Arsip untuk Kategori 'fasilitas umum'

11
Sep
11

Sudut Pandang Baru dari Kereta Ekonomi

Belakangan ini, saya jadi sering pakai kereta ekonomi kalau muter-muter Jawa. Awalnya dulu dicemplungin sama anak-anak Backpacker Indonesia. Banyak dari mereka yang ke mana-mana pakai kereta ekonomi, biar irit katanya. Buat saya, kereta ekonomi ini bukan irit, tapi irit banget! Harga tiketnya bisa cuma 20% harga tiket kereta bisnis/eksekutif. Dan dia gak ikutan naik di waktu harga kereta bisnis/eksekutif naik, misal pas liburan atau lebaran.

Memang sih, kalau punya duit, saya mending naik bisnis/eksekutif karena jelas dapat kursi dan gak ada orang jualan. Tapi di kereta ekonomi ada nilai lebihnya juga yang susah saya dapat di kereta bisnis/eksekutif: sudut pandang baru.

Kebanyakan yang naik kereta ekonomi ini, setahu saya, orang-orang menengah ke bawah, ya kuli bangunan, pedagang kaki lima, satpam, dsb, atau orang-orang yang sedang pakai topeng menengah ke bawah, macam mahasiswa itu lah.

Mereka ini baik baik loh, suka nawarin makan, suka ngajak ngobrol, suka kasih info rute, mau dititipin barang kalau mau ke WC. Bagian yang paling saya suka adalah, mereka suka ngobrol dan pengalamannya banyak yang menarik dan suka beda sama berita yang saya dengar di TV.

Kereta ekonomi Matarmaja. Dok: www.ucuagustin.blogspot.com

Saya pernah ketemu sepasang suami istri. Mereka sering ke senayan buat jualan, aslinya orang Jawa Timur. Sang istri dulu pernah jadi TKW di Arab. Dia bilang, berita di TV itu salah. Kalau ada TKW yang digebukin atau diperkosa, itu salah TKW nya, bukan salah bironya. Kalau TKW nya nurut apa yang diminta majikan, dia gak jahat kok. “Saya kan bertahun-tahun di sana, saya tahu karakter orang Arab, saya tahu karakter TKW kita, saya paham situasi, jadi saya tahu mana yang salah.”

“Yang biasanya gak bener kerjanya itu orang Sunda sama NTB. Kalau orang Jawa Tengah nurut-nurut jadi gak ada masalah sama majikan.”

Dia lanjut cerita, kalau masalah digebukin, disetrika, diperkosa, itu mah gak usah ke Arab, di Jakarta juga banyak. Tapi kok gak pernah atau jarang masuk TV? Ya itu karena majikannya terkadang orang berada dan punya pengaruh, nanti kalau diangkat, medianya yang ikutan kena gebuk.

Nah, cerita yang begini-begini yang bikin saya punya sudut pandang baru. Selama ini kan kesan yang dikasih TV ke otak kita, majikan luar yang brengsek, tapi di kereta ekonomi saya dapat pandangan bahwa TKW juga ada salahnya kok.

Si suami nambah cerita pengalamannya jualan di JCC Senayan. “Pokoknya kalau ada pameran computer, itu panen deh,” langsung to the point. Iya sih, saya 2 kali ke Indocomtech, kayaknya butuh dibangun fly over dari dalam ruangan pameran ke parkiran, saking ramainya orang.

Pesan yang saya pegang betul, “Jangan beli teh yang biasa dijual pakai gelas plastik besar. Itu pakai air keran!” Kelihatanya memang segar, tapi gak sehat. Saya gak langsung percaya, mungkin aja ini Cuma suudzon. Tapi logikanya, memang itu lebih riskan sih dibanding minuman kemasan. “Tau berapa modal mereka terus bisa dilipat jadi berapa?”

“Berapa Pak?”

“Lima belas ribu jadi empat ratus ribu. Ya iyalah wong pakai air keran.”

Atau pengalaman lain di kereta ekonomi, dulu saya pernah ketemu anak muda, sekitar umur 20 tahun. Dia dari Madura tapi pindah ke Jakarta. Di Madura kerjaan dia sehari-hari bikin garam, bantu orang tuanya. Dengan kerja Cuma setengah hari, dia bisa dapat 2 juta sebulan. Tapi dia milih hijrah ke Jakarta buat jadi buruh yang gajinya gak nyampe 1 juta sebulan, itu pun mesti dihadapkan dengan biaya hidup yang tinggi.

