Arsip untuk Kategori 'cerita'

20
Nov
09

Di Balik Layar

Fashion tent yang menjadi ajang pentas utama di Jakarta Fashion Week 09/10 punya banyak cerita di balik fungsi utamanya, sebagai tempat penonton melihat hasil karya para desainer. Kapasitas bangku panjang yang berundak-undak mampu menampung 600 orang. Ini tidak termasuk tempat khusus untuk wartawan foto yang ada segaris dengan catwalk.

Pencahayaan menurut saya cukup maksimal. Ada 10 lampu tembak utama yang mengarah ke cat walk. Ada 108 lampu pembantu yang sepertinya bisa menghasilkan cahaya meriah tapi dalam JFW 09/10 tidak pernah digunakan. Delapan lampu yang tersebar di ujung-ujung ruangan adalah yang paling semarak karena bisa menyorot cahaya panjang yang berwarna dan juga punya kemampuan berjoget ria.

Layar besar di pangkal cat walk adalah satu-satunya hiburan kalau show ditunda karena para unsur pentas yang belum komplit atau karena penonton belum kumpul. Layar bisa terbelah vertikal menjadi empat bagian. Biasanya, para model keluar dari belahan-belahan layar itu. Waktu layar terbelah, gambar yang sedang diputar di layar ikut terbelah, wow… Baru kali ini saya ngeliat yang beginian (*Iqbal Norak).

Kertas A4 bertuliskan “Pers” banyak ditempel di podium kursi paling ujung. Pers selalu mendapat tempat spesial dalam JFW. Tidak jarang, pers diberikan jalur masuk khusus ke fashion tent, jadi tidak perlu mengantri seperti pengunjung lain. Setelah show pun, selalu pers diberi kesempatan bertemu para desainernya langsung. Tidak sedikit desainer yang memberikan goodie bag berisi macam-macam aksesoris.

Namun, podium pers tidak selalu menyenangkan. Kamera dari panitia yang dilengkapi dengan semacam tiang sepanjang 5 meter (entah apa namanya) suka mengganggu kursi yang dikhususkan buat pers. Tiang itu bergerak ke sana kemari. Kalau tidak hati-hati, batok kepala bisa beradu dengan tiang besi itu.

Wartawan foto menjadi unsur yang paling cepat hadir di tempat. Mereka mendapat tempat khusus di ujung, segaris dengan cat walk, tentunya supaya gambar yang didapat bisa maksimal. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke tempat khusus ini, blogger yang mau ikut motret juga tidak diperkenankan.

Mereka suka sekali mengeluarkan celotehan yang membuat penonton tertawa. Apalagi kalau ada penonton yang melintas di ujung cat walk, maka keluarlah apa yang bisa keluar dari mulut, cacian, serapah jenaka, dan ungkapan kekesalan lain. Mereka juga riuh kalau sang model berbusana minim. Haha. Betul-betul bonus hiburan di fashion tent dari mereka.

17
Nov
09

Senyum Dibalik Show Yayasan Jantung Indonesia

Beberapa pria sedang sibuk mengangkat harpa, butuh sekitar lima orang untuk memindahkannya dari atas panggung. Ah, saya telat. Bahkan siapa yang nyanyi pun gak tau. Acara selanjutnya pembukaan oleh ketua Yayasan Jantung Indonesia. Dalam sambutannya, Ibu ketua (saya lupa namanya) minta maaf karena dalam undangan salah nulis nama. Harusnya Harry Darsono tapi di undangan ditulis Harry Dharsono.

Pameran mulai. Warna-warnanya warna-warni banget, serasa lagi ada di pinggir pantai. Modelnya gak beraksi seperti model biasanya. Modelnya ikut bersosialisasi dengan penonton. Sesama model juga saling berinteraksi. Kalau model yang kemarin-kemarin kan jalannya di satu garis lurus dan pandangannya di satu titik di depan. Yang ini gak begitu sama sekali. Pas tampil, nama modelnya disebutin satu satu, lengkap dengan keterangan, “The Ambassador of…..(bla bla bla)”. Mereka yang menjadi model adalah ibu-ibu dari Korps Diplomatik Negara sahabat, pengusaha maupun Sosialita Jakarta.

Karena memang bukan model professional seperti pada sesi Jakarta Fashion Week 09/10 lain, ujung catwalk sempat macet. Gara-gara seorang model yang heboh dengan penontonnya. Baru jalan lima langkah, udah dadah-dadahin penonton. Jalan lima langkah lagi, dadah-dadah lagi. Padahal tiga model di belakangnya nungguin dia balik ke peraduan, maksudnya gentian gitu, yang lain kan mau gaya di ujung catwalk juga.

Ada juga kejadian di ujung catwalk lagi gaya tiba-tiba gak seimbang, mau jatuh. Salah satu model jalan datar begitu aja sampai ujung, terus langsung balik, tanpa bergaya sama sekali. Kebayang dong fotografer yang udah nunggu momen gaya itu tiba-tiba modelnya melengos gitu aja. Haha. Penonton riuh. Kadang celetukan-celetukan dari wartawan juga bikin ketawa.

Sandra Angelia, miss Indonesia juga dilibatkan memamerkan sebuah busana yang lebih eksklusif di banding yang lain (bagi saya). Semua yang dipamerkan itu adalah koleksi indah dari Private Museum Harry Darsono.

Susan Bahtiar, Ambassador Yayasan Jantung Indonesia ambil suara setelah show busana selesai, “Kita harus tahu bahwa penyebab kematian wanita di Indonesia adalah penyakit jantung. Kita banyak kasih info ke masyarakat, baik lewat media cetak maupun elektronik.” Di akhir acara, YJI memberikan penghargaan pada semua ibu-ibu yang telah berpartisipasi

Satu sesi Harry Darsono show yang berjudul Go Red for Woman (Perempuan, waspadalah!) ini dilaksanakan dalam rangka kampanye kesehatan sebagai kegiatan peringatan kaum perempuan terhadap bahaya penyakit jantung dan pembuluh darah. Pesan secara global ini disampaikan oleh Federasi Jantung Sedunia terhadap 167 Organisasi Perhimpunan Kardiologi dan Yayasan-Yayasan Jantung Sedunia dari 100 negara dari kawasan Asia Pasifik, Eropa, termasuk negara-negara Timur Tengah, Amerika, Afrika, dan Indonesia.

Salah satu karya Harry Darsono. Dok: JFW 09/10.

