dalam Satu Jalur

Kawasan dataran tinggi menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal, terutama dari kota besar seperti Jakarta. Puncak Bogor sempat berjaya dengan keunggulan tersebut, tapi makin lama orang jenuh dengan kondisi macet yang selalu menjadi momok menyebalkan. Ciwidey kemudian dilirik untuk menjadi alternatif Puncak Bogor, terutama setelah proyek Tol Cipularang tuntas.

Dahulu, Ciwidey dan strawberry menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Kalau ke Ciwidey ya petik strawberry. Namun, sebetulnya banyak tempat lain yang bisa dikunjungi sepanjang jalan dari Ciwidey sampai Situ Patengan, berikut akan dibahas satu per satu.

Kawah Putih

DarikotaBandung, perjalanan menuju Kawah Putih menempuh jarak 46 km atau 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kawah Putih adalah tempat wisata besar pertama yang ditemui sepanjang jalan dari Ciwidey ke Selatan. Kalau tempat wisata kecil seperti petik strawberry di belakang rumah, itu banyak terdapat di sepanjang jalan sebelum Kawah Putih.

kawah putih. Dok: tours88.blogspot.com

Letak pintu gerbangnya di sebelah kiri jalan. Dari pintu gerbang tersebut, perjalanan masih menanjak sekitar 6 km sampai menuju kawah yang sebetulnya tidak berwarna murni putih, tapi ada unsur biru dan hijaunya. Sepanjang jalan tersebut, pemandangan yang tersibak adalah hutan hujan tropis dan Eucalyptus. Berdiri di hamparan kawah berarti kita berdiri pada ketinggian 2.194 mdpl.

Tebing-tebing di sekitar kawah putih membuat suasana menjadi semakin syahdu. Air kawah yang tenang seakan mengajak mata untuk terus mengagumi keindahannya. Apalagi ketika kabut sudah mulai turun, rasanya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kita beranjak pulang.

Dulunya, dari pintu masuk sampai parkiran di atas, pengunjung dibebaskan masuk membawa kendaraannya. Namun, sejak 8 Mei 2010, setelah ditutup dua bulan untuk pemugaran, kendaraan sudah disortir untuk ke atas. Biayanya akan sangat mahal jika membawa kendaraan ke atas. Satu mobil dengan satu penumpang dikenakan biaya Rp165 ribu, tambah 15 ribu tiap penambahan 1 orang.

Sekarang, banyak yang bilang, Kawah Putih jauh lebih baik kondisinya daripada sebelum pemugaran. Juga, disuguhkan atraksi baru bagi pengunjung, yaitu Legenda Kawah Putih Domba Lukutan. Namun, banyak yang mengeluh karena biaya masuknya jadi berlipat sehingga sulit dijangkau. Paket termurah yang ditawarkan seharga Rp 25 ribu. Dengan paket tersebut, pengunjung mendapat karcis masuk dan fasilitas Ontang-Anting, yaitu alat transportasi yang akan mengantar pengunjung ke atas, menunggu pengunjung menikmati Kawah Putih, lalu mengantar kembali ke pintu masuk.Adayang bilang, memang harus seperti itu untuk membuat suatu kawasan wisata tetap terjaga keasriannya.

Emte

Entah kenapa diberi nama demikian. Ketika ditanya, apa Emte itu maksudnya Mario Teguh? Si pengelola cuma tertawa. Tempat wisata ini terbilang baru, belum banyak orang yang tahu. Baru sekitar awal 2010 Emte berdiri. Di dalamnya banyak sekali pilihan wisata. Kalau beberapa tempat wisata memfokuskan bisnisnya pada, pemetikan strawberry atau outbond atau pemandangan indah atau pemandian air panas, Emte hadir dengan semuanya itu. Memang, kualitasnya masih belum sebaik tepat wisata yang focus di satu wahana wisata.

Tempat ini cocok untuk keluarga, rombongan, juga perjalanan sendiri. Biaya masuknya Rp5 ribu, sudah termasuk kolam air hangat. Tapi kolamnya sangat biasa dan agak keruh. Adabeberapa saung besar dan kecil buat berkumpul atau berteduh. Flying fox yang melintasi kolam ikan (bukan kolam pemandian) berbayar Rp15 ribu. ATV ukuran besar Rp50 ribu per 3 lap, ukuran kecil Rp25 ribu per 3 lap. Petik strawberry sendiri dibandrol 30 rb/kg, tapi tidak harus memetik 1 kg. Satu Styrofoam itu setara dengan setengah kg, kita bahkan bisa petik kurang dari itu.

Di tengah-tengah tempat lokasi wisata Emte, terdapat kantin yang harganya lumayan bersaing. Nasi putih dengan ayam goreng special dihargai Rp10 ribu, sotobandungRp10 ribu, nasi goreng strawberry special Rp10 ribu. Yang membuat kantin lebih mempunyai daya saing adalah adanya saung-saung lesehan di seputaran kantin tersebut. Dari saung ini, hamparan pemandangan aktivitas wisatawan Emte bisa terlihat.

Ranca Upas

Ranca Upas. Dok: ayowisata.wordpress.com

Sejatinya, Ranca Upas adalah tempat wisata untuk berkemah. Beberapa orang bilang, kalau belum camping di Ranca Upas berarti belum ke Ciwidey. Pengelola sepertinya tidak mau ketiggalan dengan para tetangganya. Beberapa cottage kemudian dibangun. Pilihan aktivitas juga bertambah dengan adanya outbond. Satu paket outbond dengan 4 games yang salah satunya adalah flying fox, dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Harga ini tentu terbilang murah, terutama jika dibanding tempat wisata di Ciwidey yang menawarkan paket serupa.

Tiket masuk Ranca Upas adalah Rp5 ribu untuk weekdays dan Rp6.500 untuk weekend. Jika mau camping di dalamnya, maka pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.

CImanggu

Mata air panas yang ada di dalamnya berasal dari Gunung Patuha.

