Arsip untuk Kategori 'cerita'

27
Jan
12

Pulau Balai Tenggelam

Salah satu rumah di Balai yang tenggelam tapi terpaksa masih dipakai. Dok: Iqbal.

Agak kasihan melihat bangunan-bangunan di Pulau Balai, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Sejak gempa Nias 2005, daratan Balai turun satu meter. Puluhan bangunan tenggelam. Yang punya duit tinggal pergi dari pulau atau bikin bangunan baru. Yang gak punya duit terpaksa tetap tinggal di situ. Dia timbun rumahnay sampai melebihi tinggi air.

22
Jan
12

Peak Hunter Buat Travelling

Tiga bulan saya keliling Sumatera cuma bawa beberapa kaos, kebanyakan adalah kaos-kaosnya Peak Hunter. Buat saya yang outdoor banget, saya perlu kaos yang gampang nyerap keringat, bikin gak gerah, dan jelas saya perlu kaos yang melarnya enak.

Nah, itu semua saya dapat di kaos-kaosnya Peak Hunter. Kalau saya tracking yang lebih dari 3 km, biasanya saya pakai kaos Peak, kecuali lagi kotor semua, terpaksa deh saya pakai kaos lain. Panas dari dalam tubuh itu gampang keluar kalau pakai Peak.

Saya tanya ke Rendy, si produsen kaos-kaos Peak Hunter, pakai bahannya apa? Dia jawab begini:

“Kalo jenisnya sama kaya kaos merk-merk lain, cotton combed 30s. Cuman emang jenis cotton-nya yang berbeda. Kualitasnya halus. Gw mati-matian cari bahan kualitas gitu. Oh iya satu lagi, ada yang bilang kalo ukuran kaos gw lebih kecil. Itu emang gw buat kaya gitu agar lebih nempel ke badan, sehingga keringat yg keluar langsung diserap kaosnya dan langsung diuapkan ketika kena sinar matahari. Cocok buat light trekking dan backpacker.”

Oh gitu ya. Saya mah kurang paham begituan. Yang penting enak dipakailah.

pakai kaos peak waktu nyeberang dari Kalianda ke Pulua Sebesi

Kaos-kaos Peak sudah saya ajak snorkeling di Pulau Sebesi, masuk ke kandang gajah di Way Kambas, foto bareng situs megalitik di Pasemah, jalan-jalan di Pulau Siberut, makan masakan Padang bareng di Padang. Wah, udah ke mana-mana deh. Kaos Peak emang enak buat ke mana-mana selama judulnya jalan-jalan.

Saya juga suka desainnya. Gak norak. Pernah waktu di Harau saya ketemu sekelompok pemuda dari Bukittinggi yang lagi latihan panjat tebing. Katanya sih mau latihan buat lomba. Saya perhatikan kok mereka pada merhatiin saya, padahal gak saya ajak ngomong.

Saya baru sadar kalau saya lagi pakai kaos Peak yang gambar orang lagi manjat tebing batu dan ada tulisan “Rock Climbing” nya. O oww… mungkin mereka menganggap saya pemanjat juga. Bukan… bukan… saya bukan pemanjat. Saya cuma backpacker kere… =p

19
Jan
12

Homesick

Saya bikin tulisan ini di hari ke-34 perjalanan saya keliling Sumatera. Entah kapan saya bisa upload ke blog. Mudah-mudahan secepatnya saya temukan warnet dan hati saya digerakkan untuk masuk ke warnet itu.

Akhirnya saya bisa pahami kenapa kawan-kawan kuliah saya dulu, di bulan-bulan awal, beberapa yang rumahnya di luar Jawa tiba-tiba jadi pendiam dan malas bergaul dengan kami, teman-teman satu lorongnya. Dia lebih senang sendirian di kamar asrama atau keluar gak tahu ke mana, pokoknya sendirian.

Dok: temah8.blogspot.com

Itu juga yang saya rasakan sekarang. Saya sedang tidak mau keluar, sedang tidak berkeinginan buat ngobrol sama sekali. Walau hari ini adalah natal dan saya sedang berada di Sumut, yang itu berarti bakal banyak cerita di luar sana, tapi saya lebih ingin sendirian.

Saat ini, makanan seenak apapun tidak bisa mengalahkan makanan rumah. Penginapan sebaik apapun tidak bisa mengalahkan kamar di rumah. Rupanya begini rasanya homesick.

Sekarang ini saya benar-benar merasa sendirian. Walau banyak orang-orang baru kenal yang memberikan saya tempat tinggal, dan segudang informasi, tapi tetap itu tidak bisa menggantikan suasana ketika saya di rumah. Walau ada puluhan orang di sekeliling saya, tapi saya merasa sendirian.

Maka saya juga jadi paham, ketika dulu abang kelas saya teriak-teriak kesetanan di Bogor waktu dikabari rumah dan seluruh keluarganya terbawa tsunami di Aceh. Walaupun memang kelewatan juga dia, karena dalam islam tidak boleh sampai teriak-teriak begitu. Tapi saya bisa sedikit pahami apa yang dia rasakan waktu itu.

Pembelajaran 34 hari ini betul-betul mendalam dan terlalu banyak sepertinya. Saya merasakan bagaimana perut bisa menjadi musuh yang sangat nyata, bisa membuat orang melakukan hal-hal salah dan dia sendiri tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Perut sudah berkehendak.

Saya merasakan betapa saya hidup sangat berkelebihan di Jakarta, bisa makan, tidur, dan mencari penghidupan dengan tenang. Karena saya tinggal dengan orang-orang yang sama-sama berkelebihan, maka nilai “berkelebihan” itu menjadi tidak terasa. Padahal di pedalaman Mentawai, orang punya TV saja itu hitungannya sudah kaya.

