Arsip untuk Kategori 'islam'

16
Nov
09

Fashion Berbalut Islam 2

logoJFW001Jeny Tjahyawati membawakan tema Matryoshka dengan gaya modern etnik. Terlihat perpaduan budaya Rusia dan Indonesia, lebih detilnya motif boneka khas Rusia dipadu dengan motif songket Klungkung. Warna-warna pastel, ungu, hijau, dan krem marak terlihat. Beberapa boneka digantung jadi kalung. Sepertinya boneka yang jadi kalung ini ready to wear banget deh. Bisa nge-tren di 2010 nih sepertinya. Backsound yang dipakai bikin berasa lagi nonton film-film James Bond. Hehe. Sesuai konsep banget.

Kalung boneka yang khas dari Jeny. Dok: JFW 09/10.

Ida Royani yang namanya sudah cukup melegenda dalam kelas busana muslim menampilkan tema Beautiful Nusa Tenggara. Baru kali ini saya langsung ngerti maksud tema tanpa baca penjelasan. Pastinya banyak menggali kekhasan Nusa Tenggara. “Saya ingin mengangkat keindahan dan keunikan kain-kain etnik dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi busana yang sudah tua, hasil rancangan saya jadi terlihat lebih etnik dan eksotis,” kata Ida sebelum show. Beberapa model jalannya telaten banget, mirip putri Solo. Mungkin karena menggunakan kain songket yang diameter bawahnya minim kali ya. Supaya gak kesandung.

Beautiful Nusa Tenggara. Dok: JFW 09/10.

Hannie Hananto tampil sebagai desainer ketiga dalam sesi busana muslim kedua dalam Jakarta Fashion Week 09/10 ini. Temanya Benji Imaji dengan gaya modern. Benji adalah nama motif batik kuno Jogja dan Cirebon yang terpengaruh motif ukiran Cina. Kolaborasi pink dan hijau yang jadi warna dominan. Motifnya itu mirip labirin. Atau bisa juga mirip chip prosesor. Hehe.

_RVN4644

Benji Imaji. Dok: JFW 09/10.

Monica Jufri memajang The Eclectic Batavia sebagai temanya kali ini. Ia terinspirasi dari pencampuran beberapa unsur budaya -Melayu, Arab, Cina, dan India- yang terdapat dalam budaya Betawi. Juga dari busana pengantin dan kostum tari Betawi. “Keunikan lain terletak pada ornament yang digunakan, mulai dari border, payet, serta sisa-sisa benang bordir yang dijahit acak,” kata wanita lulusan sekolah mode Susan Budihardjo ini. Abu-abu dan kuning pucat jadi warna dominan yang dicampur pada enam busana awal. Tapi enam busana terakhir mengapresiasi abu-abu dan merah.

_RVN4825

The Ecletic Batavia. Dok: JFW 09/10.

Anne Rufaidah menjadi penutup sesi ini, sekaligus menjadi penutup sesi busana muslim. Ia mengusung tema Lost in Space. Warna yang banyak adalah dominan abu-abu atau dominan coklat muda. Beberapa modelnya juga memamerkan tas tangan.

_RVN4853

Lost in Space dari Anne. Dok: JFW 09/10.

Semangat para desainer busana muslim ini terus beranjak. Budaya-budaya lokal ikut banyak diangkat. Semoga 2010 busana muslim makin menggelora lagi karena imbas karya-karya desainer ternama di atas.

15
Nov
09

Fashion Berbalut Islam 1

logoJFW001Sore tadi, satu sesi khusus buat desainer-desainer muslim unjuk gigi. Yessi Riscowati, Henny Noer, Merry Pramono, Iva Lativah, dan Irna Mutiara memajang busana hasil karyanya masing-masing dua belas set. Ini kali pertama dalam acara Jakarta Fashion Week 09/10 secara khusus mengangkat busana wanita muslim. Besok jam 4 sore masih ada sekali lagi sesi yang khusus memajang busana-busana muslim di fashion tent.

Yessy mengangkat tema Oplosan African. Yang menonjol adalah kekuatan warna dan detail aksesori Afrika yang dipadu dengan sentuhan lembut pada potongan lurik yang merupakan busana sehari-hari masyarakat Jogja. Bayangkan, dua karakter yang beda dicampur jadi satu.

_RVN1349

Salah satu hasil karya Yessy. Dok: JFW 09/10.

Henny Noer mengangkat tema Culture Touch. “Yang ingin saya tonjolkan adalah kesan elegan, meskipun yang saya gunakan adalah bahan tradisional Jawa Tengah seperti Tenun torso,” begitu kata Hennie. Inspirasinya dari suasana bangunan Yunani lengkap dengan relief ukirannya. Bisa dibayangkan seperti pilar-pilar besar yang kokoh, bentuk atap yang terlihat bervolume, dan detail ukiran khas Yunani. Itu semua dijadikan busana, bisa dibayangkan ?