Rancabali

Tempat ini merupakan 1 dari 41 kebun milik PTPN VIII. Komoditas utama yang diusahakan adalah the. Seperti perkebunan the lain yang mempunyai lokasi strategis, Rancabali juga –oleh pengelolanya- digarap menjadi satu kawasan agrowisata. Kita bisa melakukan tea walk disana. Petik strawberry juga menjadi pilihan yang menarik.

Walini

Kebun Teh milik PTPN VIII yang ternyata punya kolam pemandian air panas.

Situ Patengan

Di tengahnya terdapat Pulau Asmara. Sebetulnya kurang tepat juga disebut pulau, karena letaknya yang tersambung dengan daratan pinggir Situ Patengan.

30
Okt
11

Ciwidey Bisa Jadi One Day Trip

Perjalanan surveyku menuju Ciwidey hanya menghabiskan biaya Rp70 ribu. Segala pilihan berbayar paling rendah menjadi pilihan utama dalam perjalanan kali ini.

Beberapa hari yang lalu, berdasar keputusan “rapat kampung”, Aku diamanahkan untuk mengurusi segala tetek bengek untuk rekreasi kampung kami yang berada di pinggirankotaJakarta. Maka jadilah malam ini Aku berada di Masjid Salman ITB, sendirian. Walau anggaran survey cukup untuk membayar hostel di Bandung, tapi Aku tetap memilih tidur di masjid untuk mendobrak paradigma di kampungku, bahwa jalan-jalan atau survey itu ribet dan mahal.

Tidak ada sleeping bag, tidak ada matras. Aku tidur di atas karpet yang lumayan tebal, di lantai dua bagian luar masjid, setelah sebelumnya diusir karena Aku tidur di dalam masjid dengan menggunakan mukena sebagai pembalut kaki yang kedinginan (Hehe, maaf ya Pak Satpam). Yang paling membebani pikiran malam itu adalah tas yang kebetulan berisi laptop dan kamera (sebelumnya ada presentasi dan kerjaan dibandung). Letak masjid sangat terbuka. Siapa saja bisa masuk kapan saja. Tapi, ya sudahlah, kalau tertulis besok bukan lagi jadi milikku ya tidak akan jadi milikku.

Paginya, Sabtu 3 Juli 2010, Aku langsung mengecek tas. Alhamdulillah aman. Aku menuju Kopo lalu lanjut ke Soreang. Lalu lintas aman, hanya saja di terminal Soreang ada pasar. Ya namanya pasar hampir selalu bikin macet. Tapi menurutku macetnya tidak terlalu parah, masih bisa ditolerir. Kalaupun tidak mau ambil risiko, setelah gapura besar masuk Kabupaten, sebelum terminal Soreang, ada jalan ke kiri. Kelihatannya jalan mulus dan bagus, tapi kok sepi. Kata supir angkot di sebelahku, itu karena jalan tersebut memutar, biasanya hanya dipakai kalau macetnya sudah gila-gilaan seperti ketika lebaran.

Dari Soreang, Aku naik Colt yang sangat sesak. Dulu, dari Bogor Aku biasa memakai angkutan macam ini menuju Sukabumi. Satu kursi panjang maksimal diisi 4 orang, itu saja sudah sempit. Ini sampai 5 orang! Wah, masyarakat Soreang betul-betul menerapkan azaz efisiensi (baca: gak mau rugi). Memang hitungannya sangat murah, dengan jarak panjang Soreang-Ciwidey, Aku cuma dimintai Rp4 ribu.

Perjalanan semakin sejuk dan memanjakan mata dari Ciwidey sampai seterusnya ke Situ Patengan. Tapi melelahkan menunggu angkot untuk jalan, hampir sejam penumpang angkot jurusan Ciwidey-Patengan cuma bertambah 4 orang! Belum lagi, Aku harus menerima kenyataan, tidak ada penumpang yang punya tujuan sampai Patengan, semua turun di Kawah Putih (sekitar 5 km sebelum Patengan). Si supir cuma menghadapku dengan senyum-senyum, “Maaf ya….” Yah, Aku mengerti.

kawah putih. Dok: ariesaksono.wordpress.com

Kawah putih sudah jauh berubah, katanya sih, demi konservasi yang lebih intensif. Biaya masuk dinaikkan, biaya jauh membengkak kalau kita membawa mobil atau motor ke atas kawah. Ya, mudah-mudahan kebijakan itu efektif. Aku terpaksa mencoret Kawah Putih sebagai tujuan wisata kampungku, selain karena mahal, sebelumnya memang Aku sudah kepikiran, apa ada tempat nongkrong di atassana buat kumpul-kumpul satu bis? Sepertinya tidak –berbekal pengalaman ke sini setahun lalu-.

Tepat di depan Kawah Putih, ada satu tempat rekreasi baru yang teriak-teriak lewat pengeras suaranya, “Masuk Emte (nama tempat wisatanya) hanya Rp5 ribu, sudah termasuk pemandian air hangat.” Wah, harganya oke berat tuh. Aku langsung terpikat lalu berbincang dengan Pak Dede, semacam manajer operasional tempat ini. Pertanyaanku, “Pak, saya tahu ini tempat baru, tapi apa harus teriak-teriak begitu buat nyari ‘pasien’?” Dijawab, “Wah, iya. Malah di atas Kawah Putihsana kami bagi-bagi brosur Emte.” Hmm, persaingan bisnis penuh intrik ya. Obrolan semakin hangat karena ternyata beliau lulusan Agronomi yang cukup peduli dengan pengembangan Agrowisata, cocok. Kami bicara banyak hal tentang konsep ideal pengembangan wilayah dan kasus-kasus yang bikin agrowisata hancur.