Saya baru bisa merasakan nikmat makanan berlimpah di Jakarta setelah tahu bahwa masih banyak orang yang kulkas saja tidak punya, dan tidak punya stok bahan makanan untuk besok. Besok, kalaupun punya uang, pilihan bahan makanan yang orang jual dalam radius 30 km itu tidak banyak.

Kelihatannya, orang itu baru benar-benar bisa bersyukur setelah dia tahu apa yang dia dapatkan itu tidak bisa didapatkan orang lain.

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

01
Okt
11

I’m Iqbal and I’m NOT a Terrorist

Tahun lalu (2010), saya mau ngetes, saya bisa gak sih jalan jauh. Start awal dari Lengkong (Nganjuk, Jatim), targetnya sampai Trowulan (Mojokerto, Jatim) yang itu jaraknya 40 km. Saya jalan dari pagi sampai sore, tapi gak bisa sampai tujuan, cuma kuat 30 km.
Selama di perjalanan, saya pakai sorban buat nutup kepala biar ngurangin panas. Ini bukan karena saya mau kelihatan alim, tapi karena memang yang paling enak itu sorban, lebar dan tipis, terus bisa nutupin sampai pundak telapak tangan. Kebetulan juga jenggot saya lagi banyak waktu itu.

Yang menarik, beberapa orang, ada juga bocah SD, meneriaki saya teroris. Saya sampai ke kesimpulan bahwa anggapan itu karena saya pakai jenggot dan sorban. Jadi keduanya itu sudah benar-benar, kalau kata orang pemasaran, sudah jadi top of mind orang-orang bahwa jenggot dan sorban identik dengan teroris.

Dok: www.ujiberita.com

Kalau orang tanya pasta gigi itu apa, mereka jawab Pepsodent. Kalau ditanya air mineral itu apa, mereka jawab Aqua. Nah, kalau ditanya teroris itu siapa, mereka bakal jawab orang islam yang jenggotan dan sorbanan.

Saya pernah baca catatan perjalanan seorang wartawan yang keliling Indonesia setahun pakai motor. Ya namanya lagi bertualang kan hidupnya gak teratur, jadi jenggotnya juga lebat. Kalau dia lagi ada di pulau-pulau kecil, terutama yang di perbatasan, sering kali beberapa pihak yang ngakunya berwenang menggeledahnya karena, mereka pikir, ada indikasi orang ini teroris yang mau nyebrang ke negara sebelah. Jadi kalau jenggotan perlu lebih diwaspadai.

Kalau diperhatikan di film-film yang keluar 5 tahun terakhir, terutama yang keluaran Hollywood, sebutlah Green Zone dan Body of Lies, gerombolan teroris selalu digambarkan beragama islam, jenggotan, dan sorbanan. Juga, orang islam gak mau bergaul sama non-islam. Doktrinasi banget! Saya gemes banget waktu nonton film ini.

Hey! Saya orang islam, saya jenggotan, tapi saya bukan teroris tauk! Boro-boro pegang bom, petasan aja enggak.
Mudah-mudahan bukan karena pandangan teroris begini yang bikin kita, orang islam, meninggalkan sunah pelihara jenggot. Ngapain malu. Justru kita harus balikin doktrin yang begituan dengan jadi orang islam yang jenggotan, yang gak malu pakai sorban, yang bisa supel sama masyarakat, yang suka bantu orang, yang suka sholat sama puasa sunah. Masyarakat bakal menilai dan doktrinasi “jenggotan itu teroris” bakal bersih sendiri. Mudah-mudahan ya.

11
Sep
11

Sudut Pandang Baru dari Kereta Ekonomi

Belakangan ini, saya jadi sering pakai kereta ekonomi kalau muter-muter Jawa. Awalnya dulu dicemplungin sama anak-anak Backpacker Indonesia. Banyak dari mereka yang ke mana-mana pakai kereta ekonomi, biar irit katanya. Buat saya, kereta ekonomi ini bukan irit, tapi irit banget! Harga tiketnya bisa cuma 20% harga tiket kereta bisnis/eksekutif. Dan dia gak ikutan naik di waktu harga kereta bisnis/eksekutif naik, misal pas liburan atau lebaran.

Memang sih, kalau punya duit, saya mending naik bisnis/eksekutif karena jelas dapat kursi dan gak ada orang jualan. Tapi di kereta ekonomi ada nilai lebihnya juga yang susah saya dapat di kereta bisnis/eksekutif: sudut pandang baru.

Kebanyakan yang naik kereta ekonomi ini, setahu saya, orang-orang menengah ke bawah, ya kuli bangunan, pedagang kaki lima, satpam, dsb, atau orang-orang yang sedang pakai topeng menengah ke bawah, macam mahasiswa itu lah.

Mereka ini baik baik loh, suka nawarin makan, suka ngajak ngobrol, suka kasih info rute, mau dititipin barang kalau mau ke WC. Bagian yang paling saya suka adalah, mereka suka ngobrol dan pengalamannya banyak yang menarik dan suka beda sama berita yang saya dengar di TV.

Kereta ekonomi Matarmaja. Dok: www.ucuagustin.blogspot.com

Saya pernah ketemu sepasang suami istri. Mereka sering ke senayan buat jualan, aslinya orang Jawa Timur. Sang istri dulu pernah jadi TKW di Arab. Dia bilang, berita di TV itu salah. Kalau ada TKW yang digebukin atau diperkosa, itu salah TKW nya, bukan salah bironya. Kalau TKW nya nurut apa yang diminta majikan, dia gak jahat kok. “Saya kan bertahun-tahun di sana, saya tahu karakter orang Arab, saya tahu karakter TKW kita, saya paham situasi, jadi saya tahu mana yang salah.”

