Arsip untuk Kategori 'angan'

05
Apr
12

Kata Hevea*

Perkenalkan, saya Hevea brasiliensis. Nama yang keren, bukan? Nama belakang brasiliensis menegaskan bahwa saya dari Brazil, kecuali ada unsur politis di balik penemuan nenek moyang saya dulu. Kalau saya wanita, dengan nama begitu, maka saya digambarkan sebagai wanita yang anggun, yang berjilbab lebar, menggunakan manset sampai ujung lengan supaya tidak ada celah terlihat aurat, tidak banyak tertawa, tidak bicara yang tidak manfaat, selalu merendahkan suara, dan kalau ada yang lucu, dia cuma tersenyum manis. Pokoknya anggun deh.

Tapi rupanya tidak seindah itu. Karena saya tinggal di Sunda, jadinya saya dipanggil Pea! Dengan e bebek, bukan e perut. Dan penekanan di huruf p. Hey pea! Hepea gimana kabarnya? Haduh, gak enak didengar… Lebih gak enak lagi, karena saya tinggal di samping kuburan.

Katanya, ini kuburan sakti. Banyak yang datang malam-malam minta macam-macam sama kuburan. Loh saya bingung, minta kok sama kuburan. Minta ya sama Allah. Bangun sepertiga malam yang akhir, doa deh. Mana mereka kadang suka semalaman lagi. Kalau mau buang air, nyarinya pohon. Haduh! Kena deh gue.

Perasaan saya sebal sendiri melihat orang-orang bodoh begini. Kuburan dimintain. Laut dikasih makan. Gunung juga. Katanya dalam rangka wujud kesyukuran. Ngapain coba? Itu kan malah jadi mubazir makanannya. Kalau mau bersyukur ya sama Allah. Sedekah ya sama orang miskin, bukan sama gunung. Laut dan gunung itu makanannya bukan nasi dan sayuran. Mereka punya cara makan dan cara bertasbih yang berbeda. Saya juga, cuma kamu saja yang gak tahu cara saya bertasbih.

Saya ini perasa loh, bukan sekedar seonggok kayu. Kamu kenal saudara saya si pohon kurma? Duluuuu sekali, empat belas abad yang lalu, nenek moyang saudara saya itu menangis karena Nabi sudah mendapat mimbar baru. Dia sedih karena tidak lagi dijadikan tempat Nabi khotbah. Nabi kemudian datang mengusapnya sampai ia berhenti menangis (Ibnu Majah 1414).

Kami ini hidup dan bisa bicara, tapi ada waktunya. Ketika perang besar muslim vs yahudi nanti, semua golongan kami akan menjadi spy-nya muslim. Kami dan bebatuan akan memberitahu pasukan muslim kalau-kalau ada yahudi yang ngumpet di balik tubuh kami, kecuali pohon Ghorqod. Dia akan diam, tidak membantu muslim, karena dia tergolong pohon yahudi (Muslim 2922). Makanya Israel seneng banget nanam Ghorqod.

Nih yah, manusia, saya mau cerita kehidupan saya sehari-hari, supaya kalian juga ikhlas menjalani hidup. Saya ini ya, dilukai terus, minimal dua kali seminggu. Kalau majikan lagi butuh duit, malah saya dilukai tiap hari. Digores-gores pakai pisau sadap. Jangan salah, pisau sadap itu lebih tajam dari pisau ibu-ibu di dapur. Mereka ambil air mata saya, katanya sih, bisa jadi duit. Saya ikhlas saja menjalani sunnatullah, memang dasarnya tumbuhan dan hewan ditundukkan buat manusia.

Malahan, terkadang saya diolesi dengan cairan atau gas perangsang yang namanya etilen. Itu memaksa saya untuk menangis sampai delapan kali lebih lama. Makin lama saya nangis, makin banyak air mata saya, makin senang manusia.

Selama pertumbuhan, tangan saya sering dipotong, sebagai pembenaran iklan salah satu produk susu: tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. Rambut saya dikepang paksa. Semua itu dilakukan supaya saya bisa menangis lebih lama, supaya manusia senang. Yah, saya ikhlas, memang itu tugas saya di bumi. Saya punya tugas seperti kamu manusia juga punya tugas. “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku,” firman Allah. Kita harus sama-sama ikhlas.

*imajinasi Iqbal yang berusaha menjadi Hevea braziliensis (nama latinnya pohon karet).

 

13
Apr
10

Tutut Sitompel Kembali Berulah

Jakarta, 2159

terkadang, lebih baik melihat ke bawah...

Paripurna ricuh, para anggota dewan berkelakar ini itu. Mereka ingin wajahnya dipublikasikan media elektronik. Belajar dari seorang anggota dewan satu setengah abad yang lalu, mereka merasa harus berulah untuk mendapatkan perhatian media massa. Kelakarnya sama-sama hanya mencari perhatian, rambut dipotong botak, di-mohawk, atau spike ala anak punk. Rapat pleno dipenuhi para anggota bertindik dengan jaket berbahan jeans yang dipenuhi paku. Mereka menginterupsi sidang dengan teriakan, “Oi oiii….”

