Arsip dari penulis : Muhammad Iqbal

25
Mei
12

Titik Rendah Musik

Waktu itu, kalau tidak salah, saya baru selesai kuliah dan ikut pesantren di Jawa Timur. Kami belajar banyak dalil tentang cara kita menjalani hidup, bahwa laki-laki tidak boleh memakai sutra dan emas, bahwa riba itu sungguh jelek, bahwa kita harus berbuat baik pada tetangga walau beda agama, bahwa tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain, dan masih banyak lagi.

Tapi ada satu hadits yang membuat saya langsung merinding dan sepertinya keringat dingin. Tiba-tiba hawanya seperti menjadi panas. Hadits ini betul-betul menohok saya. Diriwayatkan dari Abu Daud (4927): Lagu menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Deg! Kena banget.

Selama ini saya hidup dengan musik. Belajarpun sering pakai musik. Malah waktu sekolah dulu, saya pengikut setia Prambors Top 40 (lagu berbahasa inggris semua) yang list-nya berubah tiap minggu. Saya tahu semua lagu yang lagi hit. Saya selalu punya liriknya yang dulu saya cari di warnet (waktu itu bahkan saya belum punya email, satu-satunya tujuan ke warnet cuma untuk cari lirik). Teman-teman sering menjadikan saya referensi nyari lirik lagu baru. Saya marah pada Ayah yang memaksa saya mematikan kaset Betrayer, band punk lokal. Saya ikut pensi (pentas seni) dan maju paling depan, ikut moshing!

Sebegitunya sampai-sampai sepertinya saya tidak bisa hidup kalau tidak mendengarkan musik. Munculnya hadits di atas, begitu tajam buat saya. Saya deg-degan setelah hadits itu dibacakan.

Tanpa pikir panjang, setelah pengajian siang itu, saya buka laptop, klik kanan di folder musik, delete! Semua koleksi musik hilang dalam beberapa detik.

Iqbal hidup tanpa musik? Sepertinya tidak mungkin. Tapi saya coba. Setahun, dua tahun, sekarang sudah jalan tahun ketiga saya tanpa menikmati musik. Saya hanya dengar musik yang membuat profokatif positif dan saya sangat hati-hati dengan liriknya. Itupun sangat jarang, lima menit sehari belum tentu.

Fine-fine aja tuh. Tidak ada pegal linu karena tidak mendengarkan musik. Tidak ada kehilangan inspirasi dalam menulis (profesi saya penulis). Semua berjalan seperti biasa. Malah saya merasa lebih produktif karena tidak ada rebahan berjam-jam hanya untuk mendengarkan musik. Tidak ada seharian nongkrong di depan MTV.

Sesekali memang saya terpaksa dengar musik bebas, pas lagi naik angkot yang nyetel musik, pas lagi nonton film/video yang ada backsound musiknya, pas lagi mau bahas sesuatu (seperti membuat tulisan ini) atau yang semacam itulah. Tapi itu tidak banyak, dan tidak dinikmati. Entah kenapa saya tidak berhasrat lagi dengan musik. Saya sangat mensyukuri itu. Melepas musik tidak sesulit yang dibayangkan.

Beberapa waktu kemudian, saya menemukan beberapa dalil lagi yang kontra dengan adanya musik:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS Luqman 6-7)

Perut yang dipenuhi nanah busuk itu lebih baik daripada dipenuhi syair (Muslim 2257).

Belakangan ini saya semakin antipati dengan musik, setelah mengikuti pembahasan teori konspirasi lewat media, termasuk lewat musik. Mereka itu jahat sekali. Intinya mereka mau menyisipkan ideologi jelek mereka bahwa agama itu tidak perlu. Doktrin-doktrin negatif dimasukkan dalam lirik yang dikemas dengan instrumen yang nyaman sehingga orang menyanyikannya dengan nikmat tanpa peduli dengan liriknya. Saya coba buka beberapa:

N’sync. Lirik dalam salah satu lagunya: We don’t need all these prophecies (kami tidak butuh semua ramalan ini). Tellin’ us what’s a sign (memberitahukan kita tanda-tandanya: akhir zaman). Paranoia ain’t your way (ketakutan bukan cara menjalani hidupmu). So leave your doubt and your fears behind (jadi tinggalkan keraguan dan ketakutanmu di belakang). Don’t be afraid at all (jangan takut sama sekali). Cause up in outer space there’s no gravity to fall (kerena di luar angkasa tidak ada gravitasi yang bisa menjatuhkan). Pesannya: lupakanlah ramalan-ramalan yang cuma nakut-nakutin itu, selamat datang ke dunia tanpa konsekuensi.

Eminem. Dalam lagu Roll Model, liriknya: Follow me and do exactly what the song says (ikuti aku dan lakukan tepat apa yang dikatakan lagu ini). Smoke weed, take pills, drop outta school, kill people and drink (hisaplah ganja, minumlah narkoba, keluarlah dari sekolah, bunuhlah orang, dan mabuklah).

Spice girl. Liriknya: Make your own rules to live by (buatlah aturan sendiri untuk menjalani hidup). Come on do it! (ayo lakukan!).

John Lennon. Propaganda John Lennon dalam lagu berjudul Imagine: Imagine there’s no heaven (bayangkan kalau tidak ada surga). It’s easy if you try (itu mudah jika kamu mencobanya). No hell below us (tidak ada neraka di bawah kita). Above us only sky (di atas kita hanya langit)… No religion too (tidak ada agama juga).

Sebelum kematiannya, John, seperti yang dikutip The Playboy 1980, mengatakan: The whole Beatle idea was to do what you want, right? Do what thou wilst, as long as it doesn’t hurt somebody (semua ide tentang Beatles adalah untuk melakukan apa yang kamu inginkan, kan? Lakukan apa kehendakmu selama itu tidak melukai orang lain).

Kurt Cobain. Katanya, God is guy (gak sanggup nerjemahinnya!). (I will) get stoned and worship satan (aku akan mabuk dan menyembah setan).