“Yang biasanya gak bener kerjanya itu orang Sunda sama NTB. Kalau orang Jawa Tengah nurut-nurut jadi gak ada masalah sama majikan.”

Dia lanjut cerita, kalau masalah digebukin, disetrika, diperkosa, itu mah gak usah ke Arab, di Jakarta juga banyak. Tapi kok gak pernah atau jarang masuk TV? Ya itu karena majikannya terkadang orang berada dan punya pengaruh, nanti kalau diangkat, medianya yang ikutan kena gebuk.

Nah, cerita yang begini-begini yang bikin saya punya sudut pandang baru. Selama ini kan kesan yang dikasih TV ke otak kita, majikan luar yang brengsek, tapi di kereta ekonomi saya dapat pandangan bahwa TKW juga ada salahnya kok.

Si suami nambah cerita pengalamannya jualan di JCC Senayan. “Pokoknya kalau ada pameran computer, itu panen deh,” langsung to the point. Iya sih, saya 2 kali ke Indocomtech, kayaknya butuh dibangun fly over dari dalam ruangan pameran ke parkiran, saking ramainya orang.

Pesan yang saya pegang betul, “Jangan beli teh yang biasa dijual pakai gelas plastik besar. Itu pakai air keran!” Kelihatanya memang segar, tapi gak sehat. Saya gak langsung percaya, mungkin aja ini Cuma suudzon. Tapi logikanya, memang itu lebih riskan sih dibanding minuman kemasan. “Tau berapa modal mereka terus bisa dilipat jadi berapa?”

“Berapa Pak?”

“Lima belas ribu jadi empat ratus ribu. Ya iyalah wong pakai air keran.”

Atau pengalaman lain di kereta ekonomi, dulu saya pernah ketemu anak muda, sekitar umur 20 tahun. Dia dari Madura tapi pindah ke Jakarta. Di Madura kerjaan dia sehari-hari bikin garam, bantu orang tuanya. Dengan kerja Cuma setengah hari, dia bisa dapat 2 juta sebulan. Tapi dia milih hijrah ke Jakarta buat jadi buruh yang gajinya gak nyampe 1 juta sebulan, itu pun mesti dihadapkan dengan biaya hidup yang tinggi.

Saya tanya kenapa pindah. Kan di Madura udah enak? Dia jawab, pengen cari pengalaman. Mungkin dia mau tahu ibukota tuh gimana sih.

Di sini saya juga dapat sudut pandang baru, bahwa walau desentralisasi ekonomi jalan, tapi harus dipikirin juga factor “pengen cari pengalaman”. Pengamat urbanisasi Jakarta yang sering nongol di TV bilang, urbanisasi itu karena di daerahnya gak ada lapangan pekerjaan. Tapi si penghuni kereta ekonomi yang itu pelaku urbanisasinya langsung bilang pengen cari pengalaman, bukan karena di daerahnya gak ada lapangan kerjaan. Bertolak belakang banget kan.

Yah, yang begitu-begitu lah nilai positif kereta ekonomi, bikin saya punya sudut pandang baru, langsung dari yang ngalamin.

25
Agu
11

Sapi Perah di Segitiga Emas Masih Berdetak

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Seperti cerita di negeri dongeng. Sampai detik ini, masih ada produsen susu sapi yang bertahan meneruskan usaha nenek moyangnya di tengah jantung kota ibukota, dikelilingi gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Lebih dari lima puluh sapi perah berbagai usia masih hidup dan masih produktif dimiliki Mirdan. Dua ratus liter susu sapi disuplai dari tempat ini setiap harinya. Menurut Ridho, kakak kandung dari Mirdan yang juga mengelola peternakan ini, mereka sudah merintisnya sejak tahun 1960. Peternakan ini merupakan usaha turun-temurun keluarganya.

Letaknya dekat sekali dengan kawasan Mega Kuningan, tepatnya di Jalan Perintis, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tidak persis di pinggir jalan perintis, tetapi ada semacam lorong kecil sepanjanglimapuluh meter yang memang hanya menuju peternakan ini. Di jalan perintisnya sendiri, kemacetan khas ibukota dijumpai setiap hari pada jam masuk dan keluar kantor.

Kedua keadaan tersebut sangat kontras sekali terasa. Di jalan raya, segala kemodernan kental sekali, mobil-mobil mewah berbondong-bondong menuju atau keluar perkantoran. Tetapi ketika berjalan sedikit ke dalam peternakan, hawa pedesaanlah yang menyeruak, alami sekali. Tampak jelas di sekeliling peternakan sapi perah ini gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi menampakkan kekuasaannya. Sapi perah di kawasan ini sudah ada sejak dulu, sebelum gedung-gedung tinggi disekitarnya dibangun, bahkan sebelum dipikirkan akan dibangun.

Bekas Sentra Susu Jakarta

Memang kawasan ini dulunya adalah tempat produksi susu sapi terbesar diJakarta. Bahkan ada suatu gang yang dinamakan gang susu. Sepanjang gang susu ini dulunya dipenuhi sapi perah. Sekarang tidak ada satupun sapi yang terlihat di gang susu. Namun, plang nama Gang Susu masih tetap tegar berdiri menjadi saksi bisu kejayaan akan susu sapi di tempat ini dulu.