02
Agu
09

Erry, Dutaku untuk Kampung Bahasa

Aku sangat sepakat dengan moto yang diusung para bloger Indonesia, bloging for society, menulis dalam dunia maya untuk keadaan sosial yang lebih baik. Isi tulisannya informatif dan terpercaya (bukan liputan 6 SCTV). Percayalah bahwa setiap diri kita punya pengalaman dan pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin kelihatannya tidak penting untuk memberikan informasi itu karena merasa semua orang di lingkungan kita paham tentang informasi itu. Tapi di ujung sana ada orang yang sangat butuh info itu.
Blog memang banyak, tapi blog (hanya salah satu contoh media saja, bisa juga dengan notes di facebook, milis, dsb) yang sepaham dengan aliran bloging for society tidak sebanyak blog yang lebih banyak narsisnya sehingga hanya bisa dinikmati orang-orang di lingkungannya saja, itupun kalau nikmat. Narsis! Aku jadi ingat legenda narcissus, anak dari dewa sungai Cephissus dan Peri Liriope yang dikutuk untuk mencintai dirinya sendiri karena kesombongannya. Kalau Narcissus ini bangun lagi dari kuburnya, mungkin dia akan senyum bangga karena namanya disebut-sebut anak-anak muda Indonesia dan rekam jejaknya diikuti banyak orang. Huh! Narsis!
Sekitar setengah tahun yang lalu (awal 2009), aku pernah membuat tulisan tentang Kampung Bahasa di Pare, Kediri yang kupajang di blog ku. Di kampung itu bertebaran ribuan siswa/i yang punya niat baik untuk belajar Bahasa Inggris. Kampung Bahasa sangat unik, sampai-sampai kalau mau beli makan di warung saja, si penjaga warung mengajak bicara dengan bahasa inggris. Dalam tulisan itu juga aku mengulas bagaimana menuju ke sana, makanannya, transportasi, biaya kursus, tempat kos yang direkomendasikan, dan beberapa tips.
Laris, banyak yang membaca, rata-rata setiap hari ada 10 orang yang membaca tulisan itu di blog ku. Banyak dari mereka yang langsung menghubungiku lewat email pribadi untuk bertanya lebih lanjut. Salah satunya Erry. Dia meminta kontak kawanku yang bisa membantunya di Pare. Kuberikan salah satu nomor kawanku. Paling tidak, bisa nitip booking kos dan program lebih awal agar tidak kehabisan.
Lama setelah itu, kami tidak bersua. Satu waktu, Erry menyapaku lewat Yahoo Messenger. Dia surprise dengan keadaan kami yang tidak saling kenal tapi bisa saling membantu. Erry juga bercerita banyak tentang keadaan di Pare. Ia membuat kafe mini bersama kawanku yang ada di sana. Andai Erry tidak mampir ke blog ku, mungkin dia tidak akan ketemu dengan kawanku di sana, dan mungkin kafe itu tidak ada.
Ketika kutanya, “Apa kamu sepakat dengan gerakan pay it forward?” Dia jawab “Tentu.” Lalu, “Apa kamu bersedia kusebarkan nomormu untuk orang-orang sepertimu dulu yang tidak mafhum apapun tentang kampung bahasa dan ingin belajar banyak di sana?” Sekali lagi dia jawab, “Tentu.” Maka sejak saat itu, di kala ada orang yang minta kontak di Kampung Bahasa, nomor Erry lah yang kukirim.
Penasaran dengan keadaan kampung bahasa dan kafe milik Erry yang katanya unik itu, pagi tadi aku mampir ke Pare. Aku ingin berkenalan dengannya. Erry lulusan Accounting Perbanas yang mau melanjutkan studi masternya di beberapa pilihan negara target. “Aku tidak akan pulang sebelum TOEFL ku 600,” katanya sambil memandang ke langit (uhuy! Bo’ong deng). Wah, hebatnya semangat anak ini. Seperti anak-anak yang belajar di Pare pada umumnya.
Pernah satu ketika dulu, di tempat kos ku, ada siswa dari kursusan Smart yang terkenal kejam metode pembelajarannya pulang dengan wajah yang semua orang tahu itu wajah letih yang sangat. Ia berlari sambil hujan-hujanan. Sampai di depan kos, dia duduk di teras. Aku jelas melihat asap dari sekujur tubuhnya. Betul-betul asap, kawan! Mirip yang keluar dari mulut orang di puncak gunung ketika bernapas.
Kembali ke Erry. Dia sudah 5 bulan di sini, program English Planet dari kursusan Kresna yang masyhur itu juga sudah dikhatamkannya. Bisnisnya berjalan cukup baik. Aku datang sendiri ke kafenya, eksklusif! Lumayan bagiku, menambah satu teman lagi. Ahh…semua ini hanya karena sebuah tulisan.
Berilah ilmumu…. Sebarkanlah, seperti dandelion menyebarkan calon dandelion-dandelion muda. Mari menulis, kawan. Bagi apa yang kau punya.

05
Jul
09

Eksotisme Wisata Air Banjar

Sunset Pantai Takisung

Sunset Pantai Takisung

Maka dengan sedikit menyesal, kuputuskan membeli sebotol Aqua 600 ml di luar bandara. Sejak ada logo Danone di kemasannya, aku selalu memilih merk lain agar seluruh uang yang kukeluarkan tidak keluar Indonesia. Sayangnya kios kecil tadi tidak menjual air mineral lain.

Perjalananku sejak dua hari lalu cukup padat, pantas saja kalau kerongkongan ini minta dibasuh. Sesampainya di bandara Syamsudin Noor dua hari yang lalu, kupikir sudah sampai di kota Banjarmasin, ternyata baru sampai Banjar Baru. Bandara itu letaknya pada pal 25, sedangkan kota Banjarmasin ada pada pal 10 ke bawah. Orang Banjar biasa menyebut pal untuk kata ganti kilometer. Kata “pal” jauh lebih akrab buat mereka. Bahkan terminal terbesar yang ada di kota Banjarmasin dilabeli nama “Pal 6” karena letaknya di kilometer keenam dari mesjid raya Banjarmasin yang dinobatkan sebagai titik kilometer nol, eh salah, pal nol.

