Arsip untuk Kategori 'islam'

25
Mei
12

Titik Rendah Musik

Waktu itu, kalau tidak salah, saya baru selesai kuliah dan ikut pesantren di Jawa Timur. Kami belajar banyak dalil tentang cara kita menjalani hidup, bahwa laki-laki tidak boleh memakai sutra dan emas, bahwa riba itu sungguh jelek, bahwa kita harus berbuat baik pada tetangga walau beda agama, bahwa tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain, dan masih banyak lagi.

Tapi ada satu hadits yang membuat saya langsung merinding dan sepertinya keringat dingin. Tiba-tiba hawanya seperti menjadi panas. Hadits ini betul-betul menohok saya. Diriwayatkan dari Abu Daud (4927): Lagu menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Deg! Kena banget.

Selama ini saya hidup dengan musik. Belajarpun sering pakai musik. Malah waktu sekolah dulu, saya pengikut setia Prambors Top 40 (lagu berbahasa inggris semua) yang list-nya berubah tiap minggu. Saya tahu semua lagu yang lagi hit. Saya selalu punya liriknya yang dulu saya cari di warnet (waktu itu bahkan saya belum punya email, satu-satunya tujuan ke warnet cuma untuk cari lirik). Teman-teman sering menjadikan saya referensi nyari lirik lagu baru. Saya marah pada Ayah yang memaksa saya mematikan kaset Betrayer, band punk lokal. Saya ikut pensi (pentas seni) dan maju paling depan, ikut moshing!

Sebegitunya sampai-sampai sepertinya saya tidak bisa hidup kalau tidak mendengarkan musik. Munculnya hadits di atas, begitu tajam buat saya. Saya deg-degan setelah hadits itu dibacakan.

Tanpa pikir panjang, setelah pengajian siang itu, saya buka laptop, klik kanan di folder musik, delete! Semua koleksi musik hilang dalam beberapa detik.

Iqbal hidup tanpa musik? Sepertinya tidak mungkin. Tapi saya coba. Setahun, dua tahun, sekarang sudah jalan tahun ketiga saya tanpa menikmati musik. Saya hanya dengar musik yang membuat profokatif positif dan saya sangat hati-hati dengan liriknya. Itupun sangat jarang, lima menit sehari belum tentu.

Fine-fine aja tuh. Tidak ada pegal linu karena tidak mendengarkan musik. Tidak ada kehilangan inspirasi dalam menulis (profesi saya penulis). Semua berjalan seperti biasa. Malah saya merasa lebih produktif karena tidak ada rebahan berjam-jam hanya untuk mendengarkan musik. Tidak ada seharian nongkrong di depan MTV.

Sesekali memang saya terpaksa dengar musik bebas, pas lagi naik angkot yang nyetel musik, pas lagi nonton film/video yang ada backsound musiknya, pas lagi mau bahas sesuatu (seperti membuat tulisan ini) atau yang semacam itulah. Tapi itu tidak banyak, dan tidak dinikmati. Entah kenapa saya tidak berhasrat lagi dengan musik. Saya sangat mensyukuri itu. Melepas musik tidak sesulit yang dibayangkan.

Beberapa waktu kemudian, saya menemukan beberapa dalil lagi yang kontra dengan adanya musik:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS Luqman 6-7)

Perut yang dipenuhi nanah busuk itu lebih baik daripada dipenuhi syair (Muslim 2257).

Belakangan ini saya semakin antipati dengan musik, setelah mengikuti pembahasan teori konspirasi lewat media, termasuk lewat musik. Mereka itu jahat sekali. Intinya mereka mau menyisipkan ideologi jelek mereka bahwa agama itu tidak perlu. Doktrin-doktrin negatif dimasukkan dalam lirik yang dikemas dengan instrumen yang nyaman sehingga orang menyanyikannya dengan nikmat tanpa peduli dengan liriknya. Saya coba buka beberapa:

N’sync. Lirik dalam salah satu lagunya: We don’t need all these prophecies (kami tidak butuh semua ramalan ini). Tellin’ us what’s a sign (memberitahukan kita tanda-tandanya: akhir zaman). Paranoia ain’t your way (ketakutan bukan cara menjalani hidupmu). So leave your doubt and your fears behind (jadi tinggalkan keraguan dan ketakutanmu di belakang). Don’t be afraid at all (jangan takut sama sekali). Cause up in outer space there’s no gravity to fall (kerena di luar angkasa tidak ada gravitasi yang bisa menjatuhkan). Pesannya: lupakanlah ramalan-ramalan yang cuma nakut-nakutin itu, selamat datang ke dunia tanpa konsekuensi.