Saya tanya kenapa pindah. Kan di Madura udah enak? Dia jawab, pengen cari pengalaman. Mungkin dia mau tahu ibukota tuh gimana sih.

Di sini saya juga dapat sudut pandang baru, bahwa walau desentralisasi ekonomi jalan, tapi harus dipikirin juga factor “pengen cari pengalaman”. Pengamat urbanisasi Jakarta yang sering nongol di TV bilang, urbanisasi itu karena di daerahnya gak ada lapangan pekerjaan. Tapi si penghuni kereta ekonomi yang itu pelaku urbanisasinya langsung bilang pengen cari pengalaman, bukan karena di daerahnya gak ada lapangan kerjaan. Bertolak belakang banget kan.

Yah, yang begitu-begitu lah nilai positif kereta ekonomi, bikin saya punya sudut pandang baru, langsung dari yang ngalamin.

09
Jun
11

Hidden Nusakambangan

Tidak salah kalau orang ditanya apa yang kamu tahu tentang Nusakambangan (pulau di Selatan Cilacap, Jawa Tengah) lalu dijawab penjara yang menakutkan. Karena memang ada empat Lembaga Pemasyarakatan (dulu ada sembilan) yang spesial dibuat untuk penjahat-penjahat besar. Sebutlah Johny Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan.

Pagi tadi, pukul 6.30, Mei 2011, aku, tanpa bekal informasi yang cukup, coba langsung trabas ke Dermaga Wijayapura, satu-satunya dermaga besar formal yang menghubungkan Kota Cilacap dengan Nusakambangan (Dermaga Sodong).

“Pak, saya mau ke Nusakambangan. Bayarnya berapa ya?”

“Kamu dari mana?” kata si petugas di kantor yang pakai pakaian dinas seperti polisi air.

“Dari Jakarta.”

“Maksudnya dari institusi apa?”

“Ya bukan dari mana-mana, saya mau main ke pantainya.”

“Ya tidak bisa. Harus jelas kalau ke sana. Wisatawan tidak boleh.”

“Gak boleh? Saya dari Jakarta loh Pak, ke sini cuma mau ke Nusakambangan.”

“Nusakambangan bukan daerah wisata, mas!”

Arggh! Ini gara-gara terlalu percaya Loney Planet. Di situ ditulis, kapal very berangkat pukul 7 pagi dengan tarif Rp 30.000. Padahal, kapal very itu sama sekali tidak boleh buat wisatawan. Lonely Planet yang kupegang keluaran 2008, sedangkan larangan wisatawan tidak boleh nebeng itu, menurut petugas, sejak sebelum tahun 2000. Kesalahan fatal!

Aku balik ke penginapan di dekat alun-alun. Karena hujan tidak berhenti, siang ini juga tidak bisa keluar. Sorenya aku main-main ke Pantai Teluk Penyu atau kadang disebut orang lokal THR (Tempat Hiburan Rakyat). Ini adalah pantai yang paling favorit buat orang Cilacap.

Garis pantainya cukup panjang dan banyak berjejer kios-kios makanan, ada yang dibuat serius seperti restoran mewah, ada yang cuma bilik bambu. Mirip dengan pantai Ujong Blang di Lhokseumawe, Aceh. Sama-sama punya garis pantai yang panjang, sama-sama punya banyak kios, dan sama-sama dekat dengan tanki minyak (Pertamina di Teluk Penyu, Arun di Ujong Blang).

Teluk Penyu. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Padahal ini hari Rabu dan bukan tanggal merah, tapi kios-kios itu tetap buka loh. Menurut orang lokal, memang di sini setiap hari ramai, apalagi tanggal merah. Pantainya biasa saja, tidak ada ombak tinggi bergulung-gulung, tidak ada pasir putih, tidak ada sunset, tidak boleh berenang pula, dan yang gawatnya, ada pemberitahuan bahwa di pantai terkadang ada binatang laut berbisa. Aku pun masih bingung kenapa bisa seramai ini. Mungkin karena tidak ada pilihan wisata lain ya.