Menuju Pal 6, banyak taksi yang bisa dicegat di luar bandara. Taksi di Banjar bukan dari golongan Limo atau sedan lainnya seperti di Jakarta, tapi mobil colt besar yang rela diisi sampai 14 manusia. Taksi adalah sebutan masyarakat lokal untuk angkutan umum. Tarifnya, ya seperti tarif angkutan umum. Alternatif lainnya menggunakan ojeg, tarifnya minimal Rp15 ribu, tergantung skill menawar.

Adzan Magrib bergema tepat setelah aku sampai Pal 6. Segera kukabari Anas posisiku. Sambil menunggu, aku bereskan urusan lambung dulu di tempat yang direkomendasikan seorang supir taksi. Tidak lama kemudian, Anas datang. Tubuhnya tidak segempal yang aku bayangkan. Anas adalah penduduk lokal Banjar yang baru kukenal seminggu yang lalu lewat milis IndoBackpacker. Setelah intensif berkomunikasi via udara, akhirnya bisa bertemu langsung juga.

Perbincangan langsung mengalir deras. Ia bercerita tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Menarik sekali, tapi sayang waktuku tidak lama. Loksado adalah wisata alam nomor wahid di Kalimantan Selatan, di sana ada air terjun, pegunungan, dan masih banyak suku Dayak asli. Mungkin jalan-jalan berikutnya.

Setelah membayar Rp11 ribu untuk segelas air jeruk hangat, segelas teh manis, dan sepiring kuetiau, kami langsung menuju hotel rekomendasi Anas, Niagara namanya. Saya masih bingung navigasi Banjarmasin, tapi yang jelas hotel Niagara masih di dalam kota, di pinggir jalan besar (telp 0511-3356355). Aku pilih kamar non AC untuk dua orang, harganya Rp60 ribu. Kalau untuk satu orang, harganya Rp35 ribu. Kamar yang termahal seharga Rp80 ribu untuk dua orang dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam.

Kondisi kamar hotel Niagara

Kondisi kamar hotel Niagara

Melepas lelah sejenak, langsung atur strategi perjalanan. “Malam ini kita ke Kuin,” kata Anas. Beruntung, Anas punya Vega R merah, jadi hanya perlu mengisi bensin Rp10 ribu saja untuk perjalanan seharian. Sangat membuat hemat.

Kuin adalah tempat terjadinya pasar terapung setiap pagi. Ini adalah lokasi shooting RCTI untuk jeda antarprogram yang dulu sering kali diputar. Kata Anas, sejak subuh sampai sekitar jam 9 pasar terapung itu bergeliat. “Sekarang sudah jam 9 malam, jangan harap bisa melihat pasar terapung,” katanya. Di malam hari, sungai Barito masih tetap cantik. Terlihat kapal besar di tengah sungai besar itu. Kapal itu tidak bergerak. Kata Sujito, polisi patroli yang markasnya sedang bertengger di dekat pelabuhan Kuin, itu adalah kapal yang terjerat kasus penyelundupan minyak. Karena masih sengketa, maka kapal tidak boleh beranjak.

Markas polisi patroli yang saya lihat itu nyatanya bisa bergerak. Di bawah markas itu ada kumpulan drum besar yang menyangga markas. Mesin diletakkan di belakang markas. Kalau sedang banyak kasus di seberang sungai, tinggal tancap gas, maka markas pun pindah ke seberang.

Sudah puas menghirup udara sungai, kami kembali ke hotel. Oiya, sebelumnya mampir di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Siapakah dia? Aku juga tak paham. Tapi dilihat dari megahnya pemakaman itu, Sultan ini pasti dulu pernah menjadi orang hebat. Sekelompak orang sedang berkumpul di dekat makam. Mereka tertawa, bersenda gurau persis di samping makam. Sepertinya tempat ini sudah dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk membahas sesuatu. Suasana mistis raib bersama gelak tawa mereka.

makam sultan tampak muka

makam sultan tampak muka

Vega R merah kembali ditancap, balik menuju Hotel Niagara. Suasana hotel sepi. Sepertinya sedikit yang menginap malam ini. Ah, sudahlah. Kami harus tidur cepat supaya besok bisa bangun cepat.

Pukul 5.30 pagi kami sudah siap berangkat. Tujuannya Pasar Terapung Lok Baintan di sungai Martapura, 30 menit dengan sepeda motor. Lok Baintan adalah pasar terapung yang paling alami. Di dunia, ada 3 buah pasar terapung. Satu di Thailand, bentukan pemerintahnya untuk menggaet wisatawan. Dua lagi di Kalimantan Selatan ini, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Kuin dekat dengan kawasan industri sehingga aura alaminya sedikit luruh.

IMG_7312

Barang dagangan di pasar terapung hampir sama persis dengan pasar darat. Hanya daging sapi yang tidak terlihat dijajakan di sini. Kebanyakan dari pedagang menjual hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Sebagian lagi menjual ikan, sembako, makanan kecil, dan pakaian. Pemandangan jukung (sejenis sampan kecil) yang dipenuhi dengan tumpukan jeruk membuatku sumringah. Indah! Indah sekali. Pemandangan yang tidak pernah kudapat di Jakarta.

Sungai sudah menjadi jalan hidup masyarakat sekitar Lok Baintan. Mereka memiliki Jukung seperti masyarakat desa di Jawa memiliki sepeda atau sepeda motor bagi masyarakat kota. Jukung menjadi alat transportasi utama.

Puncak aktivitas pasar itu sekitar pukul 8 pagi. Ada sekitar 100 jukung yang ikut andil. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa berlipat. Sungai Martapura menjadi mati kembali setelah pukul 10.

Tidak terasa, kami belum sarapan. Soto Banjar harus kunikmati pagi ini. “Beres, kita ke Soto Banjar Bang Amat,” kata Anas. Soto Banjar Bang Amat bisa dibilang yang paling dicari untuk menikmati soto banjar. Letaknya di pinggir sungai Barito. Harga soto yang biasa Rp12 ribu dan yang spesial Rp19 ribu. Banyak pejabat dan artis yang sudah mampir ke tempat ini, mereka pasti mencari pemandangan.

Soto Banjar Bang Amat

Soto Banjar Bang Amat

Pukul 9 pagi. Anas mengantarku kembali ke hotel sedangkan dia sendiri harus bekerja, maka kami berpisah. “Thanks Nas, kalau kita gak ketemu, gak akan selancar ini,” kataku. Anas berlalu. Aku berkemas kemudian melanjutkan perjalananku ke Pantai Batakan. Beberapa menit kutunggu taksi ke Batakan dari Pal 6, tapi tak ada tanda-tanda. Saran dari Anas lewat SMS, naik ke Plaihari saja dulu, baru di sana lanjut ke Batakan.