Lady gaga. Ini yang lagi heboh belakangan. Gampang nyari lirik dia yang nyeleneh.

Anda salah kalau berpikir, itu kan hanya musik, kalau kita ikut nyanyiin gak mungkin ikut-ikut begitu.

Pernah dengar Professor Masaru Emoto dari Jepang yang meneliti perubahan bentuk molekul air ketika dibacakan kalimat positif dan negatif? Molekul akan berubah menjadi bagus ketika dibacakan kalimat positif, dan sebaliknya. Teori sepertinya juga bisa menjelaskan kenapa kita dilarang bego-bego-in anak kecil (mengatakan “bego lu!” atau semacamnya ke anak kecil), karena otak si kecil akan mengolahnya untuk menjadi seperti yang orang lain katakan. So watch out your mouth!

Satanis Rex Church mengatakan bahwa satanis menggunakan musik sebagai senjata propaganda. “Art… musik… writing….” katanya.

Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika tahun 1985 mengatakan, “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.”

Eminem pernah mengakui bahwa banyak lirik lagunya yang dimaksudkan untuk menekan “tombol” pendengarnya. Di suatu malam, ada yang menelepon 911, namanya Michael Miller (29 tahun), dia mengaku baru saja menusuk putranya 11 x dan membunuh istri dan putrinya. Itu dia lakukan dalam keadaan kesurupan, sadar ketika semuanya telah berlumuran darah. Dia mengaku pada polisi bahwa sebelumnya dia menyanyikan lirik Eminem: Here come satan, I’m the antichrist (Dajjal), I’m going to kill you!

Etcetera… etcetera…

Just be careful with your choices!

20
Mei
12

Bukan Nafsi Nafsi

(Menanggapi Kontroversi Lady Gaga)

“Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Kemarin sore (19 Mei), TV One dan Metro TV menampilkan tayangan yang tidak berimbang. Mereka memperbincangkan lady gaga. TV One menampilkan seorang musisi besar, sementara Metro TV menghadirkan dua perwakilan promotor musik. Si musisi besar bilang, “Perkembangan musik kita terhambat karena hal-hal yang gak penting begini (penolakan lady gaga)….”

Semuanya pro dengan kehadiran si lady. Presenternya yang mencoba netral jadi keseret-seret ikut pro kedatangan lady gaga. Tidak ada satupun pihak yang kontra dengan kedatangan si lady, padahal judul beritanya “kontroversi Lady Gaga”.

Cerita lain tentang ketidakberimbangan media mainstream, beberapa hari sebelumnya, Indonesia Lawyer Club (TV One) membahas lady gaga. Di sini orang-orang yang hadir memang dari dua kubu: pro dan kontra. Beberapa petinggi FPI dan ulama dihadirkan. Karni Ilyas memberikan kesempatan yang sama banyak untuk kedua kubu bicara, tapi kesimpulan yang diberikan Karni Ilyas tidak berimbang. Dalam closing, Karni membawakan salah satu hadits Bukhori: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.”

Dalam ilmu jurnalistik, pembuka dan penutup tulisan punya pengaruh besar. Pembuka tulisan berfungsi menangkap pembaca agar terus membaca sampai tulisan habis, sementara penutup tulisan akan menjadi semacam kesimpulan yang kita harapkan akan diterima pembaca. Teori ini juga berlaku dalam acara Karni. Secara tidak langsung, Karni mengatakan bahwa orang beriman itu memuliakan tamunya, termasuk lady gaga yang harus disambut dengan baik.

Karni salah konteks dalam hal ini. Betul bahwa tamu dan tetangga harus dimuliakan dan tidak boleh disakiti, tapi tamu dan tetangga yang bagaimana? Zaman Nabi dulu, muslim yang tidak ikut sholat subuh berjamaah saja dibakar rumahnya. Kira-kira bagaimana dengan tetangga yang lesbian, yang auratnya diumbar, yang menyiarkan lirik-lirik syirik?

Lalu si tetangga gak bener ini bilang, “Bos, gue mau nyanyi dan joget-joget di rumah lo dong. Gue emang lesbian dan di lirik gue emang pro lesbian, tapi gak apa2 lah, orang rumah lo gak akan banyak yang mikir ke situ. Yang mikir ke situ akan kalah dengan yang gak mikir ke situ. Mereka sudah terlanjur suka suara dan koreografi gue. Pas gue nyanyi ‘No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life. I’m on the right track baby, I was born to survive’ mereka bakal ikut nyanyi, mungkin bakal teriak lebih kenceng dari gue, hahaha. Pokonya kemasannya bagus deh. Gue kan dapet grammy lima kali, masak gak bagus? Pas manggung, gue akan buka baju sedikit, kayak gak tau gue aja….”

Apa kita akan jawab begini: Ohya, silakan.. silakan masuk. Semua tamu bebas masuk sini, mau nyanyi apa aja bebas, yang liriknya gak bener juga kita terima, sambil pake baju minim pun oke. Yang penting kita bisa nyanyi dan joget bareng. Ini pasti laku! Gue jual tiketnya duluan deh, izin ke Pak Hansip belakangan.

Kalau iya, wah, berarti agama sudah kalah dengan paham liberal. Kalah juga dengan Cina dan Korsel yang berani nolak si lady.

Saya juga jengah dengan beberapa komentar pengalih:

“Ngapain ngurusin lady gaga, itu dangdutan di kampung-kampung sawerannya malah lebih ngeri lagi masukin duitnya lewat mana.”

“Kalau karena porno, lah itu di Youtube kurang porno apa coba? Ngapain ngelarang2 kita. Tutup aja dulu youtube!”

“Ah, udah deh, urus diri sendiri aja dulu, nafsi nafsi aja lah….”

“Gak usah ngurusin kita, urusin tuh koruptor….”

“Apa kalau masuk little monster (nama fans club si lady), bakal tiba-tiba jadi monster beneran? Lirik2 gak ber-Tuhan mah udah dari dulu, bukan cuma lady gaga, dulu ada john lennon dan madonna.”