Kapal-kapal nelayan yang berjejer-jejer, yang awalnya aku sangka buat cari ikan, rupanya bisa juga untuk alat transportasi ke Nusakambangan. Sial aku baru tahu sekarang! Kalau sudah sore begini sama saja bohong kalau maksain nyeberang ke Nusakambangan.

Aku cuma tanya-tanya saja sama pemilik kapalnya, tentang Nusakambangan dan tarif-tarif kapalnya, mungkin lain kali bisa main ke sini lagi. Pada umumnya, wisatawan naik kapal ini buat ke Nusakambangan. Kapalnya  mirip kapal-kapal carteran buat snorkeling di kepulauan seribu. Rata-rata muat sekitar 15 orang. Alhamdulillah, sudah pakai mesin =)

Mungkin karena ketahuan tidak tahu harga, si pemilik kapal nembak Rp 25.000 per orang untuk ke Nusakambangan (Pantai Karang Pandan). Tapi orang lokal bilang biasanya cuma Rp 10.000. Nyeberang paling cuma 15 menit, pulaunya kelihatan kok. Mirip dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu (Malang) atau dari Pantai Iboih (Sabang) ke Pulau Rubiah

Itu terserah kita mau pulang jam berapa, paling telat pukul 17.30 karena jam segitu Teluk Penyu tutup. Selain Pantai Karang Pandan, di sana juga ada Benteng Karang Bolong. Biasanya turis yang datang ya ke dua tempat itu.

Gimana kalau mau camping di Nusakambangan? Ya bisa saja, sudah banyak kok yang camping di Karang Pandan. Nanti izinnya bisa diurus si pemilik kapal, nambah Rp 5.000. Besoknya dijemput sesuai jam kesepakatan. Biasanya si turis dibekali nomor si pemilik kapal, jadi kalau mau pulang tiggal SMS juga bisa (salah satu pemilik kapal: Pak Budi 085726105114). Di Nusakambangan sinyal kuat.

Obrolanku dengan si pemilik kapal terus berlanjut sampai ke sebuah pulau bernama Kampung Laut. Katanya, “Di pulau ini boleh-boleh saja bawa kamera atau HP berkamera, tapi itu tidak akan berguna.” Aku heran, “Loh, kenapa Pak?” Dijawab, “Kita bisa melihat hasil jepretannya selama masih di dalam pulau, kalau sudah keluar, data foto itu hilang dengan misterius.” Hehe, mau coba?

Masih di Kampung Laut, ada sekumpulan batu yang terkadang kalau dipukul tidak keluar bunyi apa-apa seperti batu biasa, tapi terkadang bisa bunyi seperti kendang, walau cuma dipukul pakai tangan. Ini mirip dengan kejadian stalaktit-stalaknit yang ada di Goa Tabuhan di Pacitan.

Pak Budi pasang tarif Rp 450.000 (belum ditawar) per kapal untuk ke Kampung Laut, ditemani camping (atau tidak camping), sampai pulang besoknya. Perjalanan dari Teluk Penyu sekitar satu jam.

“Tapi kalau camping, hati-hati ya mas. Hewan liarnya keluar kalau malam.” Nah loh. Tapi selama di pinggir pantai atau dekat rumah penduduk Insya Allah aman. Silakan dicoba… =)

28
Mei
11

Buku Bekas di Solo

kios-kios buku yag mayoritas bekas di solo. Dok: Iqbal

Setelah main ke alun-alun Solo, aku mampir ke Tourist Information Center, dekat Sri Wedari. Lumayan, dapat peta wisata Solo gratis. Petugasnya juga kasih info tentang penginapan-penginapan murah, yang Rp 50 ribuan.

Sebetulnya targetku bukan itu, tapi toko-toko buku bekas di belakang Sri Wedari. Kata temanku, kalau nyari buku bekas yang murah ya di situ. Aku tidak punya target mau cari buku apa, tapi kalau ada yang menarik yang beli.

Ada puluhan kios yang berjejer di sepanjang jalan itu. Tidak ada kios yang besar sendiri mendominasi. Kira-kiri mirip Kuitang di Jakarta atau samping Taman Pintar di Jogja. Bedanya, took-toko di Solo ini berjejer lurus, kalau di Jakarta dan Jogja toko-tokonya bergerumul membentuk kotak.

