
jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja
Backpacking kali ini punya misi khusus, memburu berita. Tapi tentu saja bisa diselingi dengan jalan-jalan ke berbagai tempat yang memungkinkan.
Ada beberapa alternative cara untuk menuju Jogja dari Bogor atau Jakarta, bisa dengan bis atau kereta api. Tapi saya memilih travel karena dirasa lebih praktis. Harga juga bervariasi. Jika betul-betul miskin, kita bisa mengunakan kereta ekonomi dari Jakarta. Setahun yang lalu, kawan saya hanya membayar 37 ribu, mungkin sekarang sudah naik, tapi tidak akan lewat dari 50 ribu. Yang jelas ini jauh lebih murah daripada travel yang bisa lebih mahal tiga kali lipatnya. Perlu waktu 10 jam untuk mencapai Jogja dengan travel. Ada snack dan minuman yang disediakan dari travel, tapi bukan makan malam.
Enaknya, di Jogja ada trans Jogja yang mempunyai rute di dalam kota Jogja. Keberadaannya sangat membantu bagi orang yang belum paham Jogja. Pegawai yang menjaganya pun ramah. Kita bisa bertanya sampai puas tanpa takut dibohongi. Cukup dengan 3 ribu, kita bisa mengelilingi Jogja, asalkan tidak turun dari halte.
Mind set kiri kanan harus diubah ketika sampai di Jogja. Navigasi otak kita harus jalan karena kebiasaan orang Jogja memberitahu arah dengan arah mata angin. Misalnya, ketika ditanya rumah Pak Soleh yang rajin mengaji itu di mana? Masyarakat menjawab, dari sini ke Utara sampai ketemu restoran padang Salero Bundo yang menghadap ke Barat. Masuk terus ke timur sekitar 200 meter maka Bapak akan ketemu rumah Pak Soleh yang menghadap ke Utara dengan pintu utama di Barat. Nah loh, puyeng gak tuh??
Makanan di Jogja bisa dibilang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Asal tidak menampakkan kewisatawanan kita, apalagi di Malioboro, maka kita akan aman dari mark up yang tidak berprikemanusiaan itu. Lebih aman kalau kita bertanya dulu harga makanan sebelum dengan sukses menghabiskan sepiring gudeg.
Kasongan bisa dijadikan tempat cuci mata yang unik. Di sepanjang jalan Kasongan ini, dipenuhi penjual kerajinan dari tanah liat. Bisa dikatakan, Kasongan adalah sentra kerajinan tanah liat di Indonesia.
Siapa yang tidak kenal gudeg? Tapi pasti jarang yang mengenal gudeg paling tua di Jogja, bukan? Adalah Gudeg Yu Djum, yang sudah menginjak ke generasi ketiga dalam bisnis gudeg ini. Tempatnya di sekitar UGM. Tukang ojeg pasti kenal daerah gudeg, tinggal cari saja Gudeg Yu Djum, tidak sulit menemukannya. Tentang harga, memang Yu Djum memberikan harga yang lebih tinggi dibanding gudeg yang lain. Tapi, semahal-mahalnya harga makanan di Jogja masih terjangkau lah. Seporsi gudeg dengan telur pindang lengkap dengan nasinya hanya dibandrol 6 ribu.
Wisata candi? Ah, sudah biasa. Tapi bagaimana dengan wisata candi yang menjual view sunset dari atas candi? Unik bukan? Kalau tertarik, silakan berkunjung ke Candi Boko, tidak jauh dari Prambanan. Dengan merogoh 35 ribu, kita bisa menikmati indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Uang sejumlah itu tidak hanya sebagai biaya untuk melihat sunset. Tapi sudah termasuk makan malam dengan masakan tradisional Indonesia, seperti bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, atau soto. Sambil menunggu sunset, pengunjung juga disuguhi teh atau kopi lengkap dengan makanan kecilnya.
Namun, agak sulit mencapai Candi Boko karena tidak ada angkutan umum yang mencapainya. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka ojeg adalah satu-satunya pilihan. Tidak mengapa, karena tariff yang ditawarkan tukang ojeg di Jogja adalah tariff yang sudah berkonsolidasi dengan isi dompet. Orang Jogja terkenal dengan kejujuran dan keramahannya.
Menuju bandung dari Jogja, juga ada banyak alternative. Tapi sepertinya yang paling nyaman adalah dengan kereta. Untuk kelas eksekutif dihargai 150 ribu. Di dalam kereta, kita disuguhi snack yang cukup untuk menyumpal perut di malam hari. Bantal dan selimut tebal disediakan untuk tiap orang. Sesuai dengan yang dijanjikan, kereta berangkat pukul 21.30 dan sampai di Bandung pukul 5.30. Betul-betul tepat, tidak ada selisih yang lebih dari tiga menit.
Beruntung, saya punya kawan di Bandung yang baik hatinya, Baskara Aditama. Dia bersedia menjemput di Stasiun Bandung. Karena letih berputar-putar di Jogja, sedikit tenaga yang tersisa di Bandung. Hanya mampir wawancara di Pajajaran.
RM Ma’Uneh bisa dijadikan tujuan kuliner yang jempolan. Letaknya di dekat GOR Pajajaran. Ratusan jenis masakan Sunda siap dipesan. Harganya memang agak premium. Sepiring udang yang berisi tiga buah udang windu besar dihargai 60 ribu. Tapi masalah rasa, jangan ragukan. Bermacam menteri dan artis sering makan di tempat ini. menandakan tempat ini memang premium.
Berikut ini lampiran tempat-tempat yang saya kunjungi lengkap dengan biayanya. Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Semoga bermanfaat.
Destination:
- Rumah Nenek di belakang FT-UII, Kaliurang
- Sasanti Galeri (Next door Hyatt Jogja)
- Sentra kerjinan Kasongan
- PT. Out of Asia (Tembi)
- Malioboro
- Ambarrukmo Plaza
- Gudeg Yu Djum, Kaliurang
- Sunset Boko
- RM. Ma’Uneh, Pajajaran, Bandung
- Blitz PVJ
- 1001Crafts, Pajajaran, Bandung
Cost:
Day 1
Diana Travel Bogor-Yogya 180.000
Makan malam di jalan 17.000
Toilet 2x 2.000
Day 2 (Jogja)
Tambahan travel ke Kaliurang 20.000
Trans Jogja 3.000
Ke kasongan 2.500
Ojeg keliling Kasongan + bantul 25.000
Aqua 1 botol 1.500
Ke Pojok Bateng 3.000
Ke Malioboro 3.000
Batik 20.000
Makan malam (3orang) 29.000
Day 3 (Jogja)
Angkot UII-UGM 6.000
UGM-Tugu 2.500
Ojeg Tugu-UGM-Boko-Malioboro 60.000
Tip buat Satpam Boko 10.000
Trans Jogja 3.000
Mandi di Stasiun 3.000
Makan malam 14.000
Kereta Eksekutif Jogja-Bandung 150.000
Day 4 (Bandung)
Makan Pagi 11.000
Angkot Darul Hikam-Simpang Dago 1.500
Simpang Dago-Pajajaran 3.000
Nonton di Blitz PVJ 25.000
Pajajaran-Simpang Dago 3.000
Simpang Dago-Darul Hikam 1.500
Sebotol Mizone 3.500
Makan malam (2 orang) 25.000
Day 5 (Bandung)
Makan pagi 7.500
Hikam-Simpang 1.500
Makan siang 11.500
Ke lw. Panjang 2.500
Bis eksekutif ke UKI 40.000
TOTAL 691.000
Komentar Terakhir