Eminem. Dalam lagu Roll Model, liriknya: Follow me and do exactly what the song says (ikuti aku dan lakukan tepat apa yang dikatakan lagu ini). Smoke weed, take pills, drop outta school, kill people and drink (hisaplah ganja, minumlah narkoba, keluarlah dari sekolah, bunuhlah orang, dan mabuklah).

Spice girl. Liriknya: Make your own rules to live by (buatlah aturan sendiri untuk menjalani hidup). Come on do it! (ayo lakukan!).

John Lennon. Propaganda John Lennon dalam lagu berjudul Imagine: Imagine there’s no heaven (bayangkan kalau tidak ada surga). It’s easy if you try (itu mudah jika kamu mencobanya). No hell below us (tidak ada neraka di bawah kita). Above us only sky (di atas kita hanya langit)… No religion too (tidak ada agama juga).

Sebelum kematiannya, John, seperti yang dikutip The Playboy 1980, mengatakan: The whole Beatle idea was to do what you want, right? Do what thou wilst, as long as it doesn’t hurt somebody (semua ide tentang Beatles adalah untuk melakukan apa yang kamu inginkan, kan? Lakukan apa kehendakmu selama itu tidak melukai orang lain).

Kurt Cobain. Katanya, God is guy (gak sanggup nerjemahinnya!). (I will) get stoned and worship satan (aku akan mabuk dan menyembah setan).

Lady gaga. Ini yang lagi heboh belakangan. Gampang nyari lirik dia yang nyeleneh.

Anda salah kalau berpikir, itu kan hanya musik, kalau kita ikut nyanyiin gak mungkin ikut-ikut begitu.

Pernah dengar Professor Masaru Emoto dari Jepang yang meneliti perubahan bentuk molekul air ketika dibacakan kalimat positif dan negatif? Molekul akan berubah menjadi bagus ketika dibacakan kalimat positif, dan sebaliknya. Teori sepertinya juga bisa menjelaskan kenapa kita dilarang bego-bego-in anak kecil (mengatakan “bego lu!” atau semacamnya ke anak kecil), karena otak si kecil akan mengolahnya untuk menjadi seperti yang orang lain katakan. So watch out your mouth!

Satanis Rex Church mengatakan bahwa satanis menggunakan musik sebagai senjata propaganda. “Art… musik… writing….” katanya.

Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika tahun 1985 mengatakan, “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.”

Eminem pernah mengakui bahwa banyak lirik lagunya yang dimaksudkan untuk menekan “tombol” pendengarnya. Di suatu malam, ada yang menelepon 911, namanya Michael Miller (29 tahun), dia mengaku baru saja menusuk putranya 11 x dan membunuh istri dan putrinya. Itu dia lakukan dalam keadaan kesurupan, sadar ketika semuanya telah berlumuran darah. Dia mengaku pada polisi bahwa sebelumnya dia menyanyikan lirik Eminem: Here come satan, I’m the antichrist (Dajjal), I’m going to kill you!

Etcetera… etcetera…

Just be careful with your choices!

20
Mei
12

Bukan Nafsi Nafsi

(Menanggapi Kontroversi Lady Gaga)

“Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Kemarin sore (19 Mei), TV One dan Metro TV menampilkan tayangan yang tidak berimbang. Mereka memperbincangkan lady gaga. TV One menampilkan seorang musisi besar, sementara Metro TV menghadirkan dua perwakilan promotor musik. Si musisi besar bilang, “Perkembangan musik kita terhambat karena hal-hal yang gak penting begini (penolakan lady gaga)….”

Semuanya pro dengan kehadiran si lady. Presenternya yang mencoba netral jadi keseret-seret ikut pro kedatangan lady gaga. Tidak ada satupun pihak yang kontra dengan kedatangan si lady, padahal judul beritanya “kontroversi Lady Gaga”.

Cerita lain tentang ketidakberimbangan media mainstream, beberapa hari sebelumnya, Indonesia Lawyer Club (TV One) membahas lady gaga. Di sini orang-orang yang hadir memang dari dua kubu: pro dan kontra. Beberapa petinggi FPI dan ulama dihadirkan. Karni Ilyas memberikan kesempatan yang sama banyak untuk kedua kubu bicara, tapi kesimpulan yang diberikan Karni Ilyas tidak berimbang. Dalam closing, Karni membawakan salah satu hadits Bukhori: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.”