Aku beli buku Lonely Planet SouthEast Asia (tapi terbitan 1998) cuma Rp 25.000, aku juga borong majalah Intisari & Reader’s Digest 10 buah total Rp 25.000, sama beli buku Kabut di Kampus Biru karangan AA Navis Rp 20.000.

Majalah-majalahnya tergolong baru loh. Aku ke sana Februari 2011, tapi majalah terbitan akhir 2010 sudah ada di situ.

14
Mei
11

Sekaten Mirip Pasar Kaget

Buat orang Solo, Jogja, dan Cirebon, Sekaten itu sudah sering mereka dengar. Ini adalah acara tahunan keraton yang, kalau tidak salah, digelar dalam rangka peringatan hari lahir Nabi SAW. Februari 2011 lalu kebetulan aku lagi main ke Solo. Aku mampir sebentar ke Sekaten. Karena memang datang tidak pada waktu acara intinya, buatku Sekaten tidak lebih dari sekedar, maaf, pasar kaget.

umang ikut menjadi komoditas perdagangan di sekaten Solo. Dok Iqbal

Ada yang jual pakaian, ada yang jual aksesoris, ada dufan mini penuh dengan mainan anak-anak, ada banyak penjual makanan. Kalau tidak ada baliho Sekaten di depan, sempurnalah seperti pasar kaget.

Letaknya di alun-alun Utara Keraton. Karena waktu aku datang masih pagi, maka belum semua lapak buka. Itupun keadaannya sudah sumpek dan becek. Jalan buat pengunjung sempit sekali. Betul-betul mirip pasar. Apalagi malam, ketika ada acara yang digelar, mungkin butuh waktu satu jam buat keliling alun-alun.

17
Jan
10

Perpanjang SIM di Samsat Cipinang Cuma 30 Menit dengan Biaya 60-80 Ribu, Jangan Tertipu !

Sekedar mengingatkan, umur SIM itu Cuma 5 tahun. Setelah basi, kalau tidak mau kena tilang di jalan maka harus diperpanjang. Terkadang kita lupa untuk memperpanjang. Baru sadar setelah berbulan-bulan kemudian atau setelah polisi lalin yang menegur bahwa SIM sudah basi.

Image mahal dan ribet untuk perpanjang SIM sepertinya sudah bisa dihapus. Akhir Oktober 2009 lalu, saya berangkat ke SAMSAT Cipinang untuk mengurus SIM yang sudah mati 5 bulan. Sesampainya di tempat parkir motor, petugas parkir langsung nembak, “Cuma 250 ribu tinggal foto.” Wah, calo nih sepertinya.

Masuk ke ruangan, saya langsung disambut dua petugas informasi (sepertinya Polwan) yang mengingatkan syarat-syaratnya, yaitu SIM lama, KTP asli, dan fotocopy KTP 3 kali. Lalu mereka menunjukkan alurnya, “Urus asuransi dulu, tes kesehatan, baru masuk loket-loket secara berurutan (ada nomor loketnya, satu sampai empat).”

Di depan ruang asuransi, sebelum orang asuransinya menyapa, saya langsung tembak (karena teringat asuransi2 gadungan di Airport), “Ini wajib gak?”. Dia bilang tidak. Ya sudah, saya langsung ke tempat cek kesehatan. Dokternya cukup ramah (mungkin karena ini saya jadi tidak kritis). Dia bilang dengan suara yang halus, “Kalau di asuransi memang tidak wajib, tapi tes kesehatan wajib. Dari sini nanti ada surat pengantar ke loket.” Oke, saya turuti. Sang dokter kemudian memperlihatkan buku kecil bergambar abstrak yang di tengahnya ada angka. Saya diminta untuk menyebutkan angka di dalam gambar abstrak itu. Sangat mudah bagi yang tidak buta warna. Singkat sekali tesnya, mungkin hanya 1 menit. Lalu saya dimintai 20 ribu untuk biaya tes kesehatan (yang ternyata Cuma tes buta warna). Dengan mudah saya bayar.

Lanjut je loket BRI. Sebelum sampai ke loket, ada petugas berseragam yang mengingatkan untuk bayar asuransi dulu. Dengan agak keras saya jawab, “Kan gak wajib!” Lalu dia menjawab lagi dengan nada menantang, “Nanti urusannya di sini (menunjuk salah satu loket yang setelahnya baru saya tahu itu loket 2 untuk menyetor persyaratan).”