Ahmad Mirdan adalah salah satu dari sisa peternak itu. Usaha peternakan miliknya saat ini sudah dilakukan sejak dua generasi sebelumnya. Jadi, Mirdan adalah generasi ketiga. Ia dan keluarganya memiliki lebih darilimapuluh sapi berbagai usia, ada yang siap perah ada juga yang belum. Terlihat juga belasan kambing yang ikut diternakkan di tempat ini. Bisa dibilang, lahan peternakan seluas kurang lebih 200 meter persegi ini kurang layak lagi untuk ditempati sapi-sapi dan kambing-kambing itu karena harus berjejalan dengan jarak antarsapi yang sangat kecil.

Beternak sapi di bawah gedung-gedung tinggi. Dok: Iqbal

Setiap hari, Ridho memerah sapinya dua kali, yaitu pada pukul 6 pagi dan 4 sore. Produksi susu dari peternakan ini sekitar 200 liter per hari. “Saya jual ke loper-loper susu yang berani membeli dengan harga tujuh ribu per liter. Kalau tidak ada yang beli ya saya jual ke koperasi. Susu pasti laku dijual,” kata Mirdan. Ridho menambahkan, terkadang ada juga pembeli yang langsung datang ke tempatnya untuk membeli susu. Minimal pembelian adalah satu liter. Harga yang diberikan sama dengan harga untuk loper.

Setelah sapi diperah, biasanya para loper susu sudah menunggu hasil saringan susu itu untuk diedarkan ke berbagai pelosok ibukota. Kemasannya ada dua jenis, plastik dan botol. Botol-botol yang dipakai ini adalah hibah dari pemerintahan Soeharto dulu. Ukurannya ada yang setengah dan ada yang satu liter.

Dulu, para loper susu ini menyebarkan susu dengan menggunakan sepeda yang disemati kantong-kantong di sekujur tubuh sepeda. Namun, sekarang tidak perlu mengayuh sepeda sampai berpuluh kilometer lagi karena biasanya loper sudah dilengkapi dengan sepeda motor.

Pemindahan sentra susu Jakarta dari Kuningan ke Pondok Ranggon dilakukan sekitar tahun 70an. Saat itu, Jakarta mulai melakukan pengembangan kawasan Mega Kuningan. Sedikit demi sedikit peternak pindah ke Pondok Rangon atau memilih untuk menutup usaha sapi perahnya sama sekali.

Proses pengembangan kawasan Kuningan menggerus lahan-lahan kosong yang biasa ditumbuhi rumput. Dengan begitu, Mirdan dan Ridho merasa kesulitan mencari hijauan sebagai pakan sapi-sapi mereka. “Biasanya kami ngarit sampai ke Cilandak,” kata Ridho. Memang mendapatkan hijauan menjadi kendala bagi peternak di daerah perkotaan. Di Pondok Ranggon pun mencari hijauan sudah memperlihatkan kendala.

Bahan pakan selain hijauan relatif lebih mudah didapatkan. Ridho bercerita bahwa pakan yang diberikan terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan potongan-potongan singkong, selain hijauan yang diberikan dalam jumlah paling besar. Ada komposisi tertentu yang dipercaya efektif menghasilkan susu lebih banyak.

Kalau dilihat dari sudut pandang para loper susu sebagai distributor andalan, mereka diberi pilihan yang berat, membeli susu ke Pondok Rangon dengan harga relatif lebih murah, yaitu sekitar 4 ribuan tetapi biaya distribusinya lebih tinggi, atau membeli ke Mirdan, mahal tetapi dekat.

20 juta per meter

Menurut Mirdan, lahan peternakan miliknya sekarang berharga 20 juta/meter. “Sampai sekarang belum ada penawaran harga yang cocok buat saya jadi belum saya jual,” akunya. Mirdan tidak segan untuk menjual lahan peternakan mininya itu jika ada tawaran menarik. Pengembang kawasan Mega Kuningan masih mematok harga tertinggi 10 juta/meter. Harga tersebut masih ditolak oleh Mirdan.

Bagi Mirdan, bisnis usaha sapi perah masih cukup menguntungkan. Setelah dihitung-hitung, keuntungan bersih dari satu ekor sapi produktif adalah lebih dari 10 juta dalam satu tahun. Sedangkan Mirdan memiliki puluhan sapi yang masih produktif. Jadi, memang hasil dari beternak sapi di kawasan ini sama menggiurkannya dengan menjual lahan peternakannya kepada pihak pengembang.

Kalau lahan Mirdan ini sudah dijual, habis sudah bekas-bekas kejayaan kuningan sebagai produsen susu. Sapi berubah menjadi gedung. Lebih gagah memang, tetapi juga lebih sombong.

08
Jul
11

Batang dalam 2 Jam

Batang tidak berbeda jauh dengan kondisi kota-kota sepanjang Pantura lain. Panas, gersang, berdebu. Aku pinjam sepeda kawanku untuk keliling Batang. Pikiran pertamaku ingin ke pantai. Tapi aku mampir dulu di alun-alun Batang yang letaknya persis di pinggir Pantura.

Sebuah gerobak kecil dan gelaran tikar sudah cukup membuat sebuah sudut alun-alun jadi tempat nongkrong. Di situ ada penjual susu segar yang merupakan pensiunan Pos Indonesia. Aku pesan segelas susu dan makan dua buah gorengan yang enak. Untuk itu aku bayar Rp 4.500.

Dari alun-alun itu, aku menuju Pantai Sigadung (kalau tidak salah). Di tengah perjalanan aku lihat ada tulisan “Tambak Kuda Laut”. Wah, ini bikin penasaran. Baru kali ini aku dengar ada tambak kuda laut. Mau dibuat apa?

Aku masuki gang yang ada tulisan itu. Sampai di sebuah bangunan seperti rumah besar yang dikelilingi aktivitas pekerja. Baunya pesing sekali. Aku tanya ke salah satu pekerja, “Kolam Tambak Kuda Laut nya di mana?”