Semua itu untuk mendapat perhatian media. Bahkan, di pemilu terakhir, setiap calon dalam spanduk-spanduk dan pamfletnya mengatakan, jangan coblos nomor 4, saya tukang mabuk-mabukan. Saya bodoh, terbukti sebelumnya saya meningkatkan pengangguran 30%. “Jangan pilih yang berkumis,” padahal kumisnya selebat Pak Raden. Masyarakat menikmati kampanye macam itu. Semakin jelek iklannya semakin mendapat perhatian. Pemilik Joger menuntut para anggota dewan karena idenya yang sudah berabad-abad dikenal masyarakat dicuri. Namun tuntutan itu jauh panggang dari api karena anggota dewan sudah terbiasa menggunakan makelar kasus yang banyak beriklan lewat pamflet yang banyak ditempel di tiang-tiang listrik.

Masyarakat sudah yakin perubahan hanya bisa dilakukan lewat tangan masyarakat sendiri. Daripada menyesali nasib negaranya –“kok bisa begini”- mayoritas memilih untuk menikmatinya. Hollywood KC sepi karena tontonan TV lebih seru. Terkadang mereka mampir ke bioskop hanya untuk membeli popcorn lalu menuju DPR, membeli tiket untuk masuk balkon (karena membludaknya pengunjung akhirnya BPH DPR mengambil keputusan menjual tiket masuk balkon, “Lumayan buat nambah modal main saham bumi,” kata mereka), melepas tawa melihat kelakuan anggota dewan.

Lama kelamaan, media massa tidak tertarik lagi dengan ulah urakan anggota dewan.  Media tidak pernah puas dengan hal-hal yang biasa. Harus ada hal unik yang bisa menarik perhatian penonton. Saat ini, TV swasta mempunyai proporsi berita gosip dan sinetron 95%. Lima persennya lagi adalah siaran komedi Tawa Sutra, satu-satunya komedi yang bertahan ratusan tahun. Seperti biasa, TV swasta menonjolkan rating. Ternyata cerita-cerita glamor artis dan canda tawa komedian bisa membius penonton sehingga lupa akan kehidupan nyatanya. Memang itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini, melupakan kehidupan aslinya.

Merasa sudah tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat, Tutut Sitompel, seorang anggota dewan, mencari cara untuk menjadi pusat perhatian. Ia berangkat menuju ruangan sidang dengan menggunakan baju koko komplit dengan sorbannya. Setiap ada kawannya yang nyeleneh, dia berujar, “Jangan begitu ya akhi. Kita harus tahu makna kita hidup di bumi. Intinya pengendalian diri.” Tutut menghapalnya sejak sebulan yang lalu sampai bisa betul-betul fasih melafalkannya. Ia mengulang-ulang ucapan kiai yang tenar satu setengah abad lalu dalam bentuk MP3 dari CD bajakan yang dibelinya di stasiun pasar minggu.

Namun, itu hanya sekedar topeng. Intinya ia ingin menarik perhatian massa. Di saat reporter berita TV swasta berpura-pura mengejar anggota DPR yang baru turun dari eskalator supaya mendapat kesan DPR sibuk, Tutut hadir dengan gayanya sendiri. Ia mau diwawancara hanya oleh reporter berpakaian muslim, belajar dari seorang teroris yang mau dihukum mati satu setengah abad lalu. Semua yang dilakukan Tutut serba terbalik dengan anggota dewan.

Sidang paripurna biasanya memakan waktu minimal satu hari untuk mengambil satu keputusan. Namun di suatu sidang, Tutut berkomentar dan berinterupsi banyak hal benar yang sangat masuk logika orang-orang yang masih di jalan yang benar sehingga hanya dalam waktu 30 menit saja sudah didapat satu keputusan. Tagline-nya yang walaupun sudah lapuk kembali bersinar, “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit”.

Indonesia kembali menuju kebenaran, paling tidak terlihat seperti itu. Reporter-reporter TV makin sering berkunjung ke DPR. Tidak ada gerak-gerik Tutut yang tidak disorot kamera. Sesuai cita-citanya, ia mendapat ketenaran karena hal-hal benar yang ditegakkannya, walaupun sebetulnya bukan kebenaran yang dia cari tapi ketenaran. Seperti bangkai, muslihat Tutut akhirnya tercium oleh masyarakat. Tidak ada lagi yang percaya pada Tutut dan tidak ada lagi yang percaya pada siapa pun yang menjabat apa pun selama dia berplat merah.

Kembali seperti satu setengah abad silam, masyarakat diajak masuk dalam dunia yang serba membingungkan karena akrobat politik para politisi. Benar dan salah menjadi tentatif. Masyarakat pasif dalam politik, tidak partisipatif, malas mencuri berita politik yang informatif. Naif.




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.