_RVN1507

Karya Henny dengan "Culture Touch"nya. Dok: JFW 09/10.

Merry Pramono berkarya dengan tema Emotional Atmosphere. “Saya menampilkan desain perpaduan antara kostum matador dari Spanyol dengan busana muslim kontemporer, kata Merry yang tahun lalu menjadi Parade Designer Terbaik dalam acara yang digodok Mumtaz Jakarta. Konsep desainnya merupakan busana yang berbalut cutting simple yang lebih memperlihatkan detail seperti patchwork, creative fabric, atau warna acak. Sisi feminimnya terlihat betul dalam tiap busana yang ditampilkan. Hijau merah coklat menjadi dominan warna yang disajikan dalam show tadi.

_RVN1551

Matador itu Merah! Salah satu karya Merry. Dok: JFW 09/10.

Iva Lativah punya tema unik, Flowering. Memang di setiap lenggak lenggok modelnya selalu ada saja bunganya. Ada yang dua dimensi alias dibordir, ada juga yang tiga dimensi, bentuk bunga betulan. Ikat pinggang warna-warni yang ditampilkan modelnya cukup menarik perhatian. “Agar motif bunga lebih menonjol, saya menggunakan bahan organdi. Tekstur organdi yang khas membuatnya lebih mudah dilukis. Bukan hanya menggunakan teknik lukis, saya juga menyempurnakannya dengan ornament manic-manik, payet, dan full border,” kata Iva.

_RVN1683

Flowering, karya Iva. Dok: JFW 09/10.

Terakhir, Irna Mutiara. Tema yang diangkat adalah Ode to Life. “Saya ingin menampilkan indahnya kontradiksi,” semangatnya. Warna dominan yang keluar dari catwalk adalah abu-abu, sebagian lagi cokelat muda. Irna terinspirasi dari rancangan gaun pesta yang mengacu pada sesuatu yang berlawanan tetapi menimbulkan kesan indah.

_RVN1771

Kontradiktif! Karya Irna. Dok: JFW 09/10.

15
Nov
09

Anne Rufaidah Bicara Fashion Muslim

logoJFW001Waktu lagi santai-santai ngeteh sambil update blog setelah ikut konpres Jakarta Fashion Week 09/10, di depan saya ada salah satu wartawan dan dua orang desainer. Satu di antaranya Anne Rufaidah. Mereka bicara fashion muslim. Saya diam tapi tetap terus memperhatikan. Di sela-sela wawancara, Anne mampir ke spot minuman. Lalu si wartawan ini (mungkin) karena ngeliat saya serius banget merhatiin, dia teriak, “Ibu Anne ini ada yang mau nanya-nanya.” Lah ???

Karena Bu Anne nya nanggapin dengan baik, saya gak enak buat cabut begitu aja. Jadi saya Tanya satu pertanyaan yang terus merambat karena Bu Anne semakin serius menjelaskan. Lagi-lagi, gak enak kalau mutusin di tengah-tengah. Tapi takutnya gak boleh sama pembuat lomba blog, karena salah satu aturannya, gak boleh narik nara sumber secara special buat kita Tanya-tanyain. Tapi ini keadaannya susah, gak enak banget sama bu Anne kalau ditinggal gitu aja. Mudah-mudahan gak dianulir.

Jadilah kita ngobrol banyak hal tentang fashion muslim di Indonesia. sebelum masuk ke busana muslim, Ibu Anne bicara tentang seleksi ketat APPMI. “Seleksi terakhir kemarin dari 30 pendaftar Cuma 9 yang berhasil dinobatkan jadi anggota APPMI.” Wah, sepertinya ketat nih…

Ibu Anne mulai bercerita, “Busana muslim yang trendi sudah mulai ada sejak tahun 80-an, Cuma yang make kan baru sedikit, jadi belum kelihatan. Tapi setelah diperkenalkan di Festival Istiqlal, setelah depstore-depstore mau jual, jadi mulai bagus…”

“Festival Istiqlal itu sebetulnya bagus sekali, hasil kerja sama Departemen Perindustrian dan Masjid Istiqlal. Pertama kali ada pada tahun 1991, yang kedua Festival Istiqlal pada tahun 94, tapi saying sekali sampai sekarang gak ada lagi.”

Bingung mau nanya apa, saya teringat baju koko Itank Yunasz di rumah. Dengan bodohnya saya Tanya, “Itank Yunasz aja yang saya tahu, Bu. Kayaknya dia yang paling top di Indonesia buat busana muslim ya?” Pertanyaan paling blunder hari ini. Bu Anne sabar menjawab, “Oh, enggak. Itank Yunasz itu termasuk baru. Masih banyak yang juga bagus-bagus dan sudah lama seperti Ida Royani.”