“Bukan tambak, tapi rambak, artinya keripik.” Jadi, itu adalah pabrik keripik yang namanya Kuda Laut. Bahan keripiknya ya ikan, bukan kuda laut. Sial.

Dok: id.wikipedia.org

Aku goes lagi sampai ketemu jembatan yang di bawahnya banyak kapal-kapal nelayan. Terlihat juga ada semacam tempat pelelangan ikan. Semuanya tampak kumuh.

Baru kemudian aku ketemu dengan Pantai Sigadung. Kotor! Bahkan aku malas turun dari sepeda. Yang menarik dari Sigadung adalah adanya tempat atraksi lumba-lumba. Kaau tidak salah, itu milik Taman Safari. Tapi baru buka pukul 2 siang. Di luar jam itu tidak boleh masuk.

06
Jul
11

Belajar Nahwu Sharaf di Lengkong

Aku pikir si petugas dapur lupa memberikan lauk, rupanya di sini memang biasa makan dengan menu: nasi, sayur nangka, dan dua buah kerupuk.

Itulah konflik terbesar dalam diriku selama belajar nahwu shorof di Lengkong. Maklum, ini kali pertama aku tinggal di pondok yang konsekuensinya juga makan-makanan pondok. Ini juga jadi jawaban kenapa biaya per bulannya hanya Rp 200 ribu (up date pertengahan 2011 Rp 250 ribu/bulan).

Tapi itu tidak seberapa dibanding ilmu yang kudapat. Di sini, tiap dua bulan sekali, dimuai kelas baru lagi, dari awal lagi. Dan tidak ada level berikutnya setelah belajar 2 bulan di sini.

Satu hari ada 4 kelas: subuh, pagi, siang, dan malam. Setiap hari otakku rasanya dijejali rumus-rumus (wazan), bermacam istilah, yang itu semua harus dihapal. Siswa lain kebanyakan basic nya memang mubaligh, jadi tidak kaget dengan memgang kitab pembelajaran yang dari awal sampai akhir huruf Arab semua.

Lah aku… dengan hanya menghapal sedikit kosakata, aku megap-megap. Tapi bisa kok, Alhamdulillah. Asal tidak malu tanya, insya Allah lancer.

Dok: aisi-balikpapan.blogspot.com

Nahwu Sharaf itu adalah ilmu rangkuman para ulama zaman dulu tentang tata bahasa Arab berdasarkan Quran Hadits. Ketika zaman Nabi, tidak ada itu ilmu Nahwu Sharaf, bahkan tidak ada harokat dan titik dalam huruf-huruf yang digunakan. Islam berkembang. Orang dari mana-mana belajar Quran Hadits yang itu berbahasa Arab. Asal mereka yang beragam menimbulkan ketakutan adanya salah tafsir kalau tidak ada ilmu tata bahasa baku dalam Bahasa Arab. Juga, untuk mempermudah orang-orang non Arab buat mempelajari Bahasa Arab. Maka dibuatlah ilmu Nahwu Sharaf.

Aku bisa bilang, Bahasa Arab itu lebih rumit dari Bahasa Inggris. Bahasa Arab mengenal kata benda laki-laki, perempuan, tunggal, dual, dan jamak. Kata kerjanya juga terbagi ke kata dasar (mashdar), bentuk lampau, bentuk kini/masa datang, pasif, dan aktif. Semua itu ada rumusnya dan harus dihapal!

Rumus itu bakal beda kalau kada dasarnya mengandung huruf alif, ya, dan waw. Bakal beda lagi kalau ketiga huruf itu ada di depan, ada di tengah, ada di belakang, dan kompilasinya. Bisa beda lagi kalau hurufnya berjumlah dua, tiga, atau lebih. Itu semua punya rumusnya sendiri. Dan kabar buruknya, kalaupun semua itu sudah dihapal, belum tentu dia bisa baca Arab gundul karena juga harus memperbanyak kosakata. Hehe, seru ya… =)

Jadi setiap hari kerjaan kami ya menghapal wazan-wazan itu (rumus). Tapi di Lengkong, ini tidak wajib. Dulu pernah diwajibkan, tapi banyak siswa yang mental, jadi pengurus memutuskan dihapus sajalah. Targetnya dikurangi menjadi: paling tidak pernah ketemu wazan model begitu.

Kedudukan kata juga kami pelajari. Di situ aku mengenal istilah marfu’, nashob, majrur, fa’il, naibu fa’il, isim inna, khobar kana, maf’ul bih, mubtada’, dsb…

Tenang… tidak sesulit yang dibayangkan kok. Ada waktu 2 bulan buat menguasainya. Asal rutin ikut kelas dan focus, insya Allah tidak perlu ngulang lagi juga sudah masuk. Kawan-kawanku juga tenang-tenang saja. Malah mereka hamper tiap sore masih sempat main bola.

Yang perlu disiapkan adalah pikiran yang kosong dan tenang. Belajar nahwu shorof harus focus. Kebetulan, di Pondok Lengkong ini ada aturan bahwa siswa dilarang bawa HP. Menurutku itu bakal lebih membuat bisa focus. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Kelas ada tiap hari. Libur hanya di hari Jumat. Dua bulan ini, menurutku, memang paketnya segitu. Kalau dia cuma ikut satu bulan bakal cacat ilmunya, tanggung.

Untuk ke Lengkong, gampang. Capai stasiun Kertosono, terus jalan ke pasar Kertosono (sekitar 100 meter dari stasiun), terus naik angkot jurusan Lengkong (Rp 5.000; 30 menit; Cuma ada dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore). Angkot baka berhenti di pasar Lengkong. Dari situ tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Tanya aja orang pasar, pondok Lengkong di mana, insya Allah mereka tahu.