Kuturuti. Dua jam perjalanan menuju Plaihari. Banjarmasin-Plaihari berjarak 65 km. Ongkosnya Rp13 ribu. Berita buruknya, taksi menuju Batakan baru ada pukul 4 sore, padahal jarum pendek di terminal baru menunjuk ke arah angka 12. Tidak hilang akal, kulihat lagi brosur Pariwisata Kabupaten Tanah Laut (Kabupatennya kota Plaihari) yang kudapat dari pameran wisata Gebyar Nusantara. Ada alternatif Pantai Takisung. Gambar di brosur cukup meyakinkan. Pantainya bersih, pohon kelapa berjejer rapi. Keterangannya, pantai ini cocok untuk menikmati sun set.

Sepuluh detik kemudian, kuputuskan mengubah haluan ke Takisung. Pendapat tukang ojeg sekitar bahwa Batakan lebih jauh (40 km dari Plaihari) dan rawan tindak kriminal membuatku semakin kokoh menuju Takisung.

Taksi menuju Takisung juga baru ada sekitar pukul 4 sore, jadi kuputuskan untuk naik ojeg. Plaihari-Takisung berjarak 22 km, ongkos ojegnya Rp25 ribu. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Di sebelah kiri jalan tampak jelas pegunungan Meratus.

Pantai Takisung cukup ramai, ada ratusan orang yang sedang berekreasi siang itu. Ada yang duduk-duduk di tenda sewaan (Rp40 ribu untuk seharian) ada yang bermain-main air di pinggir pantai, ada yang menyewa kapal untuk berkunjung ke pulau Bejanggut. Harga sewanya Rp50 ribu, bisa dihinggapi sampai 20 orang. Pasir pantainya abu-abu. Pantainya tidak sejernih yang kubayangkan.

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Tenda sewaan di pinggir pantai Takisung

Awalnya aku mau menyewa satu penginapan milik Dinas Pariwisata. Agak berat hati mengiyakannya karena biayanya Rp150 ribu per malam dengan fasilitas seadanya, hanya kasur ukuran besar dan kamar mandi dalam, tanpa AC dan tanpa TV.

Namun, menurut nelayan sekitar, penginapan itu ada penunggunya. Hiiii. Dengan cepat kubatalkan kontrak. Jadi menginap di mana malam ini? Ada penduduk sekitar yang menawarkan menginap di rumahnya. Seorang penduduk lagi menawarkan tendanya dan dirinya untuk menemaniku bermalam di pinggir pantai. Aku pilih tenda.

Tenda di sini bukan tenda dome seperti yang biasa dibawa pendaki, tapi hanya terpal berukuran 2×3 yang disanggah oleh beberapa batang kayu kuat. Jadi, sambil tiduran, pantai masih jelas terlihat di depan dan samping.

Barang kutitipkan di rumah si pemilik tenda. Aman! Aku harus yakinkan diriku bahwa bawaanku akan aman. Ternyata memang aman. Aku bahkan sempat berkenalan dengan seluruh isi rumah si pemilik tenda.

Ketika sedang menikmati pantai, tiba-tiba seorang anak memamerkan hasil tangkapan ubur-uburnya di depan wajahku. Hidup! Ubur-ubur itu masih hidup! Segera kuperintahkan memasukkannya ke dalam plastik berisi air. Tidak besar, ukurannya hanya sebesar satu ruas jempol kaki. Setelah diamat-amati, di pinggiran pantai banyak ubur-ubur kecil yang terlihat jelas. Anehnya, anak-anak itu tidak merasa gatal sedikitpun setelah memegang dan menyiksa ubur-ubur itu. Menyiksa dalam arti yang sebenarnya. Salah satu dari mereka memotong ubur-ubur itu hidup-hidup, lalu membuangnya lagi ke pantai. Ternyata benar apa yang digambarkan dalam film Jermal tentang kerasnya kehidupan laut.

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

ubur-ubur yang jadi mainan anak pantai Takisung

Matahari semakin condong ke barat. Tidak salah kalau brosur Dinas Pariwisata mengatakan bahwa pantai Takisung tepat untuk menikmati sun set. Tidak ada awan sedikitpun. Aku bisa melihat matahari seakan bersentuhan dengan laut. Pantulan cahayanya seperti intan yang bertaburan di permukaan laut, kemilau.

Sunset Takisung

Sunset Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

perahu nelayan melintas tepat di bawah matahari senja Takisung

Adzan Subuh membangunkanku. Sudah pagi. Selimut tebal dari pemilik tenda membuatku tidur lelap sekali. Setelah api unggun mini redup tadi malam, aku langsung tidur, tak terasa 7 jam sudah. Segar sekali rasanya. Untuk biaya sewa tenda dan selimut tebal serta bonus api unggun, aku dimintai Rp50 ribu.

Taksi Takisung menuju Banjar biasanya berangkat pukul 7. Hanya itulah jam keberangkatannya. Kalau ketinggalan, silakan naik ojeg yang itu berarti mahal! Taksi Takisung Banjar bertarif Rp20 ribu dengan lama perjalanan 2,5 jam.

Dari Pal 6, aku sewa ojeg menuju Kuin kembali untuk mendapatkan gambar, kemudian lanjut ke bandara untuk penerbangan pukul 2 siang. Biaya sewa ojegnya Rp45 ribu. Andai aku punya waktu, pasti bukan ojeg pilihanku.

Akhirnya, aku terduduk di ruang tunggu pesawat. Lion-ku belum nampak, padahal sudah pukul 2 lebih. Kutenggak kembali aqua 600 ml yang kubeli di luar tadi. Ah, segar….

25
Jun
09

Angkat Tanganmu untuk Indonesia

IMG_0191Padahal sudah habis gelas kedua, tapi suara riuh belum keluar dari loud speaker itu. Sekelilingku sibuk tertawa dengan temannya masing-masing. Aku mau baca majalah yang kubawa dari rumah tapi lampu dalam ruangan itu remang-remang. Kata nenekku, tidak baik baca dalam keadaan remang-remang. Hmm…tertawa dan remang-remang, mirip Jakarta tampak depan ya?