Sampai di loket BRI, saya dimintai 60 ribu untuk biaya perpanjangan. Penjaga loket mengingatkan, “Walaupun telat mengurus perpanjang SIM, Bapak tidak kena denda, tetap 60 ribu.” Saya bayar lalu menandatangani entah apa itu. Karena saya buru-buru dan sang petugas juga mengatakan tinggal tanda tangan saja, ya sudah, isian di atasnya (ada nama dsb) tidak saya isi, langsung saya tanda tangan. Selesai di loket ini.

Ternyata BRI ini baru loket 1. Jadi asuransi dan kesehatan tidak dihitung loket. Barulah saya mulai curiga, jangan-jangan si dokter muda itu bohong, bilang wajib padahal tidak. Ya sudahlah. Lain kali harus lebih kritis kalau berurusan dengan dokter.

Loket selanjutnya loket 2 untuk urusan administrasi non rupiah. Di situ saya berikan SIM lama, fotocopy KTP 3 kali, KTP asli, tanda bukti pembayaran dari loket 1, dan surat dari hasil tes kesehatan di loket kesehatan (sepertinya yang terakhir ini tidak termasuk syarat). Lagi-lagi saya diminta untuk urus asuransi terlebih dahulu. Berikut dialog singkatnya:

Petugas: Bisa urus asuransi dulu mas.

Iqbal: Katanya gak wajib ?!

Petugas: Sudah, mas urus saja dulu.

Iqbal: Memang betul wajib Pak?

Petugas: Mas ini pekerjaannya apa sih?

Iqbal: Saya wartawan, Pak !

Petugas: Coba mana kartu identitas kamu? Kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Ini ! (saya pertunjukkan dari luar, tapi tidak saya berikan)

Petugas: Coba saya lihat sini.

Iqbal: Apa ini jadi syarat buat SIM ?

Petugas: Saya lihat sebentar, nanti kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Bapak namanya siapa (press card tetap tidak saya berikan) ?

Petugas: Bukan begitu… Ini buat laporan untuk atasan saya.

Iqbal: (Sadar posisi di atas angin) Jadi saya gak bisa ngurus SIM nih Pak ?

Sadar posisinya terdesak. Rekan petugas itu langsung ambil sikap. “Sudah Bapak tunggu saja di depan, nanti kami panggil. Lalu si rekan itu terlihat buru-buru mengurusi kelengkapan saya. Di tempat saya duduk sudah ada seorang pemuda yang suda menunggu lebih awal. Sedikit berbincang.

Pemuda: Abis berapa mas ?

Iqbal: Delapan puluh ribu. Dua puluh di kesehatan, enam puluh di BRI. Emang mas berapa ?

Pemuda: Saya nambah asuransi 30 jadi 110.

Iqbal: Itu kan gak wajib mas. Kita harus tegasin biar mereka gak mainin kita.

Baru 1 menit duduk, nama saya dipanggil duluan, padahal pemuda itu sudah menunggu lebih awal. Di loket 2 itu saya diberikan KTP asli yang ditempel secarik kertas dengan tulisan ceker ayam, tidak bisa saya baca. Lanjut ke loket 3.

Sepertinya saya benar-benar dilayani. Baru memberikan KTP dan secarik kertas itu langsung disuruh cap jempol, tanda tangan, dan foto. Loket 3 memang untuk foto, tanda tangan, dan cap jempol. Dua menit kemudian, di loket 4 (loket pengambilan SIM baru) nama saya sudah dipanggil. SIM barunya sudah jadi! Karena masih belum yakin bisa selesai secepat itu, saya tanya petugas, “Ini sudah selesai ya Bu?” Petugas mengiyakan. “Wah, cepat betul.”

SIM C fresh from the oven. Dok: Iqbal

Kurang lebih, waktu yang saya habiskan dari parkiran sampai parkiran lagi Cuma 20 menit. Memang di depan pintu terpampang jelas tulisan bahwa perpanjang SIM hanya 30 menit. Sepertinya petugas di SAMSAT itu dituntut untuk memperpendek birokrasi. Atau bisa jadi (pikiran jahat saya), mereka takut dengan press card yang saya tunjukkan, takut saya tulis kalau mereka mempermainkan pengunjung. Semoga saja memang mereka betul professional.