“Kalau bicara perkembangan tren busana muslim di Indonesia, wah agak sulit. Karena wanita-wanita khususnya Ibu-Ibu pada umumnya bukan orang yang stylish dan nurut dengan tren yang baru. Makanya sampai sekarang masih banyak sekali busana muslim yang bordirnya di depan dada, itu-itu aja dari dulu. Kalau ada sesuatu yang baru, misalnya dikasih gembung di pundak, dia akan bilang, ‘ah gak usah deh, yang ini aja,’ gitu. Cuma Ibu-Ibu di Jakarta yang menonjol untuk busana muslim yang trendi. Itupun karena tuntutan lingkungan. Kalau model baru yang dikeluarkan itu baru dua tahun kemudian popular, itupun kalau popular. Ibu-Ibu itu menunggu sampai di lingkungannya mengadopsi tren baru, baru dia ikut.”

“Nah, tren busana muslim di kita pun sedikit banyak terpengaruh oleh Carlin, seorang Perancis. Dia gak hanya ngeluarin tren busana aja, tapi juga interior, arsitektur, tren motif lantai, dan sebagainya. Kemudian oleh APPMI, termasuk Mas Taruna dan Ibu Dian yang mengelaborasi dengan budaya-budaya lokal.”

Begitulah Anne Rufaidah bicara tentang fashion muslim. Sekarang Ibu Anne punya empat tempat yang menjual produk-produknya; Pasaraya, Sarinah, Muntaz Boutique, dan Rumah Ayu. Semoga sukses, Bu !

29
Sep
09

Tentang Air

tetesan air

Akhirnya, Kompas hari ini bertutur juga tentang air di Gunung Kidul. Tapi bukan mengangkat tema “Susahnya mendapatkan air di Gunung Kidul”, kalau itu sih, semua orang juga tahu. Tapi di Desa Bleberan, salah satu desa di Gunung Kidul, dekat air terjun Sri Gethuk, justru air berlimpah. Masyarakat daerah itu tidak perlu menadah hujan lagi. Kontras sekali dengan daerah-daerah sekelilingnya. Bagaikan oase di tengah padang pasir.

Sepantasnya Gunung Kidul adalah pusat sumber air (gunung gitu loh). Tapi sepertinya permukaan tanah di sana terlalu keras atau terlalu mahal untuk digali. Kebetulan di desa Bleberan itu aliran air dalam tanahnya mencuat ke luar. Mungkin karena itu diberi nama “bleber”, airnya sampai bleber-bleber.

Beruntung. Beruntung sekali Indonesia pada umumnya punya air tanah yang berlimpah. Tidak seperti cerita kawanku di Adelaide. Dia bilang, cuci mobil di teras depan rumah saja bisa ditangkap polisi karena buang-buang air. Itu baru di Australia, belum negara-negara yang jauh lebih kerontang lagi.

Sebaik apapun alam, tentunya butuh perawatan supaya manfaatnya bisa langgeng dipetik. Tapi sepertinya belum banyak yang sadar. Lebih banyak yang kufur nikmat. Baru berasa kalau nikmatnya sudah dicabut, mirip sifat orang Bani Isroil.

Tetanggaku yang sedang studi doktor tentang lingkungan hidup bilang, Indonesia itu negara yang paling aneh, air dihargai Rp0. Artinya perusahaan tinggal mencari aliran mata air maka dia bisa mengakses air bersih sesuka hati, gratis! Padahal, menurutnya, negara-negara lain memberikan tariff setiap penggunaan air di perusahaannya. Efeknya tentu saja buruk. Perusahaan akan menggunakan air dengan sangat leluasa. Paling-paling efeknya masyarakat sekitar akan ribut karena limbahnya mengganggu lingkungan. Kalau sudah begitu, ya tanggulangi seadanya saja, bersihkan limbahnya dan rekrut pemuda sekitar untuk jadi karyawan sebagai upaya menutup mulut masyarakat sekitar.

Dalam aturan agamaku, sawah yang pengairannya mengandalkan air hujan punya kewajiban zakat yang lebih besar daripada yang tidak mengandalkan air hujan. Secara tidak langsung aturan itu mengajari manusia untuk bersukur dengan cara memberi lebih karena dia sudah diberi lebih.

Maka mulailah bersukur, kawan. Mulai dari hal-hal kecil seperti menghabiskan minuman dalam gelasmu, sebisa mungkin menggunakan shower ketika mandi (menghemat 40% penggunaan air), dan menutup keran sampai tuntas.