Dalam ilmu jurnalistik, pembuka dan penutup tulisan punya pengaruh besar. Pembuka tulisan berfungsi menangkap pembaca agar terus membaca sampai tulisan habis, sementara penutup tulisan akan menjadi semacam kesimpulan yang kita harapkan akan diterima pembaca. Teori ini juga berlaku dalam acara Karni. Secara tidak langsung, Karni mengatakan bahwa orang beriman itu memuliakan tamunya, termasuk lady gaga yang harus disambut dengan baik.

Karni salah konteks dalam hal ini. Betul bahwa tamu dan tetangga harus dimuliakan dan tidak boleh disakiti, tapi tamu dan tetangga yang bagaimana? Zaman Nabi dulu, muslim yang tidak ikut sholat subuh berjamaah saja dibakar rumahnya. Kira-kira bagaimana dengan tetangga yang lesbian, yang auratnya diumbar, yang menyiarkan lirik-lirik syirik?

Lalu si tetangga gak bener ini bilang, “Bos, gue mau nyanyi dan joget-joget di rumah lo dong. Gue emang lesbian dan di lirik gue emang pro lesbian, tapi gak apa2 lah, orang rumah lo gak akan banyak yang mikir ke situ. Yang mikir ke situ akan kalah dengan yang gak mikir ke situ. Mereka sudah terlanjur suka suara dan koreografi gue. Pas gue nyanyi ‘No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life. I’m on the right track baby, I was born to survive’ mereka bakal ikut nyanyi, mungkin bakal teriak lebih kenceng dari gue, hahaha. Pokonya kemasannya bagus deh. Gue kan dapet grammy lima kali, masak gak bagus? Pas manggung, gue akan buka baju sedikit, kayak gak tau gue aja….”

Apa kita akan jawab begini: Ohya, silakan.. silakan masuk. Semua tamu bebas masuk sini, mau nyanyi apa aja bebas, yang liriknya gak bener juga kita terima, sambil pake baju minim pun oke. Yang penting kita bisa nyanyi dan joget bareng. Ini pasti laku! Gue jual tiketnya duluan deh, izin ke Pak Hansip belakangan.

Kalau iya, wah, berarti agama sudah kalah dengan paham liberal. Kalah juga dengan Cina dan Korsel yang berani nolak si lady.

Saya juga jengah dengan beberapa komentar pengalih:

“Ngapain ngurusin lady gaga, itu dangdutan di kampung-kampung sawerannya malah lebih ngeri lagi masukin duitnya lewat mana.”

“Kalau karena porno, lah itu di Youtube kurang porno apa coba? Ngapain ngelarang2 kita. Tutup aja dulu youtube!”

“Ah, udah deh, urus diri sendiri aja dulu, nafsi nafsi aja lah….”

“Gak usah ngurusin kita, urusin tuh koruptor….”

“Apa kalau masuk little monster (nama fans club si lady), bakal tiba-tiba jadi monster beneran? Lirik2 gak ber-Tuhan mah udah dari dulu, bukan cuma lady gaga, dulu ada john lennon dan madonna.”

Lah iya, makanya retsleting yang sudah terbuka kita coba tutup, bukan terus dibiarin kebuka. Kita coba batasi orang-orang yang nyanyi lirik gak ber-Tuhan. Ada yang namanya repetitive power, mengulang informasi yang sama, teruuuus, sampai orang menganggap itu benar, dan yang sebetulnya benar malah menjadi asing. Kita sudah termakan dengan cara macam ini.

TV tidak berhenti menampilkan adegan orang berpacaran, memberi banyak sekali informasi varian cara nembak cewe, doktrinasi malam minggu adalah malam pacaran, puluhan tahun, sampai cara ta’aruf menjadi asing dan seakan-akan Saturday night at home itu gak modern. Sangat penting disadari, bahwa ketika kita nonton TV, kita ada dalam keadaan “Alpha Brain Wave State”, semacam kondisi rileks yang membuat kemungkinan tersugesti lebih besar. Informasi yang salah, kalau diulang terus, bisa menjadi bernilai benar di dalam otak.

Nah, ini juga dilakukan para penyanyi itu. Mereka nyisipin lirik yang asik didengar dan dinyanyikan, padahal maknanya sangat rusak. Seperti john lennon: “Imagine there’s no heaven… no hell below us… No religion too…. Imagine all the people, Living life in peace.” Dia mencoba mengajak free our mind sebebas-bebasnya. Tanpa agama, surga, dan neraka, kita bakal lebih damai. Itu ideology john lennon yang dia coba ulang terus supaya sedikit-sedikit orang ngikutin cara pikir dia. Nanti penyanyi lain nambahin sedikit lagi, repetisi lagi. Lama-lama mereka bisa berhasil. (FYI, The Beattles, ketika di puncak kejayaannya pernah bilang: sekarang fans beatles lbh banyak daripada fans gereja. Pesannya jelas, dia mengajak untuk meninggalkan agama).