Atau bisa juga dari stasiun Kertosono naik ojeg. Ongkosnya Rp 15.000. Bilang ke pondok Lengkong. Kalau ojeg ini ada 24 jam.

Selama di Lengkong, hiburanku Cuma dua. Pertama jalan-jalan ke pasar Lengkong buat ngopi. Secangkir kecil seribu, gelas standar dua ribu. Dua, jogging ke sekitar pondok. Di daerah sini banyak sekali pohon kersen atau orang local menyebutnya keres. Sekali jogging aku bisa nyambi makan kersen. Sebutir demi sebutir. Kalau dikumpulkan sekali jogging ya setengah piring kersen lah, hehe.

Ohya, di pertengahan pembelajaran, aku pulang ke Jakarta, bawa laptop. Itu membantu juga kalau jenuh. Di pondok Lengkong memang tidak boleh bawa HP tapi boleh bawa laptop.

Iklim daerah Nganjuk sedang. Jadi kalau tidur di masjid tidak pakai selimut masih bisa lah. Aku bawa sleeping bag. Itu lebih aman.

Mudah-mudahan bermanfaat.

16
Jun
11

Malioboro dan Tetangga-Tetangganya

Yang paling kuingat tentang Malioboro, selain Dagadu dan batik-batiknya, adalah cerita temanku tentang perjalanannya keliling seputaran Malioboro dengan becak yang cuma berbayar seribu perak. Tapi beberapa artikel bilang, mereka (tukang becak) itu niatnya bukan mencari yang seribu itu, tapi dengan kita belanja di tempat-tempat yang sengaja disambangi si tukang becak, dia dapat banyak uang dari si pemilik toko. Jadi, aku pilih berjalan.

Dari Stasiun Tugu ke Selatan sedikit, kita bisa jumpai rentetan penginapan murah di Jalan Pasar Kembang atau orang biasa menyebut Sarkem. Mudah mencari penginapan yang sewanya Rp 50.000 per malam. Banyak penginapan ya otomatis banyak tempat jajanan di sepanjang jalan. Sarkem paling sering direferensikan backpacker ke backpacker lain untuk menginap, juga karena banyak tempat wisata yang dekat darinya.

Salah satu muara Jalan Sarkem adalah Malioboro, jalan yang nyala terus. Banyak orang bilang, Malioboro mutlak dijajaki kalau ke Jogja. Baju, makanan, elektronik, sampai kuda, ada di Malioboro. Mungkin hanya kalau hujan Malioboro baru agak sepi. Itupun agak. Buatku, Malioboro lebih dari itu. Dia jantung buat Jogja. Pusat peradaban sekaligus salah satu pusat perekonomian. Namanya bahkan lebih tenar dibanding Diponegoro, bahkan Sri Sutan sekalipun.

Hari pertama, setelah melewati Malioboro, aku masuk ke Keraton Jogja. Ramai sekali Sabtu ini. Setelah membayar Rp 5.000 untuk tiket masuk dan Rp 1.000 untuk kamera (termasuk kamera HP!), kita dipersilakan masuk melihat-lihat ke dalam. FYI, semua museum di sekitar Malioboro minta Rp 1.000 untuk kamera. Peraturan yang agak aneh menurutku. Kalau tiket masuk ya jelas untuk perawatan, lah kamera? Apa kalau dijepret bisa mengurangi nilai si benda koleksi?

Banyak kelihatan turis dengan warna kulit macam-macam. Seperhatianku, mereka kurang tertarik dengan peralatan-peralatan pribadi milik Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi mayoritas koleksi Keraton. Justru yang menurutku membuat mereka tertarik adalah pemandu yang bisa berbahasa aneka. Bahasa Inggris sudah mutlak bagi para pemandu, termasuk seorang tua yang kulihat berpakaian serupa dengan pamain wayang orang yang sedang menjelaskan tentang Keraton pada sekeompok bule. Sekali kudengar seorang pemandu bicara seperti bahasa Mexico yang banyak “rrr” nya.

Seorang pemandu mendekatiku. Padahal setahuku, aku tidak pasang tampang sedang mau cari tahu atau tampang kebingungan. Dia menunjukkan bahwa ada satu tempat baru, galeri lukisan katanya. Aku diajak keluar lewat pintu belakang yang ada tulisan “Enter” nya, lalu diarahkan ke sebuah galeri mini. Di akhir aku baru sadar, rupanya dia calo lukisan yang tentunya dapat komisi kalau aku membeli lukisan di situ. Ini yang menurutku membuat Keraton kurang nyaman.

Banyak koleksi Sultan HB IX yang tersebar di enam ruangan museum. Koleksi yang menurutku paling menarik adalah tiga buah batu besar bertuliskan pernyataan Soekarno yang mengamanahkan Jogja kepada Sultan, dua hari setelah kemerdekaan. Seorang pemandu (yang ini pemandu tetap di ruangan museum, bukan pemandu yang di luar-luar ruangan) bilang, inilah dalil bagi orang Jogja yang pro penetapan untuk tetap menjadikan Jogja sebagai daerah istimewa.

Ukiran pada batu ketiga membekukan sosok macam apa HB IX itu. Tertulis dalam Bahasa Belanda yang kalau diterjemahkan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Dia sosok yang kuat dan dibanggakan masyarakatnya. Seluruh Jogja menundukkan kepala ketika ia meninggal pada 1988 lalu dimakamkan di Imogiri.