Semoga bermanfaat.

13
Jan
10

Menapaki Ciwidey dan Gambung

Dalam peta Jawa Barat, ada kumpulan warna merah di sebelah Selatan kota Bandung. Menandakan daerah tersebut punya angka ketinggian yang paling besar. Salah satunya sudah tidak asing di telinga, Ciwidey. Dari terminal Leuwi Panjang ke Ciwidey ada dua alternatif angkutan umum, colt dan bus. Waktu itu Aku naik colt karena katanya lebih cepat, biayanya 6 ribu. Kalau lancar cuma 1 jam, kalau macet dan ngetem bisa sampai 2 jam.

Hal pertama yang terpatri dalam benakku tentang Ciwidey adalah strawberry. Memang banyak sekali perkebunan strawberry di kanan kiri jalan besar, jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Tidak sulit menemukan kebun strawberry yang di dekatnya sering tertulis “Petik Sendiri”.

Ciwidey terkenal dengan Situ Patenggang dan Kawah Putihnya. Situ Patenggang adalah nama sebuah danau eksotis yang menurutku punya kesan mistis yang dalam. Situ artinya danau sedangkan Patenggang berasal dari kata pateangan-teangan (bahasa Sunda) yang artinya saling mencari-cari. Ceritanya, dulu di seputaran danau ini ada pasangan yang saling mencari kemudian dipertemukan di sebuah batu yang kemudian terkenal dengan sebutan batu cinta, terletak di tengah-tengah danau.

Batu cinta. Dok: Iqbal

Kawah putih tidak kalah serunya. Aura mistis masih pekat menyeruak, tapi kesan damai lebih dalam lagi. Asap hasil metabolit kawah putih menyelimuti seluruh pelosok kawah, pagi, siang, malam, tanpa henti. Disebut kawah putih karena memang warna kawah yang putih dicampur sedikit warna biru, mungkin itu warna yang keluar ketika intensitas belerang jauh di atas ambang normal.

Kawah putih. Dok: Iqbal

Junghuhn adalah orang yang selalu dilibatkan dalam sejarah kawah putih. Setahuku dia adalah pengusaha Belanda yang punya andil besar dalam perkebunan Kina di Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Apa hubungannya ya dia dengan kawah putih?

Maaf Aku tidak bisa memberikan banyak info detail tentang perjalanan menuju kedua tempat dahsyat tersebut, karena waktu Aku dengan rombongan Backpacker Indonesia ke sana, kami menyewa angkot dari Bandung dengan rute: Bandung-Kawah Putih-Situ Patenggang-Bandung, per anak bayar 50 ribu. Jadi kalau tidak lebih dari 10 orang akan lebih mahal dari itu dan Aku tidak tahu berapa.

Dari terminal Ciwidey Aku menuju Gambung. Ada misi khusus: menuju perpustakaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk menggali sejarah dari perpustakaannya dalam rangka pembuatan bukuku tentang sejarah Teh di Indonesia. Jalan menuju Gambung agak banyak rusaknya walaupun masih wajar tapi cukup mengganggu. Menggunakan angkot memakan waktu setengah sampai satu jam dengan ongkos 4 ribu, sampailah di pos 1. Butuh naik ojeg untuk sampai ke kantor PPTK, jaraknya sekitar 1,5 km. Tahu ongkos ojeg nya berapa? Seribu perak saja! Kalau di Jakarta, bisa tiga sampai sepuluh ribu. Seribu perak itu memang harganya segitu. Kok bisa ya?

Udaranya dingin sekali. Seingatku, mirip ketika Aku menginap di Cemoro Lawang, Tengger. Memang masih bisa kalau tidak memakai jaket, tapi jauh lebih nyaman dengan jaket. PPTK dikelilingi banyak sekali pohon cemara, mirip rumah Edward Cullen dalam film Twilight, sunyi, damai. Semakin sore semakin riang serangga menggesek-gesekkan kakinya, sepertinya mereka berlomba-lomba mencuri perhatian seisi hutan.

Ya, hutan. Jauh lebih mirip hutan daripada pusat penelitian. Kalau diteruskan, jalan tersebut akan tembus menuju Pangalengan, tapi harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya hutan yang dikelola Perhutani.