Lah iya, makanya retsleting yang sudah terbuka kita coba tutup, bukan terus dibiarin kebuka. Kita coba batasi orang-orang yang nyanyi lirik gak ber-Tuhan. Ada yang namanya repetitive power, mengulang informasi yang sama, teruuuus, sampai orang menganggap itu benar, dan yang sebetulnya benar malah menjadi asing. Kita sudah termakan dengan cara macam ini.

TV tidak berhenti menampilkan adegan orang berpacaran, memberi banyak sekali informasi varian cara nembak cewe, doktrinasi malam minggu adalah malam pacaran, puluhan tahun, sampai cara ta’aruf menjadi asing dan seakan-akan Saturday night at home itu gak modern. Sangat penting disadari, bahwa ketika kita nonton TV, kita ada dalam keadaan “Alpha Brain Wave State”, semacam kondisi rileks yang membuat kemungkinan tersugesti lebih besar. Informasi yang salah, kalau diulang terus, bisa menjadi bernilai benar di dalam otak.

Nah, ini juga dilakukan para penyanyi itu. Mereka nyisipin lirik yang asik didengar dan dinyanyikan, padahal maknanya sangat rusak. Seperti john lennon: “Imagine there’s no heaven… no hell below us… No religion too…. Imagine all the people, Living life in peace.” Dia mencoba mengajak free our mind sebebas-bebasnya. Tanpa agama, surga, dan neraka, kita bakal lebih damai. Itu ideology john lennon yang dia coba ulang terus supaya sedikit-sedikit orang ngikutin cara pikir dia. Nanti penyanyi lain nambahin sedikit lagi, repetisi lagi. Lama-lama mereka bisa berhasil. (FYI, The Beattles, ketika di puncak kejayaannya pernah bilang: sekarang fans beatles lbh banyak daripada fans gereja. Pesannya jelas, dia mengajak untuk meninggalkan agama).

Ini yang dikuatirkan oleh Dr. Joe: “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Tentang saweran, video porno youtube, dan koruptor, ya itu memang salah. Tapi apa kita harus membereskan itu semua dulu baru boleh melarang si lady datang? Lagian juga, banyak kok yang sudah mencoba merubah kebiasaan jelek saweran dsb itu tadi. Sambil itu diperbaiki, ini nih ada yang lebih perlu segera dicegah, si lady, makanya perhatian banyak fokus ke sini dulu.

Dalam islam, kita punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Langkah paling bagus adalah memperbaiki dengan tindakan. Kalau gak bisa, maka dengan perkataan. Kalau gak bisa juga, ya minimal hatinya ingkar lah. Saling mengingatkan itu wajib. Jadi gak ada ceritanya nafsi nafsi. Gak ada cerita, “Terserah lu deh, mau ngeganja sambil main cewe di sebelah rumah gue, terserah, yang penting gue sholat, gue baca Quran.” Harus ada pengingkaran, minimal dalam hati.

Mereka yang mencoba melarang datangnya lady gaga adalah mereka yang mencoba mempraktekkan perintah islam itu, sekaligus mereka yang peduli dengan saudaranya. Mereka melakukan pengingkaran tidak hanya dengan hati, tapi tindakan. While we’re talking, they do something!

Bahwa FPI terkadang melewati batas, itu iya. Tapi kadang-kadang saya suka juga melihat keberanian mereka menggerebek diskotek-diskotek liar. Diskotek yang gak resmi (atau resmi tapi melakukan aktifitas gak resmi), tapi bayar sini situ biar aman, polisi pun jadinya gak berani gerebek, tapi FPI berani. Kalau gak ada FPI, diskotek liar itu mungkin jalan terus. Namun memang perlu perbaikan. Kita semua perlu perbaikan. Tapi tidak harus selesai memperbaiki diri sendiri dulu baru boleh mencoba memperbaiki orang lain, kan?

05
Apr
12

Kata Hevea*

Perkenalkan, saya Hevea brasiliensis. Nama yang keren, bukan? Nama belakang brasiliensis menegaskan bahwa saya dari Brazil, kecuali ada unsur politis di balik penemuan nenek moyang saya dulu. Kalau saya wanita, dengan nama begitu, maka saya digambarkan sebagai wanita yang anggun, yang berjilbab lebar, menggunakan manset sampai ujung lengan supaya tidak ada celah terlihat aurat, tidak banyak tertawa, tidak bicara yang tidak manfaat, selalu merendahkan suara, dan kalau ada yang lucu, dia cuma tersenyum manis. Pokoknya anggun deh.

Tapi rupanya tidak seindah itu. Karena saya tinggal di Sunda, jadinya saya dipanggil Pea! Dengan e bebek, bukan e perut. Dan penekanan di huruf p. Hey pea! Hepea gimana kabarnya? Haduh, gak enak didengar… Lebih gak enak lagi, karena saya tinggal di samping kuburan.

Katanya, ini kuburan sakti. Banyak yang datang malam-malam minta macam-macam sama kuburan. Loh saya bingung, minta kok sama kuburan. Minta ya sama Allah. Bangun sepertiga malam yang akhir, doa deh. Mana mereka kadang suka semalaman lagi. Kalau mau buang air, nyarinya pohon. Haduh! Kena deh gue.

Perasaan saya sebal sendiri melihat orang-orang bodoh begini. Kuburan dimintain. Laut dikasih makan. Gunung juga. Katanya dalam rangka wujud kesyukuran. Ngapain coba? Itu kan malah jadi mubazir makanannya. Kalau mau bersyukur ya sama Allah. Sedekah ya sama orang miskin, bukan sama gunung. Laut dan gunung itu makanannya bukan nasi dan sayuran. Mereka punya cara makan dan cara bertasbih yang berbeda. Saya juga, cuma kamu saja yang gak tahu cara saya bertasbih.