Plaza fx Senayan memang selalu ramai. Kalau mau menutup mata sejenak dari bayangan buruknya kehidupan ibukota, fx bisa jadi alternatif. Tapi tidak untuk forum yang sedang kunantikan ini. Microsoft, Acer, dan Fresh si empunya acara justru ingin memberikan alternatif untuk membuka mata pemuda-pemuda di sekelilingku, melihat dan menyadari sepenuhnya keadaan lingkungan dengan usaha melebarkan senyum di sekeliling.

Social Entrepreneurship! Tiga jam ke depan, otakku akan dijejali dengan konsep-konsep social entrepreneurship. Grace, sang pembicara pertama lulusan Nanyang, bertutur social entrepreneurship adalah konsep yang tujuan utamanya bukan maximizing profit seperti konsep Kotler dalam bukunya yang dianut hampir seluruh mahasiswa dunia, termasuk Indonesia. Karena ada kata depan sosial, maka tujuan utamanya adalah pergerakan sosial, peka dengan darah-darah di lingkungannya, maximizing profit boleh, tapi kemudian profit itu untuk tujuan sosial. Bahkan, Grace menghalalkan creative capitalism yang digaungkan Bill Clinton. Mungkin si Grace ini belum tahu kalau orang Indonesia bisa melotot kalau ada yang bicara kapitalis-kapitalisan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan creative capitalism beda dengan capitalism biasa, yang ini tidak menumpukkan harta di satu puncak, karena yang ada di puncak-puncak itu selalu mengalirkan hartanya lagi ke piramida terbawah alias orang-orang miskin yang kata badan dunia berpenghasilan kurang dari dua dolar per hari. Apa jangan-jangan creative capitalism ini yang disebut-sebut ekonomi kerakyatan yang sebenarnya ya?

Contoh yang paling terkenal dalam aplikasi social entrepreneurship ada pada Muhammad Yunus. Pria hebat ini keliling ke salah satu kampung miskin di Bangladesh kemudian menemukan bahwa ada 42 wanita yang tidak punya modal untuk memulai atau melanjutkan usahanya. Untuk memodali mereka semua, ternyata hanya diperlukan 27 dolar saja! Maka dengan sigap Yunus mengumpulkan uang lalu menyalurkannya. Tidak lama kemudian, keempat puluh dua wanita itu sudah bisa mengembalikan uang Yunus sambil menyunggingkan senyumnya, mereka sudah mengaktifkan kembali usaha mereka. Dari situlah usaha Yunus semakin berkembang. Satu saat, dengan bangga ia mengangkat ke atas piala nobel yang didapatkannya karena langkah hebatnya itu.

Atau kisah sepasang manusia yang dengan kemampuan IT yang baik dalam membantu orang-orang di Afrika. Ia membuat kiva.org untuk menghubungkan peminjam dengan calon orang yang akan dibantunya di Afrika sana. Lewat video dan gambar yang mudah diakses, calon peminjam dapat dengan mudah memilih orang mana yang akan dibantunya.

Pada akhir presentasinya, Grace meyakinkan kami semua bahwa semua bisa ikut dalam gerakan sosial dengan bakat yang dimilikinya asalkan mau aksi langsung dan punya jiwa yang senang melihat kepingan orang yang dibantu tersenyum lalu mengoleksi kepingan-kepingan itu sebanyak-banyaknya.

Next, pembicara kedua, bloger hebat yang dipilih Microsoft untuk mendapatkan Microsoft blogership. Aku kenal gadis mungil itu. Anandita Puspitasari, kakak kelasku yang hebat. Stok semangatnya untuk beraksi offline sepertinya tidak pernah habis. Tulisan-tulisannya banyak menggugah. Aku sudah lama berlangganan blognya, nonadita.com.

Cerita multipoint yang diceritakannya sudah pernah kubaca di blognya. Gambaran ringkasnya, setiap murid dalam satu kelas dapat menggerakkan kursor dalam satu layar besar di depan kelas untuk mempelajari suatu hal yang sedang diajarkan gurunya. Satu layar banyak mouse. Misalnya sang guru sedang mengajarkan nama-nama benua di dunia, maka dia minta murid-muridnya berebut cepat dalam memindahkan kotak-kotak kecil bertuliskan nama-nama benua ke gambar peta dunia dalam layar dengan cara mengklik mouse masing-masing. Mungkin karena banyak kursor yang akan terlihat di layar maka dinamakanlah multipoint.

Adanya multipoint ini karena kegundahan Microsoft melihat data perbandingan jumlah computer dengan murid sekolah, di Jawa 1:900, artinya 1 komputer untuk 900 siswa. Luar Jawa pasti punya angka yang lebih besar. Dengan multipoint ini, hanya dibutuhkan 1 komputer untuk 1 kelas. Memang belum menyelesaikan masalah yang 1:900 tadi, tapi paling tidak ada satu gerakan yang sangat aplikatif untuk sekolah yang kurang mampu membeli banyak computer. Dengar-dengar, software untuk multipoint ini gratisan loh.

Lepas Dita, ada seorang penggiat UNICEF yang mengajak kita semua untuk lebih peduli dengan anak kecil. Ia meminta kami semua untuk membantu UNICEF dalam pergerakannya, kalau tidak bisa dengan uang ya dengan tenaga atau skill yang dimiliki. Ia bercerita tentang parahnya angka kematian balita di Indonesia karena banyak hal, termasuk imunisasi yang cupu.

Suasana jauh lebih meriah ketika Pandji Pragiwaksono, pembawa acara reality show “Kena Deh” itu loh, muncul di panggung. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya: Angkat Tanganmu untuk Indonesia. Rupanya itu adalah lirik lagu rap ciamik buatannya. Harmonisasi lirik dan music semakin membuai penonton dan ikut larut mengangkat tangannya untuk Indonesia sambil sedikit ikut berdendang. Lirik dan musiknya sungguh membuat seratus kepala dalam ruangan remang itu terbius. Angkat Tanganmu untuk Indonesia…!

25
Mei
09

Dokter Alam di Simpang Mentjos

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

20
Mei
09

Earth from Above

earth from above

Ada sebuah program cantik di Metro TV, judulnya Earth Above Us. Kalau tidak salah ditayangkan setiap hari Sabtu pukul 8 malam. Kemudian ditayangkan ulang beberapa kali dalam jangka waktu seminggu. Di dalamnya diceritakan betapa jahatnya manusia yang selama ini mengeksploitasi alam dengan membabi buta, tanpa peduli apa yang dirasakan alam yang sebetulnya secara tidak langsung akan mengancam manusia juga.