Memang, tidak berlebihan kalau Emte disebut “tempat wisata segala ada” karena di dalamnya ada segalanya, yaitu tempat pemetikan strawberry, tanah lapang yang luas (penting untuk rombongan yang butuh tempat kumpul), tiga kolam air hangat, tempat pemancingan, restoran yang murah meriah tapi masih berkesan eksklusif, permainan outbond yang memang masih sedikit tapi sudah ada flying fox, sarana dan prasarana ATV, dsb (detail harga dan pilihan ada di rubrik Ordinat).

Ketika Aku survey harga makanan di restoran Emte, ada seorang pegawai resto yang mendekat sambil berbisik, “Di sini makanannya enak mas, murah lagi,” lalu bisiknya semakin dekat dan semakin tipis, “Ada ‘jatah’ buat Tour Leader nya juga loh, kalau bawa peserta ke sini,” sambil tersenyum. Aku juga ikutan tersenyum.

Lanjut, Aku jalan kaki ke atas, ada Ranca Upas di sebelah kanan. Di sini utamanya adalah tempat perkemahan. Di dalamnya ada penangkaran rusa yang katanya sudah ditata lebih rapi, tapi rusanya ternyata hanya 17 ekor. Pengunjung yang datang sepertinya tidak terlalu banyak. Aku tidak masuk ke dalam karena waktu semakin mepet, Aku harus sudah minggat dari Ciwidey sebelum sore karena angkutan akan raib setelahnya.

Masih jalan kaki, Aku lanjut ke Taman Wisata Cimanggu di sebelah kiri jalan. Utamanya tempat ini menjual kolam pemandian air panas, airnya betul-betul panas, bukan hangat. Sepertinya, hanya orang gila yang bisa langsung nyemplung dan berenang. Di dalamnya sangat ramai. Hampir tidak ada tempat sepi di seputaran kolam pemandian. Menurutku, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sari Ater di Lembang. Tapi di sini jauh lebih murah dan tidak ada anggapan seperti di Sari Ater, “apa-apa duit, nambah lagi nambah lagi”.

Situ Patenggang. Dok: yussi.host22.com

Menuju Situ Patengan, Aku naik angkot dengan harga Rp7 ribu, sudah termasuk tiket masuk. Wah, ramai sekali hari Sabtu ini. Namun, menurut beberapa penjaja jasa perahu penyebrangan, ini katanya belum terlalu ramai dibanding hari Minggu. Perahu betebaran karena memang itu yang paling dicari pengunjung untuk menyebrang ke Batu Cinta, atau sekedar mengelilingi danau. Mendengar Aku sedang survey, beberapa orang mendekat, menawarkan jasa perahu yang dikorting, tadinya Rp20 ribu untuk mengitari danau, jadi Rp15 ribu, mereka juga menggoda dengan, “Nanti adalah jatah buat Tour Leader-nya,” sambil berbisik.

Waktu semakin tipis, setelah Ashar, Aku bergegas menuju Ciwidey-Soreang-Cihampelas. Aku ingin mengajak rombongan kampungku ke tempat belanja ini. Pikirku, kalaupun acara tidak terlalu berhasil, mungkin bisa tertutup dengan diberikannya acara belanja ini. Mudah-mudahan, Ibu-ibu akan berbinar dan lupa untuk berkomentar, “Ah, si Iqbal nih gak asik bikin acaranya.”

Untuk itu semua, dengan perjalanan dari Bandung-keliling Ciwidey-Bandung, Aku menghabiskan hanya Rp70.000, dengan perincian: makan pagi (lontong sayur) Rp5 ribu, angkot ITB-Caringin Rp3 ribu, angkot ke Kopo Rp2 ribu, Kopo-Soreang Rp2 ribu, Soreang-Ciwidey Rp4 ribu, Ciwidey-Kawah Putih Rp8 ribu, makan siang (nasi+telur) Rp5 ribu, menuju Patengan + tiket Rp7 ribu, penyebarangan perahu Rp10 ribu, Patengan-Ciwidey Rp6 ribu, Ciwidey-Soreang Rp4 ribu, Soreang-Kalapa Rp6 ribu, Kalapa-ITB Rp3 ribu, makan malam (nasi+telur+kacang merah) Rp5 ribu. Total biaya bisa rendah karena, pertama, Aku selalu pilih cara termurah. Kedua, Aku dapat keistimewaan sebagai “surveyor” yang mendapat tiket masuk gratis ke beberapa tempat wisata dan perahu murah ketika di Patengan.

Setelah pulang, pikiran berkecamuk ingin membuat rencana perjalanan ala backpacker yang bisa menghampiri banyak tempat wisata di daerah Ciwidey. Gambaran besarnya, total biaya Rp214 ribu dengan 5 tempat yang dikunjungi, yaitu Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ranca Upas (termasuk outbond 4 games, salah satunya flying fox), Situ Patengan, dan Emte. Sisipan ide gilanya: tracking mengitari Situ Patengan! Mungkin suatu saat akan kubuat open trip untuk perjalanan berikut:

Sabtu

6.00: Kumpul di Kampung Rambutan

6.00-10.00: Menunggu bis ngetem dan perjalanan menujuBandung(Leuwi Panjang)

10.00-11.30: Leuwi Panjang-Ciwidey, menggunakan mobil Colt/L300

11.30-13.00: Menunggu angkot ngetem dan perjalanan menuju Kawah Putih

13.00-15.00: Menikmati Kawah Putih

15.00-15.30: Menuju Pemandian Cimanggu dengan berjalan kaki

15.30-17.00: Menikmati Cimanggu

17.00-17.30: Menuju Ranca Upas dengan berjalan kaki

17.30-18.00: Pasang tenda, kalau tidak ada yang bawa, gelar matras dan sleeping bag

18.00-07.00: Bebas

Minggu

7.00-7.30: Menuju Situ Patengan

7.30-12.00: Tracking mengelilingi Situ Patengan, dari kiri ke kanan. Katanya akan menemuipadang rumput yang indah dan mata air yang segar.