Betul, mayoritas museum di sekitar Keraton menyajikan wisata sejarah, termasuk Museum Kereta, museum kedua yang kukunjungi hari itu.  Awalnya kupikir kereta yang dimaksud di sini kereta uap atau kereta yang ada rel nya itu, tapi ternyata kereta kuda. Dalam museum berbayar Rp 3.000 ini (kamera juga kena Rp 1.000), banyak koleksi kereta kuda yang waktu zaman Belanda banyak dipakai.

Kereta kuda yang dipajang di sini bukan sembarangan, ini punya bangsawan di masa itu. Interiornya berlapis beludru mewah dengan jendela di kanan kiri yang ditutup gorden bermotif mewah. Sebagian koleksi masih rapi jali dengan badan kereta yang tidak berdebu dan tempat duduk di dalam kereta yang terlihat (karena tidak boleh dipegang) lembut. Sayangnya, lampu di dalam museum terlalu redup, jadi beberapa foto di dinding kurang jelas, tulisannya juga, dan koleksi keretanya juga jadi kurang terlihat mewahnya.

Seorang petugas yang terlihat sedang mengelap salah satu koleksi bilang, kereta-kereta ini diaktifkan kalau ada perayaan. Kuda-kuda yang digunakan adalah khusus, dikandangkan masih di areal kompeks Keraton. Tidak sejajar dengan pernyataan petugas lain yang bilang kalau ada parade yang diambil adalah kuda-kuda yang banyak ada di Malioboro. Simpang siur.

Taman Sari (Rp 3.000) menjadi destinasi berikutnya. Letaknya di Selatan Keraton. Dari luar sudah tampak bahwa ini bangunan pas betul kalau dijadikan tempat foto pre-wedding. Betul saja, di dalamnya terlihat beberapa pasang yang sedang foto-foto, tapi sepertinya bukan pre-wedding, melainkan pura-pura pre-wedding. Mereka terlihat teralu muda untuk pre-wedding.

Dua buah kolam besar dengan air jernih menjadi pusat keindahan Taman Sari. Kolam-kolam tersebut dikelilingi tembok tinggi yang berlekuk indah. Pot-pot besar mengeilingi kolam dengan ukuran pot yang sama dan jenis tumbuhan hijau yang sama. Sudut pandang yang lain untuk menikmati kolam tersebut adalah dari lantai tiga sebuah bangunan di salah satu sisi kolam.

Bangunan tersebut juga indah dengan beberapa kamar di dalamnya. Sekilas terlihat seperti penjara dengan jeruji-jeruji besi di jendelanya dan dipan yang terbuat dari beton. Tapi mana ada penjara yang pemandangannya dua kolam jernih berwarna biru?

Beberapa lubang pintu tak berpintu berbentuk setengah oval menjadi penghubung ke banyak ruangan dan ke pemukiman penduduk. Tingginya hanya sekitar 1,8 meter. Mungkin banyak bule yang sudah terjedut di lubang-lubang pintu itu.

Pemukiman di sekitar bangunan Taman Sari ya seperti layaknya pemukiman. Ada rumah, ada poskamling, ada warung, dan ada WC umum. Suasana bangunan tua hilang seketika kalau masuk ke areal pemukiman tersebut. Lebih baik kembali ke areal bangunan Taman Sari.

Tadinya aku mau lanjut ke Museum Sono Budoyo, tapi ternyata jam 2 siang sudah tutup. Kata Satpamnya, biasanya jam 1 juga sudah tutup. Karena sudah mau hujan juga, jadi aku kembali ke penginapan.

Esoknya, aku jalan lagi melintasi Malioboro dari arah Sarkem. Jam 8 pagi, wajah Malioboro belum terlalu tampak. Penjual makanan saja yang tampak banyak. Penjual baju dan aksesoris lainnya mayoritas masih berupa gerobak berbalut terpal yang diikat. Hanya sebagian kecil saja yang mulai membongkar gerobaknya.

Museum Vredeburg terlihat gagah dan menarik dari luar. Tarif masuknya Rp 3.000 (kamera Rp 1.000). Lagi-lagi suguhannya adalah tentang sejarah Jogja. Patung Jenderal Soedirman dan Letjen Urip Sumoharjo menyambut setiap pengunjung yang masuk lewat pintu depan. Taman di pinggir jalan setapak terpangkas rapi menggambarkan bagaimana museum ini dirawat.

Ada beberapa Diorema yang terbagi dalam beberapa ruangan sepi dan gelap. Aku paling suka ketika masuk salah satu Diorema yang mengulas saat-saat Indonesia berpindah Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Terjelaskan bagaimana dinginnya hubungan Belanda dan Indonesia waktu itu. Inisiatif Pangeran Diponegoro dengan menyeru pada seluruh rakyat untuk berperang gerilia menjadi inisiatif yang diakui paling tepat dalam menangkal Belanda. Sebuah serangan umum yang hanya memakan waktu beberapa jam saja bisa membuat Jogja kembali dikuasai pribumi. Rakyat Jogja menggunakan granat gombyok dalam perlawanannya terhadap invasi Belanda. Replika granat ada di sebuah kotak kaca dengan sedikit keterangan tentangnya.

Sebagian diorama menyediakan tombol yang kalau dipencet akan keluar suara orang bercerita tentang kejadian di diorama tersebut. Tapi sebagian (besar!) tombol tidak berfungsi atau berlapis selotip dan tulisan, “Jangan dipencet.”

Keluar dari pintu belakang benteng, aku langsung menemui Taman Budaya berupa gedung yang sepi. Saat itu sedang ada pameran lukisan tapi hanya aku satu-satunya pengunjung. Itupun setelah menimbang-nimbang, ini pameran gratis atau berbayar, untuk umum atau bukan. Tidak jelas karena tidak ada tanda apa-apa di depan gedungnya. Di salah satu teras gedung terlihat beberapa anak umur TK sedang belajar menggambar. Di teras sisi yang lain sedang ada sekelompok gadis sedang belajar menari.