Ini yang dikuatirkan oleh Dr. Joe: “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Tentang saweran, video porno youtube, dan koruptor, ya itu memang salah. Tapi apa kita harus membereskan itu semua dulu baru boleh melarang si lady datang? Lagian juga, banyak kok yang sudah mencoba merubah kebiasaan jelek saweran dsb itu tadi. Sambil itu diperbaiki, ini nih ada yang lebih perlu segera dicegah, si lady, makanya perhatian banyak fokus ke sini dulu.

Dalam islam, kita punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Langkah paling bagus adalah memperbaiki dengan tindakan. Kalau gak bisa, maka dengan perkataan. Kalau gak bisa juga, ya minimal hatinya ingkar lah. Saling mengingatkan itu wajib. Jadi gak ada ceritanya nafsi nafsi. Gak ada cerita, “Terserah lu deh, mau ngeganja sambil main cewe di sebelah rumah gue, terserah, yang penting gue sholat, gue baca Quran.” Harus ada pengingkaran, minimal dalam hati.

Mereka yang mencoba melarang datangnya lady gaga adalah mereka yang mencoba mempraktekkan perintah islam itu, sekaligus mereka yang peduli dengan saudaranya. Mereka melakukan pengingkaran tidak hanya dengan hati, tapi tindakan. While we’re talking, they do something!

Bahwa FPI terkadang melewati batas, itu iya. Tapi kadang-kadang saya suka juga melihat keberanian mereka menggerebek diskotek-diskotek liar. Diskotek yang gak resmi (atau resmi tapi melakukan aktifitas gak resmi), tapi bayar sini situ biar aman, polisi pun jadinya gak berani gerebek, tapi FPI berani. Kalau gak ada FPI, diskotek liar itu mungkin jalan terus. Namun memang perlu perbaikan. Kita semua perlu perbaikan. Tapi tidak harus selesai memperbaiki diri sendiri dulu baru boleh mencoba memperbaiki orang lain, kan?

05
Apr
12

Kata Hevea*

Perkenalkan, saya Hevea brasiliensis. Nama yang keren, bukan? Nama belakang brasiliensis menegaskan bahwa saya dari Brazil, kecuali ada unsur politis di balik penemuan nenek moyang saya dulu. Kalau saya wanita, dengan nama begitu, maka saya digambarkan sebagai wanita yang anggun, yang berjilbab lebar, menggunakan manset sampai ujung lengan supaya tidak ada celah terlihat aurat, tidak banyak tertawa, tidak bicara yang tidak manfaat, selalu merendahkan suara, dan kalau ada yang lucu, dia cuma tersenyum manis. Pokoknya anggun deh.

Tapi rupanya tidak seindah itu. Karena saya tinggal di Sunda, jadinya saya dipanggil Pea! Dengan e bebek, bukan e perut. Dan penekanan di huruf p. Hey pea! Hepea gimana kabarnya? Haduh, gak enak didengar… Lebih gak enak lagi, karena saya tinggal di samping kuburan.

Katanya, ini kuburan sakti. Banyak yang datang malam-malam minta macam-macam sama kuburan. Loh saya bingung, minta kok sama kuburan. Minta ya sama Allah. Bangun sepertiga malam yang akhir, doa deh. Mana mereka kadang suka semalaman lagi. Kalau mau buang air, nyarinya pohon. Haduh! Kena deh gue.

Perasaan saya sebal sendiri melihat orang-orang bodoh begini. Kuburan dimintain. Laut dikasih makan. Gunung juga. Katanya dalam rangka wujud kesyukuran. Ngapain coba? Itu kan malah jadi mubazir makanannya. Kalau mau bersyukur ya sama Allah. Sedekah ya sama orang miskin, bukan sama gunung. Laut dan gunung itu makanannya bukan nasi dan sayuran. Mereka punya cara makan dan cara bertasbih yang berbeda. Saya juga, cuma kamu saja yang gak tahu cara saya bertasbih.

Saya ini perasa loh, bukan sekedar seonggok kayu. Kamu kenal saudara saya si pohon kurma? Duluuuu sekali, empat belas abad yang lalu, nenek moyang saudara saya itu menangis karena Nabi sudah mendapat mimbar baru. Dia sedih karena tidak lagi dijadikan tempat Nabi khotbah. Nabi kemudian datang mengusapnya sampai ia berhenti menangis (Ibnu Majah 1414).