12.00-13.00: Menuju Emte

13.00-14.00: Istirahat, menikmati Emte

14.00-20.00: Menuju Jakarta lewat Ciwidey- Leuwi Panjang

Biaya:

Bis Rambutan-Leuwi Panjang PP Rp80 ribu

Colt Leuwi Panjang-Ciwidey PP Rp12 ribu

Angkot Ciwidey-Kawah Putih/Emte PP Rp14 ribu

Angkot Kawah Putih/Emte-Situ Patengan PP Rp10 ribu

Masuk Kawah Putih Rp25 ribu

Masuk Cimanggu dan sewa tempat nongkrong Rp17 ribu

Masuk dan camping di Ranca Upas Rp17 ribu

Outbond 4 games di Ranca Upas Rp35 ribu

Masuk Situ Patengan Rp4 ribu

TOTAL 214.000

01
Okt
11

I’m Iqbal and I’m NOT a Terrorist

Tahun lalu (2010), saya mau ngetes, saya bisa gak sih jalan jauh. Start awal dari Lengkong (Nganjuk, Jatim), targetnya sampai Trowulan (Mojokerto, Jatim) yang itu jaraknya 40 km. Saya jalan dari pagi sampai sore, tapi gak bisa sampai tujuan, cuma kuat 30 km.
Selama di perjalanan, saya pakai sorban buat nutup kepala biar ngurangin panas. Ini bukan karena saya mau kelihatan alim, tapi karena memang yang paling enak itu sorban, lebar dan tipis, terus bisa nutupin sampai pundak telapak tangan. Kebetulan juga jenggot saya lagi banyak waktu itu.

Yang menarik, beberapa orang, ada juga bocah SD, meneriaki saya teroris. Saya sampai ke kesimpulan bahwa anggapan itu karena saya pakai jenggot dan sorban. Jadi keduanya itu sudah benar-benar, kalau kata orang pemasaran, sudah jadi top of mind orang-orang bahwa jenggot dan sorban identik dengan teroris.

Kalau orang tanya pasta gigi itu apa, mereka jawab Pepsodent. Kalau ditanya air mineral itu apa, mereka jawab Aqua. Nah, kalau ditanya teroris itu siapa, mereka bakal jawab orang islam yang jenggotan dan sorbanan.

Saya pernah baca catatan perjalanan seorang wartawan yang keliling Indonesia setahun pakai motor. Ya namanya lagi bertualang kan hidupnya gak teratur, jadi jenggotnya juga lebat. Kalau dia lagi ada di pulau-pulau kecil, terutama yang di perbatasan, sering kali beberapa pihak yang ngakunya berwenang menggeledahnya karena, mereka pikir, ada indikasi orang ini teroris yang mau nyebrang ke negara sebelah. Jadi kalau jenggotan perlu lebih diwaspadai.

Kalau diperhatikan di film-film yang keluar 5 tahun terakhir, terutama yang keluaran Hollywood, sebutlah Green Zone dan Body of Lies, gerombolan teroris selalu digambarkan beragama islam, jenggotan, dan sorbanan. Juga, orang islam gak mau bergaul sama non-islam. Doktrinasi banget! Saya gemes banget waktu nonton film ini.

Hey! Saya orang islam, saya jenggotan, tapi saya bukan teroris tauk! Boro-boro pegang bom, petasan aja enggak.
Mudah-mudahan bukan karena pandangan teroris begini yang bikin kita, orang islam, meninggalkan sunah pelihara jenggot. Ngapain malu. Justru kita harus balikin doktrin yang begituan dengan jadi orang islam yang jenggotan, yang gak malu pakai sorban, yang bisa supel sama masyarakat, yang suka bantu orang, yang suka sholat sama puasa sunah. Masyarakat bakal menilai dan doktrinasi “jenggotan itu teroris” bakal bersih sendiri. Mudah-mudahan ya.

25
Agu
11

Sapi Perah di Segitiga Emas Masih Berdetak

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Seperti cerita di negeri dongeng. Sampai detik ini, masih ada produsen susu sapi yang bertahan meneruskan usaha nenek moyangnya di tengah jantung kota ibukota, dikelilingi gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Lebih dari lima puluh sapi perah berbagai usia masih hidup dan masih produktif dimiliki Mirdan. Dua ratus liter susu sapi disuplai dari tempat ini setiap harinya. Menurut Ridho, kakak kandung dari Mirdan yang juga mengelola peternakan ini, mereka sudah merintisnya sejak tahun 1960. Peternakan ini merupakan usaha turun-temurun keluarganya.

Letaknya dekat sekali dengan kawasan Mega Kuningan, tepatnya di Jalan Perintis, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tidak persis di pinggir jalan perintis, tetapi ada semacam lorong kecil sepanjanglimapuluh meter yang memang hanya menuju peternakan ini. Di jalan perintisnya sendiri, kemacetan khas ibukota dijumpai setiap hari pada jam masuk dan keluar kantor.

Kedua keadaan tersebut sangat kontras sekali terasa. Di jalan raya, segala kemodernan kental sekali, mobil-mobil mewah berbondong-bondong menuju atau keluar perkantoran. Tetapi ketika berjalan sedikit ke dalam peternakan, hawa pedesaanlah yang menyeruak, alami sekali. Tampak jelas di sekeliling peternakan sapi perah ini gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi menampakkan kekuasaannya. Sapi perah di kawasan ini sudah ada sejak dulu, sebelum gedung-gedung tinggi disekitarnya dibangun, bahkan sebelum dipikirkan akan dibangun.

Bekas Sentra Susu Jakarta

Memang kawasan ini dulunya adalah tempat produksi susu sapi terbesar diJakarta. Bahkan ada suatu gang yang dinamakan gang susu. Sepanjang gang susu ini dulunya dipenuhi sapi perah. Sekarang tidak ada satupun sapi yang terlihat di gang susu. Namun, plang nama Gang Susu masih tetap tegar berdiri menjadi saksi bisu kejayaan akan susu sapi di tempat ini dulu.