Kios-kios penjual buku berada tidak jauh dari Taman Budaya. Aku teringat Kuitang di Jakarta. Isinya juga tidak jauh beda, ya majalah bekas ya buku bekas ya buku obral ya buku bajakan. Koleksinya lumayan banyak. Tidak kalah lah sama Kuitang.

Tepat di sebelahnya adalah areal Taman Pintar. Setahuku tempat ini adalah tempat buat belajar anak-anak yang dibuka belum lewat 10 tahun. Beberapa gedung media belajar ada di dalamnya dengan tarif antara Rp 1.000 sampai Rp 15.000. Sukur, tidak ada ongkos tambahan untuk kamera.

Justru aku tertarik memperhatikan aktivitas di halaman gedung-gedung tersebut. Sepertinya di luar sini lebih ramai daripada di dalam. Permainan-permainan outdoor yang disajikan sepertinya sudah cukup untuk menggapai maksud rekreasi keluarga. Apalagi gratis. Jadilah ramai betul halaman Taman Pintar.

Satu permainan yang cukup ramai adalah Dinding Berdendang. Terdapat beberapa tabuhan yang terletak vertikal dan kalau ditabuh akan menghasilkan tinggi suara yang berbeda karena ukurannya yang berbeda. Di sebelahnya terdapat keterangan kenapa itu bisa terjadi. Tapi aku tidak yakin mereka membacanya. Mereka hanya mendengarkan suara tabuhan yang naik turun, tanpa ingin tahu kenapa bisa begitu. Mungkin pendiri Taman Pintar bisa berduka dengan kenyataan itu.

10
Jun
11

Benteng Pendem

“Boleh sepedanya aku bawa masuk, mba? Gak ada kuncinya.” Mungkin si mba-mba penjaga gerbang Benteng Pendem dalam hatinya bilang, “Ini orang masih pagi udah nyusahin.” Aku parkir sepeda dekat gerbang bagian dalam setelah sebelumnya diusir karena menaruh di depan loket karcis masuk.a

Benteng pendem adalah salah satu wisata andalan Cilacap, Jawa Tengah. Letaknya pas di Teluk Penyu, juga pas di samping tanki-tanki raksasa punya Pertamina.

Setelah bayar Rp 4.000 untuk karcis masuk (Weekend Rp 5.000. Update harga Mei 2011) aku lihat ke dalam, mana bentengnya? Tidak ada bangunan gagah yang tinggi menjulang. Aku cuma melihat tembok batu yang tingginya sekitar 2 meter bertuliskan “Benteng Pertahanan”.

Benteng Pertahanan. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Panjang tembok yang katanya benteng pertahanan itu sekitar 40 meter. Ada beberapa lubang yang berjejer. Lubang yang menghadap ke dalam lebih besar daripada yang menghadap ke luar (ke arah laut). Di sekeliling benteng bagian luar ada parit besar yang dalamnya tidak terdeteksi karena airnya tenang dan warnanya gelap.

Mungkin begini taktiknya: musuh harus kesulitan melewati parit besar sebelum bisa mencapai benteng. Supaya tambah sulit lagi, musuh yang berusaha masuk itu juga ditembaki dari lubang-lubang yang mengecil ke bagian luar tersebut.

Hanya ada satu jembatan kecil yang melintasi parit. Tidak jelas ini jembatan sudah ada dari dulu atau baru dibuat setelah jadi arena wisata. Ujung jembatan itu adalah benteng pertahanan yang sudah dibobol, untuk orang masuk.

Setelah masuk benteng pertahanan -yang cuma tembok itu-, aku menangkap tulisan “Benteng Jepang”. Aku tidak tahu apa ini bagian dari benteng pendem atau justru itu benteng pendem atau dua benteng yang berbeda. Aku dekati, tapi tetap saja membingungkan, mana bentengnya? Tadi cuma tembok batu tebal dibilang benteng pertahanan. Kali ini lebih abstrak lagi, tidak terlihat bangunan apapun kecuali arena bermain anak.

Aku jalan terus mengikuti jalan yang naik turun, lantas ketemu tulisan Ruang Amunisi, Ruang Penjara, dsb. Dilihat dari luar, sepertinya besar ruangan-ruangan itu hampir sama. Tapi terlalu gelap di dalam, jadi tidak bisa terlihat utuh. Ruangan-ruangan itu punya kesamaan: beratapkan tanah berumput.

Aku membayangkan, dulu ada sebuah bukit yang dilubangi tengahnya secara horizontal, lalu dilubangi lagi kecil-kecil secara vertikal membentuk ruangan-ruangan itu tadi.

Tiap ruangan punya pintu masuk yang kecil dan pendek. Kelihatannya harus menunduk buat masuk ke dalam. Halaman tiap ruangan hamper sama: tanah becek. Kadang-kadang malah ada air mengalir dari atas ruangan bagian luar. Bisa jadi itu mata air.

Tidak butuh waktu lama buat mengelilingi benteng. Kalau tidak masuk-masuk ruangan paling 20 menit sudah beres. Tapi kalau mau bersantai-santai dulu, gazebo tersebar di areal wisata. Tempat duduk-duduk dari semen juga banyak di sepanjang parit besar dekat benteng pertahanan.

Ada bagian parit yang jadi tempat mangkal mainan bebek-bebekan yang dikayuh. Karena masih pagi, waktu itu sekitar pukul 8, jadi belum beroperasi.

Aku kembali ke pintu utama, mengambil sepeda, lantas pulang.

Tags: benteng pendem, cilacap




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.