Saya ini perasa loh, bukan sekedar seonggok kayu. Kamu kenal saudara saya si pohon kurma? Duluuuu sekali, empat belas abad yang lalu, nenek moyang saudara saya itu menangis karena Nabi sudah mendapat mimbar baru. Dia sedih karena tidak lagi dijadikan tempat Nabi khotbah. Nabi kemudian datang mengusapnya sampai ia berhenti menangis (Ibnu Majah 1414).

Kami ini hidup dan bisa bicara, tapi ada waktunya. Ketika perang besar muslim vs yahudi nanti, semua golongan kami akan menjadi spy-nya muslim. Kami dan bebatuan akan memberitahu pasukan muslim kalau-kalau ada yahudi yang ngumpet di balik tubuh kami, kecuali pohon Ghorqod. Dia akan diam, tidak membantu muslim, karena dia tergolong pohon yahudi (Muslim 2922). Makanya Israel seneng banget nanam Ghorqod.

Nih yah, manusia, saya mau cerita kehidupan saya sehari-hari, supaya kalian juga ikhlas menjalani hidup. Saya ini ya, dilukai terus, minimal dua kali seminggu. Kalau majikan lagi butuh duit, malah saya dilukai tiap hari. Digores-gores pakai pisau sadap. Jangan salah, pisau sadap itu lebih tajam dari pisau ibu-ibu di dapur. Mereka ambil air mata saya, katanya sih, bisa jadi duit. Saya ikhlas saja menjalani sunnatullah, memang dasarnya tumbuhan dan hewan ditundukkan buat manusia.

Malahan, terkadang saya diolesi dengan cairan atau gas perangsang yang namanya etilen. Itu memaksa saya untuk menangis sampai delapan kali lebih lama. Makin lama saya nangis, makin banyak air mata saya, makin senang manusia.

Selama pertumbuhan, tangan saya sering dipotong, sebagai pembenaran iklan salah satu produk susu: tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. Rambut saya dikepang paksa. Semua itu dilakukan supaya saya bisa menangis lebih lama, supaya manusia senang. Yah, saya ikhlas, memang itu tugas saya di bumi. Saya punya tugas seperti kamu manusia juga punya tugas. “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku,” firman Allah. Kita harus sama-sama ikhlas.

*imajinasi Iqbal yang berusaha menjadi Hevea braziliensis (nama latinnya pohon karet).

 

01
Apr
12

Menjadi Asing

Pantai Krueng Mane, 2028, dalam dimensi Iqbal

Nak, ayah sengaja bawa kamu ke sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.

Nak, apa kamu pernah menerka kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media mainstream yang gak islami.

Pada umumnya mereka itu bikin kamu tahu dalam ketidaktahuan. Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan informasi-informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya di Food Court Pondok Indah Mal.

Tapi nak, kamu gak diajarin kamu harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa kriterianya.

Kamu jadi tahu batasan HAM tapi tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau paham, anakku?

Kamu nanti malah jadi bingung, di TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat? Di TV diajarin makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.

Ayah paling takut kamu mengarah ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits karena gak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.

Kalau agama ini menuruti kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh? Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.

Kamu akan wudhu dengan membasuh duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya. Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.

Itu kenapa kamu harus mendalami Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan. Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.

Ayah cuma takut, kamu bisa menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya “semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi gak hapal siapa saja mahrom kamu.

Ayah gak mau kamu bisa bedain processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran sel dan membran mitokondria, tapi kamu gak bisa bedain halal-haram dan suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti hukum islam, nak.

Ayah gak kebayang, pascatiada nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi, “Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini, “Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan, target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?

Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan. Orang tahlilan kamu ikut tahlilan. Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan. Jangan jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya, eh malah disampaikan. Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi kitab Muslim kamu.

Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu. Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat lebih dari itu, nak.

Setelah ilmumu kuat, aplikasikan, sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah tapi gak bisa aplikasikan agamamu.

Nak, dari dulu orang hebat itu selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing, nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.

Anak muda seperti kamu punya tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini. Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak, karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15 tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.

Kamu tentu sering dengar Ali bin Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr, saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.

Imam Bukhori yang menyusun hadits tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.

Selanjutnya giliran kamu yang meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah doakan.

30
Jan
12

Labi-Labi Banda Aceh

Labi-labi yang ngetem di dekat Baiturrahman, Banda Aceh. Dok: Iqbal.

Banda Aceh dan pada umumnya daerah di wilayah Aceh, menyebut angkutan kota dengan labi-labi. Secara harfiah, labi-labi adalah hewan semacam kura-kura. Bentuk angkutan umum ini memang bisalah dimirip-miripin dengan kura-kura.

Tarifnya itu terbilang mahal. Kalau angkutan kota di Padang pasang tarif flat dua ribu, beda dengan labi-labi. Dari terminal Keuda di dekat Baiturrahman, sampai pelabuhan Ulee Lhee, tarifnya enam ribu. Padahal jaraknya paling sepuluh kilo, dan tidak ada macet.

27
Jan
12

Pulau Balai Tenggelam

Salah satu rumah di Balai yang tenggelam tapi terpaksa masih dipakai. Dok: Iqbal.

Agak kasihan melihat bangunan-bangunan di Pulau Balai, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Sejak gempa Nias 2005, daratan Balai turun satu meter. Puluhan bangunan tenggelam. Yang punya duit tinggal pergi dari pulau atau bikin bangunan baru. Yang gak punya duit terpaksa tetap tinggal di situ. Dia timbun rumahnay sampai melebihi tinggi air.

22
Jan
12

Peak Hunter Buat Travelling

Tiga bulan saya keliling Sumatera cuma bawa beberapa kaos, kebanyakan adalah kaos-kaosnya Peak Hunter. Buat saya yang outdoor banget, saya perlu kaos yang gampang nyerap keringat, bikin gak gerah, dan jelas saya perlu kaos yang melarnya enak.