Ahmad Mirdan adalah salah satu dari sisa peternak itu. Usaha peternakan miliknya saat ini sudah dilakukan sejak dua generasi sebelumnya. Jadi, Mirdan adalah generasi ketiga. Ia dan keluarganya memiliki lebih darilimapuluh sapi berbagai usia, ada yang siap perah ada juga yang belum. Terlihat juga belasan kambing yang ikut diternakkan di tempat ini. Bisa dibilang, lahan peternakan seluas kurang lebih 200 meter persegi ini kurang layak lagi untuk ditempati sapi-sapi dan kambing-kambing itu karena harus berjejalan dengan jarak antarsapi yang sangat kecil.

Beternak sapi di bawah gedung-gedung tinggi. Dok: Iqbal

Setiap hari, Ridho memerah sapinya dua kali, yaitu pada pukul 6 pagi dan 4 sore. Produksi susu dari peternakan ini sekitar 200 liter per hari. “Saya jual ke loper-loper susu yang berani membeli dengan harga tujuh ribu per liter. Kalau tidak ada yang beli ya saya jual ke koperasi. Susu pasti laku dijual,” kata Mirdan. Ridho menambahkan, terkadang ada juga pembeli yang langsung datang ke tempatnya untuk membeli susu. Minimal pembelian adalah satu liter. Harga yang diberikan sama dengan harga untuk loper.

Setelah sapi diperah, biasanya para loper susu sudah menunggu hasil saringan susu itu untuk diedarkan ke berbagai pelosok ibukota. Kemasannya ada dua jenis, plastik dan botol. Botol-botol yang dipakai ini adalah hibah dari pemerintahan Soeharto dulu. Ukurannya ada yang setengah dan ada yang satu liter.

Dulu, para loper susu ini menyebarkan susu dengan menggunakan sepeda yang disemati kantong-kantong di sekujur tubuh sepeda. Namun, sekarang tidak perlu mengayuh sepeda sampai berpuluh kilometer lagi karena biasanya loper sudah dilengkapi dengan sepeda motor.

Pemindahan sentra susu Jakarta dari Kuningan ke Pondok Ranggon dilakukan sekitar tahun 70an. Saat itu, Jakarta mulai melakukan pengembangan kawasan Mega Kuningan. Sedikit demi sedikit peternak pindah ke Pondok Rangon atau memilih untuk menutup usaha sapi perahnya sama sekali.

Proses pengembangan kawasan Kuningan menggerus lahan-lahan kosong yang biasa ditumbuhi rumput. Dengan begitu, Mirdan dan Ridho merasa kesulitan mencari hijauan sebagai pakan sapi-sapi mereka. “Biasanya kami ngarit sampai ke Cilandak,” kata Ridho. Memang mendapatkan hijauan menjadi kendala bagi peternak di daerah perkotaan. Di Pondok Ranggon pun mencari hijauan sudah memperlihatkan kendala.

Bahan pakan selain hijauan relatif lebih mudah didapatkan. Ridho bercerita bahwa pakan yang diberikan terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan potongan-potongan singkong, selain hijauan yang diberikan dalam jumlah paling besar. Ada komposisi tertentu yang dipercaya efektif menghasilkan susu lebih banyak.

Kalau dilihat dari sudut pandang para loper susu sebagai distributor andalan, mereka diberi pilihan yang berat, membeli susu ke Pondok Rangon dengan harga relatif lebih murah, yaitu sekitar 4 ribuan tetapi biaya distribusinya lebih tinggi, atau membeli ke Mirdan, mahal tetapi dekat.

20 juta per meter

Menurut Mirdan, lahan peternakan miliknya sekarang berharga 20 juta/meter. “Sampai sekarang belum ada penawaran harga yang cocok buat saya jadi belum saya jual,” akunya. Mirdan tidak segan untuk menjual lahan peternakan mininya itu jika ada tawaran menarik. Pengembang kawasan Mega Kuningan masih mematok harga tertinggi 10 juta/meter. Harga tersebut masih ditolak oleh Mirdan.

Bagi Mirdan, bisnis usaha sapi perah masih cukup menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, keuntungan bersih dari satu ekor sapi produktif adalah lebih dari 10 juta dalam satu tahun. Sedangkan Mirdan memiliki puluhan sapi yang masih produktif. Jadi, memang hasil dari beternak sapi di kawasan ini sama menggiurkannya dengan menjual lahan peternakannya kepada pihak pengembang.

Kalau lahan Mirdan ini sudah dijual, habis sudah bekas-bekas kejayaan kuningan sebagai produsen susu. Sapi berubah menjadi gedung. Lebih gagah memang, tetapi juga lebih sombong.

09
Jul
11

Candi Boko: Bukan Sekedar Tumpukan Batu

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Letaknya tidak jauh dari Candi Prambanan. Situs candi yang ada di dalamnya terawat dengan apik. Yang membuat Boko unik dibanding wisata candi yang lain adalah pemandangan sunset yang bisa membuat kita terkesima karena begitu indahnya. Wisata sunset dijual di Taman Wisata Ratu Boko ini. Jika datang dalam hitungan rombongan,  kita bisa meminta kursi-kursi diletakkan di belakang restoran. Di bawah langit kita bisa makan malam ditemani pemandangan sunset yang begitu cantik. Oh indahnya.

Letaknya masuk ke teritori Yogyakarta, tepatnya di kecamatan Prambanan, Sleman. Situs ratu Boko bisa dicapai melalui jalan raya Yogyakarta-Solo. Pada km 17, belok ke kanan sejauh 3 km. Sayangnya, tidak ada angkutan umum yang mencapai situs ini. Pengunjung harus membawa kendaraan sendiri atau naik ojeg dari Prambanan. Kalau menyukai tantangan, bisa saja kita menapaki tanjakan sepanjang beberapa kilometer untuk mencapai Situs Boko.