Di salah satu tayangannya, program ini bercerita tentang ketergantungan petani India terhadap produk-produk kimia (pupuk, pestisida, dsb) dari perusahaan-perusahaan raksasa. Karena semakin tingginya harga produk-produk tersebut, banyak petani yang dikejar-kejar hutang. Para pemilik toko menagihnya setiap saat. Tidak kuat dengan keadaan itu, banyak petani yang bunuh diri. Tercatat ada sekitar 25 ribu petani India yang bunuh diri karena malu dikejar pemilik toko.

Melihat kenyataan tersebut, ada seorang revolusioner (saya lupa namanya) yang berkeliling ke petani-petani India untuk mengajak kembali ke pertanian natural, atau di Indonesia disebut-sebut sebagai pertanian organic. Tokoh ini memasukkan doktrin bahwa menggunakan bahan-bahan kimia itu memang meningkatkan produktivitas tapi sekaligus membeli racun untuk dirinya sendiri.

Bisa dikatakan, doktrinasinya berhasil, banyak petani yang kembali ke pertanian organic. Tiba-tiba si tokoh ini mendapat tuntutan dari perusahaan-perusahaan besar yang menjual produk-produk kimia tadi. Sang perusahaan besar mengatakan bahwa si tokoh India ini tidak mendukung ketahanan pangan dunia bla bla bla. Padahal, semua orang tahu bahwa itu hanya kedok karena penjualan produknya berkurang di India. Entah bagaimana akhir dari cerita si tokoh ini, saya lupa.

Di akhir program, dikatakan bahwa mereka (tim pembuat program itu) telah melepaskan 64 ton karbondioksida dalam membuat programnya (penggunaan helicopter, pesawat, dsb). Jumlah itu sama dengan jumlah pelepasan karbondioksida oleh 7 orang Perancis dalam setahun. Karena itu, mereka merasa telah merusak alam. Maka mereka menyumbangkan sejumlah uang kepada sebuah LSM yang bergerak dalam program konversi bahan bakar dari kayu menjadi biogas dari kotoran hewan.

Saya perjelas sedikit. Jadi ada di satu sudut di bumi ini yang masyarakatnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kemudian ada LSM yang mencoba mengubah kebiasaan itu karena akan mereduksi jumlah tanaman yang ada di bumi yang itu berarti mengurangi penyerapan karbondioksida. LSM ini memberikan alat masak yang berbahan bakar panas matahari. Entah bagaimana mekanismenya, yang jelas kayu yang ditebang akan berkurang, itu tujuannya. Nah, si program Earth Above Us ini menjadi salah satu penyumbang dana dalam menggerakkan LSM ini. Hebat, kan!

06
Mei
09

Backpacker Indonesia Copot Semua Identitas

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca satu buku yang sangat inspiratif, judulnya 5 cm. Setelah menutup halaman terakhir buku itu, adrenalin saya seakan meningkat. Tiba-tiba ada energy yang besar, siap untuk melakukan dua hal. Pertama, mencintai bangsa ini sebesar-besarnya. Kedua, menjelajahi Indonesia seluas-luasnya.

Untuk hal menjelajahi Indonesia, terkadang banyak kendala yang menghadang. Ketika ada keinginan dan teman jalan, uangnya tidak ada. Ketika ada uang dan teman jalan, waktunya tidak ada. Atau yang paling sering, ketika ada keinginan, waktu, dan uang, sayangnya tidak ada teman jalannya. Sehingga mau tidak mau perjalanan ditunda karena kalaupun dipaksa jalan sendirian, bisa jadi akan berisiko tinggi (mis: naik gunung), kurang seru, atau akan banyak menghabiskan uang akibat trip tidak efisien.

Kabar baiknya, keluh kesah itu sudah dapat dinetralisir dengan adanya komunitas Backpacker Indonesia (BI). Saya masuk komunitas ini sejak Februari 2009 kemarin. Saya ikuti aktivitasnya di facebook. Ramai diperbincangkan cerita-cerita trip, bagaimana membuat sebuah trip yang hebat sekaligus murah, dan tips dan trik dalam melakukan trip.

Padat sekali aktivitas yang ada di grup ini. Topic di Discussion Board(DB)-nya pun sangat aktif. Ternyata ada semacam semi-kepengurusan yang sudah dibentuk dalam komunitas ini. Awal komunitas ini terbentuk adalah dari seorang mahasiswi Bandung bernama Ilma Dityanngrum. Ia membuat satu trip perdana awal 2009 kemarin ke Pulau Sempu, Bromo, Pananjakan, dsk. Semua persiapan tetek bengek dibahas di DB. Komplit! Mulai dari jadwal trip, rincian prediksi biaya yang akan dikeluarkan, sampai barang-barang apa yang harus dibawa.

Sebagian besar yang aktif di DB ini belum pernah kenal sebelumnya. Sama sekali belum pernah bertatap muka. Semua komunikasi bermula dari DB dan tidak ada komunikasi langsung. Ketika pendaftaran trip ditutup, mereka yang ikut mulai berkomunikasi via HP masing-masing. Mereka berkumpul di tempat yang sudah disepakati (trip pertama kumpul di Malang). Anggota yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya berkumpul di Malang. Mereka berkenalan lalu menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari. Setelah selesai, mereka membuat semacam kepengurusan kecil. Ilma sebagai inisiator awal diberi jabatan Bu Lurah. Kemudian setiap cabang daerah punya ketua RW nya masing-masing (ada RW Jakarta, RW Bandung, dsb). Dari situlah, grup ini mulai melakukan pergerakan yang lebih besar.

Beberapa trip lagi dibuka kemudian. Ada trip yang dibuka untuk menjelajahi 5 negara hanya dengan 5 juta rupiah. Yang membuat saya tertarik adalah trip ke Kepulauan Seribu. Adhit yang membuka trip ini. Ia dengan lugas memberitahukan tujuan-tujuannya, kemudian rincian costnya (mulai dari ongkos perahu sampai sewa penginapan), dan juga detail waktunya per jam. Untuk yang berminat, bisa kirim uang Rp 50 ribu untuk DP sewa penginapan, sewa kapal, dsb.

Pagi itu, pukul 7 pagi di pom bensin Muara Angke, sekitar 30 orang sudah berkumpul dan siap berangkat. Sesuai jadwal yang diberikan Adhit, kapal berangkat pukul 7 pagi. Kapalnya sangat sederhana, lebih mirip kapal ikan (ya iyalah, kalo kapal pesiar bukan backpacker namanya), tapi tidak ada yang mempermasalahkannya, perjalanan tetap seru.