Nah, itu semua saya dapat di kaos-kaosnya Peak Hunter. Kalau saya tracking yang lebih dari 3 km, biasanya saya pakai kaos Peak, kecuali lagi kotor semua, terpaksa deh saya pakai kaos lain. Panas dari dalam tubuh itu gampang keluar kalau pakai Peak.

Saya tanya ke Rendy, si produsen kaos-kaos Peak Hunter, pakai bahannya apa? Dia jawab begini:

“Kalo jenisnya sama kaya kaos merk-merk lain, cotton combed 30s. Cuman emang jenis cotton-nya yang berbeda. Kualitasnya halus. Gw mati-matian cari bahan kualitas gitu. Oh iya satu lagi, ada yang bilang kalo ukuran kaos gw lebih kecil. Itu emang gw buat kaya gitu agar lebih nempel ke badan, sehingga keringat yg keluar langsung diserap kaosnya dan langsung diuapkan ketika kena sinar matahari. Cocok buat light trekking dan backpacker.”

Oh gitu ya. Saya mah kurang paham begituan. Yang penting enak dipakailah.

pakai kaos peak waktu nyeberang dari Kalianda ke Pulua Sebesi

Kaos-kaos Peak sudah saya ajak snorkeling di Pulau Sebesi, masuk ke kandang gajah di Way Kambas, foto bareng situs megalitik di Pasemah, jalan-jalan di Pulau Siberut, makan masakan Padang bareng di Padang. Wah, udah ke mana-mana deh. Kaos Peak emang enak buat ke mana-mana selama judulnya jalan-jalan.

Saya juga suka desainnya. Gak norak. Pernah waktu di Harau saya ketemu sekelompok pemuda dari Bukittinggi yang lagi latihan panjat tebing. Katanya sih mau latihan buat lomba. Saya perhatikan kok mereka pada merhatiin saya, padahal gak saya ajak ngomong.

Saya baru sadar kalau saya lagi pakai kaos Peak yang gambar orang lagi manjat tebing batu dan ada tulisan “Rock Climbing” nya. O oww… mungkin mereka menganggap saya pemanjat juga. Bukan… bukan… saya bukan pemanjat. Saya cuma backpacker kere… =p

19
Jan
12

Homesick

Saya bikin tulisan ini di hari ke-34 perjalanan saya keliling Sumatera. Entah kapan saya bisa upload ke blog. Mudah-mudahan secepatnya saya temukan warnet dan hati saya digerakkan untuk masuk ke warnet itu.

Akhirnya saya bisa pahami kenapa kawan-kawan kuliah saya dulu, di bulan-bulan awal, beberapa yang rumahnya di luar Jawa tiba-tiba jadi pendiam dan malas bergaul dengan kami, teman-teman satu lorongnya. Dia lebih senang sendirian di kamar asrama atau keluar gak tahu ke mana, pokoknya sendirian.

Dok: temah8.blogspot.com

Itu juga yang saya rasakan sekarang. Saya sedang tidak mau keluar, sedang tidak berkeinginan buat ngobrol sama sekali. Walau hari ini adalah natal dan saya sedang berada di Sumut, yang itu berarti bakal banyak cerita di luar sana, tapi saya lebih ingin sendirian.

Saat ini, makanan seenak apapun tidak bisa mengalahkan makanan rumah. Penginapan sebaik apapun tidak bisa mengalahkan kamar di rumah. Rupanya begini rasanya homesick.

Sekarang ini saya benar-benar merasa sendirian. Walau banyak orang-orang baru kenal yang memberikan saya tempat tinggal, dan segudang informasi, tapi tetap itu tidak bisa menggantikan suasana ketika saya di rumah. Walau ada puluhan orang di sekeliling saya, tapi saya merasa sendirian.

Maka saya juga jadi paham, ketika dulu abang kelas saya teriak-teriak kesetanan di Bogor waktu dikabari rumah dan seluruh keluarganya terbawa tsunami di Aceh. Walaupun memang kelewatan juga dia, karena dalam islam tidak boleh sampai teriak-teriak begitu. Tapi saya bisa sedikit pahami apa yang dia rasakan waktu itu.

Pembelajaran 34 hari ini betul-betul mendalam dan terlalu banyak sepertinya. Saya merasakan bagaimana perut bisa menjadi musuh yang sangat nyata, bisa membuat orang melakukan hal-hal salah dan dia sendiri tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Perut sudah berkehendak.

Saya merasakan betapa saya hidup sangat berkelebihan di Jakarta, bisa makan, tidur, dan mencari penghidupan dengan tenang. Karena saya tinggal dengan orang-orang yang sama-sama berkelebihan, maka nilai “berkelebihan” itu menjadi tidak terasa. Padahal di pedalaman Mentawai, orang punya TV saja itu hitungannya sudah kaya.

Saya baru bisa merasakan nikmat makanan berlimpah di Jakarta setelah tahu bahwa masih banyak orang yang kulkas saja tidak punya, dan tidak punya stok bahan makanan untuk besok. Besok, kalaupun punya uang, pilihan bahan makanan yang orang jual dalam radius 30 km itu tidak banyak.

Kelihatannya, orang itu baru benar-benar bisa bersyukur setelah dia tahu apa yang dia dapatkan itu tidak bisa didapatkan orang lain.

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

02
Nov
11

Panen Tempat Wisata dalam Satu Jalur

Kawasan dataran tinggi menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal, terutama dari kota besar seperti Jakarta. Puncak Bogor sempat berjaya dengan keunggulan tersebut, tapi makin lama orang jenuh dengan kondisi macet yang selalu menjadi momok menyebalkan. Ciwidey kemudian dilirik untuk menjadi alternatif Puncak Bogor, terutama setelah proyek Tol Cipularang tuntas.

Dahulu, Ciwidey dan strawberry menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Kalau ke Ciwidey ya petik strawberry. Namun, sebetulnya banyak tempat lain yang bisa dikunjungi sepanjang jalan dari Ciwidey sampai Situ Patengan, berikut akan dibahas satu per satu.