Perjalanan itu akan terasa tidak berarti ketika kita sudah mencapai situs ini. Pemandangan dari atas begitu indah. Sawah-sawah terhampar dengan indahnya. Kita bisa melihat Yogyakarta dari situs ini. Gunung Merapi terlihat jelas sebagai latar belakang Candi Prambanan yang juga terlihat dari situs Boko.

Untuk memasuki Taman Wisata Ratu Boko, wisatawan dikenakan tariff sebesar Rp7.000 untuk wisatawan nusantara (wisnus) dan US$10 untuk wisatawan mancanegara (wisman). Untuk nilai tukar dolar saat ini, bisa dikatakan wisman dikenakan biaya sampai 15 kali lebih besar daripada wisnus. Tentunya pengelola mempunyai alasan sendiri untuk kebijakan ini.

Satu hal unik yang ditawarkan Taman Wisata ini, yaitu paket “Boko Sunset”. Ternyata sunset bisa juga dijual. Memang, sunset terlihat cantik sekali dari Situs Boko.

Suasana mistis yang damai menyeruak ketika matahari kembali ke peraduannya. Indah sekali. Cahaya emas tersebar ke seluruh penjuru langit. Hanya beberapa menit, tapi indahnya bukan main.

Sunset di Boko. Dok: Iqbal

Paket Boko Sunset ini hanya dilakukan ketika cuaca sedang bagus. Dimulai pukul 4 sore, wisatawan disuguhi dengan beberapa makanan ringan ditemani dengan kopi atau teh. Setelah matahari betul-betul tenggelam, acara dilanjutkan dengan makan malam. Menu-menu yang ditawarkan merupakan masakan tradisional Indonesia, seperti  bakmi goreng, bakmi godog, nasi goring, dan soto.

Untuk satu paket Boko Sunset ini, harga yang dikenakan kepada wisman dan wisnus berbeda-beda. Wisman dikenakan tariff sebesar Rp75.000, sedangkan wisnus hanya Rp35.000. Menurut pengelola, setiap harinya, wisatawan yang mengikuti paket ini sekitar 10 orang. Kebanyakan dari mereka adalah Wisman.

Boko Trekking

Ada juga paket trekking yang ditawarkan manajemen Boko. Book Trekking dimulai sejak matahari belum menunjukkan selendangnya. Dari pukul 3 pagi, wisatawan dikumpulkan untuk kemudian diberikan jamuan coffee break. Setiap wisatawan dibekali dengan lampu senter, peralatan tongkat, dan air mineral. Selanjutnya, wisatawan diajak berjalan ke arah gunung Tugel dengan seorang pemandu. Jarak yang ditempuh lumayan untuk mengeluarkan keringat, yaitu 2,5 km. Menjelang terbitnya matahari, wisatawan diajak beristirahat di suatu tempat yang memungkinkan untuk melihat terbitnya matahari dengan jelas. Sambil menikmati indahnya matahari pagi, wisatawan dijamu dengan makanan yang sangat tradisional, yaitu urap. “Para wisatawan senang dengan hal ini, sangat tradisional,” kata salah seorang pengelola.

Setelah puas menikmati urap ditemani dengan terbitnya matahari, wisatawan diajak berjalan kembali ke tempat semula. Sebagai kenang-kenangan, setiap wisatawan diberikan souvenir menarik oleh manajemen.

Untuk wisatawan yang datang pada malam harinya, manajemen menyediakan camping ground lengkap dengan tenda dan berbagai peralatan di dalamnya. Satu paket tersebut, dari mulai camping pada malam harinya, kemudian trekking beserta snack, makan, dan souvenir, wisatawan dikenakan biaya Rp 150.000. Menurut pengelola, yang banyak menikmati Boko Trekking adalah wisatawan nusantara.

08
Jul
11

Batang dalam 2 Jam

Batang tidak berbeda jauh dengan kondisi kota-kota sepanjang Pantura lain. Panas, gersang, berdebu. Aku pinjam sepeda kawanku untuk keliling Batang. Pikiran pertamaku ingin ke pantai. Tapi aku mampir dulu di alun-alun Batang yang letaknya persis di pinggir Pantura.

Sebuah gerobak kecil dan gelaran tikar sudah cukup membuat sebuah sudut alun-alun jadi tempat nongkrong. Di situ ada penjual susu segar yang merupakan pensiunan Pos Indonesia. Aku pesan segelas susu dan makan dua buah gorengan yang enak. Untuk itu aku bayar Rp 4.500.

Dari alun-alun itu, aku menuju Pantai Sigadung (kalau tidak salah). Di tengah perjalanan aku lihat ada tulisan “Tambak Kuda Laut”. Wah, ini bikin penasaran. Baru kali ini aku dengar ada tambak kuda laut. Mau dibuat apa?

Aku masuki gang yang ada tulisan itu. Sampai di sebuah bangunan seperti rumah besar yang dikelilingi aktivitas pekerja. Baunya pesing sekali. Aku tanya ke salah satu pekerja, “Kolam Tambak Kuda Laut nya di mana?”

“Bukan tambak, tapi rambak, artinya keripik.” Jadi, itu adalah pabrik keripik yang namanya Kuda Laut. Bahan keripiknya ya ikan, bukan kuda laut. Sial.

Dok: id.wikipedia.org

Aku goes lagi sampai ketemu jembatan yang di bawahnya banyak kapal-kapal nelayan. Terlihat juga ada semacam tempat pelelangan ikan. Semuanya tampak kumuh.

Baru kemudian aku ketemu dengan Pantai Sigadung. Kotor! Bahkan aku malas turun dari sepeda. Yang menarik dari Sigadung adalah adanya tempat atraksi lumba-lumba. Kaau tidak salah, itu milik Taman Safari. Tapi baru buka pukul 2 siang. Di luar jam itu tidak boleh masuk.