Singkat cerita, kami diajak snorkeling di beberapa tempat, jalan-jalan ke beberapa pulau, melihat taman nasional, dsb. Untuk itu semua, saya cuma keluar tidak lebih dari 200 ribu, tidak jauh dari prediksi yang Adhit paparkan. Sangat lain ceritanya kalau trip dilakukan sendiri, karena untuk penginapan dan sewa kapal akan jauh lebih murah kalau beramai-ramai.

Sebagian besar (sekitar 70%) yang ikut adalah mahasiswa, ada yang dari UI, IPB, UGM, ITB, Unpad, UNJ, dsb. Sebagian lagi sudah kerja, sebagai konsultan, PNS, jurnalis, banker, perpajakan, dsb. Di balik itu pasti masih banyak keragaman lain, perbedaan suku, agama, cara pandang, ideology, pergaulan, dsb. Tapi kami melepas semua itu, demi satu hobi yang sama, hobi menjelajahi sudut-sudut indah di bumi ini.

Sepulangnya dari trip itu, saya membawa oleh-oleh pengalaman, foto-foto hebat, dan sekian banyak kenalan baru. Komunikasi tetap dilanjutkan lewat facebook.

BI punya satu acara besar demi langkah yang lebih besar, yaitu Gathering pertama BI (tentunya ada jalan-jalannya donk), akan dilaksanakan di Bandung, 30-31 Mei ini. Bagi yang berminat silakan join grup BACKPACKER INDONESIA, lalu baca DB-nya untuk gimana-gimananya.

Salam ransel !

27
Apr
09

Uhuiiyy…=p

Di kantor tempat saya bekerja, karyawannya terbiasa untuk jadi anak jalanan, pergi ke sana ke mari mencari sesuap berita. Tentunya banyak intrik yang terjadi di setiap tulisan yang ditelurkan. Walaupun banyak juga yang biasa-biasa saja, alias kurang menantang, hehe. Setiap karakter orang, karakter tempat, karakter perusahaan punya keunikan yang sering dibicarakan di meja redaksi. Satu cerita berikut adalah salah satu yang cukup membuat suasana kantor panen polusi suara.

Begini ceritanya. Kami ingin mengangkat jatuh bangunnya industri hulu dan hilir komoditas karet di Indonesia. Di akhir pertemuan, kami bagi-bagi tugas. Teman saya ini, sebutlah Gepe, ditugaskan meliput ke salah satu perusahaan kondom dengan brand Artika di Bandung.

Dengan sigapnya beberapa hari kemudian dia tunggangi motornya, berangkat ke Bandung. Di sepanjang jalan, karena belum paham benar jalanan di Bandung, Gepe bertanya ke dua orang yang berbeda. Pertama, dia bertanya ke tukang bengkel di pinggir jalan. Posisi bengkel itu tepat di depan kios kecil. “Mas, tau pabrik kondom gak?” Dengan cepat si tukang bengkel teriak ke kios di seberangnya, “Woooy, ada yang mau beli kondom nih…” Gepe pun panic, runtuh sudah harga dirinya. Mukanya seperti dicoreng arang hitam yang legam. Sadar masih bisa memungut sisa-sisa harga dirinya, Gepe langsung mengklarifikasi, “Bukan…bukan…saya mau wawancara!” Gepe langsung melanjutkan perjalanannya tanpa melihat ke belakang lagi, malu euy…hihiii.

Kedua kalinya, dia bertanya ke seorang Satpam, “Pak, tau pabrik kondom gak?” Sang satpam tanpa malu-malu langsung cekikikan. Satpam satu itu langsung menanyakan ke satpam kawannya. Satpam kedua menunjukkan arah, tentunya dengan sumringahnya yang tak lekang. Mungkin dalam hatinya, “Dasar anak muda, nyari kondom sampai ke pabriknya, emang yang di warung gak cukup apa?”

Huhhh…letih berkendara, Gepe akhirnya menemukan pabrik kondom yang dimaksud. Sebelum masuk, dia makan dulu di tempat makan dekat pabrik. Sambil makan, sayup-sayup namun pasti, Gepe menyimak pembicaraan orang di dekatnya. Orang itu menggunakan bahasa Jawa. Karena mengalir darah Jawa Tulen di kapilernya, Gepe langsung sok akrab, “Dari Jawa ya mas?” Sang mas-mas menjawab, “Oh, bukan, saya dari Cirebon,” sambil senyum-senyum gak jelas, trus mas-mas itu ikutan sok akrab, “Mau ke mana mas?” Gepe menjawab, “Ke pabrik kondom di depan situ,” sambil menunjuk kea rah pabrik Dengan polosnya si mas-mas bertanya, “Mau apa? Ambil barang ya?” Ahahaha…Dengan kekinya, Gepe langsung angkat kaki melanjutkan tugas sucinya.

Singkat cerita, sesampainya di kantor, kami menagih oleh-oleh dari Bandung. Dengan sigap Gepe langsung mengeluarkan ber pak-pak kondom. Ahahaaa. Berhubung kami semua masih single, sampai hari ini kondom itu masih tergeletak di meja kantor. Ada yang mau??? =p

17
Apr
09

Gapui; Prototipe Pedalaman Aceh

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Sigli, sebuah kota yang bisa dikatakan besar di NAD. Kehidupan Sigli sudah cukup modern. Akses informasi hampir sama dengan di Jakarta. Hampir semua rumah sudah memiliki TV walaupun tidak bisa mengakses semua stasiun TV seperti di Jakarta. Radio dan Koran hampir sama nasibnya. Warung internet sudah banyak, walaupun tidak sebanyak Jakarta dan penggunanya juga masih belum banyak. Garis besarnya, dari segi aliran informasi, Sigli sudah layak dikatakan kawasan perkotaan. Lansekap Sigli juga mendukung pernyataan tersebut. Banyak rumah, banyak pedagang, dan sedikit sawah.

Tapi, itu ya Sigli, berbeda jauh keadaannya dengan Gapui, tetangga Sigli. Padahal jarak Gapui-Sigli hanya 3 km. Namun dengan cepat kita bisa menghakimi bahwa Sigli adalah kota dan Gapui adalah kampung.