Kawah Putih

DarikotaBandung, perjalanan menuju Kawah Putih menempuh jarak 46 km atau 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kawah Putih adalah tempat wisata besar pertama yang ditemui sepanjang jalan dari Ciwidey ke Selatan. Kalau tempat wisata kecil seperti petik strawberry di belakang rumah, itu banyak terdapat di sepanjang jalan sebelum Kawah Putih.

kawah putih. Dok: tours88.blogspot.com

Letak pintu gerbangnya di sebelah kiri jalan. Dari pintu gerbang tersebut, perjalanan masih menanjak sekitar 6 km sampai menuju kawah yang sebetulnya tidak berwarna murni putih, tapi ada unsur biru dan hijaunya. Sepanjang jalan tersebut, pemandangan yang tersibak adalah hutan hujan tropis dan Eucalyptus. Berdiri di hamparan kawah berarti kita berdiri pada ketinggian 2.194 mdpl.

Tebing-tebing di sekitar kawah putih membuat suasana menjadi semakin syahdu. Air kawah yang tenang seakan mengajak mata untuk terus mengagumi keindahannya. Apalagi ketika kabut sudah mulai turun, rasanya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk kita beranjak pulang.

Dulunya, dari pintu masuk sampai parkiran di atas, pengunjung dibebaskan masuk membawa kendaraannya. Namun, sejak 8 Mei 2010, setelah ditutup dua bulan untuk pemugaran, kendaraan sudah disortir untuk ke atas. Biayanya akan sangat mahal jika membawa kendaraan ke atas. Satu mobil dengan satu penumpang dikenakan biaya Rp165 ribu, tambah 15 ribu tiap penambahan 1 orang.

Sekarang, banyak yang bilang, Kawah Putih jauh lebih baik kondisinya daripada sebelum pemugaran. Juga, disuguhkan atraksi baru bagi pengunjung, yaitu Legenda Kawah Putih Domba Lukutan. Namun, banyak yang mengeluh karena biaya masuknya jadi berlipat sehingga sulit dijangkau. Paket termurah yang ditawarkan seharga Rp 25 ribu. Dengan paket tersebut, pengunjung mendapat karcis masuk dan fasilitas Ontang-Anting, yaitu alat transportasi yang akan mengantar pengunjung ke atas, menunggu pengunjung menikmati Kawah Putih, lalu mengantar kembali ke pintu masuk.Adayang bilang, memang harus seperti itu untuk membuat suatu kawasan wisata tetap terjaga keasriannya.

Emte

Entah kenapa diberi nama demikian. Ketika ditanya, apa Emte itu maksudnya Mario Teguh? Si pengelola cuma tertawa. Tempat wisata ini terbilang baru, belum banyak orang yang tahu. Baru sekitar awal 2010 Emte berdiri. Di dalamnya banyak sekali pilihan wisata. Kalau beberapa tempat wisata memfokuskan bisnisnya pada, pemetikan strawberry atau outbond atau pemandangan indah atau pemandian air panas, Emte hadir dengan semuanya itu. Memang, kualitasnya masih belum sebaik tepat wisata yang focus di satu wahana wisata.

Tempat ini cocok untuk keluarga, rombongan, juga perjalanan sendiri. Biaya masuknya Rp5 ribu, sudah termasuk kolam air hangat. Tapi kolamnya sangat biasa dan agak keruh. Adabeberapa saung besar dan kecil buat berkumpul atau berteduh. Flying fox yang melintasi kolam ikan (bukan kolam pemandian) berbayar Rp15 ribu. ATV ukuran besar Rp50 ribu per 3 lap, ukuran kecil Rp25 ribu per 3 lap. Petik strawberry sendiri dibandrol 30 rb/kg, tapi tidak harus memetik 1 kg. Satu Styrofoam itu setara dengan setengah kg, kita bahkan bisa petik kurang dari itu.

Di tengah-tengah tempat lokasi wisata Emte, terdapat kantin yang harganya lumayan bersaing. Nasi putih dengan ayam goreng special dihargai Rp10 ribu, sotobandungRp10 ribu, nasi goreng strawberry special Rp10 ribu. Yang membuat kantin lebih mempunyai daya saing adalah adanya saung-saung lesehan di seputaran kantin tersebut. Dari saung ini, hamparan pemandangan aktivitas wisatawan Emte bisa terlihat.

Ranca Upas

Ranca Upas. Dok: ayowisata.wordpress.com

Sejatinya, Ranca Upas adalah tempat wisata untuk berkemah. Beberapa orang bilang, kalau belum camping di Ranca Upas berarti belum ke Ciwidey. Pengelola sepertinya tidak mau ketiggalan dengan para tetangganya. Beberapa cottage kemudian dibangun. Pilihan aktivitas juga bertambah dengan adanya outbond. Satu paket outbond dengan 4 games yang salah satunya adalah flying fox, dibandrol dengan harga Rp35 ribu. Harga ini tentu terbilang murah, terutama jika dibanding tempat wisata di Ciwidey yang menawarkan paket serupa.

Tiket masuk Ranca Upas adalah Rp5 ribu untuk weekdays dan Rp6.500 untuk weekend. Jika mau camping di dalamnya, maka pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.

CImanggu

Mata air panas yang ada di dalamnya berasal dari Gunung Patuha.

Rancabali

Tempat ini merupakan 1 dari 41 kebun milik PTPN VIII. Komoditas utama yang diusahakan adalah the. Seperti perkebunan the lain yang mempunyai lokasi strategis, Rancabali juga –oleh pengelolanya- digarap menjadi satu kawasan agrowisata. Kita bisa melakukan tea walk disana. Petik strawberry juga menjadi pilihan yang menarik.

Walini

Kebun Teh milik PTPN VIII yang ternyata punya kolam pemandian air panas.

Situ Patengan

Di tengahnya terdapat Pulau Asmara. Sebetulnya kurang tepat juga disebut pulau, karena letaknya yang tersambung dengan daratan pinggir Situ Patengan.