16
Jun
11

Malioboro dan Tetangga-Tetangganya

Yang paling kuingat tentang Malioboro, selain Dagadu dan batik-batiknya, adalah cerita temanku tentang perjalanannya keliling seputaran Malioboro dengan becak yang cuma berbayar seribu perak. Tapi beberapa artikel bilang, mereka (tukang becak) itu niatnya bukan mencari yang seribu itu, tapi dengan kita belanja di tempat-tempat yang sengaja disambangi si tukang becak, dia dapat banyak uang dari si pemilik toko. Jadi, aku pilih berjalan.

Dari Stasiun Tugu ke Selatan sedikit, kita bisa jumpai rentetan penginapan murah di Jalan Pasar Kembang atau orang biasa menyebut Sarkem. Mudah mencari penginapan yang sewanya Rp 50.000 per malam. Banyak penginapan ya otomatis banyak tempat jajanan di sepanjang jalan. Sarkem paling sering direferensikan backpacker ke backpacker lain untuk menginap, juga karena banyak tempat wisata yang dekat darinya.

Salah satu muara Jalan Sarkem adalah Malioboro, jalan yang nyala terus. Banyak orang bilang, Malioboro mutlak dijajaki kalau ke Jogja. Baju, makanan, elektronik, sampai kuda, ada di Malioboro. Mungkin hanya kalau hujan Malioboro baru agak sepi. Itupun agak. Buatku, Malioboro lebih dari itu. Dia jantung buat Jogja. Pusat peradaban sekaligus salah satu pusat perekonomian. Namanya bahkan lebih tenar dibanding Diponegoro, bahkan Sri Sutan sekalipun.

Hari pertama, setelah melewati Malioboro, aku masuk ke Keraton Jogja. Ramai sekali Sabtu ini. Setelah membayar Rp 5.000 untuk tiket masuk dan Rp 1.000 untuk kamera (termasuk kamera HP!), kita dipersilakan masuk melihat-lihat ke dalam. FYI, semua museum di sekitar Malioboro minta Rp 1.000 untuk kamera. Peraturan yang agak aneh menurutku. Kalau tiket masuk ya jelas untuk perawatan, lah kamera? Apa kalau dijepret bisa mengurangi nilai si benda koleksi?

Banyak kelihatan turis dengan warna kulit macam-macam. Seperhatianku, mereka kurang tertarik dengan peralatan-peralatan pribadi milik Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi mayoritas koleksi Keraton. Justru yang menurutku membuat mereka tertarik adalah pemandu yang bisa berbahasa aneka. Bahasa Inggris sudah mutlak bagi para pemandu, termasuk seorang tua yang kulihat berpakaian serupa dengan pamain wayang orang yang sedang menjelaskan tentang Keraton pada sekeompok bule. Sekali kudengar seorang pemandu bicara seperti bahasa Mexico yang banyak “rrr” nya.

Seorang pemandu mendekatiku. Padahal setahuku, aku tidak pasang tampang sedang mau cari tahu atau tampang kebingungan. Dia menunjukkan bahwa ada satu tempat baru, galeri lukisan katanya. Aku diajak keluar lewat pintu belakang yang ada tulisan “Enter” nya, lalu diarahkan ke sebuah galeri mini. Di akhir aku baru sadar, rupanya dia calo lukisan yang tentunya dapat komisi kalau aku membeli lukisan di situ. Ini yang menurutku membuat Keraton kurang nyaman.

Banyak koleksi Sultan HB IX yang tersebar di enam ruangan museum. Koleksi yang menurutku paling menarik adalah tiga buah batu besar bertuliskan pernyataan Soekarno yang mengamanahkan Jogja kepada Sultan, dua hari setelah kemerdekaan. Seorang pemandu (yang ini pemandu tetap di ruangan museum, bukan pemandu yang di luar-luar ruangan) bilang, inilah dalil bagi orang Jogja yang pro penetapan untuk tetap menjadikan Jogja sebagai daerah istimewa.

Ukiran pada batu ketiga membekukan sosok macam apa HB IX itu. Tertulis dalam Bahasa Belanda yang kalau diterjemahkan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Dia sosok yang kuat dan dibanggakan masyarakatnya. Seluruh Jogja menundukkan kepala ketika ia meninggal pada 1988 lalu dimakamkan di Imogiri.

Betul, mayoritas museum di sekitar Keraton menyajikan wisata sejarah, termasuk Museum Kereta, museum kedua yang kukunjungi hari itu.  Awalnya kupikir kereta yang dimaksud di sini kereta uap atau kereta yang ada rel nya itu, tapi ternyata kereta kuda. Dalam museum berbayar Rp 3.000 ini (kamera juga kena Rp 1.000), banyak koleksi kereta kuda yang waktu zaman Belanda banyak dipakai.

Kereta kuda yang dipajang di sini bukan sembarangan, ini punya bangsawan di masa itu. Interiornya berlapis beludru mewah dengan jendela di kanan kiri yang ditutup gorden bermotif mewah. Sebagian koleksi masih rapi jali dengan badan kereta yang tidak berdebu dan tempat duduk di dalam kereta yang terlihat (karena tidak boleh dipegang) lembut. Sayangnya, lampu di dalam museum terlalu redup, jadi beberapa foto di dinding kurang jelas, tulisannya juga, dan koleksi keretanya juga jadi kurang terlihat mewahnya.

Seorang petugas yang terlihat sedang mengelap salah satu koleksi bilang, kereta-kereta ini diaktifkan kalau ada perayaan. Kuda-kuda yang digunakan adalah khusus, dikandangkan masih di areal kompeks Keraton. Tidak sejajar dengan pernyataan petugas lain yang bilang kalau ada parade yang diambil adalah kuda-kuda yang banyak ada di Malioboro. Simpang siur.