Kami ini hidup dan bisa bicara, tapi ada waktunya. Ketika perang besar muslim vs yahudi nanti, semua golongan kami akan menjadi spy-nya muslim. Kami dan bebatuan akan memberitahu pasukan muslim kalau-kalau ada yahudi yang ngumpet di balik tubuh kami, kecuali pohon Ghorqod. Dia akan diam, tidak membantu muslim, karena dia tergolong pohon yahudi (Muslim 2922). Makanya Israel seneng banget nanam Ghorqod.

Nih yah, manusia, saya mau cerita kehidupan saya sehari-hari, supaya kalian juga ikhlas menjalani hidup. Saya ini ya, dilukai terus, minimal dua kali seminggu. Kalau majikan lagi butuh duit, malah saya dilukai tiap hari. Digores-gores pakai pisau sadap. Jangan salah, pisau sadap itu lebih tajam dari pisau ibu-ibu di dapur. Mereka ambil air mata saya, katanya sih, bisa jadi duit. Saya ikhlas saja menjalani sunnatullah, memang dasarnya tumbuhan dan hewan ditundukkan buat manusia.

Malahan, terkadang saya diolesi dengan cairan atau gas perangsang yang namanya etilen. Itu memaksa saya untuk menangis sampai delapan kali lebih lama. Makin lama saya nangis, makin banyak air mata saya, makin senang manusia.

Selama pertumbuhan, tangan saya sering dipotong, sebagai pembenaran iklan salah satu produk susu: tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. Rambut saya dikepang paksa. Semua itu dilakukan supaya saya bisa menangis lebih lama, supaya manusia senang. Yah, saya ikhlas, memang itu tugas saya di bumi. Saya punya tugas seperti kamu manusia juga punya tugas. “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku,” firman Allah. Kita harus sama-sama ikhlas.

*imajinasi Iqbal yang berusaha menjadi Hevea braziliensis (nama latinnya pohon karet).

 

01
Apr
12

Menjadi Asing

Pantai Krueng Mane, 2028, dalam dimensi Iqbal

Nak, ayah sengaja bawa kamu ke sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.

Nak, apa kamu pernah menerka kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media mainstream yang gak islami.

Pada umumnya mereka itu bikin kamu tahu dalam ketidaktahuan. Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan informasi-informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya di Food Court Pondok Indah Mal.

Tapi nak, kamu gak diajarin kamu harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa kriterianya.

Kamu jadi tahu batasan HAM tapi tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau paham, anakku?

Kamu nanti malah jadi bingung, di TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat? Di TV diajarin makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.

Ayah paling takut kamu mengarah ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits karena gak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.

Kalau agama ini menuruti kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh? Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.

Kamu akan wudhu dengan membasuh duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya. Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.

Itu kenapa kamu harus mendalami Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan. Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.

Ayah cuma takut, kamu bisa menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya “semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi gak hapal siapa saja mahrom kamu.

Ayah gak mau kamu bisa bedain processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran sel dan membran mitokondria, tapi kamu gak bisa bedain halal-haram dan suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti hukum islam, nak.

Ayah gak kebayang, pascatiada nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi, “Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini, “Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan, target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?

Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan. Orang tahlilan kamu ikut tahlilan. Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan. Jangan jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya, eh malah disampaikan. Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi kitab Muslim kamu.

Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu. Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat lebih dari itu, nak.

Setelah ilmumu kuat, aplikasikan, sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah tapi gak bisa aplikasikan agamamu.

Nak, dari dulu orang hebat itu selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing, nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.

Anak muda seperti kamu punya tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini. Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak, karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15 tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.

Kamu tentu sering dengar Ali bin Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr, saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.

Imam Bukhori yang menyusun hadits tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.

Selanjutnya giliran kamu yang meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah doakan.

01
Okt
11

I’m Iqbal and I’m NOT a Terrorist

Tahun lalu (2010), saya mau ngetes, saya bisa gak sih jalan jauh. Start awal dari Lengkong (Nganjuk, Jatim), targetnya sampai Trowulan (Mojokerto, Jatim) yang itu jaraknya 40 km. Saya jalan dari pagi sampai sore, tapi gak bisa sampai tujuan, cuma kuat 30 km.
Selama di perjalanan, saya pakai sorban buat nutup kepala biar ngurangin panas. Ini bukan karena saya mau kelihatan alim, tapi karena memang yang paling enak itu sorban, lebar dan tipis, terus bisa nutupin sampai pundak telapak tangan. Kebetulan juga jenggot saya lagi banyak waktu itu.