Perpus tutup pukul 4 sore, Aku beranjak menuju Wisma milik PPTK. Di dalamnya ada sekitar 6 kamar yang dapat menampung 14 orang. Dua kamar di antaranya punya fasilitas air panas di dalam kamar mandi dalamnya. Dua kamar ini yang paling eksklusif. Yang pertama punya 1 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil. Harganya kalau tidak salah ingat 180 ribu. Kamar kedua punya 3 tempat tidur kecil, harganya 160 ribu. Waktu itu, Aku memakai kamar 2. Selain biaya kamar, Aku memesan makan malam dan sarapan, jadi menambah 30 ribu lagi.

Kalau mau menyewa seluruh wisma yang ada 6 kamar tersebut, biayanya 1,5 juta, itu sudah termasuk makan pagi untuk 30 orang. Walaupun Cuma ada 14 kasur di dalam kamar, tapi ruang tengahnya sangat luas. Begitu pula terasnya. Luas. Langsung menghadap ke hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sepertinya ruang tengah bisa menampung sampai 50 orang. Perapian menambah cantik ruang tengah. Kalau mau booking, hubungi Aku untuk nomor HP penjaga wismanya.

Pukul Sembilan malam sudah memaksaku berselimut, semakin larut semakin dingin. Walaupun saat itu (Januari 2010) sedang musim hujan, tapi bukan karena itu. Menurut penduduk sekitar, kawasan Gambung memang selalu dingin.

Rasanya menyenangkan kalau punya vila di daerah ini. Harga tanah di jalan utama seputaran Gambung ini sekitar 1 juta untuk satu tumbak. Orang sini biasa memakai ukuran tumbak untuk ukuran tanah. Satu tumbak sekitar 14 meter persegi. Jadi satu meternya sekitar 70 ribu saja! Kalau di jalan kecil/pelosok lebih murah lagi, 300 ribu satu tumbak atau 21 ribu per meter!

Esok paginya, merupakan perjuangan berat untuk berjalan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Udara super dingin, lantai lebih-lebih lagi. Untung ada air panas. Walau tidak mengantuk lagi, selimut tetap kutarik, mata tetap kupaksa terpejam, tak sanggup Aku melawan dinginnya pagi itu. Rencana berkeliling kebun teh tidak pernah kuintip lagi.

Pukul tujuh pagi udara sudah cukup bisa ditoleransi. Aku keluar menuju pabrik pengolahan daun teh, sekitar 100 meter saja dar wisma. Satu bungkus kecil teh yang ada di pasaran saja kalau dibuka bungkusnya bisa kuhirup aromanya berkali-kali saking nikmatnya. Bagaimana kalau tehnya sebanyak satu pabrik?! Luar biasa. Aromanya betul-betul menenangkan. Aroma daun teh bisa jadi keajaiban dunia kedelapan. Kewalahan mendapatkan nikmatnya aroma ini. Seperti anak kecil yang diberikan sekolam permen. Kewalahan.

Masih mengeksplorasi perpus PPTK. Sepertinya perpus jarang sekali dikunjungi, selama dua hari itu, sayalah pengunjung satu-satunya. Sesekali masuk karyawan hanya untuk membaca Koran. Padahal, buku-buku di dalamnya banyak yang tidak pernah Aku temui sebelumnya. Perlu diketahui, Aku sudah banyak sekali datang ke bermacam perpustakaan hanya untuk mencari literatur tentang dunia per-teh-an, buku yang ditemukan itu-itu saja. Berbeda sekali dengan Gambung. Banyak buku teh yang kutemukan bersampul keras dan kertasnya sudah berwarna cokelat, menggambarkankan umurnya. Sayangnya, semua buku bagus itu berbahasa Belanda, jadi sama saja, hehe. Aku hanya melihat-lihat gambarnya. Cukup menarik industri teh pada zaman Belanda dulu.

Ada beberapa buku ingin Aku photocopy. Namun di kantor PPTK tidak ada satupun mesin photocopy. Aku harus turun ke arah Ciwidey, menempuh belasan kilometer hanya untuk photocopy! Bisa dibayangkan betapa terpencilnya Gambung.

Gambung bagiku bukan tempat yang efektif untuk bekerja tapi sangat efektif untuk menenangkan diri, menyatu dengan alam, alam Gambung.