Taman Sari (Rp 3.000) menjadi destinasi berikutnya. Letaknya di Selatan Keraton. Dari luar sudah tampak bahwa ini bangunan pas betul kalau dijadikan tempat foto pre-wedding. Betul saja, di dalamnya terlihat beberapa pasang yang sedang foto-foto, tapi sepertinya bukan pre-wedding, melainkan pura-pura pre-wedding. Mereka terlihat teralu muda untuk pre-wedding.

Dua buah kolam besar dengan air jernih menjadi pusat keindahan Taman Sari. Kolam-kolam tersebut dikelilingi tembok tinggi yang berlekuk indah. Pot-pot besar mengeilingi kolam dengan ukuran pot yang sama dan jenis tumbuhan hijau yang sama. Sudut pandang yang lain untuk menikmati kolam tersebut adalah dari lantai tiga sebuah bangunan di salah satu sisi kolam.

Bangunan tersebut juga indah dengan beberapa kamar di dalamnya. Sekilas terlihat seperti penjara dengan jeruji-jeruji besi di jendelanya dan dipan yang terbuat dari beton. Tapi mana ada penjara yang pemandangannya dua kolam jernih berwarna biru?

Beberapa lubang pintu tak berpintu berbentuk setengah oval menjadi penghubung ke banyak ruangan dan ke pemukiman penduduk. Tingginya hanya sekitar 1,8 meter. Mungkin banyak bule yang sudah terjedut di lubang-lubang pintu itu.

Pemukiman di sekitar bangunan Taman Sari ya seperti layaknya pemukiman. Ada rumah, ada poskamling, ada warung, dan ada WC umum. Suasana bangunan tua hilang seketika kalau masuk ke areal pemukiman tersebut. Lebih baik kembali ke areal bangunan Taman Sari.

Tadinya aku mau lanjut ke Museum Sono Budoyo, tapi ternyata jam 2 siang sudah tutup. Kata Satpamnya, biasanya jam 1 juga sudah tutup. Karena sudah mau hujan juga, jadi aku kembali ke penginapan.

Esoknya, aku jalan lagi melintasi Malioboro dari arah Sarkem. Jam 8 pagi, wajah Malioboro belum terlalu tampak. Penjual makanan saja yang tampak banyak. Penjual baju dan aksesoris lainnya mayoritas masih berupa gerobak berbalut terpal yang diikat. Hanya sebagian kecil saja yang mulai membongkar gerobaknya.

Museum Vredeburg terlihat gagah dan menarik dari luar. Tarif masuknya Rp 3.000 (kamera Rp 1.000). Lagi-lagi suguhannya adalah tentang sejarah Jogja. Patung Jenderal Soedirman dan Letjen Urip Sumoharjo menyambut setiap pengunjung yang masuk lewat pintu depan. Taman di pinggir jalan setapak terpangkas rapi menggambarkan bagaimana museum ini dirawat.

Ada beberapa Diorema yang terbagi dalam beberapa ruangan sepi dan gelap. Aku paling suka ketika masuk salah satu Diorema yang mengulas saat-saat Indonesia berpindah Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Terjelaskan bagaimana dinginnya hubungan Belanda dan Indonesia waktu itu. Inisiatif Pangeran Diponegoro dengan menyeru pada seluruh rakyat untuk berperang gerilia menjadi inisiatif yang diakui paling tepat dalam menangkal Belanda. Sebuah serangan umum yang hanya memakan waktu beberapa jam saja bisa membuat Jogja kembali dikuasai pribumi. Rakyat Jogja menggunakan granat gombyok dalam perlawanannya terhadap invasi Belanda. Replika granat ada di sebuah kotak kaca dengan sedikit keterangan tentangnya.

Sebagian diorama menyediakan tombol yang kalau dipencet akan keluar suara orang bercerita tentang kejadian di diorama tersebut. Tapi sebagian (besar!) tombol tidak berfungsi atau berlapis selotip dan tulisan, “Jangan dipencet.”

Keluar dari pintu belakang benteng, aku langsung menemui Taman Budaya berupa gedung yang sepi. Saat itu sedang ada pameran lukisan tapi hanya aku satu-satunya pengunjung. Itupun setelah menimbang-nimbang, ini pameran gratis atau berbayar, untuk umum atau bukan. Tidak jelas karena tidak ada tanda apa-apa di depan gedungnya. Di salah satu teras gedung terlihat beberapa anak umur TK sedang belajar menggambar. Di teras sisi yang lain sedang ada sekelompok gadis sedang belajar menari.

Kios-kios penjual buku berada tidak jauh dari Taman Budaya. Aku teringat Kuitang di Jakarta. Isinya juga tidak jauh beda, ya majalah bekas ya buku bekas ya buku obral ya buku bajakan. Koleksinya lumayan banyak. Tidak kalah lah sama Kuitang.

Tepat di sebelahnya adalah areal Taman Pintar. Setahuku tempat ini adalah tempat buat belajar anak-anak yang dibuka belum lewat 10 tahun. Beberapa gedung media belajar ada di dalamnya dengan tarif antara Rp 1.000 sampai Rp 15.000. Sukur, tidak ada ongkos tambahan untuk kamera.

Justru aku tertarik memperhatikan aktivitas di halaman gedung-gedung tersebut. Sepertinya di luar sini lebih ramai daripada di dalam. Permainan-permainan outdoor yang disajikan sepertinya sudah cukup untuk menggapai maksud rekreasi keluarga. Apalagi gratis. Jadilah ramai betul halaman Taman Pintar.

Satu permainan yang cukup ramai adalah Dinding Berdendang. Terdapat beberapa tabuhan yang terletak vertikal dan kalau ditabuh akan menghasilkan tinggi suara yang berbeda karena ukurannya yang berbeda. Di sebelahnya terdapat keterangan kenapa itu bisa terjadi. Tapi aku tidak yakin mereka membacanya. Mereka hanya mendengarkan suara tabuhan yang naik turun, tanpa ingin tahu kenapa bisa begitu. Mungkin pendiri Taman Pintar bisa berduka dengan kenyataan itu.




April 2014
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.