30
Okt
11

Ciwidey Bisa Jadi One Day Trip

Perjalanan surveyku menuju Ciwidey hanya menghabiskan biaya Rp70 ribu. Segala pilihan berbayar paling rendah menjadi pilihan utama dalam perjalanan kali ini.

Beberapa hari yang lalu, berdasar keputusan “rapat kampung”, Aku diamanahkan untuk mengurusi segala tetek bengek untuk rekreasi kampung kami yang berada di pinggirankotaJakarta. Maka jadilah malam ini Aku berada di Masjid Salman ITB, sendirian. Walau anggaran survey cukup untuk membayar hostel di Bandung, tapi Aku tetap memilih tidur di masjid untuk mendobrak paradigma di kampungku, bahwa jalan-jalan atau survey itu ribet dan mahal.

Tidak ada sleeping bag, tidak ada matras. Aku tidur di atas karpet yang lumayan tebal, di lantai dua bagian luar masjid, setelah sebelumnya diusir karena Aku tidur di dalam masjid dengan menggunakan mukena sebagai pembalut kaki yang kedinginan (Hehe, maaf ya Pak Satpam). Yang paling membebani pikiran malam itu adalah tas yang kebetulan berisi laptop dan kamera (sebelumnya ada presentasi dan kerjaan dibandung). Letak masjid sangat terbuka. Siapa saja bisa masuk kapan saja. Tapi, ya sudahlah, kalau tertulis besok bukan lagi jadi milikku ya tidak akan jadi milikku.

Paginya, Sabtu 3 Juli 2010, Aku langsung mengecek tas. Alhamdulillah aman. Aku menuju Kopo lalu lanjut ke Soreang. Lalu lintas aman, hanya saja di terminal Soreang ada pasar. Ya namanya pasar hampir selalu bikin macet. Tapi menurutku macetnya tidak terlalu parah, masih bisa ditolerir. Kalaupun tidak mau ambil risiko, setelah gapura besar masuk Kabupaten, sebelum terminal Soreang, ada jalan ke kiri. Kelihatannya jalan mulus dan bagus, tapi kok sepi. Kata supir angkot di sebelahku, itu karena jalan tersebut memutar, biasanya hanya dipakai kalau macetnya sudah gila-gilaan seperti ketika lebaran.

Dari Soreang, Aku naik Colt yang sangat sesak. Dulu, dari Bogor Aku biasa memakai angkutan macam ini menuju Sukabumi. Satu kursi panjang maksimal diisi 4 orang, itu saja sudah sempit. Ini sampai 5 orang! Wah, masyarakat Soreang betul-betul menerapkan azaz efisiensi (baca: gak mau rugi). Memang hitungannya sangat murah, dengan jarak panjang Soreang-Ciwidey, Aku cuma dimintai Rp4 ribu.

Perjalanan semakin sejuk dan memanjakan mata dari Ciwidey sampai seterusnya ke Situ Patengan. Tapi melelahkan menunggu angkot untuk jalan, hampir sejam penumpang angkot jurusan Ciwidey-Patengan cuma bertambah 4 orang! Belum lagi, Aku harus menerima kenyataan, tidak ada penumpang yang punya tujuan sampai Patengan, semua turun di Kawah Putih (sekitar 5 km sebelum Patengan). Si supir cuma menghadapku dengan senyum-senyum, “Maaf ya….” Yah, Aku mengerti.

kawah putih. Dok: ariesaksono.wordpress.com

Kawah putih sudah jauh berubah, katanya sih, demi konservasi yang lebih intensif. Biaya masuk dinaikkan, biaya jauh membengkak kalau kita membawa mobil atau motor ke atas kawah. Ya, mudah-mudahan kebijakan itu efektif. Aku terpaksa mencoret Kawah Putih sebagai tujuan wisata kampungku, selain karena mahal, sebelumnya memang Aku sudah kepikiran, apa ada tempat nongkrong di atassana buat kumpul-kumpul satu bis? Sepertinya tidak –berbekal pengalaman ke sini setahun lalu-.

Tepat di depan Kawah Putih, ada satu tempat rekreasi baru yang teriak-teriak lewat pengeras suaranya, “Masuk Emte (nama tempat wisatanya) hanya Rp5 ribu, sudah termasuk pemandian air hangat.” Wah, harganya oke berat tuh. Aku langsung terpikat lalu berbincang dengan Pak Dede, semacam manajer operasional tempat ini. Pertanyaanku, “Pak, saya tahu ini tempat baru, tapi apa harus teriak-teriak begitu buat nyari ‘pasien’?” Dijawab, “Wah, iya. Malah di atas Kawah Putihsana kami bagi-bagi brosur Emte.” Hmm, persaingan bisnis penuh intrik ya. Obrolan semakin hangat karena ternyata beliau lulusan Agronomi yang cukup peduli dengan pengembangan Agrowisata, cocok. Kami bicara banyak hal tentang konsep ideal pengembangan wilayah dan kasus-kasus yang bikin agrowisata hancur.

Memang, tidak berlebihan kalau Emte disebut “tempat wisata segala ada” karena di dalamnya ada segalanya, yaitu tempat pemetikan strawberry, tanah lapang yang luas (penting untuk rombongan yang butuh tempat kumpul), tiga kolam air hangat, tempat pemancingan, restoran yang murah meriah tapi masih berkesan eksklusif, permainan outbond yang memang masih sedikit tapi sudah ada flying fox, sarana dan prasarana ATV, dsb (detail harga dan pilihan ada di rubrik Ordinat).

Ketika Aku survey harga makanan di restoran Emte, ada seorang pegawai resto yang mendekat sambil berbisik, “Di sini makanannya enak mas, murah lagi,” lalu bisiknya semakin dekat dan semakin tipis, “Ada ‘jatah’ buat Tour Leader nya juga loh, kalau bawa peserta ke sini,” sambil tersenyum. Aku juga ikutan tersenyum.