Yang menarik, beberapa orang, ada juga bocah SD, meneriaki saya teroris. Saya sampai ke kesimpulan bahwa anggapan itu karena saya pakai jenggot dan sorban. Jadi keduanya itu sudah benar-benar, kalau kata orang pemasaran, sudah jadi top of mind orang-orang bahwa jenggot dan sorban identik dengan teroris.

Dok: www.ujiberita.com

Kalau orang tanya pasta gigi itu apa, mereka jawab Pepsodent. Kalau ditanya air mineral itu apa, mereka jawab Aqua. Nah, kalau ditanya teroris itu siapa, mereka bakal jawab orang islam yang jenggotan dan sorbanan.

Saya pernah baca catatan perjalanan seorang wartawan yang keliling Indonesia setahun pakai motor. Ya namanya lagi bertualang kan hidupnya gak teratur, jadi jenggotnya juga lebat. Kalau dia lagi ada di pulau-pulau kecil, terutama yang di perbatasan, sering kali beberapa pihak yang ngakunya berwenang menggeledahnya karena, mereka pikir, ada indikasi orang ini teroris yang mau nyebrang ke negara sebelah. Jadi kalau jenggotan perlu lebih diwaspadai.

Kalau diperhatikan di film-film yang keluar 5 tahun terakhir, terutama yang keluaran Hollywood, sebutlah Green Zone dan Body of Lies, gerombolan teroris selalu digambarkan beragama islam, jenggotan, dan sorbanan. Juga, orang islam gak mau bergaul sama non-islam. Doktrinasi banget! Saya gemes banget waktu nonton film ini.

Hey! Saya orang islam, saya jenggotan, tapi saya bukan teroris tauk! Boro-boro pegang bom, petasan aja enggak.
Mudah-mudahan bukan karena pandangan teroris begini yang bikin kita, orang islam, meninggalkan sunah pelihara jenggot. Ngapain malu. Justru kita harus balikin doktrin yang begituan dengan jadi orang islam yang jenggotan, yang gak malu pakai sorban, yang bisa supel sama masyarakat, yang suka bantu orang, yang suka sholat sama puasa sunah. Masyarakat bakal menilai dan doktrinasi “jenggotan itu teroris” bakal bersih sendiri. Mudah-mudahan ya.

07
Jul
11

Pembunuh Singa Padang Pasir

Karya Dr Najib Kailani. Penerbit Pustaka.

Empat paragraf awal, sebelum daftar isi, langsung membuatku ingin membaca terus sampai episode terakhir (total 268 halaman). Ini hanya penangkap perhatian pembaca saja, yang diambil dari pertengahan cerita. Selanjutnya novel dimulai dari persiapan Quraisy untuk perang Uhud melawan umat islam yang sudah hijrah ke Madinah.

Serunya, yang dijadikan pemeran utama adalah Wahsyi, seorang budak milik Jabir bin Muth’im (tokoh Mekah). Darinya kita jadi tahu kehidupan budak zaman dulu.

Penulis membeberkan sejarah masuknya islam. Konflik dan peperangan awal antara islam dan orang Quraisy serta Yahudi dari berbagai klan. Sekalipun mereka menyatukan kekuatan dalam perang Khandaq, tapi islam tidak kunjung takluk.

Dialog-dialog cerdas dan dalam tentang pemaknaan islam antara Wahsyi dengan Suhail, kawannya, dan Wisoli, pelacur Mekah yang tersohor, membuat novel ini makin memperlihatkan seperti apakah islam, paling tidak menurut Najib Kailani.

Puncaknya ketika Fathu Mekkah (terbukanya kota Mekkah) ketika kota Mekkah takluk tanpa terjadi adu senjata. Islamisasi yang sungguh anggun. Tinggallah Wahsyi yang kabur dari Mekah karena takut perbuatannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga dijuluki si Singa Padang Pasir) atas permintaan Hindun bin ‘Atabah.

Perkataan Suhail tentang islam dan jaminannya bahwa Nabi tidak akan membunuhnya kala dia ingin masuk islam, membuat Wahsyi berkeputusan menjumpai Nabi. Nabi menerima keislamannya, tapi Wahsyi diminta untuk menjauhkan wajahnya dari hadapan Nabi. Permintaan Nabi itu sungguh membuatnya terpukul. Namun, ia tetap melaksanakannya.

Wahsyi menjadi penganut islam dan menjalankan syariat islam seperti orang pada umumnya. Keandalannya dalam melempar lembing membuatnya berhasil membunuh Musailamah Al Kazzab, nabi palsu yang menjadi musuh islam, pada zaman kekhaifahan Abu Bakr RA.