Tidak ada angkutan umum yang bisa mengakses Gapui kecuali RBT, atau dalam bahasa Jakarta-nya ojeg. Entah siapa yang menamakan ojeg itu RBT. Setiap saya tanya ke teman yang berdarah Aceh, tidak ada yang tahu apa kepanjangannya. Mereka hanya menyebut RBT. Aneh. Ada yang memelesetkan menjadi Rakyat Banting Tulang. Haha. Tentu saja bukan itu kepanjangannya.

Sepanjang jalan, tidak ada pemandangan lain kecuali sawah dan hutan. Jalan akses Sigli-Gapui hanya selebar 3 meter. Masalah besar ketika dua mobil dari arah berlawanan berpapasan. Namun itu jarang terjadi karena tidak banyak penduduk Gapui yang memiliki mobil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Mulai memasuki Gapui, terlihat rumah-rumah tinggi, rumah panggung. Dulu, rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari keganasan hewan-hewan buas, tapi sekarang rumah itu hanya sebagai adat atau budaya yang terus-menerus diturunkan dengan jumlah yang semakin berkurang karena ada anggapan bahwa rumah panggung adalah kampungan. Terselip beberapa rumah yang bukan panggung, sudah beton dan sudah memiliki pagar dari besi.

Ada yang unik dari rumah panggung di Gapui ini. Bahan dasarnya diambil dari batang kayu nangka. Penduduk meyakini bahwa kayu nangka adalah kayu yang paling kuat. Mereka menyambung batang demi batang sehingga terbentuklah sebuah rumah. Yang paling mencengangkan adalah, mereka menyambung dengan tanpa menggunakan paku sama sekali. Namun demikian, tidak pernah ada cerita rumah panggung Aceh rubuh. Sekalipun tidak pernah! Semuanya dibuat oleh arsitek alami tanpa gelar sarjana.

Tinggi rumah panggung bermacam-macam, kalau diambil rata-rata, mungkin 1,5-3 meter. Di bawah rumah panggung itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai rumah bagi ternaknya, atau ada juga yang menggunakan sebagai ruang tamu, bahkan untuk keduanya sekaligus. Artinya betul-betul tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi yang dekat dengan hewan ternak (biasanya kambing) yang diikat.

Memang, mata pencarian sebagian besar penduduk adalah beternak dan bertani. Maka merupakan hal biasa kalau di sepanjang jalan dan di setiap rumah akan terlihat ternak. Nah, ini juga unik. Paman saya yang dulu sempat menghabiskan masa kecilnya di Gapui bercerita, karena kebanyakan penduduk adalah petani, maka kesibukan warga hanyalah ketika masa tanam dan masa penen. Di waktu sela antara itu, warga menghabiskan waktu dengan bermain adu kerbau dan adu orang. Adu orang dalam arti yang sebenarnya! Kalau di olahraga, mungkin gambaran yang paling mendekati adalah gulat. Dua lawan satu. Yang dua tidak boleh menggunakan tangan (tidak boleh menonjok, memukul, menggampar, menampar, mencubit, dsb) sedangkan yang satu bebas memakai apa saja. Inilah hiburan yang paling menghibur bagi masyarakat. Entah masih ada atau tidak kebiasaan tersebut.

Waktu itu, saya berjalan-jalan ke Gapui dalam rangka silaturahim dengan keluarga. Definisi keluarga bagi orang kampung sangat luas dan sangat jauh. Mereka bisa mengatakan satu kampung (setara Kelurahan) itu adalah saudara semua. Kenyataannya bisa jadi demikian, karena banyak pernikahan dilakukan antara sesama warga kampung kemudian menetap di kampung itu juga, dan seterusnya. Nenek saya yang besar di Gapui selalu mengatakan, dia adalah saudara, orang yang di rumah tinggi itu saudara semua, bapak-bapak yang sedang berjalan itu saudara juga, dan seterusnya.

Kami singgah di rumah saudara yang saya juga tidak tahu bagaimana hubungannya sampai bisa dikatakan saudara. Di rumah itu saya bertemu seorang nenek, anak dan menantunya, serta cucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Semuanya terpesona melihat si balita karena betul-betul menggemaskan. Ketika ditanya siapa namanya, kedua orang tuanya menyahut dengan santai, belum ada. Belum ada! Satu setengah tahun, kawan!

Mampir di rumah kedua, lagi-lagi nenek mengatakan ini rumah saudara dan lagi-lagi saya tidak peduli hubungan saudara macam apa antara saya dan dia, sudah terlalu banyak yang dijejalkan sebagai saudara ke tempurung ini hari itu. Kebetulan, ada anak kecil lagi, kali ini lebih kecil, umurnya belum genap satu tahun. Seperti di awal, sang Ibu belum membubuhkan nama untuk si anak. Malah sang ibu minta tolong untuk dicarikan nama. Seorang kerabat dari sang Ibu nyeletuk, “Ah, nama itu nanti saja, kalau memang sudah diperlukan, misalnya mau masuk sekolah, baru dipikirkan.” Wah, bisa stress ini orang dinas kependudukan. Di aturan yang ada, maksimal melaporkan kelahiran (dengan sudah ada nama) selambat-lambatnya 6 bulan setelah kelahiran, kalau tidak maka akan ada sanksi kurungan atau denda. Mungkin ini jawaban kenapa DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk Pemilu tidak pernah beres di negeri ini.

Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah saudara yang kekerabatannya paling dekat (menurut Nenek). Di rumah panggung itu, kami disuguhi makanan yang pastinya sudah disiapkan sejak tadi pagi. Mendengar akan datang saudara jauh, maka si kerabat ini mempersiapkan makanan semaksimal yang bisa dibuatnya. Ya begitulah budaya orang kampung ketika menerima tamu. Di sela-sela makan, Nenek nyeletuk, “Eeeh Ibal mau air kelapa ya…” Dengan sigap, si empunya rumah langsung turun, memetik kelapa, lalu memecahkannya. Lima menit kemudian, kelapa yang sangat segar itu sudah tersaji di hadapan. Alami! Sangat alami!

Budaya kapitalis dan imperialis, baik yang lama, neo, atau apalah itu, sama sekali tidak terasa di Gapui. Yang ada adalah budaya hormat-menghormati, budaya gotong-royong, dan budaya memuliakan tamu. Sepertinya terbalik kalau orang kota mengatakan, “Ah, dasar kampungan!” Mungkin lebih tepat kalau orang kampung yang mencaci, “Dasar orang kota!”