Lanjut, Aku jalan kaki ke atas, ada Ranca Upas di sebelah kanan. Di sini utamanya adalah tempat perkemahan. Di dalamnya ada penangkaran rusa yang katanya sudah ditata lebih rapi, tapi rusanya ternyata hanya 17 ekor. Pengunjung yang datang sepertinya tidak terlalu banyak. Aku tidak masuk ke dalam karena waktu semakin mepet, Aku harus sudah minggat dari Ciwidey sebelum sore karena angkutan akan raib setelahnya.

Masih jalan kaki, Aku lanjut ke Taman Wisata Cimanggu di sebelah kiri jalan. Utamanya tempat ini menjual kolam pemandian air panas, airnya betul-betul panas, bukan hangat. Sepertinya, hanya orang gila yang bisa langsung nyemplung dan berenang. Di dalamnya sangat ramai. Hampir tidak ada tempat sepi di seputaran kolam pemandian. Menurutku, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sari Ater di Lembang. Tapi di sini jauh lebih murah dan tidak ada anggapan seperti di Sari Ater, “apa-apa duit, nambah lagi nambah lagi”.

Situ Patenggang. Dok: yussi.host22.com

Menuju Situ Patengan, Aku naik angkot dengan harga Rp7 ribu, sudah termasuk tiket masuk. Wah, ramai sekali hari Sabtu ini. Namun, menurut beberapa penjaja jasa perahu penyebrangan, ini katanya belum terlalu ramai dibanding hari Minggu. Perahu betebaran karena memang itu yang paling dicari pengunjung untuk menyebrang ke Batu Cinta, atau sekedar mengelilingi danau. Mendengar Aku sedang survey, beberapa orang mendekat, menawarkan jasa perahu yang dikorting, tadinya Rp20 ribu untuk mengitari danau, jadi Rp15 ribu, mereka juga menggoda dengan, “Nanti adalah jatah buat Tour Leader-nya,” sambil berbisik.

Waktu semakin tipis, setelah Ashar, Aku bergegas menuju Ciwidey-Soreang-Cihampelas. Aku ingin mengajak rombongan kampungku ke tempat belanja ini. Pikirku, kalaupun acara tidak terlalu berhasil, mungkin bisa tertutup dengan diberikannya acara belanja ini. Mudah-mudahan, Ibu-ibu akan berbinar dan lupa untuk berkomentar, “Ah, si Iqbal nih gak asik bikin acaranya.”

Untuk itu semua, dengan perjalanan dari Bandung-keliling Ciwidey-Bandung, Aku menghabiskan hanya Rp70.000, dengan perincian: makan pagi (lontong sayur) Rp5 ribu, angkot ITB-Caringin Rp3 ribu, angkot ke Kopo Rp2 ribu, Kopo-Soreang Rp2 ribu, Soreang-Ciwidey Rp4 ribu, Ciwidey-Kawah Putih Rp8 ribu, makan siang (nasi+telur) Rp5 ribu, menuju Patengan + tiket Rp7 ribu, penyebarangan perahu Rp10 ribu, Patengan-Ciwidey Rp6 ribu, Ciwidey-Soreang Rp4 ribu, Soreang-Kalapa Rp6 ribu, Kalapa-ITB Rp3 ribu, makan malam (nasi+telur+kacang merah) Rp5 ribu. Total biaya bisa rendah karena, pertama, Aku selalu pilih cara termurah. Kedua, Aku dapat keistimewaan sebagai “surveyor” yang mendapat tiket masuk gratis ke beberapa tempat wisata dan perahu murah ketika di Patengan.

Setelah pulang, pikiran berkecamuk ingin membuat rencana perjalanan ala backpacker yang bisa menghampiri banyak tempat wisata di daerah Ciwidey. Gambaran besarnya, total biaya Rp214 ribu dengan 5 tempat yang dikunjungi, yaitu Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ranca Upas (termasuk outbond 4 games, salah satunya flying fox), Situ Patengan, dan Emte. Sisipan ide gilanya: tracking mengitari Situ Patengan! Mungkin suatu saat akan kubuat open trip untuk perjalanan berikut:

Sabtu

6.00: Kumpul di Kampung Rambutan

6.00-10.00: Menunggu bis ngetem dan perjalanan menujuBandung(Leuwi Panjang)

10.00-11.30: Leuwi Panjang-Ciwidey, menggunakan mobil Colt/L300

11.30-13.00: Menunggu angkot ngetem dan perjalanan menuju Kawah Putih

13.00-15.00: Menikmati Kawah Putih

15.00-15.30: Menuju Pemandian Cimanggu dengan berjalan kaki

15.30-17.00: Menikmati Cimanggu

17.00-17.30: Menuju Ranca Upas dengan berjalan kaki

17.30-18.00: Pasang tenda, kalau tidak ada yang bawa, gelar matras dan sleeping bag

18.00-07.00: Bebas

Minggu

7.00-7.30: Menuju Situ Patengan

7.30-12.00: Tracking mengelilingi Situ Patengan, dari kiri ke kanan. Katanya akan menemuipadang rumput yang indah dan mata air yang segar.

12.00-13.00: Menuju Emte

13.00-14.00: Istirahat, menikmati Emte

14.00-20.00: Menuju Jakarta lewat Ciwidey- Leuwi Panjang

Biaya:

Bis Rambutan-Leuwi Panjang PP Rp80 ribu

Colt Leuwi Panjang-Ciwidey PP Rp12 ribu

Angkot Ciwidey-Kawah Putih/Emte PP Rp14 ribu

Angkot Kawah Putih/Emte-Situ Patengan PP Rp10 ribu

Masuk Kawah Putih Rp25 ribu

Masuk Cimanggu dan sewa tempat nongkrong Rp17 ribu

Masuk dan camping di Ranca Upas Rp17 ribu

Outbond 4 games di Ranca Upas Rp35 ribu

Masuk Situ Patengan Rp4 ribu

TOTAL 214.000




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.