Wahsyi berjongkok, mencabut tombaknya yang masih tertancap di tubuh Musailamah. Dengan wajah tengadah Wahsyi bergumam:

“Maka sekiranya aku dengan tombak ini telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, aku berharap, kiranya Allah mengampuni segala dosa-dosaku, karena dengan tombak ini pula aku telah membunuh sejahat-jahat manusia, yaitu Musailamah Al Kazzab.”

 

06
Jul
11

Belajar Nahwu Sharaf di Lengkong

Aku pikir si petugas dapur lupa memberikan lauk, rupanya di sini memang biasa makan dengan menu: nasi, sayur nangka, dan dua buah kerupuk.

Itulah konflik terbesar dalam diriku selama belajar nahwu shorof di Lengkong. Maklum, ini kali pertama aku tinggal di pondok yang konsekuensinya juga makan-makanan pondok. Ini juga jadi jawaban kenapa biaya per bulannya hanya Rp 200 ribu (up date pertengahan 2011 Rp 250 ribu/bulan).

Tapi itu tidak seberapa dibanding ilmu yang kudapat. Di sini, tiap dua bulan sekali, dimuai kelas baru lagi, dari awal lagi. Dan tidak ada level berikutnya setelah belajar 2 bulan di sini.

Satu hari ada 4 kelas: subuh, pagi, siang, dan malam. Setiap hari otakku rasanya dijejali rumus-rumus (wazan), bermacam istilah, yang itu semua harus dihapal. Siswa lain kebanyakan basic nya memang mubaligh, jadi tidak kaget dengan memgang kitab pembelajaran yang dari awal sampai akhir huruf Arab semua.

Lah aku… dengan hanya menghapal sedikit kosakata, aku megap-megap. Tapi bisa kok, Alhamdulillah. Asal tidak malu tanya, insya Allah lancer.

Dok: aisi-balikpapan.blogspot.com

Nahwu Sharaf itu adalah ilmu rangkuman para ulama zaman dulu tentang tata bahasa Arab berdasarkan Quran Hadits. Ketika zaman Nabi, tidak ada itu ilmu Nahwu Sharaf, bahkan tidak ada harokat dan titik dalam huruf-huruf yang digunakan. Islam berkembang. Orang dari mana-mana belajar Quran Hadits yang itu berbahasa Arab. Asal mereka yang beragam menimbulkan ketakutan adanya salah tafsir kalau tidak ada ilmu tata bahasa baku dalam Bahasa Arab. Juga, untuk mempermudah orang-orang non Arab buat mempelajari Bahasa Arab. Maka dibuatlah ilmu Nahwu Sharaf.

Aku bisa bilang, Bahasa Arab itu lebih rumit dari Bahasa Inggris. Bahasa Arab mengenal kata benda laki-laki, perempuan, tunggal, dual, dan jamak. Kata kerjanya juga terbagi ke kata dasar (mashdar), bentuk lampau, bentuk kini/masa datang, pasif, dan aktif. Semua itu ada rumusnya dan harus dihapal!

Rumus itu bakal beda kalau kada dasarnya mengandung huruf alif, ya, dan waw. Bakal beda lagi kalau ketiga huruf itu ada di depan, ada di tengah, ada di belakang, dan kompilasinya. Bisa beda lagi kalau hurufnya berjumlah dua, tiga, atau lebih. Itu semua punya rumusnya sendiri. Dan kabar buruknya, kalaupun semua itu sudah dihapal, belum tentu dia bisa baca Arab gundul karena juga harus memperbanyak kosakata. Hehe, seru ya… =)

Jadi setiap hari kerjaan kami ya menghapal wazan-wazan itu (rumus). Tapi di Lengkong, ini tidak wajib. Dulu pernah diwajibkan, tapi banyak siswa yang mental, jadi pengurus memutuskan dihapus sajalah. Targetnya dikurangi menjadi: paling tidak pernah ketemu wazan model begitu.

Kedudukan kata juga kami pelajari. Di situ aku mengenal istilah marfu’, nashob, majrur, fa’il, naibu fa’il, isim inna, khobar kana, maf’ul bih, mubtada’, dsb…

Tenang… tidak sesulit yang dibayangkan kok. Ada waktu 2 bulan buat menguasainya. Asal rutin ikut kelas dan focus, insya Allah tidak perlu ngulang lagi juga sudah masuk. Kawan-kawanku juga tenang-tenang saja. Malah mereka hamper tiap sore masih sempat main bola.