03
Des
09

Grafiti Pancoran

Sayang malam itu aku tidak bawa kamera. Pancoran sekarang sudah dipenuhi Grafiti yang gak norak dan lumayan berbobot. Di tiang-tiang jalan tol dalam kota, tepatnya di titik pancoran dan kuningan, tampak gambar polisi dan pengguna jalan, sang polisi berucap, “Tertib berlalu lintas, aman di jalan.” Atau gambar seperti seorang pengendara motor yang menggunakan helm standar sambil tersenyum, lalu di bawah gambar itu tertulis “Gaya aman berkendara”, maksudnya mengajari bahwa helm standar itu bikin aman. Ada juga yang menggambarkan bagaimana safety riding. Hamper semua tiang sudah dipenuhi graffiti yang masing-masing punya pesan tersendiri.

Tentunya, bomber, istilah orang yang melakukan aksi graffiti, tidak akan berani beraksi di Pancoran yang tidak pernah mati dan jarang lekang dari pengawasan polisi. Sepertinya ada kerja sama antara polisi lalu lintas dan para bomber ini. Simbiosis mutualisme. Bomber bisa tertampung hobinya, polisi bisa mensosialisasikan pesan-pesannya pada masyarakat. Sangat sepakat dengan idenya.

29
Sep
09

Tentang Air

tetesan air

Akhirnya, Kompas hari ini bertutur juga tentang air di Gunung Kidul. Tapi bukan mengangkat tema “Susahnya mendapatkan air di Gunung Kidul”, kalau itu sih, semua orang juga tahu. Tapi di Desa Bleberan, salah satu desa di Gunung Kidul, dekat air terjun Sri Gethuk, justru air berlimpah. Masyarakat daerah itu tidak perlu menadah hujan lagi. Kontras sekali dengan daerah-daerah sekelilingnya. Bagaikan oase di tengah padang pasir.

Sepantasnya Gunung Kidul adalah pusat sumber air (gunung gitu loh). Tapi sepertinya permukaan tanah di sana terlalu keras atau terlalu mahal untuk digali. Kebetulan di desa Bleberan itu aliran air dalam tanahnya mencuat ke luar. Mungkin karena itu diberi nama “bleber”, airnya sampai bleber-bleber.

Beruntung. Beruntung sekali Indonesia pada umumnya punya air tanah yang berlimpah. Tidak seperti cerita kawanku di Adelaide. Dia bilang, cuci mobil di teras depan rumah saja bisa ditangkap polisi karena buang-buang air. Itu baru di Australia, belum negara-negara yang jauh lebih kerontang lagi.

Sebaik apapun alam, tentunya butuh perawatan supaya manfaatnya bisa langgeng dipetik. Tapi sepertinya belum banyak yang sadar. Lebih banyak yang kufur nikmat. Baru berasa kalau nikmatnya sudah dicabut, mirip sifat orang Bani Isroil.

Tetanggaku yang sedang studi doktor tentang lingkungan hidup bilang, Indonesia itu negara yang paling aneh, air dihargai Rp0. Artinya perusahaan tinggal mencari aliran mata air maka dia bisa mengakses air bersih sesuka hati, gratis! Padahal, menurutnya, negara-negara lain memberikan tariff setiap penggunaan air di perusahaannya. Efeknya tentu saja buruk. Perusahaan akan menggunakan air dengan sangat leluasa. Paling-paling efeknya masyarakat sekitar akan ribut karena limbahnya mengganggu lingkungan. Kalau sudah begitu, ya tanggulangi seadanya saja, bersihkan limbahnya dan rekrut pemuda sekitar untuk jadi karyawan sebagai upaya menutup mulut masyarakat sekitar.

Dalam aturan agamaku, sawah yang pengairannya mengandalkan air hujan punya kewajiban zakat yang lebih besar daripada yang tidak mengandalkan air hujan. Secara tidak langsung aturan itu mengajari manusia untuk bersukur dengan cara memberi lebih karena dia sudah diberi lebih.

Maka mulailah bersukur, kawan. Mulai dari hal-hal kecil seperti menghabiskan minuman dalam gelasmu, sebisa mungkin menggunakan shower ketika mandi (menghemat 40% penggunaan air), dan menutup keran sampai tuntas.




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.