17
Nov
09

Merdi Sihombing Angkat Muara Bungo Jambi

Biasanya layar di depan peserta perskon menceritakan fashion, video fashion show atau gambar model yang sedang aksi. Tidak malam ini. Gambar-gambar rumah adat Indonesia yang tampak berkali-kali. “Ini adalah proyek saya yang ketiga, saya angkat kain tenun songket dari kabupaten Muara Bungo Jambi,” tiba-tiba Merdi angkat suara. “Pada 2002-2003, saya mengerjakan proyek pertama, saya angkat baduy dalam, saya riset langsung ke sana. Proyek yang kedua datang dana banyak sekali dari Austria. Hasilnya, karya saya menenun kain dengan Kristal itu ada di salah satu museum Austria sampai sekarang.”

Riset Merdi untuk karyanya yang ketiga ini dimulai dari desa Tanah Periuk, mengambil motif-motif pada rumah kapal yang umurnya sudah berabad-abad. Semuanya dikombinasikan dengan benang metalik berwarna perunggu/tembaga dengan menambahkan macam-amacam efek. Motif dipertegas dengan glitter sehingga efek dimensi terasa lebih nyata.

Persis di depan press room, tiga ibu-ibu yang sudah memperlihatkan kerutan umur sedang sibuk menenun. Mereka bertiga ada dalam sebuah stand berjudul “Merdi Sihombing”. “Saya bawa mereka ke mari karena tenun itu prosesnya panjang sekali. Kalau ada yang nanya harga, lalu disebutkan digitnya 6, dia bilang, ‘duh mahal banget’, makanya saya bawa langsung penenunnya, biar tahu gimana susahnya. Kebanyakan yang saya buat ini masterpiece yang prosesnya satu bulan, bahkan ada yang sampai dua bulan. Songket mahal itu karena benangnya, semakin halus semakin tinggi harganya, karena prosesnya panjang. Harus sabar supaya gak putus. Proses menenun adalah proses cipta dan kasih sayang.”

“Malaysia boleh bikin kain kita, tapi dia gak punya cerita seperti kain kita ini. Dulu kain-kain ini dipakai kain nenek moyang di pintu rumah untuk menolak bala. Ada ceritanya. Malaysia gak tau itu,” Merdi tegas seakan-akan ada orang Malaysia di depannya sedang menunduk bilang, “Iya…iya…”

Menurut Merdi, penting sekali mengangkat kain lokal Indonesia. “Kita harus budayakan, karena kalau hilang, mau cari ke mana lagi. Karena saya lihat di pedalaman banyak yang hilang karena tidak ada yang menenun lagi karena memang marketnya tidak ada.

Semakin semangat Merdi menjelaskan, “Dibutuhkan komitmen untuk datang ke pelosok, lalu dibenerin dan dibawa ke kota. Jangan sampai nanti udah diambil orang baru kita teriak-teriak. Saya memberikan pembelajaran bahwa kain kita ini luar biasa. Karena ini kekuatan kita ketika kita ke dunia internasional. Suatu saat nanti akan terbukti karya kita akan setara dengan brand-brand internasional.”

Batik karya Merdi. Dok: JFW 09/10


4 Tanggapan ke “Merdi Sihombing Angkat Muara Bungo Jambi”


  1. November 18, 2009 pada 11:44 am

    Good… harusnya riset ini disponsorin sama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.. akan jadi investasi yang baik untuk masa depan neh

  2. November 18, 2009 pada 12:50 pm

    ya teorinya sih emang gitu… tapi….

  3. Februari 7, 2012 pada 4:13 am

    mucho graciass buat bang Merdy! atas atensinya yg fokus mengeksplor dan mengangkat potensi2 budaya tiap daerah di negeri Nusantara


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


 

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.