Yang perlu disiapkan adalah pikiran yang kosong dan tenang. Belajar nahwu shorof harus focus. Kebetulan, di Pondok Lengkong ini ada aturan bahwa siswa dilarang bawa HP. Menurutku itu bakal lebih membuat bisa focus. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Kelas ada tiap hari. Libur hanya di hari Jumat. Dua bulan ini, menurutku, memang paketnya segitu. Kalau dia cuma ikut satu bulan bakal cacat ilmunya, tanggung.

Untuk ke Lengkong, gampang. Capai stasiun Kertosono, terus jalan ke pasar Kertosono (sekitar 100 meter dari stasiun), terus naik angkot jurusan Lengkong (Rp 5.000; 30 menit; Cuma ada dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore). Angkot baka berhenti di pasar Lengkong. Dari situ tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Tanya aja orang pasar, pondok Lengkong di mana, insya Allah mereka tahu.

Atau bisa juga dari stasiun Kertosono naik ojeg. Ongkosnya Rp 15.000. Bilang ke pondok Lengkong. Kalau ojeg ini ada 24 jam.

Selama di Lengkong, hiburanku Cuma dua. Pertama jalan-jalan ke pasar Lengkong buat ngopi. Secangkir kecil seribu, gelas standar dua ribu. Dua, jogging ke sekitar pondok. Di daerah sini banyak sekali pohon kersen atau orang local menyebutnya keres. Sekali jogging aku bisa nyambi makan kersen. Sebutir demi sebutir. Kalau dikumpulkan sekali jogging ya setengah piring kersen lah, hehe.

Ohya, di pertengahan pembelajaran, aku pulang ke Jakarta, bawa laptop. Itu membantu juga kalau jenuh. Di pondok Lengkong memang tidak boleh bawa HP tapi boleh bawa laptop.

Iklim daerah Nganjuk sedang. Jadi kalau tidur di masjid tidak pakai selimut masih bisa lah. Aku bawa sleeping bag. Itu lebih aman.

Mudah-mudahan bermanfaat.

31
Mei
11

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

29
Mei
11

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.

30
Nov
09

Penyembelihan Kurban di Mata Ilmu Sains

Hewan memamah biak, menurut hukum islam, halal untuk dimakan. Masih banyak lagi yang halal, tapi saya mau cerita hewan memamah biak karena sedang suasana hari raya kurban. Aturan islam memerintahkan untuk menyembelih hewan pada lehernya dengan cepat dan dengan pisau yang tajam (intinya supaya cepat juga).

Ada dua penjelasan utama dari segi sains yang menyepakati cara tersebut. Pertama, dengan disembelih di leher, darah akan keluar dengan cepat. Darah penting untuk dikeluarkan segera karena bisa dibilang darah adalah sumber penyakit. Kebanyakan (atau mungkin semua) virus disebarkan ke seluruh tubuh lewat darah. Dengan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya, maka daging berpenyakit dapat direduksi. Leher dipilih karena di situ terdapat arteri (pembuluh darah) paling besar selain aorta, yang itu berarti darah akan keluar dengan lebih cepat.

Kedua, karena disembelih dengan cepat, maka tingkat stres hewan dapat diminimalisir. Stres hewan yang akan disembelih bisa menyebabkan otot-otot banyak berkontraksi, akibatnya banyak ATP (atau sebut saja energi) yang berubah menjadi asam laktat. Peningkatan jumlah asam laktat dalam otot/daging menyebabkan pH daging turun sehingga daging menjadi alot. Ini yang juga menyebabkan daging menjadi merah kehitaman (daging yang baik berwarna merah cerah).

Saya pernah baca di sampul kaset Gold Finger, band yang sangat peduli lingkungan. Mereka memerangi penyiksaan hewan yang marak terjadi di negaranya. Salah satu contoh yang masih saya ingat, mereka (para penyiksa hewan) memukul kepala sapi sampai mati untuk kemudian mereka konsumsi. Dari sisi kehewanan (padanan kata kemanusaiaan untuk hewan) sepertinya kurang sekali ya. Kalau dibahas dari sisi ilmu pangan, ini juga sangat tidak sehat. Darah tidak keluar dari tubuh si sapi. Walaupun ujung-ujungnya sapi akan dipotong-potong, tapi darah dalam beberapa menit saja sudah membeku berbentuk padatan seperti daging. Nah, waktu memotong-motong sapi tidak akan bisa beradu cepat dengan membekunya darah sapi di dalam tubuh. Dengan begitu, darah beku akan bercampur dengan daging. Penyakit yang dibawa sapi akan lebih riskan untuk tertular ke manusia.

Semoga menambah wawasan…=)




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.